![]()
edisi 074/tahun ke-2 (26 Rabiul Awal 1430 H/23 Maret 2009)
Reality show saat ini sedang menjamur. Tapi di antara semua tayangan reality show, Terhehek-Mehek adalah salah satu program yang dianggap paling disukai oleh pemirsa. Jam tayangnya yang prime time yaitu 18.15-19.00 WIB hingga back song-nya yang keren dan syahdu, membuat acara ini makin diminati.
Pertama kali nonton Termehek-mehek, apa sih yang ada di benak kamu? Pastinya sih terseret arus cerita yang seringkali mengaduk-aduk perasaan di tengah-tengah acara pencarian orang yang dikasihi. Kamu diajak untuk ikut dag-dig-dug menanti ending cerita, happy or sad ending? Jadinya berat rasanya mata untuk dialihkan ke hal lain selain mantengin monitor TV sampai acara selesai. Ehem..iya apa iya?
Mayoritas dari kita, saya dan kamu pasti yakin dan percaya bahwa acara tersebut adalah nyata dan bener terjadi. Dan masih banyak jutaan pemirsa TV lainnya juga yang ikut menangis dan bahagia sesuai dengan jalan cerita Termehek-mehek. Eh…usut punya usut, ternyata acara Termehek-mehek dan mayoritas reality show lainnya itu adalah rekayasa, bukan murni nyata kejadiannya. Kok bisa sih? Makanya, supaya ngerti, ikutin terus pembahasan ini yah. Lanjuutt!
Ternyata rekayasa
Dalam bahasa Jawa, ada istilah ‘nggak mehek’ yang artinya kurang lebih meremehkan atau menganggap kecil sesuatu. Namun Termehek-mehek yang sekarang lagi booming, mempunyai arti menangis tersedu-sedu. Acara ini muncul sekitar Mei 2008 dan langsung menarik perhatian mayoritas pemirsa TV. Ide acara adalah membantu mencari seseorang yang lama hilang. Jalinan ceritanya begitu mempesona karena dibuat seakan-akan nyata dan terjadi dengan sebenarnya.
Saya yang semula juga tersepona eh…terpesona pada Termehek-mehek, jadi kuciwa juga mengetahui fakta sebenarnya. Helmi Yahya sebagai yang punya ide cerita mengakui bahwa ia memanfaatkan karakter orang Indonesia yang suka diberi mimpi.
Para pemeran di tiap episode sengaja diambil dari masyarakat umum terutama mahasiswa agar terkesan alami karena wajahnya belum pernah nongol di TV sebelumnya. Ada satu kasus ketika seorang mahasiswa langsung diteleponin oleh banyak teman-temannya setelah shooting reality show. Jelas aja nih mahasiswa langsung menjelaskan pada teman-temannya itu bahwa cerita yang diangkat bukanlah kisah pribadinya, tapi rekayasa berdasarkan skenario belaka. Malulah kalau sampai beneran kisah pribadinya jadi konsumsi banyak orang se-Indonesia, begitu katanya.
Sebagian dari kamu bisa jadi nggak terima dengan kenyataan ini. Kok bisa sih? Bukankah jelas-jelas sang target pernah mengusir kameramen acara termasuk host-nya yaitu Panda dan Mandala? Masa’ rekayasa pake acara usir-usiran segala? Bahkan Panda pake acara nangis juga bila kebetulan ending cerita mengharukan atau sedih. Mungkin kamu berpikir naïf seperti itu.
Yupz, kamu emang nggak salah. Namanya aja acting, pastilah ya harus meyakinkan. Bahkan Panda dan Mandala pun dibayar bukan cuma untuk menjadi host, tapi plus acting juga. Bagi mereka yang bekerja di dunia pertelevisian, sedari awal langsung ngeh bahwa acara-acara reality show seperti ini penuh dengan rekayasa. Namanya aja show atau pertunjukkan yang sudah jelas ada unsur menghiburnya dong. Hal ini tidak bisa dihindari karena tuntutan deadline. Ketika tidak ada satu kisah nyata yang bisa diangkat ke layar TV, maka solusinya adalah bikin skenario dan membayar pemain amatiran agar terkesan alami. Nah, awalnya saya pikir sebagian, tapi ternyata most of them alias hampir semua episode adalah rekayasa!
