• Tepas
  • Belanja Bukuku
  • Catatan Kunjungan
  • Kirim Pertanyaan
  • O. Solihin Itu…
  • Rambu-Rambu

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

Feeds:
Tulisan
Pairan

Mau Dakwah Kok Mahal?

Rebo, 2 Juli 2008 ku osolihin

Assalaamu’alaikum wr wb

Serorang temen mengeluh karena dirinya termasuk orang yang diminta untuk menyumbang sejumlah uang oleh organisasi dakwah tempat ia ikut dakwah berjamaah, kalo nggak salah adalah antara Rp 100.000 (seratus ribu rupiah) sampe Rp 300.000 (tiga ratus ribu rupiah). Sebagai komitmennya untuk menyumbang tersebut, seluruh anggota organisasi dakwah diminta menandatangani surat pernyataan yang sudah disiapkan secara tertulis oleh masing-masing pengurusnya. Menurutnya, kebijakan itu diberlakukan kepada semua anggota organisasi dakwah itu untuk membeli 2 gedung yang akan digunakan sebagai kantor organisasi. Berapa harga kedua gedung itu? Ya, kata teman saya itu harganya Rp 4,5 miliar. Harap dicatat, dan saya jelaskan lagi dalam bahasa teks: EMPAT SETENGAH MILIAR RUPIAH! atau Empat ribu lima ratus juta rupiah. Wow, mahal nian!

Waduh, dengen jumlah duit yang dikeluarkan sebanyak itu, tentu kita berpikir jenis gedung seperti apa yang akan dibeli tersebut, kemudian tempat itu akan digunakan apa saja? Jika keperluannya hanya untuk koordinasi dakwah dan pusat data serta perlengkapan administrasi lainnya, apa nggak bisa nyari rumah aja yang relatif lebih murah? Ya, misalnya sekitar Rp 200 jutaan gitu. Nggak perlu mewah-mewah. Masih banyak yang kudu diurus, sebab yang saya tahu, teman yang ngeluh ke saya juga dia dalam rangka nyari kerjaan. Doi lagi jobless tapi tetap diminta juga untuk “nyumbang” duit yang nggak sedikit itu. Kan lebih baik ngurus para pengemban dakwahnya aja dulu. Karena setahu saya teman-temannya teman saya yang ngeluh itu juga banyak yang masih sekolah, kuliah, bahkan yang sudah berkelaurga pun nganggur.

Uang EMPAT SETENGAH MILIAR RUPIAH itu gede banget lho. Memang, mungkin saja bisa terkumpul dengan sedikit “ancaman dan paksaan” dan diberikan janji-janji pahala bagi orang yang diminta menyumbang tersebut, tapi apa iya itu bukan pemborosan? Ya, jika ingin bisa tercapai sih mungkin saja. Taruhlah misalnya anggota organisasi dakwah itu ada 15.000 (lima belas ribu) orang di seluruh daerah. Sekarang setiap orang diminta nyumbang (berinfak) sebesar Rp 300.000 rupiah. Berarti dana yang terkumpul sudah tercukupi (Rp 4,5 miliar). Iya kan? Atau pahitnya, duit yang dikumpulkan penyumbang cuma rata-rata Rp 200 ribu, berarti dana yang terkumpul cuma Rp 3 miliar. Ke mana nyari dana tambahan? Kita mungkin khusnudzan saja, bisa jadi dapet donasi dari kantor pusat organisasi dakwah tersebut untuk menutupinya. Atau mungkin juga yang paling parah (walau belum tahu pasti), adalah minjem ke bank syariah. Halah, tambah kacau dah!

Tapi, terlepas dari jumlah yang bisa dikumpulkan tercapai atau tidak untuk membeli 2 gedung (kabar dari seorang teman lain bentuknya adalah ruko), tapi apa itu bukan termasuk pemborosan? Mengapa nggak nyewa saja tempat yang murah? Atau jika pun harus membeli kenapa nggak beli rumah saja di daerah penggiran kota? Nggak mesti beli ruko dan tempatnya di pusat kota. Iya nggak sih? Bisa menghemat uang, kasihan deh banyak anggota organisasi yang kenyataannya masih miskin juga kok. Jangan ditambah bebannya dengan rencana pemborosan ini.

Ok. Selanjutnya saya ingin membahas bahwa jika pun para anggota organisasi dakwah ini mau menyumbang, karena memang tidak ada larangan orang mau menyumbang ke mana dan untuk apa asal itu halal. Silakan. Tidak ada larangan. Tapi, kita tentu harus memperhatikan untuk apa kita berbuat. Dasarnya apa. Apakah karena tertekan atau ikhlas? Karena diancam atau merasa harus ikhlas? Merasa harus menutup mata dan telinga dan pura-pura tidak tahu yang penting niatnya ikhlas menyumbang, karena dengan pertimbangan takut dikucilkan atau demi mempertahankan kebersamaan dakwah? Pertanyaan saya berikutnya adalah: Jika tidak ikut nyumbang apakah akan dianggap membangkang dan kemudian diberi sanksi pemecatan? Wah, kalo sampe kejadian kondisi yang ketiga, bisa berabe tuh: “Mau dakwah kok mahal?” Jangan-jangan seperti kawan-kawan di NII yang harus dipaksa “berinfak” sejumlah uang demi membiayai dakwah (alasannya sih begitu).

Memang sih, dakwah butuh pengorbanan: waktu, tenaga, harta, dan bahkan nyawa. Tapi, apa iya kita harus mengeluarkan harta untuk sesuatu yang sebenarnya bisa dicarikan alternatif yang lebih realistis dan tidak memberatkan?

Jika ukurannya ikhlas, insya Allah masih banyak orang ikhlas kok. Tapi, jangan sampe keikhlasan kita itu dimanfaatkan pihak-pihak yang nggak amanah dan malah melakukan “pemborosan”. Apalagi kita sudah bisa menduga ke arah mana bergulirnya dana.

Sebagian orang mungkin lebih mementingkan taat kepada pemimpin organisasi dakwah. Tapi, apa iya kita tidak diberi kesempatan untuk sekadar bertanya dan mempertanyakan? Apa iya lidah kita menjadi kelu dan beku hanya untuk mengingatkan dan memberi nasihat dan alternatif lain? Apa iya dengan adanya wajib taat kepada pemimpin membuat kita tidak kritis dan menganggap semua yang disampaikam pemimpin itu tanpa cacat cela? Apakah benar sikap seorang muslim hanya mampu berdiam diri demi taat kepada pemimpin bahkan meminta anggota lain diam dan pura-pura tidak tahu supaya tidak protes karena kalo protes pasti di-DELETE dari keanggotaan? Apakah layak pengemban dakwah hanya bisa keras melakukan nahyi munkar kepada umat sementara dia loyo dan “impoten” untuk nahyi munkar kepada pemimpin jamaahnya? Ya, tidak semua diam itu emas, jika kenyataannya mendiamkan kemunkaran.

Percayalah saudaraku, kita terikat hanya dengan Islam dan akidahnya. Kita berdakwah pun atas dasar akidah Islam, bukan karena ingin mendapat sanjung puji dari manusia. Bukan pula ingin dianggap loyal oleh pemimpin jamaah, bukan pula karena ingin mendapatkan “kehidupan pribadi” di dalam jamaah. Tidak. Sekali lagi tidak.

Cukuplah, Allah Swt menjadi pelindung kita dan segala tujuan hidup kita. Kita hanya mengharap ridho Allah Swt.

Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam,

O. Solihin

Dimuat dina Opiniku | 161 Pairan

161 Balesan

  1. dina Rebo, 2 Juli 2008 pukul 20:13 Aswadee

    Salam!
    Tulisannya bagus juga Mas. Menurutku sih tergantung sudut pandang, mungkin gedung seharga Rp 4 M lebih itu untuk disewakan lagi sehingga uangnya bisa dipake untuk dakwah lagi Mas. Tapi, itu yang beli nanti rame2 ya Mas? Jadi milik bersama?


  2. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 10:33 Asep Muslim

    Tulisan ini tak berbobot!
    Nyesel saya baca tulisan ini….

    Nggak nyambung…

    Terima kasih sudah mau membaca dan berkomentar seperti ini. Saya jadi tahu bagaimana kualitas emosi dan cara pandang antum… tidak nyambung! :-)


  3. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 10:52 zoel chaniago

    mo dakwah apa mo ngapain tuchh>????


  4. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 11:19 Ishak

    Alhamdulillah, ini akan jadi bahan pembahasan dengan guru ngaji, untuk diskusi nyari jalan keluarnya. Jadi aku bisa berargumen karena ini ada kaitannya dengan masalahku…

    terima kasih Mas!

    Ishak, seorang daris…


  5. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 11:22 Khoirul Burhani

    Saya senang dengan semboyan akhi; Qulil haqqa wa lau kaana murran. Tetapi saya akan lebih berbahagia dan merasa bangga dengan akhi jika mau menambahkan kalimat lain; Qul khairan au liyasmut.

    Dalam tulisan akhi “MAU DAKWAH KOK MAHAL”, sama sekali tidak mengatakan yang haq. Bahkan yang ada banyak berupa duga-prasangka yang batil, yang bisa menjeruskan kepada dosa bagi pelakunya.

    Ungkapan akhi dengan diksi “mungkin saja”, “jangan-jangan” dan sejenisnya berupa tanda petik, membuktikan ketidakmengertian akhi. Paling tidak, akhi tidak cukup maklumat tentang apa yang menjadi isi tulisan akhi.

    Akhir kata, saya ingin katakan kepada akhi: Qul khairan au liyasmut.

    M. Khoir Burhani

    Terima kasih atas komentar akhi dan nasihatnya. Namun, ketahuilah bahwa saya tak merasa paling benar, tp hanya sekadar menyampaikan kebenaran yg saya ketahui. Lagi pula, diam saja sementara tahu ada yang tak beres adalah ibarat setan yang bisu. Diam, tak selamanya emas.

    Akhir kata, saya ingin katakan kepada akhi: Katakan kebenaran atau diam saja tak perlu komentar yang isinya justru menduga dan cenderung menuduh saya. Terima kasih.

    Salam,
    O. Solihin


  6. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 11:30 astarisekarayu

    tulisan ini memberikan wacana baru bagiku karena aku merasakan betul masalahnya. terima kasih pak oleh, karena anda mengatakan yang sebenarnya….

    tambahan menurutku, untuk apa membeli gedung semahal itu? umat tidak menginginkan hal itu tapi kiprah dakwah di tengah umatlah yang akan memberikan dampak positif bagi kemajuan islam, bukan bermegah-megahan dalam hal yang tidak perlu…

    terima kasih…


  7. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 11:31 abu hanifah

    salam!

    klu menurut pendapat diriku pribadi, lebih baik kita coba liat dulu secara mendetail kegunaan ruko tersebut.
    klu bisa beli, knapa harus nyewa!, karna klu nyewa itu uang akan hilang, tapi klu beli selamanya bisa dipakai.
    klu organisasi skala besar, bisa diliat ketika ngadain acara di sebuah gedung, brapa biaya satu kali sewa? 20 jt,30 jt,60 jt atau bahkan lebih. nah kalau punya gedung sendiri kan enak. mo kapan saja ngadain acara terserah, tempat strategis, mudah di jangkau dan level untuk tokoh2 sangat cocok. (klu setahu saya sih, ruko harga segitu lumayan luas).

    lebih bagus lagi, mas O. sholihin bandingkan dengan angka2 yg detail (klu punya datanya).hehe. antara punya gedung dan gak punya.

    berapa dana nyewa gedung buat acara dalam satu tahun?
    kantor pusatnya sewanya brapa? bagaimana klu di luar jam kantor, masih bisa dipakai or nggak?

    memang bagusnnya.. pimpinan organisasi tersebut harus memberikan data valid, alasan ambil keputusan beli roku 4.5 milyar. biar tahu alasanya, gitu deh….

    peace…….!


  8. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 11:41 surganeraka

    Saya ingin bertanya meski bukan bagian dari organisasi dakwah yang dimaksud, mengapa harus memaksakan agar para anggota organisasi dakwah menyumbang? Gunakan saja uang organisasi, sehingga tidak membebani para anggota.

    empat koma lima miliar perak? Sungguh angka yang luar biasa, padahal dirikan saja stasiun radio, jangan hanya membeli gedung….

    ini sekedar saranku saja….


  9. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 11:59 namakutanpanama

    Yang mau beli ruko orang lain, koq kita yang ribut sich? Biarkan saja tdk perlu diurus. Mau mahal mau murah, buat apa kita susah-susah memikirkan?

    Hanya saja, dari tulisan yang ditulis Pak Oleh ini ada sedikit nada ketidakpercayaan kepada pemimpin organisasi itu yach? :-)

    Pak Oleh, saya setuju dengan Anda yang seperti menurut dugaan saya merasa khawatir akan kemaslahatan gedung itu, apalagi dengan meminta pr anggota menyumbang.

    O iya, saya mau bertanya terlebih dahulu, itu organisasi dakwahnya fokus ke sosial atau ekonomi sich? Saya setuju dengan pendapat abu hanifah bhw lebih baik membeli daripada menyewa… supaya bisa dibisniskan kembali. Tapi saya juga bertanya, jika nanti dibisniskan, apakah para anggota mendapatkan manfaatnya? Apa akad memberi sumbangan saja, terus keuntungannya digunakan organisasi sehingga tidak ada bagi hasil?

    Kemudian saya ingin bertanya kpd Pak Oleh, apkah partai yg dimaksud itu adalah partai peserta pemilu? Jika itu yg dimaksud, wajar jg, kan harus kelihatan sebagai partai yg mapan Pak. Supaya pemilih dan org lain melihat bahwa partai itu bagus karena gedungnya saja mewah..

    Namun menjadi persoalan Pak Oleh, jika yang Anda maksud adalah partai Islam yang radikal dan tidak kompromi dengan pemerintahan kafir, pasti itu tidak efektif, karena suatu saat akan mudah ditangkapi para aktifisnya dan bahkan gedungnya bsia saja diledakkan dengan mudah….

    Seharusnya partai ideologis itu seperti Hizbut Tahrir yang sangat rapat menutup informasi sehingga intelejen itu susah mendapatkan informasi ttg partai itu. Tapi, saya tidak tahu jika di Indonesia, apakah Hizbut Tahrir masih radikal pemikiran dan perjuangannya atau sudah meninggalkan metode berjuang yang militan dan memilih berdakwah yang disambut baik berbagai kalangan sehingga dakwahnya tidak radikal dan bahkan bisa bernilai profit…. :-)

    Arigo Sumaryana


  10. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 12:47 Aria Damar

    Subhanallah.. tulisan yang bagus, mengajak merenung kepada kita tentang bagaimana seharusnya hidup sederhana. Mas Oleh, saya ingin tahu apakah ormas yang Anda maksud adalah organisasi dakwah Anda, yakni HTI? :-)

    Dulu Anda mengkritik komentar Ustad Al Khaththat yg merupakan petinggi HTI ttg tlsan beliau mengenai KKI dan NKRI, saya masih ingat karena saya juga ikut komentar waktu itu. Sebenarnya yang sedang terjadi di HTI itu apa sih Mas? Boleh tahu tidak? Jangan dijawab jk tdk brkenan.. :p

    Jika bukan ormas HTI, lalu organisasi dakwah yang mana yang Mas Oleh maksudkan dlm tlsn ini? Maaf nih bertanya terus… :-)

    ~Aria Damar~


  11. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 13:27 abu fikri

    Kalau mau nyumbang untuk dakwah ya engga usah ditentukan berapa besarnya, apalagi harus tanda tangan pernyataan segala, jelas aneh ini!

    bagi yang ingin menyumbang karena redo dan ingin mematuhi perintah pimpinan ya silahkan, semoga Alloh membalas kebaikan anda, tapi ya jangan maksa semua anggota untuk bisa redo/ikhlas.

    Moga-moga yang tidak bayar tidak dianggap ngutang ke organisasi, lebih lucu lagi kalo nanti yang tidak mau bayar akhirnya jatohnya jadi ngutang, engga mau infaq/sodaqoh kok jadi ngutang, kebangetan!!

    Saya masih inget beberapa saat yang lalu bagaimana gigihnya menentang kenaikan BBM, karena kondisi masyarakat kita, lha kok sekarang mintain dana anggotanya untuk bikin gedung, mahal lagi, ckckckckck.

    kira2 orang yang pekerjaannya sbg tukang becak, supir angkot, buruh dll bisa jadi anggota engga ya? kalo disuruh2 bayar? dan apa bener organisasi dakwah orientasinya seperti ini?


  12. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 14:53 Muslim Asep

    Tulisan ini sangat berbobot!
    Nyesel saya baca tulisan baru sekarang…

    Sangat relevan dengan kondisi organisasi dakwah tertentu saat ini…

    Muslim ti Bandung


  13. dina Kemis, 3 Juli 2008 pukul 22:29 ucup islam

    Ehm…. sibuk ngurusin orang lain, yang penuh dengan duga menduga …. dan tidak tahu menahu ….

    ini merupakan titik-titik awal, atau pecahan kecil penghancuran gerakan Islam oleh para akltivisnya sendiri… menyedihkan….

    Bukan perbaikan yang ada … tetapi pengrusakan… ya sekali lagi pengrusakan gerakan2 islam…. waspada!!!

    Tujuannya: gerakan islam itu mampus!!!!
    perpecahan… fitnah….. dan propaganda negatif….

    Ya Allah, berilah cahaya hidayah-Mu untuk menjadi seperti para sahabat Rasul-Mu, bersatu padu dalam perjuangan, berkorban jiwa dan raga demi tegaknya panji Islam….

    Kapankah…. panji Islam tersebut tegak dalam kehidupan sehari-hari ketika para aktivisnya seperti ini…. Rabb maafkan kami, maafkan mereka, buanglah sikap dengki, hasud, iri, takabbur, dan kebencian dari kami…. Rabb karuniakanlah keikhlasan kepada kami

    Amin….


  14. dina Jumaah, 4 Juli 2008 pukul 12:53 Kumpay

    waduh kang tulisan ini menurut ane menyindir kelompok dakwah yg lain (ane tau koQ kelompok dakwah yg kang solihin maksud) waduh motivasi apa kang yg bikin tulisan ini???

    gimana kelompok dakwah indonesia mo bersatu klo terus saling adu sikut??? (maaf nih kritis,lah bukannya kita memang harus kritis??)

    afwan sebelumnya dengan tulisan diatas ane kg bermaksud menghina atau apa.


  15. dina Jumaah, 4 Juli 2008 pukul 14:29 Bunaya

    Ane melihat bahwa saat ini sedang terjadi pengrusakan gerakan Islam oleh musuh-musuh Islam. Bukti-bukti tersebut adalah:

    1. Menyeret partai Islam ke parlemen sistem kufur. Maka yang terjadi adalah PKS, PBB, PPP dan lainnya tak beda dengan Golkar, PDIP. Sama-sama sekuler atau paling tidak jadi pragmatis. Tidak punya gigi untuk melawan kapitalisme yang membesarkannya di parlemen tsb. Bahaya besar. Fitnah besar.

    2. Banyak yang disusupi intel. Salah satu contohnya adalah memalingkan atau mengalihkan tujuan utama partai Islam yang tadinya “radikal” kemudian menjadi “lunak”. Ini terjadi kepada MMI, bahkan HTI ketika Jubirnya mengatakan di Metro TV pasca Konferensi Khilafah Islamiyah bahwa HTI ada kemungkinan ikut pemilu…. (ini jelas fitnah dan bahaya besar!). Sayangnya, banyak aktifis HTI yang tidak peduli, bukannya protes malah banyak yang mendukung.. berarti sudah mengundang bahaya dan fitnah.

    3. Ada agenda besar2an dari intel yang masuk ke tubuh gerakan untuk menyingkirkan aktifis partai yang vokal sehinga tidak berada lagi di tubuh gerakan tsb. Aktifis vokal yg memprotes kebijakan gerakan yg telah melenceng dari manhaj dakwah.

    Nah, untuk kasus ini, ane melihat yang ditulis Mas “OS” ini adalah renungan bagi kita. Gerakan dakwah harus peka dan jeli melihat kenyataan umat saat ini. Jangan mementingkan penampilan diri yg bisa dijual ke orang lain, sementara sebenarnya umat tak terlalu mementingkan hal tsb. Umat hanya butuh pencerahan dan butuh jawaban atas semua persoalan hidup mereka. Tidak butuh tempat atau gedung yang dimiliki gerakan dakwah, apalagi istananya….

    Terima kasih.

    –Bunaya Agus Salim–


  16. dina Jumaah, 4 Juli 2008 pukul 15:00 Firman

    Kumpay… persatuan umat Islam yang utama adalah tujuannya sama, yakni untuk kebangkitan Islam. Kebangkitan Islam yg diinginkan adalah terciptanya Daulah Khilafah kembali.

    Seluruh gerakan harus disatukan dalam ide besar itu. Sementara teknis di lapangan akan susah dilakukan karena tidak mungkin semua harus disatukan dari mulai pembinaannya, cara berdakwahnya, yang disampaikan dakwahnya, jenis dakwahnya.. jadi itu memang sulit dilakukan. makanya terlihat berbeda satu sama lain hingga saat ini. Apalagi saat ini, tujuannya juga berbeda: ada yang ingin berjuang di bidang sosial saja, lebih fokus ke bidang pendidikan saja, lebih nyaman dengan bisnis islami, ada yang mengurusi akidah saja, ada yang konsen di bidang politik, jadi bagaimana mungkin bisa disatukan? Biarkan saja. Yang penting akidahnya masih sama. Yakni Islam.

    Menyinggung tulisan Kang Oleh Solihin ini, Firman melihat ada benarnya juga. Gerakan dakwah Islam memang tidak boleh bermegah-megahan hanya untuk urusan gedung saja. Seharusnya gerakan dakwah lebih memikirkan bagaimana berdakwah yang benar, seperti mendistribusikan artiikel2 dakwah, mengirim para aktivis mrk ke berbagai daerah terpencil utk lakukan pembinaan ke masyarakat di desa2. Gedung seperlunya saja, jangan yang mahal2 spt. Untuk nyewapun jangan yang mahal, sebulan 3 ribu juga ada kan? :-)


  17. dina Saptu, 5 Juli 2008 pukul 11:00 Muslim

    Mau Dakwah Kok Mahal? Ya iyaa lah… perjuangan ini perlu pengorbanan. Buat apa Abu Bakar Ash-Shiddiq mengorbankan seluruh hartanya untuk Islam? Buat apa Umar al-Faruq mengorbankan separoh hartanya untuk Islam?

    Hanya orang-orang yang yang pecundang yang tidak taat, yang memikul amanat, para pengkhianat selalu menghujat, tanpa melihat maslahat, tapi malah mengundang jamaah rekat, akhirnya lupa mikiran umat, tapi sibuk mikirin internal jamaat, tanpa dia di dalam jamaat, tidak sepakat, cara-cara keji dilumat, mulailah beraksi para pengumpat, para agen asing bertepuk melompat, karena orang pintar tak lagi mikirin umat.

    pikirkanlah, dan segera taubat
    sebelum ajal mendekat!!!

    dari fans (dulu), yang kecewa (kini) dengannya karena tak amanat…serta khianat….

    maafkanlah ia, oh … Allah

    Nah, namanya Muslim juga ya? Kalo Muslim yang ini pasti dari Bandung, karena IP Address-nya pake Telkom Bandung:-)
    Kelihatannya kita sudah satu perasaan dan pemikiran ya? Karena yang saya maksud ternyata dirasakan juga oleh antum dari jamaah tertentu itu… :-)

    Hmm… semua orang bisa “diingatkan” dengan cara yang ditulis antum. Karena Islam adalah pemberi kabar gembira bagi orang2 yang beriman dan pemberi peringatan bagi orang2 kafir. Nah, saya akan lebih senang lagi jika antum menulis atau menyampaikan pesan seperti ini kepada pemimpin jamaah dakwah antum. Saya sendiri terus terang saja, secara pribadi sering kirim surat, tapi anehnya hanya sekali ditanggapi dan itu sifatnya bukan dialog, tapi PENJELASAN. Bahkan sama sekali tidak boleh direkam, tapi saya akhirnya merekam sendiri tanpa sepengetahuan mereka dari MP3 pinjaman yang saya bawa. :-)
    Jadi, sebaiknya antum lebih kritis deh :-) sebelum mengetahui segalanya SETELAH TERLAMBAT! dan antum ternyatabaru akan tahu nanti siapa sebenarnya yang BERKHIANAT, bukan hanya kepada jamaah dakwah, tapi kepada pemimpin pusat mereka sendiri! (dan tentu berkhianat kepada hukum syara’). Musibah besar!

    Salam,
    O. Solihin
    [saya tidak peduli ada yang ngefans dengans aya atau kecewa dan merasa terkhianati, karena yang saya pedulikan adalah bagaimana saya menyampaikan kebenaran dan mengharap ridho Allah Swt.]


  18. dina Saptu, 5 Juli 2008 pukul 14:06 muslim

    assl. menurut ana dg tulisan ini (mdkm), posisi ust. oleh akan smakin jauh, bahkan mungkin tdk akan dtrima lagi di jamaah yg dimaksud. saran ana, lbh baik ust. oleh fokus pd profesi penulisnya & ke depan untuk menjalankan kwajiban dakwah berjamaahnya smoga bisa membeli domain sendiri tuk membuat situs dakwah semisal eramuslim, dsb. dengan mengajak beberapa ustadz yg ikhlas berdakwah smata2 untuk tegaknua dienul islam. amin (dr saudaramu yg msh simpati pd ust)

    ‘alaikumussalam… BTW, rupanya browsing dari opera-mini ya? :-) pake hp dong ya? (beneran nih di Norwegia? soalnya kelihatan dari IP address-nya, eh tapi bisa juga tinggal di tempat lain, IP Address kan cuma alamat buat browsing-nya aja, kebetulan opera-mini dikeluarkan di Norwegia sono) :-)

    Ok terima kasih atas saran antum. Tapi, saya pribadi merasa harus menyampaikan ini di tengah “kebisuan” banyak aktivis yang tidak berani mengoreksi padahal jelas ada sebuah kemungkaran. Saya tidak peduli apakah semakin menjauh atau mendekat thd kelompok dakwah ts, karena kenyataannya tidak seperti yang antum bayangkan. Oke, saya dan teman2 saya sudah membangun situs dakwah sejak April 2007 lalu, silakan kunjungi http://www.gaulislam.com. Terima kasih perhatiannya.
    Salam,
    O. Solihin
    [yang berusaha untuk merasa tidak perlu sanjung puji dari orang lain karena hanya mengharap ridho Allah Swt.]


  19. dina Saptu, 5 Juli 2008 pukul 19:14 Hexxer

    Ampuuuun deh apa yang ada di otak para pimpinan partai ini, emang mereka gak punya empati dan gak ngerti nilai kebijaksanaan?????
    Bayangin di tengah kemelut ekonomi n himpitan hidup yang membebani para anggotanya eeeeh mereka malah mikirin para tokoh dan petinggi yang katanya mau dateng ke acara mereka kalo diadakan ditempat yang bagus n mudah dijangkau, gara2 cuma sekian persen orang yang “penting” ini partai tersebut langsung deh bikin keputusan mendadak tuk beli tempat yang harganya muahal buanget.
    Busyeeet gak mikir apa tuh orang2 yang katanya pinter??? padahal mereka kan tau banget banyak banget anggotanya pada susyeh bin melarat eeeeh malah beli gedung seharga milyaran rupiah dah gitu semua diminta nyumbang lagi, padahal kalo anggotanya lagi susah mereka boro-boro inget, tau juga kaga.
    Yah ini bukti isu nasionalisasi dan penokohan yang ada pada partai ini merupakan jebakan yang akan membawa partai ini kepentas nasional dan formal yang tentunya secara tidak sadar akan mencabut kekuatan dan pengaruhnya dari akar rumput. Yaah emang ada orang dari kelas menengah kebawah bakal dateng ke tempat itu? Emang dakwah cuma untuk mereka doang? Emang dakwah kudu ngorbanin banyak orang (bukan berkorban)? Dan masih banyak emang lainnya yang anda semua (yang tentunya dengan pikiran jernih dan kritis serta melepaskan diri dari ketaklidan buta) bisa anda tambahkan…..
    (hehehe dengan sangat menyesal saya juga harus mengaku sebagai anggota partai tersebut yang ikut memberikan info yang valid kepada kang Oleh, sehingga tuduhan kalo kang Oleh mendapat info gak valid itu adalah suu dzan belaka)


  20. dina Senén, 7 Juli 2008 pukul 09:43 Nanda

    Ustad.. sy salut sama antum karena termasuk “anak nakal” :p

    Antum selalu bikin ketar-ketir dan membuat jenggot para pengurus kebakaran. Itu yang ana denger dari kawan-kawan pengurus. Sering protes bukan sekali dua kali, ana tahu dari cerita pengurus karena sering bahas surat ustad secara tertulis yang disampaikan melalui pengurus untuk jamaah dakwah.

    Dan ana tahu apa yang antum sampaikan itu benar. Itu diakui sama pengurus sendiri. Sampai terjadi kasus ustad disingkirkan dari jamaah dakwah karena dianggap melanggar idary. Padahal, ana tahu sendiri bahwa bukan saja mereka melanggar idary tapi sudah melanggar hukum syara, tapi dibiarkan saja meskipun sudah banyak yang memberitahu..

    Maklum, yang melanggar hukum syara’ dan sekaligus idary itu adalah pengurus sendiri…. jadi ternyata pandang bulu juga ustad… :-)

    ustad, teruskan perjuangan ustadz, dan terima kasih telah menginspirasi saya untuk kritis dan tidak jumud.. :-)

    Saya insya Allah tetap loyal kepada pemimpin gerakan, tapi doakan saya untuk bisa kritis seperti ustad… agar gerakan dakwah ini tidak hancur karena kehilangan orang2 kritisnya!


  21. dina Senén, 7 Juli 2008 pukul 11:28 nadisa

    assalamu’alaikum

    dear saudaraku seiman,
    saya ucapkan selamat, ini kedua kalinya anda sukses mengangkat -menunggangi- tema yg sedang ramai dibicarakan di tubuh parpol islam yg anda maksud.

    saya yakin anda adalah muslim yg cerdas, kritis, dan memiliki potensi besar dalam hal menghasud orang lain.

    sayang, kecerdasan anda tidak cukup menuntun anda u berfikir apakah sifat kritis anda sudah benar ditempatkan pada bejana yg semestinya.

    jika anda cukup cerdas, anda pasti tahu benar menumpahkan kritik di tempat yg tidak seharusnya hanya akan mengundang amarah, fitnah, dan su’udzon sesama saudara seiman. lalu di mana niat IKHLAS anda yg katanya hanya mengharap ridho Allah SWT?

    karena orang bodoh yg tidak cerdas saja pasti tahu bahwa sebenarnya anda hanya sedang mencari dukungan. dukungan untuk apa? dukungan untuk meyakinkan anda sendiri bahwa pendapat andalah yg paling benar, yang paling ikhlas.

    jika memang anda cukup cerdas, sudahkah anda menyampaikan kritik ini secara struktural kpd parpol islam yg anda maksud? jika belum, bukankah anda belum bertabayun? berarti tulisan anda hanyalah fitnah yang keji.

    sebenarnya orang yang cerdas, kritis, dan bebal setipe anda inilah sesungguhnya musuh lyg ebih berbahaya dari kaum kuffar.

    silahkan berlindungdirilah di balik keikhlasan seperti yg anda sampaikan. tutuplah telinga anda dari kebenaran2 yg disampaikan saudara2 anda yg lain. merasapuaslah dengan fitnah yg dgn pengecutnya anda lemparkan. berbahagialah dan tersenyumlah.

    ‘alaikumussalam wr wb
    Terima kasih Nadisa di Bogor.. (kita sama-sama di Bogor deh..) :-) dan tahu masalahnya. Jadi Anda cukup cerdas juga.

    Selamat juga untuk Anda karena berhasil membaca tulisan ini. Salut juga karena Anda berani berkomentar tentang tulisan ini. Ini akan semakin meramaikan suasana :-) dan pasti akan diketahui banyak orang. Jadi terima kasih atas promosi gratisnya..

    Perlu diketahui saya tidak mencari dukungan siapapun, tidak pula mencari popularitas konyol dengan hanya menghasud orang lain. Ingat, penyampaian kritik bukanlah penghasutan. Bukan pula menggalang dukungan. Tak serendah itu Nadisa..

    Anda sedang berbicara soal konteks Ikhlas? Hemm.. ketahuilah, seseorang itu disebut iklhas atau tidak tidak ada yang bisa mengetahui, apalagi mengukurnya. Malah saya akan balik bertanya? Di mana keikhlasan Anda ketika kritik dilayangkan kepada Anda atau mungkin mirip dengan organisasi dakwah Anda, lalu melakukan self defence? Oya, sebenarnya self defence boleh2 saja selama melakukan “pertahanan diri” itu adalah untuk membela keyakinan yang Anda pegang teguh dan memang benar adanya. It’s ok.

    Tapi masalahnya, (ini dengan catatan bahwa yang kita permasalahkan adalah organisasi dakwah yang sama), sudah banyak kritikan saya sampaikan lewat jalur khusus. Tapi, tidak ditanggapi. Malah akhirnya saya juga dipermasalahkan untuk kasus yang pertama (pasti Anda tahu karena Anda menulis bahwa ini adalah kali kedua saya melakukannya). Untuk kasus yang pertama saja, saya malah mengirim surat ke orang nomor satunya langsung secara struktural, tapi nggak ditanggapi juga. Malah sebagai bukti respon adalah saya katanya disingkirkan dengan tanpa penjelasan yang memuaskan dan tanpa ada bukti2 tertulis dari pemimpin umumnya). Ehm, tidak jadi soal. Saya malah menduga-duga saja bahwa ini adalah KONSPIRASI. Sebab, kritikan saya itu dianggap benar oleh beberapa pengurus, tapi caranya salah, katanya. Namun ketika saya minta supaya mereka juga mengkritik sang tokoh, ternyata bungkam. Saya sudah cukup jengah karena kasus apapun tidak bisa selesai sejak saya jadi pengurus dan berkali-kali itu pula saya mengingatkan.. Tapi ya sudah mungkin itu jalan yang dipilih oleh mereka. Dan, ini juga jalan yang saya pilih :-)

    Mungkin ini saatnya saya sampaikan, karena ibarat bom waktu, hanya tinggal menunggu saatnya meledak saja.

    Saya punya saran, sekali saja Nadisa dan kawan2 bisa kritis. Sebab, saya malah khawatir bahwa awalnya kita menunjukkan loyalitas ternyata malah “mengamini” kemungkaran. Sudah cukup banyak bukti bahwa ada banyak orang di tubuh organisasi dakwah itu yang justru telah melanggar hukum syara’ tapi tdk pernah dihukum sama sekali. Bahkan bersekongkol mendiamkan kemaksiatan. Merekalah justru yang telah berkhianat terhadap organisasi dakwah. Mau bukti? Tunggu tanggal mainnya!

    salam,
    O. Solihin

    Saya tidak pernah menutup telinga utk menerima kebenaran, justru saya yang meragukan Nadisa dan orang2 yang seperti Nadisa yang kelihatannya menutup mata dan telinga (apalagi tinggal di Bogor) thd segala kesalahan yang ada (itu pun jika Anda tahu dan wa’yu siyasi Anda jalan…).


