Dari tanggal 14 sampai 16 Juli, Presiden Musharraf akan mengikuti pertemuan tingkat tinggi (di kota) Agra dengan Perdana Menteri India Atul Behari Vajpayee. Tujuan pertemuan ini adalah normalisasi hubungan antara dua negara, dengan memprakarsai rencana resolusi atas persoalan Kashmir. Berkenaan dengan kunjungannya itu, Presiden Musharraf menyatakan dalam berbagai kesempatan bahwa ia menunjukkan pendekatannya yang fleksibel. Disamping itu ia mengungkapkan keinginannya untuk dikenal sebagai pemimpin Pakistan yang “membuat sejarah” (dengan) memecahkan krisis panjang, yaitu Kashmir. Berbagai pernyataannya ini menunjukkan pemahaman umum, bahwa Jenderal Musharraf tidak berbeda dengan para pendahulunya yang membuat sejarah dengan memilih bersikap fleksibel demi kepentingan-kepentingan kaum kafir yang keras kepala terhadap kepentingan kaum muslim. Pemimpin Pakistan sebelumnya secara konsisten mengkhianati kaum muslim dengan menyerahkan tanahnya kepada kaum kafir. Jenderal Ayub memberikan kawasan (yang dikenal dengan) tiga sungai kepada India. Jenderal Yahya dan Zulfikar Ali Bhuto kehilangan Pakistan Timur (sekarang Bangladesh) pada tahun 1971. Dan selama kepemimpinan Jenderal Zia, bangsa India mencaplok puncak Siachin.
Sejak dua tahun lalu para pemimpin militer bersama para mujahidin mengobarkan jihad melawan kaum kafir Hindu di (kawasan) Kargil, untuk membebaskan wilayah Kashmir. Pada saat militer dan para mujahidin hampir meraih kemenangan, Amerika menginstruksikan agennya (yaitu) Nawaz Sharif untuk menarik mundur tentaranya. Hal ini merupakan pukulan memalukan dari pemerintah bagi militer. Para pemimpin militer kemudian menyingkirkan Nawaz Sharif dari pemerintahan, namun tidak mengubah sistem yang mendasari pemerintahan, sehingga Amerika tetap dapat mengontrol seluruh pengambilan kebijakan dalam konstelasi politik Pakistan. Berkobarnya bendera jihad untuk membebaskan Kashmir, dibarengi oleh junta militer dengan mengikuti kebijakan politik Amerika di daerahnya. Kebijakan sama yang diserukan Nawaz Sharif ketika mengkhianati keikhlasan kaum mujahidin, sekaligus mengakhiri aktivitas jihadnya sebagaimana kaum mujahidin mengatasi kafir Hindu.
Sesungguhnya kebijakan politik Amerika untuk daerah ini jauh lebih besar dibandingkan dengan persoalan Kashmir sendiri. Pakistan dan India digunakan Amerika sebagai daerah penyeimbang untuk menahan munculnya pengaruh China di Asia. Untuk memuluskan kebijakannya, Amerika membujuk dua negara ini agar dapat memecahkan perbedaan bilateral dengan membuka hubungan dalam berbagai bidang sebagai proses normalisasi hubungan antara dua negara tersebut. Di bawah pengarahan Amerika, pemerintah Pakistan berupaya melucuti kelompok-kelompok mujahidin, meredam opini publik tentang jihad, menggantinya dengan perdamaian, memperkenalkan budaya India, menganjurkan hubungan ekonomi diantara dua negara. Namun halangan terbesar untuk normalisasi ini adalah persoalan Kashmir, yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, sementara terdapat kemajuan di dalam proses normalisasi. Pemerintah telah bekerja tanpa kenal lelah dalam menerapkan kebijakan politik Amerika hingga kini, dan tidak akan melepaskan diri dari pengaruh Amerika, sebagaimana Amerika sedang mulai menebarkan pengaruhnya dalam aspek-aspek penting untuk memenuhi ambisinya di daerah ini.