Cara gampang untuk mengenali bahwa ini adalah rekayasa yaitu kamu perhatikan aja kualitas suara yang jernih ketika terjadi percakapan antara host, client dan target. Kalau memang si target benar-benar tidak tahu sebagaimana ekspresi mukanya yang seringkali berakting bingung ketika didatangi host, maka seharusnya kualitas suara mereka tidak sejernih yang kita dengar di TV. Kejernihan suara itu karena memang adanya chip untuk mikrofon yang biasanya dipasang di baju. Nah loh…
Kalo kamu jeli, ada wajah tokoh pada acara termehek-mehek yang juga sedang bermain sinetron meskipun hanya sebagai tokoh figuran. Lagipula, bila acara ini menyajikan kejadian sebenarnya, apa ada orang yang rela aibnya ditampilkan sedemikian rupa di TV? Kan sudah mendapat persetujuan dari semua pihak, mungkin itu kilahmu. Namanya juga dramatisasi Non, pastilah acara ini dihadirkan agar seolah-olah semuanya terlihat real.
Mengapa terjadi?
Yupz…kalo di benakmu sempat terbersit pertanyaan seperti ini, itu tandanya kamu sudah selangkah lebih cerdas. Kok bisa-bisanya reality show yang seharusnya real alias nyata, eh ternyata malah rekayasa. Kondisi ini memang memanfaatkan psikologi orang Indonesia yang cenderung pasif dan konsumtif. Mereka mudah ‘dicekoki’ apa saja terutama yang bertujuan pembodohan secara massal. Hal ini pula yang terjadi pada berbagai macam program TV di Indonesia.
Deadline, biasanya menjadi alasan utama rekayasa tayangan reality show. Jadi kalo nunggu kisah nyata beneran untuk ditayangkan, itu bakal menunggu waktu lama dan belum ada kepastian juga kasusnya bisa selesai atau nggak. Kalo direkayasa dengan skenario layaknya sinetron, maka menjual program ini ke stasiun TV jadi lebih mudah karena semuanya serba mudah dan pasti. Karena mudah dan ditonton banyak pemirsa, maka rating pasti naik. Kalo rating naik, iklan pun bakal rebutan untuk ambil porsi tayang. Nah, loh…UUD juga alias Ujung-Ujungnya Duit.
Berdasarkan data AC Nielsen di akhir tahun 2008, Termehek-mehek merupakan program acara paling populer dengan raihan rating 7,2 poin dan share 27,3 persen. Ini adalah yang tertinggi dari semua acara reality show yang ada di stasiun televisi lainnya. Menurut Gusti M Taufik, salah satu Event Coordinator pada sebuah Production House (PH) di Jakarta mengatakan bahwa budget produksi pasti akan membangkak jika shooting menggunakan kejadian real. Belum lagi memburu target pasti akan makan waktu lama. Perhatikan saja pada acara Termehek-mehek, meyoritas pencarian orang bisa dilakukan hanya dalam waktu beberapa hari. Padahal faktanya itu adalah skenario yang bisa diselesaikan hanya dalam waktu hitungan jam saja.
Uang adalah raja diraja manusia saat ini, apalagi untuk program TV. Meskipun sebuah tayangan dikatakan bermutu dan mendidik, namun tanpa uang atau iklan yang menyokong, maka bisa dipastikan program tersebut akan gulung tikar dengan cepat. Begitu sebaliknya, meskipun sebuah tayangan dikategorikan ‘junk program’ alias tidak bermutu, tapi bisa tetep jalan bila didukung kekuatan modal. Inilah pola hidup kapitalisme yang memang sangat mendewakan modal dan pemodal sebagai penguasa zaman.
Tradisi intip-mengintip, mencari celah untuk tahu aib orang, bertengkar dengan kasar di depan umum, berkata-kata jorok sehingga TV perlu menyensor dengan bunyi ‘tiiiittt’, adalah sebagian budaya reality show terutama Termehek-mehek yang berusaha diajarkan pada kita. Sifat dasar manusia yang selalu saja ingin tahu urusan orang dijadikan komoditi, tak ubahnya seperti infotainment. Bedanya, kali ini yang dijadikan objek pengintipan adalah mereka yang bukan selebritis. Tapi intinya sih tetep aja, melakukan hal-hal yang nggak penting dan nggak bermanfaat.