  22. dina Senén, 7 Juli 2008 pukul 12:17 Muslim

    Jelas, kan dari komentar mas … , ketidaktaatan … berkhianat…. berbicara pada orang yg tak layak …
    akhirnya ikatan rusak… sembunyi2ngerekam maklumat…….. sayang-sayang ah akh….

    andai saja para sahabat
    tak taat pada pimpinan umat,
    atau saja para sahabat
    tak taat pada sahabat
    yang menjadi pimpinan jamaat….
    itulah mengapa perang uhud kwalat
    para sahabat kalah dan rasul pun terluka
    karena ada yang tak taat pada pimpinan umat….

    berbahaya bagi suatu jamaah…
    hingga mudah disusupi mukhabarat….
    tujuannya merusak jamaah
    agar jamaah itu kacau dan lemah,
    hancur lebur dan tujuan pun biarlah kabur,

    waspada agenda busuk merasuk kepada tulang rusuk : – infiltrasi – radikalisasi – stigmatisasi —> teroris-teroris, berangus habis!

    perjuangan ini masih panjang
    barat jahat terus menerjang
    hingga umat tetap tertidur di atas ranjang
    agar umat tetap terperangkap keranjang
    bersatulah wahai para pejuang
    jangan saling menggunjing juang
    apalagi membuka aib orang

    oh… Allah maafkanlah ia, maafkanlah kami, jangan sibukkan kami pada hal yang memecah belah umat, tapi sibukanlah kami pada kekuatan umat, amin!

    Ya memang jelas. Saya terpaksa melakukan karena saya sempat “difitnah”, sehingga saya lakukan langkah antisipasi. Dulu pernah kejadian, apa yang saya sampaikan ternyata disebarkan ke khalayak keliru dan jelas-jelas salah. Ini tentu saja “pembunahan karakter”. Maka, ketika saya bertemu kembali, saya tidak mau “dikibulin” lagi sehingga saya berhasil merekam pembicaraan. Dan, benar saja, setelah selesai pembicaraan yang panjang-lebar itu, oknum tsb tetap marah dan akan menjatuhkan sanksi. Tapi, setelah saya kasih tahu teman yang nganter saya bahwa saya merekam pembicaraan tadi, beberapa hari kemudian keputusan itu berubah. Kalo emang benar, kenapa harus takut? Mengapa harus takut pembicaraannya saya rekam? Begitulah faktanya kalo harus saya sampaikan. Semoga antum bisa paham.

    Seharusnya kita berpikir jangan lurus2 saja. Tapi pikirkan sesuatu yang berlawanan. Belum tentu tukang kritik itu lebih jelek dibanding yang loyal. Begitu juga sebaliknya. Yang penting adalah bagaimana cara itu ia lakukan. Sekadar tahu saja, “pembunuhan karakter” oleh organisasi dakwah ini bukan hanya menimpa saya, banyak banget yang lainnya. Jadi, ini memang harus dihentikan ketika saluran utama dan yang seharusnya “sengaja” disumbat. Jadi maunya apa?

    Sudahlah, saya akan sangat berterima kasih jika antum mau dialog langsung dengan saya. Kopdar juga boleh. Supaya saya bisa jelaskan sampai ke tulang-tulangnya. Agar antum tahu ternyata memang pengurus organisasi dakwah adalah manusia dan tentu bisa salah. Gimana?

    Terima kasih,
    O. Solihin


  23. dina Senén, 7 Juli 2008 pukul 14:52 nadisa

    suasana memang akan seramai persis seperti yang anda harapkan. apalagi yg diharapkan dari seorang “kritikus” macam anda selain membuat kegaduhan tanpa solusi.

    tolong dicatat, ketsiqohan saya terhadap jamaah bukan bergantung pada kultus individu siapapun, baik pengurus ataupun bukan. bahkan jika seorang khalifah melakukan kemaksiatan saja, kaum muslim tetap tidak boleh membangkang, tanpa melupakan kewajiban amar ma’ruf nahy mungkar kepadanya. dan maaf saya tidak tertarik mengetahui aib saudara saya sendiri. saya hanya tertarik pada persoalan yang menghambat dakwah jamaah, bukan permasalahan pribadi yg pasti akan selalu ada di diri tiap manusia.

    ketsiqohan saya terhadap jamaah juga tidak akan membuat saya berdiam diri jika melihat kemungkaran dlm jamaah. bedanya anda dengan saya adalah saya tidak pernah putus asa mengkritik melalui jalur yang benar, dan bukan memciptakan provokasi di luar jalur.

    setiap muslim itu ibarat pakaian harus saling menutupi aib (jika memang ada) dan sekali lagi tanpa menghilangkan kewajiban beramar ma’ruf nahy mungkar. sedang yang anda lakukan adalah tertawa karena berhasil “memberitahu dunia” tentang permasalahan intern jamaah. itupun belum tentu permasalahan yg anda angkat sudah terlebih dahulu anda tabayun-i.

    saya mau bertanya pada hati nurani anda, sebenranya apa yg anda harapkan dengan menulis fitnah seperti ini?

    Alhamdulillah, ternyata saya berhasil menyeret Anda dalam diskusi ini. Saya ungkapkan ini memang apa adanya. Sudah terlalu banyak keanehan dan kejanggalan yang ada di tubuh organisasi dakwah itu. Dibilang harus melalui jalur khusus, tapi kok ya nggak ditanggapi. Dibilang jangan ngegosip soal pengurus, tapi mereka sendiri ngegosipin bawahan. Bahkan memata-matai. Wah, kacau deh!

    Bahkan sebenarnya banyak yang DIKHIANATI oleh oknum2 pengurus organisasi dakwah yang Anda maksud itu. Saya sendiri sejak lama merasa aneh dengan gejala di tubuh organisasi dakwah ini justru sejak saya jadi pengurusnya di awal tahun 1999. Sungguh sangat membingungkan jika sebuah organisasi dakwah tapi para pengurus di tingkat elitnya susah sekali disadarkan. Bahkan seringkali melakukan argumentum ad hominem (Jika ada pernah baca buku kecil saya yang diterbitkan Al-Azhar Press) di situlah saya menulis buku: “Da’i Juga Manusia” dan “Buruk Muka Cermin Dibanting”, yang saya tulis berdasarkan pengalaman nyata dan saya rasakan sekali. Diingatkan pun yang bersangkutan tidak mempan. Lha, piye iki? Yang terjadi adalah: “Tarik semua buku tersebut dari peredaran!” Wow, bagus sekali gaya tersebut. Sangat diktator. Untung buku tsb udah laku. :-)

    Saya masih ingat betul dalam kajian kitab yang dikeluarkan organisasi dakwah ini tentang keberhasilan dakwah. Bahwa salah satunya yang harus bersih adalah individu pengembannya. Selain fikrah dan thariqah dakwahnya tentu. Nah, masalahnya bagaimana mungkin organisasi dakwah yg menyeru kpd pelaksanaan hukum syara, sementara banyak aktivisnya yang malah melanggar hukum syara’. Jadi persoalannya bukanlah aib atau bukan aib. Menutupi atau membuka. Tapi yang harus dilakukan adalah mengoreksi. Toh, selama ini gerak organisasi dakwah justru terhambat oleh org2 yang seperti itu. Mulai dari memanglingkan thariqah dakwah dan sejenisnya. Hmm.. sehingga saya akhirnya harus mengatakan kepada Nadisa bahwa Anda tak hanya cukup merasa harus “diam”. Bukan berarti sudah merasa cukup amar ma’ruf nahyi mungkar, lalu diam? Tidak, seharusnya Anda berpikir jauh. Bahkan seringkali harus melewati tembok penghalang di depan sana ketika orang lain baru berpikir di tanah tempat dia berpijak. Sementara seharusnya kita berpikir jauh ke depan.

    Dunia harus tahu. Umat harus belajar memahami persoalan. Ini memang akan menyakitkan. Tapi harus disampaikan. Perihal nantinya ada yang tahu lalu bersikap kritis atau cuek, bagi saya tak masalah. Seringkali bahkan pelajaran berharga harus dilakukan dengan keras dan menyakitkan. Mungkin, juga harus ada korban yang dikorbankan.

    Dari gaya Anda menulis, Nadisa sepertinya tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya. Sangat tidak mengetahui persoalan. Sangat disayangkan dan menyedihkan sekali cara berpikirnya. Maaf, jika analisis saya benar. Silakan baca ulang postingan saya baik-baik dan dengan hati yang tenang. Jika awalnya adalah keraguan dan sinis (apalagi ditambah kebencian), maka akan berakhir jg dengan keraguan dan kesinisan. Percayalah!

    Dalam tulisan itu, sudah sangat jelas apa yang harus dilakuan dan apa yang tidak perlu dilakukan. Ini bukanlah “provokasi” tanpa solusi.

    Saya mau bertanya pada pikiran dan perasaan Nadisa, sebenarnya apa yg Anda harapkan dengan ikut mengomentari tulisan ini dan menudingkan tuduhan kepada saya? Sebab, sekali lagi saya katakan, ini bukan fitnah. Tapi kenyataan!

    Salam,
    O. Solihin


  24. dina Senén, 7 Juli 2008 pukul 15:27 Badruzaman

    wasalamu’alaikum!

    Duh, akang ini berani sekali ya? Saya yakin jika tidak punya bukti, akang tidak akan menuliskan di sini. Terima kasih nanti akan saya print dan diskusikan dengan musyrif saya. Ini yang sedang saya pikirkan juga. Terima kasih jadi ada bahan untuk komplain ke musyrif :-)


  25. dina Senén, 7 Juli 2008 pukul 16:00 Abu Tsaur

    Saya akui Kang Oleh ini orangnya pintar dan cerdas, hanya saya sungguh sangat sedih, mengapa saya sulit memahami perilaku orang-orang cerdas ya…., apa karena memang saya yang bodoh atau ????

    Orang-orang cerdas seringnya kalau menghasut kok disebutnya kritik, perilaku culas kok disebutnya kritis, saya bener-bener bingung…apa ini memang karena saya yang bodoh…, padahal saya memahaminya, apa salahnya membeli gedung meski mahal harganya, toh tidak meminta uang kepada kita, mereka minta kepada anggotanya sendiri, kalau ada anggotanya tidak setuju, itu urusan internal mereka, buat apa kita ikut-ikut campur. Tentang membeli gedung, menurut saya membeli gedung hukumnya halal asal bukan ngemplang gedung orang lain, dan minta infaq dari anggotanya juga halal asal jangan menyuruh anggotanya untuk mencuri. Jadi kalau sebagai orang luar kita mengkritik menurut saya itu namanya menghasut, tapi bagi orang pintar kok namanya tetap kritik ya…

    Kalau seandainya menjadi pintar dan cerdas akan cenderung menjadikan saya orang-orang yang penghasut dan culas, maka saya lebih memimih yang seperti ini saja, biar tidak disebut cerdas asal saya bukan penghasut. Semoga bisa menjadi renungan buat diriku, syukur-syukur buat saudara-saudaraku yang lain.

    Mas Edi Handaga yang baik… (eh, bener gak namanya? Soalnya setahu saya yang saya kenal Abu Tsaur adalah Mas Edi Handaga), terima kasih atas komentarnya yang pedas tapi asyik ini. Untuk dinikmati sambil santap sore:-) Maaf bila salah tebak nama. :-)

    Saya tidak perlu pengakuan (yang tidak tulus) dari siapa pun, termasuk dari antum. Jadi, bersikaplah apa adanya saja. Mau marah silakan, mau benci setengah hidup juga monggo, mau menghujat dan mencaci maki juga mangga wae. Karena dengan begitu akan semakin jelas, siapa yang berkomentar berdasarkan hawa nafsu, dan siapa pula yang tetap berpegang teguh pada akal sehat dan tentu saja tuntunan syariat.

    Okelah, tolong pikirkan sajalah isi postingan saya di atas. Memang membeli gedung hak siapa pun. Tapi di balik hak itu tentu ada nilai-nilai lain yang harus dipikirkan. Misalnya, menunaikan ibadah haji asal dari uang yg halal silakan saja. Mau sekali, mau dua kali mau puluhan kali monggo saja. Tapi, apa iya ia tidak empati kepada saudaranya, tidak memperhatikan tetangganya? Hanya bisa menikmati ibadah mahal itu sendiri saja?

    Begitu pun dengan pembelian gedung yang mahal karena harganya miliaran rupiah, apa tidak memikirkan penderitaan para anggotanya? Apa tidak merasa risih dengan sebutan dari orang2 kelak: gedungnya aja yg dimewahin, nasib anggotanya nggak dipikirin! Apa kata Allah Swt. nanti ketika sang pemimpin dimintai tanggung jawabnya?

    Sebagai anggota antum juga harus sedikit saja berpikir kritis. Jangan ditelah mentah-mentah bahwa apa yang datangnya dari permimpin pasti benar. Salah Mas. Salah besar. Seharusnya antum berpikir kritis. Supaya tidak membusuk di dalam tubuh partai hanya sebagai penggembira dan pelengkap penderita.

    Saya tidak ingin para pengemban dakwah itu kerdil, hanya sekadar menasihati pemimpinnya. Hanya sekadar mengingatkan saja tidak berani apalagi mengoreksi. Subhanallah, semoga saja tidak lahir orang2 yang pengecut dalam dakwah. Dakwah ini keras dan membutuhkan pengorbanan. Lagipula, dakwah bukanlah untuk foya2 bin megah2an (example beli gedung yang mahal, apa tidak ada yang murah?).

    Saya doakan semoga antum tidak “ewuh pakewuh” untuk menasihati pemimpin antum. Terima kasih.

    Salam,
    O. Solihin


  26. dina Senén, 7 Juli 2008 pukul 16:19 surganeraka

    dari pembicaraan di atas saya akhirnya tahu bahwa yang sedang dibicarakan adalah HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Benarkah?

    ada isu apalagi di tubuh organisasi dakwah itu ya? saya merasa prihatin ternyata katanya tidak boleh ada pembicaraan di luar jalur, tapi ternyata malah berkomentar di jalur umum juga. Terurtama yang kontra dengan Pak Oleh.. jadi salah semua karena membicarakan di jalur umum…

    Tapi tidak mengapa Pak Oleh, berkat tulisan Anda, ternyata saya mengetahui karakter2 para aktifis HTI yang tidak mau jk dikritik. :-)

    peace peace..!


  27. dina Senén, 7 Juli 2008 pukul 16:27 bibilung

    Pak Oleh, masih kontroversial juga rupanya. :-)
    Kepada kawan2 yang kontra dengan pendapat Pak Oleh, diskusilah dengan baik-baik saja. Tidak perlu mengumbar emosi. Justru itu akan memberikan penilaian dari orang lain, bahwa Anda semua tdk tenang, Anda semua panik. Siapkan diri untuk diskusi dengan baik. Isinya menurutku biasa2 saja. Tidak ada yang istimewa. Mengapa harus berteriak-teriak diprotes? Atau.. mungkin karena aku bukan yang terlibat secara emosi di dalamnya? :-)


  28. dina Senén, 7 Juli 2008 pukul 16:32 Nisa

    Aku tahu arah pembicaraan teman2 di yang mengomentari isi postingan Kang Oleh, yakni mengarah kepada membicarakan kebijakan partai politik islam yakni HTI. Dugaan kuat saja. Karena faktanya sama dengan kenyataan yang aku alami saat ini. Aku termasuk yang tidak setuju dengan kebijakan pembelian gedung itu karena menurutku hanya bermegah-megahan saja.

    Terima kasih ada tulisan dari Kang Oleh. Nanti aku bawa dan diskusikan dengan musyrifahku. Mudah2an mau mengerti.


  29. dina Senén, 7 Juli 2008 pukul 18:01 Abu Tsaur

    Ini cara orang bodoh seperti saya, kalau saya menjadi bawahan dan saya punya bawahan.

    Apabila pimpinan saya melakukan kebijakan yang tidak bijaksana, maka saya akan kritik pimpinan yang tidak bijaksana itu, tetapi saya tetap akan melaksanakan dan memerintahkan kebijakan itu kepada bawahan saya seolah-olah kebijakan tersebut berasal dari saya.

    Dan apabila pimpinan saya memerintahkan terhadad sesuatu yang melanggar hukum syara’, maka saya akan nasehati dia, dan saya tidak akan menjalankan perintah yang melanggar hukum syara’ tersebut kepada bawahan saya, meski saya tidak memberitahu kepada semua orang mengapa saya tidak mau menjalankan perintah tersebut.

    Ini adalah cara orang bodoh seperti saya, saya tidak tahu bagaimana cara orang-orang pintar.

    Salam,
    Abu Tsaur

    Hmm.. berarti di situ masih ada ketidakberanian mengakui kebenaran yang kondisi yang sebenarnya. Wah, salut buat antum karena sudah menjadi “tameng” dan saya pikir cara itu tidak selamanya benar dan terkesan menutupi kenyataan yang sesungguhnya. Ini akan menjadi blunder karena niatnya ingin bijak malah jadi tidak bijak.

    Betul. Antum, saya, dan kita semua terlarang untuk melakukan perbuatan melanggar hukum syara meski itu diperintahkan oleh pemimpin jamaah. Tapi, bagi saya sikap penolakan kita tersebut harus juga diketahui bahkan bila perlu diberitahukan kepada bawahan saya supaya mereka juga belajar untuk tahu dan kecewa. Jangan ditutupi. Awalnya mungkin tidak akan terbuka, tapi lambat laun sangat boleh jadi akan terlihat dengan jelas. Dampaknya, akan semakin parah karena bawahan kita merasa dikhianati dan dibiarkan tidak kita beritahu masalah utamanya.

    Inilah yang saya pahami. Saya tidak tahu cara berpikir orang lain yang masih merasa harus khusnudzan terus dan terus meski sudah jelas tampak kerusakan di depan mata. Atau minimal, “keanehan” yang kerap terjadi.

    Salam,
    O. Solihin


  30. dina Salasa, 8 Juli 2008 pukul 09:36 nadisa

    yth saudaraku seiman

    Saya mohon maaf jika sekiranya menurut anda cara berfikir saya terlalu kerdil dan terlalu menyedihkan.

    Dengan cara berfikir yg menurut anda menyedihkan itulah justru akhirnya saya menyadari, bukan kebenaran yg anda cari dalam diskusi ini. Bukan berarti saya merasa sbg pihak yg memegang kebenaran, tidak demi Allah tidak seperti itu. Sebenarnya sudah cukup banyak saudara kita yang berargumen cerdas dan syar’i dalam forum ini. Tapi anda tetap tidak tersentuh. Semoga itu bukan karena mata hati anda sudah dibutakan oleh Allah SWT, saya do’akan tidak.

    Diskusi ini akan berakhir (anda akhiri) jika anda sudah cukup PUAS menciptakan kontroversi tanpa solusi. Ingatlah saudaraku, jika memang anda mencintai dakwah ini, mencintai jamaah ini, bantulah untuk memperbaikinya jika memang menurut anda ada yg salah secara SYAR’I. Bantulah dengan keikhlasan mengoreksi, memberi masukan cerdas, dan melalui jalur yg benar. Apa anda pernah mempertanyakan kenapa kritikan anda tidak pernah ditanggapi? Instrospeksilah saudaraku.

    Tujuan saya ikut berkomentar dalam diskusi ini karena saya ingin menjalankan kewajiban saya sebagai seorang muslim yang mencintai saudaranya seiman. Saya ingin mengingatkan anda bahwa cara yang anda tempuh adalah salah. Mungkin penyampaian saya sedikit kasar dan cenderung emosi, mohon maaf jika anda terdzolimi dgn penyampaian saya. Bagaimana pun saya hanyalah seorang manusia yg bisa khilaf. Mohon maaf sekali lagi.

    Terimakasih karena anda sudah sudi menanggapi komentar saya. Berarti anda masih peduli dengan masukan dari saudara seiman. Menerima atau tidak, kembali lagi kepada anda sendiri. Sebagai seorang muslim saya sudah menunaikan kewajiban saya. Saya tidak akan berpanjang lebar lagi mengomentari tulisan anda. Untuk itu saya mohon diri. Semoga saat anda menyadari kekhilafan anda, belum terlambat untuk memperbaikinya.

    Ingatlah saudaraku seiman, ketika sebongkah hati manusia merasa paling benar, sesungguhnya dia tidak akan pernah bertemu dengan kebenaran itu sendiri.

    Dari saudaramu di bumi Allah.

    salam hormat juga dari saudaramu. Terima kasih.
    Saya akhirnya menyadari, ternyata masih banyak orang yang tidak mau menerima kenyataan pahit. Saya pun akhirnya merasakan bahwa tidak semua orang mudah menerima kenyataan meski kenyataan tersebut sudah berada di ujung hidungnya. Pada akhirnya saya juga merasa bahwa masih banyak di antara kita yang lebih merasa harus menghindari konflik. Padahal, selama hidup kita akan bersentuhan dengan konflik. Konflik itu tidak selamanya jelek. Bahkan konflik sebenarnya bisa menciptakan suasana lain yang bisa dilihat dari sudut pandang lain pula. Itulah makna konflik. Kadang, kita merasa bahwa kita selalu benar. Saya sendiri insya Allah tidak merasa paling benar, hanya sekadar menyampaikan kebenaran. Sebuah kenyataan yang, suka atau tidak, memang harus ditelan dan dikunyah, untuk kemudian dirasakan. Jika tidak suka jangan langsung dimuntahkan, jika suka pun jangan langsung ditelan. Pikirkan baik-baik, ambil hikmahnya dan cari jalan keluarnya.

    Saya merasa terharu ketika banyak orang seperti Anda yang mau mengingatkan saya. Terima kasih atas nasihatnya. Insya Allah tidak akan saya lupakan. Kasar atau lembut sebuah nasihat insya Allah saya terima. Toh, memang tidak semua orang bisa benar. Saya akui itu. Itu sebabnya, saya juga merasa harus mengingatkan banyak orang agar mereka tahu bahwa ada persoalan penting yang harus mereka hadapi dan pecahkan. Ketika memberi nasihat pun, saya gunakan jalur yang lembut sampai yang kasar. Sebab, ternyata–dan ini yang menyedihkan–tidak semua orang bisa sadar meski dinasihati dengan kasar. Apalagi jika ia punya kuasa, punya wewenang di sebuah jamaah dakwah. Tadinya saya berpikir bahwa ada orang yang memang harus diingatkan dengan kasar. Tapi, ternyata tetap bebal. Bahkan mereka yang menasihatinya harus menerima hukuman. Padahal itu dilakukan pada jalur yang benar yang disepakati bersama oleh pengurus jamaah. Ini sungguh aneh tapi nyata. Akhirnya saya interospeksi, berarti memang bebalnya minta ampun, bahkan setelah saya koreksi dengan terangan2an sekalipun tetap “ngeyel”. :-) Jadi interospeksilah saudaraku… silakan renungkan kenyataan ini.

    Terima kasih atas masukan Anda dalam komentar2 yang telah Anda tulis untuk menanggapi isi tulisan saya. Berarti masih peduli. Nah, sekarang, tolonglah kepedulian Anda kepada jamaah Anda juga ditunjukkan dengan bersikap “menelaah” dan bila perlu memberikan tekanan. Janganlah sikap kritis Anda hanya kepada orang yang berseberangan dengan Anda saja dalam cara pandang dan dari kalangan bukan pengurus jamaah. Tapi kepada orang yang Anda anggap pemimpin dan pengurus jamaah, Anda hanya mampu diam tak bisa berkutik apa-apa. Semoga saja tidak demikian.

    Ingatlah saudaraku, ketika hawa nafsu sudah menjadi panglima, ketika ketakutan sudah meraja, kita tidak akan pernah menemukan keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Seorang pemimpin bukanlah orang suci, pengurus jamaah dakwah bukanlah orang2 yang terbebas dari hawa nafsu, janganlah kita menyerah untuk menasihatinya. Bila perlu dengan cara yang kasar sekali pun.

    Ketahuilah, bahwa saat ini, dalam jamaah yang Anda maksud, jika para pemimpinnya tidak segera interospeksi, akan menghancurkan jamaah dakwah ini. Sebelum terlambat, nasihatilah mereka. Saya tahu Anda masih setia kepada jamaah dakwah ini. Tunjukkan kesetiaan itu dengan keberanian mengoreksi pengurus jamaah dakwah ini. Jika ingin bantuan, insya Allah saya dan kawan-kawan siap menyuplai data-data berkaitan dengan penyimpangan yang selama ini terjadi. Terima kasih saudaraku telah memberikan inspirasi bagi saya dalam diskusi ini.

    Salam,
    O. Solihin


  31. dina Salasa, 8 Juli 2008 pukul 11:54 Kumpay

    ok lah kang oleh gmn klo kita adain forum dan bahas masalah ini?,ane hny mengkaji bukan follower meskipun pemikirannya tetap sama,karena teman ane byk yg menjadi follower saja tidak open minded mana yg harus diikuti dan mana yg harus ditinggal.

    salam dr mantan darish dibgr :)
    promo blog ah didieu http://kumpay87.blogspot.com/

    hmmm pasti nyangka saya org kalimantan klo diliat dr IP :) ,hehhehehhe ip dpt menipu kang pake software ip spy aja ud bs berubah.

    salam kenal untuk darish dan mantan darish seluruh dunia :)


  32. dina Salasa, 8 Juli 2008 pukul 18:03 Ibnu Sulthan

    Sebagai daris, menurut saya tulisan Kang Oleh benar. Karena saya sendiri mendapati dan merasakan kondisi yang terjadi.

    Untuk Kumpay, yang mantan darish.. janganlah terus terbuang. Tapi lakukan perjuangan Islam di mana pun.. :-)

    Untuk Kang Oleh, saya punya komentar khusus untuk akang: ada sisi postif dan negatif membicarakan masalah intern jamah di forum umum spt itu.

    Positif: supaya pengurus bisa interospeksi. Karena selama ini suara-suara dari bawah memang sulit sekali mengingatkan pengurus, di tingkat mahaliyah saja. Musyrif saya saja susah sekali diingatkan dan suka ngeles. saya pikir hanya halaqah saya, ternyata banyak halaqah. Bagaimana bisa???

    Jadi ini langkah yang cukup baik untuk menggedor perasaan para pengurus. Ya, ibarat Pak Inu Kencana Pak! :-)

    Negatif: Masalah ini jadi diketahui banyak orang luar. Tapi ada baiknya karena mereka jadi bisa lebih obyektif menilai. :-)

    Salam dari saya,
    seorang daris yang bernama Ibnu Sulthan…..


  33. dina Salasa, 8 Juli 2008 pukul 19:10 Aisha

    wasalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuhu

    Salam untuk Kang O. Solihin dan semua yang sudah memberi komentar atas artikel ini.

    Komentar saya singkat saja:
    “Jangan terpancing untuk berkomentar di jalur umum spt blog ini. Jika menurut peraturan jamaah dakwah yang kontra dengan tulisan Kang O.Solihin, seharusnya tidak usah berkomentar dan menunjukkan ketidak-sukaan. Sebab, semakin menunjukkan bahwa semua telah salah dan menyalahi prosedur. Sebaiknya tidak berkomentar. Itu lebih baik.”

    Pesan untuk Kang O. Solihin: “Sebaiknya Anda hati-hati dalam menulis komentar tentang jamaah dakwah yang Anda maksud, karena kawan yang tadinya baik pun bisa menjadi musuh besar Anda!”

    _Aisha_

    Salam juga Aisha. Terima kasih atas pesan dan sarannya. Dan, itulah yang memang saat ini saya rasakan. :-) Ternyata menjadi “berbeda” itu butuh risiko dan semoga saja bisa membekas bagi yang lain. Saya tidak perlu dikenang sebagai nama, tapi barangkali saja menjadi inspirasi yang terus mengalir dalam pikir dan rasa siapa pun. Terima kasih.
    Salam,
    O. Solihin


  34. dina Salasa, 8 Juli 2008 pukul 19:15 Muslim Asep

    Belum selesai juga diskusinya? Atau tdk akan pernah selesai utk mencari solusi?

    Ayolah berbaik-baikkan saja dalam dakwah. Yang mengkritisi juga harus ikhlas dan yang dikritisi jg wajib ikhlas.

    Kadang mungkin inilah jalan yang harus ditempuh agar kita menjadi lebih dewasa. Karena berani hidup adalah berani menghadapi persoalan hidup…

    Muslim ti Bandung

    Muslim ti Bandung.. :-) diskusi ini selesai tidak selesai biasanya tergantung yang mau bahas. Selama masih mau berdiskusi saya sendiri ayo aja. :-) kalo udah nggak ada ya mau gimana lagi. Toh kalo saya sendiri insya Allah siap melayani aja.
    Muslim, dalam hidup manusia pasti berkonflik. Jadi tak usah panik. Hadapi saja, rasakan, dan nikmati sambil mencari jalan keluar.
    Salam,
    O. Solihin


  35. dina Rebo, 9 Juli 2008 pukul 08:39 Abu Tsaur

    Antum bicara tentang peanggaran hukum syara’, tapi antum sendiri sesungguhnya telah melanggar hukum syara’, antum bicara telah mengingatkan, mengkritik, menasehati, tapi tidak didengar, tidak digubris, bahkan disembunyikan kritikan antum, padahal antum juga melakukan yang sama, saat kritikan, nasehat datang kepada, antum tidak sedikitpun mempertimbangkannya bahkan dengan congkaknya antum merasa mempunyai seribu dalil untuk melakukan pelanggaran terhadap hukum syara’. Terhadap postingan saya saja, antum juga sudah tidak jujur, mengapa postingan saya tidak antum publis semua, apakah ini juga bukan bentuk menyembunyikan fakta dan kebenaan.

    Mohon kalau antum benar-benar jujur, direnungkanlah kembali, sudah benarkah dan sesuaikah dengan hukum syara’ yang antum lakukan itu.

    Salam,
    Abu Tsaur

    Ok, terima kasih atas masukan dari antum. Sebenarnya definisinya apa sih melanggar hukum syara itu? Antum melihat saya congkak? Ukurannya apa? Apakah sikap ‘berbeda’ diangap congkak? Apakah sikap berseberangan dianggap melanggar hukum syara? Ukuran mempertimbangkan itu seperti apa? Apakah ketidakpuasan dan terus berdalil merupakan dari penolakan? Hmm… tidak kawan. Antum belum mengerti persoalan yang sesungguhnya. Sungguh antum belum mengerti persoalan yang sebenarnya.

    Terhadap postingan antum? Oya, saya akui bahwa sebagai manusia saya punya keterbatasan, satu pesan dari antum itu terhapus saat saya sedang mendelet beberapa pesan lain. Jadi intinya tak sengaja terhapus. Jadi, tolong jangan menuduh saya tidak jujur. [Janganlah 'kebencian' kepada suatu kaum membuatmu tidak adil]. Apalagi antum tidak tahu masalah sebenarnya. Iya kan? So, janganlah menuduh bergitu rupa terhadap diriku ini. Kalo seandainya pesan itu bisa saya undo boleh juga saya publish lagi di sini. Tak masalah. Atau jika mau, silakan tulis kembali di sini, bagian yang terhapus itu. Antum pasti masih ingat kan? Oke. saya tunggu.

    Mohon kalau antum benar-benar jujur, renungkanlah kembali keberadaan antum di tubuh jamaah dakwah antum. Sudah sesuai hukum syara’ kah ketika hanya merasa duduk manis dan tak mencoba merenungkan informasi dari saya ini, meski isinya menyakitkan? Tidakkah kemudian tergerak untuk mencari tahu lebih jauh jika benar2 ingin mencari kebenaran? Tidakkah antum tergerak untuk mencari tahu lebih jauh kepada saya? Bisa kita japri saja. Gimana? Daripada antum teriak2 juga di tempat umum yang sudah antum vonis bahwa yg saya lakukan adalah melanggar hukum syara’? Ketahuilah, berbarengan dengan itu, ketika antum ikut komentar berarti sama saja dengan melibatkan pembicaraan di tempat umum. Betul?

    Sedikit pesan saja dari saya: Memang ada perbedaan yang sangat jauh antara yang sudah merasakan dengan yang belum merasakan, apalagi yang tidak mau merasakan. :-)

    Salam,
    O. Solihin


  36. dina Rebo, 9 Juli 2008 pukul 18:58 Hexxer

    Yah harap maklum aja kang, ni orang yang pada kontra mah gak ngerti, karena mereka gak pernah nemu kondisi spt kita, ato mereka dah buta n tuli dengan kondisi sekitar karena dah kejebak ma taklid buta.
    Kalo dah gaul ma yg didalem n diatas tar baru tau ndiri gimana rese-nya mereka, dulu masih mau tidur dibawah pake karpet rame2 sekarang mah boro2, paling nggak kamar hotel kudu ada plus makan mahal (karena makan dihotel). Ni bukan omong kosong dan suu dzan tapi ampe sekarang saya masih jalanin n juga masih liat dengan mata kepala sendiri.
    Kalo dulu pada doyan makanan pinggir jalan yang murah meriah sekarang abis acara (dihotel lagi) pada “lunch” juga disana, emang gak ada tempat lain????
    Yah mikir aja deh kalo kita punya orang tua dikampung susah trus kita beli rumah 4,5 milyar kira2 mereka gimana?pasti seneng lah tapi apa ni perbuatan bijaksana?dimana rasa empati n penghormatan kita?Yah kita kan bisa beli rumah lebih murah sisanya kasih ke orang tua kita. Hal ni juga yang kayaknya perlu dilakukan oleh organisasi ini, wong anggotanya lagi pada suseh ya beli yang sderhana aja sisanya tuk bantu anggota yang susah.
    Beli gedung gede sama aja anda beli makanan banyak tapi gak bisa ngabisin, boleh bin hala tapi mubadzir, karena saya liat sendiri markas mereka baik dari mulai rumahan ampe ruko and gedung cuma jadi tempat kumuh aja, yang sumpek and kotor. Gak percaya???? Dateng ndiri

    Hehehe. insya Allah saya sudah memaklumi kondisi temen2 yang tidak terlibat langsung dalam lingkaran tersebut. Beruntung kita bisa selamat karena jadi tukang “kompor” dan membuat mereka kebakaran pikiran dan perasaannya sehingga merasa harus menyingkirkan duri. Tak apalah, jabatan tak penting jika harus mengakui atau mendiamkan kebejatan yang dipertontonkan tersebut. :-) (saya pikir kita sudah tahu sama tahu soal itu kan?) :p

    Semoga saja ada yang sadar dan tidak taklid buta. Biarlah track record saya kian gelap dan pekat, asal ada yang mau mulai sadar dengan kondisi ini. Minimal ada yang mau bertanya langsung ke saya deh. Kopdar juga boleh. Dan, setelah informasi dari saya ini, silakan amar ma’ruf nahyi mungkar dengan cara yang menurut mereka tidak melanggar hukum syara’. Tapi kalo sudah menutup berbagi informasi yang berseberangan, ya sudah, selama itu pula tidak akan bisa berubah dan menjadi lebih baik. Tul nggak kawan? :-)

    Salam,
    O. Solihin

    Salam,
    O. Solihin


  37. dina Rebo, 9 Juli 2008 pukul 22:31 Zain Rahman

    Assalammualaikum wr wb
    Apa kabarnya kang Oleh ??? Semoga Allah SWT selalu menanungimu beserta keluargamu dlaam limpahan rahmat dan karunia-Nya.
    Beberapa sebelum ramai di comment ini, cerita ini sempat bikin gue aneh,gumam, takjub dan nggak tahu seperti apa yang terjadi.
    Memang kalau dipikirkan dana yang digelontorkan untuk membeli gedung seharga Rp 5 M itu cukup besar. YUps, tapi sekali lagi pembagi rataan dana itu tidak dipaksakan. Itu yang saya rasakan, tidak ada paksaan harus segitu. Yups, menjadi provokator itu penting(Kompor, maksudnya gituuu), tapi menurut saya amsalah ini bukanlah urusan ummat yang patut di besar-besarkan. Malahan dengan adanya hal ini, ustadz malah akan membuat suatu organisais dakwah itu dan yang lainnya akan saling hina, ejek dan mencari keburukan satu yang lainnya. PAdahal maslaah bangsa saat ini harusnya diangkat dan diskusikan bagaimana permasalahannya. Seperti Kasus Ahmadiyah yang nggak jadi dibubarkan, atawa kasus Kenaikan BBM.

