Arsip Bulanan: Maret 2011

Yaaah.. 1 April 2011 KRL Express batal dihapus!

Assalaamu’alaikum wr wb

Aduh, gimana nih. Informasinya jadi tidak jelas. Dugaan saya, mungkin ini karena ada “tarik-ulur” antara PT KAI dengan para penumpang, khususnya yang biasa menggunakan jasa KRL Express. Mungkin. Tetapi apapun alasan pembatalan ini, keputusan yang sudah terlanjur diumumkan di awal Maret 2011 ini belum matang. Jadinya mudah juga dibatalkan. Padahal pelanggan KRL sudah kadung ‘panik’ dan akhirnya kini banyak yang bingung. :-)

Berita detilnya seperti disampaikan di sini:

==

KRL Ekspres Batal Diubah

TEMPO Interaktif, Jakarta -PT Kereta Api (Persero) batal melakukan pengubahan jadwal kereta rel listrik (KRL) ekspres yang rencananya akan dilakukan esok Jumat (1/4). Pembatalan itu diumumkan hari ini di tiap stasiun.

Seperti di Stasiun Palmerah, pengumuman pembatalan itu disiarkan melalui pengeras suara dan sekaligus ditempel loket pembelian karcis. Pada kertas pengumuman tersebut tertulis; “Perubahan sistem pola operasi perjalanan KRL yang pada awalnya akan diberlakukan mulai 1 April 2011 oleh Manajemen PT KAI (Persero) diputuskan ditunda pelaksanaanya.”

Dengan adanya penundaan itu maka selanjutnya pengaturan perjalanan KRL berjalan normal sampai ada informasi lebih lanjut.

Pembatalan itu terkesan mendadak, karena baru diumumkan di stasiun hari ini. “Kami juga baru mendapat surat edaran pembatalan itu tadi malam,” Sutrisno, salah satu petugas Stasiun Palmerah.

Penumpang mengaku bingung dengan keputusan PT KA yang terkesan berganti-ganti itu. “Kemarin katanya mulai besok KRL ekspres akan berhenti di tiap stasiun, tapi sekarang ternyata dibatalkan,” kata Ridwan, warga Kebayoran lama.

Ridwan berharap PT KA bisa membuat perencanaan yang lebih matang dalam setiap rencana programnya. “Mestinya lebih profesional, buat perencanaan matang dan pasti dahulu baru diumumkan jadi tidak membingungkan penumpang,” lanjutnya.

AGUNG SEDAYU [TEMPOINTERAKTIF]


1 April 2011, tak ada lagi KRL Express Jabodetabek

Assalaamu’alaikum wrwb.

Beberapa KRL di stasiun | Foto: www.bisnis.com

Bagi para pengguna jasa angkutan KRL (Kereta Rel Listrik) di lintasan Jabodetabek, kemungkinan sudah mengetahui informasi ini. Tetapi saya tetap posting agar yang pengguna ‘dadakan’ alias sekali-kali saja menggunakan KRL juga bisa mengetahui.

Dalam aturan terbaru yang akan diberlakukan pada 1 April 2011, tidak ada lagi pengelompokan berdasarkan kelas: KRL Express; AC Ekonomi dan Ekonomi. Tetapi diberlakukan single operation. Istilah KRL Express dan KRL AC Ekonomi berganti nama KRL Commuter Line untuk membedakan dengan KRL Ekonomi yang masih dikelola oleh PT KAI dengan tarif yang disubsidi pemerintah.  Untuk perubahan ini, mulai 1 April 2011, semua kereta berhenti di tiap stasiun.

Untuk lebih jelasnya, terutama seputar tarif yang berlaku, silakan simak berita yang saya ambil dari BisnisIndonesia di bawah ini.

Salam,

O. Solihin

==

Jadwal KRL baru untuk incar 1,2 juta penumpang per hari

JAKARTA: Penerapan pola single operation pada jadwal kereta rel listrik (KRL) lintas Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dimaksudkan untuk mengejar target penumpang 1,2 juta per hari pada 2014.

