Arsip Bulanan: Juni 2011

Awas! Terjebak Kebebasan

gaulislam edisi 192/tahun ke-4 (25 Rajab 1432 H/ 27 Juni 2011)

Sejak kecil saya belum merasakan kebebasan yang bebas banget. Selalu ada pagar yang membatasi setiap apa yang akan saya lakukan. Saya memang diberikan kebebasan untuk memilih melakukan sesuatu. Tetapi seringkali ibu saya menyertakannya dengan aturan atau batasan. Sebagai anak kecil waktu itu, saya merasa senang banget ketika ibu saya memberikan kesempatan saya bermain. Tetapi, yang kadang ‘nyebelin’ adalah saya boleh bebas bermain namun dengan syarat: tidak boleh nakalin temen, tidak boleh masuk ke rumah teman tanpa ijinnya, tidak boleh masuk ke kamar orang tua teman, tidak boleh terlalu lama, waktu shalat ashar harus pulang. Waduh, di balik rasa senang bisa bebas bermain ternyata saya dibatasi aturan. Awalnya saya merasa hal itu bikin bete, tetapi lama kelamaan saya menikmatinya.

Di lain waktu, saya masih inget gimana marahnya ibu saya ketika saya mangkir ikut pengajian di mushola kampung. Mushola milik Kyai Haji Mukhsin (almarhum). Sapu lidi dalam genggaman ibu siap dipukulkan ke kaki saya jika saya tetap menolak berangkat ke mushola. Saya takut campur kesal. Sebabnya, saya juga masih ingin menikmati kebebasan bermain. Apalagi jika main ba’da ashar dengan kawan lagi asik-asiknya. Tetapi saya mengalah. Saya memilih untuk menuruti perintah ibu saya. Berangkatlah saya mengaji bersama kawan dan paman saya yang waktu itu masih remaja. Ternyata di kemudian hari, saya malah jadi terbiasa untuk berangkat ke mushola belajar ngaji.

Subhanallah. Aturan yang membatasi kebebasan saya sebagai anak kecil waktu itu, berdampak positif. Kelas 2 SD saya alhamdulillah sudah bisa membaca al-Quran dengan lancar. Bahkan ketika kelas 5 SD, seingat saya memang sebelum SMP, saya sudah belajar kitab Tanqihul Qaul—judul lengkapnya Tanqihul Qaul al-Hadits fii Syarhi Lubaabil Hadits karya Muhammad bin Umar an-Nawawi. Kitab Tanqihul Qaul merupakan syarah dari kitab Lubaabil Hadits yang ditulis oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Kitab ini membahas berbagai amalan fardhu dan sunnah, baik yang menyangkut ibadah maupun amalan utama dan adab yang harus dikerjakan oleh setiap mukmin. Bahasa Arab lho, tapi ada terjemahannya dalam bahasa Sunda dengan tulisan Arab. Selain itu, hurufnya juga Arab ‘gundul’. Saya dan kawan-kawan (sebagian besar waktu itu ada yang sudah SMP) dibimbing langsung oleh guru ngaji kharismatik, Kyai Haji Mukhsin. Semoga Allah Swt merahmati beliau.

Bro en Sis, buah dari ketataan dan kepatutan kepada orang tua dalam melaksanakan kewajiban agama insya Allah adalah kebaikan. Buah yang hanya bisa dipetik ketika kita melaksanakan perintah dan aturan tersebut. Saya bangga kepada ibu saya yang ‘kaku’ saat mengajarkan saya. Tetapi alhamdulillah kekakuan itu berbuah manfaat dan kebahagiaan bagi saya di kemudian hari. Sampai saat ini masih membekas kuat dalam ingatan saya bagaimana saya didorong untuk semangat belajar di sekolah, terlebih ilmu agama. Continue reading


Kesulitan Menulis Nonfiksi? Saya siap membantu Anda!