    Saya rasa tidak bisa menyamakan kritikan dengan provokator, kritik adalah kritik, kalau kemudian orang yang membaca kritik setuju dengan kritik tersebut, jangan disalahkan yang membuat kritik, karena setuju atau tidaknya orang terhadap suatu kritik adalah keputusan pribadi pembaca kritik sendiri, bukan keputusan pembuat kritik!

    Soal memanfaatkan kritik ini untuk menghina suatu organisasi, saya kira itu bukan suatu hal yang pasti, hanya sampai pada drajat kemungkinan saja, jadi ya tidak perlu terlalu risau (paranoid) karena kalau di kritik ya dijawab saja, simple kan?

    Saya kira permasalahan bangsa ini cukup jelas, adalah tidak diterapkan-nya syariah dan tidak adanya khilafah, harusnya orientasi ini yang dikedepankan bukan kasus ahmadiayah dll.

    Abu Fikri

    Ustadz, saya harap memang kita perlu kritis, dan jangasn lantas kekritisan itu mampu memecah suaut golongan dan ini akan membuat amrik akan tersenyum…. katanya “he…he…he… akhirnya kita menang Bro…” padahal kan kemenangan dan fajar shidiq itu kian dekat, namun bila ustadz Oleh bangga akan kompor mengompori ini maka pada hakikatnya bukan mencari kebenaran tetapi mencari hawa nafsu. Seharusnya, ustadz membuat opini bagaimana baiknya karena saya rasa menyewa pun tidak selamanya murah orang harga kost-kostan aja anik berkali-kali.
    Semoga kita dapat mengoreksi tentang kebenaran dan kebaikan dan bersama-sama bersatu menegakkan dinul islam yang mulia ini.
    Hamba yang lemah

    Zain Rahman

    Saya rasa menyewa gedung dengan membeli gedung tentu jauh lebih murah menyewa gedung, memiliki gedung, dituntut untuk membayar PBB, maintenance gedung dll, tentunya tidaklah murah, kalau mau komparasi perbandingan antara menyewa dan membeli, saya masih yakin menyewa lebih murah daripada membeli gedung, tentunya perbandingannya adalah 2 gedung yang sama dan layak untuk di perbandingkan.

    Abu Fikri


  38. dina Kemis, 10 Juli 2008 pukul 07:41 elwatsiq

    assalamu’alaikum wr wb

    saudaraku, ada beberapa hal yang ingin a sampaikan:
    1. alangkah baiknya jika saudara mencari kejelasan dulu tentang tujuan pengumpulan uang tersebut dan apa saja alasannya, sebelum kemudian mengkritisi.
    2. alangkah baiknya jika kita saling percaya antara sesama muslim selama tidak tampak oleh kita kemungkaran.
    3. tidak ada tabdzir dalam hal dakwah dan jihad.
    4. suasana hati serupa juga pernah dialami kaum muslimin saat persiapan perang ahzaab/perang khondaq. uslub perang dengan menggali parit mengelilingi kota madinah sangatlah menguras tenaga dan harta. akan tetapi mereka tidak kemudian saling menghembuskan issue agar tidak menggali parit saja. mereka kemudian sadar bahwa itu adalah uslub yang sebenarnya masih banyak uslub lain, dan mereka lebih sadar bahwa apapun yang diusahakan untuk jihad/dakwah (semahal apapun) bukanlah perhitungan, tapi niat ikhlash dan kesesuaian dengan tuntutan Rosulullaah SAW, demikianlah parameter seorang muslim.
    terimakasih atensinya
    wassalamu’alaikum wr wb

    saudaramu seakidah
    elwatsiq bil-haqq


  39. dina Kemis, 10 Juli 2008 pukul 09:46 Abu Tsaur

    Kang Oleh yang pintar dan cerdas, pelanggaran hukum syara yang saya maksud adalah tulisan antum yang sekarang ini, bukan masalah antum yang lalu-lalu, karena saya tidak sedang bicara masalah itu. Antum bicara kritik, tapi benarkan itu sebuah kritik, apakah tidak lebih tepat dikatakan sebagai menghasut, atau bahkan fitnah.

    Kalau antum mengakui membeli gedung adalah halal, dan meminta infaq juga adalah halal, dan ini masalah internal, tapi antum ikut campur bahkan mempertanyakan apa perlunya beli gedung, dan diobral dipublik apakah ini bukan bentuk penghasutan, menghasut saudaranya itu termasuk melanggar hukum syara atau tidak?

    Apalagi antum juga menuduh dengan berbagai tuduhan, mulai dari ingin sekedar bermewah-mewahan, tidak mikirin anggotanya, jangan-jangan kasih infaqnya karena tertekan, jangan-jangan seperti NII, jangan-jangan kalau kurang pinjam bank syariah, dsb. Semua yang antum tulis tersebut adalah persangkaan yang bukan hanya tidak pantas bahkan bisa dikatakan melanggar hukum syara, karena bisa termasuk fitnah, apalagi informasi yang antum dapat saja juga tidak benar, antum sebut harga gedungnya saja salah, apalagi tentang kegunaan gedung dan mekanisme pembeliannya.

    Seandainya antum mau beli motor, atau mobil, lantas tetangga antum bilang-bilang ke para tetangga, dengan mengatakan “sok gaya beli-beli mobil segala, gak mikir apa kalau disini pada kesusahan, jangan-jangan uangnya dari korupsi, jangan-jangan uangnya dari malakin orang, jangan-jangan uangnya dari nipu, dsb”. kira-kira dibenarkan ga oleh syara perbuatan orang tersebut meski dia punya alasan, dan kira-kira sama ga perbuatan orang tersebut dengan yang antum lakukan.

    Inilah yang saya mohonkan untuk dipertimbangkan, dan difikirkan dengan jujur, sudah sesuaikan tindakan kita dengan hukum syara, tapi semuanya kembali kepada antum, dan saya sebenarnya sangat sedih melihat kenyataan ini, mengapa antum selalu ambil kesimpulan bahwa apa yang saya lakukan ini adalah bentuk kebencian dan nafsu, padahal saya sebenarnya hanya ingin mengingatkan sebagai saudara, bahwa cara antum tersebut tidak benar.

    Salam,
    Abu Tsaur

    Dari komentar2 antum, sebenernya kebanyakan lebih menyerang kang Oleh sebagai pribadi, daripada kritikan yang beliau sampaikan, saya rasa ini mengarah pada diskusi yang tidak sehat.

    Dalam diskusi ini yang perlu dijawab adalah kritikan kang Oleh, bukan membelokkan pada masalah meluruskan niat dan latar belakang dari kritikan tersebut. Bila kritikan tersebut dijawab, sebenernya selesai masalahnya.

    Bila antum fokus, sebenernya kritikan tersebut bisa dijawab dengan mudah, tanpa perlu melebar kemana2. Seperti prinsip dan norma yang dikemukakan oleh amirul mukminin Ali bin Abu Tholib:

    perhatikanlah apa yang dikatakan dan janganlah kau perhatikan siapa yang mengatakan

    Dalam pepatah ingris-pun dikenal istilah:
    Look at the light not at the Lantern

    Abu Fikri


  40. dina Kemis, 10 Juli 2008 pukul 10:15 Abu Tsaur

    Sebenarnya saya lebih senang tulisan saya tersebut tidak di publish di sini, dan kalau antum pengen jawab, jawablah lewat japri. Syukran.

    Salam,
    Abu Tsaur

    Tapi antum sudah memulainya terlebih dahulu dengan mengirim komentar ke forum. Padahal, alamat e-mail saya tertera dengan jelas di header blog ini.

    salam,
    O. Solihin


  41. dina Kemis, 10 Juli 2008 pukul 10:54 permana

    ustadz sayahanya ingin memberikan nasehat kepada anda, karena agama itu adalah nasehat. dalam kitab subulussalam rosulullah saw bersabda dalam sebuah hadits shahih: ” iyakum wal hasada fainnal hasada takulul hasanaat kama takulunnar ‘ala hatob ” aw kama Qol. yang artinya berhati2lah engkau terhadap hasud karena hasuh itu memekan(menghilangkan) kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Kebaikan kebaikan anda akan hilang selama sifat hasud ada pada diri anda. Segera hentikan ! Bertobatlah kepada Allah! Hilangkan kebencian pada diri anada kepada sesama muslim pejuang syariah. wassalam dari saudaramu yang peduli akan nasibmu.

    Terima kasih atas nasihatnya. Semoga Allah memberkahi kita semua. Hanya saja masalahnya, mengapa antum menghubungkan postingan ini dengan nasihat itu? Mengapa antum juga seolah “memvonis” saya bahwa saya telah menghasut. Darimana buktinya? Ketahuilah, bahwa apa yang saya tulis itu insya Allah sudah saya cek kebenarannya.

    Jadi, sekarang tak perlu mengalihkan perhatian dengan menuduh saya secara pribadi. Lihat, baca, simak isi postingan, dan komentari tulisan tersebut sesuka antum. Selesai. Terima kasih.

    Salam dari saya yuang peduli juga tehadap nasibmu (jangan sampe menjadi taklid dan buta-tuli terhadap informasi yang sebenarnya terjadi),
    O. Solihin


  42. dina Kemis, 10 Juli 2008 pukul 17:52 abu fikri

    Saya akan mengkomentari secara umum saja:

    Kalo banyak yang pada marah dgn tulisan kang oleh ini, jelas menjadi bukti bahwa fakta yang disampaikan dari tulisan kang oleh ini benar adanya, karena bila fakta yang disampaikan tidak sesuai, tidak ada keperluan sama sekali untuk marah2.

    Menurut pendapat saya juga tidak tepat bila meng-analogikan pengorbanan dakwah para sohabat dengan pengorbanan yang kita lakukan saat ini, kenapa?

    Pada saat itu para sohabat berkorban demi Nabi yang sudah pasti terjaga kebenaran prilaku dan keputusan-nya, dan sekaligus kholifah, nah yang saat ini terjadi nabi bukan? atau kholifah? bila bukan, tidak ada kewajiban untuk mengikutinya dan sah-sah saja mempertanyakan atau mengkritisinya.

    Sumber hukum dalam islam ada 3: Al quran, as Sunnah dan Ijma Sohabat, pendapat seorang kholifah bisa menjadi sumber hukum, tapi ada syaratnya, jadi kholifah dulu, baru kemudian pendapatnya bisa dijadikan sumber hukum. Tidak bisa kemudian seorang pimpinan organisasi mengklaim anak buahnya ‘melanggar hukum syara’ ketika melanggar aturan yang dia bikin sendiri.

    Seharusnya, Pelanggaran terhadap aturan organisasi hukumannya pun dalam domain organisasi, bukan bukan hukum sara, jangan men-campur adukkan hukuman organisasi dengan hukuman syara kecuali, pimpinan organisasi tersebut adalah kholifah.

    Pendapat saya masih sama, bagi yang mampu dan redo ya silahkan saja, bagi yang mampu tapi tdk redo ya tidak perlu nyumbang, karena balasan amal perbuatan adalah dari keikhlasan kita, bagi yang tidak mampu, ya sudah wong tidak mampu mau apa lagi? Dakwah dalam islam tidak memberatkan bahkan mudah.

    Saran saya, kalo tidak mampu beli gedung yang megah dan re-presentatif ya sudah, kenapa harus memberatkan semua anggota? kenapa tidak dicari saja opsi yang lebih realistis?

    apakah dakwah akan berhenti bila gedung tersebut tidak kebeli? Tentu tidak! Lha terus kenapa harus maksain diri beli gedung?


  43. dina Jumaah, 11 Juli 2008 pukul 08:29 Abu Dzar Al Addur

    Assalam, Kang oleh apa kabar kyy semakin sakit hati aja nih….sungguh senang melihat komentar dari temen2 yang pro kang oleh..kyy smua berfikir tapi g berlandaskan iman dan Islam,heeee.. seseuangguhy jika kang oleh berbicara seperti ini. akan menjauhkan kang Oleh dari Islam. Lucunya kang oleh di bawa oleh dendam dan kemunafikan. keng Oleh sekarang ga dah g tahu lagi tentang dalemnya organisasi Islam ini tp mau berkomentar..yang jelas ini urusan internal organisasi tersebut. Afwan, bahasanya terlalu buruh karena saya pengangguran yang ikhlas jiwa dan raga saya untuk Islam. bkn untuk mencela Islam atau organisasi tersebut. Kang Oleh mudah2an keluarga kang oleh tidak ikut merasuk ke dalam dendam kang oleh………………….Allahualam bi Assawab. Kang oleh sekarang berjamaah dgn siapa? harusnya kang Oleh buat partai / organisasi sendiri…” tapi g Mampu yah “..apa masih merasa organisasi yang diomongin yang paling benar? Wassalam.
    Semoga Allah Membukakan hati kang Oleh..Amin

    Masih sama dengan abu Tsaur, komentar ini juga membelokkan esensi diskusi, dengan menyerang pribadi Kang Oleh, dari pada menjawab atau mendiskusikan esensi kritik kang Oleh

    Abu Fikri

    ‘alaikumussalam wr wb. Abu Dzar di Bogor (setidaknya sesuai dengan IP Address-nya–meskipun kata Kumpay bisa ditipeng ya alamat IP tsb? Hehehe..) Alhamdulillah, kabar baik. Semoga Allah Swt. tidak menghinakan kita gara-gara kita malas berbuat baik atau tidak mau menyampaikan kebenaran Islam. Hmm… tuduhan antum bahwa saya sakit hati sudah sangat salah. Memangnya kalo kritik itu gara2 sakit hati? Emangnya semua orang yang berpikiran beda dengan jamaah antum itu dianggap telah “gila” :p Aduh, sangat cemen banget cara berpikirnya. Saya malah khawatir saat ini sedang berlangsung “pembodohan massal” yang dilakukan pengurus jamaah dakwah antum sehingga hasilnya adalah: taklid buta. Saya tidak menuduh sembarangan, tapi sekadar analisis saja dari pengalaman yang saya dapatkan selama ini. Lagipula, daleman organisasi itu insya Allah tetap saya tahu kok, karena tak semua aktivisnya itu jumud. Mereka bahkan memberikan informasinya secara cuma-cuma. Aktivitas saya mungkin bisa dibungkam dalam tubuh jamaah dakwah itu, tapi pikiran saya tetap bebas dan bisa berkeliaran sambil membawa pisau bedah untuk meluruskan kondisi yang ada.

    Oya, terserah saya tentunya mau berjamaah di organisasi dakwah manapun. Tapi satu hal yang perlu diketahui bahwa tak selamanya orang yang diam (dan pura2 mendukung serta taat) di dalam organisasi dakwah itu adalah pembela organisasi dakwah tersebut. Tidak. SANGAT BOLEH JADI dIA ADALAH MESIN PENGHANCUR jamaah dakwah itu sendiri. Ketika ia hanya mampu diam, takut dan khawatir dikucilkan oleh pengurus jamaahnya ketika mengkritik kebijakan mereka, ditambah sikap antikritik dari jamaah dakwah lain, termasuk antikritik dari kawan2nya sendiri. Ya, ini justru yang melemahkan jamaah dakwah tsb.

    Ketahuilah bahwa, sikap antum yang tercermin dalam tulisan antum ini kain meneguhkan anggapan bahwa jamaah dakwah antum memang bermasalah, khususnya karena tak sanggup membina pribadi yang berani dalam menyampaikan kebenaran, malah menghasilkan pemikir yang sebenarnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Ini kian membuka borok2 itu. Kasihan benar dirimu…. semoga Allah Swt. membukakan selubung taklid buta dan kebodohan yang bersemayam dengan tenang di pikiranmu. Amin.

    Ya, terpaksa saya ikutan mengkritik jaan pikiranmu yang memang patut diluruskan. Silakan kembali berargumen terhadap tulisan saya, bukan terhadap diri saya. Tentu, jika antum orang yang mau menghilangkan tabir kejumudan yang ada di pikiran dan perasaanmu.

    Salam,
    O. Solihin


  44. dina Jumaah, 11 Juli 2008 pukul 09:29 Abu Ahmad

    Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

    Saudaraku semuanya…
    Baik yang pro dan kontra dengan tulisan Kang Oleh.. ada baiknya kita menanyakan terlebih dahulu kepada Kang Oleh, dan mohon dijawab dengan jujur ya Kang..

    Apakah Kang Oleh masih termasuk bagian dari jamaah dakwah tersebut?

    Sebab, jika sudah diluar jamaah dakwah tersebut, sebetulnya tidak perlu kita mempertanyakan mengapa Kang Oleh menulis artikel seperti ini? Anggap saja hal itu adalah kritikan kepada seseorang atau jamaah dakwah tsb. Sebagaimana halnya kritikan kepada jamaah lainnya.

    Anggota jamaah yang mendapat “serangan” dari Kang Oleh sebaiknya tidak menuduh dengan sebutan tertentu kepada Kang Oleh. Ingatkan saja dengan meminta dia menanyakan langsung kepada Anda atau pengurus jamaah Anda.

    Jika Kang Oleh masih di dalam jamaah tersebut, memang menurut aturan jamaah tersebut apa yang dilakukan Kang Oleh salah. Tapi membaca komentar2 dari Kang Oleh kelihatannya meyakinkan sekali, benarkah Kang bahwa telah terjadi pelanggaran besar2an oleh para pengurus jamaah dakwah yang Kang Oleh maksud?

    Salam damai!

    ‘alaikumussalam wr wb, Abu Ahmad.
    Sebenarnya lucu juga sih. Saya ini dianggap membangkang hanya gara2 sering kritik. Tapi mereka melupakan “ketaatan” saya dalam melaksanakan tugas lainnya. Intinya, ketika berbeda dengan kebijakan atau mempertanyakan kebijakan akan dianggap melawan. Bahkan lucunya, sampe sekarang, tak jelas saya di posisi mana: di dalam atau di luar jamaah dakwah tersebut :-) (tapi anehnya, dari banyak sms dan e-mail yang masuk ke saya dari teman2 di daerah, semuanya menanyakan mengapa saya keluar dari jamaah dakwah tsb. Saya jawab bahwa: “saya tak pernah merasa keluar dan tak pernah merasa dikeluarkan” (mereka kaget dan bingung) :p

    Sebabnya apa? karena sy tak pernah membuat surat pengunduran diri, juga tak pernah mendapat surat pemecatan.. :-) Aneh bin ajaib.

    Okelah, itu sekilas tentang kondisi saya Abu Ahmad, kalo mau lebih detil, boleh aja kirim e-mail aja ke saya langsung, kita akan “buka-bukaan” lebih lanjut :-)

    Salam,
    O. Solihin


  45. dina Jumaah, 11 Juli 2008 pukul 09:35 Abu Dzar (saja)

    Untuk Abu Dzar Al Addur:..

    Ternyata, tidak pernyataanmu tidaklah mencerminkan namamu. Kamu menuduh Ustad Oleh Solihin membawa dendam dan munafik?

    Tahan dulu tulisanmu saudaraku. Sehingga tidak berbalik kepada dirimu ucapanmu itu jk tidak terbukti.

    Tidakkah bisa dilakukan dialog yang argumentatif?
    Kasihan umat Islam ini….


  46. dina Jumaah, 11 Juli 2008 pukul 11:59 tukang tidur

    yang saya pikirin, gmn orang2 yang di daerah ya? mereka juga di suruh patungan 300rb (kurang juga boleh sih), tapi kalo mereka ingin mengadakan acara di daerah mereka, tetep aja mereka nyewa gedung juga (padahal mereka udah patungan, tp kan gedungnya di Jakarta). Hiks…

    Kang Oleh, saya nggak melihat Kang Oleh sedang menyebar Fitnah. Saya insya Allah tahu apa yang kang Oleh harapkan.

    bagi saya, teruslah menjadi Martir, Kang!

    proud of you!

    tukang tidur

    Ok, terima kasih atas komen dan support-nya. Iya, kadang untuk menjadi lebih baik butuh “babak belur” terlebih dahulu. :-)
    Semoga saja banyak teman yang mau menerima “perbedaan pandangan” ini, selama kebenaran Islam menjadi patokannya tentu–mau sejenak saja untuk berpikir dan memikirkan fakta ini.
    Salam,
    O. Solihin


  47. dina Jumaah, 11 Juli 2008 pukul 15:36 Pak De

    Kalo saya ibaratkan, solihin ini seperti amerika serikat. Negara yg kerjaannya selalu mengintervensi urusan dalam negeri negara orang lain. urusi aja diri sendiri, ngapain ngurusi urusan rumah tangga orang lain. silahkanlah bergerak di luar, konsentrasi sesuai dengan tujuan antum. ga usah mencampuri urusan rumah tangga tetangga ya…!!! soalnya, untuk masalah ini jelas urusan internal sebuah organisasi, yang orang luar seperti sholihin ga berhak untuk campur tangan.
    biarin aja, mau beli gedung tngkat 100, mau sewa gedung di pusat kota, mau gedung itu dibayari ake urunan anggota, biarin aja,. itu urusan mereka. ga ada hubungannya dengan Solihin. Nah, kalo misal sikap sebuah organisasi tentang urusan hajat hidup orang banyak, keberpihakan organisasi tsb thdp umat, pemikiran, pernyataan dan kebijakan-kebijakan yg terkait dengan Islam dan umat Islam, itu baru bisa dikritisi. sebagai upaya amar ma;ruf nahyi munkar. gituu…..!!!
    saya saranin juga tuk teman-teman yng masih berada di dalam ormas tsb agar tak terprovokasi dengan tulisan sholihin ini. Anjing menggonggong, Kafilah jalan terusss…..!!!

    Ini lagi2 satu contoh komentar yang berusaha membelokkan esensi diskusi, kritik adalah kritik, dan perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dalam islam. Kalo kritik diterima Alhamdullilah, tidak juga Alhamdullilah paling tidak sudah menyampaikan, karena salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah menyampaikan (balagh/balagoh/mubaligh) dan sangat jelas bahwa kritik adalah salah satu bentuk keperdulian.

    Saya rasa sebagai seorang muslim tidak pada tempatnya membudayakan sikap acuh/cuek bebek, dan tidak pada tempatnya mengkampanyekan segala bentuk ketidak perdulian. Komentar diatas jelas menunjukkan sikap yang tidak mau dikritik, acuh, dan tidak perduli, seharusnya sikap seperti ini dihindari.

    Abu Fikri


  48. dina Jumaah, 11 Juli 2008 pukul 22:44 Mr. XXXXX

    Assalamualaikum….

    Kang.. Oleh…

    Jujur saya sangat sedih dan miris melihat kondisi yang kini sedang terjadi…

    Entah apa yang ada di dalam pikiran kang Oleh Solihin… sehingga kang Oleh dapat melakukan/melontarkan opini tersebut di ranah publik….

    Saya baru baca tulisan kang Oleh, tulisan kang Oleh berbeda dengan biasanya… saya seperti bukan membaca tulisan seorang penulis hebat. Tapi seperti membaca tulisan seorang penulis amatir yang baru belajar menulis… Ini Jujur kang…! bukan berarti saya benci sama kang Oleh, Tapi tulisan yang ini berbeda… seperti bukan Osolihin yang bikin…

    Satu lagi kang… ini masalah internal organisasi dakwah tersebut. kalau kita mau kritik ada jalurnya… ada aturan mainnya, tidak lantas melakukan serangan publik seperti ini. Hal ini akan membuat citra organisasi itu menjadi buruk…

    Setahu saya, kang Oleh dulu pernah bergerak bersama dengan organisasi ini, bahkan bisa dibilang sangat militan. Dan, saya termasuk orang yang terinspirasi oleh tulisan-tulisan kang Oleh selama kang Oleh bergerak bersama mereka. hingga saat ini saya bergabung bersama mereka…

    Mungkin itu saja….

    Syukron…

    Wss….

    Mahasiswa UIKA

    ‘alaikumussalam wr wb
    Jujur saya juga merasa sedih, prihatin, miris, dan tentunya mengenaskan sekali cara berpikir antum. Maaf, jika tuduhan saya benar dan apadanya. :-)

    Itu hak antum mau kecewa atau marah atau heran. Bagi saya tidak jadi persoalan. Yang jadi persoalan berat adalah ketika ada informasi–dari siapa pun itu–menyakitkan atau membahagiakan, seharusnya menjadi pertanyaan: “Apa benar demikian? Lalu lihar fakta ke sekeliling orang2 yang ada di organisasi antum, jika faktanya salah, antum marahi saya sepuasnya, mau membakar seluruh tulisan saya juga silakan. Tapi jika benar, antum harus mengoreksi kawan2 antum, jika tidak ingin ngomong di ranah publik, antum bisa lakukan itu langsung kepada mereka. Jadikan saja informasi dari sy sebagai trigger (pemicu) dan bahan diskusi dengan kawan2 antum. Silakan.”

    Oya, antum perihal antum menilai tulisan saya, itu jg hak antum. Saya tidak peduli sanjung-puji dari manusia (apalagi tidak iklhas), hanya memuji ketika isi tulisan itu menyenangkannya, tetapi mencaci maki ketika isi tulisannya menyakitkan dirinya bahkan menguliti seluruh bagian tubuhnya. Tentu saja tidak fair. Sangat tidak fair. Sama halnya dengan pengurus organisasi antum yang memperlakukan anggotanya yang “cerewet” seperti saya dan lainnya. Langsung “DELETE” aja, tanpa perlu ada pembela dan yang bersangkutan melakukan hak jawab. Apakah ini fair? Tentu tidak. Ketahuilah, antum jangan merasa tenang dan damai berada di dalam organisasi tsb jika tugasnya hanya sebagai penggembira tanpa melakukan tugasnya dengan benar sebagai pengemban dakwah. Apa yang antum pikirkan, ternyata tak seindah kenyatannya. Apalagi ada pernyataan dari seseorang anggota organisasi tsb yang sempat terekam saya ketika mengomentari isi tulisan saya ini: “Jangan sampe boroknya tambah kelihatan”. Lha, berarti dengan demikian? Silakan pikirkan sendiri deh! :-)

    Hmm.. alhamdulillah jika saya pernah menjadi inspirasi bagi antum. Itu hal lain. Saran saya, jangan lakukan “pertahanan terus di balik tembok sendiri”, sekali-kali, lihat sisi lain. Siapa tahu kebenaran justru ada di seberang sana. Paham kan yang saya maksud? Terima kasih.

    Salam,
    O. Solihin


  49. dina Saptu, 12 Juli 2008 pukul 08:03 Anak Manja

    Setuju bang-get ama tukang tidur…
    komen-nya lucu tapi menginspirasi gue.

    Iya, gedungnya di Jakarta, yang disuruh patungan orang2 daerah. Enak bang-get emang jadi petinggi ya?
    Fasilitas nyaman, ruangan ber-AC, gedungnya mentereng, nyedotin duit (memeras) dari anggota organisasi di daerah… sementara mereka tetap saja nyewa gedung jk mau adain acara… :p

    Terus, tidak ada laporan pertanggungan jawab pada setiap acara yg diadain. Harusnya ada dan diketahui oleh banyak anggota. dapet duit berapa dan yang keluar berapa. jk rugi berapa, jk ada untung brp. Tapi, tak pernah jelas tuh…

    beginikah memang yang namanya perjuangan? gue rasa tidak.

    Maju terus kang Oleh! bagi saya anda tetap orang yang bisa menjadi “kerikil tajam” bagi orang-orang yang akan memanfaatkan keuntungan pribadi atas nama organisasi!

    kobarkan terus revolusi!
    reformasi organisasi, atau bubarkan!

    Anak Manja :-)


  50. dina Saptu, 12 Juli 2008 pukul 08:13 Irsan Samara

    Permana wrote:

    “ustadz sayahanya ingin memberikan nasehat kepada anda, karena agama itu adalah nasehat. dalam kitab subulussalam rosulullah saw bersabda dalam sebuah hadits shahih: ” iyakum wal hasada fainnal hasada takulul hasanaat kama takulunnar ‘ala hatob ” aw kama Qol. yang artinya berhati2lah engkau terhadap hasud karena hasuh itu memekan(menghilangkan) kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Kebaikan kebaikan anda akan hilang selama sifat hasud ada pada diri anda. Segera hentikan ! Bertobatlah kepada Allah! Hilangkan kebencian pada diri anada kepada sesama muslim pejuang syariah. wassalam dari saudaramu yang peduli akan nasibmu.”

    ==

    Irsan berkomentar:
    Dari mana antum tahu jika yang dilakukan Ustad OS adalah menghasud? Dari mana antum bisa menilai jika yang dilontarkan Ustad OS adalah kebencian?

    Jangan mengalihkan persoalan utama yang ditulis beliau. Ana akhirnya merasa malu sebagai bagian dari organisasi dakwah yang dikritik Ustad OS, karena sampai saat ini ana blm bisa seperti beliau dalam mengkritik. Ana juga malu kepada antum karena sebagai pengemban dakwah, sudah tidak fair dan tidak mau melihat diri kita yang buruknya. Jangan merasa besar kepala jika ada yang memuji kita, tapi kemudian kepala kita menciut ketika ada orang yang mengkritik kita. Harusnya kita merenung, lakukan penilaian “asas praduga tak bersalah”. Ambil sisi positifnya: Jika yang dituduhkan adalah benar, akuilah kebenaran itu. Jika yang dituduhkan salah, nasihatilah si penuduh itu. Kritik akan membesarkan kita dan menjadikan kita jadi lebih bijak. Jadi, berterima kasihlah kepada orang2 spt Ustad OS ini. Kadang, jalan yang dilakukannya mungkin salah, tapi dengan begitu kita jadi bisa tahu persoalannya. Ini informasi menarik untuk kita semua supaya bisa melihat masalahnya dengan jelas.

    Ini pendapat ana.


  51. dina Ahad, 13 Juli 2008 pukul 09:54 Bidak Catur

    Nasihat untuk Pak De:

    Pengibaratan keji sekali. Ust Solihin disama-hubungkan dengan Amerika Serikat. Pak De ini aktifis da’wah atau preman? Maaf ya Pak De, komentar Anda sangat tidak mencerminkan pribadi seorang aktifis da’wah.

    Menurutku, tulisan Ust Solihin samasekali tidak Pak De respon pada inti masalahnya yg ditulis. Tapi Pak De bersemangat menghantam pribadi Ust Solihin.

    Aku setuju dengan tulisan Ust Solihin ini, karena sbg anggota jamaah organisasi dakwah tdk selalu harus diam dan nurut begitu saja (taklid).

    Untuk Ust. Solihin, tetaplah bersabar!


  52. dina Ahad, 13 Juli 2008 pukul 10:09 Ahmad Badjuri

    elwatsiq, antum menulis:

    saudaraku, ada beberapa hal yang ingin a sampaikan:
    1. alangkah baiknya jika saudara mencari kejelasan dulu tentang tujuan pengumpulan uang tersebut dan apa saja alasannya, sebelum kemudian mengkritisi.

    jawaban ana:
    Ana akan membantu jawaban Kang Oleh, ini benar. Yang ditulis Kang Oleh ana pastikan benar, karena ana juga bagian dari jamaah tsb.

    2. alangkah baiknya jika kita saling percaya antara sesama muslim selama tidak tampak oleh kita kemungkaran.

    jawaban ana:
    ana juga mengimbau kepada antum, untuk percaya antara sesama muslim, salah satunya antum tidak boleh mengingkari informasi dari Kang Oleh ini. Saya mendukungnya karena benar adanya dan merasakannya.

    3. tidak ada tabdzir dalam hal dakwah dan jihad.

    jawaban ana:
    Apakah tidak lebih baik memikirkan nasib anggota jamaahnya daripada membeli gedung yang mahal, dan itu tempatnya di Jakarta pula? Ana dengar pun gedung itu jika nanti jadi dibeli adalah untuk penerimaan tamu2 dr kelas menengah ke atas untuk didakwahi. Bukan tabdzir, tapi khawatir nantinya akan memberi jalan untuk memiliki perasaan bermewah-mewahan.

    4. suasana hati serupa juga pernah dialami kaum muslimin saat persiapan perang ahzaab/perang khondaq. uslub perang dengan menggali parit mengelilingi kota madinah sangatlah menguras tenaga dan harta. bla… bla (lihat komentar elwatsiq langsung di atas).

    jawaban ana:
    tentu saja berbeda. Jihad dengan dakwah berbeda. Karena berbeda istilah dan aktifitasnya, maka hukukmnya juga berbeda. Ini bukan suasana perang, tapi suasana dawah. Tidak pula ada kewajiban harus membeli gedung itu, tapi jihad wajib meskipun berat. Berbeda.

    alfaqir,
    –Ahmad Badjuri–


  53. dina Senén, 14 Juli 2008 pukul 09:26 abu fikri

    Saya mendapat sms dari salah seorang sahabat saya mengenai komentar saya di blog ini, terutama mengenai pendapat saya seputar sumber hukum islam, dan kedudukan hukum keputusan kholifah. Ada hal yang harus saya jelaskan dan ada yang harus saya koreksi.

    Sumber hukum dalam islam ada yang bilang ada 3 atau 4, saya pribadi mengikuti pendapat bahwa sumber hukum islam ada 3, yaitu Al Quran, As Sunnah dan Ijma Sohabat.

    Qiyas memang sering disebut sebagai sumber hukum ke 4, namun pemahaman saya, Qiyas adalah methode-nya, dan aktifitas dalam Qiyas sendiri adalah menggali hukum dari sumber hukum islam itu sendiri (Al Quran, As Sunnah dan Ijma Sohabat), dan bukan menciptakan hukum baru.

    Qiyas selalu berawal dari 1 titik kesamaan dalam satu masalah, sehingga para ulama yang melakukan qiyas selalu berusaha mencari titik persamaan ini dulu, sebelum mereka menentukan hukum-nya.

    Maka pendapat saya, dari hal diatas jelas bahwa Qiyas merujuk pada aktifitas untuk menggali hukum, bukan sumber hukum itu sendiri.

    Sementara untuk keputusan Kholifah, saya meralat pendapat saya sebelumnya, Keputusan Kholifah bukan sumber hukum islam, tapi keputusan hukum.

    Maksudnya, keputusan kholifah adalah keputusan hukum dari beberapa pendapat yang berbeda di umat. Tentunya pendapat-pendapat yang berbeda/bertentangan ini valid dan bersumber dari sumber yang sah dalam islam, bukan sembarang pendapat.

    Bila Kholifah sudah menentukan pendapat mana yang akan di-ikuti, maka wajib hukumnya dilaksanakan oleh warga negara Khalifah. Nah ini yang dimaksud dengan keputusan Hukum, yang berbeda artinya dengan sumber hukum.

    Terima Kasih atas koreksi dari Sahabat saya, semoga tulisan ini juga menjadi amal ibadah antum disisi Alloh.

    * Komentar saya ini memang out of topic, dan tujuannya hanya semata-mata untuk meralat pendapat saya sebelumnya. *


  54. dina Senén, 14 Juli 2008 pukul 11:09 Abu Fikri

    Saya kira kalo organisasi tersebut melakukan perencanaan yang matang, tentu tidak perlu untuk menarik uang secara langsung ke anggota untuk beli Gedung. Bisa jadi kepindahan gedung ini sifatnya memaksa dan mendadak, kondisi ini pun juga tidak bisa serta merta dijadikan justifikasi untuk memiliki gedung menjadi wajib hukumnya.

    Harus diakui terdapat kekurang optimal-an dalam memanage oragnisasi tsb, ditambah dengan budaya komunikasi intra-organisasi yang tidak argumentatif, hal ini terlihat jelas bagaimana cara orang2 yang tidak setuju dengan kritik kang Oleh, Berdiskusi di blog ini, dan beberapa orang pengurus yang secara ‘tidak langsung’ menghubungi kang Oleh untuk menghentikan postingan ini, dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal, salah satu alasan yang sering digunakan adalah:

    “Takut postingan ini akan digunakan oleh pihak ke 3, untuk menyerang organisasi tsb”

    Dalam benak saya muncul banyak pertanyaan:
    1. Kenapa kok tiba-tiba takut? Sebegitu penakutkah kita? apakah kita salah? terus kenapa kok takut?

    saya rasa masih lumrah kalo suatu organisasi engga punya duit untuk beli gedung, bukan suatu aib.