Bagaimana sikap kita?
Mungkin awalnya kita nggak paham tentang realitas reality show. Jadinya kita gampang banget tertipu dan ngefans dengan sebuah program tayangan tertentu. Sampai-sampai kita bela-belain untuk menunda keperluan lain demi nggak mau ketinggalan acara tersebut. Ehem…iya apa iya?
Nah, sekarang kamu jadi ngerti tentang apa dan bagaimananya reality show itu terutama Termehek-mehek yang sekarang ini lagi booming. Terus, apa dong yang kita lakukan sebagai pemuda cerdas plus beriman? Ya…nggak usahlah terlalu serius nonton acara reality show itu. Apalagi tayangan favorit begini biasanya sengaja ditaruh di jam-jam darurat. Perhatikan aja Termehek-mehek ini tayang di waktu Maghrib yang singkat. Kalo kamu udah taraf kecanduan sama acara beginian, bisa dipastikan bakal males mau berangkat sholat. Bila pun melakukan, pasti maunya pingin cepet-cepet selesai alias sholat ala kilat khusus (emangnya surat?).
Padahal itu semua rekayasa loh. Seandainya pun bukan rekayasa, masa iya sih tayangan reality show bisa mengalahkan waktu sholat kamu? Semua ini adalah langkah awal bagi media TV untuk menanamkan racunnya ke dalam benak kaum muslimin terutama pemudanya. Kamu jadi terlena di depan TV dan males untuk sholat secara khusyuk dan tumakninah. Boro-boro baca al-Quran setelah sholat Maghrib, yang ada juga baca al-Fatihah nggak jelas bacaannya karena cepet-cepetan mau nonton Termehek-mehek. Aduh….moga aja kamu bukan type ini ya.
Sabtu sore dan Minggu sore itu biasanya banyak kegiatan di sekitar rumah kamu karena anak-anak sekolah dan kuliah pada santai. Dengan adanya Termehek-mehek ini biasanya kamu-kamu pada males untuk berangkat ngaji atau kegiatan positif lainnya. Pinginnya cuma duduk manis sambil mantengin layer TV nunggu acara reality show kelar.
Nah, mulai sekarang udah nggak musim lagi males ngaji dan ikut pembinaan. Meskipun acara TV kesayangan kamu lagi main, waktunya berangkat menimba ilmu ya berangkat aja. Emang TV bisa menyelamatkan dunia-akhirat kamu? Pasti nggak dong. So, nonton reality show ya wajar-wajar aja kaleee, nggak perlu sampai kecanduan.
Semua ini sandiwara
Bagi yang nggak begitu suka dengan sinetron, biasanya terjebak dengan reality show semacam Termehek-mehek. Padahal program jenis ini setali tiga uang alias sama saja dengan sinteron hanya beda kemasan. Sang produser tahu bener bahwa tidak semua orang bisa ditipu untuk program pembodohan ala tayangan sinetron. Oleh karena itu butuh polesan cerdas untuk tope orang-orang seperti ini dengan tayangan jenis lain. Reality show adalah jawabannya.
Sesungguhnya, semua ini adalah sandiwara. Sandiwaranya para pemodal untuk mengeruk untung sebanyak-banyaknya, tak peduli apakah tayangan itu merusak generasi atau tidak. Yang penting bagi mereka adalah rating tinggi yang berarti iklan banyak, duit pun mengalir menambah penuh pundi-pundi uang mereka. Parahnya lagi, masyarakat kita terlena dengan kebodohan ini. Maka sudah saatnya bagi kamu-kamu yang selangkah lebih cerdas daripada rakyat kebanyakan karena kamu udah membaca gaulislam ini (ehem… kagak nyombong Non!) untuk tidak berdiam diri.
Yuk, kita sebarkan pemahaman ini pada umat. Bukan melulu tentang rekayasa reality show saja tapi juga muatan isinya yang bisa merusak generasi secara perlahan tapi pasti. Ingat, tayangan TV hanya hiburan. Ibarat garam pada masakan, bila kebanyakan maka selain rasanya nggak enak juga pasti menimbulkan berbagai macam penyakit.
