Arsip Bulanan: Juli 2011

Iman dan Istiqomah

Assalaamu’alaikum wr wb

“Dari Abi Amr, dinamakan juga Amrah bin Sufyan bin Abdillah r.a. ia berkata: Saya telah berkata kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, katakan kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang saya tidak akan bertanya tentang itu kepada orang lain, selaian Engkau!” maka beliau saw bersabda: “Katakanlah, saya beriman kepada Allah; dan istiqomahlah (konsisten).” (HR Muslim)

Istiqomah berarti berpegang kepada agama dengan kuat, berjalan di atas jalan sesuai petunjuk Allah dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan. Firman Allah: “Maka istiqomahlah (tetaplah pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu.” (QS Hûd [11]: 112)

Dalam al-Quran kata iman selalu dirangkai dengan amal sholeh, ini membuktikan bahwa keimanan bukan sekadar ucapan belaka yang tak pernah ada realisasinya dalam kehidupan. Konsekuensi logis dari ucapan keyakinan itu adalah melakukan perbuatan benar dan baik, sesuai dengan penilaian dalam aturan dari Allah Swt. Dengan begitu, tak bisa distandarkan kepada hati atau akal manusia. Amal sholeh yang kita lakukan adalah sebagai perwujudan dari keimanan kita kepada Allah Swt. Di sinilah kemudian kita membutuhkan sikap istiqomah. Dan sesuai dengan pengertiannya, istiqomah ini adalah sikap tegas dan senantiasa bertanggungjawab atas tindakan yang kita lakukan.

Adakalanya sikap istiqomah ini harus berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan  terburuk yang bakal menimpa kita. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, cemoohan kerap melekat kepada orang yang berani tampil istiqomah dalam agamanya, justru di saat masyarakatnya terbiasa berbuat maksiat. Bahkan sangat ditekankan untuk tetap berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Islam dalam masyarakat yang begitu berani berbuat dosa, yakni melakukan pembangkangan terhadap perintah-perintah Allah dan RasulNya.

Firman Allah: “Jangan kalian takut (khawatir) dan janganlah resah (sedih) dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.” (QS Fushshilat [41]: 30). Itulah janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beristiqomah dalam melaksanakan segala perintah Allah Swt. dan RasulNya. Wallahu ‘alam bishowab

Salam,

O. Solihin


Tragedi Ramadhan Fair

O. Solihin

Seperti tahun kemarin, Ogi selalu kebagian ikutan heboh wara-wiri jadi panitia kegiatan Ramadhan di sekolahnya tahun ini. Segala macem disiapkan. Pokoknya sibuk. Tapi bukan berarti Ogi ditempatkan di bagian ADM lho, alias angkat, dorong, manggul. Hih, itu sih kebangetan aja ketua panitianya kalo anak seganteng Ogi kudu dipajang di bagian itu. Harusnya kan di bagian jagain sendal dan ngecengin beduk. Hi..hi..hi..

Oya, Ogi kebetulan jadi seksi acara. Termasuk bagian yang penting di kepanitiaan. Jadi kalo acaranya jeblok maka yang pertama kali ditunjuk hidung adalah seksi acara. Itu sebabnya Ogi ketar-ketir banget menghadapi ajang Ramadhan Fair di sekolahnya tahun ini. Selain ditempatkan di pos yang rawan, Ogi malah jadi ketuanya. Coba, siapa yang nggak resah dan gelisah. Apalagi di situ bercokol Jamil. Anak yang penyakit sablengnya kumat kalo pas gabung sama Ogi. Waduh!

Sebetulnya Ogi udah melayangkan pukulan, eh, protes sama ketua panitia, tapi nggak ditanggepin. Alasannya, Ogi dan Jamil cocok kalo digabungin dalam satu bagian. Bisa saling melengkapi. Paling nggak itu alasan Arya, sang ketua panitia, yang juga kakak kelasnya.

“Hah, apa panitia nggak salah milih neh?” protesnya suatu saat.5

“Nggak, kamu memang tandemnya Jamil. Dalam segala hal,” Arya meyakinkan.

Ogi ngangkat bahu tanda bingung harus bicara apa lagi. Udah kebayang gimana tingkahnya Jamil kalo kudu barengan sama dirinya. Mending kalo acaranya ringan. Jadi bisa nyantai. Lha, ini kan acara serius. Apalagi pas penutupan ngundang para pembicara kondang segala. Kalo gagal? Continue reading


Berhasil Atasi Prasangka Buruk, Richard Beuchamp Total Menerima Islam

ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Richard Beauchamp duduk di area parkir memandng para Muslim keluar Masuk. Ia tak pernah sekalipun memasuki masjid dan ia gugup

Begitu berhasil mengumpulkan keberanian untuk masuk, ia disambut hangat. Lelaki itu mengaku dibesarkan dalam tradisi Baptis, namun ia sangat tertarik Islam.

