Bercerita tentang peperangan antara Barat dan Islam, kita bisa menelusuri kembali peta perjalanan sejarah yang amat panjang dan melelahkan. Gelombang serangan tsaqafah (peradaban dan budaya) yang dilancarkan Barat adalah alternatif pengganti serangan militer yang sebelumnya menjadi pilihan utama Barat dalam menghancurkan Islam.
Perang pemikiran yang dilancarkan Barat telah menyumbang dalam kebangkrutan Daulah Khilafah Islamiyah. Beberapa wilayah di bawah kekuasan Turki Utsmaniy diprovokasi oleh Inggris dan Perancis. Kedua negara ini menyebarkan isu bahwa Turki adalah penjajah. Jadi, langkah bijak adalah melepaskan diri dari kedaulatan Turki. Hasilnya, angin nasionalisme berhembus kencang menyisir wilyah-wilayah yang jauh dari kontrol pusat kehilafahan dan menciptakan perpecahan yang berujung keroposnya Daulah Khilafah di Turki Ustmaniy dan perlahan meluncur menuju kejatuhannya.
Padahal, Islam telah berhasil membangun kejayaan selama 14 abad lebih, tapi akhirnya peradaban Islam jatuh tersungkur. Inilah kisah tragis yang dialami peradaban Islam. Bukan tanpa sebab tentunya. Serangan pemikiran dan militer dari Barat bertubi-tubi menguncang Islam. Akibatnya, kaum muslimin mulai goyah. Puncaknya, adalah tergusurnya Khilafah Islamiyah di Turki dari pentas perpolitikan dunia.
Saat itu, Inggris menetapkan syarat bagi Turki, bahwa Inggris tak akan menarik dirinya dari bumi Turki, kecuali setelah Turki menjalankan syarat-syarat berikut: Pertama, Turki harus menghancurkan Khilafah Islamiyah, mengusir Khalifah dari Turki, dan menyita harta bendanya. Kedua, Turki harus berjanji untuk menumpas setiap gerakan yang akan mendukung Khilafah. Ketiga, Turki harus memutuskan hubungannya dengan Islam. Keempat, Turki harus memilih konstitusi sekuler, sebagai pengganti dari konstitusi yang bersumber dari hukum-hukum Islam. Mustafa Kamal Ataturk kemudian menjalankan syarat-syarat tersebut, dan negara-negara penjajah pun akhirnya menarik diri dari wilayah Turki[1]
Cerzon (Menlu Inggris saat itu) menyampaikan pidato di depan parlemen Inggris, “Sesungguhnya kita telah menghancurkan Turki, sehingga Turki tidak akan dapat bangun lagi setelah itu… Sebab kita telah menghancurkan kekuatannya yang terwujud dalam dua hal, yaitu Islam dan Khilafah.”
Pernyataan Cerzon setidaknya memberikan gambaran, betapa serangan dalam bentuk tsaqafah jauh lebih efektif ketimbang militer. Meski keduanya juga sama-sama menebar ancaman yang akibatnya fatal.
Serangan pemikiran sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Bahkan jauh sebelum keruntuhan Daulah Khilafah Utsmaniyah. Salah satu hasil dari perang pemikiran yang dimenangkan Barat adalah tercerabutnya rasa keberanian kaum muslimin untuk membela agamanya sendiri. Begitu lemahnya kaum muslimin dalam membela Islam, kehormatannya sebagai seorang muslim rela diinjak-injak musuh-musuh Islam.
Saking lemah dan penakutnya, dikisahkan ketika terjadi penyerbuan tentara Tartar dari Mongolia. Betapa konyol dan pasrahnya kaum muslimin saat itu, digambarkan oleh ahli sejarah, seorang tentara Tartar yang menemukan tempat persembunyian kaum muslimin (lelaki, wanita dan anak-anak). Ia berkata: “Sayang sekali, aku tidak membawa senjata untuk membunuh kalian. Awas, jangan bergerak. Tunggu sampai aku kembali membawa pedangku.” Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa pedangnya dan menjagal satu persatu kaum muslimin tersebut. Tak ada sedikit pun usaha kaum muslimin untuk meninggalkan tempat itu, misalnya dengan melarikan diri. Menyedihkan![2]
Jerat-jerat pemikiran dan budaya Barat
Lembaga-lembaga pendidikan yang muncul di masa-masa terakhir khilafahan Turki Utsmaniy ikut mencuci otak kaum muslimin. Di Beirut, Inggris dan Perancis merancang rencana yang memberikan akibat dalam jangka panjang. Secara bertahap mereka menimbulkan rasa segan di kalangan muda terhadap Islam dan mempengaruhi pemikiran di benak kaum muslimin pada umumnya. Mereka menjalankan rencana tersebut melalui invasi misionaris dan serangan budaya yang berkedok ilmu pengetahuan, dan untuk itu mereka menyiapkan dana yang cukup besar.
