Arsip Bulanan: Méi 2010

Untuk apa sih menulis?

Assalaamu’alaikum wr wb

Saya pernah mendapatkan pertanyaan seperti judul yang saya gunakan untuk tulisan kali ini. Penanya tersebut menurut saya sudah tepat menanyakan demikian. Why? Karena seharusnya setiap melakukan sesuatu kita memiliki niat dan tujuan yang jelas. Bisa tergambar, bisa dikerjakan, dan bisa menghasilkan serta bermanfaat. Itu sebabnya, sebagaimana kegiatan lainnya, menulis juga pasti ada tujuannya. Setiap orang bisa saja berbeda cara pandang dalam menentukan motivasi dan tujuan menulisnya. Maka, setiap kali saya mengajar kelas menulis atau mengisi workshop menulis maupun yang lebih spesifik seperti jurnalistik, yang pertama kali saya sampaikan kepada peserta adalah: “Apa sih motivasi Anda menulis?” Selain saya ingin mengukur minat yang mereka inginkan, juga agar saya bisa urun rembug memberikan sedikit sharing agar niat dan tujuan menulis tidak sia-sia atau tidak hanya mandeg pada tataran yang sangat sederhana atau bahkan ‘sampah’.

Nah, jawaban saya untuk pertanyaan sesuai judul artikel ini adalah: menulis ditujukan untuk BERBAGI. Memberi manfaat kepada pembaca agar mereka bisa merasakan nikmatnya pengetahuan. Berbagi itu indah. Apa sajalah, pasti kita senang juga ketika memberi kebahagiaan kepada orang lain. Ada sebuah pesan yang menarik, “Jika ilmu yang Anda pelajari dari saya dapat berguna untuk diri Anda, maka tolong berbagilah kepada orang lain agar orang lain pun dapat memetik manfaat dari ilmu tersebut,” demikian pesan Milton Erickson pada murid terbaiknya, Stephen Gilligan, PhD. Siapa Milton Erickson dan siapa pula Stephen Gilligan? Bagi Anda yang peminat atau praktisi hynotherapy atau juga Neuro-Linguistic Programming, pastinya mengenal guru dan murid di bidang tersebut. Ini sekadar contoh saja. Continue reading


[info] Bedah Buku “Muda Luar Biasa!”, sore ini!

Assalaamu’laikum wr wb

Bagi teman-teman yang mau ikutan acara bedah buku saya, yang judulnya “MUDA LUAR BIASA! [melek dunia paham agama]“, silakan datang saja ke Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Jl. Nangka No. 58 C, Tanjung Barat (TB Simatupang), Jagakarsa, Jakarta Selatan. Jam 16.00 WIB

Oya, bagi yang belum tahu buku tersebut, berikut tema yang dibahas dalam buku itu:.

  • Bagian Satu: ICIP-ICIP POLITIK [Ngomongin Politik Itu Asik; Politik Yes, Agama Yes!; Islam, Ya Islam!; Islam… I’m in Love; Bring ISLAM Back!]
  • Bagian Dua: SADAR POLITIK ITU PERLU [Bedanya Tawuran dan intifadhah; Percaya HAM? Nggak Deh!; Demokrasi Sudah Basi!; Cuma Islam di Hati Gue; Ayo Bangkit!]
  • Bagian Tiga: TAKUT POLITIK? NGGAK JAMAN! [Masihkah Kita Punya Idealisme; Jangan Mau “Dipolitikin”; Remaja Militan, Siapa Takut?; Kaum Muslimin Teroris? Asal Deh!; Indahnya Jadi Syuhada; Misteri “Bom Kuningan”]
  • Bagian Empat: POLITIK? GUE BANGET! [Amerika, Islam, dan Kita; Palestina, Riwayatmu Kini; Afghanistan; Lukamu, Lukaku; Irak Today; Islamnya Satu Pejuangnya Banyak]

Semoga bermanfaat dan insya Allah nanti kita ketemu di sana ya :-)

Salam,

O. Solihin


Memotivasi Diri, Raih Prestasi

logo-gi-3 gaulislam edisi 136/tahun ke-3 (17 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 31 Mei 2010)

Suatu hari di tahun 711 M, armada berkekuatan 7.000 prajurit itu merapat di pantai Andalusia. Sang Panglima lantas memerintahkan pasukannya untuk membakar seluruh armada mereka. Sebuah orasi tersulut dari mulut Sang Panglima, “Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?…” Instruksi ini dimaksudkan agar semua pasukan membakar habis pilihan untuk menjadi pecundang dan pengecut. Mereka hanya diberi dua pilihan, memenangkan pertempuran atau mati syahid.