“Mereka luar biasa baik,” ujar Beauchamp, 36 tahun, warga asal Irving. “Mudah sekali untuk kembali datang ke sana,” tuturnya.

Pada kunjungan berikut bertepatan dengan pelaksanaan shalat Jumat. Beuchamp tidak tahu sama sekali cara Muslim beribadah. Ia pun hanya duduk dan melihat. Hampir semua pria berdiri di lantai. “Kursi hanya digunakan untuk orang tua yang tak sanggup berdiri.” ungkapnya. “Saat itu saya larut dalam doa sehingga hampir tidak memperhatikan sekitar.”

Apa yang membuat ia tertarik kepada Islam. Rupanya saat usia muda, Beuchamp sudah kecewa dengan Kristen. Ia tidak memahami bagaimana Kristiani meyakini satu Tuhan dan Trinitas sekaligus bersamaan.

Perjalanannya menuju Islam adalah pencarian seorang diri, sesuatu yang umum terjadi pada warga Amerika yang beralih ke Muslim. Ia menemukan Islam lewat buku bahkan sebelum bertemu dan menjalin hubungan dengan seorang Muslim.

Dalam kunjungan rutin ke masjid selama satu tahun, ia meyakini telah menemukan rumah spritual di dalam Islam. Namun Beuchamp menyadari menjadi Muslim berarti mengubah total seluruh gaya hidupnya. Continue reading


Seputar Terjemahan

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum. Maaf! saya ingin menanyakan: 1) Terjemahan berita atau buku itu masuk kategori mana? 2) Bagaimana terjemahan yang baik dan bagus sesuai dengan karakter berita atau buku yang diterjemahkan? Sekian terima kasih. Wassalam.

Abu Abdullah

Jawaban:

‘alaikumussalam wr wb.

Terima kasih sudah berkirim e-mail. Berikut jawaban saya:

  1. Terjemahan berita termasuk kategori nonfiksi. Karena berita bukan fiksi. Mengenai buku terjemahan, menurut saya harus dilihat terlebih dahulu isi bukunya. Jika isinya adalah terjemahan cerpen atau novel berarti masuk kategori fiksi. Tapi jika isi bukunya adalah berupa berita, feature atau esai, berarti masuk kategori tulisan nonfiksi.
  2. Menurut saya terjemahan yang bagus adalah sesuai dengan apa yang ditulis dari naskah/tulisan aslinya. Bukan interpretasi dari penerjemahnya. Karena besar kemungkinan akan mengaburkan maksud si penulis aslinya. Jadi, terjemahannya adalah sesuai isi dalam bahasa aslinya. Namun, agar rasa bahasanya terasa kuat, maka pilihan kata dan istilah yang digunakan harus pas. Itu sebabnya, penting sekali bagi penerjemah naskah menguasai bahasa (dan budaya) dari bahasa yang akan diterjemahkan. Misalnya, menerjemahkan dari bahasa Inggris, alangkah bagusnya jika si penerjemah menguasai bahasa Inggris dengan baik dan mengerti istilah-istilah yang digunakan (dan itu berarti harus menguasai budaya setempat). Sebab, jika tidak mengetahui istilah atau kebiasaan masyarakat setempat, maka ketika menerjemahkan akan terasa rancu atau malah tidak enak dibaca. Sehingga rasa bahasa atau nilai dari naskah itu menjadi kurang bagus.

Semoga bermanfaat.

Salam,

O. Solihin


Bingung Lomba Nonfiksi

Pertanyaan:

Saya kadang bingung mengenai lomba nonfiksi. Ada yang essai ilmiah tapi juga karya tulis ilmiah. Yang menjadi rancu kadang jenis lomba karya tulis ilmiah: lomba A mensyaratkan model essay tapi lomba B tidak dicantumkan. Sehingga apakah dengan standardisasi karya tulis ilmiah seperti model skripsi atau bagaimana?

Pengirim: A. Qahar Mudzakkir

Jawaban:
Dik Qahar, terima kasih sudah mempercayakan bertanya kepada saya. Semoga jawaban saya bisa mencerahkan dan memberikan solusi terbaik untuk Dik Qahar.

