Lebih Suka Pacaran Ketimbang Menikah
Sebagian orang menganggap bahwa bila jatuh cinta harus diwujudkan lewat pacaran. Sebab, rasa cinta itu menurut kalangan ini harus diekspresikan segera. Sementara cara mengekspresikan cinta yang paling mudah saat ini adalah dengan pacaran. Jadinya pacaran sebagai ajang pembuktian diri kita bahwa kita mencintai lawan jenis yang kita sukai. Yup, pacaran boleh dibilang mudah dilakukan. Setelah dapetin kekasih hati yang cocok dengan pilihan dan selera kita, maka kita bisa mengikat diri untuk saling mencintai dan memiliki. Tanpa harus repot-repot lapor kepada ortu, tanpa harus ribet ngurus ke KUA (Kantor Urusan Agama), tanpa harus susah mikirin untuk ngundang-ngundang orang untuk mengetahui hubungan kita, juga tanpa harus terikat kewajiban lainnya dalam ikatan dengan sang pacar.
Sementara untuk menikah, ribetnya bukan main. Selain harus mengurus berbagai macam keperluan untuk berlangsungnya pernikahan, juga nantinya kita akan terikat dengan pasangan kita sebagai suami-istri dan masing-masing punya hak dan kewajiban. Orang yang mikirnya instan dan nggak mau pusing, kemungkinan besar akan memilih pacaran aja dalam mengekspresikan kecintaannya kepada lawan jenis ketimbang menikah. Ciloko!
Boys and gals, sungguh sangat menyedihkan dan memprihatinkan kalo kita mencintai lawan jenis tapi kita malah lebih suka mengekspresikannya dengan pacaran ketimbang pernikahan. Padahal, sebagai muslim kita hanya terikat dengan aturan Islam. Buka aturan lain. Itu artinya, ketika kita cinta kepada lawan jenis, sejatinya satu paket dengan kecintaan kita kepada Allah Swt. dan RasulNya, juga kecintaan kita kepada ortu dan diri kita sendiri.
So, kalo emang cinta kepada lawan jenis, maka ekspresi cinta kita harus sesuai dengan tuntunan dari Allah Swt. dan RasulNya. Nah, karena pacaran adalah salah satu aktivitas yang dilarang ajaran Islam karena bertentangan dengan aturan pernikahan, maka nggak boleh dan bahkan haram kita lakukan. Setuju kan?
Oke, kalo setuju berarti kamu udah paham dengan aturan Allah Swt. yang udah dijelasin dalam al-Quran: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Israa’ [17]: 32)
Pacaran tuh ngedekatin zina banget. Itu artinya, sebelum kita bicara bahaya dari dampak pacaran seharusnya kita udah taat duluan kepada aturan Allah Swt. ini. Sebab, aturanNya pasti mendatangkan maslahat alias kebaikan. Ini artinya, nggak lagi dilihat apakah pacaran tersebut bisa mengundang bahaya atau nggak, tetap aja nggak boleh dilakukan. Tapi kita kudu yakin dengan aturan Allah Swt. bahwa kalo diikuti akan mendapatkan kebaikan, maka jelas banget kalo hal itu dilanggar bakalan nimbulin bahaya, plus murka dari Allah Swt. Waduh, dobel deh hukumannya. Itu artinya kita kudu mikir seribu kali atau sejuta kali (kalo sanggup mikirnya) sebelum ngelakuin pacaran. Bener apa bener?
Oke, mungkin kita punya pendapat pribadi yang beranggapan bahwa kalo pacarannya nggak hot banget nggak bakalan kejadian deh yang namanya perzinaan. Tapi, apa benar kita bisa kuat menahan godaan hawa nafsu yang dihembuskan setan? Apa ada jaminan kalo udah berduaan dengan lawan jenis, kita akan tahan untuk nggak ngelakuin kemaksiatan? Kalo pun kebetulan pacaran yang dijalinnya adalah pacaran jarak jauh, tetep aja ‘membahayakan’ diri kita. Minimal hati kita tersita untuk selalu konek dengan dirinya ketimbang konek dengan Allah Swt., sementara rindu kita masih rindu yang terlarang, cemas kita masih cemas yang terlarang. Beda kalo udah terikat sah sebagai suami-istri. Iya nggak sih?
