Dakwah dan Jihad


Setelah Rasulullah saw. dan para sahabat berhasil mewujudkan pemerintahan Islam di Madinah, sebagai upaya untuk menyebarkan dakwah lebih kuat dan luas lagi, maka beliau mulai memikirkan berbagai penghalang dakwah, yakni dengan cara memeranginya.

 

Nggak kebayang sebelumnya kalo kaum Muslimin yang ketika di Mekkah jadi bulan-bulanan kafir Quraisy, ternyata akhirnya menjadi berwibawa dan punya kekuatan setelah dakwah di Madinah berhasil dan kemudian menyebarkan Islam di sana. Mendengar kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan di Madinah, orang-orang kafir Quraisy mulai gerah dan cemas. Tapi, sudah terlambat karena jumlah kaum Muslimin semakin membengkak dan ini merupakan salah satu modal dalam perjuangan mengamankan dakwah.

Menghancurkan penghalang dakwah

Adakalanya upaya ‘show of force’ justru diperlukan untuk membuat gentar musuh yang emang bandel banget dan selalu nyari celah untuk menghancurkan kita. Seperti kafir Quraisy, adalah ganjalan utama dalam upaya Rasulullah saw. untuk menyebarkan Islam ke luar Madinah. Maka, untuk menghancurkan halangan-halangan secara fisik inilah Rasulullah saw. mengirimkan beberapa ekspedisi militer untuk menggentarkan kekuatan musuh.

Ekspedisi militer pertama dikirim oleh Rasulullah saw. adalah di bawah pimpinan Ubadah bin al-Harits bin al-Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushai bersama-sama dengan 60 atau 80 orang pasukan kaum Muhajirin. Beliau saw. nggak menyertakan satu pun dari kaum Anshar. Ubadah bin al-Harits bersama pasukannya pergi keluar Madinah hingga tiba di mata air Hijaz di bawah Tsaniyatul Marah. Di sana pasukan Islam bertemu dengan pasukan kafir Quraisy pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal, tapi nggak terjadi pertempuran.

Pada waktu yang hampir bersamaan Rasulullah saw. juga mengirim pasukan kaum Muslimin di bawah pimpinan Hamzah bin Abdul Muthalib ke tepi pantai laut Merah, di kawasan ini mereka bertemu dengan pasukan Quraisy pimpinan Abu Jahal. Nggak terjadi peperangan. Menurut Dr Muhammad Rawwas al-Qal’ahji[1], ekspedisi militer ke daerah pantai laut Merah oleh Rasulullah saw., adalah untuk mengganggu jalur perdagangan kaum Quraisy Makkah ke arah Syam, yang melalui jalur pantai laut Merah, sekaligus untuk memporak-porandakan barisan mereka. Dan, masih banyak lagi ekspedisi militer yang dilakukan sebagai upaya menggentarkan kekuatan musuh Islam, terutama kafir Quraisy.

From Madinah with love

Wah, mirip-mirip judul salah satu film James Bond ya? Ya, ini emang plesetan dari salah satu judul film agen MI-6 itu, From Russia with Love (1963) yang dibintangi oleh Sean Connery. Nggak ada hubungan apa-apa, kecuali judulnya yang saya plesetkan. Sekadar ingin ngasih kesan bahwa Rasulullah saw. mencoba mendakwahkan Islam dari Madinah untuk seluruh dunia dengan cinta.

Allah Swt. berfirman (yang artinya):“Dan tiadalah Kami utus engkau (ya Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS al-Anbiya [21]: 107)

‘Berbekal’ ayat ini, Rasulullah saw. mulai menyebarkan Islam ke pemimpin dunia yang ada saat itu. Menyampaikan rasa cinta bagi seluruh umat manusia. Pada tahun 6 H/628 M, Nabi saw. mengirim utusan ke Heraklius (Kaisar Byzantium), Kisra (Kaisar Persia), Mukaukis (Penguasa Qibti Mesir), Raja Yaman, Raja Najashi, Raja Bahrain dll.[2]

Seterusnya, Rasulullah saw. semangat banget untuk menyebarkan dakwah Islam ini keluar Madinah. Karena hampir selalu ada perlawanan terhadap dakwah, maka ekspedisi militer kerap mendampingi penyebaran dakwah untuk jaga-jaga kalo akhirnya akan dilawan dengan senjata. Kalo dilawan, ya apa boleh buat deh, kaum Muslmin kudu melayaninya.

