Arsip Bulanan: Agustus 2011

Ied Fitr

gaulislam edisi 201/tahun ke-4 (29 Ramadhan 1432 H/ 29 Agustus 2011)

Bikin artikel di bulan Ramadhan memang menjadi tantangan tersendiri. Selain hari serasa lebih pendek, waktu jadi mefeeet banget. Masuk lebih pagi, pulang lebih cepat, macet di jalan, buka puasa, sholat magrib, lanjutin makan babak kedua, terus sholat Isya plus Tarawih, akhirnya siap-siap tidur. Rutinitas seperti ini yang menjadi santapan sehari-hari gue, and nggak kerasa dua hari terakhir ini macet di jalanan meningkat deras, dan itu tandanya THR sudah turun! Loh?

Ya, lebaran sebentar lagi. Kesibukan cukup tinggi karena semua orang pada nyiapin untuk acara bertaraf internasional yaitu: lebaran berjamaah! Setahu ane emang cuma dua event besar di agama kite ini, idul Fitri dan idul Adha. Itu sebabnya, cukup worth untuk dirayakan dan disiapkan dengan seksama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, loh? Kok jadi kayak di teks proklamasi? Hahaha…

Bro en Sis, event yang menutup acara puasa sebulan penuh ini emang unik banget, acara ini nyaris melumpuhkan semua sektor di negara kita. Semua orang pada cuti massal. Mirip mogok nasional lah. Nggak ada yang kerja. Kantor-kantor pada tutup dan kebanyakan orang pada maen ke sono kemari (baca: silaturahmi)

Dalam menyambut hari Ied alias lebaran, umumnya kita malah lebih terfokus pada hal-hal di luar ibadah, dengan satu dalih untuk mempersiapkan hari ied yang biasanya identik dengan kerepotan, pengeluran lebih dan yang jelas capek berat. Pernah tidak kita merasakan hal yang sama, tapi pada aktivitas ibadah yang lain? Misal kerepotan cari tambahan uang karena lagi pengen memperbaiki masjid dideket rumah kita, kecapean dan kelelahan karena berusaha ngajakin orang di kampung untuk mau sholat tepat waktu dan sebagainya. Kenapa kok lebaran selalu menjadi “big deal” bagi kaum muslimin di Indonesia?

Ied artinya adalah sesuatu yang berulang-ulang pada kurun waktu tertentu. Ied merupakan kekhususan umat Islam. Dalam agama kita, kita mengenal dua hari Ied, dan keduanya dihubungkan dengan dua ibadah besar. Ied Fitr yang dihubungkan dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan dan Ied Adha yang dihubungkan dengan ibadah haji. Ini menunjukkan betapa penting dan utamanya hari Ied, karena kedua ibadah besar yang mengikutinya sekaligus adalah dua syiar Islam terbesar. Nah untuk menyambut hari yang mulia ini, apa saja yang harus kita lakukan? Continue reading


Kisah Singkat Sigit Nugroho, Dahulu Atheis Kini Ketua Talk Show Ramadhan 2011

REPUBLIKA.CO.ID, Sore itu di gedung Fatahilah Masjid Sunda Kelapa (Sabtu, 13 Agustus 2011) sebuah kegiatan diskusi digelar dengan tema Kesalehan Sosial. Diskusi itu dihadiri oleh para mualaf.

Dalam acara tersebut ada salah satu anggota yang cukup menarik perhatian. Dia adalah Sigit Nugroho Wartawan senior Bola yang memiliki jaringan luas di tingkat Internasional. Ia adalah seorang mualaf yang kini mendirikan OLE!.

Pria kelahiran Semarang, 6 Oktober 1965 ini adalah anak tunggal dari pasangan Letkol Pol Djati Koenjtono(Alm) dan Soeharsi. Selain sebagai seorang wartawan ia juga berfrofesi sebagai komentator olah raga disejumlah stasiun televisi swasta dan juga stasiun tv nasional.

Sigit mengaku sudah dua tahun memeluk Islam. Sebelum memilih Islam, ia sebelumnya telah melewati tiga fase agama dalam kehidupannya.