Cinta itu naluri
Allah Swt. udah ngasih rasa cinta kepada makhlukNya. Manusia, adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Jadi, kalo ada manusia yang nggak punya rasa cinta sedikit pun, berarti doi adalah ‘produk’ gagal. Itu nggak mungkin banget. Oya, perlu digarisbawahi (bila perlu dicetak tebal) bahwa rasa cinta itu sangat umum. Bisa kepada siapa aja dan kepada apa saja. Allah Swt. menyampaikan hal tersebut dalam firmanNya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran [3]: 14)
Nah, naluri mencintai akan mendorong manusia untuk memenuhi keinginan cintanya itu. Orang yang jatuh cinta akan melakukan apa saja untuk menarik perhatian orang yang ia cintai. Begitu pun kalo kamu punya kecintaan kepada ponselmu, kamu pasti akan merawatnya. Kalo kamu cinta sama kendaraanmu, pasti merasa kehilangan kalo tuh kendaraan dirampas perampok. Semua orang yang merasakan cinta akan mengalami hal yang demikian. Maka, sungguh aneh tapi nyata kalo ada orang yang malah tertawa ngakak dan nggak merasa kehilangan ketika ponselnya ada yang nyopet. Itu namanya reaksi yang aneh.
Sobat, cinta adalah naluri. Sementara naluri itu rangsangannya dari luar. Bukan dari dalam. Terus, pemenuhannya juga nggak mutlak. Artinya, kalo pun nggak terpenuhi rasa cintanya, palingan cuma gelisah dan nggak tenang hidupnya. Nggak bakalan menyebabkannya sakit atau malah koit. Tentu ini berbeda dengan kebutuhan jasmani. Beda rangsangan dan beda pula dalam pemenuhannya. Kebutuhan jasmani tuh rangsangannya dari dalam tubuh kita, dan wajib dipenuhi. Kalo kita lapar, itu artinya perut kita udah kosong dan minta diisi makanan. Kalo nggak dipenuhi? Kita bisa sakit dan bahkan kalo itu dilakukan dalam waktu lama bisa berpeluang mengantarkan kita kepada kematian. Termasuk kalo kita hendak buang hajat tapi kita berusaha untuk menahannya, ada kemungkinan pertahanan kita jebol sehingga pipis atau buang air besar bukan pada tempatnya. Malu banget tuh kalo sampe ketahuan orang. Ancaman lain kalo pun kita berhasil menahannya, bakalan ada gangguan di daleman tubuh kita itu.
Itu sebabnya, kalo kita jatuh cinta, nggak perlu dan nggak boleh maksain langsung mengeskpresikannya dengan pacaran. Tanpa dieskpresikan dengan pacaran pun insya Allah kita nggak bakalan sakit, palingan gelisah aja. Lagian, jangankan orang yang nggak pacaran, yang nggak nikah selama hidupnya pun nggak menyebabkan orang tersebut sakit atau koit. Betul nggak sih? Eh, kalo pengen lebih detil soal ini, bisa kamu baca di buku saya LOVING YOU Merit Yuk! (soalnya buat kamu yang udah tahu takut bosen kalo diceritain lagi di sini. Dan, buat kamu yang belum puas, jadi bisa lebih fokus bahas soal ini di buku khusus yang udah disebutin tadi. Hehehe.. sori ye!).
Sobat muda muslim, jika kita emang cinta kepada lawan jenis, maka jangan pernah nekat mengekspresikan dengan pacaran. Kalo belum kepikiran untuk berumah tangga karena masih sekolah or merasa belum mapan, tetap jangan melampiaskannya dengan pacaran, apalagi perzinaan. Sebaiknya fokus untuk belajar dan berusaha mencari peghidupan agar lebih mapan dan siap mental untuk berumah tangga. Jangan kepikiran nyari yang instan dan jalan pintas. Apalagi jika itu harus mempertaruhkan masa depan kita di dunia, terlebih masa depan di akhirat kelak. Sayangi hidup kita ya. Jangan disia-siakan. Allah Swt. aja sayang sama kita dengan menurunkan begitu banyak aturan buat menuntun kehidupan kita ke jalan yang benar yang diridhoiNya. Masa’ kita nggak sayang kepada diri sendiri, dan juga kepada orang yang kita cintai sepenuh hati kita. Itu artinya, kalo emang sayang dan cinta sama diri sendiri dan lawan jenis kita, maka kita harus taat aturan Allah dan RasulNya dalam mengekspresikan cinta kepada lawan jenis. Cara yang dilakukan bukan pacaran, tapi pernikahan. Kalo belum siap nikah, tahan dulu, siapkan dulu, dan matangkan mental kita. Biarkan kuncup menjadi mekar dan berbunga, dan siap untuk dipetik. Oke?