Assalaamu’alaikum wr wb

Ilustrasi | Foto: people-communicating.com

Bagi teman-teman yang berminat mengasah kemampuannya tentang menulis NONFIKSI, kini dibuka Kelas Baru (angkatan 9):

Kursus Menulis Online, Kelas NONFIKSI

untuk bulan Agustus – September 2011

  1. Pelatihan selama 2 bulan (selama bulan Agustus-September 2011).
  2. Mendapatkan 8 modul khusus dan 2 modul bonus [Menggagas Ide; Menggarap Tema; Membuat Tulisan yang Segar; Menulis Feature; Mengenal Jurnalistik; Mengatasi Deadlock ketika Menulis; Lead untuk Tulisan Feature; Menulis Biografi]
  3. Conference/Tutorial Online menggunakan Yahoo! Messenger selama 8 kali (1 kali semingu). Jam 20.00 – 22.00 WIB. Untuk harinya, kami sediakan hari Selasa ATAU Jumat. Pilih salah satu.Untuk keperluan ini, Anda harus memiliki ID di Yahoo! Messenger.
  4. Mengerjakan Tugas Penulisan 6 kali selama pelatihan (untuk masing-masing peserta) dan akan dinilai oleh mentor.
  5. Ruang Belajar Online khusus dengan menggunakan website e-learning “Moodle”. Untuk keperluan ini Anda harus memiliki e-mail untuk didaftarkan ke sistem kami, untuk memproses pendaftaran dan komunikasi dengan mentor. Di ruang kelas ini, Anda bisa mendownload modul; mengambil, mengerjakan, dan mengirim tugas-tugas yang telah diberikan mentor; mendownload hasil rekap tutorial/conference online jika kebetulan Anda pada saat jadwal tutorial berhalangan hadir; mengetahui jadwal dan info lainnya.
  6. Berhak menjadi kontributor di website [Menulis Kreatif], sehingga memungkinkan tetap mempublikasikann karya-karya di dunia maya. Itu artinya karya Anda akan dibaca langsung dan dinilai oleh pembaca.
  7. Dibimbing langsung oleh O. Solihin, penulis buku-buku remaja dan owner Website [Menulis Kreatif].
  8. Berhak mendapat buku “Menjadi Penulis Hebat” (atau buku lainnya) secara gratis yang akan dikirim ke alamat Anda.

Anda HANYA membayar biaya kursus ini, Rp 450.000 (empat ratus lima puluh ribu rupiah) saja! [untuk 2 bulan masa belajar]

Pendaftaran dibuka mulai 22 Juni– 31 Juli 2011

STOP PRESS!

1. Pendaftaran (dan pembayaran secara LUNAS) pada tanggal 22 Juni – 14 Juli 2011, biaya kursus Rp 400.000 (hemat Rp 50.000)

2. Pendaftaran (dan pembayaran secara LUNAS) tanggal 15-25 Juli 2011, biaya kursus Rp 425.000 (hemat Rp 25.000)

3. Pendaftaran (dan pembayaran secara LUNAS) tanggal 26-31 Juli 2011, harga tetap (tidak ada diskon), yakni Rp 450.000

Biaya itu adalah untuk belajar selama 2 bulan, periode Agustus – September 2011.

Bagi yang berminat mendaftar, silakan LANGSUNG KUNJUNGI WEBSITE MENULISKREATIF (klik link berwarna biru dan tulisa huruf kapital semua tersebut)

Salam,

O. Solihin


Nuh HA Mim Keller Tertarik pada Islam karena Lebih Utuh dan Sempurna

Nuh Ha Mim Keller | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO – Nuh Ha Mim Keller masyhur sebagai seorang pakar hukum Islam. Bahkan, ia ditabalkan menjadi seorang teolog dan pakar tasawuf terkemuka di Barat. Keller pun menerjemahkan sederet kitab ke dalam bahasa Inggris. Di balik semua pencapaiannya itu, siapa sangka, ia adalah seorang penganut Katholik Roma yang kemudian memeluk Islam.

Keller terlahir pada 1954 di Northwestern, Amerika Serikat (AS). Ia lalu mengambil studi filsafat dan bahasa Arab di Universitas Chicago dan Universitas California, Los Angeles. Ia mengaku dibesarkan di sebuah daerah pertanian dalam keluarga yang taat menganut Katholik Roma.

