by: O. Solihin
Cinta berlalu di hadapan kita
terbalut dalam kerendahan hati
tetapi kita lari darinya dalam ketakutan
atau bersembunyi di dalam kegelapan;
atau yang lain mengejarnya
untuk berbuat jahat atas namanya
(Kahlil Gibran)
“Kenalkan, nama saya Leony..” ungkap anak baru yang ternyata bernama Leony itu di depan kelas.
“Leony, mana Roger Danuarta-nya neh?” teriak Bahtiar si anak Padang diiringi derai tawa komplotannya.
“Teruskan saja perkenalannya, Leony. Jangan hiraukan mereka!” pinta Bu Maryam menenangkan Leony.
“Saya dari Bandung…”
“Hmm… bawa peuyeum dong…. ” potong komplotan Bahtiar sambil ketawa-ketawa.
Leony tampak gugup. Untungnya Bu Maryam cepat berkomentar.
“Kalian ini tak menghargai orang. Berilah kesempatan orang lain berbicara. Jangan diganggu saja. Kalian juga cuma beraninya keroyokan. Teriak paling kenceng. Tapi nilai kimia kamu dapat lima!” ujar Bu Maryam kesal sambil masang wajah galak. Komplotan Bahtiar pada diem. Merasa terpukul telak barangkali.
“Lanjutkan lagi, Leony!” pinta Bu Maryam lembut.
Gadis imut-imut itu merapikan sedikit kerudung putihnya. Bibirnya yang mungil kembali menebarkan senyuman yang bikin deg-deg plas! Ya, Leony memang putih manis (susu kali!).
“Saya sengaja pindah dari Bandung karena pihak sekolah tempat saya belajar dulu tak mengijinkan saya mengenakan busana muslimah ini…” Leony nggak melanjutkan kata-katanya. Ia diam sebentar. Matanya kelihatan berkaca-kaca. Anak-anak pun ikutan diem. Suasana hening, cuma nggak aja diiringi lagu Silence Morning-nya Noel.
“Dan kebetulan Bapak saya pindah tugas. Jadi saya terselamatkan. Alhamdulillah, di sini saya bisa mengamankan keyakinan saya. Saya sangat bahagia, mudah-mudahan ini adalah awal yang baik, ” Leony kembali melanjutkan kata-katanya dengan suara agak lirih.
“Saya berharap teman-teman bisa menerima saya,” tambahnya sambil berusaha untuk senyum. Tapi kemudian matanya diarahkan ke lantai kelas.
Anak-anak diam semua. Mereka saling pandang. Ada yang terharu seperti Rosa. Ia kemudian menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
“Mungkin itu saja. Saya pikir cukup sekian dulu,” kata Leony sambil nengok ke arah Bu Maryam. Bu Maryam menganggukkan kepala dan menyuruh Leony untuk duduk. Kebetulan duduknya bareng Rosa. Rosa langsung memeluk erat Leony seakan tak ingin melepaskannya. Bu Maryam dan anak-anak hanya mampu diam menyaksikan adegan mengharukan itu. Kedua gadis berkerudung putih itu saling berpelukan.
***
Ogi lagi asyik nonton VCD Tom and Jerry lewat Cyberlink PowerDVD di komputernya. Ogi ketawa sendirian menyaksikan tingkah Tom, yang ditakut-takutin sama Jerry dalam cerita Afraidy Cat. Lagi seru-serunya nonton, terdengar dering telepon membuyarkan konsentrasinya. Buru-buru Ogi lari memburu telepon. Diangkatnya gagang telepon.
“Halo. Assalamu ‘alaikum!”
“Halo. Wa ‘alaikum salam.”
“Bisa bicara dengan Ogi?” tanya si penelepon.
“Ya, saya sendiri. Dengan siapa nih?” tanya Ogi.
“Tolong diperbesar suaranya. Nggak terlalu jelas!” pinta Ogi.
“Siapa? Ahmad?” Ogi setengah teriak.
“Bukan. Akhwat!” si penelepon rada kenceng.
“Oh. Akhwat. Kirain Ahmad. He.. he.. maaf!” Ogi cengegesan.
“Siapa namanya, akhwat kan banyak?” Ogi penuh selidik.
“Wah. Gimana kalau saya sebut Joko?” Ogi malah guyon.
“Enak aja. Akhwat kok namanya Joko?” Si penelopon nahan tawa.
“Terus siapa dong?” Ogi setengah memaksa.