Ya, sebait episode di atas adalah sebuah epik tentang seorang Thariq bin Ziyad, panglima pembebas Andalusia, beserta pasukannya yang berhasil menaklukkan 25.000 prajurit Visigoth di bawah komando Raja Roderick Spanyol. Kemenangan yang diraih pasukan kavaleri Islam tersebut termasuk historical moment. Berkat perjuangan mereka, Islam menaungi benua Eropa. Nggak heran kalo akhirnya nama beliau diabadikan untuk menyebut sebuah bukit karang setinggi 450 meter di semenanjung pantai tenggara Spanyol, Jabal Thariq. Orang Barat menyebutnya Gibraltar.

Sobat muda, motivasi adalah salah satu kunci selain keimanan dan doa yang menjadi penentu kemenangan tersebut. Dalam bahasa Arab, motivasi diistilahkan sebagai al-quwwah. Mutlak dalam menjalani hidup, kita memerlukan motivasi. Keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam karir dan hidup, disinyalir dipengaruhi erat oleh motivasi yang dimilikinya. Itulah mengapa saat ini menjamur kemasan program-program training (pelatihan) dalam rangka memfasilitasi peningkatan motivasi berprestasi (achevement motivation). Termasuk salah satunya Training the Spirit of Soul-nya Segi3 Learning Centre (permisi, numpang promosi dikit, heuheu).

Tapi sayangnya, di saat yang bersamaan pula, kita saksikan betapa banyak remaja yang diharapkan menjadi calon-calon pemimpin masa depan, seolah kehilangan semangat dan motivasinya untuk berlomba mengukir prestasi serta mempersiapkan hari esoknya. Ada apa gerangan? Awal kisah kita mulai dari te-ka-pe… Continue reading


Cerpen Remaja Mayaki: DELA

“Saudara sebagai seorang ketua sangat tidak bertanggung jawab! Ketika semua bekerja keras, Anda malah tidak datang dengan alasan ketiduran! Ketua macam apa itu!”

Dia berkata dengan keringat yang menetes dan muka merah sambil menunjukkan jarinya kepadaku. Entah bagaimana ekspresi wajahku waktu itu, yang kurasakan hanyalah cengkeraman tangan Adi di bahuku.

“Kami bukannya budak yang dapat saudara suruh seenaknya. Kami di sini belajar berorganisasi, bekerja sama, dan membina persaudaraan, bukannya memupuk sikap diktator dan tak tahu diri!”

“Kamu keterlaluan!” Aku sudah tidak sabar mendengarkan omongannya. Telingaku rasanya terbakar.

“Kamu tidak berhak menuduh saya demikian! Apa buktinya kalau saya bersikap diktator?”

Sungguh di luar dugaan, dia tersenyum! Sungguh! Dia melihat seluruh peserta rapat dengan senyum tipis di bibirnya. Semua peserta terdiam.

“Coba Anda tanyakan pada peserta rapat tentang sikap Anda. Instrospeksi dirilah Bung!” Dia duduk di kursinya. Suara kursi bergeser itu terasa menyakitkan telinga dan ruangan itu kembali sepi seperti kuburan. Kupandangi mereka satu per satu dan mereka hanya menunduk.

Tiba-tiba dering bel mengejutkan kami. Kepala mereka tengadah menatapku. Segera aku berusaha menguasai diriku, “Baik, silakan Pendamping Kelas kembali ke posisi masing-masing dan bagian inspeksi segera bergabung dengan kelompoknya masing-masing!”

Begitu aku selesai bicara, ruangan itu dengan cepat berubah menjadi kosong.

“Raka, ayo, kita harus segera inspeksi!” Kutatap mata Adi, dia menunduk.

“Kamu juga setuju dengan dia Di?”

“Ah sudahlah, jangan dipikir, kerja kita masih banyak.” Continue reading


Robin Padilla, Dari Dunia Gemerlap Menuju Islam

www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA–Siapa yang tak kenal Robinhood? Seorang sosok ksatria pembela kaum miskin dari tanah Inggris. Ia senantiasa membela kaum lemah dengan mengandalkan panah sebagai senjata utamanya. Tak jauh berbeda dengan Robin Padilla, aktor asal Filipina ini juga pernah membintangi film serupa di negeri asalnya.

