gaulislam edisi 149/tahun ke-3 (20 Ramadhan 1431 H/ 30 Agustus 2010)
Suatu siang di kota Hujan, gue berada di antara ribuan angkot yang berjubel memenuhi jalanan. Gue kejebak macet di Pasar Anyar. Di tengah macet parah, gue melamun. Sambil mata gue ngeliat keluar angkot dan gue dapatin sederet pedangang lengkap dengan barang dagangannya, berusaha memikat pembeli, dan selalu aja ada orang yang mampir atau paling tidak milih-milih dan cuma nanya harga doang. Beberapa saat kemudian baru gue nyadar ternyata emang ada yang beda dengan pemandangan ini. Jumlah barang yang didagangkan lebih banyak, jumlah orang yang lalu lalang juga lebih banyak, macem/jenis dagangan juga lebih bervariasi. Jelas banget kalo pasar yang tiap hari gue lewatin ini, emang sekarang nampak lebih hidup. Nggak ada yang istimewa akhir-akhir ini, kecuali… sekarang bulan puasa, iya bulan puasa!
Hmm… jadi inget gue obrolan dengan temen soal keberhasilan doi jualan HP dengan keuntungan per unit yg cukup lumayan, plus perkembangan dagang dia dan rencana-rencana ke depan. Masih inget juga berita pagi ini soal harga sembako yang beranjak melangit, dan yang paling gress adalah harga tiket yang naik ugal-ugalan dibanding tahun kemaren. Hei guys, this all happened during Ramadhan. Ya ini adalah kondisi klasik Ramadhan di negeri kita. Sepertinya tidak ada yang baru dari fakta yang gue sodorin, karena emang kita udah biasa banget ngadepin suasana seperti ini. Menyedihkan ya? Loh kok menyedihkan? Continue reading



























