“Leony!” jawab si penelepon singkat dan pelan.
“Oh. Leony. Maaf, saya emang biasa bercanda.. “Ogi nervous.
“Nggak apa-apa.. “kata Leony.
“Ada perlu apa Leony?” Ogi mulai serius dan… jantungnya berdetak dua kali lebih kenceng.
“Begini. Saya dengar dari Rosa, antum bisa betulin komputer yang rusak. Nah, kebetulan punya Bapak saya lagi ngadat. Bisa tolong dibetulin nggak?” Leony mengutarakan maksudnya.
“Ohh.. bisa. Tapi kapan?” Ogi masih gugup. Deg-degan. Soalnya mau nggak mau ia harus datang ke rumah Leony dan bertemu dengannya. Duh….
“Kalau hari ini ba ‘da magrib, bisa? Soalnya, Bapak saya harus menyelesaikan tugas kantornya malam ini juga” Leony ngasih alternatif dan setengah memaksa.
“Euu.. Insya Allah saya usahakan bisa!” Ogi menyanggupi.
“Baik. Terima kasih, Gi. Assalamu ‘alaikum!” kata Leony menutup pembicaraannya.
“Ya. Wa ‘alaikum salam.. “balas Ogi.
Ogi buru-buru melanjutkan nonton film kartun kesukaannya.
“Wah, bisa ketemu sama bapaknya, nih. Tapi. Eh, kok aku lupa nanya alamatnya, ya?” Ogi salah tingkah. Buru-buru ia telepon Rosa. Beruntung Rosa ada. Setelah menanyakan alamat Leony dan mencatatnya Ogi come back melanjutkan nontonnya.
***
Ogi jalan sambil matanya nggak mau diem jelalatan mencari-cari nomor rumah Leony. Agak lama juga Ogi mencarinya. Pas di depan sebuah rumah berpagar besi warna merah, Ogi berhenti dan mencocokkan dengan secarik kertas di tangannya.
“Betul yang ini! Alhamdulillah. Akhirnya ketemu juga.”
Buru-buru Ogi memencet bel yang nemplok di tembok dekat pintu gerbang. Kemudian terdengar potongan instrumentalia dan lagu Beethoven‘s Fur Elise.
“Ih, sama dengan yang di rumah?” Ogi membatin sambil menunggu tuan rumah keluar.
Nggak lama kemudian terdengar suara kunci yang dipake untuk membuka pintu. Ogi deg-degan.
“Dik Ogi, ya?” tanya seorang pria separuh baya yang muncul dari balik pintu.
“Iy. .iya Pak!” Ogi gugup.
“Ayo, masuk!” pinta bapaknya Leony.
Ogi buru-buru masuk dan mencoba menutupi kegugupannya.
“Oya, hampir lupa. Saya belum memperkenalkan diri, ya?” ujarnya sambil membetulkan letak kaca matanya dan berhenti melangkah.
“Saya bapaknya Leony. Nama saya Kusmadi. Panggil saja, Pak Kus!” katanya sambil menyodorkan tangan untuk salaman.
“Leony, tolong buatkan minuman buat temanmu!” bapaknya setengah teriak memberikan intruksi kepada Leony.
Ogi mengikuti langkah bapaknya Leony menuju kamar kerjanya. Rumahnya cukup luas. Ogi sempat melihat-lihat sekilas foto keluarga Leony. Tampak Leony anggun dengan jilbabnya. Deg. Seakan berhenti detak jantungnya. Tak lama kemudian Ogi dan bapaknya sudah berada di sebuah ruangan yang tertata rapi. Di sekelilingnya berjejer buku-buku yang ditata mirip di perpustakaan.
“Nah, ini komputer bapak yang ngadat itu. Coba deh dilihat-lihat dulu,” ujar Pak Kus.
“Baik, Pak!”
Setelah agak lama Ogi mengutak-ngatik komputer terdengar suara merdu mengucapkan salam. Deg. Ogi kaget demi mendengar suara itu.
“Oh.. Wa ‘alaikum salam!” balas Ogi sambil menoleh sebentar ke arah Leony yang lagi bawa minuman dingin.
“Diminum, Gi!” Leony menyilakan sambil buru-buru meninggalkan ruang kerja bapaknya.
“Ya!” hanya itu yang keluar dan kerongkongan Ogi. Sudut matanya mencuri pandang ke arah Leony yang memakai jilbab coklat tua plus kerudung putih yang berlalu meninggalkannya.
