Arsip Bulanan: Pébruari 2011

Tanda Cinta Sejati

gaulislam edisi 175/tahun ke-4 (25 Rabiul Awwal 1432 H/ 28 Februari 2011)

Apa buktinya kalo kamu cinta kepada ortumu? Kamu pasti dengan mudah akan menjawabnya: “aku akan tunjukkin dengan taat kepada mereka, menghormati mereka, dan melakukan apa yang diperintahkan mereka.” Yup, itu tanda cinta. Seseorang yang mencintai seseorang lainnya akan mudah untuk berusaha menunjukkan bukti kecintaannya dengan perilaku yang menyenangkan bagi yang dicintainya. Itu sebabnya, tanda cinta itu penting jika kita memang menghargai apa yang kita cintai. Tapi tanda cinta tak lagi begitu penting ketika cinta tak lagi menjadi bagian yang kita hargai. Semua tergantung cara pandang kita.

Jujur saja sobat, cerita bertabur keromantisan sering membuat kita bertenaga. Hidup rasanya dapat tambahan darah segar. Nafas baru dan semangat menggelora. Rasa-rasanya dunia adalah milik kita, yang sedang dimabuk cinta dan dibakar api asmara. Kita jadi ngedadak ‘lupa diri’, dan kita menjadikan orang yang kita cintai sebagai dewi or pangeran pujaan hati. Kita bersedia berkorban dan menjadi bagian dari hidupnya. Sehari saja tak jumpa dan komunikasi, rasanya hati kita jadi dingin dan beku. Tapi, ketika rindu itu terpuaskan, dinding es yang kokoh menyelimuti hati kita pun perlahan mencair (suit..suit.. swiiw!)

Saking terpengaruhnya dengan cerita Romeo and Juliet, waktu SMP saya sering berkhayal bisa bacain puisi hasil karya saya (yang seadanya itu) di bawah jendela kamar rumah teman wanita saya. Tapi, itu nggak terjadi, karena cuma khayalan belaka. Bang Boim Lebon, pengarang serial Lupus Kecil waktu sama-sama ‘manggung’ dengan saya pernah cerita kepada peserta bedah buku Jangan Nodai Cinta bahwa ketika doi SMA sempat pdkt ke lawan jenis dengan menjatuhkan sapu tangan. Ya, seperti di film-film percintaan, gitu. Padahal sapu tangan biasanya dipake untuk ngelap mulut sehabis makan, atau menyeka keringat di wajah, tapi bisa berubah fungsi jadi alat untuk menarik perhatian lawan jenis. Sapu tangan bisa bernilai romantis juga ya? Ya, setidaknya itu yang diceritakan Bang Boim Lebon. Ehm (meski pdktnya gagal karena dicuekkin sang gadis incerannya, kasihan deh luh—maaf lho Bang Boim) Continue reading


[download] Voice of Islam, Edisi Maret 2011

Assalaamu’alaikum wr wb

Sekadar meneruskan pesan agar bisa tersebar kian luas, dalam postingan malam ini saya menyertakan informasi Program Majalah Udara VOICE OF ISLAM yang diproduksi oleh MediaIslamNet. Saya copy-paste dari websitenya. Semoga bermanfaat.

Salam,

O. Solihin

===

Assalaamu’alaikum wr wb

Bagi para pengelola radio yang tergabung dalam VOIRadioNetwork, Anda bisa mendownload file-file rekaman Voice of Islam, khususnya untuk edisi awal bulan (untuk mengantisipasi keterlambatan pengiriman CD MP3 Voice of Islam ke wilayah tertentu). Untuk edisi 45, bulan Maret 2011, DIPASTIKAN pengirimannya sangat TELAT, maka kepada seluruh pengelola radio yang telah bekerjasama dalam menyiarkan program Voice of Islam, mohon untuk segera mengunduhnya sebagai antisipasi keterlambatan pengiriman. Berikut ini daftar file-file tersebut:

  1. Edisi 1 Maret 2011 (EDITORIAL: Memandang Gejolak Timur Tengah)  [download di sini]
  2. Edisi 2 Maret 2011 (THIBBUN: Jawab SMS)  [download di sini]
  3. Edisi 3 Maret 2011 (TEKNO: Kompor dalam Lintasan Sejarah) [download di sini]
  4. Edisi 4 Maret 2011 (BPC: Menjawab SMS) [download  di sini]
  5. Edisi 5 Maret 2011 (MUDA: Antara Jamaah Konser dan Jamaah Pengajian) [download di sini]
  6. Edisi 6 Maret 2011 (CEWEK: Hari Perempuan untuk Siapa) [download di sini]
  7. Edisi 7 Maret 2011 (SEJARAH: Tahrir Mesir – Bag. 1)  [download di sini]
  8. Edisi 8 Maret 2011 (PRECIL: Jangan Buang Waktumu) [download di sini]
  9. Edisi 9 Maret 2011 (TAMU: Terjebak Gelar) [download di sini]
  10. Edisi 10 Maret 2011 (TEKNO: Tidak Sekadar Pembalut Luka) [download di sini]
  11. Edisi 11 Maret 2011 (BPC: Istri Membangkang) [download di sini]
  12. Edisi 12 Maret 2011 (MUDA: Jawab SMS) [download di sini]
  13. Edisi 13 Maret 2011 (CEWEK: Berjuang ala Shahabiyyah) [download di sini]
  14. Edisi 14 Maret 2011 (SEJARAH: Tahrir Mesir – Bag. 2) [download di sini]

Semoga bermanfaat.

Salam,

MediaIslamNet

===


Di Depan Akademisi Cambridge, Mantan Pastor Itu Berkisah Kenapa Pilih Islam

Idris Tawfiq | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, “Bukan saya yang mencari Islam, Islam yang menemukan saya,” kata Idris Tawfiq. Ia berbicara di depan akademisi dan keluarga besar universitas papan atas Inggris, Cambridge. Di perguruan tinggi ini tengah dihajat acara tahunan Experience Islam Week, acara untuk pengenalan Islam dan toleransi.

Ia mengaku, tak ada masalah dengan masa lalunya. “Saya mencintai pekerjaan dan masa lalu saya, namun hati saya seperti dipandu memilih Islam,” katanya. “Setelah menjadi Muslim, saya menemukan kedamaian yang tak pernah saya temukan sebelumnya.”

Menurutnya, keputusannya memilih Islam adalah keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia masih melakukan pelayanan, ketika kemudian hatinya berbicara lain. Sampai suatu saat, timbul keberanian untuk menyatakan behenti dan mundur. “Saya merasa sendiri setelah itu,” katanya. Continue reading


[info] Diskusi Buku “Gaul Tekno Tanpa Error”

Assalaamu’alaikum wr wb


Insya Allah buku ini akan didiskusikan pada hari Kamis, 24 Februari 2011. Pukul 09.15-11.30 WIB di SMAN 1 Depok.

Sekilas informasi tentang buku ini. Gaul Tekno Tanpa Error adalah semacam guide alias panduan bagi remaja dan juga para orang tua mereka dalam mengasuh remaja, khususnya dalam teknologi informasi dan komunikasi. Dalam buku ini dibahas seputar handphone dan internet. Dilengkapi contoh dan langkah-langkah bijak dalam ‘mengendalikan’ antara keinginan dengan kebutuhan.

Bagi yang belum pernah membacanya, buku ini juga akan dijual di acara tersebut. Bagi yang kejauhan nggak bisa datang, silakan bisa langsung ke saya sebagai penulisnya. :-)

Terima kasih.

Salam,

O. Solihin

 


Inovasi di Bidang Teknologi Militer

Lukisan Pasukan Muhammad al-Fatih | Foto: hauroaljannah.blogspot.com

Teknologi meriam dan bahan peledak yang dikuasai umat Islam menginspirasi para ilmuwan Eropa.

Penguasaan atas Konstantinopel menjadi target utama penguasa Usmani. Setelah berabad-abad sulit ditaklukkan, pada 1452 barulah simbol kekaisaran Bizantium itu berhasil dikuasai umat Islam.

