Sisi Gelap Para Musisi


Selain ngetop, ternyata nggak sedikit selebritis dari planet musik yang juga nggak karuan hidupnya. Mulai dari obat terlarang sampai bikin lagu yang dahsyat ngerusaknya.

 

            Siapa sih yang nggak suka dengerin musik? Nyaris di dunia ini nggak ada orang yang nggak suka dengan musik. Soal jenis musik bukan lagi persoalan. Sebab, itu cuma perkara selera. Ada yang seneng dangdut, pun banyak yang suka jazz, yang suka pop juga nggak sedikit, bahkan ada juga yang ngebet banget sama lagu-lagu daerah, baik yang sunda atau campursari, pun tak ketinggalan ada juga yang suka musik klasik. Dan jangan heran pula bila banyak orang suka dengan musik metal, heavy metal, trash metal, sampe black metal. Hih, serem banget. Terlepas dari soal selera, ini menunjukkan bahwa pada intinya semua orang rata-rata suka dengerin musik. Sebab konon kabarnya, musik adalah bahasa yang paling universal, alias mudah dimengerti oleh manusia dari seluruh penjuru dunia.

            Nah, beragamnya jenis musik, tentunya adalah hasil pencapaian imajinasi pengarangnya. Musik yang kalem dan mendayu-dayu adalah hasil imajinasi musisi yang barangkali suka dengan suasana melankolis. Trademark musisi dalam negeri di jalur musik pop di masa lalu bisa disebut Bung Obbie Mesakh, atau Tommy J Pissa. Masternya lagu-lagu balada bisa ditunjuk Bang Ebiet G. Ade. Sebaliknya, musik yang rada-rada beringas, musisinya boleh jadi mengidap gangguan kejiwaan tertentu. Malah nggak sedikit lirik lagu hasil gubahan musisi tertentu bisa bernada protes.

            Menurut para pengamat musik, bahwa musik rock 1960-an dan 1970-an, memiliki ideologi sosial dan politik yang riil dalam bentuk gerakan budaya anti-kemapanan. Bahkan banyak di antara yang jengah dengan gaya formal. Biasanya rambutnya dibiarin gondrong, pakaian belel, aksi panggung yang atraktif, akrab dengan alkohol, narkoba, dan bahkan seks bebas. Intinya mereka menolak aturan yang lazim di masyarakat. Maka jangan heran kalo musisi rock dan pengagumnya dicap sebagai generasi pemberontak, alias generasi anarki.

            Para penyanyi folk seperti Bob Dylan dan Joan Baez, mempelopori gerakan protes tersebut melalui karya-karya mereka yang mendalam, masing-masing melalui Blowing In The Wind, dan Bangladesh. Protes anti-perang dengan slogan War Is Over oleh John Lennon pada akhirnya melahirkan sebuah karya, Imagine, yang sampai sekarang masih relevan—bahkan sempat jadi OST film The Killing Field. Bersama rekannya di The Beatles, Paul McCartney, Lennon juga memperjuangkan aspirasi kemerdekaan Irlandia Utara. Di sini musisi sekelas John Lennon sudah menunjukkan sebuah pemberontakan, meski hanya lewat musik.

            Ini menunjukkan bahwa ternyata musik nggak lepas dari sebuah pandangan hidup. Celakanya lagi kalo kemudian ada musisi yang benar-benar menyimpang banget dalam kehidupannya. Utamanya kalo kita lihat pada musisi mancanegara. Rata-rata mereka berani bertingkah macam-macam. Tepatnya nyeleneh. Mulai dari lirik lagu, aksi panggung, sampe kehidupan sehari-hari mereka. Gawatnya, karena mereka termasuk kalangan seleb, jadi bukan tak mungkin kalo gaya hidupnya dicontek abis oleh penggemar beratnya. Celaka dua belas!

 

Narkoba dan seks bebas

            Bagi musisi tertentu, musik bisa dijadikan sebagai alat untuk mempropagandakan “ideologi” mereka. Bahkan sangat boleh jadi merupakan sarana yang cukup efektif untuk mengajak pendengarnya mengikuti apa yang mereka inginkan. Maka jangan heran kalo ada penggemar grup musik atau musisi tertentu, selalu menisbatkan (menyandarkan) gaya hidupnya kepada tokoh idolanya itu.