“Ah, kok aneh perasaanku ini, ya?” Ogi bertanya sendiri dalam hati.
Akhirnya dengan keterampilan yang dimilikinya Ogi berhasil mengaktifkan kembali komputer Pak Kus yang ngadat itu. Lumayan lama, hampir setengah jam. Ogi buru-buru membereskan kerjaannya dan tangannya meraih gelas yang berisi jus jeruk yang tinggal setengah lagi. Lagi asyik beres-beres, terdengar suara langkah orang memasuki ruang kerja itu.
“Tuh. Bisa. Apanya yang rusak, Gi ?” tanya Pak Kus.
“Ini kebetulan kena virus, Pak!” Ogi ngasih penjelasan.
“Ohh… “Pak Kus memonyongkan kedua bibirnya.
Lalu mereka berjalan ke ruang tengah. Di situ ada anak kecil lagi main PlayStation. Ogi menduga anak lelaki yang lagi main PS itu adalah adiknya Leony.
“Ini Andi! Anak saya nomor tiga!” ujar Pak Kus sambil menunjuk ke arah anak lelaki yang lagi serius main Final Fantasy.
“Gila tuh anak main game jenis RPG”, Ogi membatin nggak percaya.
“Di, udahan dulu mainnya dong. Ini temannya kak Leony!” Pak Kus mengingatkan anaknya yang tengah khusyuk main gim itu (idih, emangnya sholat, khusyuk?)
Yang disebut Andi buru-buru meletakkan stick. Lalu menyodorkan tangannya ke arah Ogi.
“Andi. Adiknya Leony. Kelas dua SMP. Laporan selesai!” kata bocah itu kocak sambil kembali meraih joystick.
Ogi senyum-senyum saja sambil memperkenalkan diri.
“Makan yuk!” Pak Kus memandang ke arah Ogi sambil melangkahkan kakinya menuju meja makan.
“Aduh. Makasih Pak. Sebenarnya saya sudah makan juga tadi di rurnah,” Ogi malu-malu.
“Di rumah kan beda dengan di sini. Ayo makan!” Pak Kus menarik lengan Ogi. Mau nggak mau Ogi harus mengikuti kemauan tuan rumah. Lagipula mungkin tuan rumah ingin memuliakan tamunya.
Di meja makan sudah tersedia bermacam-macam hidangan. Ada sambal goreng udang. Ada tumis kucing, eh, tumis buncis. Ada juga ayam goreng yang kelihatannya renyah. Ditambah sayur sop dan sayur bayam. Ogi duduk manis di belakang meja makan. Di hadapannya sudah ada piring lengkap dengan sendok dan garpunya. Ogi masih belum mulai menyendok nasi.
“Ayo, Gi! Nggak usah malu-malu. Ini bukan untuk dilihat!” Pak Kus menyadarkannya.
“Iy,… iya Pak!” Ogi buru-buru mengambil nasi.
“Ini masakan Leony dan ibunya. Bapak nggak punya pembantu. Maklum anak-anak udah pada gede. Leony nomor dua. Andi bungsu. Dan kakaknya, Arman namanya, sudah kuliah tingkat satu di Bandung!” kata Pak Kus sambil menyendok sayur sop.
“Buu… sudah siap nih! Sekalian juga sama Leony!” Pak Kus memanggil istrinya.
Demi mendengar nama Leony jantung Ogi berdetak makin kencang dan nggak karuan. Ogi salah tingkah.
“Andi, letakkan dulu mainannya. Ayo makan. Jangan dibiasakan telat makan,” Pak Kus ngajak Andi.
Yang diseru buru-buru mematikan video games-nya. Sejurus kemudian Andi sudah duduk disamping pak kusir, eh, disamping Ogi!
Ogi mulai memasukan suapan pertama, berbarengan dengan itu muncul Bu Kus dan Leony membawakan pisang bakar buatannya lengkap dengan keju, susu dan coklat. Dari wanginya saja tercium enak. Ogi makin deg-degan. Apalagi setelah Leony duduk disamping ibunya dan tepat berhadapan dengan dirinya. Ogi curi-curi pandang. Terlihat wajah Leony yang sedang menunduk. Ogi cepat mengalihkan pandangan matanya.
“Ehmm..!”
Ogi kontan kaget mendengar dehem khas pejabat. Hampir saja sendok dan garpu yang sedang di pegangnya jatuh. Ogi buru-buru mempercepat makannya.