Kegemilangan itu diraih berkat berbagai faktor. Salah satunya, seperti dipaparkan Tamim Ansary pada bukunya Dari Puncak Baghdad, Sejarah Dunia Versi Islam adalah kehadiran beragam perangkat militer luar biasa yang digunakan pasukan Usmani.

Senjata utamanya adalah meriam besar yang disebut Basilika. Panjangnya mencapai 27 kaki dengan lubang lingkaran begitu besar. Meriam itu bahkan bisa menembakkan peluru hingga sejauh satu mil. “Pasukan Usmani adalah pasukan bersenjata terbaik dan berteknologi paling maju pada zamannya,” ungkap Tamim Ansary.

Sejatinya, pasukan ini mewarisi jejak kejayaan kaum Muslim pada bidang rekayasa teknologi, termasuk untuk kepentingan militer. Beberapa abad sebelumnya, aneka perlengkapan tempur terbaik sudah dipakai pasukan Islam.

Alat militer itu menunjang ekspansi umat Muslim sehingga sukses menghadirkan sebuah emporium besar. Kejayaan diraih sepanjang abad pertengahan. Peran militer yang berada di garda terdepan bersama alat tempurnya membawa kemenangan demi kemenangan. Continue reading


Cinta Kok Diobral!

gaulislam edisi 174/tahun ke-4 (18 Rabiul Awwal 1432 H/ 21 Februari 2011)

 

Swit swiw! Ngomongin cinta lagi deh. Yup, kata “cinta” punya daya magnet yang luar biasa. Menarik orang untuk ngejadiin “cinta” jadi topik obrolan senantiasa. Daya pikatnya bikin orang jadi ngerasa hambar ngejalanin hidup tanpa kata itu di kehidupannya. Singkatnya, “cinta” bikin hidup lebih hidup. Tapi, bener nggak ya cinta bikin hidup lebih hidup?  Atau malah bikin hidup jadi redup?

Aplikasi cinta pun bertebaran. Yang paling jelas dan marak keliatan ya dengan pacaran. Hari gini nggak pacaran dianggap kutukan. Status jomblo di saat umur masih belasan atau baru di kepala dua dianggap tragedi sosial yang paling menyeramkan.

 

Cinta, gue lakuin apa aja

Karena hidup itu harus diwarnai cinta, maka banyak orang yang berusaha untuk menggapainya. Cinta emang rasa yang secara fitrah diadakan Allah Swt. bagi tiap manusia. Sayangnya nggak semua milih jalan yang bener. Demi meraih cinta dan atas nama cinta banyak orang (termasuk cewek) rela ngelakuin apa aja.

Ada cewek yang selalu wara-wiri di depan kelas cowok inceran untuk bisa dapat respon dan sinyal yang diharapkan. “Eh, itu anak kelas berapa sih?” Gitu kira-kira respon cowok yang diharapkan muncul. Dari respon yang begitu pengennya sih cowok tersebut bakal tanya-tanya lebih banyak en akhirnya mereka bisa makin akrab lalu bisa jadian deh. Continue reading


Habiskan Masa Remaja Mencari Tuhan, Suprihati Mengucap Syahadat di Hari Pernikahan

Mendengar nenek angkatnya berzikir, Suprihati merasakan ketenangan | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Masa remaja dilalui Suprihati (70 tahun) tanpa kejelasan agama yang dianutnya. Di masa-masa ini, saat orang-orang sudah meyakini agamanya, ia masih sibuk mencari Tuhan.

“Ayah saya tidak pernah ke gereja dan juga ke masjid, hanya ibu saya yang rajin ke gereja untuk beribadah. Saya juga sangat jarang ke gereja. Jadi saya bingung, siapa Tuhan saya?” tutur warga Perumahan Kerangan Permai, Pondok Gede, Bekasi, ini kepada Republika.co.id.

Saking butanya ia akan agama, saat ditanya oleh rektor di kampusnya mengenai agama yang dianutnya, Suprihati menjawab ia tidak memiliki agama. Sontak saja rektor itu bingung mendengarnya. “Ibu saya seorang Katolik, ayah saya menganut kejawen. Orang tua saya tidak pernah mengajarkan Agama. Saya rasa, saya harus mencari Tuhan.”

