Geger “VCD Iklan Sabun Mandi”


STUDIA Edisi 102/Tahun ke-3 (17 Juni 2002)

Ngomong-ngomong soal iklan, saat ini lagi gonjang-ganjing tentang VCD casting iklan sabun mandi yang heboh diobrolin masyarakat. Korbannya sudah jelas anak puteri. Kenapa heboh? Konon kabarnya calon model yang katanya untuk iklan sabun mandi itu mela­porkan kepada polisi, bahwa mereka udah ditipu pihak production house (rumah produksi). Ta­dinya mereka berpikir bahwa casting (pemi­lihan) tersebut adalah untuk jadi calon bintang iklan sabun mandi, eh, ndak tahunya ternyata malah rekaman adegan “buka-bukaan” tubuh mereka digandakan dan dijual bebas dalam bentuk VCD. Bisa didapatkan di pedagang kaki lima lagi. Ya, mirip-mirip kasus Bandung Lautan Asmara yang dulu sempat bikin heboh juga. Walah?

Kasus VCD porno casting iklan sabun mandi ini kian hari kian runyam. Bahkan VCD itu konon banyak dicari. Tapi semoga saja pemba­hasan ini bukan untuk semakin membuat pena­saran kamu, untuk kemudian bela-belain nyari VCD-nya. Wah, jangan sampe deh. Maksud kita hanya ingin mengingatkan, jangan sampe kasus seperti ini terus dan terus terulang. Kita benci juga sama para model tersebut karena mereka rela nyari duit dengan cara yang haram, termasuk kepada pemilik rumah produksi, dan juga peng­ganda VCD tersebut, sekaligus menyayangkan masyarakat yang beli VCD yang bersangkutan. Pokoknya, benci tulen deh!

Sekadar tahu saja, VCD yang memamer­kan 9 calon model lokal yang tengah melenggak-lenggok memamerkan tubuhnya yang—maaf—tanpa busana itu, oleh pihak berwajib dianggap sebagai salah satu bentuk VCD porno, meski konon kabarnya di dalamnya tidak ada satupun di antara model tersebut yang beradegan sedang—maaf—bergelut dengan seorang pria. Ih, jijay deh!

Lucunya, berdasarkan laporan dari situs kafegaul.com, dari 9 model tersebut, beberapa di antaranya pernah membintangi sejumlah iklan dan sinetron. Bahkan ada juga yang pernah menjadi gadis sampul sebuah majalah remaja. Mereka yang disebut-sebut terlibat dalam casting itu di antaranya Cut Nadira (18), siswi SMU Jakarta, Susi Widaningsih (14) siswi SLTP Jakarta, Helen (20), mahasiswi universitas swasta, Jakarta. Gadis ini mengaku pula seba­gai model dan bintang sinetron. Lalu, Melvy Noviza (20), tamatan SMA yang mengaku sem­pat pula menjadi gadis sampul sebuah majalah tahun 1996, sempat membintangi beberapa sinetron, dan iklan. Reski Novita (19), yang pernah menjadi foto model kalender dan gadis sampul majalah tahun 1999, juga pernah mem­bintangi beberapa sinetron. Kemudian Gerhana (22), seorang model, Marita (25), bintang iklan, serta Nadia (19), model dan bintang iklan produk Nature, juga sempat menjadi gadis sampul majalah.

Melvy Novita Z (20) adalah salah satu di antara sembilan orang model yang di-casting untuk iklan sabun. Ia pernah menjadi figuran di beberapa sinetron, di antaranya FTV Cinta Tak Semanis Gula dan sebuah miniseri dengan judul Duda. Ia juga pernah membintangi beberapa iklan di antaranya Biore Scrub. “Saya ini merasa sangat dirugikan dan merasa sangat terpukul. Saya tidak pernah mau menjual tubuh saya. Benar-benar ini saya tidak tahu,” ungkap Melvy dengan pandangan mata berkaca-kaca. Ia mera­sa harga dirinya hancur karena ada gam­barnya dalam video tersebut. (tabloid-citra.com)

Coba, masih muda, enerjik, dan tentunya punya tampang yang menjual dong. Sebab, kalo yang tampangnya kartu mati atawa PPD alias Pas-Pasan Deh, kayaknya cocok untuk iklan kaos. T-Shirt maksudnya? Bukan, tapi iklan kaos lampu! He..he..he.., sori sobat.

Sobat muda muslim, atas kejadian ini kita prihatin. Bukan karena mereka dijebak or diti­peng habis-habisan sama agennya. Tapi kita prihatin kenapa masih ada remaja yang mau mencari rezeki dari pekerjaan yang haram. Pun kita juga kecewa dan geram kepada para agen model, kenapa mereka masih nyari duit dengan cara yang haram. Astaghfirallah!

 

Siapa yang disalahkan?