Makmur Syaheran, Corporate Secretary PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), mengatakan kebijakan ini dilakukan dalam rangka mengejar penugasan dari Wakil Presiden.

Dalam penugasan dari Wapres tersebut, ditargetkan jumlah penumpang yang diangkut di tahun 2014 harus mencapai 1,2 juta penumpang per hari.

“Saat ini volume penumpang baru mencapai 400.000 orang per hari,” ujarnya hari ini.

Dia menambahkan dengan pola single operation yang diterapkan mulai 1 April 2011 itu, KRL yang beroperasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) serta seluruh KRL ekspres akan berhenti di setiap stasiun.
“Yang semula KRL Ekspres hanya berhenti di stasiun tertentu, mulai 1 April KRL ekspres akan berhenti di semua stasiun,” lanjutnya.,

Makmur menambahkan untuk mengoptimalkan layanan KRL Commuter Line dengan cara mengurangi jalur persimpangannya maka secara bertahap rutenya akan dikurangi dari sekarang ini 37 rute menjadi hanya 5 rute pada akhir tahun ini.

Adapun lima rute tersebut, lanjutnya, meliputi rute Bogor-Manggarai pergi ulang (PP), Serpong-Tanah Abang PP, Tangerang-Duri PP, Tanjung Priok-Jakarta Kota PP, dan Bekasi-Jakarta Kota PP yang bertemu dengan rute kereta memutar Manggarai-Tanah Abang-Duri-Jakarta Kota-Jatinegara-Manggarai.

Dia mengatakan peleburan nama KRL AC Ekonomi dan KRL AC Expres menjadi KRL Commuter Line itu sekaligus untuk membedakannya dengan KRL Ekonomi yang tetap dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia dengan tarif yang masih disubsidi oleh pemerintah.

Adapun tarif KRL Commuter Line, lanjutnya, hingga kini masih dalam pembahasan secara intensif untuk segera diberlakukan dalam waktu dekat ini berkisar antara Rp7.000 dan Rp9.000 per orang untuk jarak tempuh yang panjang dan jarak pendeknya Rp6.000-Rp8.000 per orang.

“Pembahasan mengenai tarif belum final, ancer-ancernya untuk yang jarak tempuh yang lebih jauh misalnya Bekasi-Kota atau Bekasi Manggarai sekitar Rp7.000-Rp9.000 per orang. Sebab, tarif harus dihitung secara cermat dengan mempertimbangkan banyak komponen termasuk daya beli masyarakat,” ujarnya. (sut) [BisnisIndonesia]


Musim Ujian Tiba

gaulislam edisi 179/tahun ke-4 (23 Rabiul Akhir 1432 H/ 28 Maret 2011)

Andai saja di dalam hidup ini nggak ada rintangan, rasanya nggak nikmat ya. Sebab, rintangan akan membuat kita berpikir dan mencari cara untuk menaklukkannya. Andai saja di dunia ini tak ada bencana, mungkin saja kita tak akan belajar bagaimana caranya bertahan hidup. Andai saja dalam hidup ini kita tak memiliki cita-cita, rasanya tak ada orang yang mau bergerak dan berusaha meraihnya meski dengan berdarah-darah. Andai saja dalam kehidupan keseharian kita tak ada kesulitan, bisa jadi kita tak akan pernah merasakan betapa nikmatnya kemudahan. Ah, andai saja di dunia ini nggak ada ujian, sangat mungkin kita tak akan pernah bisa berusaha untuk interospeksi dan mempersiapkan diri untuk menjadi lebih baik. Wah, kalo semua ditulis yang “andai-andai” itu, sangat boleh jadi nggak selesai ditulis dalam empat halaman buletin kesayangan kamu ini.