    Kalau dalam hal semacam ini saja sudah takut, bagaimana saya bisa yakin anda-anda semua (yg tidak suka dengan postingan ini) masih ‘berani’ menyuarakan kebenaran?

    Karena penggunaan sifat takut yang berlebihan ini, Kesimpulan saya, pasti hanya menjadi angan-angan saja keinginan beberapa orang untuk melakukan audit penggunaan ke-uangan dalam organisasi ini, saya pribadi sangat berharap organisasi ini bisa menjadi lebih baik kedepan.

    2. Anggapan bahwa posting ini salah Jalur juga tidak tepat, bila sudah ber-urusan dengan ‘uang’ apa-pun itu, pasti cepat atau lambat akan menjadi konsumsi public. Apalagi tidak semua anggota mampu membayar iuran tsb. Berikut ini ilustrasi simple-nya:

    Ada anggota yang ingin sekali membantu, sehingga dia akhirnya memutuskan ngutang untuk mbayar iuran pembelian gedung, karena ngutang, ya harus disebutkan ke pemberi hutang (bukan anggota) untuk keperluan apa uang tsb, akhirnya cepat atau lambat tersebar juga masalah ini ke publik.

    Bagaimana orang akan memberikan bantuan/dukungan, bila dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, Justru bila publik tahu, semakin banyak kemungkinan yang akan memberikan nasehat/ide dan mungkin juga memberikan bantuan, siapa tahu ada pembaca postingan kang Oleh ini yang ‘trenyuh’ dan kemudian memutuskan untuk menyumbangkan/menghibahkan gedungnya. (hidayah/bantuan bisa datang dari mana saja)

    Yang terjadi malah sebaliknya adanya keinginan untuk menutupi masalah ini, sepertinya masalah ini ‘borok’ (meminjam ungkapan salah satu pengurus). saya kira keinginan untuk menutupi dari sebagian orang justru memperburuk kondisi, apalagi menilik cara dan metode yang digunakannya.

    Saran saya:

    Kalo tidak bisa beli gedung yang di impikan ya sudah-lah, organisasi menabung saja, toh engga ada salahnya menabung selama beberapa saat guna memperoleh gedung, siapa tahu dengan menunda keputusan pembelian, justru muncul opsi lain yang mungkin lebih baik dari pada yang sedang di incer saat ini.
    Lakukan perencanaan strategis (strategic planning) organisasi yang lebih baik.
    Lakukan perencanaan keuangan organisasi secara matang, pengeluaran yang sifatnya tidak wajib, untuk sementara di stop dulu, efisiensi keuangan diseluruh elemen organisasi di tingkatkan.
    Gali berbagai alternatif untuk menambah pemasukan bagi organisasi.

    Terakhir, untuk beberapa pengurus, manusia tidak luput dari salah, mengakui kesalahan dalam managemen organisasi, tidak serta merta menjadikan anda ditinggalkan oleh jamaah anda, mengakui kesalahan bukan serta merta menjadikan anda jelek, justru menunjukkan bagaimana manusiawinya anda dan bagaimana indahnya akidah anda terpancar dari setiap sikap dan keputusan yang anda buat.

    Abu Fikri


  55. dina Salasa, 15 Juli 2008 pukul 12:22 Abu Agi

    Assalamu’alaikum saudaraku semua,

    Mari dakwah tegakkan Syariah dan Khilafah !!!

    Semoga seluruh elemen umat Islam dapat menyadari bahwa hanya Khilafah-lah yang dapat menyejahterakan Ummat dan mempersatukan ummat !

    Bersatu dalam Komando tunggal seorang Khalifah yang di-baiat oleh rakyatnya untuk menjalankan hukum syara sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah hingga Ridho Alloh dan Keberkahan-Nya akan datang pada diri setiap muslim yang ikhlas menjaga keberlangsungan Syariat-Nya.

    Mari bersama fokuskan dakwah untuk menyegerakan berdirinya Khilafah yang sesuai dengan manhaj kenabian. Semoga saudaraku semua dapat berjuang sesuai dengan kemampuan masing-masing (bila memang tidak dapat berjuang bersama dalam suatu organisasi tertentu).

    Satu Ideologi Satu Solusi, Khilafah ala minhajin nubuwah !
    Ayo, siapa cepat dia dapat rahmat utama disisi Alloh !

    Wallohu’alam
    Wassalamu’alaikum

    Abu Agi


  56. dina Salasa, 15 Juli 2008 pukul 12:47 najma

    melihat semua kritikan yang ditujukan ke kang Oleh sepertinya mereka semua tau betul tentang informasi pembelian gedung itu. Bisa dipastikan mereka juga bagian dari organisasi dakwah itu. Pertanyaan saya ke semua yang mengkritik kang Oleh apa ini hasil pembinaan selama ini yang telah dijalaninya.?

    setahu saya hasil binaan itu untuk mendapatkan sesosok orang yang memiliki pola sikap dan pola pikir yang islam. Artinya tulisan kang Oleh ini harus dikritisi dengan cara berpikir yang islam dan menyikapinyapun sesuai dengan islam. Kalo mau kritisi aja cara pandang (isi tulisan ) yang dibuat kang oleh dan sikapi yang benar. Tapi kenyataannya hampir semua yang menjadi bagian organsaai dakwah ini menyerang sisi pribadi kang Oleh. Menggenaskan!

    Saya jadi mempertanyakan juga, rasanya ada pernyataan abu fikiri yang kepikiran sama saya “Harus diakui terdapat kekurang optimal-an dalam memanage oragnisasi tsb, ditambah dengan budaya komunikasi intra-organisasi yang tidak argumentatif … ‘.

    Kalo begitu target pembinaannya belum optimal kalau tidak mau dikatakan GATOT (gagal total).lantas koq petingginya berani ya membeli gedung sehebat itu sementara hasil pembinaan didalamnya saja belum bisa menghasilkan pengemban dakwah yang hebat dalam managemen dan komunikasi yang berargumen. Padahal baru berhadapan dengan kang Oleh yang sama-sama pengemban dakwah untuk kemuliaan Islam. Gimana kalo mereka dihadapkan dengan orang-orang yang memiliki argumen yang kuat, apa juga seperti ini menyerang kepribadiannya. Atau memang yang diharapkan dari hasil binaan itu adalah mental-mental seperti ini?

    soal gedung yang mewah memang masing-masing orang punya pendapat sendiri2. orag akan bisa menilai mana orang yang hidupnya bermewah-mewahan/sok bermewahan dan mana orang yang hidup penuh wara’ dan kesederhanaan. Kalo orang yang bermewah-mewahan, dengan segala harta yang dia miliki akan terus mencari gaya hidup yang glamour. Lain halnya dengan orang yang sok bermewahan, emang hidupnya pas-pasan tapi orang lain tidak boleh tau kondisi sebenarnya. Orang lain harus tau kalo dia orang hebat. Bagaimana dengan orang yang hidup penuh wara’ dan sederhana? Teman-teman bisa menilainya. saya pikir analogi ini Ini juga berlaku untuk pembelian gedung.

    Termasuk masukan teman saya yang menyinggung soal gedung ini. Untuk pemikiran dan ide organisasi dakwah tsb saja sudah eklusive penerimaan nya dimasyarakat. Bagaimana dengan adanya gedung yang mewah? tadinya ingin membaur dengan umat tapi malah ada dinding pemisah antar pengemban dakwah dengan ummat. Pertanyaan yang lain : bisakah dakwahnya menjadi ikhlas?

    Untuk kang Oleh,
    1.terima kasih untuk diskusi yang dibuka ini, saya jadi harus mau untuk memoles karakter/mental yang saya miliki. Karena mental dan karakter inilah yang akan dimintai pertanggungjawaban olehNya.

    2. saya menilai kang Oleh penuh tanggung jawab, itu terlihat dari kang Oleh ketika membuka diskusi ini beliau merespon setiap diskusinya yang harus direspon. jawaban responnya juga belum ada balasan hujatan atau dendam kepada orang yang mengkritiknya. Jangan ya kang. Api jangan dibalas dengan api. Saya salut kang.

    3. sabar aja kang dengan tudingan-tudingn miring yang mereka buat. Cukup Allah saja sebagai penolong dan pelindung kita. Allahu Akbar!!!

    najma


  57. dina Salasa, 15 Juli 2008 pukul 13:29 Frozen X

    hihihihi… ada yang membandingkan dengan abu bakar & umar radhiallahu’anhu ajma’in. Aneh…

    Kalo abu bakr ngasih ini malah minta…


  58. dina Salasa, 15 Juli 2008 pukul 14:56 nizaminz

    Yang penting para pemimpin itu amanah, sidiq, fathonah, dan tabligh.

    Para pemimpin juga harus bisa hidup sederhana seperti Nabi yang rajin bersedekah pada ummatnya. Jangan sampai pemimpin hidup mewah, sementara pengikutnya malah kelaparan.

    Perjuangan memang butuh pengorbanan. Tapi tentu disesuaikan dengan kemampuan. Pada zaman Nabi ada orang2 kaya seperti Usman, Umar, dan Abu Bakar yang rela menyumbang 1/3 harta, separuh, dan seluruh hartanya untuk jihad.

    Di sisi lain ada pula orang2 miskin yang dibantu oleh Nabi Muhammad dengan bekal dan kendaraan hingga bisa turut berperang (meski ada juga yang tidak kebagian)

    Dalam Islam ada muzakki dan ada mustahiq. Jika berlebih dia wajib bayar zakat, jika miskin justru berhak mendapat zakat. Bukan justru dimintai uang.

    http://syiarislam.wordpress.com


  59. dina Salasa, 15 Juli 2008 pukul 16:18 Mr. Nangningnung

    wah… lieur yeuh kang oleh, seperti kacang lupa akan kulitnya.
    sang penulis hebat, yang dihebatkan dari organisasi itu, kemudian menikam dari belakang. COBA PIKIRRRRRRRRRR atuh uey… antum bisa kayak gitu dari mana?

    Aduh, ternyata masih beredar juga (belum kadaluwarsa) orang2 yang berpikiran “kurang sehat” seperti ini. :-) Justru yang disebut “kacang lupa pada kulitnya” adalah orang yang seharusnya dia tahu dari mana dia berasal, yakni dari Allah Swt. tapi ternyata melanggar hukum2 Allah Swt.

    Oya, antum pikir yang “membesarkan” saya adalah organisasi tempat saya beraktivitas? Tidak sepenuhnya kawan! Karena sejatinya, Allah Swt sajalah yang memberikan segalanya buat saya. Hmm.. tapi jika pun ada sisi jamaah dakwah tersebut yang memang membuat saya besar, tapi bukan berarti saya harus jadi penjilat atau diam. Itu namanya penjahat dan penghancur. Rasa syukur yang utama adalah kepada Allah Swt. Saya tidak merasa harus diam-diam menutup mata dan telinga ketika melihat kejanggalan (apalagi kemaksiatan–sekadar antum tahu, sudah terjadi FITNAH besar2an yang ada di tubuh jamaah dakwah itu.. mau bukti? Jangan menunggu setelah segalanya terlambat!), justru saya harus mengingatkan mereka. Tentu, dengan cara dan gaya saya sendiri setelah semua pintu ditutup rapat oleh mereka :-)

    Jadi, ini insya Allah jalan terbaik. Saran saya, antum belajar syakhsiyah lagi deh. Karena sama sekali nggak pantes seorang aktivis partai yang katanya “keren” itu berpikiran sangat “mengharukan” begitu rupa. Aduh, musibah besar deh. Dan dengan demikian, kian meneguhkan bahwa sesungguhnya para aktivis karbitan itu nggak bisa berargumen sama sekali. Bisanya cuma menghujat pribadi. Contohnya, ya antum yang sama sekali tak “becus” mengomentari isi tulisan saya. Betul tidak? :-)

    Semoga Allah Swt. memberikan hidayahNya kepada orang2 seperti antum.

    Salam,
    O. Solihin

    Organisasi adalah entitas yang bebas nilai, yang memberikan nilai dalam organisasi tersebut adalah orang-orang yang berkiprah dan beraktifitas didalam-nya, kita bisa menilai suatu organisasi baik atau buruk, sebenernya dari penilaian prilaku anggota organisasi tsb, bukan dari organisasinya sendiri. Jadi bisa suatu organisasi pada mulanya baik, tapi karena perubahan ‘orang2′ didalamnya bisa menjadikan organisasi tsb menjadi tidak baik lagi.

    Jadi dalam hal ini claim anda keliru, karena tidak akan pernah ada suatu organisasi membesarkan anggotanya, yang ada adalah anggota yang bersama-sama membesarkan organisasi. Dan Organisasi tidak pernah bisa menjadi dasar klaim, karena organisasi dibuat berdasarkan kesepakatan bersama.

    Kesalahan lain dari argumentasi kang nengnong: yang menilai seorang penulis itu hebat atau bukan adalah pembacanya, bukan organisasi dimana dia berkiprah.

    Abu Fikri


  60. dina Rebo, 16 Juli 2008 pukul 17:43 Hexxer

    Wah nih makin seru aja !!!
    Coba aja temen2 yang di organisasi itu tau kemana duit mereka selama ini mengalir, dijamin bakal kesel 7 turunan.
    Mereka jg pasti gak tau kalo duit mereka juga dah dibeliin mobil -katanya- operasional yang dipake oleh pimpinan mereka, dan lucunya mereka padahal dah punya mobil pribadi -ada yang lebih dari 1 lg-, tega yach????? Padahal kalo dah punya mobil ya ngapain pake beli mobil -katanya- operasional ???gak rela mobilnya dipake dakwah???takut bensin abis???takut biaya perawatan bengkak???
    Padahal coba tuh duit dipake nyetak selebaran, bikin acara, dll, dsb kan asyik bgt khan???
    Nah makanya para anggota -yang merasa- organisasi tersebut coba deh anda semua bersikap kritis juga tanya kemana aja duit yang selama ini kamu dan teman2 kamu setor, meskipun atas nama infaq dsb tapi kan kamu semua tetep kudu tau kemana aja duit itu mengalir, yah jangan2 ada pembelanjaan yang gak efektif n efisien ato malah kecampur ma pembelanjaan pribadi -nau’dzubillah-.
    Berani diaudit???
    Berani transparansi???

    Hidup Kejujuran dan Kesederhanaan!!!


  61. dina Kemis, 17 Juli 2008 pukul 01:25 Abu Fikry el-samarindiy

    Assalamu’alaykum wR wB

    Ust O.Solihin kalaulah memang antum mempunyai prinsip yang benar, katakanlah dengan benar, sabar dan ikhlas… bukankah merubah itu perlu kesabaran? apakah sabar memang ada kata “batasnya’..? saya setuju dengan sikap kritis antum bila sikap kritis ini akan membawa jamaah pada kebaikan, demi Islam dan Kaum Muslimin, karena bagaimanapun pengemban dakwah baik itu yang di daerah atau di pusat adalah tidak maksum, dan kemungkinan bisa berbuat salah. Adalah sikap kita untuk tetap istiqamah dalam amar ma’ruf nahi munkar.

    Tapi yang saya sangsikan apakah uslub antum ini akan memberikan hasil yang positif..? atau malah menimbulkan ketidakpercayaan ummat pada jamaah ini, lalu akan kemanakah ummat bersandar bila setiap haraqah dakwah yang akan ia jadikan payung jamaahnya semuanya terkesan amburadul. Ataukah lebih baik sendiri dan pasif dari gerak dakwah ini?
    Watak orang kita kebanyakan lebih melihat siapa yang ngomong daripada apa isi omongan tersebut, kalaulah haraqah tersebut dibuka kelemahannya (kalo memang banyak kelemahannya), apakah tidak akan menjadi bumerang kalo seruannya nanti tidak dihiraukan ummat..? lantas kapan ummat ini akan bangkit..?

    Saya pertegas, saya setuju untuk tetap bersikap kritis hanya saja seharusnya kekritisan itu berada pada jalur yang semestinya, mungkin anda akan bilang lagi ‘percuma.. karena sudah sering dilakukan’ ya itulah sekali lagi saya bertanya apakah sabar memang ada batasnya..? Afwan ya akhi, bukan bermaksud menggurui, saya rasa ilmu antum sudah banyak, dan saya masih bodoh..

    Afwan saya sangat risih dengan kata-kata memeras dan menyedot uang anggota seperti pada komentar diatas, kayaknya ada orang yang mencoba memancing diair keruh.. Untuk masalah urunan gedung, walau gaji saya pas-pasan insya Alloh itu tidak masalah, bisa di usahakan dan tidak memberatkan walau saya bekerja hanya seorang kontraktor yang bulan Agustus ini mau habis, memang secara jumlah bagi yang mampu harusnya sejumlah demikian tapi itu tidak bersifat mengikat, Intinya bagi yang tidak mampu seikhlasnya saja, nanti akan ada subsidi silang bagi anggota lain yang memang mempunyai rejeki banyak. Lagi pula, uang sebesar itu tidak sebanding bila dibandingkan dengan janji Alloh nanti..

    Masalah gedung itu dianggap mubadzir atau tidak, berlebih-lebihan atau tidak, tergantung bagaimana menggunakannya ya akhi..

    Satu lagi, bagi saya pribadi tidak ada perbedaan antara kepentingan daerah maupun kepentingan pusat (seakan jadi beda kepentingan). Kita adalah berada dalam satu ikatan dakwah, kalau memang itu bisa menunjang dakwah didaerah mengapa harus ada kecemburuan kepusat..? (semoga akhi tidak bilang saya taqlid buta).

    Afwan, ya akhi.. salam ukhuwwah dari saya. Saya sangat menyayangi antum ikhlas karena Alloh, semoga kita diberi petunjuk dan tetap Istiqamah.

    Salam
    Abu Fikry el-Samarindiy
    from Kaltim.
    Blog http://www.satummat.co.cc


    ‘alaikumussalam wr wb… Abu Fikry el-Samarindy
    Terima kasih atas nasihatnya. Semoga seluruh kaum muslimin bisa melakukan amar ma’ruf nahyi munkar.

    Saya juga meragukan uslub yang selama ini ditempuh “jalur resmi”, bukan saja “protes” itu tidak ditanggapi, tapi bukan tak mungkin malah tidak disampaikan. Pernah mengalami hal ini, dan akhirnya saya kirim langsung. Ada yang ditanggapi, ada yang dipetieskan. Saya tidak memaklumi tindakan mereka yang berwenang, karena seharusnya merekalah yang bisa menjadi teladan. Saya tidak tahu apakah antum nantinya akan sama pikirannya dengan saya ketika menyaksikan dengan mata-kepala sendiri banyaknya kejanggalan di sini. Entahlah, saya tidak mau berandai-andai…

    Justru jika ingin terjun di “pasar bebas” dakwah, menurut saya harus siap segalanya. Bukan hanya kekuatan fikrah dan thariqah, tapi juga diperlukan keberanian dalam mempertahankan agar fikrah dan thariqah dakwah tidak tercemar ide busuk dan sesat, yang seolah-olah benar tapi ternyata malah menjerumuskan. Siapa tahu justru memang harusnya begini jalan yang kita tempuh. Agar umat tidak salah pilih, karena mereka sudah muak dengan banyaknya parpol Islam yang ikut pemilu yang bisanya cuma ngobral janji. Umat harus pandai memilih pada akhirnya memang. Biarkan mereka akan melihat dengan jelas, jangan ditutupi karena jika ditutupi terus kebusukan dan keburukannya cepat atau lambat mereka akan tahu bahkan akibatnya bisa lebih parah lagi. Meski demikian, bukan berarti kita pesimis karena masih ada banyak orang yang jeli melihat persoalan. Intinya, kerusakan yang terjadi bukanlah semata-mata fikrah dan thariqah, karena jika melihat tidak semua pengemban dakwahnya demikian, karena masih ada yang benar dan lurus. Berarti oknumnya saja yang bermasalah dan kebetulan menjadi pengurus jamaah dakwah. Jika ini masalahnya, yang diperbaiki atau bahkan diganti adalah oknmum yang bersangkutan.

    Saya pertegas, saya setuju bahwa dakwah butuh keberanian, bukan semata iklhas dan memiliki ilmu saja. Saya justru ingin menyampaikan kepada antum, “kesabaran itu bukan hanya diletakkan dan harus dipikul satu pihak saja. Tapi kesabaran wajib merata di semua pihak”. Supaya fair. Saya pikir antum pasti sudah mengerti. Karena, meminta seseorang untuk sabar, tapi pihak lain tidak sabar, itu namanya tidak adil.

    Dalam tulisan saya di atas, saya tidak pernah meragukan komitmen orang yang mau berinfak. Itu hak dia untuk melakukan, dan sama sekali tak ada urusannya dengan orang lain. Hanya saja, persoalannya adalah: apakah harus melakukan itu? Apakah tidak ada jalan lain selain membeli? Ini justru persoalan mendasarnya. Apakah harus “memaksa” dan menuntaskan keinginan kita? Padahal, dalam hidup ini, kita memang harus siap segalanya: siap bahagia, siap kecewa. Jangan “ngotot” memilih jalan itu jika jalan lain masih bisa dilakukan dan tidak memberatkan semua orang

    Boleh saja berpendapat seperti antum. Kita memang tak tahu gedug itu akan seperti penggunaannya. Hanya saja, apa sebaiknya dipikirkan prioritas “rehabilitasi” yang sifatnya bukan sarana fisik? Masih banyak individu jamaah dakwah yang kekurangan: baik secara ekonomi, tsaqafah, semangat, bahkan ada yang belum bisa membedakan mana uslub, mana thariqah. Menyedihkan memang. Kalo pun harus memiliki gedung, apa tidak dengan menyewa saja? Jika menyewa dianggap berat, apa tidak membeli saja yang murah meriah sehigga tidak perlu memberatkan semua anggota jamaah?

    Saya tidak mau menuduh orang taklid buta kecuali sudah nampak ada indikasi itu ada pada dirinya. Tenang saja akh. Antum tidak perlu saya tuduh apapun karena antum sendiri yang seharusnya bisa mengukur kondisi diri antum. Ok?

    Afwan dan terima kasih atas komentarnya. Ini jalan yang sudah saya pilih. Hingga saat ini, belum ada argumentasi yang menurut saya layak untuk dijadikan pegangan. :-)

    salam ukhuwah,
    O. Solihin


  62. dina Kemis, 17 Juli 2008 pukul 12:25 Noegroho

    mungkin bisa dibalik, “dakwah kok maunya korban waktu dan pikiran saja, tidak mau korban uang”. Betapa banyak orang rela buang waktu untuk dakwah namun tidak mau berkorban uang. Betapa banyak juga orang mau korban uang tapi tidak punya nyali untuk dakwah menentang kezaliman.

    Bandingkan dengan sahabat mus’ab bin umair yang rela menjadi kere padahal beliau sebelumnya adalah bagaikan seorang pangeran di makkah. Bandingkan dengan harta Rasul dan bunda Khadijah yang dari konglomerat akhirnya menjadi kolongmelarat.

    Beranikah kita melarat demi tercapainya dakwah? Kalau saya terus terang juga berat, tapi akan saya dukung dengan sepenuh hati lebih dari yang ditargetkan.

    Kebetulan Di buletin AlWaie http://www.al-waie.org/issues/256/article.php?id=635_0_48_0_C menjelaskan tentang tafsir QS At-Taubah 111 “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”

    Apanya yang Allah beli ? wong harta dan nyawa itu adalah milik Allah yang Dia Maha Berhak untuk mengambilnya kapan saja dengan gratis ?

    Yang dibeli adalah perasaan ketir pada diri kita untuk mengorbankan diri dan harta yang dititipkanNya.

    Kalau memang 300 ribu itu sangat sulit, ya usulkan ada subsidi silang. Adakan bazar baju bekas, piring bekas, dll. Penugasan 300 ribu itu harusnya membuat kita kreatif mencari solusi bukan malah memunculkan kata sulit dicapai. Saya berhusnuzon bakal ada syabab yang mengeluarkan harta berlebih untuk mewujudkan kantor ini dan saya juga berhuznudzon bila tidak terkumpul 4.5 akan dipakai plan B : tidak jadi beli. yang penting mari kita berusaha maksimal. Wallahu a’lam

    Btw, Apa pula jadinya saya juga bila tidak berani menasehati kang Oleh. Mohon maaf tidak saya sebutkan nama, tapi saya sudah kenal dengan kang Oleh sejak kang oleh masih merintis majalah permata di rumah di bawah toko buku di Bogor.

    sejak awal yang tertulis di postingan saya adalah: Insya Allah saya tidak pernah meragukan komitmen teman-teman untuk berinfak. Tafadhol. Silakan. Tak ada yang melarang. Bahkan insya Allah sudah sangat paham dengan segala dalilnya. Mau urunan atau subsidi silang monggo wae.

    Hanya saja yang jadi persoalan: apa sih esensinya dari pembelian gedung itu? Apakah hal itu sangat mendesak? Apakah itu urusan hidup dan matinya dakwah? Apakah tidak dicarikan alternatif lain seperti yang tertulis dalam postingan saya?

    Apakah lantas karena itu adalah “titah” pimpinan jamaah dakwah lalu kita nerimo saja? Khusnudzan boleh saja, masalahnya persepsi orang memang akan berbeda. Apalagi yang sudah melihat dan merasakan bagaimana “kacaunya” sebuah kondisi yang ada. Kecuali, yang menutup mata dan telinganya rapat2.

    Lho, berarti nama Noegroho itu bukan nama asli antum toh?–kok tidak usah menyebut nama :-) Kok mirip nama temen saya sih? :-) Tapi kalo itu sih ada nama belakang tambahannya yakni inisial “L”-nya…

    Okelah, saya berharap antum jangan hanya berani menasihati saya. Tapi lebih berani lagi menasihati pemimpin jamaah dakwah antum itu. Syukron.

    Salam,
    O. Solihin


  63. dina Kemis, 17 Juli 2008 pukul 15:42 Dimas

    Berkorban boleh saja, asal jangan dikorbankan
    Berinfak boleh saja, asal jangan disalahgunakan
    Berjuang boleh saja, asal jangan dikhianati

    maju terus kang oleh!

    dimas


  64. dina Jumaah, 18 Juli 2008 pukul 09:21 m shiddiq al jawi

    Sudahlah.


  65. dina Jumaah, 18 Juli 2008 pukul 10:06 wenny_ro84

    kang oleh…kang oleh….
    memang “TAK SELAMANYA DIAM ITU EMAS…”
    kritis itu boleh2 aja KANG,bahkan BAGUS
    tapi harus pada tempatnya
    sudah sekian lama DI BINA ,APAKAH SEPERTI INI hasilnya
    bukankah ada cara yg jauh lebih mulia
    untuk menyatakan ketidakpuasan antum
    bukan dg jalan seperti ini kang….
    ini namanya memecah belah kaum muslimin
    bukankah”memeceh belah umat Islam” itu hobby Amerika
    kenapa antum mengikutinya….
    kang….sebagai sesama saudara se aqidah
    ana hanya bisa mengingatkan
    Istighfar…..& hati-hati…
    jangan terpedaya bujukan syetan….
    apalagi dg gaya bahasa antum
    sungguh sangat & teramat provokatif….
    ingat segala sesuatu akan kita pertanggungjwban
    di hadapan Allah swt

    saya malah sering bertanya-tanya terus dalam hati ketika melihat banyak anggota jamaah dakwah tersebut yang aneh cara berpikirnya, bahkan ketika ada orang yang mengkritiknya sesuai jalur dan bahkan mengadukan ke “pusat” dan “pusat” marah besar, eh, malah dia yang marahin tuh orang yang “melapor” ke “pusat”. Padahal, oknum ini sudah terbukti salah besar. Karena sudah melanggar “garis perjuangan”.

    Jadi saya tetap heran, sudah bertahun-tahun DIBINA hasilnya malah KEKACAUAN JALAN PIKIRAN. Ini banyak lho. Entah, saya harus menyebut “beruntung” atau “menderita” karena tinggal di sini dan menyaksikan semua “kekacauan” itu….

    Salam,
    O. Solihin


  66. dina Jumaah, 18 Juli 2008 pukul 15:31 abid

    kalo menurut saya siiiiiih, saya akan tetap loyal (seperti para sahabat terhadap rasulullah)atau terhadap pemberhentian sahabat khalid bin walid r.a sebagai wali(dikarenakan menerima pemberian walaupun itu bukan risywah) terhadap organisasi ini selama secara terang2an organisasi ini tidak bertentangan dengan syara’ atas semua kebijakannya. karena, sepanjang yang saya tahu masih belum ada organisasi yang lebih tsiqoh selain organisasi tsb. serta mengenai kebijakan

    bagi para pengurusnya?. insyaAllah mereka sudah memahami dan mempertimbangkan semua akibat jikalau semua kebijakan yang mereka ambil bukannya mendatangkan maslahat ummat(termasuk anggotanya) melainkan malah mafsadat terhadap eksistensi dakwah organisasi itu kedepan. dan kejadian seperti ini saya harap bisa lebih memantapkan organisasi ini kedepan dalam meri’ayah para anggotanya

    bagi kang oleh: abid yaqin tulisan tsb timbul atas ketidakpuasan terhadap nasib kang oleh dahulu di organisasi tsb, maupun perlakuan yang akang dapat setelah berada diluar(mungkin) organisasi tsb. saya berharap janganlah kang oleh semakin memperburuk ikatan yang agak merapuh dari organisasi ini. yang tentunya akan semakin membahagiakan musuh kita bersama. serta akan menjauhkan akang dari syu’ur yang indah ini hanya karena kekecewaan pribadi.

    bagi para pengagum kang oleh: tetaplah kritis dalam menulis(asal tidak melankolis) dengan muatan yang semakin bengissss dalam memerangi kaum kuffaar dan imperrrialissss. abid yaqin anda semua pasti juga kecewa dengan nasib sang idola. namun, seperti halnya yang dilakukan oleh para pengagum khalid bin walid r.a ketika beliau diberhentikan dari jabatan sebagai wali. mereka(para sahabat r.a) tetap setia dalam perjuangan dakwah.

    bagi semua orang yang merasa dikecewakan: ingatlah!!!!!!. bahwa sekarang kita berada dalam jamaah ini karena komitmennya dalam berjuang untuk islam(izzul islam wal muslimiin). daripada kita berada dalam praduga dan dzon2 yang belum tentu benar adanya, mending kita semakin memantapkan (gerak dan tsaqafah) diri atas janji Allah terhadap setiap muslim yang berusaha menegakkan kalimatnya. dan kita berada disini(partai ini) karena perintah untuk dakwah jamaah dan terikat dengan jamaah dakwah yang istiqomah(secara tsaqofah dan gerak) bukan karena melihat masing2 individu tokohnya.
    tetaplah bergerak
    tetaplah istiqomah
    tetaplah mengerahkan seluruh potensi kita untuk mencontoh para sahabat sebagai generasi terbaik ummat yang senantiasa mengorbankan seluruh potensi yang mereka miliki.

    wallahu muwafiq ilaa aqwamiththariq

    ihdinashshiraatal mustaqim

    hadanallah waiyyakum ajma’iin.

    Terima kasih atas komentar dan nasihatnya. Silakan untuk loyal, jika itu memang pilihan antum. Sebab, loyal tidak selamanya benar dan dibenarkan. Perlu dicatat lagi bahwa cerita yang antum paparkan itu memang kisah para sahabat. Bagus. Insya Allah tidak diragukan lagi kesalihan dan keimanannya. Tapi, jangan bandingkan pengurus jamaah itu dengan para sahabat… jauh banget. Ini bukan berarti saya merasa suci. Tidak. Saya hanya “geli” saja ketika ada ada yang membandingkan spt ini. Sebab, saya insya Allah tahu “dalemannya” :-)

    Okelah, saya meyakini betul bahwa tulisan antum kepada saya di paragraf ketiga muncul dari prasangka dan salah pula. Sangat salah. Tidak sesuai fakta. Beginikah tipikal pengemban dakwah yang berasal dari organisasi yang kata antum tsiqah itu? Musibah besar cara pandang seperti ini…

    Paragraf terakhir antum menarik. Jika benar tidak melihat “ketokohan” seseorang, sewajibnya antum juga mengkritisi kenyataan yang ada dari fakta yang berkembang saat ini. Sungguh, saya sangat menyayangkan jika antum hanya berargumen dengan saya. Saya bukanlah siapa-siapa, tapi cobalah “melawan” ketidak-beresan yang sedang terjadi ini. Itu pun jika antum mau menerima informasi ini, atau mau merenungkan semua informasi yang saya tulis atau silakan mencari informasi sendiri dan mencocokkan dengan informasi ini. Jika tidak, lupakan saja itu yang namanya impian mengharapkan organisasi yang tsiqah berjuang untuk sebuah tujuan mulia. Lupakan, karena keberadaan antum dkk sangat boleh jadi hanya pelengkap, penderita pula. Sementara para “oknum” tetap bisa leluasa mengacak-ngacak organisasi dakwah itu.

    Solusi terbaiknya adalah: pangkas satu generasi itu, dan lakukan perubahan, meski harus mulai lagi dari “titik nol”. Why not?

    Salam,
    O. Solihin


  67. dina Jumaah, 18 Juli 2008 pukul 15:54 jaka

    Assalamualaikum wr.wb
    “Sesungguhnya sesama muslim bersaudara, dan Bila ada perselisihan diantara kita mesti di kembalikna kepada allah dan rosulnya .
    Dunia maya tidak sama dengan dunia nyata apa yang ada di IT yang tak mungkin ada bisa jadi ada. perselisihan yang ada jangan semakin mengabaikan firman di atas karena berpotensi hasutan(fitnah) hingga mengalihkan perjuangan kembali syariah dan khilafah

    Wassalam
    Komunitas rindu syariah dan khilafah medan


  68. dina Saptu, 19 Juli 2008 pukul 07:47 pelesiran8

    oh.. yang jadi masalah utamanya tu 4.5 M nya tokh? (soalnya saya lihat, masalah kritik mengkritik dan masalah antara kang Oleh dan organisasi itu bukan hak publik untuk menilai soalnya perlu tabayun dulu ampe clear…baru tiap individu bisa menilai. So, no comment buat yg itu).

    akhi Hexxer sepertinya tahu betul tetang perputaran uang di HT, kenapa ga sekalian publish aja disini. Kalau mau kritik, jangan tanggung-tanggung, biar ga jadi fitnah.

    Sy sendiri menilai (terlepas dari cara memungutnya yg perlu sy konfirm sendiri), urgensi pengeluaran 4.5 untuk suatu organisasi dakwah sebesar itu adalah wajar, hampir tidak perlu dikait-kaitkan dengan urgensi. Organisasi dakwah sebelah aja untuk menggolkan 1 calon soleh mereka ke ajang politik bisa keluar hingga ratusan M. Apa perlu kita memperdebatkan urgensi dua contoh yang berseberangan dari segi sistem itu?

    Wah, saya jadi kehilangan urgensi dari poin utama yang ingin disampaikan kang Oleh nih :)

    Memang wajar karena antum membandingkannya dengan organisasi dakwah lain, yang mengikuti sistem kufur (pemilu), kalo kita tinggal di perumahan elit, memang wajar kalo kanan kiri kita pada punya mobil, tapi itu bukan alasan yang mengharuskan kita untuk memiliki mobil.

    Penarikan dana pembelian diambil dari anggota, sudah sewajarnya bila anggota menanyakan urgensinya, dan mendiskusikan pembelian tsb. Karena ini uang dari orang banyak mestinya juga ada pertanggung jawaban mengenai penggunaannya.