Pencarian Tuhan dalam dirinya terus berlangsung. Sampai pada usia 23 tahun ia menjalin hubungan dengan seorang laki-laki Batak beragama Kristen. Mereka akhirnya memutuskan untuk menikah.

“Sebelum menikah saya dan calon suami mengunjungi beberapa keluarga. Banyak di antara mereka yang menawarkan untuk menikah di gerejanya. Maklum saja, keluarga kami rata-rata pendeta. Saat itu kami hanya mengiyakan semua tawaran,” tutur ibu enam anak ini dan nenek dari sejumlah cucu ini.

Beberapa hari sebelum hari pernikahan, datang seorang nenek angkat Suprihati yang kebetulan beragama Islam. Saat itu sang nenek membaca zikir di ruang tamu. Ketika mendengarnya, Suprihati merasa nyaman. Dari sini lah tiba-tiba muncul keinginan untuk masuk agama Islam. Continue reading


Kreasi Astronomi al-Khujandi

Ilustrasi | Foto: www.eng.fsu.edu/

Beragam instrumen astronomi tercipta. Sejarah mencatat observatorium pernah berdiri di Baghdad pada abad kesembilan. Umat Islam juga mencipta astrolabe yang digunakan untuk menentukan letak matahari dan bintang. Di luar itu, masih ada lagi instrumen astronomi kreasi ahli astronomi Muslim. Kreasi itu adalah sextant.

Alat ini berfungsi untuk mengukur kecondongan dataran garis ekliptik secara lebih akurat. Sextant dinding dirancang oleh seorang astronom Muslim bernama Abu Mahmud Hamid al-Khujandi. Ia terlahir pada 940.

Nama belakangnya, Khujandi, dinisbatkan terhadap kota asalnya Khudzhand di Rey, Persia. Wilayah kota itu tepatnya berada di tepian Sungai Syrdara. Masa awal kehidupannya tidak banyak diketahui. Namun melalui komentar Nasir al-Din al-Tusi, astronom terkemuka dari abad ke-10, tersingkap bahwa tokoh itu juga seorang ahli matematika andal.

Seperti ditulis sejarawan sains JJ Connor dan EF Robertson dalam buku The Impact of Muslim Science, karier intelektual al-Khujandi berlangsung seiring era kekuasaan Dinasti Buwaihi. Saat itu, pemimpinnya adalah Ahmad ad-Dawlah, yang naik tahta pada 945. Al-Khujandi pun mengabdikan diri pada salah satu keturunan dinasti ini, yakni Fakhr ad-Dawlah (976-997).

Menurut JJ Connor dan EF Robertson, sang penguasa mendukung penuh al-Khujandi dalam mengembangkan bidang astronomi. Berbekal restu tersebut al-Khujandi lantas membangun fasilitas observatorium pribadi yang cukup besar di Kota Rey. Continue reading


Tragedi 14 Februari

gaulislam edisi 173/tahun ke-4 (11 Rabiul Awwal 1432 H/ 14 Februari 2011)

 

Setiap tanggal 14 Februari, selalu ada tragedi. Pastinya membuat kita prihatin, sedih, dan juga kecewa campur marah. Mengapa harus prihatin dan sedih, padahal justru di tanggal 14 Februari itu banyak orang merayakan hari kasih sayang? Karena standar penilaian kita sebagai muslim seharusnya berbeda dengan cara pandang orang-orang selain Islam. Apa yang kita pandang baik, bisa salah dalam pandangan mereka. Apa yang mereka pandang baik, besar mungkin salah dalam pandangan kita sebagai muslim. Karena apa? Karena kita berbeda cara pandang sejak awal dalam menyikapi kehidupan ini. Itu letak masalah yang harus kita perhatikan.

Contohnya adalah Valentine’s Day. Banyak orang sigap dan gempita menyambut hajatan ini. Duit yang dikeluarkan demi pesta Valentine’s Day bukan lagi yang perlu dinilai rugi, tapi malah dianggap sebagai investasi. Alasannya: “Merayakan kasih sayang, tentu saja perlu pengorbanan. Uang sekadar alat tukar untuk membeli apa yang kita inginkan. Sama seperti ketika ortu kita mengeluarkan duit untuk biaya sekolah atau kuliah kita. Itu tandanya mereka sayang kepada kita, sehingga uang yang dimilikinya rela ditukar dengan biaya pendidikan kita, dan berharap kita kehidupannya jadi lebih baik.”