“Kak Ogi. Kakak suka main gim nggak?” tiba-tiba Andi nyeletuk polos.
Pertanyaan Andi membuat Ogi senyum.
“Kalau senyum berarti suka!” Andi tembak langsung sambil nunjuk ke wajah Ogi.
“Siapa sih yang nggak suka main gim?” Ogi memandang ke arah Andi seperti menantang.
“Iya. Kak Leony juga suka main. Malah suka rebutan sama saya…”
“Andi…!” Leony memotong omongan Andi, lalu memasang emoticon kesal (emangnya di e-mail?).
Ogi senyum-senyum sambil melirik ke arah Leony yang wajahnya rada merah padam. Namun ternyata dengan wajah seperti itu Leony kelihatan lebih ciamik.
“Sudah, jangan ribut!” Pak Kus berusaha mendamaikan perang dua saudara itu.
Ogi hanya nunduk saja. Dalam hatinya ketawa. Ternyata akhwat juga ada yang suka main gim.
“Ayo, Gi. Tambah nasinya!” kata Pak Kus.
“Oh.. terima kasih, Pak. Udah kenyang nih!” Ogi basa-basi.
Suasana di meja makan yang rame menciptakan nuansa tersendiri dalam benak Ogi. Soalnya, ia selalu sendiri. Kalau pun ada ortunya. Nggak serame di sini. Maklum Ogi anak tunggal. Nggak lama kemudian semua sudah beres. Andi kembali nongkrong di depan PlayStation-nya, kali ini ia main gim FIFA Soccer 2003. Makin betah aja Andi ngetem di situ. Dan Ogi sempat beberapa menit nonton Andi memamerkan kelihaiannya dalam permainan itu.
“Pak, udah malam, nih. Saya mau pamit dulu,” suara Ogi memecahkan keheningan.
“Eh, masih sore juga, “kata Pak Kus dan istrinya kompak memandang ke arah Ogi.
“Nggak apa-apa, Pak, Bu! Ada tugas yang belum dikerjakan,” Ogi ngasih alasan.
“Sebentar!” Pak Kus melangkahkan kakinya menuju kamar. Tak lama kemudian, Pak Kus muncul lagi.
“Gi, buat jajan,” Pak Kus memasukkan amplom putih yang telah dilipat ke saku Ogi.
“Aduh, nggak usah, Pak!” kata Ogi sambil tangannya hendak mengadang lengan Pak Kus.
“Udah. Keahlian itu kan harus dihargai,” kata Pak Kus berusaha mencegah gerakan tangan Ogi. Ogi jadi malu. Apalagi adegan itu juga disaksikan dengan sukses oleh Leony dan ibunya.
“Leony, antar pulang temanmu!” kata Pak Kus melirik ke arah Leony dan memberikan kunci mobil.
Deg. Ogi kaget setengah hidup. Mendadak matanya beringas (maling, kali!). Wajahnya pias.
“Nggak usah, Pak!” Ogi mengkerut. Dalam dadanya berkecamuk perang batin. Ogi takut kalo berkhalwat. Untungnya, Leony juga ngerti. Ia nggak mau menerima kunci mobil dari Bapaknya.
“Kan nggak boleh, Pak, laki perempuan yang bukan mahram jalan berdua..” Leony angkat bicara. Tentu saja pernyataan itu mampu menyelamatkan Ogi.
“Aduh, maaf Dik Ogi, ya, bapak juga nggak bisa nganter, nih!” kata Pak Kus seperti rada malu.
“Nggak apa-apa. Terima kasih!” kata Ogi singkat.
Ogi melangkah menuju ruang depan diantar Pak Kus. Sementara Leony dan ibunya membereskan meja makan. Tampak Ogi menyalami Pak Kus untuk kemudian mengucapkan salam dan pergi meninggalkan rumah bersejarah bagi dirinya itu.
***
Ogi sibuk di depan komputer menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru-gurunya di sekolah. Juga tugas yang rutin diberikan oleh anak-anak Rohis. Agak lama di depan PC-nya. Jam setengah satu pagi Ogi baru men-shut down komputernya. Bangkit dari kursi dan menggerak-gerakkan punggung ke kiri dan ke kanan untuk menghilangkan rasa pegalnya. Lalu keluar dari kamarnya. Ia lihat lampu kamar ortunya sudah gelap. Ogi langsung menuju kamar mandi untuk gosok gigi. Tak lama kemudian Ogi sudah kelihatan fresh untuk bersiap-siap tidur.