Mulai sekarang, jangan ngaku-ngaku bilang cinta kepada lawan jenis deh kalo praktiknya malah kita memilih pacaran sebagai sarana ekspresi cinta kita. Juga jangan bilang cinta kepada lawan jenis kalo kita bukan hanya nggak mau menikah, tapi malah membenci lembaga pernikahan. Idih, mau jadi apa kita? Bukankah kehadiran kita di dunia ini adalah karena cintaNya Allah Swt.? Yuk, kita renungkan dalam-dalam.
Salam,
O. Solihin
*dikutip dari buku saya yang berjudul “Jangan Bilang Cinta”, Gema Insani (2008). Kalo pengen lebih lengkap dan utuh baca artikel lainnya, silakan beli aja bukunya ya (hehehe…)































Orang sering ngeri dg menikah. Anggapannya adalah bahwa menikah itu menyusahkan dan mengembankan beban yg berat.
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
ustadz saya mau nanya
bagaiman cara mengatakan tidak dengan tidak menyakiti perasaan orang tersebut……
syukran…….
2. Sampaikan juga bahwa kecintaan berikutnya adalah kepada RasulNya yang terakhir, yakni Muhammad saw. Sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Abu Thalhah ketka melindung Rasulullah saw. di Perang Uhud. Dalam sebuah riwayat dituturkan bahwanya Qais berkata, “Aku melihat tangan Abu Thalhah menjadi lumpuh karena dengan tangannya itulah ia telah menjaga Nabi saw. pada saat Perang Uhud” (HR Bukhari)
3. Jelaskan pula bhw jika pun ada kecintaan di antara kita, maka pastikan cara mengekspresikan kecintaan itu sesuai tuntunan Allah Swt. dan RasulNya.
4. Jadi, jika kita tak berkenan, kita bisa bilang TIDAK yang tepat, yakni: tidak mau bermaksiat kepada Allah Swt.; belum siap menjalani rumah tangga; belum memikirkan untuk menikah cepat-cepat, atau maaf saya merasa kurang cocok dengan Anda dsb. Intinya, fokus, jelas, jujur. Langkah2 di atas perlu disampaikan juga sebelum memutuskan TIDAK
Ok, ini saja. Semoga bermanfaat.
Salam,
O. Solihin
iy,, saya sudah punya buku na,, luar biasa keren,,
tp kenapa terakadang itu bertahan hanya sebentar ya ustadz ??
ketika kita baca semangad itu ada, tp ketika kita berinteraksi lasi dengan “orang itu” rasa itu akan timbul lagi ..
assalammu’alaikum ..
pak ustadz,, saya minta izin untuk mengkopi kata2 ini boleh ??
saya juga sudah punya bukunya loh,, seperti mba salwa ..
hehe ^^
saya mw masukan dalam notes fb saya trus di tagged ke temen2 saya,
boleh ..
setidaknya saya juga ingin mengingatkan meraka ..
makasih sebelumnya pak ustadz..
bales yah ..
wassalammu’alaikum ..
Assalmu’alaikum…
syukran ustadz tas sarannya….
alhamdulillah saya sudah mengatakannya
mdah2an keputusan itu yang terbaik ya ustadz…..
^Rifa^
ustad, maksih tulisannya saat ini lagi mengalmi yang namannya cinta itu tapi g punya dasar yang g jelas menurut saya, mungkin juga terbawa nafsu…Yang saya ingin tanyain bagaimana supaya nafsu itubiar tetep duduk manis dan g ganggu saya lagi..terima kasih atas jawabannya