Begitu juga dengan tayangan TV, nggak perlu menjadikan TV sebagai menu pokok harian kamu. Sekadarnya saja untuk mengetahui berita terkini terutama tayangan yang bermutu dan bermanfaat. Selebihnya, kita kudu ingat bahwa hidup ini bukanlah main-main. Hidup di dunia juga bukan sandiwara, tapi sungguhan. Kita berbuat salah ya akan mendapat dosa, kalo beramal shalih akan dapat pahala. Hidup kita akan dihisab, akan dimintai pertanggungan jawabnya. Allah Swt. yang akan mengawasi kita semua. Dia tidak bisa ditipu dengan acting kita yang bepura-pura alim atau berpura-pura ikhas. Jadi, beramallah sebaik-baiknya untuk kehidupan sebenarnya di negeri akhirat kelak. Biarkan saja Termehek-mehek dengan acara ‘nggak mehek’nya itu, yang penting kamu nggak lagi sebagai orang naïf yang percaya banget sama reality show. So, ayuk bergerak dan berdakwah untuk perubahan! [ria: riafariana@yahoo.com]

































Hiks..dari awal saya sudah tau…itu cuma skenario.
Tapi itulah hebatnya Bung Helmi..ngibulin jutaan orang (kebanyakan ibu2 termasuk istri sama pembantuku)
Loh… Membahas mengapa dan harus bagaimana menanggapi tapi bukti itu rekayasa mana??????????
I need it.
namanya juga dunia ini panggung sandiwara…
gak mesti masuk termehek-mehek banyak dari kita tuh udah doyan ngibul..
ngritik tayangan termehek-mehek..emang bener..itu rekayasa..
kok bisa sih .. nanti satu pemerannya bisa ikut di satu scene FTV stasiun swasta atau mungkin juga iklan atau bahkan reality show yang lain..
masa mau udah beber-beberin kisah sedih dan tragis bahkan kayaknya jadi objek penderita..tiba-tiba jadi orang kaya dan cakep banget di sebuah sinetron..
huff..
mungkin kalo nonton acara itu, jangan cuma inget wajah pembawa acaranya doang, tapi juga pemeran yang punya kisahnya juga
[...] Sumber: Klik Disini [...]
[...] Sumber: klik disini [...]
ga tau acara tv,soalnya jarang nonton tv seh,hehehe
iya besok denger2 mau ganti nama jadi termencret-mencret…
dari dulu aku ndak suka acara reality show.. :p
kita udah jadi korban pembodohan acara reality show! gimana neeh langkah selanjutnya???
Buat yang mau ngebuktiin acara ini boongan apa nggak…
Simak saja sampe abis credit titlenya pas acara udah kelar.
Di situ jelas2 ada tulisan “DRAMA REALITY SHOW” Tulisannya kecil sih, mgkn biar nggak ketauan. And buat jaga2 kalo produsernya tiba2 dituntut dengan tuduhan pembohongan publik. Hehehe.. pinter jg tuh produsernya, udah ancang2 duluan.
Lagian, tanpa tulisan itupun kita harusnya udah tau kalo itu boongan dengan kalimat kunci ini:
“Mana ada seh org yang mau, aibnya dibeberin gratis ke jutaan org penonton TV di Indonesia”.
Ok, bung Solihin. Silakan dilanjut…
Sepertinya kok mengada ada….dibilang termehek mehek rekayasa..Nama besar stasiun Trans TV yang jadi taruhannya. Saya masih yakin…itu memang apa adanya. Karena akting yang diperankan sangat alami….untuk orang umum itu kelihatan….kecuali aktor atau artis yang sudah pekerjaannya. Itulah kreativitas kru TV yang perlu diacungi jempol …banyak acara selain termehek mehek yang sudah terbukti kebenarannya….semisal acara Toolong .