Bro en Sis, bukan tanpa alasan lho gaulislam ngebahas tema ini di edisi ke-179. Alasannya adalah, sejak awal Maret ini sampai nanti menjelang akhir bulan Mei di sekolah-sekolah didominasi dengan ujian tuh. Gara-gara itu, gaulislam pernah merasa untuk meliburkan diri saja edisi cetaknya. Maka, satu edisi, yakni edisi 176 nggak terbit. Sebabnya apa, sebabnya banyak sekolah yang sedang melaksanakan ujian bagi siswa kelas 3. Meski edisi internetnya tetap terbit, tetapi edisi cetaknya terlanjur tidak diterbitkan dan itu membuat banyak di antara kamu yang nggak bisa akses internet jadinya nggak baca edisi itu. Kasihan juga ya? Makanya, setelah dipikir ulang, rasanya kita tetap akan menerbitkan edisi cetaknya dari buletin kesayangan kamu meski di sekolah sedang ujian. Lagian, itung-itung menemani kamu belajar Islam dan memotivasi agar lebih semangat dalam menghadapi ujian. Insya Allah. Setuju ya? Harus! Continue reading


Menulis, antara idealisme dan periuk nasi

Assalaamu’alaikum wr wb

Ibu saya sempat berlinang air mata ketika saya memutuskan tidak akan bekerja sebagai analis kimia dan malah memilih menjadi penulis. Saya butuh waktu hampir 2 tahun setelah menyampaikan keputusan saya untuk bisa meyakinkan ibu saya. Saat itu pilihannya memang agak sulit. Saya menginginkan untuk fokus mencurahkan perhatian saya kepada jalan yang saya pilih. Mungkin keseriusan saya memilih jalan itu pada akhirnya membuat ibu saya merasa yakin dengan keputusan saya.

Saat itu, sebenarnya dalam hati saya pun belum yakin bahwa ibu saya merasa yakin dengan apa yang saya putuskan. Ya, tepatnya mungkin memaklumi. Tetapi saya berjalan terus. Kukuh dengan pendirian saya. Sebagian keluarga menganggap saya egois. Mementingkan diri sendiri. Tidak mau memperhatikan orang lain. Bahkan ada seorang sepupu dari keluarga besar berseloroh: “Sayang sekali ya, otak encermu agar bisa sekolah di sekolah idaman banyak orang pada akhirnya tak dipakai ilmunya. Karena kamu memilih jalur profesi yang tak sesuai keahlian utamamu. Otaknya buat saya saja atuh… hehehe…” Menyikapi komentar ini saya hanya tersenyum. Tak berkomentar apapun, karena sudah sering saya sampaikan alasan tersebut. Apalagi saya sebenarnya sudah mempersiapkan dengan cukup matang, baik dari segi waktu maupun mental. Tidak tergesa-gesa.

Ya, untuk mempersiapkannya, sejak bekerja sebagai analis kimia di sebuah perusahaan mie instan di Karawang waktu itu, saya sudah membeli mesin tik seharga Rp 275 ribu di tahun 1993 dari paman saya. Paman sayalah yang membelikan mesin tik itu dan saya mencicilnya sebulan Rp 25 ribu. Meski paman saya kurang setuju dengan pilihan hidup saya, tetapi ia tak bisa melarang ‘kekerasan’ pendirian saya. Mungkin juga sekaligus ia ingin mengetahui seberapa kuat saya melangkahi jalan pilihan saya. Continue reading


Ruben Sempat Mencemooh ‘Apa Belajar Islam? Itu Gila!’

Abu Bakar Ruben | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID,  Kisah pencarian Abu Bakar Ruben dimulai sejak ia berada di bangku kuliah. Saat itu ia ditimpa banyak masalah. Teman dekatnya meninggal karena kecanduan narkoba. Orangtuanya bercerai dan ia mengalami kesulitan keuangan.

“Saya pun mulai bertanya apa sebenarnya tujuan hidup itu?” tuturnya. Peristiwa sulit yang terjadi hampir bertubi-tubi itu menjadi katarsis bagi Ruben untuk melirik agama.

Ruben dibesarkan di Melbourne oleh orangtua yang tak percaya Tuhan. “Saat kecil saya memang dibesarkan untuk menganut Kristen, tapi orang tua saya atheis, sehingga saya cenderung memiliki pandangan atheis,” ungkap Ruben.