“Sejak kecil, gereja memberikan alam spiritual yang tak terbantah, yang lebih riil daripada alam fisik yang berada di sekelilingku. Akan tetapi, aku tumbuh dewasa, hubunganku dengan agama itu sertamerta menimbulkan persoalan, dalam akidah ataupun amal,“ ujarnya sepeti dikutip dalam buku Bulan Sabit di Atas Patung Liberty.

Sejak kecil, ia mencoba membaca Alkitab. Namun, saat membacanya, ia menilai kitab suci itu bertele-tele dan tak memiliki susunan koheren. “Sehingga menyulitkan orang yang ingin menjadikannya sebagai pedoman hidup,“ tutur Keller. Pandangannya tentang agama yang diwariskan orang tuanya itu semakin terbuka ketika dia mulai masuk kuliah.

“Ketika aku masuk ke universitas, aku tahu bahwa keaslian kitab suci itu, khususnya Perjanjian Baru, benar-benar meragukan dan merupakan produk kajian hermeneutik modern kaum Kristen sendiri,“ ungkapnya. Rasa penasaran tehadap kebenaran agama yang dianutnya sangat tinggi. Ia lalu membaca terjemahan Norman Perrin atas The Problem of the Historical Jesus karya Joachim Jeremias, salah seorang ahli Perjanjian Baru ternama abad ini. Hal itu dilakukannya agar bisa memahami teologi kontemporer. Continue reading


“Benang Kusut TKI”

Assalaamu’alaikum wr wb

Ruyati adalah salah seorang TKI yang menjadi korban kesekian di negeri orang. Ruyati dieksekusi mati setelah pengadilan Arab Saudi menjatuhkan vonis berdasarkan bukti bahwa Ruyati melakukan pembunuhan terhadap majikannya. Adilkah hukum tersebut? Sepertinya tidak adil. Sebabnya, berdasarkan kabar yang beredar bahwa Ruyati membunuh majikannya sebagai balasan karena ia sering dianiaya korban. Itu artinya, seharusnya ada hukuman terlebih dahulu bagi sang majikan yang telah menganiaya Ruyati. Perlu ada syarat-syarat khusus sebelum hukuman qishas dijatuhkan.

Baiklah, dalam postingan berisi celotehan ringan dan singkat ini saya tidak hendak masuk dalam polemik tak berkesudahan. Sebabnya, masalah seperti ini sudah berlangsung sejak lama dan Ruyati bukan satu-satunya korban. Sejak ekspor TKI diberlakukan oleh pemerintah, masalah perlindungan terhadap TKI yang tersandung masalah hukum di negara tempat mereka bekerja ternyata cukup lemah. Kadang malah terlihat saling lempar tanggung jawab antara pemerintah, perusahaan pengirim TKI, juga para calo yang mengeruk keuntungan dari pengiriman TKI ilegal ke sebuah negara.

Selain itu, ketika pemerintah mengekspor produk, termasuk dalam hal ini TKI, sejatinya sudah siap dengan segala risiko. Perbedaan budaya dan perbedaan pelaksanaan hukum antar negara akan memberikan peluang gesekan yang bahkan amat keras. Ya, sederhana saja. Jangankan antar negara, antar tetangga saja jika kita melakukan interaksi, apalagi kerjasama bisnis pasti akan muncul problem ketika salah satu pihak melanggar perjanjian atau tersandung kasus hukum. Memang, problem itu ada yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan, tetapi banyak juga yang pada akhirnya menempuh jalur hukum. Jika kasus antar tetangga masih mungkin bisa diselesaikan secara kekeluargaan, maka kasus di sebuah negara tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyelesaikannya.

