Keputusan Washington membatasi harga minyak sungguh menjadi bukti nyata adanya hegemoni Amerika atas pasar minyak dan dominasi mereka terhadap kebijakan produksi dan harga minyak sesuai dengan kepentingan ekonomi nasional Amerika. Ketundukan para penguasa Timur Tengah -termasuk penguasa Kuwait- terhadap keputusan Washington untuk mening-katkan kuota produksi minyak itu adalah bukti nyata ketidakmampuan mereka merepresentasikan kepentingan hakiki kaum muslimin dan ketidak-becusan mereka mengelola harta kaum muslimin sesuai kepentingan vital mereka. Sikap tersebut juga merupakan bukti tiadanya kepedulian para penguasa itu terhadap masa depan bangsa dan umatnya sendiri, sekaligus menunjukkan kepasrahan mereka untuk menuruti kehendak dan langkah kaum kafir guna merealisasikan kepen-tingan-kepentingan kaum kafir dengan cara memukul kepentingan-kepentingan umat secara total.Hendaknya tak seorang pun menduga bahwa ketundukan para penguasa Timur Tengah ini -termasuk pemerintah Kuwait- kepada instruksi-instruksi Amerika disebabkan kekuatan dan keunggulan Amerika. Penyebab hakikinya adalah karena para penguasa itu telah rela menjadi para satpam untuk menjaga kepentingan-kepentingan kaum kafir meskipun imbalannya hanyalah kondisi hidup melarat yang harus diterima umat.
Amerikalah sebenarnya yang menginstruk-sikan antek-anteknya -Mexico, Venezuela, dan Saudi Arabia- agar menurunkan produksi ketika harga minyak anjlok pada tahun 1998 dengan tujuan untuk melindungi perusahaan-perusahaan minyak Amerika. Negara-negara OPEC pun kemudian mengikuti begitu saja kebijakan ini. Amerika pulalah yang menginstruksikan antek-anteknya itu untuk meningkatkan produksi ketika harga minyak melonjak mencapai 30 dolar perbarel. Tujuannya untuk melindungi kepen-tingan-kepentingan ekonomi Amerika. Selama kunjungannya ke kawasan Timur Tengah bulan Pebruari lalu, Menteri Energi Amerika menyatakan bahwa harga 30 dolar perbarel itu terlampau tinggi, sedangkan 10 dolar perbarel terlampau rendah. Para penguasa negara-negara produsen minyak -termasuk pemerintah Kuwait- lalu mengulang-ulang pernyataan itu seraya menganggap bahwa mereka telah memainkan perannya sebagai para politisi. Padahal mereka sebenarnya bukanlah para politisi sejati yang mampu mengambil langkah-langkah politik sesuai kehendak mereka sendiri. Karena itu, kebijakan negara-negara OPEC untuk meningkatkan produksi minyak agar mencapai tingkat harga perbarel seperti yang ditetapkan Amerika, hakekatnya adalah langkah untuk merealisasikan kehendak Amerika, bukan kehendak para penguasa dan rakyat kawasan ini. Menteri Energi Amerika sendiri menyatakan kepada stasiun televisi CBS, bahwa dia telah memimpin serangan diplomasi yang sukses terhadap para anggota OPEC. Dia menjelaskan bahwa 30 hari sebelumnya para anggota OPEC itu tidak sudi untuk meningkatkan produksi, namun kini mereka malah mengumumkan persetujuannya.
Para penguasa itu sesungguhnya paham benar bahwa harga minyak yang ada sekarang tidaklah sebanding dengan nilai riilnya. Air mineral Perancis saja misalnya, dijual di pasar Amerika dengan harga lebih dari sepuluh kali lipat harga minyak. Demikian pula harga 20 dolar untuk minyak saat ini, daya belinya sebenarnya hanya setara dengan 4 dolar pada awal dekade 70-an, karena adanya inflasi ekonomi dunia yang terjadi saat ini. Para penguasa kawasan ini pun yakin benar bahwa penjualan minyak dengan harga yang ditetapkan oleh Amerika itu sebenarnya tidak mencukupi biaya produksi yang harus dipikul negara-negara penghasil minyak tersebut, termasuk Kuwait. Karena itulah, mereka lalu mengambil langkah untuk menaikkan harga barang-barang, menghapus subsidi-subsidi, dan membuat kebijakan-kebijakan untuk mewajiban berbagai macam bea dan pajak. Kaum muslimin pun akhirnya harus hidup dalam keadaan tertekan, galau, dan gelisah memikirkan rezeki dan hartanya serta dirundung kekhawatiran akan masa depan anak-anaknya.