Agama pertama yang ia coba pelajari adalah Kristen. Kebetulan seorang teman mengundangnya untuk datang ke kemah keagamanan. “Mereka bernyanyi, suara mereka bagus, tapi saya bingung apa artinya,” tutur Ruben.

“Mereka kemudian bilang bahwa Tuhan mencintai saya.” Ruben keheranan. “Bagaimana mungkin tuhan mencintai saya sedangkan saya punya anjing dia tidak tidak mencintai saya,” tuturnya. Rupanya saat itu kehidupan Ruben tak tentu arah. Ia bukan tipe orang yang bisa diandalkan, meskipun yang meminta bantuan adalah orang tuanya dan ia memiliki seekor anjing yang kemudian tak pernah ia urus.

Tak menemukan apa yang ia cari ia pun melangkah lagi, kini giliran Katholik dan Anglican Baptis. Namun ada hal yang membuat ia terganggu setiap saat ia bertanya kepada pemeluknya. “Mereka akan membuka injil dan kemudian berkata ‘Oh jawabannya ini saudaraku’ sambil beropini,” tutur Ruben. Continue reading


Kita yang belum juga mau mengerti

Assalaamu’alaikum wr wb

Ada seorang ibu yang ditanya, “Kenapa sih mengenakan kerudungnya cuma sesederhana itu?” Jawabannya juga sesederhana yang dipahaminya, “Ini lagi mode. Lagian nggak usah fanatiklah. Jangan mempersulit diri. Bagi saya yang sudah tua ini, yang penting membedakan diri dengan ABG. Nggak perlu pake gamis-gamis segala. Ribet.”

Hmm… pernyataannya justru mengundang masalah. Kesalahan si Ibu tersebut tidak murni seratus persen akibat ketidaktahuannya. Tetapi juga dia melihat ke sekitarnya. Masih banyak yang mengenakan busana muslimah sebatas itu. Meski sebenarnya banyak juga yang sudah sempurna lengkap dengan jilbabnya. Tetapi si ibu sepertinya memilih fakta yang sesuai seleranya untuk dijadikan dalil pemuas nafsunya.

Kisah lainnya, seorang remaja pernah ditanya: “Kenapa sih main gim melulu setiap kali ke warnet?” Jawabannya, “Refreshing lah. Kan kita perlu rileks dalam hidup ini.” Ia lupa, bahwa saat saya tanya kepada petugas warnet ia mengatakan bahwa ada anak yang setiap harinya main gim online minimal 5 jam. Saya kemudian berpikir ulang, “rileks dari masalah apa jika setiap hari kerjaannya lebih banyak main gim online?”

Pada cerita lain ada seorang bapak, sudah tua, yang hampir setiap malam hobinya main gaple. Entah ini hobi atau pekerjaan. Yang pasti dia identik dengan kartu gaple. Dulu, masa-masa saya ikutan ngeronda, ada saja orang ini. Tentu dengan kartu gaple setianya. Saya dan beberapa orang bapak yang kebagian tugas memilih keliling kampung meronda ketimbang ngetem di pos kamling dan menyaksikan kebiasaan beberapa orang main gaple. Continue reading


Pilih Ganteng atau Takwa?

gaulislam edisi 178/tahun ke-4 (16 Rabiul Akhir 1432 H/ 21 Maret 2011)

Ssstt, kamu pasti pada tahu kan tongkrongannya Irfan Bachdim, Justin Bieber, Dude Herlino, Hyun Bin, dan masih banyak deretan nama cowok lainnya. Kata banyak orang, mereka cakep, ganteng, tampan bin kasep. Kok kata orang? Karena apa yang menurut kata orang banyak, belum tentu saya sependapat dengan mereka. Suka-suka donk!