            The Beatles misalnya, grup band ini boleh dibilang jadi corong generasi muda waktu itu. Lewat Beatlemania, musik rock menjadi corong bagi generasi muda untuk menuntut kehidupan yang lebih bebas, yang membolehkan mereka bereksperimen dengan narkoba, dan seks bebas, yang tercakup dalam ideologi “Summer Of Love” tahun 1967. The flower generation ini juga yang sejak 1967 melancarkan protes anti Perang Vietnam di kampus-kampus di AS dan Daratan Eropa. Dengan begitu, berarti para musisi ini sudah memiliki ‘ideologi’ dalam penggarapan lirik lagu dan musiknya dan itu nampak sekali dalam gaya hidupnya.

            Para musisi tersebut juga menjadi pelaku-pelaku eksperimentasi penggunaan narkoba. Dylan lah yang mengenalkan mariyuana kepada The Beatles, dan Harrison mengenal sekaligus memassalkan LSD dari dokter giginya (dental experiment). Walah, ternyata mereka juga berani mengemban ‘dakwah’nya. Perihnya, banyak penggemar mereka yang akhirnya nggak bisa lepas dari kebiasaan jelek idolanya; mengkonsumsi narkoba sampe teler abis.

            Yup, The Beatles emang nggak selugu penampilannya. Mereka justru adalah pecandu berat obat penenang. Terbukti pada pertunjukan pertama, Lenon terlihat naik ke panggung dengan mulut berbusa karena terlalu banyak nenggak pil dan menggumamkan kata-kata yang nggak jelas. Walaupun tidak mengerti apa yang dikatakannnya, penonton tetap tertawa dan bertepuk tangan (mungkin karena sama-sama error). Dalam konsernya tahun 1969, The Beatles pernah membagikan secara cuma-cuma obat halusinogenik yang bisa merusak akal seperti PC, STP, dan LS kepada penonton. Wah?

            Belum lagi daftar musisi yang tewas akibat OD, alias over dosis, atau mati sia-sia karena alkohol cukup panjang, seperti penyanyi blues Janis Joplin, gitaris Jimmy Hendrix, Keith Moon (The Who), Tommy Bolin (Deep Purple), sampai penggebuk drum grup musik Led Zeppelin, John Bonham tewas setelah nenggak 40 botol vodka ukuran besar. Bahkan konon kabarnya, setelah kematian Bonham grup band yang pernah berjaya di tahun 60-an itu bubar di tahun 1980.

            Selain yang langsung tewas OD, masih ada musisi yang dibikin pusing dengan barang haram itu. Sebut saja John Lennon, Mick Jagger, Paul McCartney, mereka berulang kali berurusan dengan pengadilan gara-gara barang-barang terlarang ini.

            Tahu Ozzy Osbourne? Yup, vokalis rock yang sekarang beken lewat film serial MTV The Osbourne Family, punya masa lalu yang amat kelam. Rocker yang punya nama asli John Michael Osbourne ini gemar berpenampilan aneh. Ambil contoh, Ozzy pernah beraksi di panggung ditemani puluhan babi yang kemudian disembelihnya. Pernah pula ia menggigit kepala kelelawar hingga putus. Pokoknya, namanya selalu identik dengan segala hal yang menyeramkan dan menjijikkan.

            Lebih gila lagi jawaban Ozzy saat diprotes oleh para orangtua di California yang anaknya melakukan bunuh diri setelah mendengarkan lirik lagu Ozzy yang berjudul Suicide Solution (dari album Blizzard of Ozz), ”Lagu Suicide Solution justru berisi imbauan anti-alkohol dan anti-bunuh diri,” kilahnya. Wah, jangan-jangan pas ngejawabnya Ozzy lagi teler berat. Jadi ngelantur! Padahal kalo disimak, dalam lirik lagu Suicide Solution Ozzy Osbourne melantunkan syair demikian, “…Where to hide? Suicide is the only way out. Don’t you know what it’s realy about? (…Di mana kau akan bersembunyi? Bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar, tidak tahukah kamu akan hal itu?) Nha lho?

            Yup, disengaja atau nggak, ternyata budaya penggunaan narkoba itu berkaitan langsung dengan proses pembuatan album grup-grup waktu itu. The Beatles sudah memulainya sejak Tomorrow Never Knows dalam album Revolver, The Rolling Stones mengabadikannya dalam Sister Morphine, sementara Led Zeppelin memuja-mujanya lewat Stairway To Heaven. Dengan meminjam narkoba, popularitas musik pop berubah ujud menjadi musik rock yang lebih psikedelik (ketenangan jiwa yang terpengaruh rasa birahi dan seni cinta perasaan akibat obat bius) dan progresif.