Terima kasih tulisannya Mas…
Aku juga ingin menuliskan kembali hasil kiriman dari seorang teman via email, berikut isinya:
–
[Termehek-mehek] Demi Rating Apapun dilakukan
Acara ini emang castingan…emang disengaja pasang pemain bukan dari seleb biar seolah2 kejadian beneran trus di shoot… wah ketepu deh…
Demi Rating Apapun dilakukan
Pernah nonton program reality Show Termehek – mehek di Trans Tv?
Acara ini tayang setiap Sabtu dan Minggu jam 18.30.
Sedikit Gambaran singkatnya, Acara ini mengupas tentang kasus kehilangan seseorang, entah itu pacar, temen bahkan kakek yg udah lama lost contact.
Dan Akhirnya tanpa sengaja, Edisi minggu kemarin menguak kebohongan reality show tsb.
Awalnya saya sudah mengira program ini pasti bagai pinang dibelah gergaji dengan reality show yg lain. Mengumbar cerita bohong demi sebuah rating.
Pada Episode itu bercerita seorang cewe yg udah 3 bulan ditinggal cowonya yg bernama Ruly.
Usut punya usut selidik punya selidik layaknya detektif Hunter tahun 80an, ternyata oh ternyata si Ruly terlihat jalan dengan seorang Wanita setengah baya yg pada episode itu dianalogikan sebagai seorang Tante Girang.
Pada satu segmen tiba2 Istri saya yg sedang asyik nonton nyeletuk dan membuyarkan canda saya dengan Fayyaz, ” Loh yang..itu kayak temen kamu tuh”
Begitu Mata ini tertuju pada Televisi 21 Inc itu, spontan heran dan sedikit terkejut sambil sedikit pingsan (bagian yg ini rekayasa..).
“Ngapain ya temen-temen gw itu?” dalem hati “Apa emang kenal dengan tokoh Ruly di adegan tersebut atau..” masih dalem hati.
Seribu tanya dalam hati akhirnya memaksa tangan ini meraih Hp diatas meja rias istri saya dan langsung menghubungi teman saya tsb.
“Hehehehehehe. ..bohongan kok den, udah di set dari mulai cerita sampe pemain – pemainnya, lu mau ikutan juga bisa, entar gw daftarin, kebetulan gw kenal sama team reality shownya nanti biar mereka seting ceritanya kayak apa”
Begitulah kira2 klarifikasi yg diberikan teman saya.
Gubraks…Lagi lagi demi rating apapun dilakukan..
“Tuuuuh..acara favorit kamu rekayasa tuh, besok jgn ditonton lagi” begitulah omel saya ke istri yg masih asik duduk didepan televisi sore itu.
Makin harus selektif nih milih program tv.
–
ada info jg dr seorang kawan yg bekerja di timnya Helmy Yahya, bahwa banyak acara reality yang pernah ditanganinya itu adalah rekayasa.. (ini jelas penipuan thd publik!)
Nama besar televisi sudah bukan lagi ukuran. Karena yg penting penonton membludak dan iklan masuk… apalagi kan? Kapitalis memang mengajarkan segala sesuatunya diukur dengan duit.. duit..duit..
BAGI YG JAGO ACTING AND DOYAN NONTON FILM, PASTI TAU DEH KALO ITU REKAYASA. kelihatan banget lagi kalo semua itu cm rekayasa… byk masyarakat yg udah ketipu.
Saya emang suka nonton realty show tapi aku biasa aja tuh. Gak ketagihan dsb…… Itu cuma hiburan semata.
akuuuuuuuuuuu tertipuuuuuuuuuuu, kecewaaaaaaaaaaa deeeeeeeeeh, tapi makasih deh dah buat aku melek, bahwa ternyata banyak dusta demi rating,sekarang kalo nonton termehek mehek ga kaya dulu lagi ikut terbawa arus, sebel malah pindah canel deh
saya sih sudah tahu dari awla termehek-mehek pasti boongan..
terus kenapa jadi masalah toh?
menurut saya, kenapa kita (saya dan juataat orang itu) suka sama reality tersebut? karena mungkin kita sudah bosan dengan jalan cerita yang disuguhkan sinetron jaman sekarang…
jadinya lebih milih nonton reality show deh…. yang ceritanya diambil dari “reality sekitar”..
salam
reza
Lha trus kalo “Tak Ada Yang Abadi” di RCTI gmn?
disitu ditulis besar2 tulisannya Drama Reality, bukan Drama Reality Show???