Benarkah alasan mereka? Belum tentu, bahkan bisa jadi keliru. Sebab, yang utama esensinya bukan pada “cinta dan pengorbanan untuk cinta”, tetapi letaknya pada: “apakah benar atau salah dalam mengekspresikan cinta dan pengorbanan itu.” Di sinilah perlunya memahami cara pandang Islam. Kita sebagai muslim, kadang nggak ngeh dengan cara Islam mengatur kehidupan. Inilah letak masalah kita. Semoga kita mau berpikir lebih mendalam, jernih dan ideologis. Continue reading


Mengais Amal Shalih di Sisa Waktu Usia

Assalaamu’alaikum wr wb

Pada 12 Februari 2011 ini, usia saya genap 37 tahun. Bagi kebanyakan orang, ulang tahun menjadi momen untuk bersyukur sekaligus merenung. Saya pribadi, sejak kecil tak pernah merayakan ulang tahun. Tak pernah ada tradisi semacam itu. Orang tua saya di kampung halaman, dalam kesederhanaannya, mereka tak pernah mengajarkan kepada anaknya untuk memperingati momen ulang tahun sebagai momen yang luar biasa. Tak ada pesta, tak ada acara meriah. Hanya taburan doa kecil. Agar amal shalih selama perjalanan hidup ini diterima Allah Swt. Selebihnya, diberikan kekuatan di sisa waktu usia agar kian giat beramal shalih.

Kita, terbiasa menggunakan ukuran waktu untuk mencapai target atau mengevaluasi diri. Bisa detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, tahun, windu, abad, hingga milenium. Di arena balapan F1 atau MotoGP, betapa berharganya ukuran waktu dalam hitungan detik, atau sepersekian detik. Siapa yang pandai memanfaatkan posisi start dan bisa memacu serta mengendalikan kendaraan balapnya, dialah pemenangnya. Lebih cepat seperseratus detikpun sangat berpengaruh bagi kemenangan. Di arena pacuan balap macam F1 dan MotoGP, setiap pembalap hanya diberi kesempatan sekian putaran yang telah ditentukan. Selebihnya, masing-masing harus berusaha memacu tunggangannya secepat mungkin tanpa melakukan kesalahan saat menginjak rem, oper gigi, dan meliuk di tikungan tajam. Para pembalap juga ada batas waktunya dalam mengumpulkan poin demi poin untuk meraih tangga juara. Jika selalu gagal dalam setiap sirkuit arena balap, alamat makin tipis peluang mendulang poin untuk menjadi juara. Valentino Rossi pernah merasakan pahit getirnya arena balap MotoGP saat poinnya tak cukup mengejar Nicky Hayden, Casey Stoner, dan Jorge Lorenzo. Sehingga ketiga orang itu secara bergiliran pernah menggusur Rossi dari podium juara  MotoGP.

Lalu, bagaimana jika kita bicara di arena kehidupan dunia? Saya masih khawatir, apa yang saya perbuat di dunia, tak lebih dari sekadar mencintai dunia. Padahal, dunia ladang amal untuk dikumpulkan sebagai bekal di kehidupan akhirat. Jatah usia setiap manusia setiap detiknya jelas berkurang. Kita,kadang melupakan ‘hal kecil’ dalam ukuran waktu bernama detik, sehingga nyaris diabaikan. Sebaliknya, ukuran tahun, sering menjadi ukuran yang sangat diperhatikan. Mudah sekali mengingatnya. Gampang nian untuk dijadikan sebagai tonggak evaluasi. Padahal, beberapa detik yang lalu, yang kita gunakan untuk bersantai, sejatinya kita telah mengabaikan peluang untuk melakukan kebaikan. Apalagi jika berlalunya waktu yang bebebapa detik itu malah digunakan untuk maksiat. Celaka sekali. Naudzubillah min dzalik. Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 874 other followers