Proteskah kita atas kebijakan hukum di negara orang lain? Silakan. Tetapi kita juga harus mengukur diri untuk tidak menyeret masalah ini ke ranah lain, misalnya menghubungkan Arab Saudi dengan Islam dan hukuman pancung identik dengan syariat Islam (apalagi sembari diberikan label “kejam”). Menurut  saya tidak perlu diseret terlalu jauh. Sebab, akan kian menjauhkan dari persoalan utamanya, yakni buruknya pengelolaan dan perlindungan TKI atau malah salahnya kebijakan pemerintah dalam pengiriman TKI ke luar negeri. Continue reading


[file] Jadwal Terbaru KRL Jabodetabek, Mulai 2 Juli 2011

Assalaamu’alaikum wr wb

Bagi teman-teman yang membutuhkan jadwal terbaru KRL Jabodetabek yang diberlakukan mulai 2 Juli 2011, silakan donwload saja gambar di bawah ini ya:

* Semua KRL berhenti di setiap stasiun.

Salam,

O. Solihin


Muslim Power

gaulislam edisi 191/tahun ke-4 (18 Rajab 1432 H/ 20 Juni 2011)

Kokohnya sebuah bangunan tidak terlepas dari kokohnya pondasi, struktur dan bahan yag digunakan untuk membuat bangunan tersebut. Kita sering menjumpai kondisi dimana kaum muslim begitu lemahnya di negeri kita. Sering Islam direduksi hanya kepada masalah ibadah, pendidikan dan amaliyah pribadi saja. Begitu kita ngomongin Islam dalam konteks masyarakat dan pengaturannya, tidak banyak yang bisa kita temui di negara kita. Paling masalah pengurusan ZIS (zakat, infaq, sadaqoh) itu-pun banyak overlap dengan pemerintah, ekonomi syariah yang belum berpayung kepada hukum syariah dan beberapa urusan lainnya.

Sebelum kita bahas lebih mendalam, Rasulullah saw. bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad, al-Baihaqi, Abu Dawud, No. 3745)

Bro en Sis, pelajaran yang bisa kita ambil dari hadist di atas adalah suatu peringatan terhadap kondisi jaman, dimana syariat Islam itu sendiri kuat namun para pemeluknya lemah. Dalam hadist di atas dijelaskan apa yang akan terjadi dan dijelaskan pula penyebab utamanya. Hal ini dimaksudkan supaya umat Islam mengerti dan bisa bersiap diri untuk menghadapinya.

Bila kita lihat kondisi masyarakat kita saat ini, hadist di atas terasa sangat mengena, kita berada di negara yang jumlah muslimnya cukup banyak bahkan terbesar di dunia, namun kualitasnya masih rendah. Maksiat kita temukan dimana-mana, amar ma’ruf dan nahi mungkar ditinggalkan dan bahkan ditentang.

Jika diibaratkan sebuah bangunan, maka untuk menghancurkan bangunan yang kokoh, diperlukan usaha yang kuat dan tersruktur. Ya, akan sangat susah untuk menghancurkan bangunan yang kokoh bila dimulai dari menghancurkan pondasinya terlebih dahulu. Musuh-musuh Islam sangat memahami mengenai hal ini, karena itulah mereka memulai menghancurkan Islam dari atap yang menaunginya. Continue reading


Mengapa banyak orang merasa berat dalam menulis?

Assalaamu’alaikum wr wb

Banyak orang merasa berat untuk memulai menulis. Tak sedikit dari mereka pada akhirnya memilih tidak menulis sama sekali. Sebagian kecil memilih meneruskan menulis meski ‘babak belur’ berjibaku melawan hambatan-hambatan menulis. Itu pun ada yang sukses melepas belenggu yang menghambatnya, namun tak sedikit yang menyerah di detik-detik menjelang akhir pertarungan. Melihat kenyataan ini, saya kadang bertanya: begitu beratkah menulis?

Saya memilih jawaban: tidak berat. Yang membuat berat adalah karena kita menganggapnya berat. Sulitkah menulis? Jawaban saya: tidak sulit. Yang membuat sulit adalah karena kita menganggapnya sulit. Jika pikiran dan perasaan kita sudah dipenuhi dengan kata berat dan sulit, maka yang hadir adalah BEBAN. Berbeda halnya ketika kita menganggapnya ringan dan mudah, insya Allah kita akan berusaha untuk membuktikannya dan sekuat tenaga mengupayakannya agar berhasil.