Sobat muda muslim, jangan sampe kita salah memberi hukuman. Mentang-mentang para model tersebut dirugikan, lalu kita secara tanpa sadar belain mereka. Dengan alasan kasi­han atau karena hak asasi manusia. Wah, itu namanya dukungan yang nggak proporsional, alias nggak pada tempatnya. Bahaya kawan.

Dalam kasus ini, semuanya bisa ditunjuk hidung. Paling nggak yang pertama adalah para model tersebut. Mengapa mereka mau menja­lani profesi yang bertabur maksiat? Berikutnya adalah pemilik rumah produksi, karena mereka telah memberi peluang orang untuk berbuat maksiat. Termasuk bisa jadi masyarakat juga disalahkan. Kenapa? Karena mereka malah men­jual dan membeli VCD tersebut. Padahal seha­rusnya ikut andil dalam memberantas pereda­rannya. Bukan malah menikmatinya juga. Wah, benar-benar kacau semuanya nih. Itu sebabnya, yang pantas disalahkan jadi banyak, bukan cuma pemilik rumah produksi.

Celakanya, nggak sedikit orang yang “membela” para model. Dengan alasan mereka dilanggar privasinya. Lho, apa nggak kebalik nih? Dengan mereka ikut mendaftar jadi calon model iklan tersebut berarti mereka udah rela diapain aja dong, termasuk disuruh pamer aurat.

Tapi anehnya, sikap kecewa, geram, dan dongkol dari 9 calon model yang ikutan casting iklan sabun mandi itu, adalah karena ade­gan “buka-bukaan” yang dilakukannya ‘disalah­guna­kan’ pihak rumah produksinya, yakni digan­dakan dan dijual bebas dalam bentuk VCD. Apalagi pihak kepolisian kemudian menggolongkan ke dalam VCD porno. Nah lho, kok bisa?

Barangkali akan lain ceritanya kalo benar-benar casting tersebut dibuat untuk iklan sa­bun mandi, apalagi merek terkenal. Rasanya mereka nggak bakalan protes tuh. Yakin deh, walaupun pada akhirnya tubuh mereka sama-sama ‘dinikmati’ banyak pemirsa televisi misal­nya. Padahal, itu kan sama-sama jual tubuh. Iya nggak? Wah, ini logikanya gimana sih? Kasiaan deh. Jadi apa bedanya? Keduanya sama-sama bejat. Dan seharusnya mereka juga udah paham risikonya dong. Bahwa yang namanya casting untuk model iklan sabun mandi pastinya kudu melakukan adegan “buka-bukaan” pakaian. Ber­arti kan udah rela untuk diapain aja. Iya nggak? Mengapa musti protes? Cuma mungkin lebih ‘sopan’ kali ye, karena bisa tampil mengiklankan produk sabun mandi merek terkenal, ketimbang dijajakan di VCD porno. Logikanya kok aneh ya?

Tambah ribet lagi karena kita saat ini hidup dalam sistem kehidupan kapitalisme. Da­lam sistem kehidupan ini, kita dididik dengan gaya hidup yang permisif (serba boleh) dan hedonis (memuja kenikmatan jasmani dan materi belaka). Dua gaya hidup ini paling nggak sudah mendarah-daging dalam kehidupan kita. Dengan demikian, yang patut disalahkan adalah negara, masyarakat dan terakhir individu. Untuk mengubah kondisi ini, juga dibutuhkan pembena­han dari ketiga komponen tersebut. Dan itu hanya bisa diubah dengan syariat Islam. Jadi mulai sekarang kita dukung dan perjuangkan tegaknya syariat Islam secara menyeluruh.

 

Mengapa jadi model?

Kayaknya kalo diajukan pertanyaan macam begini, nyaris bisa dipastikan jawaban­nya seragam; yakni untuk nyari popularitas, dan tentunya tujuan akhirnya mengeruk banyak duit. Siapa tahu berawal dari model, tawaran untuk jadi bintang iklan dan sinetron bejibun. Jadi, siapa yang nggak mau hidup enak kayak begitu? Dan siapa pula yang nggak tergiur dengan dunia yang kerlap-kerlip seperti itu? Banyak kasus memang. Dessy Ratnasari misalnya,  bisa tenar jadi bintang sinetron berangkat dari dunia mo­del. Dulu, Teh Dessy ini pernah jadi gadis sam­pul di majalah GADIS. Dari situ tawaran iklan dan main film antri. Banyak duit dong? Betul, ya ngetop, ya tajir.