Jadi bingung nih…
Wah..akhirnya saya jadi ikut2an koment di Web ini deh.. banyak yang bilang termehek-mehek itu rekayasa, tapi apa yang dijadikan bukti termehek – mehek kalo rekayasa, apa nggak rekayasa juga tuh.. jadi kayak orang menyebar fitnah/ghibah tapi pake fitnah juga,seperti yang menurut saya kurang sreg adalah koment/jawaban dari mas Adi diatas. Saya ga belain termehek-mehek atau dibayar oleh Helmi Yahya atau Trans TV, atau siapalah..saya hanya coba kasih masukan sesuai pekerjaanku di bidang video. Pak Solihin beber salah satu bukti yang menurut saya mentah, seperti : 1. kalo suara jernih pada saat Panda/Mandala ketemu klient yang ga mungkin kalo nggak rekayasa dan Bapak bilang pake chip. Pak,lha wong yang ditayangkan aja acara hasil editan video, tentunya sudah melewati proses editing dan ada software yang bisa mereduce noise suara sekitar,contohnya SOUND FORGE,SONY VEGAS,dll..yang dimix dengan soft editing yang dipake untuk ngedit termehek2. 2. Untuk menuduh itu penipuan, maka bakalan nggak lama reality show itu bakal tayang, karena bakal ada banyak orang yang nuntut, meski diakhir acara ditulis sudah mendapat persetujuan dari yang terlibat, tapi namanya orang pasti ya punya hati yang berbeda2. 3. Ada bukti dari kru Helmi Yahya, kenapa nggak sebutin satu persatu pak, biar tambah valid buktinya. 4. Di acara ini juga kadang ditanyangkan sampai keluar kota spt Yogya, Surabaya..dan klient ketemu target dari orang yang biasa bahkan orang awam/orang yang kurang mampu baik fisik atau ekonominya. sekarang Mandala dan Panda juga apa nggak mikir buat menipu orang yang kesusahan, apakah mereka dan para kru trans TV yang terlibat apa termasuk orang yang kurang pengetahuan agamanya sehingga mau menipu banyak orang. Bahkan disana terkadang klient atau target terlihat sedang sholat atau berdoa. Demikian hanya sedikit masukan aja dari saya pak, Bapak membawa rubrik ulasan remaja dalam pandangan agama, maka Bapak juga diharapkan hati-hati dan selalu ingat kalo berita ini bisa termasuk menyebar fitnah/ghibah, maka termasuk dosa juga umtuk dipertanggung jawabkan di akhirat nanti. Terima Kasih atas space komentnya, mohon maaf kalo ada kata2 yang kurang berkenan.
Tulisan Mbak Ria Fariana ini ya? Yang disitus gaulislam? Waah, makasih banget Mbak, tulisannya bagus, keren. Kalo aku sih, setuju banget. Mau sinetron, film, termasuk, termehek-mehek emang rekayasa.
Industri kapitalis memang mengalahkan akal sehat termasuk menyebarkan kebohongan. Aku setuju artikel ini meskipun faktanya tidak diungkap detil, tapi berdasarkan pengamatanku, memang itu rekayasa.
Supaya lebih jelas, seharusnya ada kru termehek-mehek yang nulis di sini supaya jelas masalahnya. Aku sendiri melihat bukan cuma di blog ini, tapi puluhan situs dan blog sudah bahas. Ada perdebatan juga. Temenku yang ngerti teknik video dan audio dan bekerja di studio bilang ke aku kalo itu memang rekayasa. Diedit sudah pasti. Biar suara dan gambarnya bagus. tapi yang jadi persoalan, semua reality show itu tidak ada yang live. Harusnya LIVE, supaya jelas reality show-nya. Dulu jamanya KOMENG bawa acara SPONTAN ternyata tidak semuanya bisa spontan karena ada unsur “kompromi” dan pura2..
ah, yang penting sekarang jangan nonton acara teve murahan spt termehek mehek.. ngabisin waktu percuma :p
Kemaren2 saya masih percaya ama reality show ” Termehek -mehek “.. apalagi banyak email yg di terima pihak Termehek-mehek dan menanyakan apakah termehek2 asli bukan rekayasa”dan Panda menyatakan dengan meyakinkan bahwa ini benar2terjadi. Tapi baru semalam saya sadar bahwa saya telah dikibulin abis2an.
