Penerimaan Mesir Terhadap Menteri Luar Negeri Israel: Pelanggaran terhadap larangan-larangan Allah dan Provokasi terhadap Emosi Kaum Muslim
Perdana Menteri institusi Yahudi (Israel), Ariel Sharon, telah mengumumkan rencananya untuk mengutus menteri luar negerinya, yakni Shimon Peres, ke Kairo. Pengiriman utusan tersebut adalah dalam rangka melakukan pembicaraan dengan Husni Mubarak di seputar proposal tidak resmi yang dipresentasikan oleh rezim Mesir dan Yordania, seperti inisiatif perdamaian untuk menghentikan kekerasan yang terjadi di Palestina. Mubarak segera mengumumkan persiapannya untuk menyambut kedatangan Peres, meskipun institusi Yahudi itu selama ini tidak menghentikan upayanya untuk menumpahkan darah kaum Muslim Palestina. Mereka bahkan meningkatkan intensitas tindakannya untuk membunuh dan menindas kaum Muslim Palestina, menghancurkan rumah-rumah mereka, serta memusnahkan kebun-kebun dan lahan pertanian mereka. Mubarak juga rela atas jaminan Peres, sang peremuk tulang anak-anak Palestina pada Peristiwa Intifadah yang pertama dan penumpahan darah kaum Muslim.
Tetkala pembicaraan seputar inisiatif Mesir-Yordania merupakan tujuan dari diumumkannya kunjungan menlu Israel ini, maka adalah merupakan keharusan dikemukakannya pandangan syariat terhadap seputar inisiatif tersebut atau berbagai inisiatif perdamaian lainnya. Harus dikemukakan pula pandangan syariat terhadap status kunjungan itu sendiri yang dilakukan oleh menlu institusi Yahudi itu, terutama di saat darah kaum Muslim ditumpahkan di Palestina siang-malam.
Sesungguhnya inisiatif perdamaian tersebut didasarkan pada nota kesepakatan Perjanjian Camp David antara Sadat dan institusi Yahudi serta perjanjian Wadi Urubah antara Husein dan institusi Yahudi. Inisiatif tersebut sesungguhnya dimaksudkan untuk memperkuat pengakuan (legitimasi) terhadap keberadaan institusi Yahudi itu serta kerelaan kaum Muslim terhadap perampasan yang dilakukannya atas tanah Palestina; mengesahkan keberadaanya di tanah Palestina sebagai sebuah negara yang legitimated di tengah negeri-negeri kaum Muslim yang menikmati perdamaian dan keamanan; serta menancapkan pisau atau mencangkokkan sel kanker di jantung Umat Islam. Adapun Hukum syara’ tentang hal itu sudah sangat jelas yakni bahwa jihad adalah fardhu ‘ain atas seluruh penduduk negeri Islam berhadapan dengan orang kafir secara langsung. Jika beban kewajiban itu tidak dapat ditunaikan oleh mereka, maka kewajiban tersebut meliputi orang-orang yang terdekat di sekitar mereka. Demikian seterusnya, meskipun kewajiban tersebut melibatkan umat Islam secara keseluruhan. Sampai kewajiban tersebut tertunaikan dan musuh dapat dikalahkan. Allah Swt. berfirman:
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka, menolong kalian terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman (QS at-Taubah [9]:14).
Sesungguhnya pada saat ini, kewajiban untuk melawan musuh, mengusir perampas tanah Palestina, serta mengembalikan tanah yang telah dirampas belum berhasil diwujudkan oleh penduduk Palestina. Oleh karena itu, kewajiban tersebut terbebankan di pundak kita, yakni penduduk Mesir dan mereka yang berada di berbagai negeri di seputar Palestina. Jika kewajiban tersebut tidak juga berhasil ditunaikan oleh mereka, maka kewajiban tersebut menjadi tanggung jawab seluruh kaum Muslim dari pelosok timur hingga pelosok barat.
Atas dasar itu, maka upaya untuk meneruskan proposal perdamaian tersebut merupakan tindakan kriminal yang sangat keji dan merupakan pelanggaran terhadap larangan-larangan Allah, khususnya dalam kondisi yang dihadapi kaum Muslim Palestina seperti ini, yakni kondisi ketika mereka sedang memohon perlindungan kepada Allah dan kepada para pemeluk agamanya (kaum Muslim) agar mereka terlindung dari pembunuhan dan pengusiran.
Adapun kunjungan orang-orang yang menumpahkan darah kaum Muslim-yang mewakili institusi Yahudi itu-tidak lain adalah dalam rangka memperpanjang dan melanggengkan berbagai makar jahat mereka. Hal itu dimaksudkan agar mereka bisa mengetahui sejauh mana rasa frustasi dan sikap pasrah kaum Muslim serta sejauh mana efektivitas berbagai strategi pelemahan dan intimidasi yang selama ini telah dilakukan oleh mereka untuk merealisasikan berbagai rencana jahat mereka. Kunjungan semacam ini jelas haram untuk ditolelir; karena kunjungan tersebut hanya akan memperkuat penghormatan yang diperoleh oleh para penumpah darah kaum Muslim tersebut, yang merupakan pihak yang selama ini memprovokasi perasaan kaum Muslim, menghancurkan kehormatan mereka, dan menambah kehinaan mereka; serta memperdalam rasa frustasi kaum Muslim. Dengan harapan hal itu yang bisa mendorong mereka agar menerima berbagai solusi yang ditawarkan oleh Amerika dan Yahudi untuk memperkokoh keberadaan institusi Yahudi itu di negeri-negeri kaum Muslim.