Tapi nggak semua orang beruntung, lho mengadu nasib di dunia model. Maklum banyak saingan. Ketatnya persaingan acapkali mem­buat seba­gian besar calon model rela diapain aja. Celakanya kalo sampe ‘dikerjain’ pihak pen­cari bakatnya (agen). Bisa berabe kan? Tapi bagi yang masih berpikir waras demi menjaga kehor­matan barangkali nyesel dan gondok banget. Tapi bagi remaja puteri yang cuek dan punya prinsip “Biar tekor asal kesohor”, kayaknya enjoy aja tuh. Biarin nggak dipajang sebagai sampul majalah, dipasang jadi sampul rapot or sampul “Surat Yasin” yang dibagiin pas 40 hari wafat pun mau. Lho? J

Udah jadi rahasia umum kalo dunia model bisa menjadi jalan pintas untuk tenar dan sekaligus gampang nyari duit. Remaja puteri yang punya tampang sedikit di bawah J. Lo (Jennifer Lopez), kayaknya udah bisa lolos jadi model iklan tuh. Maklum, berdasarkan kesepa­katan umum, tampang kayak begitu menjual banget. Maka kalo udah lulus jadi model, siap-siaplah tenar dan peluang nyari duit semakin cerah. Bukan apa-apa, tawaran jadi bintang si­ne­tron atawa bintang iklan kian terbuka lebar. Jadi kian jelas, bahwa tujuan teman-teman remaja puteri yang terjun sebagai model adalah untuk mencari ketenaran dan uang.

Sobat muda muslim, tapi rasanya sedih banget denger dan baca cerita tentang teman-teman remaja puteri yang mengadu nasib jadi model iklan atau bintang sinetron. Bener. Rasa­nya kok aneh ya, apa yang mereka cari? Kalo kesenangan yang dicari mengapa harus meng­orbankan harga diri? Bukankah itu juga adalah sebuah bentuk kerugian besar. Aneh memang. Inilah alasn yang nggak bisa kita terima.

Taubatlah

Sobat muda muslim, khususnya bagi teman remaja puteri yang sudah terlanjur meniti karir jadi model, atau yang akan menjadi model, atau yang bercita-cita jadi model, sadar­lah. Jalan yang sedang kamu tempuh itu banyak peluang untuk berbuat maksiat. Peker­jaan se­perti itu haram ditekuni seorang muslimah.

Bagi yang masih sekadar bercita-cita, urungkan lagi cita-cita kamu dan ubahlah deng­an cita-cita yang baik dan halal. Mumpung be­lum terlambat. Bagi yang sudah melangkah ke dunia itu, dan boleh dibilang jadi model, meski kelas amatiran, segeralah sadar. Nggak usah diterusin menjalani profesi yang dekat dengan kemaksiatan tersebut. Nggak baik. Masih ba­nyak waktu untuk mencari jenis pekerjaan yang halal. Kalo pun kamu mau sekolah lagi, itu juga baik. Rajin belajar dan semangat mencari ilmu, untuk bekal kehidupan di dunia dan di akhirat.

Nah, bagi teman remaja yang sudah kepalang basah, alias udah terlanjur jadi model, dan ngetop lagi. Ingat, itu nggak jadi jaminan kalo kamu terus kepake dan banyak disuka. Kamu bakalan tua, kulit keriput, dan nggak laku lagi. Atau malah sebelum usia kamu bertambah tua, ajal sudah datang duluan menjemput kamu. Sementara kamu masih bergelimang dalam ke­maksiatan. Apa yang mau dibawa sebagai bekal di akhirat kelak? Aduh, jangan sampe deh.

Sobat muda muslim, masih ada waktu untuk berubah. Tentu, selama kita masih diberi­kan hidup oleh Allah Swt. Jadi manfaatkan ke­sempatan hidup ini. Sebab, kita juga nggak tahu kapan kematian itu akan menjemput kita. Oke, mulai dari sekarang benahi kehidupan kita. Jangan ditunda-tunda lagi. Sebab, kalo nggak  dimulai dari kita sendiri, siapa lagi? Allah Swt. menyebutkan dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِم

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (TQS ar-Ra’d [13]: 11)

Sobat muda muslim, kalo pun kebahagian yang dicari dan didapat oleh teman-teman re­maja puteri yang jadi model, tapi sebenarnya itu adalah kebahagiaan semu semata. Bagi kita, kaum muslim, makna kebahagiaan adalah terca­painya ridho Allah, bukan dengan banyaknya harta kekayaan atau popularitas. Sebab per­cuma aja banyak harta dan ngetop, tapi Allah nggak ridho karena kita nyari rizki dari jalan yang diharamkan oleh Allah. Iya nggak?

            Oke deh, mulai saat ini, dekati teman kamu yang udah sholehah, terus minta penga­jian kepada mereka secara intensif. Pelajari Is­lam dengan serius dan benar. Insya Allah, de­ngan begitu kamu bisa menjadi generasi muda yang selamat di dunia dan di akhirat. Kita bukan sok suci lho, tapi ngingetin kamu. Setuju kan? []

About these ads

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s