Sobat muda muslim, setelah Rasulullah memantapkan stabilitas dalam negeri dengan membuat perjanjian yang dikenal sebagai Piagam Madinah atara kaum Muslimin (Anshar dan Muhajirin) dengan kaum musyrik dan Yahudi di Madinah seperti Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraidah. Salah satu isinya adalah perjanjian untuk tidak saling menyerang.

Nah, dengan perjanjian itu, kondisi dalam negeri insya Allah stabil. Sehingga Rasulullah saw. fokus untuk meluaskan Islam ke luar Madinah. Kekalahan Quraisy dalam Perang Ahzab (627 M) merupakan salah satu poin penting keberhasilan Rasulullah saw. dan kaum Muslimin untuk lebih fokus menyebarkan dakwah Islam ke luar Madinah. Karena penghalang dakwah yang paling berat waktu itu, yakni kafir Quraisy nggak bisa berkutik untuk melancarkan serangan. Apalagi mereka juga sebelumnya kalah di Perang Badar (624 M).

Pada tahun 628 M, terjadi Perjanjian Hudaibiyah, yakni perjanjian damai dengan jangka waktu maksimal 10 tahun, yang dibuat oleh kaum muslimin dengan Quraisy. Langkah politik Nabi (saw) yang bijak dan jitu. Antara lain untuk menghancurkan persekongkolan antara Quraisy dan Khaybar. Dengan demikian, kekuatan pihak Quraisy semakin Iemah.

Itu sebabnya nih, Rasulullah mulai mantap untuk berupaya menaklukan kekuatan-kekuatan besar yang ada saat itu. Salah satunya Romawi. Maka, pada tahun 629 M, terjadilah Perang Mu’tah, yakni perang antara pihak pasukan Islam dan Romawi. Pada perang ini, 3.000 pasukan Islam berhadapan dengan 200.000 pasukan kaum kuffar (100.000 pasukan gabungan dari kabilah-kabilah Arab yang dimotori Malik bin Zafilah dan 100.000 pasukan dibawa sendiri oleh Hiraklius). Pada waktu itu, Rasulullah saw. mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Pada waktu mengangkat Zaid, beliau berpesan, “Jika Zaid gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib (saudaranya Ali bin Abi Thalib, pen.). Jika Ja’far pun gugur, maka Abdullah bin Rawahah mengambil posisinya memimpin pasukan.”

Kaum Muslimin berperang dengan semangat dan keberanian yang tinggi sehingga mamou merepotkan pasukan Romawi. Nah, dalam perang yang tak seimbang tersebut semua komandan pasukan syahid. Karena Rasulullah saw. hanya memberikan mandat kepada tiga sahabatnya yang sudah gugur itu untuk menjadi komandan pasukan, maka Tsabit bin Aqram mengambil bendera peperangan (ar-Raya) sembari berteriak lantang: “Hai kaum Muslimin, pilihlah seorang komandan yang pantas di antara kalian!” Nggak berapa lama kemudian mereka memilih Khalid bin Walid.[3]

Khalid bin Walid yang jago taktik perang ini, yang sempat memukul mundur pasukan Islam ketika beliau masih jadi panglima perang Quraisy pada Perang Uhud, memilih merapatkan barisan dan mundur sesaat sampai malam menjelang dan peperangan dihentikan sementara. Nah, menyadari bahwa kekuatan musuh lebih besar dan kuat, akhirnya Khalid membagi-bagi pasukan dalam kelompok-kelompok kecil dan berpencar di beberapa tempat. Menjelang shubuh, mereka diminta untuk mengepulkan asap dan membuat kegaduhan. Efektif. Musuh menyangka bantuan pasukan Islam telah datang sehingga mereka cemas dan berpikir untuk pulang saja daripada menghadapi kekuatan kaum Muslimin yang diduga bertambah jumlahnya.

Sobat, setelah itu kaum Muslimin melakukan Futuh Makkah (Penaklukan Mekkah) pada 630 M setelah kaum kafir Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyah. Makkah masuk dalam genggaman kekuasaan Islam. Nah, tanda-tanda Islam akan menyebar lebih jauh nampak setelah Romawi mundur dalam Perang Tabuk. Waktu itu pasukan Islam berjumlah sepuluh kali lipat dari jumlah pasukan ketika Perang Mu’tah. Dengan 30.000 pasukan ini, kaum Muslimin berangkat ke Tabuk. Lagi-lagi, kaum Muslimin menang tanpa berperang ketika pasukan Romawi mendapat informasi bahwa pasukan Islam datang dalam jumlah yang lebih banyak dari jumlah ketika Perang Mu’tah. Mereka mungkin kepikiran, 3.000 orang saja udah merepotkan, gimana kalo sepuluh kali lipat dari itu. Akhirnya pasukan Romawi yang pengecut itu menarik mundur dari Tabuk. Karuan aja ini membuka jalan bagi Islam untuk menyebarkan dakwah lebih luas lagi.