Nama lengkapnya adalah Robinhood Fernando Carino Padilla. Namun, ia lebih populer dengan panggilan Robin Padilla. Ia adalah aktor Filipina yang pernah berjaya di era tahun 1990-an. Film-film yang dibintanginya selalu masuk dalam jajaran box office di negaranya. Tak heran bila namanya masuk dalam daftar teratas aktor dan aktris Filipina terlaris.

Nama pesohor kelahiran Kota Manila, 23 November 1967 ini makin meroket setelah membintangi sejumlah film laga di negaranya. Bahkan karena peran yang dimainkannya sebagai seorang gangster berdarah dingin dalam sejumlah film, ia mendapat julukan The Bad Boy of Philippine Action Movies.

Bakat akting memang sudah mendarah daging dalam keluarga besar Robin Padilla, yang merupakan pemeluk Kristen Protestan. Ketiga orang kakak Robin, yakni Rustom Padilla, Royette Padilla dan Rommel Padilla, juga dikenal publik Filipina sebagai aktor. Kehidupan sebagai bintang besar (megastar) membawa Robin dekat dengan dunia malam dan obat-obatan terlarang.
Continue reading


Dilarang Percaya Paranormal

logo-gi-3 gaulislam edisi 135/tahun ke-3 (10 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 24 Mei 2010)

Kematian paranormal Mama Lauren pekan kemarin ternyata jadi ajang cari jimat. Gimana nggak, sisa kain kafan untuk membungkus jasad Mama Lauren diperebutkan warga yang ikut melayat. Hingga akhirnya ada pihak keluarga yang kepikiran untuk menjaga makam Mama Lauran selama 40 malam. Tujuannya, supaya tidak ada orang-orang yang membongkar makamnya. Hmm.. konon menurut keyakinan sebagian orang, terutama penganut ilmu hitam, kain kafan dan tali pocong dari orang yang diyakini punya ilmu tertentu bisa membuat dirinya makin digdaya. Ah, yang benar saja, Bung!

Kematian Mama Lauran mengundang kontroversi. Kalo saya menyimak di berbagai pemberitaan, termasuk entertainment, Mama Lauren katanya tahu saat dia akan mati. Walah, kaum muslimin seharusnya tidak percaya dengan kabar tersebut. Sebabnya apa? Sebab, kematian adalah rahasia Allah. Allah Swt. tidak memberikan pengetahuan tentang yang ghaib kepada siapapun kecuali yang dikehendakiNya, yakni kepada rasul yang diridhoiNya. Lha, Mama Lauren itu siapa? Cuma paranormal! Jadi nggak bisa dipercaya.

Ssstt.. seseorang pernah bilang ke saya: “Bingung juga sih. Ramalannya kok kadang-kadang benar ya? Terus gimana tuh?” Ah, itu kan kebetulan aja. Lagian biasanya paranormal nggak bisa nyebutin dengan pasti tentang ramalannya. Cuma bilang: “akan ada ini dan itu”. Kitanya aja yang tertipu karena udah terlanjur percaya. Glodak!

Jaman dulu di kampung saya ada juga dukun. Orang bilang sekarang paranormal atau pinter. Dia ngakunya bisa ngeramal dan nyembuhin orang. Sebenarnya saya nggak terlalu percaya, tapi orang-orang di desa udah kadung menganggapnya hebat. Tapi setelah saudara saya bilang, “Ngapain minta tolong ke dia, shalat aja dia nggak. Gimana bisa dipercaya?” Hmm.. bener juga ya, jangan-jangan dia temenannya ama jin bin iblis deh yang memang para pembangkang Allah Swt. Sejak saat itu saya sama sekali nggak percaya. Continue reading


Si Kabayan Dicukur

Si Kabayan teh kandulan pisan. Ari kandulan teh jahe alias jago he-es (beuki sare). Teu kaop nyangkere atawa nyarande sok ker wae kerek.

Sakali mangsa si Kabayan teh dicukur. Dicukurna handapeun tangkal gede di sisi jalan Supratman. Ari tukang cukur teh ruruntuk dalang. Tadina hayang jadi dalang tapi teu kataekan. Kalah jadi tukang cukur. Teu wudu payu nyukurna teh da eta ari nyukur sok bari ngadalang.