Bagaimana tidak pada tanggal 23 Mei 2009 saya menonton program ” Curhat bersama Anjasmara di TPI ternyata di sana menghadirkan 2 orang cowo yang pernah tampil di Termehek2 .. dengan nama & kasus berbeda .Eh besoknya lagi tanggal 24 Mei 2009 saya nonton Termehek – mehek ada lagi cewe yang kemaren muncul di acara curhat dengan nama berbeda . Rugiiii banget gue sebagai pengemar setia termehek2 …
Pak diandra, cewe itu memang mirip banget, sama acara curhat di tpi, tapi bukan orang yang sama yang di termehek mehek mukanya lebih pendek, tapi saya juga penasaran mereka itu kakak beradik ato kembar sih, memang mirip sekali, tapi kalo diperhatiin gak sama
waaaah iya tu bener, aku juga nonton “curhat bersama anjasmara” di TPI tanggal 23 mei 2009, eeh besoknya nonton termehek-mehek ada cewek yang sama, jadi obrolan seru deh sama temen-temen . ckckck pertelevisian indonesia kaco niih . kecewa padahal yang di “curhat bersama anjasmara” ada tulisan merah di bawahnya “bukan rekayasa” .
Iya nich memang rekayasa belaka,
ada yang nonton minggu kemari gak?? thl 24 may???
asli rekayasa, soalnya yang klien yang bernama Ria, itu… dapet ikutan acara CURhat di TPI yang di bawakan anjasmara, dan Si Ria ini namanya shinta(di acara Curhat) dan statusnya pun sudah menikah. jadi ga seneng nonton acara termehek mehek terlalu mengada ada. trus pacarnya ria itu pun sering muncul di acara Cinlok,cimot apa Pokoknya acara di SCTV Cinta monyet. trus lagi satu, acara religi ada salah satu klien yang jadi figuran di Trans TV juga Sinetron Sinden apa itu judulnya,
Intinya Boong banget, acara ini acara favorite keluarga, tp setelah banyak ngeliat orang2 yang ikut d sana jadi males nontonnya.
Sebel, gak mau nonton lagi ah
ooolalaaaa…. Indonesia… sadarlah.. kasus ponari cukup bikin aku sedih melihat nasib bangsa ini … sekarang di tambah statsiun2 TV bikin kerjaan yang bagi mereka seh menghasilkan duit, tapi bagi kita? belom lagi disiarkan di jam-jam yang anak-anak kecil masih melek,
Apakah team kreative sudah kehabisan akal untuk bikin acara yang lebih bermoral? ayo bu… acara2 ini bukan contoh/ cara untuk menyelesaikan masalah . Yang ada masalah malah tambah runyam!
Apa seh yang ada di kepala orang2 intertain selain duid? pornografi dibilang seni… ngadu domba orang dibilang curhat! kemusyrikan dibilang uji nyali… please dew! semoga kembali ke jalan yang benar!
stju bgtzzzzzzzzzzzzzzz sm ustadz sholihin. dl wktu kcil sy TV maniac bgtzzzzzzzz. tp alhamdulillahskrgudah enggak.
yyakkh walaupun nhe bhhonggaan but w skka beuud accrr’y coz accara’y tuch qyren abieezzzz…
I think acrra nhe tuchh very really.
mami w zzz skka beuud acra nhe but sayang yakhh reality show . . . . . . .
sO guuaaaahh btal duueeeccch skka ma acra nhe . . .
mnurutt guahh acra’y tuch gag kya di buat’ tp stelahh thu klo acra’y reality show guahhh gag prcaya …smpe”
guahh truhan sma tmen guahhh tp smpe skarang msihhh nnton trmehek-mhek n’ gag mu ktinggalan episode’y…
mau aja orang indonesia ini di bohongin,
pake logika aja jelas2 gak mungkin dalam seminggu bisa menghasilkan 2 kasus siap tayang. Lha wong 1 kasus aja gak mesti bisa tuntas dalam 1 minggu in reality kok, mesti ditangani oleh pihak kepolisian.