Tak mustahil jika mereka mampu mendirikan beberapa organisasi misionaris, terutama berasal dari Inggris, Perancis, dan Amerika. Tak berhenti di situ, mereka juga melakukan serangan budaya melalui berbagai misi dan misonaris dalam rangka mengambil hati warga negara beragama Nasrani. Bersamaan dengan itu, mereka juga getol menyebarkan keraguan bagi kaum muslimin terhadap agamanya sendiri dan menggoncangkan akidahnya. Parahnya lagi, hukum Islam mulai dicampakkan dan diganti dengan mengadopsi undang-undang Barat yang sejatinya melemahkan, bahkan menghancurkan secara perlahan kekuatan Negara Islam saat itu.
Keberhasilan Barat yang dipelopori Inggris inilah memberi inspirasi bagi musuh-musuh Islam untuk semakin mengcengkeramkan kuku penjajahannya di tanah kaum muslimin. Tujuan mulia mereka adalah untuk mengeksploitasi seluruh potensi yang dimiliki negeri-negeri Islam. Menyedotnya demi kepentingan ekonomi dan politik mereka.
Lain dulu, lain pula sekarang. Jerat-jerat pemikiran dan budaya yang ditebar Barat sudah mengalami modifikasi yang jauh lebih efektif dan membahayakan. Pesan-pesannya kental sekali dengan makna perjuangan kapitalisme yang mengusung nilai sekularisme. Sebab, sekularisme merupakan dasar bagi semua penyelesaian yang ditetapkan oleh Kapitalisme, sekaligus sebagai asas bagi setiap pemikiran yang dicetuskannya.
Paradigma sekularisme yang lahir dari sebuah proses kompromi telah memberikan suatu anggapan bahwa manusia adalah tuan bagi dirinya sendiri. Agar manusia dapat menjadi tuan bagi dirinya sendiri, maka manusia, menurut paradigma sekularisme, harus dijauhkan dari segala pengawasan pihak lain (agama/Tuhan). Hal ini tidak akan bisa terealisasi kecuali jika manusia diberikan kebebasan dan dilepaskan dari segala ikatan. Dari sini, lahirlah kemudian ide kebebasan (liberalisme) yang selanjutnya menjadi sesuatu yang inheren dalam ideologi Kapitalisme. Dari ide kebebasan ini, pada gilirannya, lahirlah konsep demokrasi; sebuah konsep yang menghendaki manusia steril dari intervensi pengaturan pihak lain (baca: agama atau Tuhan), sekaligus menghendaki agar manusia diberikan kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri.
Kaum sekularis selalu menganggap bahwa kebahagiaan manusia terletak pada keberhasilannya memperoleh sebanyak mungkin kesenangan dan kelezatan duniawi. Wajar jika kemudian kemaslahatan (menurut akal mereka) merupakan tujuan utama dari setiap perbuatan yang dilakukannya. Celakanya, banyak kaum muslimin yang tergoda dengan paham ini. Inilah akibat paling menyakitkan dari serangan pemikiran dan budaya yang dilancarkan Barat.
Itu sebabnya jangan kaget dan heran jika banyak kaum muslimin yang berkiblat ke Barat hampir di semua aspek kehidupan. Sebagian kaum muslimin justru merasa bangga memiliki dan mengamalkan semua warisan budaya Barat. Pernak-pernik kehidupan rasanya tak berarti jika tidak dipoles dengan nuansa hedonistik. Maka muncullah kebiasaan buruk dalam mengukur sebuah nilai kebahagiaan. Bagi mereka yang terhipnotis dengan paham hedonisme, kenikmatan yang bersifat jasadi dan materi adalah tujuannya. Dengan kata lain, memuja kesenangan duniawi semata.