Saat ini, rencana Amerika di Kashmir semakin jelas terlihat bagi mereka yang secara terus menerus mengikuti persoalan ini. Rencana Amerika didasarkan atas beberapa macam formula untuk membagi (negara bagian) Jammu dan Kashmir, dengan memberikan kemerdekaan atau otonomi luas kepada lembah itu. Tentu saja dengan mengorbankan Pakistan yang harus melepas hak-haknya atas daerah Jammu dan Ladakh. Terdapat indikasi kuat bahwa Amerika sedang mencoba mendirikan pangkalan militer di Asia Selatan untuk menahan pengaruh China, dan menempatkan Kashmir sebagai penahan. Rencana ini mengharuskan diselesaikannya secara cepat persoalan Kashmir. Langkah ini jelas-jelas mengkhianati puluhan ribu kaum muslim Kashmir yang telah kehilangan nyawa di bawah pendudukan kejam tentara kafir Hindu, dan merupakan pengkhianatan nyata kepada ribuan mujahidin yang telah menumpahkan darahnya di tahun 1948, 1965, dan dalam dekade panjang pembebasan Kashmir yang mencapai puncaknya di Kargil pada tahun 1999, yang berhasil melepaskan diri dari penindasan penguasa-penguasa kafir.
Bagaimana pemerintahan Musharraf memperoleh dukungan kaum muslim Pakistan atas pengkhianatannya? Pemerintah akan melakukannya dengan menyoroti keuntungan-keuntungan ekonomi dan politik yang kata orang akan mampu diraih dari pembagian Kashmir. Dalam bidang ekonomi, pemerintah akan beranggapan bahwa keuntungan-keuntungan yang diinginkan adalah mendapatkan pinjaman lebih besar dari negara-negara donor dan lembaga keuangan internasional, seperti IMF dan Bank Dunia, meningkatkan hubungan bilateral dibidang perdagangan dengan India, peningkatkan kepercayaan bagi investor luar negeri, dan membangun saluran pipa gas yang menguntungkan dengan Iran untuk menyalurkannya bagi industri-industri di India. Dalam bidang politik, pemerintah berpendapat bahwa Pakistan akan berada dalam posisi unik dengan membuang citranya sebagai negara pendukung terorisme sehingga akan diterima secara baik oleh masyarakat Internasional. Singkatnya, kaum muslim Pakistan diharapkan menjual saudara-saudaranya di Kashmir untuk ditukar dengan keuntungan-keuntungan dibidang politik dan ekonomi. Padahal, janji-janji semacam itu hanyalah sebuah kebohongan belaka. Janji-janji serupa telah dibuat juga bagi kaum muslim Bosnia dan Palestina pada saat tanah-tanah mereka dibagi-bagi. Janji-janji seperti itu juga telah dibuat bagi kaum muslim di seluruh dunia selama dua abad terakhir pengeksploitasian kaum muslim oleh Barat. Bagaimana mungkin kaum muslim mendapatkan kemajuan ekonomi dan kekuatan politik pada saat kaum muslim dipecah-belah?. Alih-alih disatukan, malah pada saat kaum muslim dikerat-kerat bagaimana mungkin dapat meraih kekuatannya?
Amerika sangat mengetahui bahwa argumen-argumennya tadi tidak cukup untuk meyakinkan kaum muslim Pakistan yang mulia, untuk mencampakkan saudara-saudaranya di Kashmir. Itulah mengapa Presiden Musharraf memulai mengkampanyekan rencana (kunjungan)-nya dengan seluruh pembuat opini terkemuka di negerinya, lebih-lebih terhadap para pemimpin politik, mass media dan para ulama, agar ia mendapatkan dukungan atas pengkhianatannya. Pertemuan-pertemuan intensif ini mencapai puncaknya pada 27 Juni. Hampir seluruh pemimpin politik Pakistan hadir menemui Presiden untuk memberikan dukungan penuh dalam pertemuannya nanti dengan Vajpayee. Dalam pertemuan tersebut hadir para pemimpin partai-partai politik Islam maupun partai politik sekuler. Walhasil, Musharraf meninggalkan negerinya menuju Agra dengan bekal dukungan seluruh media politik Pakistan.