Semua nama tersebut adalah deretan selebritis yang terkenal di bidangnya masing-masing. Dari semua nama tersebut, hanya Irfan Bachdim saja yang background-nya adalah sepak bola. Selebihnya adalah kalangan artis dan bintang sinetron/film. Tak heran, karena bidang ini (baca: entertainment) memang mengharuskan wajah cakep sebagai modal utama bila ingin terkenal.

Kalau yang tak punya wajah cakep, gimana dong? Kalau nekat pingin terkenal di dunia selebritis, tanpa modal cakep dan body seksi maka kamu harus punya kebalikannya. Apaan tuh? Sorry, nggak tega bener sebetulnya mau bilang kalo kebalikan wajah cakep adalah wajah (maaf) ancur. Coba aja kamu perhatikan beberapa seleb yang settingan wajahnya begitu. Mereka selalu mentertawakan diri sendiri dengan banyolan yang intinya pengakuan bahwa wajah mereka sendiri jauh dari harapan (akhirnya bisa nemu padanan kata yg sopan untuk istilah wajah ancur hehehe). Continue reading


4 tahun sudah, saya ngeblog di WordPress

Assalaamu’alaikum wr wb

Maret 2011 ini tepat 4 tahun saya ngeblog di WordPress.Com. Jujur saja, setelah berkelana dan menjajal blog lainnya, pilihan saya akhirnya jatuh kepada blog bikinan Matt Mullenweg ini.  Saya punya di multiply. Tapi kini sudah jarang saya tengokkin. :-) sementara Friendster sudah lama juga saya bilang goodbye. Blogspot? Aduh, sampai sekarang Blogspot belum mampu memalingkan perhatian saya dari WordPress :-) Jadi, meski saya bukan divisi marketing dan promosinya WP, tetapi saya berusaha memberikan apresiasi dengan cara menyampaikan keunggulan WP dibanding penyedia blog gratis lainnya.  Meski ada beberapa kekurangan yang mencolok, yakni tidak support Java Script (khusus yang wordpress.com, tetapi yang berbayar baik domain maupun hostingnya, java script bisa digunakan kok: saya menjajalnya dan berhasil di website saya: www.menuliskreatif.com. Sekadar info aja,  saya juga jadi admin untuk www.gaulislam.com dan www.mediaislamnet.com, tentu saja keduanya menggunakan WORDPRESS. Sip deh!)

Sejak jamannya versi 2.5, dan kini sudah versi 3.1 (dan dalam waktu tidak lama lagi akan segera hadir versi 3.2), saya udah jatuh cinta. Kini, sangat banyak perubahan dan itu makin membuat saya tak bisa ke lain blog :-) (lebay mode “on”). Oya, saya juga pernah pake Joomla untuk website dengan domain dan hosting berbayar, tetapi bagi orang seperti saya yang lebih mengutamakan tersampaikannya content web/blog dengan mudah, Joomla terlalu menyulitkan dan bikin ribet. Akhirnya pilihan saya TETAP pada WORDPRESS. Waduuh… sampe sebegitunya ya? Ya iyalah, abisnya saya dibuat ‘tersihir’ sih hahaha…

Ternyata saya nggak sendirian lho yang ngefans dan menjadi pengguna setia WordPress, masih ada jutaan pengguna lainnya di seluruh Indonesia, bahkan Indonesia, menjadi negara ketiga terbesar di dunia yang menggunakan WordPress. Datanya silakan klik di sini. BTW, situs blogdetik dan kompasiana saja pake WordPress. Makin moncer dah WordPress. :-)

Okelah, ini sekadar menyampaikan apresiasi saja. Jika ada inspirasi dari tulisan ‘iseng’ ini silakan ambil, jika ada manfaatnya dari tulisan ‘seadanya’ ini silakan gunakan. Terima kasih.

Salam,

O. Solihin


Demi Islam, Anas Diusir dan Sempat Jadi Kuli Panggul

Abdullah Anas | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Abdullah Anas, 19 tahun, lahir dan dibesarkan di Medan dalam keluarga Kristen Protestan. Ayahnya seorang pendeta, sehingga dari kecil ia tumbuh dalam keluarga agamis. Anas dan kedua kakaknya sangat rajin manjalankan ibadah ke gereja.

Gereja tempat ia beribadah membagi 2 waktu bagi jemaatnya dalam sehari, dan dalam sehari pula ia pergi ke sana. “Tujuan saya untuk dapat benar-benar mendapatkan ilmunya ” tutur anak ke 3 dari 4 bersaudara ini

Tapi, selain sangat taat dengan keyakinan Protestannya, ia rupanya juga tertarik dengan agama lain, yaitu Islam. “Sejak duduk di bangku SMP saya suka mengamati kegiatan teman-teman saya beragama Islam, saya tertarik dengan acara-acara yang ada, seperti hari raya kurban, Isra Mi’raj, bulan Ramadhan dan sebagainya” tutur nya

Dorongan besar untuk mengetahui Islam lebih dalam kian dirasakan Anas di bangku SMA. Hingga ia memutuskan mengikuti dua pelajaran agama, Kristen dan Islam sekaligus di sekolah.

“Memang dulu guru sempat tidak mengizinkan saya mengikuti dua mata pelajaran agama, tetapi setelah saya berbicara dengan guru agama Islam dan menceritakan ketertarikan itu, saya diperbolehkan mengikuti dua-duanya,” tutur Anas.

Dengan mempelajari kedua agama itu pengetahuannya tentang Islam semakin luas dan hatinya mulai memiliki kecenderungan. Tapi Annas tidak ingin gegabah. Ia berpikir pula risiko ke depan. Continue reading


Kerudung Dusta

gaulislam edisi 177/tahun ke-4 (9 Rabiul Akhir 1432 H/ 14 Maret 2011)

Percaya atau tidak, tulisan ini emang terinspirasi dari obrolan anak-anak cewek waktu saya bantuin tim distribusi nyebarin gaulislam ke sekolah-sekolah. Di sebuah sekolah di kota Bogor, di Jl. Dr. Sumeru tepatnya, saya sempat merekam obrolan beberapa anak perempuan. Di antara mereka ada yang pake kerudung ada pula yang masih membiarkan rambutnya—yang merupakan bagian dari aurat—dilihat banyak orang. Nah, yang menarik adalah ketika ada seorang anak cewek yang manggil-manggil temannya dengan sebutan “kerudung palsu”. Entah apa maksudnya karena saya nggak konfirmasi ke anak cewek tersebut. Maklum, saya terburu-buru mau nyebarin gaulislam edisi cetak ini ke sekolah lainnya.

Jujur saya tergelitik dengan istilah yang dilontarkan anak cewek itu: kerudung palsu. Mungkin nih, tebakan saya adalah ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, dia sedang mengejek temannya yang pake kerudung karena sang teman perilakunya tidak mencerminkan layaknya perempuan yang menjaga kehormatannya melalui busana muslimah itu. Kemungkinan kedua, bisa juga cuma guyonan. Tetapi terlepas dari apa motif anak cewek itu melontarkan istilah “kerudung palsu”, akhirnya menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis artikel di gaulislam dengan judul yang sedikit provokatif, yakni “kerudung dusta”. Insya Allah edisi cetaknya ini juga akan disebarkan ke sekolah tersebut. Dan, siapa tahu anak cewek yang komentar dan yang dikomentarin tersebut baca juga. Seru deh!

Bro en Sis, semoga saja artikel ini bisa menginspirasi kamu semua untuk mulai peduli hubungan antara busana dan perilaku pemakainya. Selain itu kita semua berharap bahwa sebagai muslim, pilihan kita dalam berbusana pun harus disesuaikan dengan ajaran agama kita. Nggak boleh sesuka kita. Tetapi memang ngikutin aturan yang berlaku. Sebab, untuk hal-hal mubah dalam kehidupan sehari-hari aja manusia bisa bikin aturan dan minta ditaati. Maka, Allah Swt, tentu saja lebih berhak untuk ditaati aturanNya. Iya kan? Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 874 other followers