Arsip Bulanan: Méi 2011

Pemuda Idaman

Ibnu Abbas r.a. berkata: “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 – 40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang ‘alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja. Kemudian Ibnu Abbas r.a. membaca firman Allah swt. dalam surat Al Anbiya ayat 60: “Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. (Tafsir Ibnu Katsir III, halaman 183)

Idealnya, seorang pemuda harus memiliki semangat yang hebat. Mengingat fisik mereka yang masih kuat. Dalam sejarah, usia para pemuda Islam yang pertama mendapatkan pembinaan di Daarul Arqaam rata-rata sekitar 20 tahunan. Yang paling muda adalah Ali bin Abi Thalib, waktu itu usianya masih 8 tahun hampir sama dengan Az-Zubair bin Al ‘Awwam. Kemudian dalam pembinaan Rasul itu masih ada Ja’far bin Abi Thalib yang saat itu usianya 18 tahun, Usman bin ‘Affan, usia 20 tahun, Umar bin Khaththab sekitar 26 tahun dan Abu Bakar As Shidiq yang sudah berusia 37 tahun saat itu. Dan masih banyak lagi para sahabat yang semuanya masih relatif muda usia. Mereka bersemangat dalam mengikuti pembinaan Rasulullah. Aqidah Islam yang ditanamkan Rasul mampu mengubah pola pikir mereka tentang kehidupan.

Bahkan dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Abdullah Ibnu Umar, yang masih berusia 13 tahun dan Al Barra’ ngotot ingin berperang bersama pasukan Rasulullah dalam perang Badar, namun oleh Rasulullah ditolak karena masih kecil. Tahun berikutnya pada perang Uhud, beliau tetap ditolak, hanya Al Barra’ yang boleh ikut. Barulah keinginannya yang tak tertahankan itu terpenuhi pada saat perang Ahzab, Rasul memasukkannya ke dalam pasukan kaum muslimin yang akan memerangi kaum musyrikin (Shahih Bukhari jilid VII, hal. 226 dan 302)

Semangat seperti inilah yang saat ini sulit ditemukan dalam diri pemuda Islam. Kalau pun ada itu hanya sedikit saja yang memilikinya. Jangankan untuk berjihad, dalam menuntut ilmu saja, pemuda kita sudah bosan dan tak bersemangat. Yang muncul justeru semangat dalam tawuran dan tindak kriminal lainnya. Continue reading


Bukan Islam KTP

gaulislam edisi 188/tahun ke-4 (26 Jumadil Akhir 1432 H/ 30 Mei 2011)

 

Jadi inget judul sinetron ya pas kamu baca judul gaulislam edisi pekan ini? Kalo yang ngikutin ceritanya mesti tahu dan hapal banget deh. Nah, di gaulislam pekan ke-188 ini sengaja membahas tema ini juga, tetapi bukan ngomongin filmnya. Kita ngobrolin tentang diri kita yang baru berislam sebatas tercantum di kolom agama dalam KTP kita. So, di buletin ini kita bahas bahwa seorang muslim yang keren dan hebat itu bukan menganggap Islam cuma nyangkut di KTP-nya doang. Tetapi memang harus dipraktikkan dalam kehidupan nyata, dalam kesehariannya. Dia juga percaya diri sebagai muslim. Setuju kan?

Bro en Sis, saya prihatin banget dengan kondisi remaja muslim saat ini. Sumpah! Kok ada ya remaja yang masih merasa minder jadi muslim? Kebangetan deh jaman kiwari masih beredar remaja yang nggak pede alias nggak percaya diri jadi seorang muslim. Padahal, identitas kemusliman kita bakalan jadi ukuran. Apalagi di tengah arus deras informasi dan perang opini yang kerap bikin kita ‘pusing-mual-mencret’ kalo dapet sebutan muslim radikal atau fundamentalis. Cuma orang yang rasa percaya dirinya tinggi dan keimanannya mantap aja yang bakalan tahan bantingan. Insya Allah.

