Muhammad bin Zaid r.a. berkata: Beberapa orang datang kepada neneknya yaitu Abdullah bin Umar berkata: Kami jika masuk kepada raja, berbicara lain dengan apa yang kami bicarakan jika keluar. Maka berkata Abdullah bin Umar: Kami dahulu menganggap yang demikian itu nifaq kepada Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari)
Sikap mendua hati, apalagi pikiran merupakan penyakit yang termasuk sulit dideteksi. Kita tak bisa dengan mudah mengetahui seseorang bersifat munafik atau tidak kecuali terbukti dari ucapan dan perbuatannya. Di masa Rasulullah ada seorang yang bernama Abdullah bin Ubay, yang kemudian terkenal sebagai tokoh munafik jempolan. Bagaimana tidak, Rasulullah SAW. saja hampir terkecoh dengan sikapnya, kalau saja Allah tidak memberitahu lewat wahyu. Sifat munafik ini memang sangat berbahaya, istilah musuh dalam selimut atau bahaya laten bisa dialamatkan kepada orang-orang bermuka dua tersebut.
Sejak jaman Rasulullah sampai sekarang, orang-orang munafik selalu paling depan dalam menghancurkan barisan. Ia bisa berdiri bersama kita, tapi di lain waktu ia bahkan berhadapan dengan kita dalam keadaan memoncongkan senjata. Menghadapi orang-orang bermuka dua ini kita harus ekstra waspada, mengingat sepak terjangnya bisa membuat di antara kita saling bunuh. Setidaknya pengalaman ‘peperangan’ antara kelompok Ali bin Abu Thalib r.a. dan Aisyah r.a. telah menjadi bukti hasil kerja para pemicu kerusuhan, yang ternyata mereka berada dalam barisan yang sama. Tak mengherankan pula bila kemudian akhir-akhir ini juga bermunculan para muka dua yang siap membubarkan kerapihan barisan kita. Dan tak mustahil kalau akhirnya adalah sebuah kehancuran yang kita terima. Continue reading


Saat Presiden Barack Obama berpidato di Universitas Kairo, Mesir, pada 4 Juni 2009 lalu, ia kerap menyebut nama Keith Ellison. Sosok Ellison di mata pemimpin Amerika Serikat (AS) itu, adalah simbol persahabatan AS dengan Islam.

Charles Le Gai Eaton hanyalah sebagian kecil dari jajaran diplomat Kerajaan Inggris yang memilih Islam sebagai jalan hidup. Ia memutuskan memeluk Islam pada 1951, setelah menempuh pencarian yang panjang. Sejak saat itu dia menyandang nama baru Hassan Abdul Hakeem. Namun, dalam berbagai kesempatan ia kerap menggunakan nama Hassan Le Gai Eaton.





















