Saya alhamdulillah menjadi salah seorang dari sekian ribu orang yang berhasil menyingkirkan anggapan negatif yang sebelumnya sempat memenjara pikiran dan perasaan saya untuk menulis. Itu artinya, menulis lebih didominasi oleh faktor mental. Bukan hanya pada tahap awal memulai belajar menulis, tetapi juga pada saat sudah bisa menulis. Buktinya, banyak orang yang memulai ingin menulis sering merasa gagal ketika tulisannya tidak enak dibaca, ketika ia kesulitan memilih kata yang bagus, ketika ia hampir mustahil menciptakan rangkaian kata yang indah, ketika ia begitu berat memutuskan memilih tema yang hendak dibahas. Ujungnya? Malas menjadi alasan atas ketidakberdayaannya.

Bagaimana dengan yang sudah bisa menulis? Tetap saja banyak yang merasakan berat untuk menulis. Meski banyak ide berseliweran di kepala, walaupun tak sedikit tema yang sudah ia siapkan, bahkan data pun sudah dipilih mana saja yang akan menjadi penguat argumentasi dalam tulisan, tetapi ternyata hanya berhenti di situ.Tidak dituliskan. Alasannya, kesulitan mendapatkan inspirasi dan momen yang tepat untuk memulai menuliskannya. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka tidak heran jika pada akhirnya ia juga, yang sudah bisa menulis, akan terjebak dalam pikiran dan perasaan yang menganggapnya menulis ternyata berat dan sulit. Ini sekaligus membuktikan bahwa menulis tak selalu harus kuat kemampuannya (baca: keahliannya), karena yang terpenting adalah dahsyatnya KEMAUAN. Why? Continue reading


Tidak Kutemukan Tuhan di Dalam Musik

Foto dari: www.hidayatullah.com

NAMAKU Ricky. Aku lahir di Jakarta tahun 1981 lalu. Sejak setelah di baptis namaku berubah menjadi Erick Median. Itulah nama baptisku. Ayah dan ibuku asli Batak. Ibu bermarga Sihombing dan ayahku Hutabarat. Keduanya adalah penganut Kristen yang taat.

Aku terlahir dari keluarga yang taat beragama. Walaupun ayahku kadang suka bergaya hidup bebas. Sedangkan keluarga dari ibu kebanyakan adalah aktivis gereja dan pendeta. Sejak kecil aku sudah dikenalkan dengan Tuhan Yesus. Ibukulah yang banyak memberikan pendidikan agama padaku.

Namun sejak kecil ibu sudah meninggalkanku. Ia wafat dalam keadaan masih memeluk agama Kristen. Sebelum meninggal, ibu sempat masuk ke rumah sakit jiwa beberapa hari. Ibu terserang penakit paru paru basah dan komplikasi. Ibu pun meninggal. Peristiwa menyedihkan itu terjadi di tahun 1985.

Sepeninggal ibu, ayahku menikah lagi. Sebetulnya, istri ayahku yang kedua ini adalah seorang muslimah. Tapi berkat bujuk rayu dan tekanan ayahku yang Kristen fanatik walaupun jarang ibadah, ibu tiriku yang muslimah itu pun masuk ke agama yang kami anut. Pernikahan mereka pun sebenarnya tidak direstui oleh orang tua sang mempelai wanita. Akhirnya mereka kawin lari.

Musibah kembali menimpa keluarga kami. Tak lama, ayahku menyusul meninggal karena sakit. Aku sempat kalut dan stress berkepanjangan. Aku tidak tahu harus bagaimana waktu itu. Akhirnya, oleh keluarga dari pihak ibu kandung, aku dibawa pulang ke Medan. Di sana aku dan saudara saudaraku tinggal di rumah nenek dan diasuh olehnya.