Bro en Sis, ketika kita memiliki rasa percaya diri, kita tahu apa yang kudu kita lakukan. Kita bisa ngukur diri. Itu sebabnya, orang yang percaya dengan kemampuan dirinya, biasanya bakalan rileks en tanpa beban dalam berbuat. Ini, tidak saja membawa hasil maksimal, tapi juga antistres. Nggak percaya? Silakan dicoba. So, jadi muslim kudu pede!

Yup, rasa percaya diri emang kudu ditumbuh-kembangkan dalam diri kita. Kita rawat, kita bersihkan, kita poles dengan apik, dan kita sirami agar terus bersemi. Kita rawat dengan terus mengasah kemampuan yang kita miliki. Kita bersihkan segala yang kita anggap menghalangi semangat hidup kita. Kita pun rajin mengobati dan ‘membunuh’ rasa malas yang bersemayam di hati kita agar berubah jadi energi positif yang akan menggerakkan turbin di hati untuk terus memproduksi ketekunan dan kekuatan untuk hidup. Jangan lupa, kita juga menyirami relung hati dan akal kita dengan asupan ‘gizi’ tentang keyakinan akan masa depan. Terus disirami agar senantiasa tumbuh subur. Sehingga kita berani bilang, “Jangan pernah menatap masa depan dengan mata penuh ketakutan”. Bisa kan? Continue reading


Demam Togel

by: O. Solihin

“Horeee… aku menang lagi!” Reno girang sampe menggemparkan seisi kantin. Semua mata memandang ke arah Reno yang lagi jejingkrakkan seneng. Tangannya dikepal-kepalkan. Mulutnya bersiul.

“No, lu ngapain sih, kayak orang gila aja?” Bahtiar yang baru beres ngunyah bala-bala menatap Reno.

“Udah, lu gua traktir deh hari ini. Pokoknya lu pade musti ikut bahagia dengan kesuksesan gua..” Reno tetep jejingkrakan. Sekarang sambil tertawa ngakak. Anak-anak yang lain masih belum ngeh dengan maksud Reno. Cuma Dion yang paham kenapa Reno begitu girang.

“No, lu menang togel lagi ya? Hebat lu..” Dion buka suara.

“He..he..he.. lumayan buat nraktir lu pade,” Reno bangga sambil ngabsen temen-teman gengnya.

“Wah, kalo gitu gue mau dong ditraktir. Mumpung ada juragan. He..he..he..” Jody yang dari tadi cuek mulai tertarik. Yang lain mengamini sambil mengacak-ngacak Rambut Reno yang kriting abis.

Bang Sanwani yang dari tadi sibuk ngelayani pembeli mulai melirik Reno.

“Eh, lu masih pada sekolah udah doyan judi ye..” Bang Sanwani nasihatin.

“Ini bukan judi Bang Sanwani. Tapi bagaimana bisa mengutak-atik angka dengan jitu,” Reno kembali ngakak diringi tawa teman-temannya.

Bang Sanwani cuma geleng-geleng kepala. “Moga aja anak gue nggak kayak anak-anak ini. Dinasihatin malah ngelawan. Ngeles” harapnya dalam hati.

Reno, Bahtiar, Dion, Awang, Jody, Gembol, dan Aben barengan joget-joget sambil menirukan gaya penari Asereje. Mereka menikmati kesuksesan Reno memenangkan undian togel. Jumlahnya cukup lumayan, Reno mengantungi 60 ribu perak. Reno juga nyesel, sebab doi cuma masang dua nomor dengan uang seribu perak. Coba kalo uang yang buat masang nomor togel lebih dari itu. Bisa kayak mendadak.