            Pokoke, boleh dibilang nyaris semua musisi rock terkenal selama dekade 1960 dan 1970 mengenal akrab alkohol, sampai heroin, atau menyuntikkan dirinya dengan morfin. Yup, mereka emang jago ngeboat atau ngepun.

            Seperti nggak mau kalah, mendiang Kurt Cobain bersama gerombolannya di Nirvana pernah membuat lirik lagu dengan judul Rape Me (Perkosalah Aku). Walah, dari judulnya saja sudah bikin ‘ngeri’ dan tentu saja p-o-r-n-o. Idih, ngajarin seks bebas dong? Pasti!

            Ternyata kelakuan bejat model begitu nggak melulu milik musisi jaman baheula. Jaman kiwari aja banyak yang kacau. Tunjuk aja salah satunya artis macam Britney Spears, lagu-lagu doi kayaknya udah akrab banget di telinga remaja dan tentunya digandrungi. Tapi coba kamu perhatikan, kebanyakan lirik lagu-lagu Britney menjurus ke arah free sex. Contohnya salah satu lagu hit-nya Baby One More Time, Britney meminta para pria “to hit her”. Arti kata hit dalam musik R & B adalah seks. Nha lho? Bukan cuma Britney, penyanyi anyar yang lagi melejit Shakira dalam lagunya yang sering diputar di tivi Underneath Your Clothes, terang-terangan ngebahas soal ‘sekwilda’

 

Pamer Suara, Pamer Aurat

            Dalam industri musik modern, penyanyi bukan cuma jual suara, tapi juga harus jual tampang…en bodi. Maka boysband macam Westlife, Backstreet Boy, Boyzone sebetulnya punya suara yang nggak bagus-bagus amat, tapi tampang cute mereka itu yang jadi penambah larisnya kaset-kaset mereka. Ini juga yang terjadi pada grup asia F4. Kalau dibandingkan dengan vokalnya Al Jarreau, Peabo Bryson, Michael Bolton, George Michael atau Freddie Mercurie, jelas kalah telak. Tapi kalau soal dandanan, ya jelas kerenan Westlife.

            Hukum itu pastinya kudu berlaku buat penyanyi wanita. Kalau jaman dulu Whitney Houston, Natalie Cole, Nikka Costa, Diana Ross, bener-bener ngejual suara, tapi kebanyakan vokalis akhwat eh cewek sekarang jadi jual bodi. Tengok saja sederatan biduan fave remaja macam Britney Spears, Christina Aguilera, Shakira, Pink, Kylie Minogue, J-Lo (Jennifer Lopez), Destiny’s Child, Atomic Kitten pada berlomba pamer aurat. Bahkan grup instrumentalia macam Bond aja merasa ‘wajib’ menunjukkan keseksian tubuhnya. Nggak terkecuali duo vokalis yang beranjak remaja M2M mulai ikut-ikutan seniornya pake busana nyablak.

            Aksi seperti itu bukan sekadar inisiatif pribadi, tapi memang jadi tuntutan industri musik Barat. Para produser itu ngerti selera, suara boleh pas-pasan tapi penampilan harus ‘mengundang’. Maklumlah, di Barat sana perempuan memang jadi sarana hiburan. Artisnya sendiri bagaimana? Kebanyakan dari mereka justru menikmati. Kamu yang nyandu sama Britney Spears bakal menyaksikan perubahan cara berpakaiannya dari awal. Kalau pada album pertama ia masih ‘sopan’, tapi pada album kedua dan ketiga justru keliatan liar.

            Sami mawon dengan Britney adalah Christina Aguilera yang makin lama malah makin nggak karu-karuan. Hasilnya, kedua vokalis yang tampil binal ini diganjar oleh sebuah majalah dengan gelar artis berbusana terburuk.

            Lain Britney lain J-Lo. Penyanyi dan bintang film yang punya julukan “La Guitarra” karena punya awak keren kayak gitar Spanyol, selalu ngerjain orang yang meng-interviewnya dengan dandanan seksi, seperti pake kimono atau duduk di samping kolam renang dengan bikini yang minim banget. Kayaknya do’i kurang percaya diri kalau ia memang seksi. Ampun!