Si Kabayan tibarang gek diuk dina korsi panyukuran geus lelenggutan wae nundutan. Saperti biasa tukang cukur teh ari ceg kana gunting jeung sisir tuluy wae ngabuih… Ngadalang. Pokna teh, “Tah kacaturkeun di nagara Alengka, rajana jenengan Dasamuka. Ari dasa hartina sapuluh. Ari muka eta hartosna beungeut atanapi raray… “

Si Kabayan nu keur ngalenggut ngarasa kaganggu kunu keur ngadalang, bari heuay si Kabayan nyarita, “Pondokeun wae Mang…”

Trek-trek tukang cukur teh ngaguntingan buuk si kabayan bari pok deui,  ”Ari geus kitu… eta Dasamuka teh bogoh ka Dewi Sinta, geureuhna Sri Rama… ”

“Pondokeun wae Mang…”ceuk si Kabayan nyaritana selang seling antara inget jeung heunteu bakating ku tunduh.

Teu lila reup deui sare. Lilir sakeudeung, tukang cukur teh keur ngadongeng keneh, ”Urang tunda Dewi Sinta nu keur di Alengka, sabab dipaling ku Rahwana…. caturkeun sri Rama….” si Kabayan asa kaganggu sarena terus nyarita bari lulungu, “Pondokeun Mang….”

Terus reup deui peureum. Trek..trek tukang cukur ngaguntingan buuk si Kabayan bari nuluykeun ngadongengna. Ari tiap si kabayan lilir, tukang cukur teh keur ngabuih keneh wae ngadalang. Tapi ari leungeunna mah tetep teu eureun-eureun ngaguntingan buuk si Kabayan. Si Kabayan keuheuleun pisan sabab sarena kaganggu ku sora tukang cukur, nu sakapeung sok ngagerem nurutan sora buta atawa ngajerit nurutan sora Dewi Sinta basa dipaling ku Rahwana. Antukna si Kabayan ngambek ka tukang cukur bari nyarita ”Ceuk aing ge pondokeun…pondokeun…” tukang cukur nembalan “Dipondokeun kumaha ieu geus lenang kieu..” ari ret si Kabayan kana eunteung enya wae sirahna geus gundul teu salembar-lembar acan, puguh wae si Kabayan teh ambek, “Nu dipondokeun teh dongeng maneh lain lain buuk aing…” si Kabayan morongos.

Tukang cukur nembalan bari nyentak, “Bongan sorangan, naha atuh sare wae batur digawe teh, lain nuhun diembohan ku dongeng teh…”

Ngan hing wae si Kabayan teh ceurik bakating ku handeueuleun jaba ari balik ku barudak dipoyokan bari di abring-abring “…penjol….penjol….”[]


Tadabur Keinsyafan

By: Aulia Fakhrunnisa’

Bagi sebagian orang, cinta itu indah. Hmm.. kayaknya nggak begitu, deh. Coba aja liat Surti dan Tejo. Cintanya bubar gara-gara Tejo yang dulu alim, maksudnya waktu mereka pacaran di moshola kampung, Tejo berkoko, berkopiah plus pakai sarung. Kini setelah kembali dari perantauannya di kota, Tejo jadi lebih gaul dan lebih hedon. Bahkan sekali waktu, Tejo pernah mengajak Surti untuk berzina. Surti kecewa. Ia merasa sang kekasihnya kini berbeda, akhirnya ia pun memutuskan untuk mengakhiri kisah cintanya. Weiis.. pahit, bo’.

Kisah ini pula yang kini dihadapi Rio. Kisah cintanya berakhir setelah Mira, kekasih yang sangat dicintainya, mendua dengan Indra yang sahabat dekat Rio. Sedih, kawan-kawan. Belajar jadi nggak konsen, berangkat sekolah jadi malas, apalagi buat makan dan minum, nggak nafsu, deh.

“Lo, kenapa si Ri? Tampang lo kusut banget!” tanya Erik, teman sebangku Rio yang lumayan kiyut juga.

“Nggak tau deh. Gara-gara Mira gue jadi bete terus” jawab Rio sambil manyun.

“Udah, deh. Jangan kelamaan dipikirin. Dari pada mikirin Mira, mending liat tuh si Rina, dia udah lama nunggu, lo.” Kata Erik sambil melirik ke arah Rina yang dari tadi tadi curi-curi pandang ke Rio.

“I..ni lagi. Nggak deh. Mending jomblo seumur-umur dari pada sakit hati melulu.” Ujar Rio

So, sekarang lo maunya gimana? Lo mau kita kroyok si Indra? Atau bagaimana kalau kita hiking aja? Melupakan masalah yang terjadi, sekaligus refreshing. Oke kan ide gue?” Lirik Erik.