“Bang Sanwani… puter musik dong. Ikutan merayakan kesuksesan Reno,” pinta Gembol sambil mulutnya sibuk mengunyah bala-bala. Continue reading


Bikin deh Buku Harian

Assalaamu’alaikum wr wb

Setelah banyak membaca, setelah banyak tahu segala hal, biasanya muncul rasa ingin menumpahkan seluruhnya lewat tulisan. “Bagaimana caranya? Saya kan belum menguasai teknis menulis?” Mungkin itu pertanyaan umum bagi teman-teman yang mau menulis tapi bingung gimana caranya. Pak Kuntowijoyo pernah ngasih bocoran, bahwa kalo pengen jadi penulis, mulailah menulis, menulis, dan menulis. Itu artinya, ya tuliskan saja apa yang kamu mau. Tuangkan saja apa yang ada dalam benakmu. Jangan perhatikan dulu EYD dan segala macam aturan menulis. Bukankah ketika kita kecil langsung bisa bicara, padahal tidak mengetahui aturan yang baik. Bagaimana cara bicara yang baik dan sopan. Itu membuktikan jangan melihat dulu aturan yang ada dalam tataaturan teknik penulisan. Jadi, tulislah sesukamu. Tapi harap diingat, jangan asal jor-joran aja nulis. Kalo kamu udah bisa, EYD tentu diperhatikan dong. Utamanya dalam penulisan huruf kapital dan tanda baca.

Mungkin bisa dicoba dengan bikin buku harian. Di buku itu, kamu bisa menulis apapun tentang perasaan hatimu. Tumpahkan seluruhnya. Entah sedih, kecewa, senang, gembira, juga tentang cinta. Satu kalimat atau dua kalimat saja sehari. Nggak perlu banyak-banyak. Dalam setahun, jadi banyak juga kan? Continue reading


Jill: Menjadi Muslim adalah Hal Terindah dalam Perjalanan Hidup Saya

Jill | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Ia meminta dipanggil Jill saja. Menganut Islam beberapa tahun lalu, dia kini mantap menjadi Muslimah. “Insya Allah, Islam akan saya bawa sampai maut menjemput,” ujarnya. Berikut kisahnya tentang pilihannya pada Islam:

“Saat remaja, saya bekerja sampingan di sebuah restoran milik orang Palestina. Ya, pemilik itu seorang Muslim. Ini kali pertama saya, remaja kulit putih kelahiran Amerika, bersinggungan dengan Muslim. Dia shaleh. Dia memperlakukan karyawan dengan “hati”. Dia menyambut siapa saja dengan ramah, bersalamaan. Dia sangat berbeda dengan Muslim yang saya kenal.

Masuk kuliah, saya memutuskan memilih jurusan sejarah timur tengah. Di sini, saya mengenal lebih jauhtentang Islam dari perspektif sejarah. Siapa penyebar ajaran Islam, bagaimana dia, apa isi ajarannya, dan seterusnya. Hati saya makin tertawan pada Islam. Namun saat itu belum memutuskan menganut Islam.

Pada perjalanannya kemudian, saya berkenalan dengan seorang pemuda yang mengenalkan saya pada sufisme Islam. Dari pemuda yang di kemudian hari menjadi suami saya ini, saya menyimpulkan satu hal tentang Islam: agama yang logis dan knowledgeble. Satu kata yang selalu saya ingat: “Jill, islam adalah agama yang logis. Dia bukan hanya agama, tapi jalan keluar untuk hidup.” Continue reading


Salah Tafsir

Di halteu karéta api Leuwi Goong aya urang Cirebon anu keur diuk sorangan dina bangku, sigana mah keur nungguan karéta api nu ka dayeuhkeun.

Lar aya tukang nangka ngaliwat hareupeunana.

Tukang nangka : “Nangkana Mas! Nangkana Mas! “

Ngadéngé omongan tukang nangka, urang Cirebon téa diukna rada ngagésér saeutik.

Tukang nangka: “Nangkana Mas! Nangkana Mas!”

Urang Cirebon téa diukna rada ngagésér deui saeutik.

Tukang nangka: “Nangkana Mas! Nangkana Mas!”

Urang Cirebon téa diukna rada ngagésér deui saeutik.

Terus kitu kajadianana, nepi ka bangkuna ngajuralit, si urang Cirebon tijengkang nangkarak bengkang.

Si urang Cirebon ngambek, nyarékan tukang nangka laklak dasar.

Urang Cirebon : “Bujur manéh sakumaha legana hah! Ku aing dibéréan tempat diuk, masih kénéh nitah ngagésér ka aing! “.

Tukang nangka molohok teu ngarti kunaon dicarékan.[]

*Nang kana berarti ke sana (bahasa Cirebon). Ini mungkin yang dipahami urang Cirebon tersebut dan mengartikannya sebagai perintah untuk menggeser tempat duduknya. Sementara tukang nangka ini urang Sunda, sekadar menawarkan: Nangkana. Artinya, “Nangkanya Mas!” Sama seperti menawarkan yang lain: sendalna Pak, sapatuna Pak, jerukna Pak dsb.


Menulis melancarkan berbicara

Assalaamu’alaikum wr wb

www.quickblogcast.com

Bukan sulap bukan sihir. Jika diasah terus, menulis justru bisa melancarkan bicara. Bukan hanya lancar, tapi juga bisa merunut poin-poin yang perlu disampaikan secara sistematis. Saya pernah merasakan efek samping menulis tersebut. Percayalah, bukan hanya saya ternyata yang merasakan lancar berbicara di depan publik yang merupakan efek samping dari menulis. Beberapa kawan saya yang saya tahu betul sejak awal susah menyampaikan informasi lewat lisan, setelah beberapa kali secara rutin saya ajak untuk nulis, akhirnya lancar juga. Bahkan bisa mengeksplorasi kelucuan ketika dia menyampaikan secara lisan. Persis sama ketika dia menuliskannya dalam tulisan-tulisannya. Keren!

Ya, jika Anda termasuk yang susah berbicara di depan umum. Mungkin salah satu terapinya adalah berlatihlah untuk menulis. Terus menulis dan menulis terus. Suatu saat, latihan itu akan memberikan efek samping, bahwa Anda akan mulai berani bicara di depan publik. Di depan banyak orang. Atau setidaknya lancar ketika menyampaikan dalam rapat. Pada tahap awal memang Anda bisa membuat semacam poin-poin yang akan disampaikan. Nah, jika kita tidak terbiasa menulis, poin-poin agenda rapat saja akan sulit diungkapkan. Tapi jika sudah terbiasa menulis, gambaran itu dengan mudah terpetakan. Berikutnya, tentu saja ketika akan disampaikan secara lisan, kita setidaknya sudah menyerap informasi itu 50%-75%. Sehingga ketika kita benar-benar menyampaikannya di depan publik, kita sudah mampu memetakan apa yang akan dibahas. Insya Allah lancar mengalir dan bisa jadi deras.

Bagi Anda yang ingin bisa menulis, cobalah mulai dengan menuliskan hal-hal yang paling Anda sukai dan paling Anda kuasai. Saya selalu mengulang hal ini di setiap kesempatan karena manfaatnya insya Allah akan terasa sekali. Jangan putus asa pula. Jika gagal pada tulisan pertama, lakukan pada tulisan kedua, ketiga, keempat, bahkan kesepuluh dan mungkin saja keseratus. Tapi, berdasarkan pengalaman sih, tak sampai tulisan kesepeluh beberapa teman saya sudah lihai menuangkan ide lewat tulisan dan akhirnya sedikit demi sedikit berani untuk mempresentasikan tulisannya secara lisan. Awal-awal tentu masih grogi. Mencoba kedua kali mungkin masih kaku. Ketiga kali mulai sedikit cair. Umumnya, tak sampai 7 kali berbicara sudah lancar. Insya Allah asalkan setiap kali mencoba dievaluasi dan dimintakan pendapatnya kepada orang yang membimbing kita atau orang-orang di sekitar kita tentang gaya kita ketika menyampaikan presentasi. Evaluasi itu perlu, untuk mengukur tingkat keberhasilan kita dari satu percobaan ke percobaan berikutnya.

Intinya: menulislah dan terus menulis agar kita lancar, dan sangat boleh jadi juga pada akhirnya kita memiliki keahlian berbicara. Memang, tidak semua mahir dalam kedua bidang tersebut secara sekaligus sama bagusnya. Tapi setidaknya kita bisa memiliki standar yang dibutuhkan untuk bisa menyampaikan informasi dengan benar dan baik melalui tulisan maupun lisan. Tetaplah menulis!