Pertama ia dulu seorang yang tidak beragama (atheis), kemudian ia masuk menjadi orang khatolik. Tak beberapa lama kemudian ia keluar dari agama tersebut dan kemudian menjadi seorang Muslim

Kini Sigit mengakui lebih giat untuk memperdalam ajaran agama islam dan tidak akan mempermainkan agama seperti sebelumnya. Ada pengalaman religi yang ia ungkapkan setelah dirinya memeluk agama Islam. Continue reading


Cikawung nu pinuh ku panineungan

Ah, asa ku wararaas mun nyawang mangsa katukang. Mangsa kuring hirup di lembur. Tiis ceuli herang mata. Istuning hirup pinuh kabagja. Lembur anu sanajan kaasup rada singkur harita mah, tapi tetep wae mere pangalaman hirup anu teu saeutik pangaruhna ka kuring. Tahun 80-an baheula teh. Sakola oge masih SD. Listrik rarasaan mah karak asup desa tahun 1984 mangsa kuring sakola SD kelas opat. Hirup di lembur teu jiga di kota ayeuna. Di lembur mah loba batur loba dulur. Hirup sauyunan nyieun tatapakan laku lampah anu bakal janten panineungan keur jaga nu baris datang.

Sok kasuat-suat basa kuring inget ka Cikawung. Emut kana sagala panineunganana. Cikawung teh tempat urang lembur ngala cai, mandi, atawa nyeseuh pakean. Cikawung, duka siga kumaha ayeuna. Meureun geus beda tinimbang salawe atawa tilu puluh taun katukang. Harita mah kuring jeung budak lembur ilaharna sok nganjangan ka Cikawung paling sauetik sapoe dua kali. Isuk jeung sore. Salian beberesih awak, kuring oge kabagean ngala cai. Jang inumeun atawa jang abdas unggal poena pikeun di imah. Ngala caina teh sok ditanggung make rancatan awi. Leutik-leutik oge awak kuring harita mah kaitung kuat. Nanggung kompan eusi cai sapuluh literan di katuhu jeung kenca. Kuring sok ngajarigjeug teu kuat ngamimitian nanggung teh. Tapi beuki lila beuki kuat. Alatan ku biasa tea meureun. Aya batur kuring anu tanagana rosa pisan. Ngangsu cai oge unggal isuk aya kana lima balikna samemeh manehna mangkat sakola. Kuring mah ari kudu kitu-kitu teuing teu wani. Daek soteh pedah bae aya batur. Era piraku batur mah rikat ngabantuan kolotna, ari kuring ngadon huleng jentul. Jadi wae kabawakeun rikat. Sanajan ngan sapoe dua kali ngala caina. Eta oge sakalian beberesih awak.

Unggal poe ka Cikawung teh. Komo mun usum halodo panjang mah, pasti kudu ka Cikawung ngangsu cai. Usum halodo panjang mah sok gura-giru paheula heula ka Cikawung. Paisuk isuk bisi teu kabagean mandi anu tuntungna kabeurangan mangkat ka sakola. Continue reading


Ramadhan Bulan Perjuangan

gaulislam edisi 200/tahun ke-4 (22 Ramadhan 1432 H/ 22 Agustus 2011)

Bro en Sis, saya sengaja menulis repost alias menerbitkan ulang tulisan saya di jaman dulu (tahun 2001), waktu saya jadi editor Buletin Remaja STUDIA, sebelum buletin itu dibubarkan karena alasan tertentu. Tujuannya, kebetulan momennya aja pas. Namun saya ubah sedikit judulnya dan menambah atau menghilangkan beberapa informasi di dalamnya. Itu sebabnya, kamu yang kini udah bangkotan (sori rada sadis nyebutnya), yang pernah baca STUDIA pada masa SMA dulu, kini bakal baca lagi di buletin gaulislam. So, jangan heran bin kaget ya. Sebab, yang nulisnya tetap aja saya sendiri hehehe… (oya, hal ini juga sekaligus menjawab banyak pertanyaan kamu semua yang menyebutkan: “Kok, rasa bahasa gaulislam sama dengan STUDIA?” Ya iyalah, wong editornya adalah orang yang sama hehehe…)

Ngomongin soal Ramadhan, rasanya udah berpuluh bahkan beratus atau malah beribu tulisan menyebut  Ramadhan bulan mulia. Yup, Ramadhan memang membawa berkah bagi kaum mukminin. Meski secara fisik kita diwajibkan untuk menahan rasa lapar dan haus, plus menghindari segala perbuatan maksiat, namun bukan berarti kita kudu puasa juga dari berbagai aktivitas amal shaleh. Justru di bulan Ramadhan inilah, semangat kaum mukminin sedang puncak-puncaknya.