bodohna smpe ketipu…
wah untungnya ortu sya sdh tw klo termehek-mehek boong mknya jngn ngibulin orang klo orang itu pinter tw sendirikan tlah nya ngibulin orang penonton itu lebih pintar daripada pembuat rekayasa ini
ini disebut penyelewengan undang2 kebebasan pers. seharusnya pers itu memang harus dibatasi( oleh moral dan agama). yang jadi msalahnya sekarang bagaimana cara kita menyuruh KPI bekerja. jangan cuma mereka duduk santai… bisa saja ( bukan menuduh) mereka dibayar oleh empunya TV..
bukan hanya reality show dan sinetron, tapi hampir semua acara TV di indonesia tidak ada efek positif terhadap moral bangsa…
lihat saja sekarang mulai merebak tren penonton gadungan..( kissvaganza, dashyat, mantap, dan dering( sebagian besar kecuali yang live di beberapa kota) )
apakah anda mau jadi penonton gadungan? apakah dosa jadi penonton bayaran?
Saya sih sudah beberapa bulan ini malas nonton termehek2, karna ketauan bget cerita itu rekayasa.
Tiap didatangi mandala, klien dan kru trans tv, pasti target tampil dengan pakaian rapi dan selalu marah2. Padahal aslinya orang Indonesia kan sangat ramah, apalagi kalau masuk tv pasti tambah senyum2.
Lagipula kebanyakan ceritanya tragis, mirip adegan film atau sinetron.
Bahkan saat ada kasus mencari anak yang diculik, walau tempatnya sudah ketahuan tapi tidak dilaporkan ke polisi, malah kru trans tv main hakim sendiri.
Karena cerita ini bukan rekayasa, pasti sudah ditangani kepolisian.
kok bisa sih termehek-mehek itu hanayalah rekayasa ?? sedangakan setiap malam minggu dan malam senin saya selalu nonton loh…but,,,aku tak percaya deeeeeeh…pokoknya termehek-mehek itu merupakan siaran reality show faforiteku ,,so terserah saya dongggggggg??????
satu orang kena tipu! satu orang kena tipu!
kok bisa yah ??
padahal kan aku suka banget loh???
tapi kalao memang ga benar aku kesel banget sama TRANS TV lah<<<
masa eee,,munculin acara yang bohong dan tidak mendidik ?????????
saya sering melakukan sesuatu yang sering membuat wanita jadi tertawa karna menurut saya tawa wanita adalah sesuatu yang paling menyenangkan seperti membuat ibu dan pacarku selalu tersenyum melihatku………………….”’ semoga aku bisa menjaga senyuman itu amin …………. ?
huuuuuu………………..
tak kiro termehek2 tenanan,
Gw setuju neh ma artikel ini kalo acara termehek-mehek totally bullshit alias rekayasa banget.
Awalnya gw juga sempet kebawa ama emosi yang diperankan para talentnya, mengaduk emosi trus bikin air mata turun kalo ceritanya miris,, jiahhh lama-lama koq ceritanya mulai lebay ga rasional buat ukuran orang yang nyari orang laen, infonya didramatisir, keliatan banget dah.
Paling parah kemaren, ditayangan Sabtu tanggal 31 Oktober kemaren gw ngliat talentnya tu Ayu, but kalo kalian semua jeli si Ayu adalah Sukma yang ngikutin acara CIT CAT di SCTV bareng ahmad dani, nah di cit cat dia digambarin jadi cewek psycho n katro,, heran gw ditermehek-mehek dia malah jadi cewek klepto yang nyariin pacarnya gitu.. SEE???
sekarang simpulin aja, ada gitu orang punya 2 identitas dengan peran yang beda sementara orangnya sama,, apalagi kalo bukan rekayasa namanya,,
Adendum neh…
AKTINGNYA SAMA SEKALI GA NATURAL
yups awalnya juga aku tertarik nonton ini dan nganggap ini beneran, tp setelah menemukan beberapa kejanggalan ditambah ide cerita dari helmy yahya sang raja reality show disitu baru ngeh deh kl termehek2 tu rekayasa