Tabuk diduduki sekitar sebulan sambil menyebarkan dakwah di wilayah jajahan Romawi dan Rasulullah saw. menggunakan kesempatan itu untuk mengajak mereka masuk Islam dan bergabung dengan kekuatan Islam. Nggak tanggung-tanggung, akhirnya wilayah Ailah, Jirba’ dan Adzrah bersedia taat dan tunduk kepada pemerintahan Islam. Berarti dengan demikian, batas kekuasaan Islam di jazirah Arab bagian utara telah aman.[4]

Dua tahun setelah penaklukan Makkah dan Perang Tabuk, Rasulullah saw. wafat. Meski demikian, pasukan yang dikomandani Usamah bin Zaid (18 tahun) yang telah diberangkatkan lebih dulu seusai haji Wada’ ke Syam (Romawi) tetap melanjutkan perjalanannya.

Setelah itu, era kepemimpinan Rasulullah saw. diteruskan oleh para Khulafa ar-Rasyiddin dan khalifah-khlaifah kaum Muslimin lainnya hingga berakhir pada 3 Maret 1924. Islam berkembang pesat dalam rentang waktu yang panjang setelah Rasulullah saw. wafat (632-1924). Berarti ada sekitar 1200 tahun lebih Islam menjadi adidaya dan kekuatan baru di dunia. Bahkan Persia dan Romawi yang menjadi negara kuat pada waktu itu ketar-ketir bin cemas dengan kekuatan Islam. Kekuasaan Islam yang bertahan lama ini menjadi jaminan bahwa Islam adalah ideologi yang mampu memimpin dunia dengan benar dan baik. Bandingkan dengan Sosialisme yang diemban Soviet yang cuma berumur 70 tahunan. Begitu pula dengan Kapitalisme yang di-launching sejak tahun 1700-an. Meski baru 300-an tahun disebar, tanda-tanda kehancurannya udah nampak jelas.

Oya, kemenangan demi kemenangan dakwah Islam yang dilancarkan Rasulullah saw. selama di Madinah diabadikan dalam al-Quran (terutama sejak penaklukan Mekkah). Allah Swt. berfirman (yang artinya): Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS an-Nashr [110]: 1-3)

Sobat, semoga informasi sekilas dan singkat ini menjadikan kamu makin bangga dan percaya diri menjadi Muslim. Sekaligus menghargai jasa-jasa pendahulu kita yang sudah dengan gagah berani menyebarkan Islam hingga kita mengenalnya dan memeluknya dengan sepenuh hati. Sebagai ‘balas jasa’, rasanya pantas banget kalo kita kini tampil bangga dengan Islam dan banga pula menjadi Muslim, sekaligus tentunya siap menjadi pejuang dan pembela Islam. Are you ready?[]

Salam,

O. Solihin

[diambil dari buku karya saya, Yes! I am MUSLIM yang terbit Januari 2007]

 


[1] Dalam kitab Qira’atun Siyasiyah li as-Sirati an-Nabawiyah, hlm. 123. Dalam kutipan di buku Peperangan Rasulullah saw.,

 

hlm. 165

[2] VCD Serial Sejarah Daulah Khilafah, el-moesa production, 2006

[3] Taqiyuddin an-Nabhani, Daulah Islam (terj.), hlm. 146-147

[4] ibidem, hlm. 173

About these ads

2 responses to “Dakwah dan Jihad

  1. Jauhilah Thaghut!

    Allah SWT berfirman:
    ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت
    Dan sungguh benar-benar Kami utus seorang rasul pada setiap umat, (dengan membawa seruan): ”Mengabdilah kepada Allah dan jauhilah thaghut”

