Arsip Bulanan: Séptémber 2011

Di Tengah Meningkatnya Sentimen Anti Islam, Hannah Snider ‘Melawan Arus’ dan Bersyahadat

Hannah Snider | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES – Pada 27 Mei 2011, Hannah Snider bersyahadat, mendeklarasi imannya dalam Islam. Namun, wanita Asal Los Angeles, Amerika Serikat ini, mengaku tidak menjadi seorang Muslim pada hari itu. “Saya selalu Muslim, tapi tidak menyadarinya. Saya selalu percaya pada satu Tuhan. Hati saya telah Muslim,” katanya.

Pemikiran ini, katanya, tak hanya merupakan salah satu pilar yang paling dasar, namun yang paling penting dari sebuah agama.

Tumbuh dalam lingkungan yang tak pernah bersinggungan dengan Muslim, Hannah tak pernah tahu tentang Islam. “Alasan saya tidak pernah tahu tentang agama agung ini karena tidak ada yang pernah mengatakan kepada saya. Aku punya teman sekamar Muslim, telah bertemu dengan orang Muslim, tapi tak seorang pun memberitahu saya apa yang umat Islam yakini,” katanya.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun mencoba memahami tentang berbagai agama, seorang teman memintanya menjelaskan keyakinan dasarnya. Saat itu, ia mengaku percaya Tuhan tapi tak menganut satu agamapun. “Dia mengoreksi saya dengan menjelaskan bagaimana Islam masuk ke dalam keyakinan saya, dan saya mulai meneliti dan belajar dan membaca Alquran,” katanya.

Jujur, katanya, ia takut ketika menyadari bahwa Islam telah merasuki hidupnya. Tempat dia lahir dan dibesarkan, Amerika, tidaklah ‘ramah’ untuk umat Islam. “Dan setelah semua gambaran media yang negatif tentang Islam, semua teman-teman saya berpandangan sama tentang agama ini,” tambahnya. Continue reading


Mau Belajar Menulis dengan Saya? Ini Programnya!

Assalaamu’alaikum wr wb

Bagi Anda yang ingin belajar menulis artikel, feature, esai dan sejenisnya, bisa belajar dengan saya. Juga yang ingin mengenal dan belajar menulis cerpen, tidak usah ragu, langsung tetapkan pilihan Anda untuk mengikutinya. Informasi lengkap program pelatihannya, bisa kunjungi website saya khusus untuk penulisan, di sini [menuliskreatif]

Program kursus menulis secara online yang akan berlangsung bulan Oktober-November, pendaftarannya akan ditutup akhir bulan ini. Buruan sebelum kehabisan tempat! Daftar pelatihan di bawah ini adalah program yang akan berlangsung untuk periode Oktober – November 2011: (silakan klik kata yang bercetak tebal)

1. Kursus Menulis Online Kelas NONFIKSI

2. Kursus Menulis Online Kelas FIKSI

 

Jangan lewatkan kesempatan terbaik ini. Daftar akhir bulan ini dan langsung belajar dengan saya, atau tunggu nanti di program berikutnya, bulan Desember, yang belum tentu bisa Anda mendapatkan kesempatan tersebut. Terima kasih.

Salam,

O. Solihin

 


Ketika Cantik dan Shalihah Jadi Impian

gaulislam edisi 205/tahun ke-4 (27 Syawal 1432 H/ 26 September 2011)

 

Pada tahu kan ajang Muslimah Beauty 2011? Hah, nggak tahu? Nah Gals, ternyata nggak gue sangka antusiasme para muslimah muda di Indo-nesia itu gede banget untuk berpartisipasi dalam ajang ini. Yap, Muslimah Beauty 2011 adalah ajang kontes kecantikan online khusus Muslimah berkerudung yang diikuti 1171 muslimah! Hasil seleksi ngedapetin 50 muslimah dan akhirnya tinggal jadi 10 finalis. Pemilihan juaranya diadain di Hotel Sahid, Jakarta tanggal  13 September 2011 lalu.

Namanya juga kontes kecantikan, ya udah pasti nomer 1 yang dinilai adalah keproporsio-nalan fisik–wajah and body. Sasaran kontes sendiri adalah muslimah muda berkerudung berusia 18-24 tahun yang kudu menguasai bahasa asing, pandai baca al-Quran, berprestasi secara akademik maupun non-akademik dan berkepribadian Islam.  Ckckckck… hebat bener nih syaratnya. Udah kebayang deh bakal kayak gimana muslimah yang jadi juara ajang ini. Keren!

Bro en Sis, ternyata juara pertama dari Muslimah Beauty 2011 ini adalah Dika Restiyani, 23 tahun. Seorang muslimah muda yang kuliah S2 di Nanyang Technological University Singapura, jurusan International Political Economy. Mantabs! Udah gitu, dunia modeling khususnya busana muslimah bukan sesuatu yang asing bagi doi. Jadi model busana muslimah udah sering doi lakukan baik di Indonesia dan Singapura. Selain itu, doi juga seorang entrepreneur. Doi punya perusahaan handicraft yang bikin boneka gitu! Aktivitas lainnya, Dika punya grup relawan Pelangi untuk Negeri dengan 100 orang relawan yang aktif ngadain kegiatan sosial untuk anak.

So, profil dari juara pertama Muslimah Beauty 2011 ini bener-bener memenuhi baek persyaratan maupun latar belakang dari diadainnya kontes ini. Dilansir dari okezone.com, Eka Shanty, Executive Director of Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC) sebagai pelaksana Muslimah Beauty 2011 menyatakan: “Harapannya, pemenang dapat menjadi ikon tidak hanya fesyen tapi juga ekonomi syariah. Setelah Muslimah Beauty, Dika akan diikutkan dalam ajang International Fair Muslim World di Perancis pada 23-25 Desember mendatang.” Continue reading


Xenia Dituntun Anaknya Menemukan Islam di Usia Senja

Ilustrasi | Foto: www.republika.co.id

ATHENA – Sebelum pergi ke Inggris, Xenia hanya mengenal satu agama, Kristen Ortodoks. Dia lahir, dibesarkan, dan tinggal di Athena, Yunani, Sebelum akhirnya terbang ke Inggris tahun 1970-an untuk melanjutkan pendidikannya.

Di negeri inilah, cakrawalanya terbuka. Ia mengenal ada banyak agama di dunia ini. Islam salah satunya. Namun, ia tak berniat mempelajarinya, karena nyaman dengan agama yang dianutnya sejak kecil. “Saya dibesarkan dalam keluarga yang hangat walau tak begitu taat beribadah,” ujarnya.

Usai kuliah, ia tak kembali ke negerinya. Seorang pemuda setempat memikat hatinya, dan mereka menikah. Belakangan, ia baru tahu suaminya sangat berminat pada Islam. “Agama tak begitu berperan dalam kehidupan keluarga saya…maka saya pun tak ambil pusing dengan orientasi keyakinan suami saya,” ujarnya.

Di rumah, mereka tak pernah mendiskusikan agama.  “Dia menghargai keyakinan saya, demikian pula sebaliknya,” katanya. Belakangan ia tahu, suaminya telah menjadi Muslim.

Bersuami seorang Muslim, cakrawalanya tentang Islam terbuka. Di sekolah, ia hanya tahu hal negatif tentang agama ini. Begitu juga di media yang dia baca. Namun di rumah, ia menemukan oase yang berbeda, melalui suaminya. Namun, ia masih belum tergerak hatinya belajar Islam.

Ia hanya mempelajari Islam sedikit, demi menjawab pertanyaan anak-anaknya. Seiring berjalannya waktu, sang anak lebih condong memilih Islam, mengikuti agama sang ayah. “Saya mengantar mereka ke masjid, tapi saya tak ikut turun. Saya menunggu di mobil saja,” ujarnya. Continue reading


Santun Berkomunikasi, Yuk!

gaulislam edisi 204/tahun ke-4 (20 Syawal 1432 H/ 19 September 2011)

 

Sobat muda muslim, sejak dulu kita udah diajarkan untuk santun berkomunikasi. Ortu kita di rumah udah sering wanti-wanti agar tutur kata kita juga baik. Selain itu, sopan-santun ketika berbi-cara dan berhadapan dengan orang lain menjadi menu harian kita. Umumnya sih begitu. Meski ada juga ortu dan lingkungan kurang baik dalam mengajarkan anak-anaknya untuk santun berkomunikasi. Misalnya, pernah tuh saya mendengar ada anak yang masih berumur empat tahun tapi sepertinya ungkapan kata-katanya nyontek abis dari film-film preman di televisi. Seperti, “Kubunuh kau!”. Dua kata itu keluar lancar dan fasih dari mulutnya (nggak pake fals segala. Bening.) ketika berantem dengan teman mainnya. Wacks, saya kaget. Begitu ditanya kepada orang dewasa yang ada di situ, dijawab, “Nggak heran, ortunya aja secara tidak langsung ngajarin gitu. Maklum, komunikasi di antara ayah dan ibunya kasar, jadinya anak ngikutin”. Ampuun!

Ngeri banget deh kalo sejak kecil kita udah belajar yang keras dan kasar. Komunikasi yang terekam di benak kita jadinya ya itu tadi, kata-kata kasar dan nggak santun banget. Pernah juga saya mendapati anak usia tiga tahunan yang ngomongnya kasar abis. Kata-katanya yang dikeluarkan nggak santun. Seperti mengucapkan, “Gua pukul lo!”, “Gua hajar lo!”. Lha, itu anak kecil. Masih tiga tahun. Tapi kata-katanya sungguh bikin risih. Maka, saya sendiri sungguh sangat khawatir kalo anak sejak kecil udah seperti itu. Usut punya usut, ternyata ibunya juga kalo berkomunikasi seperti itu. Walah, benar juga pepatah Belanda: Buah apel nggak bakalan jatuh jauh dari pohonnya (**kecuali pohon apelnya pinggir sungai dan ketika buahnya jatuh kebawa palid alias hanyut di sungai hehehe..)

Memang, anak kecil itu belajar berkomunikasi dari apa yang dilihatnya di lapangan saat main atau saat ngobrol dengan ortunya, plus nonton televisi. Kalo yang ditontonnya baik, insya Allah kebawa baik. Kalo yang dia dapati kata-kata yang santun dalam komunikasi dengan temannya atau ortunya, maka insya Allah itu pula yang keluar. Soalnya, saya merasakan betul gimana ‘cerewetnya’ ibu saya dalam mengingatkan supaya saya bertutur kata yang santun. Pernah suatu ketika saya ngomong istilah kasar dalam bahasa Sunda, langsung dipelototin sambil bilang kalo itu nggak baik. Kalo itu nggak sopan. Karena sering mendapati informasi seperti itu. Diajarkan dan diingatkan, maka alhamdulillah kebawa memorinya sampe sekarang.

Begitu pun dalam bergaul dengan teman-teman, pasti diminta supaya omongan saya tuh yang baik dan sopan-santun. Nggak boleh kasar. Meski cukup mengekang, tetpi ternyata itu memang cukup bagus dalam mengajari saya. Itu sebabnya, saya juga sering merasa khawatir kalo anak-anak saya komunikasinya kurang santun atau malah nggak santun. Memang susah untuk menjaga terus menerus. Paling-paling yang kami lakukan adalah dengan memberikan pengertian. Kami ajak ngobrol anak-anak dengan bahasa yang baik. Kalo kebetulan terkontaminasi karena udah gaul di luar bareng temen-temennya, kami coba perhatikan dan cek tutur katanya dalam komunikasi. Jika ada yang nggak santun, langsung diperingatkan. Terus dan terus. Supaya ada pembanding baginya. Sebab, kalo dibiarkan, anak-anak akan merasa bahwa hal itu boleh. Alhamdulillah, sampai saat ini (dan semoga seterusnya), jika anak-anak kami menyampaikan kata-kata yang kurang santun, setelah kami tatap matanya dan sambil bilang bahwa itu nggak boleh, biasanya anak-anak langsung mengubah kata-katanya dengan kata-kata yang santun yang kami ajarkan. Continue reading


Metode Pemaknaan Kata dan Istilah

Assalaamu’alaikum wr wb

Seorang teman mengirimkan tulisannya kepada saya, meminta untuk dicek, dinilai dan diberikan tanggapan. Isinya cukup bagus. Tulisan yang saya tampilkan di blog saya ini sudah melalui proses diskusi dan editing, semoga bisa lebih memperkaya wawasan kita. Silakan dibaca dan diambil mannfaatnya.

Salam,

O. Solihin

==

Oleh Abu Aish al-Batawiy

Bahasa adalah sesuatu yang secara alami digagas manusia semenjak manusia diciptakan. Bahasa adalah kesepakatan antar manusia baik dalam lingkup kecil maupun besar. Dengan bahasa manusia lebih mudah menyampaikan maksud dan tujuannya kepada yang lain dengan berbagai cara. Sekarang ini paling tidak kita mengenal bahasa lisan dan tulisan yang kesemuanya mudah dipahami bagi orang yang memang berbahasa asli bahasa tersebut atau dengan sengaja mempelajari bahasa tersebut.

Bahasa ibu itulah sebutan bagi bahasa yang dikenal semenjak kecil dan biasanya akan selalu terbawa meskipun sudah dewasa dan jarang digunakan untuk percakapan sehari-hari. Contoh mudah orang yang berbahasa ibunya bahasa jawa ketika menghitung cepat secara tidak sadar akan tetap akan menggunakan bahasa jawa –ji, ro, lu, pat, ma,…….-, padahal bahasa tersebut sudah jarang sekali dipakai dalam percakapan sehari-harinya. Hampir setiap manusia punya keterikatan yang kuat terhadap bahasa ibu yaitu bahasa yang dikenalnya semenjak kecil. Bukan hanya di Indonesia saja, di Timur Tengah semenjak jaman jahiliyah-pun mereka sudah menyadari konsep bahasa ibu ini, kita mengetahui sejarah Rasulullah yang semenjak kecil sengaja dititipkan ke pengasuh yang berada di daerah Baduwi (pinggiran) agar bahasanya baik, karena pada masa itu saja bahasa Arab yang dipakai di kota sudah mulai rusak baik disengaja ataupun tidak.

Pengrusakan bahasa ini kadang memang terjadi secara alami, kadang juga memang disengaja oleh pihak tertentu dengan tujuan tertentu juga. Bahkan bukan hanya pengrusakan bahasa, pemusnahan bahasa juga menjadi salah satu cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu. Semenjak terjadinya perang pemikiran terlihat dengan jelas metode pengrusakan dan pengaburan bahasa menjadi salah satu metode Barat dalam merusak dan menghancurkan pondasi dasar kaum Muslimin. Dimulai dengan membelokkan makna kata-kata yang sudah jelas artinya hingga menjauhkan kaum muslimin dari bahasa aslinya yaitu bahasa Arab. Dan ketakutan mereka sudah sangat merasuk bahkan bahasa lain yang digunakan kaum muslimin-pun mereka upayakan untuk disimpangkan maknanya. Kita mengenali istilah Islam, jihad, iman, kufur, shalat, zakat sudah disimpangkan dari arti aslinya, dan banyak kaum muslimin yang begitu ketakutan ketika menggunakan kata ini dalam definisi aslinya. Dalam bahasa Indonesia istilah fundamental, fanatik juga menjadi istilah yang ditakuti oleh masyarakat. Continue reading


Bukan Emosi, Melainkan Logika Rasional yang Antarkan Abdallah pada Islam

Abdallah | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika memutuskan memeluk Islam, ia tak mendapat dukungan dan panduan khusus dari Muslim lain. Namun tekadnya bulat untuk tetap belajar dan berkontribusi dalam dakwah demi bisa membantu mualaf lain menjalani transisinya dengan lebih mudah.

Itulah Abdallah, lelaki berdarah India yang lahir dan besar di Toronto. Kehidupan dia sebelum Muslim adalah campuran antara India, agama Hindu dan budaya barat ala Kanada. “Sehingga ketika saya besar, saya masih mengenal baik budaya, bahasa saya dan juga agama orang tua,” tuturnya.

Ia juga kerap mendatangi kuil, selalu pergi ke kemah musim panas, sekolah Minggu dan mengikuti kegiatan keagamana. “Jadi saya melalui semua adat istiadat dan ritual baik milik orang tua saya di rumah maupun di sekolah,” ungkapnya.

Sewaktu menjadi pelajar, Abdallah mengaku tipe yang serius, terutama saat duduk di bangku SMA. Namun ia juga tetap suka bersenang-senang. “Saya sangat suka musik, bahkan pada usia 11 tahun saya bisa bermain gitar,” katanya.

Perjalanannya menuju Islam, menurut Abdallah jauh dari kebanyakan mualaf lain. “Saya merasa tidak memiliki masalah secara emosional yang mendorong saya menuju kebenaran,” tuturya. “Hanya saja sewaktu muda saya sudah merasa tidak cocok dengan agama orang tua,” imbuhnya.

Meski, ungkapnya, ada suatu saat ia begitu membela dan taat terhadap agama orang tuanya. “Saya begitu taat seperti kerang. Namun saat itu yang terasa kosong, karena saya sadar bahwa saya hanya mencoba membela diri dan berpikir orang-orang akan menyerang keyakinan ini dari berbagai aspek,” ujarnya.

Abdallah sulit menerima gagasan banyak tuhan untuk disembah. “Itu rasanya tidak cocok untuk saya. Selain itu banyak pemaparan berbeda yang sama sekali tak logis apalagi ilmiah,” ujarnya. “Saya tidak puas dengan kebenaran yang saya yakini saat itu.”

Ia pun memutuskan untuk meninggalkan agama orang tua pada usia remaja. Keluar dari Hindu ia pun menuju Injil. “Saya membaca kitab itu dan begitu indah karena saat itu ada konsep satu Tuhan. Kalau tidak salah saya temukan itu pada Kitab Perjanjian Lama,” tutur Abdallah. Continue reading


Amerika Masih Serius Perang Melawan Terorisme

gaulislam edisi 203/tahun ke-4 (13 Syawal 1432 H/ 12 September 2011)
Hehehe.. kamu jangan keburu stres kalo baca judul gaulislam edisi ke-203 ini. Dari judulnya aja panjangnya minta maaf (hehehe sengaja pake kata “maaf” karena kata ampun hanya ditujukan kepada Allah Swt.); enam kata! Belum lagi pilihan katanya. Heuhh bikin kamu bete kalo nggak biasa baca tulisan-tulisan dengan serius dan bakalan nganggap tuh judul serem banget. Hmm…

Bro en Sis pembaca setia gaulislam. Sengaja saya membuat judul panjang seperti ini dan mengangkat tema terorisme karena sedang hangat dibincangkan. Maklum, kemarin, 11 September 2011 adalah bertepatan dengan 10 tahun teror bagi Amerika. Kamu pasti udah pada tahu juga, minimal bagi yang baca berita serius ya, bukan cuma baca info sepakbola ama musik doang, bahwa pada 11 September 2011 silam dua gedung kembali di Amerika Serikat, yakni WTC (World Trade Center) ditubruk dua pesawat terbang yang disebut-sebut dibajak oleh teroris.

Sobat muda muslim, saya waktu menyaksikan siaran berita pada 10 tahun yang lalu itu, nyaris nggak percaya bahwa itu adalah adegan nyata, bukan dalam film. Soalnya, dramatis banget sih, jarang ada sebuah peristiwa besar yang mendadak seperti itu berhasil diabadikan kamera televisi dengan begitu pas dan angle pengambilan gambar yang bagus banget. Hehehe.. belakangan ternyata apa yang sempat saya sebut sebagai momen yang dramatis terungkap juga, bahwa sebenarnya kejadian itu diduga kuat (atau bahkan) sudah dipastikan adalah bagian dari skenario yang dibuat AS sendiri untuk meyakinkan rakyatnya dalam upaya pemerintahan Bush memburu Osama bin Ladin atas nama War on Terrorism (Perang Melawan Terorisme).

Okelah, kita nggak akan menceritakan momen tersebut dengan detil karena sudah banyak media massa yang memberitakan, termasuk yang meragukan kalo itu murni teror dari pihak teroris. Artikel ini saya buat untuk gaulislam agar pembaca remaja muslim ngeh juga dengan kondisi saat ini. Kondisi politik, kondisi kaum muslimin. Gimana pun juga, kamu semua adalah penerus perjuangan Islam dan kaum muslimin, jadi kudu ngerti dan paham soal perang melawan terorisme yang sering digembar-gemborkan Amerika dan para sekutunya lengkap dengan para begundalnya. Waduh, nih bahasa apa nggak ada yang lebih santun? Hehehe.. kebetulan menurut saya pas dengan faktanya kok. Continue reading


Kekuatan cinta

Assalaamu’alaikum wr wb

Dulu saya pernah menganggap bahwa cinta hampir selalu berhubungan dengan kelemahan, kelembutan, dan mungkin sifat melankolis. Seseorang yang jatuh cinta akan memposisikan dirinya sebagai seseorang yang romantis, lembut, menarik perhatian dan sangat menyenangkan. Tidak salah juga sih. Karena faktanya banyak juga yang demikian.

Namun, belakangan setelah banyak bergaul dengan orang dari berbagai kalangan, juga membaca beragam buku, saya menemukan kenyataan bahwa cinta itu luar biasa. Lebih dari sekadar kelembutan dan hubungannya dengan lawan jenis saja. Cinta begitu luas. Bahkan mampu menjangkau begitu banyak aspek. Hingga definisi tentang cinta itu sendiri jadi kian beragam.

Tapi yang jelas, cinta akan menggerakkan seseorang untuk melakukan apa saja demi sesuatu yang dicintainya. Untuk apa? Minimal untuk kesenangannya. Karena kata pepatah juga, “Seseorang yang jatuh cinta, sejatinya adalah karena cintanya kepada dirinya sendiri.” Ia akan mencari sesuatu yang mampu memuaskan rasa dirinya dengan mencintai seseorang atau benda. Bahkan rela untuk berkorban untuk meraih apa yang dicintainya.

Itu sebabnya, saya pernah mendengar ada selebritis kita yang rela mengoleksi pernak-pernik yang berhubungan dengan benda yang dicintainya. Bahkan sampe berburu ke luar negeri segala. Saking cintanya kepada benda-benda itu, ia rela mengeluarkan banyak uang. Seorang anak tetangga saya, bahkan sering tidur bersama kucing kesayangannya. