Assalaamu’alaikum wr wb
Jaman dulu, di masa Rasulullah saw. dakwah dilakukan tanpa pengiriman SMS atau menelepon, bahkan para sahabat Rasulullah tidak ada yang punya blog dan juga website. Kini, di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang melesat jauh dengan model lompatan kodok (frog jump), penyebaran dakwah bisa memanfaatkan layanan serba canggih yang ditawarkan dari teknologi ini. Bahkan bisa jadi sangat menghemat tenaga, waktu dan juga efektif untuk penyebaran opini serta hemat biaya.
Dakwah di era teknologi komunikasi ini bisa menghemat biaya, di antaranya:
- Tidak perlu kantor khusus. Bisa dilakukan di mana saja. Di rumah, di jalan, di kendaraan. Selama masih bisa koneksi ke internet, para pengemban dakwah cukup dibekalio laptop, modem, dan ponsel yang minimal ada GPRS-nya, supaya bisa konek ke internet. Syukur-syukur kalo infrastrukturnya memadai untuk teknologi wireless, bisa memanfaatkan hotspot yang disediakan penyedia jasa internet. Dikirim tuh puluhan, bahkan ratusan artikel setiap harinya. Asal mampu aja nulisnya J
- Untuk koordinasi dakwah (termasuk pengajian antar anggota) bisa dilakukan via chatting, misalnya pake GoogleTalk atau Yahoo! Messenger. Para pengemban dakwah bisa melakukan koordinasi lebih efektif dan efisien dengan teknologi ini. Sebab, SMS dan telepon belum bisa seinteraktif ngobrol di YM. Bisa disetting untuk conference pula. Asyik banget kan? Apalagi sekarang warnet menjamur di mana-mana.
- Semua pengemban dakwah bisa punya kemampuan menulis dan memiliki website atau blog sendiri sehingga penyebaran dakwah bisa lebih luas dan efektif. Membaur dengan orang-orang awam dalam diskusi dan memberikan informasi. Meski tentu saja yang bisa mengakses informasi jenis ini adalah mereka yang juga terbiasa menggunakan internet.
- Jarak bukan lagi persoalan. Bisa teleconference atau memanfaatkan teknologi 3G untuk video call. Penceramah tidak perlu jalan-jalan ke suatu tempat dengan “ngabisin” waktu dan duit. Tapi bisa hadir meski gambar dirinya saja. Bisa berinteraksi dengan audiens, kecuali bersalam-salaman J
Ok, kayaknya itu beberapa poin yang kepikiran sama saya. Memang diakui di balik kelebihannya pasti ada kekurangannya. Namun demikian, kita bisa mencobanya sebagai pelengkap dakwah di era teknologi informasi dan komunikasi ini. Minimal nggak gaptek gitu lho. Bisa mencoba memanfaatkan sarana ini, dan bila masih diperlukan dakwah yang face to face, ya silakan tetap dijalankan terus. Ini sekadar pelengkap dalam memberikan suasana baru dalam penyebaran dakwah.
Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam,
O. Solihin




