“Bodo deh, Rik. Lo mau hiking, refreshing, terserah. Gue sih mau makan, laper!” kata Rio sambil ngeloyor ke kantin. Continue reading


Derita Muslim Versi Bollywood

Film tentang nasib umat Islam pasca 11 September ini membludak di AS dan Inggris. Tapi didemo partai Hindu militan di India. Kekerasan terhadap minoritas muslim di India sering terjadi
Oleh: Amran Nasution

Hidayatullah.com–My Name Is Khan adalah film India biasa, berkisah tentang percintaan manusia. Ini adalah love story. Tapi alur cerita serta setting yang melatari cerita –kota San Francisco, Amerika Serikat, setelah dua menara kembar WTC rubuh diserang teroris, 11 September 2001– menyebabkan film ini berbeda.My Name Is Khan praktis menjadi media memberitahukan dunia apa yang sesungguhnya terjadi di Amerika Serikat setelah 11 September. Lebih dari itu, film ini mengungkap derita kaum muslim Amerika Serikat setelah serangan teror World Trade Center (WTC), New York, sesuatu yang selama ini tak banyak diketahui publik dunia, termasuk masyarakat Indonesia.

Mereka jadi korban fitnah, dituduh teroris oleh polisi atau FBI. Banyak yang ditangkap, diperiksa dengan siksaan, untuk kemudian dilepaskan karena tak ada bukti. Itu masih belum apa-apa. Tak terhitung jumlah muslim menjadi korban pengeroyokan atau penganiayaan dari orang-orang Amerika yang marah di jalan-jalan. Para wanita dilecehkan, dibuka paksa jilbabnya. Banyak rumah atau properti milik muslim dijarah atau dirusak. Semua itu rasis. Bagaimana tidak?

Ada segerombolan orang Arab dipimpin Usamah Bin Ladin, dituduh melakukan teror dengan menubrukkan pesawat  terbang ke gedung World Trade Center. Akibatnya, dua menara kembar rubuh, dan sekitar 3000 orang di dalamnya tewas. Peristiwa ini amat mengerikan.

Tapi mengapa yang jadi korban pembalasan adalah  umat Islam Amerika Serikat — berjumlah sekitar 7 juta di antara 300 juta penduduk– yang tak tahu menahu peristiwa teror itu? Jelas ini terjadi akibat sikap rasisme yang masih bersemayam di lubuk hati banyak orang Amerika Serikat. Sikap inilah dulu yang menyebabkan terjadi pemusnahan (ethnic cleansing) terhadap orang Indian di Benua Amerika, atau perbudakan selama ratusan tahun terhadap orang kulit hitam dari Afrika. Continue reading


Torquato Cardilli, Dubes Eropa Pertama yang Memeluk Islam

www.republika.co.id

Sekitar delapan tahun yang lalu, publik Italia dikejutkan oleh pengumuman seorang staf kedubesnya di Riyadh, Arab Saudi. Dubes mereka, Torquato Cardilli, menyatakan diri sebagai seorang Muslim. Sebelum Cardilli, sebenarnya sudah ada pejabat negara Eropa yang masuk Islam, yakni Dubes Jerman untuk Maroko, Murad Wilfried Hofmaan, dan Dubes Amerika Serikat untuk Fiji-Nauru-Tonga-Tuvalu, Osman Siddique. Namun, mereka ini masuk Islam sebelum menjabat dubes, sedangkan Cardilli masuk Islam saat menjabat sebagai duta besar.

Tak hanya publik Italia, masyarakat Muslim di negara-negara Eropa pun terkejut. Sejumlah media massa internasional saat itu memberitakan keislaman Cardilli. Stasiun televisi CNN dan kantor berita Reuters, misalnya, memberitakan bahwa Torquato Cardilli, seorang diplomat yang saat itu menjabat sebagai dubes Italia untuk Arab Saudi, mengungkapkan keputusannya untuk memeluk Islam kepada surat kabar Saudi. Pengakuan Cardilli tersebut disampaikan bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-59.

Dalam pemberitaan yang dilansir pada 26 November 2001, CNN dan Reuters menyebutkan, hal tersebut merupakan yang kedua kalinya terjadi dalam tujuh tahun terakhir, di mana seorang utusan pemerintahan Roma untuk Kerajaan Arab Saudi berpindah keyakinan ke agama Islam. Sebelumnya, rekan sejawat Cardilli yang juga pernah menjadi dubes Italia untuk Kerajaan Arab Saudi pada periode 1994-1995, Mario Scialoja, menyatakan masuk Islam. Scialoja kini menjabat sebagai ketua Pusat Kebudayaan Islam Italia. Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 874 other followers