    Abu Fikri (dari bogor)


  69. dina Saptu, 19 Juli 2008 pukul 15:53 Abu Dzar Al Addur

    Assalamu, kang Oleh marilah bersatu tuk berjuang dengan Islam, Mari tegakkan Islam secara kaffah dan dirikan Daulah Khilafah.
    Tiada hentinya wahai saudaraku, jika kita terus seperti ini.
    selesaikan saja………..
    Wassalam, Syukron.

    Hilangkanlah makian diantara saudara sesama muslim…..AllahuAkbar.
    Afwan.


  70. dina Saptu, 19 Juli 2008 pukul 16:02 Abu Dzar Al Addur

    Akhi wa ukhti
    mari kita berjuang tuk tegakkan Islam di Muka Bumi ini, Masih bnyak masalah yang lebih besar dan perlu kita selesaikan.
    jika ada yang berpendapat “masalah”ini sebagai masalah yo wis silahkan, dan berikan solusi yang baik.

    Berjuang….!!!


  71. dina Saptu, 19 Juli 2008 pukul 20:08 dyna

    kang oleeeeh…setelah baca tulisan akang semakin besar saja keinginan saya to be ur second wife. U are the bravest man i ever met. I’ll send u my complet cv to ur email


  72. dina Saptu, 19 Juli 2008 pukul 22:59 zahidayat

    Jadi pemimpin itu, di organisasi mana pun, harus mau hidup sederhana. Kurangilah tidur dan makan di hotel sebisa mungkin. Kalo pemimpinnya punya mobil pribadi, silakan jual, lalu infakkan untuk beli gedung yg 4 miliar itu :) . Naiklah KRL seperti dahulu kala. Barangkali seperti itu kalo mau ikut perilaku sahabat…

    Dalam perjuangan, tak perlu pilih yg empuk2 dulu. Bahkan setelah kemenangan pun, tak ada pilihan selain hidup prihatin. Seperti itulah pemimpin yang utama. Jika tidak meniru sahabat, ikuti jejak, misalnya, Natsir yang baru diperingati satu abadnya.

    Kalo di tengah perjuangan saja sudah memilih yg “WAH”, bagaimana nanti kalo benar-benar jadi khalifah…

    Saatnya melayani umat, bukan……..


  73. dina Ahad, 20 Juli 2008 pukul 14:58 irfan

    melihat tulisan ini dan komen2 yang ada saya jadi ngerti kenapa ada aturan tidak kalo ada masalah tidak boleh disebar ke samping.

    dengan adanya tulisan ini, orang orang selain jamaah dakwah tersebut akan tahu masalah ini. dan yang paling parah mungkin malah mengubah persepsi mereka tentang hizbut tahrir, gerakan dakwah yang lantang bersuara tegaknya syariah dan khilafah. padahal hanya hizbut tahrir yang layak memimpin umat tidak ada yang lain.

    saya berharap kalau masalah ini ada akhirnya, bukan masyarakat hilang kepercayaan terhadap hizbut tahrir apa lagi khilafah. semoga dianggap masalah internal organisasi biasa.

    saya berharap juga, kalau mungkin tulisan ini di delete saja atau setidaknya komennya ditutup. tidak usah diperpanjang lagi.

    Saya kira kita tidak perlu terlalu paranoid (ketakutan) akan hal-hal yang belum tentu terjadi, seperti terjadinya perubahan persepsi orang lain terhadap suatu organisasi dakwah, kalo antum paham sebenernya persepsi itu mudah sekali dirubah, justru fakta yang sulit untuk dirubah.

    Nah dalam diskusi ini seharusnya muncul berbagai ide atau komentar mengenai masalah yang sedang dihadapi, tapi yang terjadi adalah berbagai komentar dengan nada marah (entah kenapa) dan menyerang pribadi kang oleh, sehingga diskusi sempat melebar kemana-mana dan menjauhkan dari esensi permasalahan yang didiskusikan.

    Misal ada orang yang nanya seperti ini:
    orang 1: Kang ini bener motor anda?
    orang 2: benar ini motor saya, ini bukti2nya, sambil menunjukkan bukti bpkb, kuitansi pembelian, stnk dll.
    * selesai Masalah *

    Coba bandingkan dengan ini:
    orang 1: Kang ini bener motor anda?
    orang 2: ah anda ini mau fitnah saya ya? ngapain sih anda nanya2 segala? Bukannya kita sesama muslimin harus saling percaya? anda tidak boleh hasud,… dst.
    * Malah jadi melebar kemana-mana*

    Nah semoga contoh saya diatas memberikan kejelasan kepada antum, suatu kenyataan pahit bahwa kita ternyata tidak terbiasa untuk berkomunikasi dengan argumentatif. Bukan argumen yang disajikan tapi malah makian, keinginan untuk memberhentikan/menutup diskusi dll.

    Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua, sehingga bisa mengambil ibroh dari masalah ini, dan mulai terbiasa untuk meng-konstruksi argumen dengan benar.

    Abu Fikri (Dari Bogor)


  74. dina Ahad, 20 Juli 2008 pukul 16:48 Muslim

    Inilah yang berbahaya bagi sebuah gerakan, upaya menikam dari dalam, untuk menghancurkan gerak dakwah…

    Yang senang, mereka yang ingin Islam mati dan lenyap…. melihat pertikaian dan tikaman2.

    Seiring gencarnya dakwah, tentu fitnah pun merebak… bukan hanya di sini, di luar negeri pun ada orang-orang bandel, yang saya sedihkan nggak sedikit dari mereka bukannya menjadi lebih baik tapi malah menjadi para pembela sekular dan menjadi intel bagi Barat, Amerika dan kepentingangan, seperti kasus di Inggris…. Itulah mereka kaum hipokrit, shuulkhatimah.

    Saya berdoa, semoa Allah membukakan hati para pengemban dakwah dalam keikhlasan. Dan semoga Allah menjauhkan orang-orang munafik yang merusak gerak dakwah, dan menjadikan kami husnul khatimah. Amin.


  75. dina Senén, 21 Juli 2008 pukul 12:04 Ihsan

    Asw, kang oleh apa kabar?

    apa pun yg terjadi.. sy tau kang oleh pasti ttp kenceng dakwahnya kan?

    :)

    organisasi atw jamaah dakwah cm kendaraan aj kan? so, ikut di dlm atw di luar jamaah dakwah gada masyalah….

    teringat nasihat ust Abu Faqih, “surga itu bukan cm milik 000, wong rasulullah dan para shahabat dlu bukan anggota 000 kan?”

    Piss ah…..

    btw, masih kenal sy ga kang ;)


  76. dina Senén, 21 Juli 2008 pukul 12:48 Mahfudz Ali

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Saya pribadi berpendapat bahwa Jamaah / Organisasi layaknya seperti keluarga besar, yang mana dalam dalam Jamaah seperti hal keluarga juga akan berpotensi terjadinya konflik, perbedaan pendapat, ketidaksetujuan dengan pemimpin dlsb.

    Andaikan saya punya masalah dengan pimpinan keluarga (Ayah), saya juga akan mengoreksi beliau, saya akan menasehati beliau, meskipun nasehat2 yang saya sampaikan tidak diperdulikan. Bahkan andaikan Ayah mengusirku dari rumah.

    Namun, satu hal yang tidak akan saya lakukan, yaitu menceritakan keburukan Ayah saya kepada tetangga, kepada teman2, apalagi memuatnya dalam koran. Karena bagaimanapun dia adalah Ayah saya, yang pernah membesarkan saya, yang pernah menafkahi saya, mengantarkan saya ketika sakit dlsb. Cukuplah memori buruk bersama Ayah terekam dalam sanubari yang paling dalam, seraya berdoa kepada Allah, Semoga Allah menyadarkan Ayah saya. Apalagi saya tahu begitu banyak orang-orang di luar sana yang menginginkan kehancuran keluarga saya.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Mabsus mahfudz Ali

    Memang kalo kita mengambil contoh dalam keluarga, hal seperti antum utarakan diatas-lah yang akan saya pribadi lakukan, dalam konteks keluarga memang benar demikian. Namun konteks diskusi kita saat ini adalah organisasi, memang bisa di-ibaratkan keluarga, tapi terlalu banyak hal yang direduksi bila masalah organisasi di ibaratkan dengan masalah keluarga.

    Masalah ini sudah menjadi masalah publik, karena berkenaan dengan keinginan untuk mengumpulkan sejumlah uang dari anggota. Ada beberapa anggota yang keberatan untuk membayar sehingga kemudian jatuh kedalam hutang (karena dia memaksakan diri), ada pula anggota yang diberi ultimatum anda bayar atau keluar dari keanggotaan, ada beberapa akhwat yang memiliki pendapatan sendiri (gaji) diperintahkan untuk membayar iuran gedung ini tanpa sepengetahuan suaminya dan sebagainya. Ini adalah kenyataan yang ada dilapangan, dan masih banyak hal yang lain-nya.

    Jelas masalah yang semula berada dalam kawasan internal organisasi, ternyata meluas ke arah urusan pribadi anggotanya, yang semula tidak mau terjerat hutang, terpaksa terjerat hutang demi memenuhi perintah dan sebagainya. Menurut saya masalah ini sekarang sudah ada didalam ranah publik.

    Abu Fikri


  77. dina Senén, 21 Juli 2008 pukul 15:01 aljirbani

    ass,
    anggap saja tulisan ini adalah semacam tantangan dakwah (kalau bukan disebut sebagai hambata. ya…tantangan internal dari anak muslim sendiri. semoga dengan adanya tantangan ini dakwah kita makin lebih kenceng lagi.
    sudahi saja debat kusirnya dan kembali berdakwah…
    wass,
    aljirbani


  78. dina Salasa, 22 Juli 2008 pukul 10:39 Abdul

    Debat yang bagus. Tapi saya menyayangkan karena para pengkritik tulisan kang oleh ini cenderung tidak sabar dalam memberi komentar, sehingga yang muncul bukan mempermasalahkan esensi tulisannya, tapi lebih kepada personnya, yakni kang oleh. Apa semua jamaah dakwah itu kualitasnya seperti itu?

    Tuk Kang Oleh, tetap istiqomah dalam dakwah, karena saya tahu sendiri, jamaah dakwah kang oleh saat ini mulai berubah haluan.. Jubir HTI memberi komentar sangat tidak jelas dalam acara FKSK kemarin: “HTI tidak akan mengerahkan suara anggotanya ke pada satu partai politik, tapi HTI akan memberikan guidance mengenai partai politik mana yang sebaiknya dipilih”

    Jadi, HTI memang sudah berubah. Sadarkan tuh jubir HTI jika Anda benar2 aktivis dakwah yg tidak taklid buta dan menjadi muqolid bermasalah.

    Dakwah memang butuh pengorbanan, tapi pengorbanan pun harus jelas, jangan sampe akhirnya kita yang dikorbankan untuk kepentingan segelintir orang yang menguasa jamaah dakwah ini.

    Abdul–


  79. dina Salasa, 22 Juli 2008 pukul 11:04 Duha

    Untuk yang pro dengan tulisan Ustad Oleh Solihin, dan yang kontra.. jadikan sebagai ajang pembelajaran dakwah.

    Menurut ane tak ada yang perlu diperdebatkan dengan perdebatan yang panas. Karena memang faktanya yang disodorkan Kang Oleh itu benar-benar ada.

    Yang perlu adalah kesadaran kita, mau menerima kritik atau tidak. Mau menerima informasi berbeda atau tidak.

    Teruskan perjuanganmu Ustad!


  80. dina Salasa, 22 Juli 2008 pukul 11:17 Mina

    Gara-gara diekpos oleh pengurus ttg adanya blog yang katanya menikam jamaah dakwah, akhirnya saya bisa mengetahui masalahnya langsung lewat tulisan Mas Oleh ini. Tidak seperti yang diinformasikan bahwa itu sangat bermasalah. Menurut saya biasa-biasa saja dan saya alhamdulillah bisa mengerti jalan pikiran Mas Oleh.

    Bagus Mas, karena saya juga termasuk yang tidak setuju dengan pembelian gedung mewah tsb. Urgensinya tidak ada, esensinya juga minim.

    Terima kasih
    Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah SWT dalam perjuangan dakwah dan tidak berdakwah yang cenderung memberatkan aktivisnya untuk hal2 yang sebenarnya tidak harus menerapkan kebijakan yang tidak perlu…


  81. dina Rebo, 23 Juli 2008 pukul 13:27 Muh.Toni

    nuju lieur ngabandungan nasib kaum muslim, ayeuna lieur ngabandungan kang oleh… hoyongna naon atuh kang oleh teh??


  82. dina Rebo, 23 Juli 2008 pukul 14:49 akumaukauapaadanya

    kang oleh, anda cuma jujur….
    persilahkan…
    teruskan perjuanganmu…


  83. dina Rebo, 23 Juli 2008 pukul 22:28 irfan

    untuk kang abu fikri

    saya mungkin aga berlebih-lebihan, tapi saya jadi ingin tahu kang oleh ini tujuan kang oleh nulis tulisan ini apa? dan ingin berakhir seperti apa perkara ini?

    coba lihat komen2 yang ada ada yang proporsional ada yang tidak. saya tidak tahu apakah itu dari anggota jamaah tersebut atau bukan. tapi baik anggota jamaah tersebut atau bukan, mengemukakan hal tersebut di publik saya rasa tidak baik bagi kesehatan jamaah itu. apa lagi kang abu fikri bilang ini masalah publik. apa yang akang2 ingin masyarakat persepsikan kepada HTI?

    Masyarakat umum tidak akan berubah persepsinya dengan masalah seperti ini, karena masih wajar sebuah organisasi pengen beli gedung tapi tidak punya cukup uang, kemudian menarik iuran dari anggotanya, banyak organisasi di Indonesia yang melakukan hal seperti ini dan ini bukan suatu aib. Justru sepertinya beberapa orang seperti paranoid ketika membaca tulisan kang oleh, entah kenapa.

    Yang perlu dicermati adalah: keputusan yang mengharus-kan membeli gedung seperti dalam tulisan kang oleh, mekanisme pengumpulan dana dilapangan (memang sudah terjadi perubahan yang semula wajib menjadi sunah) dan berbagai ekses lain dari keputusan ini, seperti kalo tidak bayar dianggap tidak komit ke organisasi dll.

    Salah satu komponen pembentuk persepsi dalam masyarakat adalah fakta, kalo fakta disajikan dengan baik insyAlloh persepsi-pun berubah. contoh Umar R.A, bagaimana persepsi masyarakat sebelum beliau masuk islam bandingkan dengan sesudah masuk islam. Dalam dakwah sebenernya tidak perlu takut dengan namanya persepsi, bila lisan dan perbuatan selaras

    permintaan saya tidak berubah tulisan ini dihapus atau setidaknya komennya dilock karena saya pikir komen yang ada bukanlah diskusi tapi kalau debat kusir ya menyalahkan jamaah dakwah tersebut. coba kang jujur apa komen yang ada itu diskusi?

    dan kalau pun ini akang anggap diskusi apakah benar-benar setiap orang akan menerima argumentasi sehingga masing2 pihak akan mengubah sikapnya? apa tujuan tulisan ini untuk memberi pelajaran kepada setiap orang untuk berdiskusi secara argumentatif? semuanya itu pelampiasan emosi.

    yang paling penting dari diskusi itu adalah jujur pada diri sendiri. apapun yang orang lain katakan tidak akan diterima walau itu benar bila tidak mulai untuk jujur.

    maaf, bahasa saya memang tidak begitu baik.

    Saya rasa kita masih dalam diskusi, karena saya sendiri memberikan beberapa masukan ke organisasi, sebagai bagian dari diskusi ini (lihat posting saya sebelumnya), diterima apa tidak bukan wewenang saya, tapi merupakan hak setiap orang untuk menyampaikan pendapatnya, termasuk seperti yang anda lakukan.

    Bila ada orang-orang yang menyampaikan pendapatnya dengan nada keras dan tidak cocok dengan adab kita, ya itulah kenyataan, tidak bisa kita mengharapkan semua orang akan sesuai dengan adab masing-masing, kita harus terbiasa dengan hal semacam ini. Dilain sisi tidak ada larangan memberikan kritik melalui jalur umum dalam islam, justru sangat banyak riwayat dimana para sohabat mengkritik amirul mukminin, termasuk bagaimana Alloh mengkritik nabinya SAW, dalam surat abbasa (80). Sebuah kritik terbuka dan surat tsb dihapalkan oleh banyak orang.

    Bagian manusia adalah usaha, penentu final selalu kembali kepada Alloh SWT, diskusi ini tidak menjanjikan bahwa apa yang kita diskusikan akan berbuah, tapi kalau diam saja tanpa melakukan apa-apa justru lebih buruk lagi. Karena kita mengetahui sesuatu yang tidak benar namun kita diam saja, bagaimana kita mempertanggung jawabkan hal ini nanti?

    Bagaimana saya mengidentifikasi bila hal ini tidak benar? saya teringat ustadz Taqiyyudin An Nabahani dalam kitab Nizhamul Islam, menyatakan bahwa pemecahan yang benar yaitu pemecahan yang sesuai dengan:
    - Fitrah Manusia
    - Memuaskan Akal dan
    - Memberikan ketenangan Hati
    * silahkan cari sendiri di kitab tsb *

    Ingin memiliki gedung yang representatif, sesuai dengan fitroh dan memuaskan akal, tapi tidak bisa memberikan ketenangan hati bagi saya, karena saya melihat kenyataan hal tersebut dilakukan beberapa saat setelah harga2 naik, kondisi masyarakat sedang susah, sementara dilain sisi tidak ada keharusan yang mutlak untuk membeli gedung.

    Karena saya jujur dengan diri saya, maka saya ikutan nimbrung dalam diskusi ini, meluangkan waktu, tenaga dan pikiran, saya rasa hal yang sama dialami juga oleh temen-temen lain dalam diskusi ini, kalo saya tidak jujur dengan diri saya sendiri, ngapain saya susah-susah, ahhh masa bodoh saja lah, pokoknya saya bayar, tidak dimarahi pimpinan, dan image saya dalam organisasi tetap bagus. *Beres*

    coba antum baca kisah abu hanifah, yang dipenjara hingga meninggal oleh Kholifah karena menolak kedudukan sebagai qadi, coba antum renungkan sendiri pelan2, kenapa kira2 orang sekelas abu hanifah tidak perduli terhadap persepsi masyarakat dan tidak lari dari hukuman kholifah.

    Kalo karena tulisan saya disini para pimpinan organisasi menjadi marah, silahkan hukum saya, saya tidak akan lari, saya bukan kang oleh, saya seorang teman yang diminta kang oleh untuk ikutan berdiskusi, saya bertanggung jawab terhadap semua tulisan saya.

    Abu Fikri


  84. dina Kemis, 24 Juli 2008 pukul 10:18 temanya teman

    Aku sering mengkrtitik organisasi dakwah tersebut melalui jalur yg seharusnya.tapi aku gak pernah dianggap. yg ada aku disingkirin. udah 5 tahun aku ngaji di organisasi dakwah itu, aku selalu mengkritik hal yg sama di beberapa daerah yg pernah aku mukim. tapi jawabnya sama aja(hanya sedikit yg mendukung itupun dari belakang).aku pernah bertanya sama musrif aku, dia tau hal itu salah tapi dia diam saja. bahkan ke mashul dia tau itu salah tetapi jawaan aku gak pernah ditanggapi.
    jadi aku mengkriteriakan orang2 yg di organisasi dakwah tersebut:

    1. ada orang yg selama ini taklid buta.
    2. ada orang yg tau kesalahan tapi dia diam.
    3. ada orang yg tau kesalahan dan dia jalankan kewajiban dia untuk amar maruf nahyi mingkar untuk memperbaiki jamaah tersebut.

    hi orang atasan, perdengarkanlah kami.jgn kunci kami!!!!! kami mencintai gerakan ini(bukan asobiyah), kami tidak mau gerakan ini rusak!!!!!!

    ada idari aku dilarang berkomunikasi dengan orang yg kena hukuman. peduli amat dengan hal itu!!

    tetap lah kritis karena kritis itu bagi orang yg berpikir. jangan mau jadi BATU apalagi ROBOT!!!!!!

    semoga aku masih dewasa.


  85. dina Kemis, 24 Juli 2008 pukul 20:30 pelesiran8

    Katanya artikel ini diarahkan ke publik biar publik tahu dan disodori fakta. Berarti biar ga jadi fitnah, faktanya jangan setengah-setengah lah. Sebagaimana media tidak ada yang benar-benar netral.. pasti ada keberpihakan… nah, saya berhusnudzan seorang penulis muslim akan mempublikasikan sesuatu atas dasar keberpihakan kepada Islam dan bukan yang lain.

    Mengenai jawaban terhadap komen sy terdahulu.:
    Saya setuju bahwa pasti perlu yang namanya pertanggungjawaban keuangan dalam pengeluaran tersebut. Tapi saya menilai bagi seorang anggota organisasi yang paham betul seluk beluk fikrah dan toriqah org tersebut, pasti tidak memerlukan penjelasan lebih jauh tentang urgensi pembelian gedung itu.

    Yee, ini malah woro-woro ke orang awam “ya kan? bukan kah…? iya kan? betul kan?” atau semacamnya. Para penghuni blog ini tidak diragukan lagi kemampuan retorika dan bersilat kata2. Tapi ketika menyentuh substansi, menggelitik pemahaman saya pun tidak. Silahkan sebut saja muqallid buta. Wassalam. :)

    Bagi saya, saya tidak memerlukan atau tidak membutuhkan pembaca tulisan saya atau diskusi di sini ikut dengan pikiran saya atau tidak. Itu hak Anda semua. Udah dewasa kok. Saya tidak bisa memaksa seseorang utk ikut dengan pikiran saya. Yang saya inginkan, hanya sebatas menyampaikan fakta. Terserah apakah fakta itu disikapi dengan rasa penasaran lalu bertanya kepada “atasannya” atau disikapi sebagai “provokasi”, silakan saja. Nggak masalah.

    Pokoknya, saya hanya memberikan informasi dan kondisi yang ada apa adanya. Fakta yang saya sampaikan semoga menjadi bahan informasi saja. Jangan ditelan mentah2. Saya hanya siapa pun yang membaca tulisan saya dan dialog2 di sini mengerti persoalan yang sedang terjadi. Ok? :-)

    Salam,
    O. Solihin


  86. dina Jumaah, 25 Juli 2008 pukul 00:01 realylife

    semahal perjuangan semoga semahal nyang didapat
    amin


  87. dina Jumaah, 25 Juli 2008 pukul 06:08 Hexxer alias Tono

    Tuk menghilangkan segala fitnah thd orang yang bernama Hexxer (kalo ada), untuk postingan saya selanjutnya saya akan memakai nama aseli saya Tono (Demi Allah ini nama aseli saya).
    Sedikit gambaran hingga saat ini saya masih terdaftar sebagai pengurus aktif di organisasi tsb, yang juga mengalami sendiri kejadian2 dan musibah2 yang banyak dikeluhkan teman2 diatas. semua laporan saya dengan enteng dijawab dengan “tidak perlu dipertanyakan” atau “tidak perlu dijawab”. semua ini padahal merupakan bagian dari upaya saya tuk meluruskan gerak organisasi ini, tapi apa daya semua masalah dan kemaksiatan ditutupi dan diberlakukan tebang pilih, yang ditidak disukai dan kritis pasti langsung kena sangsi, tapi yang dianggap loyal hingga hari ini masih bercokol didalam.
    Saya melihat dengan mata kepala sendiri kerusakan (hingga pelanggaran hukum syara berat) yang dibuat oleh “teman2″ yang nyatanya hingga saat ini orang2 tsb masih ada didalam, bahkan dilindungi oleh banyak kepentingan. Saya bisa saja sebutkan satu persatu siapa orangnya dan apa kesalahanya, tapi saya juga masih memberikan kesempatan kepada “kawan2″ seperjuangan saya tsb untuk bertobat dan tidak mengulangi kembali kesalahannya yang hingga saat ini berulang2 dilakukan. masalah laporan keuangan juga saya memiliki data yang cukup lengkap karena sebagai seorang pengurus saya memang memiliki data tersebut. justru karena saya tahu data tersebut maka saya mencoba untuk menyadarkan anda2 semua tuk ikut mengawasi dan memandu aliran dana yang ada. juga kepada pengurus yang lain saya sangat berharap anda semua mau membuka mata, hati, dan pikiran tuk melihat apa yang terjadi didepan mata anda. saya sudah muak dan benar2 jijik dengan segala kemaksiatan dan fitnah yang terus terjadi pada organisasi yang saya cintai ini, sehingga semua cara akan saya upayakan untuk membersihkan organisasi ini dari orang2 pelaku maksiat tsb.
    Posisi saya dalam organisasi ini juga sebagai pelajaran kepada “teman2″ kalo organisasi ini dengan sangat2 mudah disuspi intelejen, atau bahkan intelejen tsb memang sudah didalam atau bahkan mungkin ada yang sudah menduduki jabatan tertentu.
    SEMOGA SEMUA “TEMAN2″ SAYA SADAR
    Amin

    Terima kasih Ust Tono atas informasinya yang bisa saya jadikan pegangan. Insya Allah saya percaya sama antum. Semoga ada manfaatnya dan membuat para pengurus HTI pusat sadar dengan sgala kesalahannya. Kita sama2 tahulah apa saja kesalahan mereka. Tidak perlu diungkap di sini. Suatu saat umat pasti tahu kok. Mudah2an ini menyadarkan mereka supaya kembali memperlakukan gerakan dakwah ini dengan benar sesuai thariqah yang tlh ditetapkan.
    BTW, terima kasih atas laporan pembicaraan salah seorang dari DPP yg menyatakan “dia akan jadikan istrinya sebagai senjata” :-) benar kan? ini harus diwaspadai. Karena sudah mengarah kepada perbuatan yang membahayakan gerakan. Harus dibersihkan dari orang2 seprrti itu. Dia bisa melakukan pembunuhan karakter kepada saya dan kawan-kawan, tapi insya Allah tak akan bertahan lama. Suatu saat akan terbongkar dengan amat memalukan! (semoga dia dan semua teman2nya sadar sebelum segalanya terlambat).

    Salam,
    O. Solihin


  88. dina Jumaah, 25 Juli 2008 pukul 11:01 BREWOK!

    Dakwah? Mahal biasa Mas. Semoga saja hasilnya juga banyak manfaatnya.

    Tapi, kita juga harus berpikir bahwa dakwah juga harus penuh perhitungan. Saya masih berpikir, apakah harus membeli gedung semahal itu? Mungkin akan dibangun apartemen atau swalayan barangkali ya? Jadi usaha jamaah dakwah tsb utk dapatkan penghasilan tambahan.. :p


  89. dina Jumaah, 25 Juli 2008 pukul 11:12 rhoeo_discolor

    waaah, tnyata rame sekali yang nanggepin ini. kebanyakan mm internal ya yang discuss, y iyalah, karena mm yang berkepentingan org2 internal. sabar ya semuanya….manusia itu memang paket lengkap termasuk plus minusnya, termasuk penguru langitan or orang awam spt saya :) . jadi saya cukup melihat aja, ga perlu beropiini macem2, karena mm klu saya ga terlalu tau sesutau lbh baik diam kan :) .
    terima kasih kang Oleh dah m’buka wacana teman2, untuk lebih berpikir terbuka dan kritis. tapi memang banyak sekali ibu2 yang memang ga mau repot dg perdebatan spt ini. yang penting mau mengkaji islam yang sebenarnya. dan saya masih percaya banyak sekali orang benar dan ikhlas yang berjuang benar2 untuk islam. tapi tentu saja saya tdk menganjurkan untuk ‘menutup mata’.


  90. dina Jumaah, 25 Juli 2008 pukul 14:48 muriza

    Ass…

    Saya kira posting ini lebih baik ditutup saja… Kalau pun ada yang merasa ’sakit’ perasaan janganlah dibawa organisasi. orang atau manusia yang bijak dan cinta umat lebih baik menutup keburukan orang dan sudahlah.

    Allah SWT saja akan menutup aib atau kesalahan seseorang, masa kita manusia ‘mahluq-Nya’ terus-terusan dibawa ke emosional.

    Kang… meskipun saya tidak dekat, tapi saya tahu apa yang ada dipikiran akang….

    Apakah akan lebih baik dengan terus-terusan seperti ini? Biarlah Allah SWT yang akan membalas siapa yang berdusta dan siapa yang ikhlas untuk agama-Nya.

    Wass…

    Syukron,

    Melihat postingan ukhti (kalo engga salah) sebenernya ukhti juga mengidentifikasi ada hal yang tidak sesuai dan tidak pas dalam kondisi organisasi saat ini, pada prinsipnya anda sependapat dengan saya.

    Amar makruf nahi mungkar merupakan salah satu ciri yang hanya dijumpai pada kaum Muslim, tidak ada pada umat-umat lain. Bahkan keistimewaan umat Islam justru dicirikan dengan adanya sifat amar makruf nahi mungkar. Banyak ayat yang menyebut tentang amar makruf nahi mungkar dan menggandengkannya dengan sifat-sifat kaum Muslim. (Lihat: QS Ali Imran [3]: 110).

    Taghyîr al-munkar (mengubah kemungkaran) adalah kewajiban atas setiap Muslim. Hanya saja, caranya telah ditentukan oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda:

    Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya; jika tidak mampu, hendaklah dengan hatinya. Akan tetapi, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman. (HR Muslim).

    Dari hadist diatas jelas, bahwa terdapat proses dalam merubah kemungkaran, proses ini tidak boleh diloncat-loncati atau dipilih sesuai dengan kehendak masing-masing, jadi bukan kemudian langsung otomatis berdoa dalam hati ketika melihat kemungkaran, kecuali memang iman orang tersebut, selemah-lemahnya iman. apakah ukhti mau disebut sebagai orang yang imannya paling lemah? Coba ukhti renungkan Hadist berikut:

    Demi jiwaku yang ada dalam genggamannya, kalian memerintahkah kemakrufan dan mencegah kemungkaran atau Allah akan menimpakan azab atas kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, lalu doa kalian tidak akan dikabulkan. (HR at-Tirmidzi).

    abu fikri


  91. dina Jumaah, 25 Juli 2008 pukul 16:14 ady_khary

    assalamu’alaikum wr. wb.
    afwan ustadz setau saya ga ada yang maksa harus nyumbang sebesar nominal tertentu, mau berapa aja boleh bahkan jika tidak punyapun ga apa-apa (ga ada sangsi) jadi masalahnya apa ya?

    saya setuju jika dalam hal keuangan harus transparan karena masalah yang satu ini sangat sensitif.

    apapun permasalahannya semoga menambah semangat kita dalam memperjuangkan penerapan Syariah dan Khilafah di Dunia ini.
    Keep Fight for Islam…

    o iya saya lupa ngutip opini kang Oleh dikit
    “Mau dakwah kok mahal?” Jangan-jangan seperti kawan-kawan di NII yang harus dipaksa “berinfak” sejumlah uang demi membiayai dakwah.

    apakah kang oleh yakin semua NII memaksa umatnya untuk berinfak?
    setau saya ada beberapa NII yang tidak memaksakan umatnya untuk berinfak.

    semoga kita senantiasa diberikan hidayah oleh Allah SWT dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Amin…

    afwan jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati saudaraku ust. Oleh.
    wassalamu’alaikum wr.wb.


  92. dina Jumaah, 25 Juli 2008 pukul 17:10 KIkan

    Salam Ustad Solihin….

    Ana salut sama ustad. Jujur. Ustad termasuk org langka. Krna saat ini sangat sulit mencari orng kritis spt ustad.

    Sebelum ada tulisan ini, kami harus berkomitmen utk bayar gedung. Tapi stelah ramai di web ustad ttg masalah ini, pengurus kami jadi berubah pikiran, sekarang bebas saja.

    Mungkin ini pengaruh tulisan ustad.. terima kasih ya ustad..

    slm utk keluarga dan smoga ustad tetap istiqamah dlm dkwh mski menurut sy ustad termasuk yg difitnah krn pengurus cenderung menyudutkan ustad…

    sabar ya ustad..


  93. dina Saptu, 26 Juli 2008 pukul 09:21 Punya AIB

    Saya orang JATIM. Saya sangat setuju dengan komentar no 23 nadisa.
    Hizbut Tahrir tidak mengenal partai dalam partai. Sikap O Solihin itu bisa mengarah pada berdirinya cikal bakal partai dalam partai. Kalau tidak, bisa juga dimanfaatkan orang untuk melakukan tujuan berpartai dalam partai. Kecuali kalau dia segera memadamkan api baqo’nya yang berkobar-kobar. Memang saya juga pernah kena sanksi bahkan 2 kali. Saat itu Baqo’ saya naik. Dunia menjadi sempit. Tapi saya jadi ingat memang ada pelanggaran yang saya buat. Pasti bang O juga demikian. Minimal menurut pengurus HTI. Pasti karena prosedur sudah jelas. Jadi sabar sedikit bang O. Kritis ya kritis tapi pelanggaran ya pelanggaran. Kalau mau adil yaa sama-sama jalan lah.

    Saya yakin sepenuhnya proses yang terjadi karena pengurus HTI sangat konsisten dengan semua ketentuan atasanya. Gak percaya? BUKTIKAN! bang O Solihin!

    Nih Cerita….
    Belum lama ini (bulan Juli 08) saya konfrontasi dengan seorang aktivis Islam selain HTI. Diantara dia dan saya yakin sama-sama punya aib karena peristiwa itu. TAPI bang O.. saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak memberitahukan aib itu pada orang lain.

    Ingat bang O. Manusia itu dalam rentang penggalan-penggalan sejarah pasti akan menerapkan logika lengkap, bolak-balik, atas-bawah, kiri-kanan dst. Tidak mungkin manusia menyalahkan sepihak. Kayak Bang O ini seolah tidak punya salah, yang salah hanya pengurus. Pasti manusia akan tanya kalau Bang O lewat blog ini demikian tega. Pasti manusia akan mempertanyakan bang O sendiri alias menepuk air di dulang mengenai mukanya sendiri.

    Terima Kasih Bang O…


  94. dina Saptu, 26 Juli 2008 pukul 18:01 Indrosmart

    Luar biasa ust oleh ini, saya kagum denganmu, saya terinspirasi dech pokoknya. Kita jaga amar ma’ruf nahi munkar sampai kiamat. Lihat aja, aku sampai mengelinkmu ust, ini saya http://subanindro.blogspot.com. Af1, tetap semangat untuk kita semua. Allahu Akbar!


  95. dina Saptu, 26 Juli 2008 pukul 20:42 Putri Solo

    Komentarnya bagus2. Baik yg pro maupun yg kontra thd tlsn ini.

    Tapi aku pnya catatan: koq napa sih yg kontra dg Kang Mas Oleh ini selalu nyerang pribadinya? Apa memang sudah merasa tersinggung bahwa kenyataannya diungkap Kang Mas Oleh?

    Ku penasaran aj sich… :-)

    Tuk Kang Mas Oleh.. terima kasih sudah menyadarkan kami semua, bahwa ternyata masih ada orang yang berani dan kritis di tengah makin takutnya para aktivis dakwah HTI thdp kenyataan dakwah di masyarakat dan di dlm jamaahnya sendiri…


  96. dina Saptu, 26 Juli 2008 pukul 20:47 Intel Densus 69

    OMGPDA……. (Oh My God, Please Dech Ah!!!)

    Woy…. hari gini masih pengen kantor harga 6 M? Kantor apaan tuh? Ga elegan banget. Ga bonafid! Kantro!
    Ya yang realistis dikit gitu cuy. Masa sekelas ormas yang menasional bahkan katanya internasional beli kantor murahan gitu? Malu dong! Gue aja yang ngintelin elu pade jadi tengsin nih. MAsa gue dah berkoar-koar ke agen2 Mossad, CIA, SAS, dll klo gue ngintelin gerakan yang punya kantor tapi gubug. Mo dikemanain muka gue jadinya? Harga diri gue sebagai taruna intelejen terbaik angkatan 13 kagak ada cuy!