    Mengabdi hanya kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia. Untuk tujuan itu pulalah, Allah mengutus para rasul serta menurunkan kitab-kitab-Nya. Manusia harus mengabdi kepada Allah serta menjauhi seluruh bentuk pengabdian kepada semua jenis thaghut.
    Sekelompok orang memahami bahwa thaghut adalah kuburan-kuburan dan berhala-berhala yang disembah-sembah, pohon-pohon yang dikeramatkan, batu-batu yang dianggap angker, para dukun dan tukang ramal. Ketika menerangkan makna ’thaghut’, mereka menjelaskan bahwa kaum muslimin harus menjauhi perbuatan menyembah-nyembah dan mengagung-agungkan benda-benda itu, atau datang dan meminta tolong kepada dukung atau tukang ramal.
    Ketika ada beberapa orang mengatakan bahwa pembuat hukum atau undang-undang selain Allah dan Rasul-Nya serta penguasa yang memberlakukannya juga termasuk thaghut, mulut-mulut berbisa mereka segera mengeluarkan kata-kata beracun: ’itu adalah paham khawarij, jama’ah takfir’, ’mereka adalah orang-orang dungu, jauh dari ilmu dan ulama ahlussunnah’, ’mereka adalah orang-orang bersemangat tapi bodoh, ’anjing-anjing neraka’ . . . mereka . . mereka. . .dan mereka . . .’.
    Apakah makna thaghut sebenarnya?
    Ahlussunnah tidak menafikan makna thaghut yang dipahami sekelompok orang di atas. Benar, bahwa batu-batu, berhala, kuburan, pohon dan benda-benda mati lainnya yang dikeramatkan dan disembah-sembah adalah thaghut. Tidak salah pula, bahwa para dukun dan tukan ramal adalah thaghut.
    Namun, membatasi pengertian ’thaghut’ pada benda-benda dan sosok-sosok tersebut adalah kesalahan fatal!
    قال أبو جعفر: والصواب من القول عندي في”الطاغوت”، أنه كل ذي طغيان على الله، فعبد من دونه، إما بقهر منه لمن عبده، وإما بطاعة ممن عبده له، وإنسانا كان ذلك المعبود، أو شيطانا، أو وثنا، أو صنما، أو كائنا ما كان من شيء.( تفسير الطبري – (ج 5 / ص 419( – المكتبة الشاملة ، المصدر الثاني)

    Abu Ja’far (Ath-Thabari) berkata: “Menurutku, pendapat yang benar dalam soal thaghut adalah bahwa ia adalah setiap hal yang melampau batas terhadap Allah; ia disembah selain-Nya, baik penyembahnya itu dipaksa olehnya atau menyembah dengan suka rela. Thaghut yang disembah itu bisa berupa manusia, setan, patung, berhala, maupun yang lainnya”
    Pada ayat فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد اشتمسك بالعروة الوثَْْقي, Ibnu Katsir mengatakan saat menanggapi pendapat Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa thaghut adalah setan:
    ومعنى قوله في الطاغوت: إنه الشيطان قوي جدًّا فإنه يشمل كل شر كان عليه أهل الجاهلية، من عبادة الأوثان والتحاكم إليها والاستنصار بها (تفسير ابن كثير – (ج 1 / ص 683) المكتبة الشاملة ، المصدر الثاني)
    Artinya:
    Pendapatnya bahwa thaghut adalah setan adalah pendapat yang kuat sekali. Sebab, setan sudah mencakup seluruh kejelekan yang dilakukan orang-orang jahiliyah, berupa penyembahan berhala, berhukum kepadanya, dan meminta tolong kepadanya.
    Imam Mujahid mengatakan:
    الطاغوت : الشيطان في صورة إنسان يتحاكمون إليه ، وهو صاحب أمرهم (تفسير ابن كثير – (ج 2 / ص 334) المكتبة الشاملة ، المصدر الثاني )
    Artinya:
    Thaghut adalah setan dalam bentuk manusia, yang orang-orang berhukum kepadanya, dan ia adalah pengendali urusan mereka.

    Maksud perkataan Mujahid tersebut adalah bahwa setan berwujud manusia yang menjadi rujukan orang-orang dalam berhukum, dan ia diberi hak oleh mereka untuk membuat hukum yang mengatur kehidupan mereka adalah thaghut.
    Dalam I’lamul Muwaqqi’ien (1/50), Ibnul Qoyyim mengatakan:
    الطاغوت كل ما تجاوز به العبد حده : من معبود أو متبوع أو مطاع. فطاغوت كل قوم : من يتحاكمون إليه غير الله و رسوله، أو يعبدونه من دون الله أو يتبعونه على غير بصيرة من الله أو يطيعونه فيما لا يعلمون أنه طاعة لله.
    Thaghut adalah setiap hal yang menyebabkan seorang hamba melampau batas, baik berupa sesuatu yang diabdi, diikuti atau ditaati. Thaghut suatu kaum adalah orang yang mereka jadikan rujukan hukum selain Allah dan Rasulnya, atau orang yang mereka abdi selain Allah, atau orang yang mereka ikuti tanpa petunjuk dari Allah atau orang yang mereka taati dalam hal yang tidak mereka ketahui sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