Bro en Sis, mulut boleh istirahat seharian dari mengunyah makanan, tenggorokan boleh terasa kering tak dialiri air, perut boleh keroncongan nahan lapar, tapi semangat untuk beraktivitas mulia kudu tetap menyala. Kenyataan ini telah dibuktikan oleh para generasi terdahulu kita. Justru di bulan Ramadhan berbagai kemenangan dapat diraih dengan gemilang. Bahkan sebagian di antaranya ikut menciptakan arah sejarah kehidupan Islam dan kaum muslimin. Ya, Ramadhan memang bulan perjuangan dan kemenangan bagi kaum mukminin.

Boys and gals, seharusnya kita pun nggak kalah dong dengan semangat para pendahulu kita. Sekarang pun kita bisa berbuat hal yang sama, atau paling nggak mirip-mirip perjuangannya dengan mereka. Kondisi memang berbeda, situasi juga sangat jauh berbeda. Tapi bukan berarti kemudian kita menyerah kepada keadaan. Insya Allah kita mampu kok, paling nggak semangat perjuangannya bisa kita teladani. Sebab mereka seolah ingin menunjukkan kepada generasi setelahnya, bahwa Ramadhan bukan halangan untuk tetap melakukan amal shaleh, bahwa Ramadhan pun bukan halangan untuk istirahat dari jihad, dan bahwa Ramadhan pun bukan saatnya untuk bersantai-santai dengan alasan menyelamatkan puasa kita.

Ketika puasa bukan berarti penampilan kita harus loyo. Tampang kita harus dibuat selemes mungkin, biar dikatakan lagi puasa. Ya, nggak begitu dong, Bro. Meski puasa, kondisi tubuh kita kudu tetap fit. Itu sebabnya, jangan pernah berhenti dari aktivitas amal shaleh. Diulangi; jangan pernah berhenti dari aktivitas amal shaleh. Catet itu! (halah, sok ngatur-ngatur gini ya? Ehm…) Continue reading


Bedah Buku “Jangan Nodai Cinta”, di Ciputat

Dalam publikasi ini diinformasi semua acara yang berlangsung pada 21 Agustus 2011. Acara bedah buku Jangan Nodai Cinya insya Allah akan dimulai ba’da Asar. Sekitar pukul 15.45 WIB. Bagi teman-teman yang kebetulan baca informasi melalui blog saya ini, dan punya waktu luang pada tanggal tersebut, silakan saja datang ke tempat acara ya. Terima kasih.

Salam,

O. Solihin

 


Taqi al-Din Muhammad Ibnu Ma’ruf, Ilmuwan Muslim Multitalenta

Ragam temuannya mengungguli, bahkan mendahului ilmuwan Barat.

Nama lengkapnya, Taqi  al-Din Abu Bakar Muhammad bin Zayn al-Din Ma’ruf al-Dimashqi al-Hanafi. Namun, ilmuwan Muslim kelahiran Damaskus, Suriah, yang mendunia pada abad ke-16 M ini lebih dikenal dengan nama yang lebih singkat: Taqi al-Din Muhammad Ibnu Ma’ruf. Dialah ilmuwan yang memberi kontribusi besar bagi perkembangan ilmu matematika, astronomi, optik, dan mekanika hingga kini.

Taqi al-Din yang lahir pada 1521 M mengabdikan dirinya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kekhalifahan Turki Utsmani. Salah satunya mengabdi sebagai kepala observatorium. Dia meninggal di Istanbul pada 1585 M.

Pada era itu, tak ada ilmuwan di Eropa yang mampu menandingi kepakarannya. Hal ini bisa dipahami karena Taqi al-Din adalah ilmuwan multitalenta yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Dikenal sebagai astronom andal, ia juga termasyhur sebagai astrolog, insinyur, ahli fisika, pakar matematika, dokter, hakim Islam, ahli botani, filsuf, ahli agama, dan guru madrasah. Dunia ilmu pengetahuan modern juga mengakuinya sebagai ilmuwan yang sangat produktif.

Setidaknya, lebih dari 90 judul buku dengan beragam bidang kajian telah ditulisnya. Sayangnya, hanya tinggal 24 karya monumentalnya yang masih tetap eksis. Sederet penemuannya juga sungguh menakjubkan. Pencapaiannya dalam menemukan berbagai alat mendahului para ilmuwan Barat.

Dalam bukunya berjudul al-Turuq al-Samiyya fi al-Alat al-Ruhaniyya, sang ilmuwan serba bisa ini memaparkan cara kerja mesin uap air dan turbin uap air. Padahal, ilmuwan Eropa Giovani Branca baru menemukan tenaga uap air pada 1629 M.