Wahai Kaum Muslim Pakistan
Sesungguhnya pemimpin-pemimpin kalian telah bersama-sama membuat rencana untuk mengkhianati saudara-saudara kalian di Kashmir, dan mengkhianati kepentingan-kepentingan kalian selaku umat Islam. Apakah kalian memilih diam dan menerima tindakan-tindakan mereka dengan sikap menyerah dan lemah? Kalian tahu bahwa Allah mengharamkan atas kalian untuk menyerahkan tanah kaum muslim kepada kaum kafir, atau membiarkan kaum kafir memerintah kaum muslim. Allah berfirman:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (TQS. An-Nisa [4]: 141)
Solusi yang tepat bagi masalah Kashmir adalah tidak memberikan satu jengkalpun wilayah Kashmir kepada India, sekaligus membebaskan seluruh wilayahnya dari aturan Hindu yang kufir; daripada membantu “kebijakan pembagian (daerah) dan aturan” kafir. Kaum muslim seharusnya berjuang untuk menyatukan kembali seluruh tanah-tanah kaum muslim di bawah kepemimpinan tunggal. Allah memerintahkan kita untuk berperang melawan kaum kafir yang memerangi kita:
“Wahai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang disekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (TQS. At-Taubah [9]: 123)
Apakah kalian mengira bahwa kalian lemah untuk berperang melawan kaum Hindu yang pengecut? Ratusan ribu pasukan Hindu diterjunkan di lembah Kashmir, namun mereka tidak mampu mengalahkan ribuan mujahidin. Atau kalian takut dengan negara adidaya Amerika -yang dahulu merupakan saingan Uni Soviet- yang telah kalian kalahkan di Afghanistan? Atau kalian takut terhadap Yahudi, yang tentaranya bersembunyi di dalam tank-tank pada saat pemuda muslim menyerang mereka meski hanya berbekal batu? Kalian ibarat singa-sebagaimana yang telah dikatakan-namun tidak berani berhadapan, bahkan dengan makhluk terkecil sejalipun. Hanya satu serangan menggunakan salah satu anggota badanmu akan memperjelas kalian bahwa kekuatan kaum muslim adalah seluruh bangsa di dunia.
Wahai Kaum Muslim Pakistan
Pakistan memiliki peralatan militer yang sangat kuat. Pakistan memiliki senjata nuklir, dan telah dianugerahi dengan keanekaragaman sumber daya alam, seperti tanah pertanian yang subur, batu bara dan gas. Pakistan juga memiliki jumlah penduduk yang melimpah. Namun, harta paling berharga yang dimiliki kaum muslim Pakistan adalah akidah Islam, yang pada masa lalu telah dapat menghancurkan negara adidaya seperti Romawi dan Persia. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah; niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (TQS. Muhammad [47]: 7)
Masalah Kashmir hanyalah satu akibat dari sekian banyak masalah yang telah mengganggu umat sejak berakhirnya pelaksanaan aturan-aturan Islam oleh imperialis kafir Barat. Mereka telah menggantikan aturan Islam diseluruh tanah-tanah kita dengan sistem yang mengacu pada pemikiran Barat. Sistem yang telah menciptakan generasi penguasa yang setia kepada ide dan kepentingan Barat. Jadi, tidaklah mengherankan jika kita melihat seluruh penguasa tunduk kepada rencana Amerika untuk melawan kepentingan umat. Dengan sangat sederhana, kaum muslim melihat -bagaimana AS- mengganti satu pemimpin yang tunduk pada Barat dengan pemimpin (lainnya) yang sama. Yang kita butuhkan adalah kembali kepada sistem Islam dengan mendirikan negara Khilafah, yang akan melahirkan generasi-generasi pemimpin yang memiliki keikhlasan hanya untuk Islam dan kaum muslim.
Wahai Kaum Muslim Pakistan
Kami berseru kepadamu untuk mencampakkan rasa lemah, dan bangkit untuk menegakkan Khilafah Islam. Kalian akan memberikan kesaksian kepada Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
“Rasulullah saw berjanji kepada kami (bahwa kami akan) menaklukkan (daerah) Hind. Apabila aku menjumpai hal itu, maka aku akan mengorbankan jiwa dan hartaku. Dan jika aku terbunuh maka aku akan termasuk penghulu para syuhada, (namun jika aku tidak terbunuh) dan aku kembali, maka aku adalah Abu Hurairah pembebas.” (HR. An-Nasa’i)
Dan diriwatkan oleh Tsauban:
“Dua kelompok dari umatku yang Allah telah melindungi mereka dari api neraka, (yaitu) kelompok yang akan menaklukkan (wilayah) Hind, dan kelompok yang akan bersama dengan Isa ibnu Maryam.” (HR. An Nasa’i)
Hizbut Tahrir – Pakistan
22 Rabiul Akhir 1422 H/13 Juli 2001 M































sekarang kesadaran untuk menolong sesama saudara sudah mulai pudar…kita bisa lihat dan saksikan sendiri dengan mata kepala kita..
salam kenal
Pokoknya jangan percaya komparador (kaki tangan) Barat. Mereka tidak punya ghirah, itulah Musharraf.