Salam,

O. Solihin


Malu Itu Baik

Abu Mas’ud, Uqbah ibn Amr Anshari al Badri r.a. mengatakan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Perkataan (sabda) Nabi paling pertama yang dikenal atau diketahui manusia adalah, “Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah semaumu.” (HR  Bukhari, Abu Dawud, Ahmad)

Jangan salah, hadits di atas pemahamannya bukan berarti bahwa Rasulullah memberikan kebebasan yang membawa manfaat, melainkan mengancam orang yang tidak mempunyai rasa malu melakukan apa saja yang dia kehendaki dan risikonya ditanggung sendiri. Ungkapan itu seperti firman Allah Swt.: “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Fushshilat: 40)

Malu bisa mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nuraninya. Perbuatan yang akan membuatnya merasa dikejar-kejar rasa bersalah. Dengan malu pula, kita bisa mencegah diri ketika akan melakukan dosa. Secara naluri memang demikian, siapapun orangnya yang masih punya hati nurani. Dan memang hanya rasa malu yang mampu membawa kepada kebaikan.

Sabda Nabi yang mulia: “Malu hanya membawa kepada kebaikan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya rasa malu itu merupakan pagar yang paling kokoh untuk menjaga kita supaya sendi-sendinya tidak tercerabut dan bangunannya tidak hancur. Sebagai contoh., bila ada pedagang yang rakus atau tamak lantas berani menipu, lalu dia sadar dan merasa bahwa perbuatannya itu bertolak belakang dengan keimanan dan agamanya, dia pun merasa malu untuk melakukan kebiasaannya, sehingga akhirnya dia hanya ingin menjadi pedagang yang jujur, luwes, dan dapat dipercaya, maka selamatlah dia. Namun lebih parah lagi, bila ada orang yang sudah sadar bahwa dia telah melakukan perbuatan yang salah, tapi ternyata masih getol melakukannya. Benar-benar orang tersebut tidak punya rasa malu.

Tanpa kita sadari, ternyata kita sering mengabaikan sikap yang satu ini. Entah karena kita sudah merasa bahwa tak perlu punya rasa malu lagi, atau memang tak tahu malu. Pepatah baik yang disampaikan kepada kita dari siapapun sering kali kita mendiamkannya. Padahal, saat itu kita sedang melakukan perbuatan yang memalukan.

Juga jangan merasa aman-aman saja ketika kita melakukan korupsi, misalnya. Dengan alasan, bahwa orang lain pun melakukan hal yang sama. Adalah keliru kalau menganggap bahwa kejadian memalukan apabila dilakukan bersama dan saling melindungi akan selesai dan aman. Dan ternyata kita pun harus menanggung rasa malu karena sekarang ini orang lebih banyak melakukan perbuatan yang memalukan.

Tinggal satu masalahnya, diakui atau tidak, ternyata kita masih lebih malu kepada manusia dibanding malu kepada Allah. Kita akan gelagapan ketika perbuatan curang kita ketahuan orang lain. Sementara ketika kita meninggalkan aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya, kita cuek saja tanpa punya rasa bersalah dan malu untuk tidak melakukannya lagi.

Sabda Rasul saw.:“Allah SWT. itu lebih berhak untuk dimalui daripada manusia (harus lebih malu oleh Allah daripada oleh manusia).” (H.R. Ashabu Sunan)

Salam,

O. Solihin


Nostalgia Ketika SMP

Assalaamu’alaikum wr wb

Meski nggak banyak kenangan, tapi ada beberapa peristiwa yang menurut saya perlu saya kenang :-) . Nih, beberapa di antaranya:

  • Tahun 1986, saya diterima di SMPN Cidahu (sekarang SMPN 1 Cidahu),  Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Saya terdaftar sebagai penghuni kelas 1 F. Hihihi… ini kelas keliling euy. Maklum nggak punya kelas tetap jadinya nebeng sana nebeng sini. Kejadian lucunya adalah kami sering dicurigai oleh penduduk kelas lain. Abisnya kalo ada kehilangan apa-apa, yang pertama kali ditanya adalah anak-anak kelas 1 F. Ya, menderita banget. Tapi, di tengah penderitaan itu, saya bertemu dengan orang-orang istimewa. Cieee…
  • Ada temen saya yang saya kerjain tapi kemudian jadi teman akrab, abisnya doi salah masang emblem OSIS. Masangnya kebalik, jadinya SISO. Saya kerjain dia ngambek karena kesalahannya diketahui teman lain dan ditertawakan. Terus ada temen yang nyeletuk tentang akronim OSIS, dia plesetkan jadi: Orang Sinting Ikut Sekolah! Hahahah… **saya ikut berduka karena teman akrab saya tersebut meninggal dunia pada kelas 2 SMA (tahun 1990). Saya mendapat kabar itu melalui surat yang ditulis adik saya di kampung halaman. Saya sendiri waktu itu sudah sekolah di Bogor.
  • Pas naik kelas dua, ternyata ‘kutukan’ jadi kelas keliling belum lepas. Saya ditaro di Kelas 2 F lagi. Aduh! Nasib-nasib..
  • Kenangan agak buruk. Tapi saya perlu mengenang supaya nggak terulang. Kelas 2 SMP saya berantem dengan teman saya. Babak belur dua-duanya. Kacau bener!
  • Desember 1988. Kelas 3 SMP. Ortu saya cerai! Hiks… Ini masa-masa hidup saya yang sangat berat. Berat banget.. karena saya dan adik-adik nggak nyangka dan waktu itu belum siap menghadapi kenyataan ortu cerai. Tapi ada guru sekaligus wali kelas saya yang membesarkan hati saya. Beliau memberikan perhatian dan nasihat, hingga akhirnya saya bisa bangkit kembali secara psikis, meskipun prestasi sekolah saya jeblok, di kelas turun jadi rangking 7. Halah!
  • Setelah lulus SMP, tahun 1989 saya diterima di SMAKBo (Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor). Saya hijrah meninggalkan kampung halaman. Sempat tinggal bersama saudara tetapi kemudian kost dekat sekolah.

Ini aja deh kayaknya, sekadar buat mengenang aja. Semoga menjadi inspirasi bagi temen-temen yang baca. Terima kasih alias hatur nuhun. Oya, bagi temen-temen yang seangkatan dengan saya, kalo kebetulan baca blog ini, boleh dong kirim-kirim e-mail ke saya. Ditunggu ya.. :-)

Salam,

O. Solihin


Menulis Berita, Gimana Sih?

Anda mau jadi wartawan? Hmm… siap-siaplah melaporkan suatu peristiwa dalam sebuah tulisan. Nah, berita yang baik dan efektif adalah irit dalam gerak. Nggak bertele-tele. Juga tangkas dalam kejutan. Udah gitu, simple dan elok lagi. Itu sebabnya, kalo Anda baca tulisan-tulisan bernuansa berita enak banget dibacanya. Kita langsung nyambung dengan apa yang diinginkan si penulis berita. Cepat alurnya. Beda banget dengan tulisan fiksi yang, memang kelihatannya, harus memainkan kata-kata dengan bertabur kiasan dan pilihan kata yang membuat pembacanya larut dalam nuansa sastra.

Oke deh, saya kasih tip sedikit tentang menulis berita. Ini saya buat sesuai dengan teori yang selama ini saya ketahui dan praktik yang memang telah saya lakukan. Sudah mantap pengen jadi wartawan? Bagus! Tapi jangan salah, Anda harus punya ‘pegangan’ supaya tulisan beritamu oke punya. Paling nggak Anda mengetahui beberapa hal, di antaranya:

  1. Informasi. Yup, informasi, bukan bahasa. Informasi adalah batu-bata penyusun berita yang yang efektif. Tanpa informasi, jangan harap Anda bisa menulis berita itu dengan baik. Jangankan nggak punya informasi, informasinya nggak lengkap saja bakalan kewalahan bikin beritanya. Pokoknya, ada yang ganjal saja, karena tulisan jadi kurang menggigit. “Prosa adalah arsitektur, bukan dekorasi interior,” kata Ernest Hemingway. Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 874 other followers