Assalaamu’alaikum wr wb
Rabu, 14 April 2010 “Koja Membara”. Wilayah di kawasan Tanjung Priok tempat bentrok fisik antara warga, Satpol PP dan Polisi menjadi “medan perang”. Lemparan batu dan adegan khas kerusuhan menjadi drama menegangkan. Setidaknya, sampai tulisan ini saya buat, berdasarkan berita yang saya baca di internet dan lihat di televisi, 2 orang petugas Satpol PP tewas. Puluhan lainnya terluka. Begitu juga dengan polisi dan warga Koja. Mereka banyak yang terluka. 40 Mobil petugas Satpol PP dan 30 mobil polisi dirusak-dihancurkan-dibakar (termasuk 1 mobil water cannon dan 1 ekskavator). Benar-benar brutal!
Melihat kejadian ini, maafkan saya jika saya kok tiba-tiba merasa sedikit gembira meski sedih juga. Lho, kok bisa? Iya, karena di satu sisi saya merasa (selalu) geram kepada petugas Satpol PP yang seringnya semena-mena saat menertibkan pedagang kaki lima. Saya sering melihat dengan mata kepala saya sendiri ketika di jalan para petugas Satpol PP dengan arogannya membawa barang dagangan para pedagang ke mobil mereka. Bahkan ada yang kemudian merusak dagangan dan tempat berdagangnya. Sungguh terlalu! Sedihnya? Karena tak semestinya peristiwa yang merugikan banyak pihak ini terjadi, andai saja bisa dilakukan dengan cara-cara yang persuasif.
Kebencian saya kepada para petugas Satpol PP kian terus terpelihara ketika menyaksikan di televisi yang memberitakan upaya penertiban di berbagai daerah yang selalu menampilkan gambar Satpol PP yang sepertinya cuek dan tak berperikemanusiaan.
Memang sih, para pedagang menyalahi aturan yang diberlakukan. Tapi, apa harus dengan cara seperti mengusir anjing? Apa harus dengan cara yang brutal?
Kejadian di Tanjung Priok kemarin, terlepas siapa yang salah dalam pertikaian ini (karena ahli waris makam Mbah Priok dan warga sekitar mengklaim tanah itu miliknya, PT Pelindo juga mengklaim tanah itu miliknya), yang pasti sudah memakan korban. Jika sebelum-sebelumnya rakyat yang kena gusur tak bisa berbuat banyak, hanya bisa menangis dan menghiba, tapi kini seolah kedzaliman mereka terbalaskan. 2 orang Satpol PP bernama Soepono dan A Tajudin tewas dalam kerusuhan itu, puluhan lainnya luka-luka. Belum ada sedahsyat kerusuhan antara Satpol PP dan warga (setidaknya yang saya tahu–CMIIW–correct me if i wrong). Inilah pembalasan!
Meski demikian, saya juga tetap menyesalkan kejadian ini. Saya tidak suka alias benci dengan segala bentuk anarkisme, apalagi jika berujung dengan penjarahan. Tetapi, apa mau dikata rakyat mungkin sudah muak dengan kedzaliman yang diterapkan oleh penguasa. Saya merasa yakin, jika negara dan aparatnya tidak semena-mena, insya Allah tidak akan terjadi hal yang demikian. Mungkin, ini adalah akumulasi dari kebencian yang tertanam di dada rakyat. Inilah negara yang menerapkan demokrasi. Di sini tumbuh subur kedzaliman. Entahlah…
Sudahlah, ini mungkin pelajaran berharga bagi siapapun, terutama penguasa. Perlu dicetak dengan huruf tebal bahwa magma kebencian rakyat atas kezaliman yang dipertontonkan dengan vulgar oleh penguasa bisa kapan saja menyembur bersama amarah yang tak pernah bisa disalurkan selama ini. Ya, siapa menabur angin ia akan menuai badai.
Salam,
O. Solihin