Mengenai lomba penulisan nonfiksi yang di dalamnya mensyaratkan tulisan harus dibuat dalam bentuk esai atau karya tulis ilmiah, memang itu bergantung kepada tujuan dan target yang ingin diraih dari panitia penyelenggara lomba. Jadi bisa berbeda-beda tiap perlombaan. Tentang esai dan karya tulis ilmiah memang ada perbedaan. Bukan saja dari istilah tapi juga definisinya. Esai adalah karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Esainya bisa berupa opini atau artikel populer di media massa dan bisa dibaca dengan mudah oleh kalangan manapun.

Sementara karya tulis ilmiah, penulisannya sangat boleh jadi seperti menulis skripsi atau penelitian. Sebab, karya tulis ilmiah memang ditulis berdasarkan pengamatan, pengujian, dan analisis dari apa yang kita teliti. Sehingga karya jenis ini pembacanya pun terbatas dan tertentu. Mengingat banyak istilah dan data teknis yang belum tentu dimengerti dan dipahami dengan cepat dan mudah oleh kalangan awam. Continue reading


Tak Putus Dicekik Konflik

gaulislam edisi 196/tahun ke-4 (23 Sya’ban 1432 H/ 25 Juli 2011)

Ampun dah negeri kita ini, tak putus dicekik konflik dan tak reda dirundung sengsara. Sejak sebelum kemerdekaan, ketika jaman awal-awal kemerdekaan, hingga jaman kiwari. Konflik selalu ada dan tetap menjadi bagian dari hidup hampir seluruh rakyat negeri ini. Jaman penjajahan nenek moyang kita hidup susah bin sulit. Saat awal-awal kemerdekaan konflik melanda hampir di seluruh pelosok negeri. Berbagai kepentingan policik, eh politik menghiasi perjalanan sejarah negeri ini. Berganti tahun, berganti pemimpin, namun tetap saja konflik tidak bisa dipadamkan. Musim berganti, cuaca tak selalu sama, rezim satu berganti dengan rezjim lainnya, pemimpin satu lengser pemimpin lainnya menggantikan, tetapi resah gelisah terus merajam pikiran dan perasaan rakyat jelata di seluruh negeri menghadapi kenyataan getirnya kehidupan ekonomi mereka. Harga bahan pokok melonjak naik cepat, apalagi menjelang bulan puasa dan lebaran. Bahan bakar minyak (BBM) di beberapa pelosok langka.Akibatnya, harganya juga ikutan meroket tajam. Biaya pendidikan sangat mahal, biaya kesehatan nyaris tak terbeli kantong kempes rakyat miskin. Menyedihkan.

Padahal dalam waktu yang bersamaan, elit politik saling sikut kepentingan, saling serang demi rasa aman diri dan kelompoknya. Korupsi seperti wabah yang merajalela dari tingkat atas dan mengalir deras hingga tingkat pegawai dan lembaga rendahan. Ironi yang tak kunjung berhenti. Rakyat miskin sibuk mikirin nasibnya esok hari, yang masih ragu apakah masih bisa makan atau tidak, tetapi para elit partai dan penguasa serta pengusaha sibuk mikirin agar harta tak halalnya tak tersentuh lembaga hukum. Orang-orang model begini tak perlu pusing mikirin makan, karena yang jadi fokus perhatiannya, bagaimana bisa menimbun miliran rupiah demi memberi makan oknum penegak hukum agar mau mendukungnya, agar mau melindunginya dari jeratan hukum. Lihatlah Gayus, tengoklah Nazaruddin. Kini mereka jadi selebritis berlabel koruptor. Insya Allah yang lainnya juga akan segera menyusul menjadi bintang utama. Tunggu saja tanggal mainnya dalam panggung sandiwara berikutnya jika kondisi kehidupan seperti ini terus.

Bro en Sis, gaulislam edisi 196, yang juga edisi cetaknya mulai terbit lagi seiring kamu masuk sekolah, sengaja mengangkat tema ini karena sudah saking muaknya dengan kondisi negeri ini. Kamu yang peka dan peduli dengan kondisi negeri ini, saya yakin memiliki pemikiran dan perasaan yang sama bahwa negeri ini seperti sudah babak belur dihantam berbagai persoalan: hukum, sosial, pendidikan, budaya, ekonomi, politik, pemerintahan, peradilan yang tak adil dan sejenisnya. Kita sudah bosan dengan kondisi ini. Salah satu cara adalah diungkapkan melalui tulisan. Semoga kamu bisa menerima. Toh, ini adalah masalah remaja juga. Kamu nggak boleh berpaling dari persoalan ini hanya karena kamu masih remaja. Nggak lah. Kamu juga tinggal di sini, menjadi warga negara negeri ini. Jika warga negara yang lain udah nggak waras, maka yang masih waras ngingetin agar mereka kembali waras. Jangan mau jadi edan semua! (sori bahasanya rada pedes, meski nggak dicampur sambal saus). Continue reading


Karakteristik Esai

Pertanyaan:

assalamu’alaikum Wr.Wb

Langsung saja. Saya mau tanya tentang apa saja karakteristik dari esai? Saya ingin tahu apa yang membedakannya dengan opini, lalu format penulisannya sebaiknya seperti apa?