Wahai kaum Muslim, wahai pemilik tempat berlindung
Rasulullah saw. telah bersabda:
Perumpamaan kaum Muslim di dalam sikap welas-asih dan kasih-sayang di antara mereka adalah seperti satu tubuh; jika salah satu anggotanya menderita sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan turut merasakan demam dan panas.
Walhasil, kita, umat Islam, adalah satu tubuh; meskipun orang-orang Yahudi dan kaum kafir Barat berusaha memecah-belahnya dengan batas-batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Sykes-Picot, dengan paham patriotisme sempit, atau dengan nasionalisme yang rendah dan rusak. Sesungguhnya upaya untuk memaklumkan perang terhadap institusi Yahudi dan melenyapkan seluruh perjanjian perdamaian dengannya adalah kewajiban yang berasal dari Rab alam semesta. Kita berdosa di hadapan Allah ta’ala jika tidak melaksanakan kewajiban tersebut. Dengan demikian, memerangi orang-orang Yahudi (serta orang-orang kafir Barat apabila keadaan mengharuskan demikian) adalah sebuah kewajiban.
Hendaklah kalian menyadari bahwa kita adalah umat yang tidak diciptakan kecuali untuk meraih salah satu di antara dua kebaikan, yakni pertolongan Allah atau kesyahidan. Janganlah kalian menjalin hubungan dengan orang-orang yang rendah dan hina, yakni para antek Amerika seperti Mubarak dan juga yang lainnya. Hendaklah kalian menyadari bahwa mereka tidak akan mungkin bisa memberikan faedah apa pun terhadap kalian daripada Allah. Allah Ta’ala. berfirman:
Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu telah menaati para pemimpin dan pembesar kami. Akan tetapi, mereka malah menyesatkan kami dari jalan yang lurus.” (QS al-Ahzab [33]: 67).
Sungguh telah nyata, baik bagi yang jauh maupun yang dekat, kelemahan argumentasi dan justifikasi yang dikemukakan oleh Mubarak dan orang-orang yang seperti dia. Demikian pula sikap lancang mereka atas Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, hendaklah kalian tidak menjadi seperti kaum Fir’aun yang berkata, sebagaimana difirmankan Allah Swt.:
“Aku tidak mengemukakan kepada kalian, melainkan apa yang aku pandang baik. Aku pun tiada menunjukkan kepada kalian selain jalan yang benar.” (QS al-Mukmin [40]: 29).
Oleh karena itu, beramal demi Islam dan tindakan menolak tunduk pada Yahudi, dalam pandangan Mubarak dan kroninya, adalah tindakan teroris dan ekstremis. Sebaliknya, amar makruf nahi mungkar dengan lisan, dalam pandangan mereka, adalah keterbelakangan dan pemasungan terhadap kreatifitas.
Sementara itu, kemakmuran, kenyamanan, dan pertumbuhan (ekonomi) yang disertai kedamaian-yang dijanjikan kepada kalian-terbukti hanya ekonomi akibat pengangguran dan stagnasi, serta hanya ‘nafas yang terengah-engah’ untuk mengejar dolar. Adapun yang anda saksikan sebagai kekayaan negara serta kekuatannya sebenarnya merupakan akumulasi dari perampasan dan penyelundupan yang dilakukan oleh kroni penguasa, yang mereka sebut sebagai pengusaha, dan mereka menderivasikan pengaruh mereka pada Mubarak dan kroni-kroninya.
Wahai kaum Muslim,
Sesungguhnya kita mengetahui secara sempurna bahwa Mubarak dan yang lainnya, yang disebut sebagai penguasa Arab, dan bahkan seluruh penguasa di seluruh negeri Muslim, semuanya adalah para antek Barat-kafir. Mereka tidak mewakili tuan mereka untuk memerangi kaum Yahudi. Akan tetapi, mereka mewakili tuan mereka untuk memperkokoh eksistensi Yahudi di negeri-negeri kaum Muslim; mempersiapkan kaum Muslim untuk menerima institusi Yahudi; serta bekerjasama dengan Yahudi untuk mencegah berdirinya Daulah Khilafah-Daulah Islam yang justru akan mempersatukan umat Islam di bawah bendera Islam dan Khalifah kaum Muslim . Selanjutnya umat islam dibawah panji daulah tersebut serta mengemban Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. Daulah Khilafah, sungguh akan tegak kembali dengan izin Allah, meskipun orang-orang kafir membencinya. Allah Ta’ala. berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. (QS al-Anfal [8]: 66).
Hizbut Tahrir Wilayah Mesir
4 Shafar 1422/ 28 April 2001

































Artikel di blog ini sangat menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Nantikan segera plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi untuk Blogspot dan WordPress dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com
http://www.infogue.com/masalah_politik/_nasyrah_ketika_mesir_menerima_kunjungan_menlu_israel/