Saudara kembar hedonisme adalah permisivisme. Budaya serba boleh ini memang turunannya sekularisme. Setiap orang berhak untuk melakukan apapun yang disukainya. Bahkan berani memberi catatan bahwa orang lain dilarang keras untuk mengusik jalan hidupnya. Tentu saja ini berbahaya karena melemahkan daya kontrol individu dan masyarakat. Maka jangan sekadar mengelus dada jika tayangan dan bacaan yang mengusung kebebasan berekspresi yang kebablasan itu dinilai mendua; ada yang kontra dan juga tak sedikit yang pro. Ini gambaran ril sebuah negara sekular.
Bahkan saat ini, berkembangnya instans culture alias budaya pop telah menggerus kepribadian kaum muslimin. Kalangan muda Islam mulai tergiur dengan gemerlapnya budaya ini. Itu sebabnya, kritikus Lorraine Gamman dan Margaret Marshment,[3] bersepakat bahwa budaya populer adalah sebuah medan pergulatan ketika mengemukakan bahwa tidaklah cukup bagi kita untuk semata-mata menilai budaya populer sebagai alat kapitalisme dan patriarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya populer juga tempat dipertarungkannya makna dan digugatnya ideologi dominan.
Akibatnya, tanpa sadar kita dipaksa patuh dengan logic of capital, logika proses produksi, yakni hal-hal yang dangkal dan cepat ditangkap yang cepat laku. Inilah yang sering dijuluki sebagai instans culture. Anthony Giddens menyebutnya sebagai dunia yang sedang berlari dan semua yang selalu berlari satu track lebih tinggi ini memang tidak memiliki kesempatan untuk merenungkan lebih dalam. Yang penting dalam dunia ini adalah menjual dan membeli.
Mempertajam serangan lewat media massa
Akhirnya dunia memang harus memasuki era baru, era globalisasi. Sebagai hasil rekayasa teknologi informasi, era ini telah membawa manusia pada budaya global, budaya yang nge-pop dan melahirkan manusia-manusia kosmopolitan. Manusia masa kini adalah spesies “baru” yang tidak mengenal batas-batas budaya bahkan teritorial. Hal ini dikarenakan lumernya sekat komunikasi di antara manusia dengan terbentuknya alam cyber yang membuat jalur komunikasi alam maya sesama penghuni planit ini. Kita pun menjadi “warga negara” dunia yang terlibat dan melibatkan diri dalam berbagai macam konflik sosial-politik-ekonominya, terguncang dengan gelegar budaya pop-nya dan juga mengambil bagian untuk memperbaharui situasi manusia di belahan dunia sana yang serasa tidak selebar daun kelor.
Hal ini dimanfaatkan betul oleh Barat untuk menyebarkan opini lewat media massa. Kartel opini yang dimiliki Barat gencar memberi informasi yang buruk bagi kaum muslimin. Selain menawarkan gaya hidup mereka, juga sekaligus menyerang dan menyudutkan Islam melalui opini yang dikembangkannya. Opini sepihak tentang terorisme misalnya, mampu menenggelamkan protes kalangan yang mengatakan bahwa Amerika berada di balik semua aksi kejam itu. Walhasil, media massa menjelma menjadi mesin ‘pembunuh’ massal dalam pemutarbalikkan opini.
Tidak heran jika Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Lewat media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut “gatekeeping” lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan dada” (blood and breast) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita tidak bisa, atau bahkan tak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa.
Melengkapi serangannya, dunia hiburan pun tak lepas dari sasaran tembak. Itu bisa kita temukan secara tidak langsung melalui tayangan film. Fakta telah menunjukkan bahwa umumnya, hampir semua produksi Hollywwod selalu menyudutkan dunia Arab. Islam dan Arab selalu menjadi bulan-bulanan film-film Hollywood. Jadi kian jelas saja niat jahat mereka terhadap Islam. Sampai-sampai benturan peradaban pun dijajal juga lewat dunia hiburan. Perihnya, tidak sedikit di antara penontonnya yang kemudian terpengaruh oleh kampanye mereka dalam melawan Islam melalui jalur hiburan ini.