Terimakasih telah berkenan menerima saya berkonsultasi.

Pengirim: Yance Arizona

Jawaban:

‘alaikumussalam wr wb

Salam kenal dan terima kasih atas kiriman e-mailnya. Semoga kita semua diberkahi oleh Allah Swt. Esai sebenarnya (hampir) sama saja dengan opini. Sebab, definisi dari esai itu sendiri adalah karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Itu sebabnya, artikel di media massa itu bertaburan data-data teknis, tapi lebih ke arah pemaparan sepintas lalu dan itu murni pendapat pribadi penulisnya setelah membaca pendapat lain dari begitu banyak karya yang telah dibacanya. Opini juga adalah pendapat si penulis terhadap suatu masalah. Jadi sama saja.

Format penulisan esai biasanya dimulai dari membeberkan fakta yang hendak dinilai menurut pendapat kita. Itu sebabnya harus kuat di data dan bahan yang mendukung penulisan tersebut. Kemudian menganalisis fakta tersebut menurut pengamatan kita. Jika perlu diberikan saran, ya kita sampaikan saran kita. Jika perlu dikritisi, sampaikan juga alasan kita. Baru terakhir kesimpulan kita. Bisa mendukung fakta tersebut, bisa juga menolaknya. Singkatnya demikian. Continue reading


Dulu JR Farrel Sangat Benci Muslim, Kini Islam adalah Hidupnya

JR. Farrell | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, JR Farrell masih mengingat betul masa kecilnya, bagaimana kedua orang tuanya bertengkar gara-gara uang, situasi kehidupan dan perkara-perkara lain. Tak hilang pula dari kenangannya saat ia mesti hidup di rumah-rumah sosial di sisi selatan Chicago hampir tanpa apa pun untuk di makan.

“Dengan keluarga beranggotakan 10 orang, sulit bagi ayah saya untuk menopang hidup sesuai dengan cara yang paling diinginkan,’tuturnya.

Masa muda yang sulit

Ayah arrell –berdarah campuran Jerman dan Irlandia–adalah pekerja keras tapi juga pemabuk. Meski kerap memukuli ibunya, arrell mengaku masih mencintai ayahnya.

Setiap kali pulang dalam kondisi mabuk dan kesal terhadap sesuatu ia akan mendatangi Farrell dan adik-adinya serta menimpakan semua lewat pukulan hingga tak ada yang bisa dilakukan. Farrell kerap tak bisa berjalan atau bernafas gara-gara pukulan tadi. Begitu pun bila kakak lakinya mengoceh dan jengkel ia pun akan menerima serangan fisik. “Itulah sebagian besar masa kecil saya.” kenang Farrell

Masuk masa remaja, semua yang ada di sekitar Farrell mulai menggoda, teman wanita, minuman, klub malam, obat-obatan dan yang lain. “Tapi entah saya tak bisa, saya melarang diri untuk terlibat dalam semua tadi. Saya hanya merasa itu tidak benar.” Continue reading


Pemula Ingin Menulis

Pertanyaan:

Saya betul-betul seorang pemula, karena baru sekarang saya menyadari bahwa menulis bisa membuat saya “bahagia”. Mudah2an belum terlambat. Saya mau menulis tapi masih sulit? Apa yang sebaiknya harus saya lakukan?

Pengirim: Sylvia

Jawaban:

Terima kasih sudah berkirim e-mail berisi pertanyaan seputar penulisan kepada saya. Mbak Sylvia, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Karena belajar itu setua umur manusia. Manusia pembelajar adalah mereka yang tak kenal lelah untuk belajar. So, tentunya usia bukan menjadi halangan untuk belajar.

Menulis memang membuat kita bahagia. Ya, bahagia karena bisa menuangkan gagasan yang akan dibaca oleh banyak orang. Bisa berbagi ilmu, informasi, dan juga perasaan dengan pembaca kita. Menulis menurut saya lebih awet ketimbang bahasa lisan. Sebab, meski penulisnya sudah tiada di dunia ini, tapi tulisannya yang menggugah insya Allah akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi siapa saja. Bahkan bagi mereka yang hidup ratusan tahun setelah si penulisnya meninggal dunia. Itu sebabnya, menulis merupakan kebahagiaan tersendiri bagi penulisnya.