Salah satu karya populer al-Din adalah pompa enam silinder yang menerapkan sistem monoblock. Temuan alat pada 1559 M ini kian melambungkan namanya sebagai ilmuwan yang disegani. Begitu pula dengan temuan jam yang akurasinya mumpuni. Jam alarm mekanik pertama merupakan buah karyanya.

Al-Din jugalah yang menemukan jam pertama dengan parameter menit dan detik. Pada 1556 M hingga 1580 M, sang ilmuwan telah menemukan alat untuk melihat antariksa, teleskop. Padahal,  teknologi ini baru dikenal peradaban Barat pada abad ke-17 M. Agar lebih dapat mendalami astronomi, dia mendirikan observatorium Istanbul pada 1577 M.

Kecemerlangan al-Din pada ilmu pengetahuan tak timbul dengan sendirinya. Sang ayah, Maruf Efendi, menjadi guru pertamanya. Dimulai dengan menekuni bidang keagamaan sebagai fondasi dasar semua ilmu, sang ayah lalu mengirimkannya untuk belajar ilmu pengetahuan umum di Suriah dan Mesir. Continue reading


Abdul Rahman, Mualaf yang Membimbing Para Mualaf

ilustrasi

Seseorang yang baru masuk Islam, kadang menghadapi proses yang sulit dan membingungkan. Para mualaf ini tak jarang harus menghadapi reaksi keras dari pihak keluarga atau menemui kesulitan untuk sekedar menemukan toko terdekat yang menjual daging halal.

Untuk membantu para mualaf baru ini melewati masa transisi, Muslim di Wales membuat proyek yang disebut New Muslim Project Wales (NMPW). Proyek ini juga menawarkan kelas-kelas pendidikan agama Islam, menggelar kegiatan sosial dan sistem pertemanan atau pendampingan bagi para mualaf baru.

Proyek ini digagas oleh Richard Fairclough, yang setelah masuk Islam bernama Abdul Rahman bersama sesama mualaf lainnya. Abdul Rahman, 57, membuat inisiatif ini berdasarkan kegiatan serupa yang dilakukan oleh New Muslim Project di wilayah Inggris Raya.

NMPW berusaha mendata para mualaf-mualaf baru di seluruh Wales dan dari data tersebut, terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah mualaf dalam jangka waktu yang cukup cepat. “Saya tidak ingin main-main dengan jumlah angka … tapi saya tercengang ketika memperbaharui database ternyata terjadi peningkatan jumlah mualaf yang cukup cepat,” kata Abdul Rahman seperti dikutip WalesOnline.

Menjadi Seorang Muslim

Abdul Rahman sendiri, sebelum masuk Islam adalah seorang Kristiani yang aktif dan taat. Suatu ketika ia pindah ke Afrika Selatan dan mendengar adzan. Ia sangat terkesan mendengar panggilan salat itu dan mulai tertarik untuk mengetahui lebih dalam figur Rasulullah Muhammad saw.

“Saya tiba disana (Capetown, ibukota Afrika Selatan) pada tahun 1992, tak berapa lama setelah sistem apartheid di negeri itu dihapus. Saya sering melihat sekelompok Muslim kulit hitam disana … dan saya perhatikan setiap hari Jumat, banyak toko milik Muslim tutup dan mereka melakukan kegiatan ibadah,” kisah Abdul Rahman mengenang pengalamannya saat di Afrika Selatan. Continue reading


Kebangkitan Hakiki

Assalaamu’alaikum wr wb

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS Ali Imran [3]: 103)
Berbicara soal kebangkitan memang akan selalu menarik, terlebih di saat kita sedang memperjuangkannya dan belum juga berhasil. Semua menawarkan berbagai upaya untuk memperjuangkan kebangkitan. Berbagai slogan mengalir tak kenal henti. Konon, digembar-gemborkan bahwa abad ke-15 hijriyah sebagai abad kebangkitan Islam. Namun, sampai saat ini ternyata umat Islam masih nyungsep dan belum ada tanda-tanda menggeliat untuk bangkit.

Kaum muslimin tetap terpuruk dalam berbagai persoalan yang menderanya, dari mulai masalah kemiskinan, kerusakan moral, ketertinggalan dalam teknologi, sampai masalah politik. Sudah tentu berbagai upaya telah dilaksanakan, dari mulai membangun ekonomi, karena melihat kaum muslimin kedodoran di bidang ini. Juga melakukan perbaikan akhlak, ketika melihat kaum muslimin banyak melakukan perbuatan maksiyat. Namun ternyata derita tak kunjung padam.