Ambil contoh beberapa saat setelah terjadi pengeboman gedung Alfred Murrah di Oklahoma City (1995), beberapa reporter CNN, termasuk seperti Wolf Blitzer langsung menyebut teroris Arab lah pelakunya. Termasuk juga penyiar CBS, Connie Chung dengan mengatakan, “Sumber resmi pemerintah AS pada CBS mengatakan bahwa pelakunya adalah terotis Timur Tengah”. Pendapat senada bahkan juga resmi diucapkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton waktu itu. Walaupun kemudian pelaku yang tertangkap ternyata Timothy Mc Veigh, seorang pengikut David Koresh, toh gara-gara berita menyudutkan itulah, masyarakat muslim Amerika langsung mendapat teror dan perlakuan buruk dari semua rakyat Amerika.
Media massa memang punya peranan penting sebagai agent of change. Itu sebabnya, Barat paham betul untuk mempergunakannya dengan sebaik dan sefektif mungkin untuk menyebarluaskan budaya mereka, sekaligus menghajar nilai-nilai Islam. Melalui proses yang cukup panjang, akhirnya mereka bisa menuai hasil yang memuaskan.
Jangan mau jadi pecundang
Harus diakui bahwa peperangan ini, setidaknya sampai saat ini, dimenangkan oleh Barat. Kita yang kalah. Barat menuai untung, kita yang tercebur. Tentunya tidak ingin kondisi ini memberi kita beban yang begitu berat. Jadi, saatnya kita bangkit dari keterpurukan ini. Hidup jadi pecundang tidak saja menyakitkan, tapi juga terhina total. Itu sebabnya, kita tetap waspada dengan kondisi ini. Waspada dalam pengertian tidak mudah tergoda dengan budaya baru yang bukan berasal dari Islam. Dengan kata lain, pandai memilih dan memilah. Kemudian dalam menilai budaya tersebut adalah berdasarkan Islam. Bukan yang lain.
Sebaiknya kita merenungkan firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali ‘Imrân [3]: 118).
Saatnya juga kita menyimak dengan jeli pernyatan dan ungkapan seorang tokoh dunia dalam menyikapi peperangan melalui kekuatan peradaban dan budaya ini, agar kita selalu ingat bahaya yang mengancam eksistensi kita, “Kita tidak sekadar memberikan pengaruh yang menentukan dalam sistem politik yang kita kehendaki serta kontrol terhadap pemerintah; kita juga melakukan kontrol terhadap alam pikiran dan jiwa anak-anak mereka (kaum muslimin. pen)”[4] Wallahu’alam.[O. Solihin: sholihin@gmx.net]
[1] Jalal al-Alam dalam kitabnya Dammirul Islam Wa Abiiduu Ahlahu, hlm. 48
[2] (lebih rinci tentang kekejian dan kejahatan kaum Tartar dalam buku al-Bidayah wan Nihayah, oleh Ibnu Katsir jilid 13, Hlm. 83-88 dan buku al-Kamil fit Tarikh, oleh Ibnul Athir, jilid 9, Hlm. 329-386).
[3] Keduanya penyunting buku The Female Gaze: Women as Viewers of Popular Culture (1998)
[4] Henry Ford, Sr., “The International Jew: The World Foremost Problem































Salam kenal Pak Solihin. Tulisan Anda sangat bagus. Mencerahkan! Terus berkarya!
Kang, hurufnya kok kecil2 sich? Aku save aja aja deh. Baca di rumah. Abisnya panjang pisan!
Boros pulsa ah maca langsung di web mah
Isinya sangat bagus! Mencerahkan! Thank you Mas!
Pak sholihin tolong di bahas lebih rinci tentang pembahasan mengenai paham permisivisme;dari mulai pengertian paham tsb dari bahasa inggris dan arab, sejarah paham tsb,tujuan,sarana-sarana,tokohnya…Jazzakulloh khoiron katsiro
Kang! Tulisannya panjang banget sih?

Bagus. Cuma kenapa dibuka di internet explorer koq jadi banyak tanda-tanda aneh gitu dech!
Terus berkarya Kang!