Untuk pemula, menulis seringkali menjadi kendala. Merasa sulit ketika akan memulai. Tapi, yakinlah, karena menulis adalah keterampilan, maka menulis hanya butuh latihan dan investasi waktu. Saya sendiri ketika ingin bisa menulis, hampir setiap hari saya sediakan waktu 1/2 jam saja untuk menulis. Apa yang ditulis? Saya memberikan kebebasan kepada diri saya sendiri untuk menulis apa saja yang saya mau dan saya kehendaki pada saat itu. Intinya menulis. Entah puisi yang bisa saya tulis. Bisa juga surat untuk teman lama atau orang tua di rumah. Kebetulan saya sejak SMA sudah jauh dari orang tua karena harus meneruskan studi di kota lain. Continue reading


Kekonyolan MOS

gaulislam edisi 195/tahun ke-4 (16 Sya’ban 1432 H/ 18 Juli 2011)

 

Hari Sabtu kemarin saya ketemu dengan seorang teman untuk membicarakan satu proyek workshop penulisan bagi para guru. Nah, dia bawa keluarganya saat janjian di area foodcourt sebuah tempat perbelanjaan. Yang menarik, adalah anaknya. Hehehe bukan soal penampilannya, tetapi teman saya ini lagi nyiapin segala keperluan yang dibutuhkan anaknya untuk MOS di sekolahnya. Kebetulan anaknya ini diterima di salah satu SMP negeri di kota Bogor. Teman saya menjelaskan ihwal kenapa ketemuannya di tempat tersebut. Alasanya, karena sekalian jalan aja abis nganter anaknya ke sekolah untuk mendapatkan informasi seputar kegiatan MOS yang akan dilaksankan pekan ini (saat buletin kesayangan kamu ini terbit di hari Senin, 18 Juli 2011). Hmm.. saya langsung dapat ide untuk membuat tulisan ini di gaulislam edisi 195. Pekan ini. Yup, ide memang bisa datang kapan saja, di mana saja dan dari mana saja. Asik juga lho dapet ide dan bisa diwujudkan dalam sebuah tulisan utuh.

Sobat muda muslim, alasan saya memilih istilah “kekonyolan” yang disematkan dengan kata MOS di judul ini, karena pelaksanaan MOS dari tahun ke tahun konsepnya nggak berubah. Setidaknya secara umum ya. Mungkin ada juga sih yang udah agak mendingan, misalnya memang murni Masa Orientasi Siswa—ada juga yang nyebutnya Masa Orientasi Sekolah (baca: ngenalin apa aja yang bakalan dipelajari di sekolah, menjalin pertemanan, mengenal para guru dan lingkungan sekolah serta belajar hal-hal yang bisa memotivasi kita dalam melakukan suatu kegiatan di sekolah).

Kekonyolan MOS terutama pada panitiannya yang kadang bikin kepala anak baru pusing. Gimana nggak, seringkali permintaan panitia aneh-aneh dan bahkan nyaris mustahil. Misalnya aja nih, kita diminta bawa kemenyan lengkap ama dukunnya (hehehe.. nggak ding. Ini sih saya yang ngarang, Bro!). Permintaan yang udah sering sih misalnya disuruh bawa tas dari karung beras ukuran 20 kg dan 50 kg. Coba, gimana nyarinya tuh, karena seringkali mendadak. Malemnya baru disuruh dan diminta dibawa esok harinya. Sedikit banget waktu untuk nyarinya. Weleh-weleh, emangnya kita pedagang beras yang bisa ngoleksi karung beras dalam jumlah banyak?

Masih ngisengin lagi, tuh panitia minta karung berasnya ditempeli kertas asturo warna tertentu yang kira-kira susah banget, misalnya kita diminta nyari kertas dengan warna yang memiliki kode HTML #B8860B. Wedew…. bisa-bisa kita kentut disertai suspensi koloid dah! (kata urang Sunda mah istilahnya adalah: bisa-bisa hitut jeung bukurna hahahaha…). Jika gini urusannya, panitianya aja emang hobi nyiksa kayaknya. Urusan karung beras buat dijadiin tas masih belum selesai. Kadang talinya kudu terbuat dari tali rafia dan dikepang. Sekali lagi, bener-bener nyiksa dah! Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 874 other followers