    Nih… gue bilangin! Kalau elu pade pengen kantor yang mahalan dikit sih gampang aja. Lu pade singkiran aja tuh orang2 kayak Oleh cs. Biar mereka kagak usah banyak bicara lagi. Gue n temen2 pusing kalau orang2 kayak gitu masih ada. Bikin kerjaan ngintelin n nyusup ke tempat kalian kagak beres2. Bisa2 gue tua di jalan n mati lagi ngintipin orang halaqah. ihhhhh…… Nggak banget dech.

    Kalau kalian sukses dengan apa yang gue pengen tar gue bisa minta rekomendasi deh ke Komandan gue. JAngankan di daerah Kuningan, lu semua pengen kantor di tengah2 Bunderan HI pun gue jabanin deh. Biar klo demo kagak usah jauh2 jalan dari Istiqlal. Langsung aja keluar dari kantor elu. Beres dech. Tau ga??? Kaki gue Varises nih klo musti ngikutin kalian jalan2 gitu. Mana ambeien belum sembuh pula. JAdinya jalan gue ngangkang gitu. Kayak orang disunat aja. MAsa dah gede gini dikira orang baru disunat??? Orang segede n setampan gue kan pantesanya dikira habis dari Mak Erot. Eh Mak Erot dan innalilahi yah? Waduhhhh…….

    Ngemeng2 Mak Erot, posisi doski sekarang lagi kosong tuh. Kali aja ada yang berminat jadi pengganti. Lumayan loh buat ongkos beli bangunan. Paling murah ajah kan sekali Check In di Princess Erot tu sekitar 100rb. Perhari bisa pe ratusan pasien. Anggap 200 orang/hari. Total sehari kan jadi 20 juta. Sebulan jadi 600juta. Lah setahun jadinya lebih dari 6 milyar tuh!!!! Lah kok gue intel malah itung-itungan duit sih??? Malah ngasih tau jurus pula. Nih gara2 Oleh cs nih. Bikin runyam n gue keblinger.

    YA udah gini ajah deh, kalau tetep ga mau ngikutin kemauan kami, ya coba pake cara Princess Erots tadi. Tapi kalau bersedia, tar gue minta ketebele ke Komandan buat bikin kantor kalian ada tepat di Bunderan HI.

    Terakhir….. buat Oleh cs; lu semua jgn ganggu operasi gue! MAsih untung gue ga membumiratakan elu pade. PAdahal buat gue gampang. Tinggal kasih ajah arsenik di cireng yang elu suka makan (Ket: menurut data intelejen, Oleh suka banget makan cireng di depan MAsjid Alumni). Kekritisan, keberanian, keteguhan, kenekatan elu semua memegang prinsip bikin kita2 ketar-ketir. Akhirnya gue keluarin jurus biar temen2 elu sendiri yang menendang, mengucilkan & memarjinalkan elu. Emang enak ga boleh dicolek2 ma temen seranjang. Aduh maaaaaa…..

    -Salah satu anggota Densus 69 yang ditanam n selalu mengawasi gerak elu-elu pade-

    Terima kasih atas sindirannya kepada “bos2″ di atas sana :-)
    Pinter juga bikin cerita ya. Kita jalan bareng aja. Keluarkan semua informasi yang ada, mungkin harus dengan cara ini kita memulai revolusi :-)

    Salam,
    O. Solihin


  97. dina Ahad, 27 Juli 2008 pukul 08:36 hmcahyo

    halah kok kang sidig jawi bilang sudahlah…. mana tuh dalil syar’i-nya kang… masa masalah gini hujahnya sudalah :( tunjukkan juga garang kalo urusan ginian !

    begitulah… fakta yang terjadi… semakin membuat miris saja bagi kita semua yang masih cinta pada dakwah ini. Semoga tidak banyak yang “menderita miskin keberanian dan kepedulian” meski sangat kaya akan tsaqafah.

    Salam,
    O. Solihin


  98. dina Ahad, 27 Juli 2008 pukul 08:39 hmcahyo

    ternyata SUSAH MEMBEDAKAN MENYERANG PRIBADI DAN MENYERANG PENDAPAT

    aha… mana tuh yang didengung-dengungkan tidak menyerang pribadi…. tapi pemikirann….

    OOO..oo kamu ketahuan… :)

    Kang OLeh…

    Keep fight!

    Ya, begitulah… :-)
    Inilah fenomena menyedihkan tentang kualitas pemikiran syabab HTI yg seperti ini (mudah2an yg seperti ini tidak banyak).
    Ok. Jazakallah, kita memang harus fight dalam dakwah, dan istiqamah dalam kebenaran Islam.

    Salam,
    O. Solihin


  99. dina Salasa, 29 Juli 2008 pukul 15:19 alwindra

    kpD utd Hm cahyo d semuanya kita harus lihat dibalik alasan terjadi mereka mengungkapkan hal tersebut? coba dilihat dari atas komennya tentu ada alasannya. saya mo naya bagaimana Sebuah tulisan itu bisa diterima khalayak selain harus argumentatif, objektif dan bukti otentik dan tidak hanya info segelintir orang yangbelum tentu kebenarannya seperti anda ungkapkan tentang angka yang salah dan selain itu kang Solihin ditilik dari tulisan ini tentu tidak tahu seberapa usaha mereka mencari gedung yang representatif dan murah dan tentu mereka telah berpikir ulang dalam ambil keputusan tersebut yang diambil bulan juni tersebut. kang solihin hanya tampilin pendapat antum dan teman-teman sendiri tanpa mempunya INFO YANG LENGKAP tentang masalah tersebut. kEMUDIAN melakukan praduga, prasangka dan TIDAK OBJEKTIF ATAS FAKTA YANG TERJADI. so KENAPA DAN MENGAPA INI TERJADI?. TO Ust Hm Cahyo jangan dululah gunakan emosi jika anda menulis karena hal itu berbahaya. BUKANKAH TELAH DIAJARKAN BAHWA DALAM MENGAMBIL TINDAKAN HARUS BERPIKIR APAKAH INI DIBENARKAN OLEH SYARA`? sehingga kita bisa berpikir objektif dan tidak marah ato berpihak dulu. BUT MARI CARI INFO SELENGKAP-LENGKAPNYA SEHINGGA TINDAKAN YANG DIAMBIL PAS. Bagi yang PEDAS KOMEN MEREKA TENTU MEREKA MEMPUNYAI INFO ATAS PERISTIWA TERSEBUT SEHINGGA ADA NADA KEKESALAN ATAS TULISAN TERSEBUT.


  100. dina Rebo, 30 Juli 2008 pukul 13:22 Tono

    Alhamdullilah ternyata banyak sekali teman2 dan murid2 yang yang akhirnya sadar juga dengan kondisi seperti ini. bagi anda yang tidak setuju dengan tulisan Kang Oleh sebaiknya anda coba mengontak beliau secara pribadi (persetan dengan takmim tidak boleh menghubungi beliau, karena tabayyun adalah kewajiban dari Allah maka tidak ada perintah satu manusiapun yang bisa menghapusnya atau mendahuluinya) dan coba anda dengarkan informasi dari beliau secara lengkap dan utuh tentang kondisi yang terjadi di dalam gerakan ini, kalo anda suka silahkan anda terima dan jika tidak silahkan tinggalkan (sperti ucapan Rasul dan para sahabat).
    Saya sendiri karena masih berada dilingkaran kekuasaan dan juga saya punya akses yang luas thd berbagai laporan pembicaraan telepon, HP (termasuk ketakutan para pengurus terhadap gerak Kang Oleh), email, dan data2 penting (seperti data legalisasi HTI=ormas) maka sebenarnya lebih dari cukup bagi saya untuk menilai bahwa kekacauan sudah meluas. bahkan terakhir ada pembicaraan yang mengkhawatirkan aib2 lainnya akan terbongkar. ya itu semua sunatuLLah bahwa sebaik apa pun orang menutupi kesalahan dan kebohongan pada akhirnya kebenaran akan menang.
    Allahu Akbar !!!


  101. dina Rebo, 30 Juli 2008 pukul 15:24 hemhem

    posisi kang oleh mirip ane waktu dulu dikasi proyek dari atasan, rekan-rekan akhwat lantas meminta kejelasan, secara ane juga blm tw lengkapnya acara n dampaknya bakalan gimana. sempet muncul juga baqonya, tapi insyaallah mungkin itu jalan dari allah bahwa ada yang namanya ketaatan kritis, toh kita semua manusia.. hmm, btw kang, seandainya boleh berbagi (via imel/ym aj) kira2 fakta ap aj pernah terjadi (buat jadi pelajaran n bahan diskusi ane aj)… moga2 lahir lagi abu hanifah lainnya di muka bumi.. kyakya…

    –salah satu penghuni sunkencourt–


  102. dina Kemis, 31 Juli 2008 pukul 00:54 Mr 1011

    Assalamu’alaykum wr.wb

    Semakin banyak dan berat suatu amal dilakukan dengan ikhlas maka balasan Allah pasti lebih besar man. Kalau 300.000 tapi manfaatnya untuk dakwah besar, tak kira itu kecil blom lagi kita suruh serahkan nyawa dalam jihaad

    Kang oleh kalau ngaku sebagai penegak ideologi Islam mestinya kudu beradab secara Islam biar Ilmunya manfaat, setahuku Ustadz-Ustadz HTI itukan ustadz-ustadz ente yang jadi perantara Allah SWT berikan kesadaran itu kepada-MU. Wah ini kalau orang pondokan tahu, bisa dikatain kuwalat neeh.

    Kalau kritik langsung ke yang dituju, bukan obral kpd orang-orang yang nggak tahu persoalannya, karena ini yang bisa bikin keutuhan ummat rusak.

    Wah… ini jadi PR bagi semua Ustadz-Ustadz HTI untuk bersihkan piring-piring kotor dalam dapurnya.

    Aku berdo’a semoga Allah bersihkan Semua Jama’ah-Jama’ah Islam yang didirikan diatas keikhlasan untuk tegakkan Islam dari orang-orang yang sakit hati dan sekedar cari sensasi dengan tikam sudara sendiri.

    Amiiin

    Wassalam


  103. dina Kemis, 31 Juli 2008 pukul 15:22 muriza

    Ass…

    Kang,… kenapa kok masih saja dibuka diskusi seperti ini….??!!!!???

    Sejujurnya, saya menjadi bertanya dan berfikir ulang. kenapa terus berpendapat yang tidak kondusif untuk dakwah teman2 yang masih ghiroh???

    Pendapat kang oleh ini sangat kritis dan persuasif. Tetapi lebih baik persuasifnya untuk memberikan semangat bagaimana memberikan semangat kepada teman2 yang masih ghrah dan aktif supaya terus berjuang meskipun dengan banyak pengorbanan??? salah satunya dengan menginfakkan sebagian kecil hartanya untuk dakwah???

    Apakah salah??? Kalaupun tidak tepat, tetapi belum tentu salah dan tidak sesuai dengan hukum syara. Bahkan sahabat Abdurahman bin Auf selalu menginfakkan hartanya untuk dakwah, Bilal yang tidak punya apa2 hanya modal semangat kalo pun Bilal punya uang yang didapatkan dari Baitul Mall (karena termasuk fakir, miskin bahkan muallaf) dia selalu menginfakkan lagi untuk dakwah. bahkan jiwa raganya pun diberikan dan darahnya siap ditumpahkan.

    Kalo kita menggunakan logika manusia hal ini tidak logis, tapi bagi seorang pengemban dakwah uttk memperjuangkan berdirinya keagungan Islam ‘khilafah’ hal ini sangat logis dan justru merupakan perbuatan mulya, baik dia kaya atau pun miskin. Bagi si kaya ‘yang mampu dan banyak uang’ tidak masalah bahkan lebih, tetapi bagi si miskin bahkan bisa jadi gak bisa. Oleh karena itu, hal inilah hebatnya persaudaraan Islam. Si kaya bisa subsidi yang kurang mampu bahkan kekurangan karena si kaya dapat membayar 1000X lipat = untuk 1000 anggota lain yang kurang atau tidak bisa bayar. Apakah ini bukan lahan untuk beribadah beripat-lipat bagi siapa pun yang mau beramal dengan ikhlas????

    Coba renungkan oleh semuanya??????, khususnya buat kang Oleh dan Abu Fikri (afwan nyebut Nama antum berdua).

    Jangan terus-terusan seperti ini, debat yang tidak menghasilkan kemaslahatan berasama baik bagi yang sakit hati maupun bagi si yang menyakiti. Bahkan koment2 yang sangat kontraproduktif bahkan menejrumuskan dan menyesatkan kepada semua pihak yang membaca blog ini, baik orang dalam org tersebut maupun mantan atau bahkan orang luar sekalipun.

    Kang Oleh…
    Apakah kang oleh yakin dan siap mempertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT di alam mahsyar kalo persepsi, anggapan, dan pendapat (mudah-mudahan tidak diiringi emosi dan rasa kesal bahkan jengkel dengan fakta (belum jelas)? Semoga saja benar, dan mendapatkan jasa (pahala) dari Allah SWT.

    tetapi, apabila sebaliknya…. balasan dari Allah SWT cepat atau lambat akan diberikan dan diderakan kepada kita….
    Semoga….

    Wass…

    Syukron,
    muriza


  104. dina Kemis, 31 Juli 2008 pukul 15:29 Surima

    ternyata masih banyak yang membela DPP HTI.
    :-)

    Kang Oleh, terus berjuang!!


  105. dina Kemis, 31 Juli 2008 pukul 15:34 muriza

    Sekali lagi….

    Semoga Allah SWT membukakan hidayah-Nya kepada kita semua, mengistiqomahkan untuk dakwah Islam untuk meraih Ridha-Nya, dan menjauhkan diri dari sikap hasud, iri, dengki dan kibr.

    Saudara-saudaraku…
    Allah SWT tidak akan salah dalam mengadili perbuatan salah dan benar kita kelak di alam Mahsyar….

    Subahnallah…
    Subhanallah…

    Astaghfirullahal’adhiim…
    Astaghfirullohal’adhiim…

    Ingat juga….

    Sebentar lagi ramadhan akan tiba….
    Ramadhan bulan suci dan kita harus mempersiapkan dengan hati dan fikiran serta perbuatan yang lurus sesuai dengan perintah-Nya….

    Cepatlah meminta maaf kepada siapapun yang ada di blog ini ….

    “Apabila kita masih ada dalam diri kita, iri dengki dan hasud bahkan menjelek2an antara seorang muslim, apalagi tidak bertegur sapa selama 3 hari niscaya Allah SWT tidak akan mengabulkan doanya dan sulit untuk mendapatkan dan menerima kebenaran…”

    Ittaqillah….

    Akhi dan ukhti semua….

    Sadar dan sabarlah….
    Karena kesabaran itu tidak terhingga adanya….

    Salam,
    muriza


  106. dina Kemis, 31 Juli 2008 pukul 15:37 muriza

    Semoga komntar saya ini menjadi penutup dan akan menutup semua diskusi yang hangat ini….


  107. dina Kemis, 31 Juli 2008 pukul 15:45 muriza

    Sekali lagi….

    Lebih baik komen-nya langsung chat saja dengan kang Oleh jang di blog ini karena saya fikir akan membuat tambah kontraproduktif…

    Mudah-mudahan kang Oleh mengerti…..

    “Seorang muslim yang iman dan tunduk dengan aturan dan hukum Allah, akan dan pasti mendahulukan kepentingan umat dan jamaah daripada mendahulukan kepentingan/ pendapat pribadi. Seorang mujtahid saja ketika khalifah menetapkan hukum dan berbeda bahkan tidak suka (atau tidak puas secara fikroh, tidak menenangkan secara batin/jiwa bahkan cenderung bertolak belakang) niscaya mujtahid tadi tunduk dan patuh dengan keputusan khalifah meskipun secara pribadi tetap memegang pendapatnya, tetapi tidak berhak untuk menyebarkan dan mendistribusikan pemikirannya kepada umat”.

    Betul,…. Kalo pimpinan organisasi anda Kholifah, jangan rancu ya antara pimpinan organisasi dengan ke-kholifahan atau mungkin sekarang statusnya sudah disamakan? Misal saya menjabat sebagai pimpinan organisasi anggap sajalah ketua RT, karena saya islam makan sistem ke-kholifahan yang akan saya terapkan dalam kepemimpinan saya, kaidah2, aturan2 dan keistimewaan kholifah akan saya gunakan, benar demikian? tepatkah hal semacam ini?

    Abu Fikri

    Semoga semuanya memahami dan mengerti…

    Lebih baik kita bermuhasabah dan autokritik kepada diri kita semua…

    Apa yang sudah kita perbuat?
    Apakah memberikan kontribusi untuk Islam?
    Apakah umat menjadi bersatu?
    Apakah mempunyai dampak dibalas oleh Allah sebagai perbuatan mulya dan sesuai perintah-Nya?

    Renungkan,,,,


  108. dina Kemis, 31 Juli 2008 pukul 15:48 muriza

    Kalo kita masih mencintai Allah dan Rasul-Nya….

    Insya Allah kejadian ini tidak akan terjadi…
    Kita mahluk ALLAH yang cerdas dididik dengan aturan dan hukumnya… Pasti akan melakukan amalan lain dengan lebih cerdas, lebih produktif untuk dakwah dan lebih siyasyi….

    Syukron bika…..

    muriza


  109. dina Kemis, 31 Juli 2008 pukul 17:19 umaro

    Mas Oleh….

    Benar tuh kata mbak muriza, saya setuju dengan nasihat ukhti muriza.

    Keep your advicement purely and smillingly!
    I agree with u


  110. dina Jumaah, 1 Agustus 2008 pukul 10:33 arifrahmanlubis

    assalamualaikum

    saya kira tak perlu dibuat serumit itu.

    prinsip kita fastabikul khairat. kalau sanggup, ya infakkanlah.


  111. dina Jumaah, 1 Agustus 2008 pukul 13:59 putraabuzuhdi

    untuk ust Abu Fikri di Bogor

    moga kita semua dirahmati Allah Swt
    Ust Ane Mo kerumah antum


  112. dina Saptu, 2 Agustus 2008 pukul 00:16 abdurrahman

    104 Surima

    ternyata masih banyak yang membela DPP HTI.

    wah surima baru tau ya ?
    Ditempat ane aja ribuan orang gak yang kakek-kakek ampe anak es em pe sangat semangat ngumpulin uang untuk suksesnya program ini. bahkan banyak sekali anak es em a yang jadi enterprenuer dadakan, dari yang jualan kripik singkong hingga jualan buku bekas dan semuanya puas dapat berpartisipasi.senengnya lagi bahkan kebiasaan cari uangnya terus berlanjut meski sudah lebih dari 300 rb yang terkumpul,lumayan nambah uang saku & mengurangi ketergantungan ama ortu.
    Jadi smua sangat bersemangat loh, meski sudah sering di olokin sebagai taklid buta, robot, pembebek dan istilah lainnya dari para komentator blok ini. why? karena boleh dong kami punya pendapat beda menyikapi masalah yang atu ini. kalo komentator banyak anti ama otoriter, ya hargai pendapat kita jugalah. beda bolehkan?
    oh ya artikel ini juga banyak di baca lho dikalangan kami dan kayaknya malah bikin tambah semangat tuch. so tengkyu admin yang udah mnambah semangat kita-kita.

    MENYERANG PRIBADI DAN MENYERANG PENDAPAT
    aha… mana tuh yang didengung-dengungkan tidak menyerang pribadi…. tapi pemikirann….

    OOO..oo kamu ketahuan…

    Kang OLeh…
    Keep fight!

    Ya, begitulah…
    Inilah fenomena menyedihkan tentang kualitas pemikiran syabab HTI yg seperti ini (mudah2an yg seperti ini tidak banyak).
    Ok. Jazakallah, kita memang harus fight dalam dakwah, dan istiqamah dalam kebenaran Islam.
    Salam,
    O. Solihin

    Ya Allah kabulkanlah doa beliau ini
    semoga bulan syaban ini membawa keberkahan bagi semua dan ijinkanlah kami bertemu kembali ramadhan.
    Sudah dulu ya karena kita besok sibuk membagi press realese khilafah terbaru ke kelas-kelas dan lagi nyiapai training buat siswa baru biar pendukung khilafah makin banyak.
    keef fighting till the end !


  113. dina Saptu, 2 Agustus 2008 pukul 19:31 kyai domi

    sepertinya masalah posting ini hampir kelar. emosi mulai tenang. bfikir mulai normal kembali.

    semoga barisan dakwah syariah dan khilafah semakin kokoh, yg berguguran segera kembali, yg loyo dan ragu mantap lagi.
    siap sedia mempertahankan kekuatan,kebersamaan dan kesucian barisan di bawah naungan ridha ALLAH. amin


  114. dina Ahad, 3 Agustus 2008 pukul 07:47 radikalis

    Ada alternatif, selain HTI?
    Ada yang mau buat?


  115. dina Ahad, 3 Agustus 2008 pukul 14:14 heri

    @alwindra :D

    emang ada yang nulis “tanpa emosi”

    kalo emosi yang antum anggap adalah marah doang.. kayaknya komen antum juga banyak yang emosional…

    masalahnya yang jadi sorotan itu tidak memberikan tanggapan mas.. jadi ya begitu..

    orang yang nggak mau disu’udzoni itu… ya seharusnya tidak berbuat sesuatu yang memungkinkan orang untuk suudzon….

    bukan malah sebaliknya… bikin move tapi nggak ada penjelasan.. gimana?


  116. dina Ahad, 3 Agustus 2008 pukul 21:22 nuy

    kang oleh gimana kelanjutannya?

    saya pribadi juga tidak setuju dengan pengayaan gedung tsb. katanya sih nanti akan ada banyak acara semacam FKSK (atau apalah namanya), dialog2 gitu? yang bikin saya tambah bertanya2, akan sebanyak apa? seratus? dua ratus?.
    ketika tidak ada kegiatan akan diapakan gedung tsb?kosong melompong sajah?

    saya lebih melihat urgensitas, manajemen yang baik juga harus ditingkatkan, juga satu hal yang saya garis bawahi, harap para petinggi2, yang di atas2 itu memberikan jawaban yang detail, jelas dan lugas! jangan setengah2 hinggga bisa menimbulkan orang salah persepsi.

    mengenai yang petinggi2 yang atas2 itu ngeyel atau udah diingetin tapi masih ngeyel, sadarlah, jangan sampai terbutakan oleh dunia!!

    Kang Oleh sudah menyampaikan ke tidak setujuannya lewat tangannya (melalui tulisan) dan dihukum oleh pengurus. Apakah hal ini selalu sama di setiap wilayah? ternyata tidak.

    Saya dapat info dari salah satu anggota, ketika, keberatan-nya disampaikan, tentunya dengan alasan, ternyata atasannya memahami. Jadi saran saya sih sampaikan saja keberatan anda, tentunya sebelum itu harus difahami kalo aktifitas tsb beresiko.

    Kalo keberatan anda diterima ya engga ada masalah kan? kalo tidak diterima, ya siap2 saja dengan resikonya. Bagi yang tidak setuju memang dilematis, mau tetep bayar engga ikhlas karena ‘terpaksa’, jadi engga ada pahalanya, dan menipu diri sendiri, kalo engga bayar bisa2 terkena sangsi dari organisasi.

    Kalo menurut saya, permasalahan-nya hanya bila anda tidak bisa ‘merubah’ hati anda jadi redo/ikhlas dalam masalah ini, karena anda menganggap hal tsb tidak penting, jadi ya bantu se-redonya, misal kalo 100 rebu saya engga redo dalam hal ini, tapi kalo 10rebu saya redo (cuma beda nol satu doank) ya sudah anda kasih 10 rebu, kalo tidak redo sepeserpun, ya tidak usah bayar.

    kalo orang yang nagih engga mau terima kecuali minimal 100 rebu, kemungkinan besar orang yang nagih tsb bermasalah (bisa jadi dia tidak paham).

    jadi namanya infaq/sodaqoh itu ya se-ikhlasnya, engga ada batasannya, kalo iuran itu beda dengan infaq/sodaqoh, iuran umumnya sifatnya wajib karena ke-tergabungan kita dengan kelompok, jadi ada illat dalam masalah iuran, sementara infaq/sodaqoh sifatnya tidak demikian, siapa saja bisa, baik dia anggota ataupun bukan, semua bisa melakukannya tanpa batasan minimal, semoga anda tidak rancu dan bisa memutuskan yang terbaik bagi anda.

    Abu Fikri


  117. dina Senén, 4 Agustus 2008 pukul 20:16 chibi

    Assalaamu’alaikum
    saya sedih dengan apa yang telah ust. sampaikan
    ust. seakan-akan membenci HTI, kenapa ust???
    jika memang yang dikatakan ust. itu benar apakah ust. tidak pernah merasa bahwa dalam kebenaran (disampaikan oleh manusia) itu ada kesalahan dan juga sebaliknya……….. karena kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT… bahkan nabi pun pernah berbuat salah hingga di tegur langsung olh Allah SWT……………….
    ust. kalau saya baca tulisan ust. isinya seperti ini: kalu daulah tegak maka kita belum boleh mengeluarkan harta kita…….. ust. bukankah rezeki itu Allah yang ngatur. ust. hal itu bagi saya bukan merupakan sebuah loyalitas pada pemimpin tapi lebih dari cara bagaimana kita dalam keadaan yang seprti ini mampu berpikir politis… . harus punya strategi untuk meraih tujuan dan tentu saja sesuai dengan Aturan-NYA……..
    saya, Anda dan semua umat manusia adalah ciptaan Allah SWT yang memiliki keterbatasan harta, jiwa dan segalanya. nah… berarti kita tau semua akan kembali pada-NYa
    jadi tidak perlu khawatir uang berapapun yang kita berikan untuk dakwah……. akan berbuah dan berbunga di Akherat sana……… dan jangan biarkan kapitalis dan Sosialis menggrogoti hati dan akidah kita tanpa kita sadari. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT
    maaf jika ada yang salah…

    ‘alaikumussalam wr wb
    Saya juga sedih dengan apa yang chibi sampaikan..
    Sebab, belum tahu masalahnya sudah melayangkan ‘tuduhan’ bahwa saya seolah-olah membenci HTI. Padahal, saya hanya menyampaikan nasihat, sekeras apapun, bahkan mungkin menyakiti perasaan siapa pun, seharusnya disikapi dengan “lapang dada”. Atau menimal bertanya: “Orang ini sebenarnya sedang bicara apa, dan maunya apa, kemudian mengapa dia melakuan ini dan itu?” Jadi, ada upaya memahami masalahnya.

    Okelah, saya tidak berpanjang lebar, karena kalo panjang dikali lebar kan jadinya luas :-)
    Saya tekankan bahwa saya tidak pernah merasa meragukan keikhlasan setiap orang untuk melakukan sesuatu selama sesuatu itu benar sesuai tuntunan syariat. Dan, insya Allah harta yang dikeluarkan (jika ikhlas tentunya) akan menjadi tabungan di akhirat kelak.

    Yang jadi persoalan, mengapa hanya untuk membeli gedung saja, harta yang dikeluarkan begitu banyak sementara efektivitasnya belum ketahuan juga. Saya insya Allah mendukung jk dana sebesar itu misalnya digunakan untuk membangun stasiun radio, syukur2 televisi. Sehingga dakwah menyampaikan pemikiran itu bisa lebih efektif. Melayani umat juga jadi lebih maksimal. Harap dicatat, Anda juga sudah salah paham dengan isi tulisan saya, dengan menuliskan: “ust. kalau saya baca tulisan ust. isinya seperti ini: kalu daulah tegak maka kita belum boleh mengeluarkan harta kita…….. “

    Sekarang, kalo ngadain acara di suatu tempat (katakanlah gedung yang akan dibeli itu salah satu tujuannya adalah supaya tidak susah nyari tempat), terus mengundang sekian banyak orang, kalangan tertentu pula, apakah sebaiknya dipikirkan ulang? Kemudian dibandingkan dengan jika kita menyiarkan program melalui radio. Untuk izin radio komunitas itu tidak bayar, bahkan peralatannya pun relatif murah, saya dapat info dari seorang teman cukup Rp 25 juta sudah bisa siaran. Bahkan frekuensi 107 itu “gratis”. Dengan adanya siaran radio, kita bisa menjangkau banyak orang dan langsung bersentuhan dengan masyarakat dari kelas manapun. Dan, mereka bisa belajar dan mendengarkan informasi sambil nyetir mobil, sambil bekerja di dapur, atau bekerja di toko dsb. Bukan saja line telepon dan SMS sehingga aspirasi mereka bisa ditampung dan kita berikan solusinya. Acaranya bisa live. Kalo di tiap kota besar HTI itu memiliki radio saya pikir opini akan lebih luas, terarah dan menjangkau sasaran dakwah lebih banyak. Dibanding, jika hanya membeli 2 gedung yang–saya tahu dari seorang pengurus–malah harus direhab lagi. Belum lagi nanti biaya perawatannya.

    Okelah, itu saja “cuap2″ dari saya. Terima kasih udah mau baca :-)
    Salam,
    O. Solihin


  118. dina Salasa, 5 Agustus 2008 pukul 11:24 hanee

    no coment…


  119. dina Rebo, 6 Agustus 2008 pukul 11:18 aa gerry

    Pak O Sholihin, sy dah bc artikel n komen2nya nih. sy skrg status sy adlh karyawan & tdk trmsk pngrs.
    mohon data2 lgkp dr antum, bila mmg sbenernya antum punya argumentasi yg shohih ttg pgrs pusat. krn sy pun tak rela klo2 “wadah” sy brjuang saat inih amburadul.
    mohon segera y lwt email sy. mudah2an da perbaikan…..
    U/ mslh maktab, sy kurang setuju dg pndpt antum, ini mslh uslub yg setiap org pny pertimbangan msg2.
    U/ mslh ormas, sy br spakat, masalah tulisan KKI-NKRI, sy pun
    tak spakat dg judulnya. mudah2an tak trjd lg.
    inih email cadangan, 2 atw 3 hr yll sy kirim email tp tak kunjung dbls. so, nimbrung dulu ksini…….

    Memang menarik kalo selalu di berikan alasan beli gedung kan uslub, tiap orang punya pendapat masing2, Namun demikian, ketika uslûb tertentu mutlak harus diadopsi, maka ia menjadi wajib hukumnya karena kaidah syariat menyatakan:

    Suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib.

    Dari kaidah tersebut kita dapat mengetahui bahwa tidak ada satu kewajiban untuk mengikuti satu uslûb tertentu, kecuali ketika uslûb tersebut harus diwujudkan sesuai dengan kaidah di atas, karena uslûb bersifat kondisional. Silahkan anda pikir sendiri apakah membeli gedung saat ini merupakan suatu kewajiban yang harus segera dilakukan? atau mungkin tidak akan berdiri ke-khalifahan bila tidak beli gedung ini?

    Sementara itu dalam dakwah ada yang namanya prioritas, sering kita menyaksikkan orang2 menyibukkan diri dengan perbuatan yang tidak utama (mafdhul), dan melalaikan perbuatan yang utama (fadhil) dengan berbagai argumentasi. Dalam sudut pandang fiqih telah ada ketetapan syari’ah yang menyatakan “kewajiban yang harus dilakukan dengan segera, harus didahulukan atas kewajiban yang bisa di tangguhkan”.

    Dalam agama ini kemaslahatan tidak berada pada satu tingkat, tapi bertingkat-tingkat, umumnya para ulama usul fiqh membaginya menjadi: Dharuriyyat, hajjiyyat dan tahsinat. Kaidah dasarnya adalah mendahulukan masalah dharuriyyat atas hajjiyat apalagi terhadap tahsinat. Masalah Dharuriyyat sendiri terbagai dalam beberapa bagian, seperti: agama, jiwa, keturunan, akal dan harta kekayaan. Agama merupakan bagian pertama dan terpenting dalam masalah dharuriyyat, dia harus didahulukan atas masalah dharuriyyat lainnya, termasuk jiwa manusia itu sendiri.

    Jelas agama ini telah mengajarkan umatnya untuk tidak menentukan prioritas sembarangan, silahkan anda gali lebih dalam dalam buku2 fiqh. Semoga bermanfaat.

    Abu Fikri


  120. dina Rebo, 6 Agustus 2008 pukul 21:26 aa reggy

    Bagus2 nih komennya Abu Fkri dan Kang Oleh..
    Btw, siapa sih Abu Fikri.. seperti membela terus kang Oleh ya? :p

    Salut buat kalian berdua yg bisa tetap berargumen cerdas dan syar’i meski diserang banyak komen yang kontra dengan pendapat kalian..!!


  121. dina Kemis, 7 Agustus 2008 pukul 04:51 khalifah

    ASS Wr.Wb. Semoga kita senantiasa dirahmati oleh Allah Swt, perbedaan adalah rahmat yang harus kita syukuri, namun janganlah perbedaan ini menjadikan perpecahan diantara kita.
    Kang oleh…. anu soleh… anu bageur….. anu kasep…mungkin hanya sebagian kecil fakta yang antum ungkap dari sudut pandang yang suudzhan,semoga ini menjadikan cermin bagi pembelajaran kita, tapi kang….. mungkin …. dan saya yakin akang nulis komentar itu karena rasa cinta kang terhadap harakoh, jadi mari kita berserah diri dan sudahi semua perbincangan ini…..dan mari kita ambil hikmah dari semua ini, baik itu buat akang sendiri…..buat pengurus…..dan buat para komentator. KAnggo kang oleh khususon jangan emosi sehingga nilai dalwah yang akang ingin sampaikan menjadi kabur dari substansinya, tapi puntein…..lain lagi seandainya niat akang tidak sama dengan apa yang saya pikirkan (dakwah)….punten kalau saya syu’udzhan. dan untuk para komentator dari manapun datangnya anda semoga kita semua tidak terpancing dengan tulisan-tulisan yang kadang-kadang mungkin memancing kita. Buat sabab kita sudag semakin jelasa mana lawan dan kawan serta mana musuh dibalik selimut …. hee heee ….punten. Wassalam


  122. dina Kemis, 7 Agustus 2008 pukul 18:46 Zacky

    MMI sudah Pecah,terutama dengan keluarnya Ust.Abu Bakar Ba’asyir,
    Sekarang HT juga Mau Pecah ????
    ada Apa dengan Gerakan da’wah di Indonesia ???
    Baru bentar aja Namru ada di Indonesia ,kita berpecah belah,.
    Menurut saya Ketidaksetujuan kita terhadap Pribadi Pengurus tak menjadi legalitas Untuk Membenci gerakan Da’wah itu sendiri,
    Satu Lagi Untuk masalah Gedung Itu kan Menurut saya wajar segitu harganya, Untuk 2 gedung bertingkat lagi (Ikhwan-Akhwat),mana ada gedung yang murah di Jakarta kang Oleh ???
    Kalau dan diselewengkan itu masalah DPP dengan ALLOH S.W.T ,menurut saya justru kita dapat 2 pahala :
    1.Niat Menyumbang di Jalan ALLOH
    2.Karena dizalimi (Diselewngkan)
    Untuk Masalah ini harusnya ada “TRANSPARANSI” dari DPP kemana dana selama ini mengalir dan dihabiskan untuk apa saja ???
    Tapi menurut saya kurang pantas jikalau kang Oleh Posting ini di BLOG, karena yang ada di BLOG ini bukan anggota HT aja, Orang lain berikut Musuh2 Islam akan senang sekali jika melihat hal ini, Kesalahan Individu jadi memberantas Gerakan da’wah itu sendiri,yang pada akhirnya akan Memberangus Upaya2 penegakan Khilafah itu sendiri…


  123. dina Saptu, 9 Agustus 2008 pukul 13:25 Nasehat

    Bertobatlah……
    jaga mulut….(ups! tangan!)
    lebih baik dakwah…….
    Musuh Islam masih boanyaaakk
    Popularitas ???? Baqa? Hmmm….Kasihaaan antum…

    Oh ya? Saya pikir siapa pun memang harus bertobat (termasuk antum) yang sudah melayangkan tuduhan secara tidak langsung bahwa saya mencari popularitas, karena alasan baqa’. Ah, menyedihkan sekali cara berpikir antum…

    Jaga tulisan ya. :-)
    Salam,
    O. Solihin


  124. dina Saptu, 9 Agustus 2008 pukul 14:23 Idam

    Terima kasih Kang Oleh sudah memfosting masalah ini di blog. Saya jadi tahu masalah sebenarnya. Kang Oleh yang diberitakan jelek ternyata tidaklah seperti saya dan teman2 bayangkan. Justru sebaliknya menyampaikan kritik yang bagus spt ini. Sehingga kita jadi bisa belajar memaknai perbedaan. Hatur nuhun Kang!