    Menurut defenisi Ibnul Qoyyim di atas, thaghut memiliki tiga jenis. Pertama, ia adalah sesuatu yang dijadikan rujukan hukum selain Allah dan Rasul-Nya. Kedua, ia adalah sesuatu yang diabdi selain Allah atau diikuti tanpa petunjuk dari Allah. Ketiga, ia adalah sesuatu yang ditaati dalam hal yang tidak diketahui apakah itu dalam rangka ketaatan kepada Allah atau tidak.
    Dengan demikian, setiap orang atau lembaga selain Allah dan Rasul-Nya yang menjadi rujukan dalam perundang-undangan serta mengatur manusia dengannya, atau keputusannya menjadi hukum yang harus dijalankan umat manusia meski bertentangan dengan syari’at adalah termasuk THAGHUT. Lembaga Legistatif (DPR/MPR) adalah thaghut. Para hakim yang menghukumi dengan undang-undang buatan manusia, UUD 45, KUHP, KUHAP adalah thaghut. Dengan kata lain, setiap orang yang mengadili dengan selain hukum Allah (syari’at Islam) adalah thaghut!
    Di zaman sekarang ini, thaghut dalam wujud di atas tidak semuanya terang-terangan mengaku sebagai orang kafir, apalagi di negeri-negeri yang mayoritas penghuninya kaum muslimin. Banyak thaghut ber-KTP Islam, kadang shalat, kadang puasa. Mereka berdasi, makan nasi, ada juga yang sudah haji. Nama-nama mereka pun juga Islami: Yusuf, Abdurrahman, Hidayat, Amin, dll. Ada juga yang bergelar lc. Tapi mereka adalah komplotan thaghut! Perampas hak prerogatif Allah, hak membuat hukum dan perundang-perundangan yang mengatur kehidupan umat manusia!
    Allah mendustakan keimanan orang-orang yang berhukum kepada thaghut. Ia mengatakan
    ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا
    Artinya:
    Tidakkah kaum melihat kepada orang-orang yang mengklaim bahwa mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan apa yang diturunkan sebelummu (kitab-kitab samawi terdahulu), mereka ingin berhukum kepada thaghut, padahal mereka disuruh untuk kafir kepadanya. Dan, syaithanpun ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh
    Maksudnya, orang-orang yang mengaku-ngaku beriman kepada Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, namun masih memiliki keinginan untuk berhukum kepada thaghut yang membuat undang-undang atau hukum untuk mengatur manusia, maka dustalah pengakuan tersebut. Mereka pada hakekatnya adalah orang-orang yang kafir kepada Allah, dan syaithan ingin menyesatkan mereka jauh-jauh. Bila mereka mati dalam keadaan seperti itu dan belum bertaubat, berarti mereka mati kafir dan akan kekal di neraka selama-lamanya
    Allah SWT dengan tegas menyatakan bahwa thaghut adalah wali orang-orang kafir. Berwali atau memberikan loyalitas kepadanya berarti kafir. Berhukum kepada hukumnya berarti beriman kepada thaghut. Beriman kepada thaghut sama dengan kafir kepada Allah.
    الله ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور والذين كفروا أولياءهم الطاغوت يخرجهم من النور إلى الظلمات
    Artinya:
    Allah adalah wali orang-orang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju kepada cahaya. Sedang orang-orang kafir, wali-wali mereka adalah thaghut. Ia mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kepada kegelapan-kegelapan.