Kita harus tahu dan sadar, bahwa arti kebangkitan bagi kaum muslimin sangatlah berarti. Maka, penyelesaian yang benar dan baik akan sangat menentukan langkah untuk mengupayakan kebangkitan. Setiap menyelesaikan persoalan, kita harus mengembalikan pada akar masalahnya. Karena, sudah pasti, bila masalah utamanya sudah ditemukan, maka penyelesaian lanjutnya bisa ditebak dan diusahakan jalan keluarnya. Kita sudah banyak belajar dari pengalaman. Terbukti, kuatnya bidang ekonomi tak mampu mengangkat penderitaan umat dan membuatnya bangkit. Ini telah dibuktikan dengan negeri-negeri Islam yang kuat di bidang ekonominya seperti Arab Saudi dan Kuwait, ternyata umat Islam tetap terpuruk.

Begitu juga dengan tingginya akhlak, tak mampu membuat umat Islam digdaya. Ini dibuktikan oleh tingginya akhlak kaum muslimin di Madinah. Dan itu semua menjadi barometer bahwa masalah ekonomi dan akhlak bukan masalah utama. Bandingkan dengan negeri-negeri Eropa, seperti Prancis, misalnya. Negara itu maju meski akhlak masyarakatnya bejat.

Lalu, yang jadi masalah apa? Pemikiran. Ya, taraf berpikir yang sebenarnya akan mampu membebaskan umat dari belenggu yang selama ini mengikatnya untuk tetap terpuruk dalam kerendahan pola berpikir yang membuatnya malas untuk bangkit dan bersaing dengan umat lain.

Kemudian, kebangkitan yang benar itu seperti apa? Satu-satunya kebangkitan yang benar adalah kebangkitan yang dilandasi oleh fikrah Islamiyah (pemikiran Islam), karena kebangkitan itu sajalah yang merupakan peningkatan taraf berpikir yang ditegakkan atas asas ruhiyah, yakni atas asas  La Ilaha Illallah. Allah SWT. pun menjamin tegaknya kalimat-Nya dan kehancuran kalimat kufur, sebagaimana firman-Nya:

“….dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS at-Taubah [9]: 40)

Untuk membangkitkan umat dari kerendahan taraf berfikir ini, jelas diperlukan kerja ekstra keras dan perhatian yang lebih. Karena itu, membangkitkan umat jelas adalah tanggung jawab bersama. Mau tidak mau, kita harus bersatu dalam satu pemikiran dan perasaan untuk membangkitkan umat ini, tidak bisa sendiri-sendiri.

Salam,

O. Solihin


Dakwahtainment

gaulislam edisi 199/tahun ke-4 (15 Ramadhan 1432 H/ 15 Agustus 2011)

Apa yang kamu pikirkan pertama kali baca judul ini? Seperti mengingatkan kepada acara gosip seleb? Hmm.. nggak salah juga. Kata “entertainment” yang melekat dengan kata info sering kita temukan dalam acara-acara gosip selebritis: infotainment alias informasi seputar hiburan. Nah, dakwahtainment juga kira-kira mirip lah. Mungkin tepatnya Dakwah Entertainment, disingkat jadi dakwahtainment. Lho, kalo gitu artinya dakwah yang bersifat hiburan dong? Bisa jadi. Atau… bisa juga dakwah yang dikemas dengan cara menghibur.

Bro en Sis, dakwah entertainment semarak di saat Ramadhan. Coba deh tengok, hampir semua stasiun televisi menayangkan dakwah yang dikemas dengan hiburan, atau malah dalam beberapa stasiun televisi dakwah digabung dengan hiburan. Televisi memang media paling ampuh untuk mengemas dan menayangkan dakwahtainment. Selain jangkauannya luas, juga kekuatannya sebagai media dengan keunggulan audio visual (bisa didengar dan bisa dilihat), televisi bisa mengambil ceruk pasar pemasang iklan. Kok bisa?

Iya. Ini terjadi semacam relasi komoditas. Masyarakat butuh guyuran rohani di bulan Ramadhan ketimbang di bulan lainnya. Nah, kebutuhan itu disadari betul pengelola televisi. Klop. Bertemunya dua kebutuhan, namun berbeda cara pandang. Masyarakat sih yang penting ada isi, sementara pengelola media memandang hal itu sebagai peluang bisnis. Hitungannya, kalo pengelola televisi menggelar sebuah program dakwah, apalagi jika dikemas dengan hiburan, maka akan menarik penonton dalam jumlah banyak. Kalo udah begitu, berarti rating acara tersebut bakalan naik. Berikutnya, pengiklan bakalan ngantri pengen mengambil jatah tayang di acara tersebut. Bisnis iya, menyampaikan pesan dakwah juga tercapai.