Tidak berapa lama di Medan, aku kembali lagi ke Jakarta. Aku ikut dengan ibu tiriku yang dinikahi ayahku itu. Di kota metropolitan inilah aku berada pada titik kehidupan yang menggila. Di sini pula aku mulai mengenal pacaran dan pergaulan bebas. Tapi saya tidak merokok dan juga minum-minum. Entah, aku sangat benci dengan asap. Continue reading


[file] O. Solihin on Media Watch and Cafe gaulislam

Assalaamu’alaikumwr wb

Saat ini disiarkan di 260 radio seluruh Indonesia | www.mediaislamnet.com

Bagi teman-teman yang ingin mengoleksi dan mendengarkan talkshow saya dan kru gaulislam di Majalah Udara Voice of Islam, silakan bisa mendownloadnya sesuai tema di bawah ini:

1. MEDIA WATCH: Youtube dan Kreativitas [unduh di sini]

2. MEDIA WATCH: Film “?” dalam Perspektif Komunikasi Massa [unduh di sini]

3. MEDIA WATCH: Cenat-Cenut Demam Korean Wave [unduh di sini]

4. MEDIA WATCH: Terorisme di Media Massa [unduh di sini]

5. Cafe gaulislam: Kerudung Dusta [unduh di sini]

6. Cafe gaulislam: Kerenkan Dirimu [unduh di sini]

7. Cafe gaulislam: Jawab SMS dari pendengar [unduh di sini]

8. Cafe gaulislam: Jawab SMS dari pendengar [unduh di sini]

9. Cafe gaulislam: Bukan Islam KTP [unduh di sini]

10. Cafe gaulislam: Jawab Email dari pendengar [unduh di sini]

11. Cafe gaulislam: Jawab Email dari pendengar [unduh di sini]

12. Cafe gaulislam: Dilarang Percaya Paranormal [unduh di sini]

13. MEDIA WATCH: Mubaligh Layar Kaca [unduh di sini]

Semoga bermanfaat

salam,

O. Solihin


Hidup Mulia Bersama Islam

gaulislam edisi 190/tahun ke-4 (11 Rajab 1432 H/ 13 Juni 2011)

Apa yang terbayang di benak kamu begitu disodorin kata ‘pedalaman’? Kalo gue sih kebayangnya: Suatu wilayah yang jauh dari kecanggihan teknologi, jauh dari kesejahteraan, dan para penduduknya yang–maaf- masih udik dan primitif, berpakaian pun ala kadarnya. Ada yang rumahnya di pesisir pantai, juga di tengah hutan.

Waduh, kita yang terbiasa belanja di minimarket, nongkrongin angkringan gorengan atau warteg, apalagi yang demen maennya di mal pastinya bakal bingung kalo terdampar di pedalaman kayak gitu. Pastilah bingung karena terbiasa dengan kemudahan fasilitas yang ada di kota. Nah kalo di pedalaman kadang sinyal hp pun ‘kejap ade, kejap tak ade’ (maksudnya timbul tenggelam gitu) bahkan ada yang tenggelam sama sekali! Jangankan mau online, sms-an aja kudu ke kota dulu kali. Lah emang ada listri? Haduh, help help S.O.S deh!

Tragis!

Kalo mikir nasib kita yang terdampar di pedalaman sih nggak abis-abis, Bro n Sis! Tapi coba deh pikirin gimana dengan sodara-sodara kita yang tersebar di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua? *mikir mode on*.  Sudahlah mereka tinggal di pedalaman, tapi apakah mereka udah dipenuhi kesejahteraannya oleh yang mimpin nih negara? Mereka bertahan dengan ‘pakaian adat’ yang alakadarnya dan ini dipertahankan buat melestarikan kebudayaan juga ningkatin pendapatan negara dalam hal pariwisata.

Selain itu, yang pasti, mereka juga masih bernaung di rumah-rumah adat mereka yang belum tentu memenuhi kriteria rumah sehat. Dalam hal pendidikan juga masih banyak masyarakat pedalaman yang belum mengenyamnya.  Padahal, kalo pemerintah meningkatkan fasilitas untuk guru-guru yang ditugaskan mengajar di pedalaman, termasuk fasilitas pendidikan untuk masyarakat pedalaman ditingkatkan, niscaya para guru bisa betah dan masyarakat pedalaman juga nggak ketinggalan informasi dan bisa belajar sebagaimana saudara-saudaranya di perkotaan. Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 874 other followers