    .فمن يكفربالطاغوت و يؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقي لا نفصام لها و الله سميع عليم
    Artinya:
    Maka barang siapa yang kafir terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia berpegang dengan ikatan yang kuat, tidak ada keterputusan baginya dan Allah Maha Mendengar lagi Mengetahui.
    Yang dimaksud ikatan yang kuat di atas adalah Islam. Ada lagi ahli tafsir yang mengatakan iman. Yang lain berpendapat kalimat لا إله إلا الله . Namun, tidak ada pertentangan antara pendapat-pendapat itu. Sebab, Islam adalah Iman dan ia adalah kalimat لا إله الا الله. Orang yang tidak kafir terhadap thaghut berarti bukan orang Islam, tidak punya keimanan dan tidak ber-لا إله إلا الله -. Dengan kata lain, ia adalah orang yang kafir kepada Allah.
    * * *
    Allah menvonis orang-orang ahli kitab sebagai orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik) karena mereka mempertuhankan para rahib dan pendeta dalam bentuk mengikuti hukum halal-haram yang ditetapkan para rahib dan pendeta itu. Allah mengatakan
    إتخذوا أحبارهم و رهبانهم أربابا من دون الله و المسيح ابن مريم و ما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحد لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون
    Artinya:
    Mereka menjadikan rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan juga Al-Masih bin Maryam. Dan mereka tidak diperintah kecuali agar mereka mengabdi kepada Sesembahan Yang Satu. Tidak ada tuhan selain-Nya. Maha suci Dia dari apa-apa yang mereka sekutukan.
    Tidak ada perselisihan di kalangan ahli tafsir, bahwa penyembahan orang-orang ahli kitab terhadap rahib dan pendeta tersebut adalah dalam bentuk mengikuti atau mematuhi hukum atau undang-undang soal halal haram yang mereka tetapkan. Karena kepatuhan seperti inilah, orang-orang ahli kitab disebut sebagai orang-orang yang menyekutukan Allah atau musyrikin.
    Fakta bahwa lembaga legistatif merupakan lembaga yang berfungsi untuk menetapkan hukum atau undang-undang untuk manusia, tidak dapat dibantah seorang pun. Wewenang untuk membuat undang-undang yang diberikan kepada lembaga ini tidak dibatasi dengan Al-Qur’an dan As-sunnah. Lembaga ini diberi hak untuk menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya atau mengharamkan apa yang keduanya halalkan. Komplotan thaghut yang berkumpul di lembaga tersebut sama persis dengan para rahib dan pendeta ahli kitab, bahkan lebih parah. Karena itu, patuh dan ridha dengan hukum dan undang-undang yang mereka tetapkan adalah kekafiran dan kesyirikan. Begitu juga dengan kepatuhan kepada hukum buatan manusia lainnya.
    Demikian juga dengan orang-orang yang secara sadar mengangkat mereka sebagai anggota lembaga kufur itu, baik melalui pemilihan umum atau jalan lainya. Mengangkat orang sebagai anggota legistatif sama halnya mengangkat orang sebagai tuhan. Perbuatan itu jelas kekafiran besar.
    Tentang menghalalkan apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan atau mengharamkan apa yang keduanya halalkan, Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Majmu’ Fatawa (3/267):
    مَتَي حَلَّلَ اْلحَرَامَ الْمُجْمَعَ عَلَيْهِ أَوْ حَرَّمَ الْحَلاَلَ الْمُجْمَعَ عَلَيْهِ أَوْ بَدَّلَ الشَّرْعَ الْمُجْمَعَ عَلَيْهِ كَانَ كَافِرًا مُرْتَدًّا بِاتِّفَاقِ اْلفُقَهَاءِ
    Artinya:
    Kapan orang itu menghalalkan barang haram yang sudah menjadi ijma’ (kesepakatan ulama) atau mengharamkan barang halal yang sudah menjadi ijma’, atau mengganti ajaran syari’at yang sudah menjadi ijma’, maka ia kafir murtad atas dasar kesepatakan para fuqaha`
    Mereka menghalalkan kemurtadan, riba, perzinaan atas dasar suka sama suka, homoseks, dan lain sebagainya. Mereka bahkan mewajibkan loyalitas kepada pancasila, kesetiaan kepada UUD 45, paham demokrasi, nasionalisme serta berbagai jenis kekafiran lainnya. Di saat yang sama, mereka mengharamkan penegakan hukum Allah di bumi Allah.
    * * *
    Kekafiran para pembuat hukum dan undang-undang yang mengatur kehidupan manusia selain Allah dan Rasul-Nya, serta kekafiran negara atau orang-orang yang menghukumi dan berhukum kepada undang-undang itu, sangat jelas bagai matahari di siang bolong. Hal itu tidak tersamarkan kecuali bagi orang yang mati mata hatinya. Hal itu berdasarkan nash-nash qath’ie (yang pasti kebenarannya) dari Al-Qur’an dan hadits. Apa yang disebutkan di atas adalah sedikit dari nash-nash yang banyak tersebut.

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s