Tapi, apa sudah cukup memenuhi kebutuhan masyarakat? Belum. Menurut saya belum memenuhi kebutuhan akan siraman rohani yang maksimal. Saya memang belum melakukan survei, tetapi sebuah acara bisa bagus atau tidak cukup dilihat dari konten alias isi pesannya. Sebagus apapun kemasan, kalo isi pesannya tanpa makna, apalagi jika mengaburkan makna, maka tayangan tersebut terkategori sampah. Maaf, ini fakta. Lagi pula, bertaburannya simbol-simbol agama dalam berbagai acara Ramadhan dan sinetron religi sekadar tempelan saja. Pakaian (baju koko, jilbab, kerudung, sorban, peci dan sejenisnya) juga ritual (shalat, doa, mengucapkan salam dan sejenisnya) dihadirkan tanpa konteks yang mendukung pesan moral. Continue reading


Kasih Sayang

Assalaamu’alaikum wr wb

Kata Nabi saw.: “Man la yarham la yurham”. Siapa yang tidak menyayangi, ia tak akan disayangi. Rasa kasih sayang itu merupakan suatu perwujudan dari naluri mempertahankan jenis, yang juga adalah energi yang mampu menciptakan manusia menjadi seorang yang berhati lembut dan mengutamakan sesuatu yang dicintainya. Berkorban adalah salah satu bukti kecintaannya.

Dalam sebuah riwayat, “Seorang perempuan miskin datang menemuiku,” kata Aisyah r.a., “Ia membawa dua orang anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada anaknya. Ia bermaksud untuk memakan sisanya. Tetapi kedua orang anaknya berusaha merebutnya, sehingga kurma itu pun jatuh dari tangannya. Akhirnya, perempuan itu tidak makan kurma satu butir pun. Aku terpesona dengan perilaku perempuan itu. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. Ia bersabda: “Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.” (HR Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)

Itu sebabnya, Islam sebagai agama yang membawa misi ‘rahmatan lil ‘alamin’ , mewajibkan orangtua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka kepada keluarganya. “Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang paling penyayang kepada keluarganya,” kata Rasulullah saw.. Dalam al-Quran, memelihara kasih sayang dalam keluarga merupakan perintah yang sangat ditekankan: “Bertakwalah kamu kepada Allah, tempat kamu saling bermohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga.” (QS an-Nisaa [4]: 1)

Namun, akhir-akhir ini rasa kasih sayang ibarat barang mahal yang sulit dicari. Sampai-sampai, rasa sayang orangtua kepada anaknya sudah mulai pudar dikikis persoalan-persoalan karir dan bisnis. Sehingga anak tumbuh dalam keadaan tanpa kasih sayang. Anak hanya dimanja dengan uang dan cukup dititipkan kepada pengasuh anak yang notabene sangat berbeda dalam mengkomunikasikan rasa kasih sayang ibu kepada anak kandungnya. Mengelupasnya rasa kasih sayang orangtua kepada anaknya, yang secara tidak langsung telah mengantarkan anak belajar sendiri tentang kehidupannya. Lepas kontrol dan cenderung destruktif.

Sehingga wajar bila akhirnya kita bisa menyaksikan anak-anak yang cenderung tak mau diatur oleh orang tuanya sendiri. Bergaul dengan teman-teman sesama pengguna narkotika, seks bebas dan perilaku-perilaku tak layak lainnya. Tak berlebihan jika kemudian dicap sebagai generasi amburadul.

Kasih sayang yang berhasil diwujudkan oleh Rasulullah saw. adalah mengubah kondisi masyarakat yang amburadul menjadi masyarakat yang beradab. Masyarakat yang dibalut dengan rasa kasih sayang yang berhasil tercipta dari proses keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Islam datang dengan serangkaian aturan yang menyelamatkan manusia dari keterpurukan kondisi jahiliyah. Kasih sayang Islam untuk manusia sangat besar pengaruhnya. Mengubah manusia durhaka menjadi ahli ibadah, membawa manusia sombong menjadi tawadhu.

Dalam al-Quran Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri”. (QS Yunus [10]: 44)

Salam,

O. Solihin


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 874 other followers