    Idam


  125. dina Ahad, 10 Agustus 2008 pukul 21:02 Same One

    Kang Oleh… kenalkan Saya temen dekat akang…. apapun yang terjadi dan menimpa Kang Oleh… itu adalah Ujian dan Cobaan… dan siapapun mereka hatta adalah seorang pimpinan organisasi Dakwah yang mendunia juga dengan visi yang mulia… kalau emang dia berbuat zolim tentu.. mereka akan mendapat azab dari Allah… Saya paham… karena Dunia ini adalah hanya permainan… Mereka yang senantiasa Istiqomah dan tidak berbuat aniaya lah yang akan mendapat Ridha Allah… Mu’awiyah adalah Khalifah yang zhalim… tapi Dalam Kitab Imam Malik (Al Muatha) beliau dipuji-puji karena masa kekhalifahan Mu’awiyah Kekuasaan Islam berkembang hingga Asia tengah…. Maaf… kalau Saya menyembunyikan Identitas… tetapi sebagai Sahabat.. Saya prihatin dengan kondisi Akang… juga Rival Akang… tatapi kita kembalikan semua kepada Allah… karena Allah tidak akan pernah melakukan aniayaya kepada Ummatnya yang Ikhlas dan Istiqamah… tetapi… Proyek ini harus dijalankan… Agenda Khilafah harus Sukses… saat ini Hanya OOOO yang mengusung Agenda tersebut… dengan metode pembinaan dan Uslub-uslub dakwah yang mumpunin… kelemahan manusia dan kezhaliman individu2 nya hanya Allah yang akan menghukuminya… Kang hentikan semua propaganda-propaganda Akang yang akan dimamfaatkan…musuh-musuh Islam… tentu Akang berkehendak menjadi Ahli Surga… sekali lagi… teraniayanya Akang tidak akan mengurangi amalan Akang di Dunia ini… tapi tindakan Akang dengan melakukan perlawanan menjadikan Akang melakukan tindakan berlebihan dan itu juga merupakan aniaya… rugi Kang Oleh… Wallahu a’alam bissawab…

    Same One di Bogor (setidaknya dilihat dari IP Address Anda*), saya tak begitu mengenal Anda. Karena teman dekat saya biasanya tidak seperti ini caranya dia menulis. Tidak sama sekali. Atau, Anda mungkin sudah berubah? :-)

    Bagi saya nggak terlalu peduli apakah orang yang menasihati saya itu memakai nama samaran atau asli. Karena yg terpenting isinya sesuai hukum syara. Silakan Anda komentar apapun. Itu hak Anda. Dan, jika saya mau jawab atau tidak komentar Anda, itu juga hak saya.

    Terimakasih sdh peduli dengan kondisi saya.
    Salam,
    O. Solihin

    * IP Address 125.160.103.198
    Host 198.subnet125-160-103.speedy.telkom.net.id
    Location ID ID, Indonesia
    City Bogor, 06 -


  126. dina Senén, 11 Agustus 2008 pukul 08:44 dien

    waaah, klo bicara efisiensi sih gedung itu jg multi fungsi, bkn cm koordinasi harakah… hmm, coba ya semua pendapat langsung dikonfrontir biar smua jadi jelas n ga ada kesalahpahaman…

    Kalp soal efisiensi dan multifungsi, tentu masjid jauh lebih refresentatif. Setiap hari bisa dipake shalat, di sekitar masjid bisa dibangun aula kecil-kecilan, bisa perkantoran, kalo ada halaman luas bisa dipake parkir dan arena bermain. Saya pikir, menurut hitung2an kasar uang 6 miliar jauh lebih multifungsi dan efektif jika dibangunkan masjid dan bangunan2 yg saya sebutkan di atas tadi. Kalo masih ada lebih, bisa tuh bikin stasiun radio. Bisa menyapa umat dengan dakwah setiap hari. Bisa mengopinikan Islam dengan bebas dan leluasa. Majalah ada, website ada, radio juga hadir. Hebat bukan? Ketimbang duit hampir Rp 6 miliar itu hanya untuk membeli 2 gedung yang masih perlu dipermak/rehab lagi. Just my opinion kok. :-)
    Salam,
    O. Solihin


  127. dina Senén, 11 Agustus 2008 pukul 10:44 Utada Krusv

    Saya setuju dengan tulisan antum seperti ini, apalagi kita sudah tahu masalahnya “luar-dalam” di tubuh DPP HTI itu. insya Allah tak ada ruginya menyampaikan di sini secara terbuka. kerana, cepat atau lambat kebusukan di tubuh DPP akan segera diketahui. Hatta.. tanpa dituliskan di blog ini pun. Tanpa dituliskan sejak lama. publik akan tahu. Anggap saja ini sebagai infortmasi permulaan saja…
    Semoga menjadi WARNING para pengurus DPP untk tidak terus memburuk kelakuannya…

    Saya bantu Kang Oleh untuk suplai informasi yang ada. Allahu Akbar!


  128. dina Senén, 11 Agustus 2008 pukul 12:00 msitompul2008

    klo pks “punya” pks watch mungkin ada baiknya kang oleh buat blog hti watch, agar monitoring kang oleh terhadap dpp hti dapat lebih intensif, lebih efisien dan lebih konsentrasi pada hal-hal yang berhubungan dengan publik dan memang diperlukan untuk diketahui publik..

    selain itu, dengan adanya blog tsb, diharapkan kader-kader hti pada umumnya jadi lebih sibuk mengevaluasi, memikirkan kinerja dan program-programnya sendiri dari pada mengurusi hal-hal lain pada partai lain yang biasanya berakhir pada debat kusir dan perenggangan ukuwah islamiyah…

    salam kenal,
    msitompul

    salam kenal juga pak…
    Bagi saya, apa pun namanya yang penting amar ma’ruf nahi munkar pak. Kebenaran Islam yang diperjuangkan. Semoga saja informasi2 yg saya berikan bisa ada manfaatnya bagi siapa pun. Kadang, untuk maju harus perih dan babak-belur terlebih dahulu :-) Semoga ini yang terjadi dengan HTI pada kasus ini. Agar langkahnya tidak salah jalan terlalu jauh meninggalkan manhaj yang digariskan HT di Timur Tengah (secara internasional).

    Salam,
    O. Solihin


  129. dina Senén, 11 Agustus 2008 pukul 14:08 Bobo

    aku gak yakin aku bisa bayar tepat waktu, karena aku juga orang miskin. huf…
    tapi apakah itu pemborosan atau apalah. yang penting adalah bagaimana kita bisa berkorban untuk Islam. pusat juga pastinya sudah penuh pertimbangan buat itu. Abu Bakr menyumbangkan seluruh hartanya untuk perang -meskipun saat ini itu tidak bisa disamakan dengan sekarang- tapi apalah hanya menyumbang sebesar itu. what the hell 300.000 aja bikin males. gimana kalo diminta korban nyawa.

    Justru saya merasa terharu dengan banyaknya syabab yang berani untuk berkorban. Bukan saya melarang untuk berkorban atau menghalang-halangi, tapi saya hanya mengajak untuk berpikir lebih realistis dan memikirkan efektivitas. Bukankah kita sudah diajarkan: Berpikir Cepat Bertindak Tepat? Jangan sampe kejadian berpikir lambat bertindak salah. Salah dalam hal ini tidak selalu halal-haram, lho. Maksudnya salah mengambil keputusan meskipun bukan perkara yang halal-haram, tapi dampaknya justru membahayakan dakwah itu sendiri. So, jangan sampe kita hanya “manut” dan merasa tenang karena sudah berkorban, tapi hasil yang diimpikan tak sesuai dengan kenyataan.

    Saya sendiri insya Allah tidak malas. Ngapain juga beramal shalih harus malas. Semoga saja temen2 tetap ikhlas meski harus merasa mengumbarnya di blog ini secara tak sengaja (atau malah sengaja untuk menunjukkan komitmen?). :-)

    Ok, berkorban boleh saja. Asal jelas dan benar tujuannya, dan itu merupakan bagian dari strategi yang tepat untuk berdakwah. Tapi, jika melihat kenyataan yang sesungguhnya, apa iya demikian?

    Salam,
    O. Solihin


  130. dina Salasa, 12 Agustus 2008 pukul 10:48 Mawardi

    Ssssstt!! udah!


  131. dina Salasa, 12 Agustus 2008 pukul 10:57 Bibi

    Tulisan Mas Oleh ini sangat bagus. Aku rasa inilah yang diperlukan saat ini. Dakwah aku yakin memang harus mahal, nyawa juga begitu mahal yang kita miliki satu2nya itu. Tapi, peruntukannya harus jelas. Gedung untuk apa sih yg mahal2?

    Terima kasih atas tulisan2 dan komentar2 Mas, aku jadi tahu mengapa kami semua dilarang berinteraksi dengan Mas. Padahal, apa yg disampaikan Mas bagus…


  132. dina Salasa, 12 Agustus 2008 pukul 11:24 dimas

    Saya hanya yakin bahwa dengan berkorban di Jalan dakwah akan membuahkan kemulyaan Islam.. Insya Allah.

    Saya hanya yakin bahwa berkorban di jalan dakwah dan jihad pun butuh strategi tepat dan tujuan yang benar. Meski mati syahid adalah indah, tapi berjihad tetap menggunakan strategi agar tak banyak orang yang mati syahid sementara perjuangan belum selesai. Karena bukanlah tujuannya menjadi syahid, tapi menjadikan Islam mulia. Mati syahid itu hanya imbalan khusus bagi mereka yang belum bisa meraih kemuliaan tegaknya ideologi Islam di muka bumi ini.

    Jalan dakwah itu indah, pengorbanannya juga insya Allah berbuah pahala, terlebih jika kita tahu bahwa kita berkorban melalui strategi yang tepat dan tujuan yang benar. Bukan malah menjadi orang yang ‘dikorbankan’. Semoga saja bukan menjadi yang terakhir itu.

    salam,
    O. Solihin


  133. dina Salasa, 12 Agustus 2008 pukul 22:15 ikhwan

    Mau surga kok murah….?

    Mau surga kok cuma ini jalannya….? (apalagi kalo sudah merasa cukup hanya dengan jalan ini)
    Salam,
    O. Solihin


  134. dina Salasa, 12 Agustus 2008 pukul 22:19 Same One

    Buat Bibi…. nama samaran atau nama sesungguhnya… atau jabatannya Bibi… kalau ditempat Kang Oleh di Bogor… untuk kalangan Masyarakat Menengah Keatas… Bibi itu Pembantu… Jongos… yang kerjanya di Dapur… Pendidikan rendah… cara berpikir juga rendah…. pembelian gedung itu sudah disosialisasikan… kemana Akhi/Akhuna saat sosialisasi… kalau ada saat sosialisasi kemana tuh Kuping di kepala…? Saya aja masih hafal urgensinya Gedung yang akan dibeli….Yang jelas Preskom melalui Mandub sudah mengijinkan… jadi sebagai seorang yang berada dalam Kutlah dakwah ini… harusnya Sami’na wa ato’na… dasar pengkhiatan… penikam Dakwah… modal cuma aktif kursus aja… mau ngeritik ngeritik ….

    Sosialisasi tidak serta merta menjadikan-nya benar, contoh pemerintah juga sudah mensosialisasikan kenaikan BBM beberapa waktu lalu (menurut versi pemerintah), apakah kemudian serta merta menjadi benar? kenapa ya kok banyak yang protes dan demo pada saat itu? padahal sudah disosialisasikan lho?

    Kalo soal nanya beli gedung boleh apa tidak, ya boleh-boleh saja, yang kita diskusikan disini adalah apakah itu penting? sehingga harus sekarang dan saat ini juga gedung harus dibeli? sehingga kemudian menjadi sah-sah saja dalam kondisi seperti saat ini mengumpulkan dana dari anggota? seperti dalam lelang gedung kemaren (untuk wilayah bogor) oleh MRK, dan berhasil mengumpulkan dana kurang lebih xxjt dalam 1 kali sesi, belum dari wilayah lain.

    Bagi yang redo insyAlloh besar pahalanya, tapi apa ya tidak ada kepentingan lain yang lebih mendesak selain beli gedung untuk saat ini? sepertinya setelah memperoleh ijin dari preskom, mempunyai gedung menjadi uslub yang wajib hukumnya. Mari kita renungkan lagi.

    Abu Fikri


    Hehehe.. jangan ngamuk gitu dong Firman Syah alias Same One.. memangnya menjadi “bibi” itu selalu tugas yang rendah? Masya Allah.. bagaimana jika ibu Anda yang seperti itu? Orang tidak lantas menjadi hina hanya karena posisinya di bawah mereka yang beruntung status sosialnya. Justru yang diperlukan adalah kerjasama. Saya malah mengkhawatirkan kalo Anda akan menyebut daris sebagai hina karena berada di bawah jauh dari posisi Majelis Wilayah. Ckckck.. betapa menyedihkannya pemikiran Anda, Bro.

    Soal sosialisasi, saya pikir yang SALAH adalah tidak mendiskusikannya atau ngumpul bareng minta pendapat dari para pengurus dari selevel Majelis Wilayah hingga tingkat paling bawah (mas’ul mahaliyah–termasuk musaid-nya deh), jangan langsung sosialisasi keputusan sepihak. Itu namanya memaksakan kehendak. Apalagi ada kasus (tapi kok banyak?) yang diancam supaya ikhlas berinfak. Kalo tidak ikhlas diminta terpaksa utk ikhlas. Lha, gimana urusannya yg seperti ini?

    Salam,
    O. Solihin


  135. dina Rebo, 13 Agustus 2008 pukul 11:20 si kesep

    pokoknya saya mah akan terus infaq gedung….

    pengennya mah satu milliar, biar ga ada yang ribut….

    hidup infaq gedung ……….!!!

    btw hebat euy, HTI udah kena maenan intel …..

    di-obok2… HTI di-obok2……

    banyak intelnya HTI di-obok2…..

    Hehehehe………

    semoga saja tidak termasuk Anda di dalamnya. Hehehe…
    Salam,
    O. Solihin


  136. dina Rebo, 13 Agustus 2008 pukul 20:18 Same One

    Masyaa… Allah… Masyaa… Allah… Masyaa… Allah… kalau Abu Fikri ( entah itu siapa yang memakai namanya).. ikut Gatring di Nurul Ilmi… Ahad 10 Agst’08 kemana tuh Kuping… cuma jadi cantolan kaca mata minus or kaca mata hias…. khan semuanya sudah jelas… Kalau disimak ungkapan Ust MRK… Indonesia telah menjadi Central Opinion terhadap upaya penerapan Syariah dan Khilafah bagi OOO Iternasional… wabil khusus pasca KKI… sehingga OOO Indonesia harus disupport kegiatan dakwah agar tahapa-tahapan dakwah tercapai dan dapat meraih kepemimpinan Ummat… atas dasar tersebut urgensi untuk segera memiliki Sektretariat yang refresentatif… sekali lagi refresentatif…menjadi mutlak harus diupayakan…..

    Saya tidak ikut dalam acara tersebut, tapi temen2 melaporkan kepada saya informasi yang mereka peroleh dalam acara tersebut, tanpa saya minta, ataupun saya tanyain eh lu kemaren ngapain aja sih?

    Kalo alasannya hanya sebagai tempat yang representatif saja, dan ini merupakan uslub yang wajib, tentunya nabi pun akan melakukan-nya, tapi ternyata tidak, yang dibangun dan diwariskan nabi adalah masjid. Padahal nabi adalah wali Alloh dan dia adalah central opinion islam pada saat itu. Nabi memiliki segala hak dan segala alasan untuk bisa memperoleh tempat yang re-presentatif, tapi ternyata dia tidak membangun istana yang megah, bahkan beliau SAW, hidup sederhana dan jauh dari segala ke-representatifan dunia ini.

    belajar dari KKI… kemampuan pelajar dan karyawan untuk bahu membahu berjuang biamwalikum wa anfusikum sudah teruji…. Saya tidak mendengar paska KKI ada Karyawan or Pelajar jatuh miskin… jadi kalau proses menggalangan dana untuk perkara yang penting demi keleluasaan, Efektivitas serta Efisiensi Dakwah kembali dilakukan oleh Struktur… So watch gitu lokh… Kalau Akhi mau merenungkan… justru harta yang kita miliki itulah harta yang kita infakkan di Jalan Allah…. Saya tidak memiliki mafhum dan Maklumat tentang ketidak benaran Strutur… Kecuali Saya menjadi Anggota Majlis Wilayah… Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan Proses memahami kaidah-kaidah dan ketentuan gerakan OOO…yang kemudian membandingkan dengan kebijaksanaan struktur… begitulah prosedur yang harus ditempuh… Insya Allah.. kalau itu yang dilakukan kita termasuk orang-orang yang mendapat keberkahan di Dunia dan di Akhirat… bukan begini caranya … kritik mengkiritik di Blog…. apa orang-orang yang berkomentar miring terhadap Struktur, baru memasuki puber teknologi Internetan yah…. Kasiaaaan… deh lu.. lu.. pade…

    Kalo bicara miskin apa tidak miskin, semua mahluk sudah dijamin rejekinya oleh Alloh, oleh karena itu para pengemban dakwah tidak pernah takut miskin, makanya bukan soal uang yang dikeluarkan disini, tapi penting engga sih ke-representatifan itu? (Bagi sebuah organisasi yang ingin menegakkan khilafah?)

    Tanggapan buat Si Kesep… emang di OOO banyak Intel yang bertugas mengobok-ngobok OOO… tapi intel ini… bukan Intel ring satu… Admin Blog dan Para Pengkritis Miring… adalah Bahan Rejek… di OOO… apa itu Rejek… kalau pabrik memproduksi Pakaian… ada pakaian yang di lempar kepasar murah… karena terlihat bagus… tetapi setelah di teliti ada cacatnya… sehingga tidak dikemas dan di jual sebagai mana umumnya…. dan bung admin Blog ini dan para Pengkritis or Pengkhianat… itulah barang murahan… alias gak pade jadi… wajar dong di Ikmaltam… wong barang murahan…

    Masih dengan comment yang emosi,

    Salah satu kewajiban seorang muslim adalah nasehat menasehati, mengingatkan saudaranya yg salah, jadi kalo kita melihat kecacatan/kesalahan ya di ingatkan dan dicegah untuk melakukan kesalahan yang lebih parah, bukan malah di ikhmaltam.

    Sudah menjadi bagian resiko amar makruf nahi mungkar di caci maki, dan hal semacam ini sudah menjadi hal yang lumrah bagi para pengemban dakwah. Sikap kita dalam menghadapi hal semacam ini ya tidak perlu dibalas.

    Abu Fikri


  137. dina Kemis, 14 Agustus 2008 pukul 12:12 One Same

    Bagus, tulisan Mas Oleh ini sangat bagus!
    Sampai membuat petinggi HTI ketar-ketir.. tidak karuan

    Infak pembelian gedung belum mencapai target, sehingga harus diperpanjang sampai September…

    Aku malah bertanya-tanya sampai sekarang: Apakah sudah Mas Oleh sudah dipanggil pengurus DPP utk mempertanggungjawabkan masalah ini?

    Sampai sekarang sebagai pengurus aku tidak mendapatkan informasi itu. Mungkin takut kesalahannya makin dibuka habis2an oleh Mas Oleh.. :D

    Maju terus Kang!
    Jangan takut, informasi selalu ada dan Akang akan mendapatkannya dengan cuma2…

    One Same–seorang pengurus.. rival kajiannya Same One… :p


  138. dina Saptu, 23 Agustus 2008 pukul 08:53 achoey sang khilaf

    Assalamualaikum

    Salam semangat :)


  139. dina Ahad, 24 Agustus 2008 pukul 13:11 Azzahra yaomil imani

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Subhanallah…….satu”species”dengan berbagai pemikiran.
    Saudara-saudaraku mari qta tundukkan hati dan pikiran qta hanya kepada Allah SWT.
    Memohon kepadaNya menunjukkan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil,karena Allah Maha Mengetahui apa yang paling tersembunyi dihati qta ini dan marilah sama-sama bermunajat kepadaNya Semoga kelak gedung tersebut dapat digunakan oleh Khalifah untuk mengurusi urusan umat dan memutuskan persoalan sesuai dengan syari’atNya.
    Dan semoga infaq yang sudah qta keluarkan dengan ikhlas menjadi berkah dengan dipergunakan gedung tersebut untuk mengurusi umat.
    Patutlah hati ini menangis dan bertanya”Mengapa ketika penguasa meminta “infaq”BBM dengan memaksa sehingga mendzalimi seluruh umat tidak hanya para anggota da’wah qta merasa ikhlas???????????????”
    Saudaraku kondisi ini diciptakan oleh musuh-musuh islam yang tidak ingin islam kembali tegak dimuka bumi dan menjadi intropeksi bagi qta bahwa Allah telah memperkecil”saringan”untuk menjadi pejuangNya.loloskah qta atau kita tertahan oleh penyakit hati yang bersarang?
    Wallahu’alam.


  140. dina Ahad, 24 Agustus 2008 pukul 20:24 Dul Ahmed

    Saya setuju 100% dengan apa yg Mas O. Solihin di atas tulis. Efektifitas penggunaan gedung itu masih perlu dikaji. Bukankah dakwah juga perlu strategi? Bukankah dakwah juga wajib mendahulukan prioritas?

    Soal keikhlasan tidak perlu diperdebatkan di sini, saya lebih melihat caranya saja. Mengapa harus memiliki gedung itu seperti kewajiban yg tidak bisa diganti dengan benda lain. Misalnya mendirikan madrasah, masjid, atau pesntren yg Insya Allah terlihat nyata efektifitasnya. Karena jika tidak digunakan acara2 semacam seminar bangunanya masih bisa dimanfaatkan untuk kegiatan taklim dsb.

    Sudahkah pengurus HTI memikirkan ke arah sana? Sehingga uang yg jumlahnya besar itu bisa tersalurkan dan termanfaatkan sesuai keperluan….


  141. dina Senén, 25 Agustus 2008 pukul 20:31 green_gray

    Ya Allah.. tolonglah hamba2Mu yang berjuang menegakkan agama Allah ini. Tolonglah orang2 yg ikhlas dalam perjuangannya. Tolonglah mereka para pengemban dakwah yang lurus dalam syariat-MU. Belalah orang2 yang berjuang tanpa pamrih atas nama-MU

    Mas O. Solihin, walaupun saya tahu ada himbauan ttg larangan berkomentar dan berinteraksi dengan Mas O. Solihin. Himbauan dari para kawan dan pengurus HTI, tapi saya semakin ingin melihat dan membaca blog Mas O. Solihin. Malahan ada kawan saya yang tadinya samasekali tdk mengetahui masalahnya, jadi tahu masalah sebenarnya setelah membaca blog Mas O. Solihin. Kini jadi balance informasi yg sy dptkan.. tidak sepihak spt yg disampaikan pengurus saja yg cenderung menjelek-jelekkan Mas O. Solihin dkk..

    Utk tlsn ini, saya setuju sekali dengan pemaparan Mas O. Solihin. Terima kasih telah memberikan wacana baru dan informasi baru. Karena dengan adanya tlsn Mas O. Solihin, bnyk yg komentar dan sy jd tahu reaksi bnyk syabab. Diskusi yg menarik, karena bs mngtahui pribadi msg2 pmberi komentar…


  142. dina Kemis, 11 Séptémber 2008 pukul 13:43 achi

    Saya pikir gedung itu memang perlu untuk dimiliki. Tubuh yang semakin membesar juga butuh markas yg besar. Gedung itu penting untuk penetrasi dakwah ke depan agar lebih gencar. Saya sendiri adalah orang miskin tapi sangat mendukung pengadaan gedung itu walaupun harganya segitu. Saya pikir itu perlu kita dukunglah, yang pentingkan untuk dakwah dan tdk ada yg dirugikan. Kalo masalah tanda tangan, itu nggak ada masalah menurut saya, biasa ajalah.

    Tempat memang perlu. Tapi mengagendakan dan menginginkan tempat–yang untuk mendapatkannya harus keluar uang besar itu yang tidaklah realistis. Lagi pula, memang ada kewajiban khusus untuk membeli tempat yg harganya hampir 6 miliar itu? Mengapa tidak mencari tempat yang sederhana saja? Yang sudah jadi harganya di bawah itu, atau jauh sekali di bawah harga itu?

    Setahu saya, dalam manhaj dakwah HT saya tidak menemukan bahwa untuk mendukung penetrasi dakwah ke depan agar lebih gencar menyertakan bagian infrastruktur (khususnya gedung). Justru yang wajib dipupuk dalam melakukan penetrasi dakwah agar lebih gencar adalah meng-upgrade fikrah dan menguatkan pemahaman thdp thariqah. Sebab, isi dakwah yang disampaikan tak ada hubungannya dengan gedung, apalagi mahal harganya. Menghadapi tantangan dakwah, hanya bisa dilawan dengan fikrah yang benar dalam memperjuangkan Islam dan thariqah yang terikat penuh dengan metoda perjuangan dakwah Rasulullah saw.

    Saya justru merasa khawatir, bahwa ada syabab yang “take for granted” begitu. Setahu saya, Mandub saja kurang setuju dengan pembelian gedung itu. Sementara pengurus di sini, menjadikan pembelian gedung itu seolah sebagai kepentingan yang mendesak dan urusan hidup dan mati.

    Okelah, mungkin perdebatan di sini tak akan mempengaruhi jadi atau tidaknya pembelian itu. Tapi menurut informasi yang sampai ke saya dari salah seorang pengurus, jadi atau tidak jadi dalam membeli gedung itu tetap akan bermasalah. Maju kena mundur kena. Kasihan memang. Tapi semoga saja ada jalan keluar yang bisa ditemukan. Insya Allah.

    Salam,
    O. Solihin


  143. dina Jumaah, 12 Séptémber 2008 pukul 11:07 Ardhimas

    Pembelian gedung itu tidak realistis. Mengapa harus gedung yang megah dan mewah yang menelan biaya miliaran rupiah?

    Ustad, ana mengucapkan terima kasih karena secara tidak langsung tulisan ustad ini melunakkan kebijakan DPP HTI untuk tidak lagi memaksa para syabab untuk menyumbang. Sebab, selain ustad, banyak juga di kalangan kami yang menolak.

    Sekarang, pembelian gedung yg tdk melalui musyawarah dengan banyak syabab itu akhirnya jadi terkatung-katung..

    Insya Allah ustad, ini akan menjadi pelajaran bagi pengurus di tingkat atas…


  144. dina Ahad, 14 Séptémber 2008 pukul 11:13 Agam Riswan

    Menurut Gue:

    DA’WAH ITU MEMANG HARUS MAHAL. DA’WAH yang MURAH, hasilnya juga MURAH.

    TAPI dalam KASUS ini, gue GAK NGERTI mengapa HARUS MEMBELI GEDUNG YANG MAHAL sementara efek adanya GEDUNG itu GAK berkaitan LANGSUNG Dengan KUALITAS da’wah…

    MEMANGNYA Ada anggapan bahwa gedung yang REFRESENTATIF dan megah akan berdampak DA’WAH jadi DIDENGAR???

    Menurut gue: Pemikiran HT itu sudah bisa meruntuhkan pendapat2 yang ada saat ini. Tanpa perlu adanya gedung mewah.

    Gue SETUJU DA’WAH mungkin harus MAHAL, tapi untuk masalah ini, TIDAK PADA TEMPATNYA. Memangnya pembelian GEDUNG disamakan dengan JIHAD? JIHAD itu MAHAL!!!

    Untuk BUNG SOLIHIN, Anda benar. Maju terus Bung!


  145. dina Salasa, 16 Séptémber 2008 pukul 05:41 ari

    Kebenaran dari Allah semata…

    Semoga Allah mengampuni kesalahan & kelalaian kita semua. Semoga Allah mengampuni saya karena tidak sependapat dengan jalan yg dipilih mas Oleh melalui blog ini.
    Semoga kaum Muslim dimenangkan atas musuh2nya… Amiin.


    Semoga Allah memberkahi kita semua dalam kehidupan ini dan memudahkan segala urusan kita. Bagi saya tidak peduli apakah orang akan ikut saya atau tidak. Karena yang wajib diikuti oleh seluruh umat manusia adalah kebenaran Islam. Dan, saya berusaha untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya kebenaran yang saya ikuti. Terima kasih.

    Salam,
    O. Solihin


  146. dina Rebo, 24 Séptémber 2008 pukul 09:09 Anyta

    Terima kasih Mas Oleh atas tlsannya yang menggugah kesadaranku dan beberapa teman pengurus. Betapa jalan yang kami pilih yang tidak terbuka dan putuskan secara sepihak akhirnya harus berujung ketidakjelasan tujuan ini, hingga penggalangan dana semakin mundur dan mundur.. dari target… yg terlalu dipaksakan (menurutku…)

    Semoga Allah SWT mengampuni kita semua yang selalu keliru, dan sebagai pengurus merasa paling benar atas segala keputusan yang diambil.


  147. dina Rebo, 24 Séptémber 2008 pukul 12:26 Tonz

    Kau ini bagaimana?
    Kau bilang aku merdeka
    Kau mendiktekan aku segalanya
    Kau suruh aku berbicara
    Aku berbicara kau tuduh aku banyak cerita

    Aku harus bagaimana?
    Aku kau suruh menghormati hukum
    Kebijaksanaanmu menyepelekannya
    Aku kau suruh berdisiplin
    Kau mencontohkan yang lain

    Kau bilang kritiklah
    Aku kritik kau marah
    Kau bilang cari alternatifnya
    Aku kasih alternatif kau malah mengasingkanku

    Jadi
    Kau ini bagaimana atau Aku harus bagaimana

    …support buat para pejuang yang terus mengatakan
    hitam adalah hitam dan putih adalah putih…

    Salam Perubahan Pemikiran
    Salam Anti kekerasan
    Salam Kehancuran Kapitalisme
    Salam Kehancuran Sosialisme
    Salam Kehancuran Ide-ide Busuk
    Salam Kebangkitan Ummah
    So lets the revolution burn Punx!!!

    ….United We Stand, Divided We Fall…

    “We’ll be the one of few people who against the world. Maybe we will fall.
    Who knows? But we’ll fall with our only pride, our only ideology

    Betul Pak. Kejadian ini sudah sangat sering berlangsung (mungkin secara terus menerus pula) di tubuh gerakan dakwah ini. Saya justru kasihan sama Amir HT yang nyaris dengan mudah ‘dikhianati’ oleh orang2 yang menjadi kepercayaannya sendiri. Musibah besar.
    Salam,
    O. Solihin


  148. dina Jumaah, 26 Séptémber 2008 pukul 15:26 Syahid

    Setelah dua bulan lebih mengikuti jalannya diskusi ini, sejak bulan Juli lalu, sebagai syabab Ane akhirnye berkesimpulan bahwa apa yang disampaikan Ust Oleh Solihin ada titik terang dan kian jelas persoalannya. Jalinan informasi yang dibangun setahap demi setahap oleh Ust Oleh Solihin dan beberapa diskusi dengan kawan2 di mahaliyah Ane punya pendapat bahwa memang sedang terjadi hal2 buruk di tubuh gerakan HTI.

    Dirasakan betul, karena Ane berada di mahaliyah yang dampaknya sangat terasa pasca kasus ini. Betapa DPP HTI senang memberikan fitnah dan kebencian kepada Ust Oleh Solihin, Ust Umar Abdullah dan Pak Arifin. Kami di mahaliyah bahkan tidak diberitahu apa yang terjadi sebenarnya karena kami hanya diminta tunduk pada keputusan yang dikeluarkan oleh DPP HTI, meskipun Ane dan beberapa kawan tidak yakin itu keputusan dari Amir kutlah… karena bentuk sanksi ini tidak jelas sampai batas waktu kapan. Terus terang banyak syabab di beberapa mahaliyah yang menjadi kawan Ane tidak setuju dengan sanksi ini karena dibuat terlalu mengada-ngada. Bahkan ada kawan Ane yang mengatakan inilah bentuk pendzaliman DPP HTI kpd syabab yang Ane dengar seperti Ust Oleh Solihin dan Umar Abdullah memang mengetahui banyak tingkah laku tidak terpuji dari para anggota MW dan MA sendiri. Benarkah? Jika tidak benar MA dan anggota MW mengapa diam saja dengan adanya kasus yg sudah jadi konsumsi publik ini?

    Ane kecewa seolah kutlah tidak bereaksi apa-apa sehingga keadaan ini semakin kacau dan parah. Ane terpaksa ikut berkomentar di sini utk mengimbau semua pihak chususnya para pengurus DPP untuk memberikan klarifikasi dari semua masalah ini.

    Fikrah dan thariqah gerakan dakwah HT adalah yang terbaik untuk saat ini, tapi sayang sekali, saat ini dipimpin oleh orang2 yang kurang amanah. Sebagai syabab ane kecewa sekali. Smga kejadian ini tidak terus berlangsung.

    Ust Oleh Solihin, sampaikan salam kepada Ust Umar Abdullah yang Ane cintai karena kalian berdua kreatif dalam dakwah dan banyak memberikan manfaat, hanya saja orang2 kreatif dan berani spt Anda harus berakhir dengan penyingkiran.

    Terima kasih Ustad Oleh Solihin karena ust sudah mempublikasikan masalah ini di blog, sehingga kawan2 Ane yang tadinya tidak tahu istilah blog jadi tahu. Apalagi pengurus mahaliyah melarang untuk berinteraksi dengan ketiga org yg ada di takmim tempo hari itu. Karena dilarang mereka akhirnya penasaran dan menemukan kebenaran di blog Ust ini. Terima kasih Ustad..

    Syahid
    (seorang syabab yang ingin sekali HTI tetap garang di mata Allah Swt.)


  149. dina Saptu, 27 Séptémber 2008 pukul 09:57 A.Zaki

    Sadarlah wahai saudaraku, ini bulan puasa, mengapa selalu mengedepankan prasangka. Apakah kita tidak sadar, bahwa ketika kita mendiskusikan sebuah keputusan yang memang dikeluarkan oleh yang berwenang mengeluarkan keputusan yang mana kita telah menganggap mereka sebagai pemimpin, pada dasarnya kita telah banyak melakukan kesalahan. Karena keputusan bukan untuk didiskusikan, termasuk keputusan mengenai sangsi kepada orang-orang tertentu, apapun yang mendasari keputusan itu bukan untuk didiskusikan, tetapi untuk dilaksanakan, meski kadang terasa berat atau meski berbeda dengan keinginan kita. Dan apabila terdapat tindak kedzaliman yang dilakukan oleh pemimpin maka itu urusannya dengan Allah, urusan kita adalah melaksanakan keputusan, kecuali keputusan itu adalah kekufuran yang nyata. Hal ini jelas berbeda dengan pemikiran, untuk pemikiran kita bisa mendiskusikannya sampai jelas. Kalau kita mendiskusikan sebuah keputusan maka sesungguhnya kita telah berlaku tidak taat, dan bila disertai dengan prasangka, maka kita telah terjerumus dalam fitnah, dan yang lebih parah lagi akan merusak jamaah.