“Ah, Leony. Kamu membuat hatiku cair juga, “Ogi ngomong sendiri.
Terus terang sampai sekarang Ogi masih mengagumi Rosa. Tapi, ia nggak berani mengutarakan maksudnya. Maklumlah Rosa rada tegas dan terkesan galak meski kadang suka ngocol juga. Lagi pula, ia tahu diri. Umur aja baru tujuh belas. Masih panjang jalan yang akan ditempuhnya. Tapi tentu saja, untuk proyek masa depan bisa juga dicita-citakan.
“Pokoknya, kalau nggak jadian sama Rosa. Leony juga boleh!” pikir Ogi malam itu rada-rada konyol.
***
Suasana pagi yang amat cerah. Sinar matahari mengusir sisa embun yang sudah berganti dengan kepulan asap bertimbal. Di SMU Jingga, seperti hari-hari lainnya, anak-anak mulai memasuki pintu gerbang sekolah. Lalu masuk menuju kelas masing-masing. Ogi berlari-lari kecil di koridor sekolah. Tas punggungnya bergoyang-goyang. Rambutnya yang sudah agak panjang diterjang angin. Kalo lagi begitu, persis Del Piero lagi lari di lapangan hijau mengejar bola.
Ogi berhenti di satu ruangan kelas yang sudah rame di isi anak-anak. Berbagai aktivitas ada di situ. Dari mulai yang ngerjain PR di sekolah sampai ‘ngerjain’ anak-anak cewek. Di situ sudah ada Jamil yang lagi nyender ke tembok yang sudah agak pudar warna catnya.
“Gi!” Jamil memanggil.
“Eh, kamu, Mil. Assalamu ‘alaikum,” kata Ogi sambil ngucapan salam disertai uluran tangan kanannya.
“Gi, sini. Ada cerita seru lho, “Jamil bisik-bisik.
“Tentang apa, Mil?” Ogi mendekat ke arah Jamil.
Lalu keduanya menjauh dari kerumunan anak-anak. Ogi duduk di bangku panjang yang terbuat dari bambu.
“Wah, kayaknya penting banget, nih?” Ogi ngeledekin.
“Soal penting atau tidak penting itu relatif, Gi. Tergantung siapa yang memandangnya,” jelas Jamil.
“Cieee, gaya. Ngomongnya sudah lain, nih, ” Ogi malah ngeguyonin.
“Gi, kamu katanya malam tadi ke rumah Leony, ya? Waduh, hebat belum apa-apa udah mengkhitbah” kali ini Jamil terkekeh.
Ogi kaget setengah hidup. Soalnya ia belum pernah cerita kepada siapapun. Dan kepada Rosa juga cuma nanyain alamat doang.
“Kok, diem? Ada kemajuan tuh, Gi!” Jamil mengagetkan Ogi yang sedang bengong.
“Iya. Tapi aku ke sana ngebetulin komputer bapaknya,” Ogi memandang Jamil seolah meyakinkan.
“Membetulkan komputer dan dilanjutkan dengan…”
“Mil!” Ogi cepat memotong, lalu pandangan matanya diarahkan tajam ke Jamil.
“Tapi, Gi. Sebagian anak rohis juga tahunya kamu mengkhitbah alias meminang Leony…” Jamil melengkapi dengan memasang wajah dibuat seserius mungkin.
“Apa? Mereka pada tahu?” Ogi mendelik. Sementara Jamil hanya mengangguk lemah.
“Siapa yang menyebarkan gosip, ya?” Ogi berpikir. Otaknya bekerja cepat bagai komputer berprosesor pentium 4. Nggak ketemu jawabannya.
“Kamu tahu dari siapa?” Ogi kembali melirik ke arah Jamil.
“Tapi kamu jangan marah, ” Jamil ngasih syarat. Ogi menggelengkan kepala sambil deg-degan.
“Rosa!” Jamil singkat.
Wekss..! Ogi mendelik. Kaget setengah hidup, karena nggak nyangka kalo Rosa yang menyebarkan gosip itu.[]































Ceritanya bagus bangeeeeet!
Kang Oleh, kok bisa sich nulis cerpen spt ini? Dapetin inspirasinya dr mana?
Lucu!