Padahal, dengan ketundukan para penguasa itu terhadap Amerika, kepasrahan mereka untuk mentaati instruksinya, serta penerimaan mereka terhadap harga yang ditetapkannya, berarti mereka telah mewujudkan kepentingan peru-sahaan-perusahaan minyak Amerika, mengurangi beban biaya energi bagi dunia industri Amerika, membantu warga Amerika untuk memperoleh bahan bakar yang murah meriah, memelihara laju pertumbuhan ekonomi Amerika, serta mengurangi tingkat inflasi di Amerika.
Di antara paradoks yang ada, bahwa pendapatan negara-negara industri (Amerika, Eropa,dan Jepang) dari pajak minyak pada 1996 adalah 270 miliar dolar AS. Sementara pendapatan negara-negara OPEC dari minyak pada tahun yang sama hanya sebesar 185 miliar dolar AS.
Jadi atas dasar apa para penguasa itu memaksa kaum muslimin untuk hidup melarat dengan menjual minyak lebih murah sepuluh kali lipat dari air mineral, sehingga akibatnya kaum kafir itu dapat meraup keuntungan yang cukup dari pajak minyak guna menjalankan armada-armadanya untuk menguasai sumber-sumber minyak?
Wahai kaum muslimin !
Sesungguhnya Inggrislah yang telah mendirikan OPEC dengan tujuan menguasai minyak di Timur Tengah serta menjauhkan perusahaan-perusahaan minyak Amerika dari kawasan ini. Tetapi setelah konstelasi politik internasional berubah -yakni ketika cengkeraman Inggris mengendor dan ketika cengkeraman Amerika atas negara-negara OPEC maupun di luar OPEC makin meluas- OPEC akhirnya menjadi salah satu alat Amerika untuk menguasai minyak di kawasan ini.
Maka dari itu, agar kita dapat membebaskan diri dari hegemoni Amerika atas minyak ini, kita harus menempuh 2 (dua) langkah. Pertama, menarik diri dari keanggotaan OPEC. Kedua, kita wajib menjual minyak dengan emas, sebagai pengganti dolar AS.
Imam Abu Dawud dan An Nasa`i meriwayatkan dari Thawus dari Ibnu Umar bahwa ia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda :
“Timbangan itu adalah timbangan penduduk Makkah dan takaran itu adalah takaran penduduk Madinah.”
Pada saat itu penduduk Makkah dan Madinah tidak menjual barang dengan dolar, melainkan dengan emas. Jadi kita harus menjual minyak dengan emas, yang harus kita terima secara kontan. Dengan demikian, kekayaan kita akan aman dalam lemari-lemari kita, yakni kita benar-benar memilikinya dan dapat melin-dunginya secara nyata, sehingga kita dapat mengelolanya sesuai dengan kepentingan-kepentingan hakiki kita. Tidak seperti sekarang dimana harta kita hanya berupa angka pada bank-bank kaum kafir, yang tidak terlindungi dari bahaya penyitaan, pembekuan, atau nasionalisasi yang akhirnya membuat kita tidak berkuasa untuk mengelolanya
Wahai kaum muslimin !
Kita telah benar-benar memahami bahwa para penguasa itu tidak punya nyali untuk memikirkan langkah-langkah seperti ini, apalagi berusaha untuk menerapkannya ! Sebab mereka telah mengikatkan nasib hidup mereka dengan kaum kafir itu dan telah tulus ikhlas untuk menjadi antek-antek mereka ! Sungguh merekalah yang telah mempersilakan kaum kafir itu untuk merampok dan merampas kekayaan kita, sehingga kita akhirnya menjadi seperti anak-anak yatim yang kelaparan di tengah-tengah pesta kaum yang bakhil !
Wahai kaum muslimin, sungguh tidak ada lagi harapan bagi kita selain Khilafah ! Khilafah itulah yang akan mengurusi kepentingan-kepen-tingan kita, mempertahankan harta kekayaan kita, serta menjaga kita dari kegilaan dan keserakahan Amerika yang tak ada habis-habisnya !
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya imam (Khalifah) itu ibarat tameng (perisai), (umat) berperang dari belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR Muslim)
<!–[if supportFields]>PRIVATE<![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–>HIZBUT TAHRIR
WILAYAH KUWAIT
21 Dzulhijah 1420/27 Maret 2000 M



