    Padahal sebenarnya ketentuan tersebut sudah jelas dalam idari, bahwa keputusan memang tidak untuk didiskusikan tapi untuk dilaksanakan meski keputusan tersebut ada alasan atau tidak ada alasan, karena keputusan adalah wewenang pemimpin dan sebagai syabab wajib mentaati pemimpin. Sebagai syabab idealnya memang harus sudah faham ketentuan tersebut, dan kalau syabab masih baru mungkin bisa dimaklumi, tetapi kalau syabab lama, bahkan mengaku sebagai pengurus tapi tidak tahu ketentuan tersebut, sungguh sangat ironis sekali.

    Karena itu marilah kita kembali untuk berfikir dengan jernih, sudah benarkah yang kita lakukan ini, kita berfikir bahwa dengan menumpahkan uneg-uneg dan kritik pada forum ini akan dapat memperbaiki dakwah ini, tapi kalau kita mau berfikir dengan jernih, dimana letak perbaikannya, yang ada justru tikaman dan goncangan terhadap dakwah.

    Semoga…..

    Terima kasih atas komentarnya. Namun, mohon sadarlah wahai Saudaraku A. Zaki, ini di bulan puasa. Mengapa selalu mengedepankan tuduhan bahwa apa yang saya sampaikan adalah prasangka? Duh, saya khawatir Anda hanya menjadi bagian dari orang-orang yang “dibenamkan” kepada pikiran mereka bahwa yang berseberangan dengan pengurus adalah salah. Bahwa yang mempermasalahkan pengurus adalah pasti keliru dan penuh prasangka (apalagi diembeli-embeli dengan sebutan yang bersangkutan sedang sakit hati). Bahkan keputusan harus dilaksanakan dan tidak boleh dibicarakan atau dibahas. Hmm…ketahuilah wahai saudaraku A. Zaki, bahwa setiap kita pasti dimintai pertanggungan jawab. Apakah Anda tidak sadar bahwa kita oleh Allah Swt, dituntut untuk tidak melakukan sesuatu yang tdk kita ketahui? Coba buka lagi surat Al-Israa’ ayat 36. Kewajiban kita bukanlah semata taat kepada perintah pimpinan, tapi ketaatan yang utama adalah kepada Allah Swt. Saya bukan menganjurkan untuk melakukan pembangkangan massal. Nggak lha yauw. Saya hanya ingin setiap kita bisa mencerap terlebih dahulu fakta dari informasi yang disampaikan. Sebab, tak semua yang datangnya dari pimpinan pasti benar. Sebab, pimpinan juga bisa salah. Salahnya bisa karena informasinya yang dia dapatkan keliru, bisa juga karena sangat gegabah dan dilandasi kebencian kepada seseorang, sehingga keputusannya juga nggak adil. Bisa saja bukan?

    Pernahkah Anda kroscek kepada saya? Kepada orang-orang yang diberi sanksi? Apakah ketaatan Anda kepada pimpinan mengeberi rasa penasaran Anda untuk menanyakan kepada yang berseberangan dengan pimpinan dalam pendapatnya? Saya malah khawatir, Anda hanya menjadi robot yang mudah dimanfaatkan oleh pihak2 yang sedang memimpin tapi hati dan pikirannya dipenuhi amarah dan rasa benci. Jangan sampe saudaraku.

    Saya juga merasa kasihan kepada Anda, ketahuilah bahwa tak semua informasi tentang sepak-terjang pengurus DPP HTI diketahui banyak syabab. Tidak semua syabab tahu masalah “dalemannya” pengurus. Itu sengaja ditutupi kok. Insya Allah saya tidak akan terjebak untuk menghakimi personnya, tapi saya lebih kepada idenya dan tingkah lakunya yang keliru menurut Islam. Kalo ini harus disampaikan agar khalayak syabab tahu dan mengetahui masalah sebenarnya.

    Di arena bebas bernama blog ini bukan tak terpikirkan akibatnya. Insya Allah saya sudah mempertimbangkannya. Itulah mengapa akhirnya tetap saya gelar di forum ini. Sebagai bentuk kepedulian terhadap dakwah dan jamaah dakwah ini. Sebab, saluran yang mestinya disediakan malah (sengaja) tersumbat (disumbat?). Kenapa saya menuliskannya di sini? Karena saya peduli dengan dakwah dan jamaah dakwah ini. Kalo tidak, bodo amat, mau jungkir balik mau bubar bukan urusan saya. Saya akan memilih diam dan pura2 tidak tahu atau keluar dari jamaah secara diam-diam. Tapi bagi saya itu tindakan pengecut bahkan tidak bertanggung jawab. Sebab, mungkin kita bisa selamat “sendirian”. Bagaimana dengan anggota jamaah yang lain? Padahal, kebobrokan sedang berlangsung tapi kita diam saja dan memilih nyelametin diri sendiri, sementara sebenarnya kita sanggup untuk menghentikannya atau minimal penyampaikan “warning” kepada kawan-kawan agar waspada dan berusaha bersama mengingatkan pimpinan yg mungkin sedang “mabuk kekuasaan”. Jadi nggak tinggal diam.

    Lagipula, saya masih meragukan bahwa akan ada jaminan bisa berubah jika menasihatinya tidak di tempat umum. Saya udah merasakan banyak pengalaman bahwa melalui jalur resmi itu protes kita hanya akan berakhir di peti es. Didiamkan dan nggak pernah diusik. Beruntung jika masih ada yang direspon. Tapi itu pasti sudah discreaning terlebih dahulu. Bila aman akan dilanjut dan bila membahayakan kekuasaannya bukan tak mungkin protes itu akan berakhir di keranjang sampah dan pemprotesnya akan diancam sanksi. Wah, piye iki? Saya udah mengalaminya kok. :-)

    Salam,
    O. Solihin


  150. dina Jumaah, 3 Oktober 2008 pukul 07:49 A.Zaki

    Hanya ada satu ungkapan yang dapat saya sampaikan kepada antum “prihatin”, bagaimana antum bisa masuk dalam sistem dakwah itu dan merasa memiliki sistem dakwah itu sehingga antum merasa apa yang antum lakukan adalah untuk kebaikan dakwah itu, padahal antum tidak memiliki kepercahaan pada pemimpin dan sistem dakwah itu, padahal sistem dakwah tersebut sudah punya mekanisme untuk mengatasi masalah-masalah antum.

    Sungguh sangat ironis, antum malah merusak mekanisme dan tatanan dalam sistem dakwah ini, apakah masih ada orang yang percaya kalau antum ingin memperbaiki sistem dakwah ini, kalau memang ingin memperbaiki tentu akan mengikuti aturan main, kalau sudah tidak percaya dan tidak mengikuti aturan itu namanya apa??

    Tapi sudahlah, itu sudah menjadi jalan yang antum tempuh, dan rasanya tidak ada nasehat atau masukan yang bisa merubahnya, semuanya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

    Oleh karena itu, atas semua ini, pada bulan syawal ini, saya mengucapkan minal ‘aidin wal faaizin kullu ‘am wa antum bikhairin. Mohon maaf lahir batin.

    Salam,

    A. Zaki

    Hanya ada satu ungkapan yang bisa saya sampaikan kepada antum, “heran”. bagaimana antum masih merasa berada di dalam sistem dakwah yang antum diami saat ini, sementara pergerakan sekecil apapun dari langkah jamaah dakwah yang melenceng, antum justru tidak peka? Jika memang merasa memiliki dakwah ini, memiliki jamaah dakwah ini, seharusnya antum sedikit bisa menggeser cara pandang yang sudah menjadi semacam “doktrin” bahwa pemimpin jamaah pastilah benar, pemimpin jamaah pastilah tidak bisa disalahkan. Sedikit saja menggeser anggapan itu untuk melihat kenyataan bahwa saat ini, bagi yang memahami masalahnya, pastilah ada sesuatu yang tengah berubah. Sekecil apapun. Kecuali, jika antum tetap memaksakan diri untuk mengampuni segala yang terjadi–dan maaf, pura-pura tidak tahu agar tetap berada dalam ‘kebesaran’ barisan dakwah bersama jamaah dakwah tersebut. Saya malah meragukan, apakah langkah antum tersebut akan memperbaiki dakwah atau justru ikut menghancurkan jalan dakwah. Allahu’alam.

    Sungguh sangat menyedihkan, jika antum malah membiarkan segerombolan orang yang justru sebenarnya akan merusak tatanan sistem dakwah ini. Bukan segelintir orang seperti saya. Tidakkah merasa ada bahaya begitu mengancam karena dilakukan oleh lebih dari satu orang dan memiliki kekuasaan pula? Kalo memang antum ingin memperbaiki sistem dakwah ini, janganlah sekadar memaksa saya untuk ikut “petunjuk jalan”, tapi juga harus menekan ‘pembawa kendaraan’ supaya taat kepada rambu-rambu yang telah ditentukan. Tentu sangat naif sekali jika hanya menggebuk satu sisi, sementara sisi yang lain dielus-elus dan disayang-sayang. Padahal, keduanya memiliki peran yang sama. Bahkan yang menjadi pemimpin jauh lebih besar tanggung jawabnya. Jika antum merasa sudah tidak berani menegur yang berkuasa–yang sudah mulai ‘ngelantur’ pula jalannya, apa itu namanya?

    Tapi sudahlah, mungkin antum sudah memilih jalan “diam” atau sekadar berani menekan segelintir orang. Mungkin benar adanya bahwa banyak syabab yang berpikir “default-nya” adalah NEGATIF terhadap orang yang berseberangan ide dengannya, apalagi dengan pemimpin jamaahnya. Jika ini semua yang benar-benar terjadi, sungguh benar-benar sebuah tragedi. Semuanya akan dimintai tanggung jawabnya di hadapan Allah Swt.

    Ok deh, jika itu yang antum inginkan, mumpung bulan Syawal juga, saya mengucapkan Taqabalalallahu minna wa minkum. Mohon maaf jika ada hal yang membuat sesak di dada dan kepala antum.

    Salam,
    O. Solihin


  151. dina Saptu, 4 Oktober 2008 pukul 13:53 syauqi

    wah, ternyata ada disini ya tentang ribut2 masalah ini..

    baru nemu nih.. salam kenal ustadz solihin..

    bisa dibilang waktu ada kasus seperti ini perasaan ana persis seperti yang diungkapkan di komentar2 disini..

    dimulai dari waktu KKI, ana agak kecewa karena acaranya tidak seperti yang ana kira.. kok banyak banget acara yang enggak HT banget, kayak nasyid, sorak2, aksi panggung, rampag bedug.. orasi politik yang sangat ana harapkan ternyata mengecewakan.. banyak kegagalan2..

    terus ketika perubahan peraturan mengenai iuran.. wah jadi makin berat nih..

    terus ada kasus ini pula, gedung 4.5 milyar.. harus infaq 250.000 per-orang.. ana juga bertanya-tanya, ngapain punya gedung kayak gitu??

    bahkan temen ana yang deket ama NII bilang kalo HT dah dimasukkin Intel, “petinggi-petingginya jahat banget”.. katanya..
    terus ana juga baru tahu kalo ustadz2 yang pertama kali nyebarin dakwah HT di Indonesia udah dikeluarkan karena melanggar idary..

    wah, menegangkan pokoknya ustadz.. rasa antara percaya dan tidak percaya kepada jama’ah makin menggebu-gebu..

    tapi yaa, insya Allah ana tidak pernah menggunakan perasaan sebagai tolok ukur.. kecurigaan terhadap pimpinan jama’ah mungkin ada.. tapi ana berusaha bersikap khusnudzan.. yang jelas sih logis aja.. jika terjadi pelanggaran syari’ah seperti apa?? hujjahnya seperti apa??

    nah kalo cuman masalah beli gedung, maka apakah ini pelanggaran syariah?? apa hujjahnya kalo pembelian gedung ini adalah pelanggaran syari’ah??

    pemborosan?? pemborosan itu apa?? apakah memang gedung ini terlalu berlebihan untuk keperluan jama’ah?? memangnya keperluan jama’ah apa? siapa yang menetapkan keperluan jama’ah??

    hal ini berusaha ana pikirkan, dan jawaban ana sampai sekarang sih, bahwa keperluan mengenai gedung ini, maka para pemimpin jama’ah yang mengetahui.. kewajiban ana adalah berkhusnudzan.. ana tidak akan menyimpulan bahwa ini pemborosan atau apa.. karena ana tidak punya tolok ukur untuk mengatakan ini pemborosan.. tidak bolehkah ana tahu pemikiran mengenai kebutuhan gedung ini?? ana belum bertanya kepada pemimpin ana ustadz.. seperti apa analisis mereka sehingga mengeluarkan keputusan ini..

    ana justru jadi bertanya, perlukah memperdebatkan analisis besar, harga, lokasi gedung, dan kebutuhan2 jama’ah yang semakin rumit oleh seluruh jamaah se-nasional??

    wah bisa ribet ustadz.. akhirnya ana berpikir hal ini sudah semestinya dipercayakan kepada pemimpin jama’ah.. jika hal seperti ini mau dibahas, hanya akan membuang-buang tenaga saja.. lebih mudah berkhusnudzan bukan, ustadz??!!..

    insya Allah ana enggak menganggap hal ini sebagai pemanfaatan oleh pihak2 yang enggak amanah, karena sepengetahuan ana, para pemimpin termasuk anggota, mereka juga kena kewajiban yang sama.. mereka juga melakukan hal yang sama..

    terus beberapa temen ana yang sudah berusaha nabung ada juga yang enggak bisa nyumbang penuh.. tapi alhamdulillah tidak ada masalah.. yaa hal ini bisa jadi ujian juga, yang nyumbang penuh belum tentu mereka lebih baik daripada yang enggak nyumbang penuh.. yang nyumbang penuh tapi kemampuan mereka bisa jauh lebih banyak, dibanding yang bener2 ga mampu penuh tapi sudah berusaha semaksimal mungkin kan beda di hadapan Allah ustadz..

    yaa intinya sih Insya Allah ana berusaha mengikuti kewajiban dakwah ini dengan pikiran jernih..

    Insya Allah ana bukan termasuk orang yang ingin mendapat sanjungan, loyal dan sebagainya..

    Barakallah..


  152. dina Saptu, 4 Oktober 2008 pukul 19:18 Makmun

    Mengapa perdebatan ini terus berlanjut?
    Bagaimana dengan DPP HTI mengikapi soalan ini?
    Mengapa seolaholah diam saja?
    Apa tindakannnya? Mengapa tidak melakukan klarifikasi di web ini juga supaya jadi tahu masalahnya bagi kta semua?


  153. dina Ahad, 5 Oktober 2008 pukul 07:30 Mahmood

    Da’wa truely require the fund by dozens. But, what do his reason buy the building at the price of costly? Do is effective and don’t weigh against syabab? What is his benefit will big? Why don’t look for the cheap building or rent?


  154. dina Senén, 6 Oktober 2008 pukul 08:57 A.Zaki

    Apapun yang saya sampaikan ini kelihatannya tidak ada artinya bagi antum, tapi palingtidak saya sudahmenyampaikan, bahwa kesalahan mendasar yang antum lakukan yang membuat saya prihatin adalah “berprasangka buruk” kepada setiap orang yang mencoba menasehati antum.

    Saya tidak menyalahkan kekritisan dan kepedulian antum, tapi hanya mempertanyakan cara yang antum gunakan, benarkah dengan cara seperti itu dapat dikatakan memperbaiki…

    eee malah antum mengumbar prasangka, apakah antum tahu kalau saya diam saja, atau kalau para syabab yg lain juga diam saja….

    Mereka adalah para syabab yang telah dibina untuk senantiasa kritis, penuh kepedulian bukan hanya kepada masyarakat juga kepada para penguasa apalagi pada pemimpinnya sendiri, apakah antum pernah diajarkan doktrin untuk berdiam diri terhadap kemungkaran pemimpinnya, para syabab adalah orang-orang yang mukhlis, tidak mengharap imbalan dunia dalam dakwah, dan tidak mengharap kebesaran apapun didunia ini kecuali ridla Allah, para syabab juga adalah orang-orang yang rela berkurban, siap mengorbankan harta, tenaga, bahkan jiwa untuk dakwah.

    Tapi semua itu antum nafikan hanya karena terlihat diam, dan tidak mengikuti cara yang seperti antum lakukan. Padahal mereka tidak mengikuti cara antum karena mereka tahu aturan, tahu cara bagaimana mengkritik dan menegur pemimpinnya yang salah.

    Saya tidak pernah menganggap setiap komentar dari siapapun tidak ada artinya seperti sangkaan Anda (yang, menurut saya sudah berburuk sangka pula kepada saya–dengan menuliskan bahwa yang Anda sampaikan tidak ada artinya bagi saya). Saya tetap menghargai komentar siapapun. Baik yang pro, apalagi yang kontra. Welcome. It’s ok.

    Saya juga tidak menyalahkan siapapun kecuali sudah benar-benar nyata kesalahannya–tentu yang saya ketahui. Apa itu salah?

    Sekadar tahu saja, bahkan saya pernah menuliskan di komentar terdahulu bahwa saya juga punya banyak teman yang mengekspresikan kekritisannya dengan cara yang berbeda dengan saya. Nggak masalah. Ini memang cara saya saja setelah sekian banyak cara melalui jalur resmi mentok. Teman-teman saya di sini juga tetap melakukannya di dalam kok. Dan, saya tidak menganggap bahwa itu adalah sia-sia. Tidak pernah. Silakan jalan masing2. Kalo pun ada yang nggak setuju dengan cara saya juga silakan. Itu hak dia.

    Wah, kalo soal keikhlasan, keistiqomahan, keberanian para syabab yang memang demikian adanya, saya insya Allah tidak pernah meragukannya. Tapi, perlu diingat bahwa syabab juga manusia. Bukan berarti ketika menyandang gelar “syabab” sudah pasti akan tahan godaaan dan hantaman dakwah. Syabab juga manusia yang bisa berubah yang bisa kalah, yang bisa lemah, yang bisa berubah pikiran. Contohnya banyak kok. Bahkan yang terbaru ada syabab senior yang “bandel” yang akhirnya berdasarkan kabar dari teman di salah satu mahaliyah bahwa yang bersangkutan sudah dikeluarkan dari jamaah karena memilih “berkarir” di FUI :-)

    Okelah, itu hak antum. Saya kembalikan saja masalah ini kepada antum. Terserah antum mau menilai saya seperti apa dan sesuka antum mau memahami gaya saya dengan cara penilaian menurut yang antum inginkan. Bagi saya nggak masalah. Bukan masalah berat atau besar. Biasa-biasa saja. Toh, kadang yang berkuasa dan berwenang sekalipun dalam sebuah organisasi gemar melakukan kesalahan. Tapi, maaf saya bukan mengampuni diri saya sendiri atas apa yang saya lakukan dengan menuliskan demikian. Saya hanya ingin menuliskan bahwa tak ada manusia yang sempurna. Itulah mengapa kita diwajibkan saling menasihati.

    Terima kasih, atas semua komentar dan nasihat antum. Yang baiknya insya Allah saya ambil, yang belum bisa meruntuhkan keyakinan dan pendapat saya, mohon maaf, belum bisa saya ambil. Itu saja. Terima kasih.

    Salam,
    O. Solihin


  155. dina Salasa, 7 Oktober 2008 pukul 05:53 محمد سليم

    وينبغي أن يكون هذا المبلغ عنها لزعيم حزب التحرير. لا يمكن أن يستمر مثل هذا اليسار. مناقشة مثل هذا لن يؤدى سوى الى استمرار المشاكل الرئيسية. المديرين في مجالات اندونيسيا ينبغي أن تكون مسؤولة لحلها. لا صمت


  156. dina Kemis, 16 Oktober 2008 pukul 13:26 someone

    afwan, saya nggak sengaja kesasar di situs ini…
    tapi sebenarnya saya bingung juga, saya bisa merasakan apa yang ustadz Oleh rasakan (walaupun saya nggak pernah kenal sih), karena saya juga pernah menyampaikan kritik tapi jawabannya kurang memuaskan..
    walaupun saya berada nun jauh di jawa timur, tapi sepertinya saya juga merasakan kadang2 suasana di dalam emang agak gimana gitu
    tapi saya juga setuju dengan beberapa komentar orang yang ada di sini,apa nggak sebaiknya masalah ini tidak perlu diumbar di luar..walaupun saya uda baca kalo hal ini sudah disampaikan dalam tubuh internal…
    karena banyak sekali orang yang tidak suka pada dakwah ini, takutnya hal ini malah akan menjadi bumerang bagi dakwah,bahkan dapat mengecewakan harapan&cita2 seluruh muslim di seluruh dunia yang sangat mengharapkan muslim indonesia (katanya)
    walaupun sebagai manusia kita sering melakukan kesalahan&banyak hal di dalam tubuh internal yang menyakitkan hati kita..
    tapi selama manusia di dalamnya sudah mengenal Islam,saya yakin masih ada sebuah harapan untuk perbaikan…
    Dan satu hal lagi, yang mungkin membuat banyak orang bisa bertahan adalah keinginan untuk melihat Islam tegak kembali, melihat kaum muslimin dari berbagai jamaah bersatu dalam ukhuwah Islamiah yang tulus..
    Karena keadaan saat ini benar2 membuat hati sedih
    Kesulitan ekonomi,dan sering adanya pergesekan antar kaum muslim yang berbeda kelompok, padahal kita selalu menggembar-gemborkan ukhuwah Islamiah..
    itu sedikit komentar saya,afwan jiddan kalo ada yang salah


  157. dina Senén, 20 Oktober 2008 pukul 15:55 neng

    sy pernah kunjungan ke tempat kenalan baru dengan niatan ingin mendiskusikan masalah kaum muslim, waktu itu saya belum punya kendaraan hanya modal sepeda mini, kebetulan kenalan baru ini seorang yang memiliki kelebihan dari sisi harta dan lumayan jadi panutan masyarakat sekitarnya, sekalipun masih belum bisa dikatagorikan tokoh bermasa besar sih. menurut pendapat saya jika kita ikhlas, dengan modal seadanya . insya ALLAH kalo memang beliau hanif bisa saja terima apa adanya.jadi bismillah, insya Allah tak masalah.. sampai ke depan pintu gerbang rumahnya. saya di sambut oleh pa satpam yang langsung menghampiri dan berkata, maaf mba nda nerima “sumbangan” ,waktu saya bilang udah janjian dengan si ibu, pa satpam masih nda percaya… sampai akhirnya saya di suruh pulang dech…

    hmmm dari sini saya coba memahami mengapa sebuah parpol perlu wadah yang membantunya untuk eksis…krn ternyata perkara itu cukup membantu memperlancar orang-orang untuk menerima pada pandangan pertama.

    wallahualam
    saya yang lemah ilmu ini mencoba untuk memahami mengapa dakwah itu mahal

    ya memang tidak diragukan lagi bahwa dalam dakwa itu ada ’sarana-nya’ saya salut dengan sikap anti yang tetap dateng walau dengan sepeda ontel. Namun dalam cerita diatas, sikap yang harus ditumbuhkan adalah, jangan menyerah dengan sekali atau 2 kali penolakan saja. Memang hati hancur lebur tak kala dakwah kita tidak diterima atau menuai hambatan. Tapi justru itulah yang mematangkan kita, apakah kita layak mengemban dakwah yang agung ini.

    Dakwah adalah perubahan, perubahan yang kita inginkan adalah perubahan permanen, mungkin dengan sarana dakwah yang kita bawa orang bisa dengan instant berubah pada awalnya, tapi bukan perubahan yang sekilas dan sementara yang kita incar, tapi perubahan yang nyata dan menyeluruh, janganlah anti tersilaukan dengan perubahan sementara ini.

    salah satu mubaligh ternama di negeri ini pernah mengalami hal semacam itu, bagaimana dakwahnya berjalan dengan luar biasa, namun ketika beliau mendakwahkan poligami, sepontan masa dakwahnya bubar. Dari situ sebenernya kita bisa belajar banyak. Semoga bermanfaat.

    Abu Fikri


  158. dina Salasa, 21 Oktober 2008 pukul 09:16 A.Zaki

    Ada perkara yang perlu didiskusikan dan ada perkara yang tidak perlu didiskusikan, perkara yang belum menjadi keputusan masih terbuka untuk didiskusikan dan adanya masukan-masukan, sedang perkara yang telah diputuskan tidak perlu dan tidak boleh didiskusikan atau diperdebatkan tetapi untuk dilaksanakan, dan keputusan itu ada pada pimpinan.

    Bisa jadi alasan keduanya sama-sama benar, tetapi mndiskusikan dan menperdebatkan apa yang telah menjadi keputusan pimpinan merupakan bentuk-bentuk pengingkaran dan ketidaktaatan kepada pimpinan.


  159. dina Salasa, 21 Oktober 2008 pukul 16:21 Zakaria

    Para pengurus DPP HTI pada kemana yach?
    Koq perdebatan ini tak kunjung akhir??

    Sampai di mana rencana pembelian gedung itu? Kabarnya belum terkumpul semua duitnya yach??


  160. dina Kemis, 30 Oktober 2008 pukul 20:15 kyai domi

    apa sih kesalahan dpp ? kalo soal gedung, bukankah ini memang diperlukan, apalagi amir sdh bilang gitu, ya jalankan. soal yg lain ; FUI, Takmim dikeluarkannya 3orang (inikan udah sering…lebih sering keluar g bilang2) … dimana salahnya…??? Tentu ini perlu kepercayaan bahwa keputusan dpp adl syar’i dan diketahui amir. tp kalo g percaya lagi…??? ya susah to.


  161. dina Saptu, 1 Nopémber 2008 pukul 22:32 Yoganata

    6 miliar rupiah?
    Bikin aja surat kabar dan stasiun radio
    itu jauh lebih terasa manfaatnya dari pada gedung saja…



Pairan ditutup.

  • Profil Facebook Oleh Solihin Penulis buku yang sampai saat ini mengkhususkan diri menulis untuk segmen pembaca remaja. Juga menjadi Editor di website GI-Online dan Buletin Remaja GAULISLAM kmo-daftar-2 join

    Mailing List GAULISLAM

    O. Solihin

    ↑ Grab this Headline Animator

    gi-kisi iklanbk-resize2 300x250
  • My First Online experience

  • Translate this blog

    Arabian Rusian Spanish Dutch Italy
  • Hari ini tanggal

  • Waktu Adzan

  • Aturan CopyPaste

    Assalaamu'alaikum wr wb. Silakan diambil seluruh artikel, file, atau gambar yang ada di situs ini. GRATIS. Silakan di-”copy paste” artikel-artikel di situs ini. Hanya saja, jika disebarkan kembali kepada masyarakat secara luas (apalagi dijual-belikan dalam bentuk kumpulan makalah atau buku), tolong dicantumkan sumber asalnya, yakni situs ini dan juga penulis aslinya. Soalnya beberapa buku di pasaran ada yang copy-paste juga dari tulisan-tulisan saya lho. Gawat bener tuh orang (tak mencantumkan sumber tulisan--bahkan copy-paste abis, karena titik dan koma juga sama). Lengkapnya, baca Rambu-Rambu
  • Desk Utama

    • Belanja Bukuku
    • Catatan Kunjungan
    • Kirim Pertanyaan
    • O. Solihin Itu…
    • Rambu-Rambu
  • Admin

    • Asup log
    • Muatan RSS
    • Pairan RSS
    • WordPress.com
  • Menu Blog

  • Arsip

  • destroycapitalism.jpg saatkhilafah.jpg savetheworldwithislam.jpg hancurkandemokrasi.jpg rise-khilafah.jpg islambukanterorisme.jpg hentikandiam.jpg dakwah.jpg ngaji-trendi.jpg jilbab-cantik.jpg
  • "Ketika kau merasa letih dalam melakukan kebaikan maka sungguh keletihan akan segera sirna dan kebaikannya akan abadi. Sekiranya kau merasa bahagia melakukan dosa dan maksiat, ketahuilah bahwa kebahagiaannya akan segera sirna padahal dosa dan kemaksiatannya akan abadi." (Ali bin Abi Thalib ra) mk120x600px
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia



    Personal Blogs - Blog Top Sites
    Indonesia To Blog -Top Site
    Check Page Ranking Yuk.Ngeblog.web.id
  • Baru Posting

    • Jilbab Bukan Sekadar Simbol
    • Tutup ku kecap “Me Too”
    • Kelas Baru! Kursus Menulis Online, Penulisan NONFIKSI
    • Kelas Baru! Kursus Menulis Online, Penulisan FIKSI
    • The Lies That We Tell to Our Self
  • Top Banget!

    • Nama-nama islami
    • Perilaku Seks Remaja: Makin Bebas!
    • Kamus [Arab-Indonesia & Indonesia-Arab]
    • Kamus Indonesia-Jerman
    • Kupu-Kupu Malam; 'Profesi' Baru Remaja Putri
    • [e-book] Islam Vs Kristen (Debat di Kairo)
    • Belajar Bahasa Arab Yuk!
    • Lagu dari Zain Bikha
    • Kamus [Indonesia-Inggris & Inggris-Indonesia]
    • [MP3] Democratik Dictatorz
  • Komentarmu Itu...

    radio dina “Termehek-mehek”,…
    Rohis SMAN 9 Bandar … dina The Lies That We Tell to Our…
    NN dina [MP3] Balfour’s Fra…
    hardian2009 dina [e-book] Islam Vs Kristen (Deb…
    hardian2009 dina [e-book] Islam Vs Kristen (Deb…
    hardian2009 dina [e-book] Islam Vs Kristen (Deb…
    hardian2009 dina [e-book] Islam Vs Kristen (Deb…
    hardian2009 dina [e-book] Islam Vs Kristen (Deb…
    hardian2009 dina [e-book] Islam Vs Kristen (Deb…
    hardian2009 dina [e-book] Islam Vs Kristen (Deb…
  • Polling Neh!

    Islam jadi Ideologi Negara
    1) Sangat Setuju
    2) Setuju
    3) Tidak Perlu
    4) Tidak Setuju

    View Results
    Make your own poll
  • Silakan Pilih

  • Alumni Writing Adventures

    • Dyah/Nunil
    • Imun
    • Melati
    • Merpati
    • My Pena
    • Nailah
    • Newha
    • Nuha A
    • Yaffa
  • Blog Istriku

    • Nur Handayani
  • Blog-ku juga

    • O. Solihin
    • O. Solihin [MP]
  • Komunitas

    • 4 Women Only
    • Ayo Nulis!
    • BANGO-Mania
    • Belajar Menulis
    • Dunia Muslimah
    • EdukasiNet
    • Encyclopedia of Life
    • INSIST
    • Langit Selatan
    • Lembur Kuring
    • Liberation Youth
    • Menulis Kreatif
    • Naik Sepeda
    • Naskah Mobile
    • Ngadu Bako Urang Sunda
    • Oase Islam
    • Paguyuban BKM
    • Penulis Lepas
    • Portal Training Ind
    • Pustaka Eidariesky
    • Tatar Kuningan
    • Urang Sunda
    • UT Online Learning Center
    • Web Kimia Indonesia
  • Link

    • al-habib
    • al-Quran Online
    • BelajarOffice
    • e-Book Bisnis TOP!
    • e-Book Bisnis TOP!
    • Kamus Online [Indonesia Jerman]
    • KBBI-Online
    • Q! Net MEDIA
    • RajaPresentasi
    • Resep Masakan Khas
    • Tabel Periodik Kimia
    • Universitas Terbuka
    • Wikipedia
    • WordPress.com
    • WordPress.org
  • Media Massa

    • Blog Buletin STUDIA
    • Blog-Zine SOBAT Muda
    • gaulislam
    • Halal Guide
    • IslamOnline
    • Islamuda
    • Jurnal Ekonomi Ideologis
    • Khilafah Magazine
    • Penerbit Gema Insani
    • Pravda
    • Suara Hidayatullah
    • Tabloid SUARA ISLAM
    • The Campus
    • World News
  • Partai Islam

    • Al Muhajirun
    • Hizbut Tahrir (Belanda)
    • Hizbut Tahrir (Denmark)
    • Hizbut Tahrir (Indonesia)
    • Hizbut Tahrir (Jerman)
    • Hizbut Tahrir (Perancis)
    • Hizbut Tahrir (Polandia)
    • Hizbut Tahrir (Rusia)
    • Hizbut Tahrir (Turki)
    • PKS
  • Teman

    • Adian Husaini
    • Ahmad Irfan
    • Aroengbinang
    • Astari Sekar Ayu
    • Ayung Tea
    • Bibi Lung
    • Cokie
    • Daeng Rusle
    • Divan Semesta
    • Doni 40
    • Dudung Abdusomad
    • EG Giwangkara
    • Eris Ristemena
    • Evi Syar’i
    • F4154LMAN
    • Fahmi Amhar
    • Fauzan Muttaqien
    • Fira Susanto
    • Gola Gong
    • Hafidz 341
    • Hendra GI
    • hmcahyo
    • LiezMaya
    • M. Shiddiq al-Jawi
    • M. Sugiono
    • M. Uci
    • Moch. Asrori
    • On2hood
    • Pak Awan Kuningan
    • Puan Borneo
    • Purnama
    • Qizink
    • Rakhmat Setyawan
    • Ria Fariana
    • Riri Hidayah
    • Rizki S Saputro
    • Rizqi Awal
    • Rizqi Awal
    • SmartBlogging
    • Suyamto Fajar
    • Tb. Sjafri Mangkuprawira
    • Ummurazi
    • Undang A Halim
    • Veri Nurhansyah
    • Zainal Ali Muslim
  • RSS GaulIslam

    • Jilbab Bukan Sekadar Simbol
    • Penyakit itu Bernama Sombong
    • The Lies That We Tell to Our Self
    • Puasa Melatih Tanggung Jawab
    • Pemimpin
  • RSS DUDUNG NET

    • The Lies That We Tell to Our Self
    • Remaja Masjid Kudu Gaul!
    • Al-Qur'an Adalah Pengharum Abadi
    • Antara Hati Berkarat dan Hati Kemilau
    • Perjalanan Cinta
  • RSS ANTARA News

    • Sekjen ASEAN Luncurkan "Asean Secretariat Policy Forum"
    • Penjualan Ritel AS Juni Naik 0,6 Persen
    • (Kanal Pemilu) Yudhoyono Bantah Isu Istrinya Capres 2014
    • Yudhoyono Bantah Isu Istrinya Capres 2014
    • Syekh Puji Ditangkap Lagi
  • RSS VOA News

    • Inggris Bela Kebijakannya di Afghanistan
    • Badai Ancam Peluncuran Pesawat Antariksa Endeavour
    • Saudi Keluarkan UU Anti Perdagangan Manusia
    • Timor Leste Adili Penembak Presiden Horta
    • Inggris Cabut Lima Lisensi Ekspor Senjata ke Israel
  • Page-Counter

    • 517,525 hits sejak Maret 2007
  • Pengunjungku dari…

    IP
  • Statistik Blog Ini

    Motigo Webstats - Free web site statistics Personal homepage website counter
    Free counter Free blog counter Site Meter web counter Free Web Counter
    Free Counter
  • Yang Bertamu :-)

    Recent Readers

    View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile
    View Entire Community Provided by MyBlogLog
    Locations of visitors to this page
  • Relationship Blogs - BlogCatalog Blog Directory

    Recent Readers

    View My ProfileView My Profile View My Profile View My Profile View My Profile
    Powered by BlogCatalog

Blog di WordPress.com.

Jejer: Mistylook rékaan Sadish.