            Jaman tante kamu muda pastinya ingat Madonna yang heboh banget. Doi pernah foto ‘polos’ untuk majalah Playboy, bikin video porno, juga punya aksi panggung yang aneh, melempar ‘celdal’ ke tengah penonton yang juga dibalas dengan lemparan ‘celdal’ oleh penonton wanita. Sama-sama nggak waras memang.

            Tapi ada juga penyanyi yang nggak cakeup tapi nekat pamer aurat. Lho kok ada? Itu tuh si Alanis Morissete. Dalam video klip lagu Thank You ia tampil bugil sepanjang adegan. Untuk Indonesia video itu disensor, jadi si Alanis cuma kelihatan dari kepala sampai bagian bawah leher. Maksiat kok nekat, Neng!

 

Anti Agama

            Para musisi seperti nggak kehabisan ide untuk melampiaskan emosinya. Bagi musisi yang punya latar belakang kekecewaan dan kebencian terhadap agama, mereka tak segan menghujat kebenaran agama. Akibatnya, lahir pula kultur “pemuja setan” yang dikenalkan oleh grup musik The Rolling Stones, Black Sabbath, Led Zeppelin, sampai Kiss. Dalam salah satu lagu Led Zeppelin, Stairway To Heaven, konon samar-samar bisa didengar kalimat Hear To My Sweet Satan. Sebaliknya, seorang Lennon yang berada di puncak popularitasnya dengan gagah berani merendahkan Tuhan, “I don’t believe in Superman, I don’t believe in The Beatles, and I don’t believe in God, I just believe in John and Yoko,”  ujar John Lennon sesumbar. Dan musisi sekaliber Clapton pun disembah-sembah para penggemarnya dengan slogan Clapton Is God. Walah?

            Jim Morrison, pentolan grup band The Doors, yang tewas secara misterius pada tanggal 3 Juli 1971 juga diduga kuat memuja setan. Saat prosesi pernikahan, Morrison dan istrinya berdiri di atas pentagram dan saling minum darah masing-masing. Morrison mengetahui bahwa setan adalah sumber musiknya. “Aku bertemu dengan roh dari musik, berpenampilan seperti iblis di sungai Venesia. Aku lihat setan bergerak di sampingku, seperti bayangan di pikiran,” ujarnya terus terang. Ini ngomongnya lagi beler apa ngimpi? Gaswat! Hal yang hampir sama dilakukan Rolling Stones. Tahun 1967, Rolling Stone meluncurkan album rock pertama, Their Satanic Majesty Request, yang jelas dipersembahkan untuk setan.

            Seakan melengkapi kebobrokan para musisi, Marylin Manson pun acapkali bertingkah aneh dalam banyak konsernya. Bahkan diduga kuat kalo doi tuh atheis, alias nggak percaya adanya Tuhan. Dan kalo konser, pastinya aksesoris bernuansa mistis kerap menjadi pengiringnya. Malah grup rock Insane Clown Posse, yang artinya ‘Gaya Badut Gila’ mengaku sebagai grup terbesar dan paling menakutkan, kepengen nyaingin Marilyn Manson. Tema konser mereka selalu berkisar pada nuansa klenik (mistis). Di panggung mereka hobi berdemo dengan semburan api dan darah mengalir. Ih, syerem banget!

            Teman pembaca, yang ditulis di sini boleh dibilang cuma sedikit dari sekian kasus yang ada. Tapi cukup memberikan gambaran kepada kita bahwa para musisi yang hidup dalam sistem kehidupan sekular dipastikan bebas berekspresi sesukanya. Meskipun hal itu terlarang dalam ajaran agama. Pokoknya, bebas seliar-liarnya. Jangan heran kalo gaya hidup permisif dan hedonis acapkali menjadi trademark dari sistem kehidupan kapitalisme dan Sosialisme—termasuk komunisme. Bahaya memang. [O. Solihin: sholihin@gmx.net, dari berbagai sumber]

About these ads

2 responses to “Sisi Gelap Para Musisi

  1. artikelnya bagus. Memang, hal-hal seperti ini harus disorot orang banyak supaya semuanya bisa memulai gerakan boikot terhadap penyanyi-penyanyi ‘bejat’ yang hendak memasuki kancah permusikan di Indonesia.

  2. lumayan artikelnya, tapi saya tegaskan yang namanya artis atau pemusik memang akrab dengan kehidupan bejat kayak gitu. hanya sedikit saja dari mereka yang ingat ibadah pada Allah SWT. Dari mereka pula paham hedonis, matrealistik dan alkoholik semakin merajalela.

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s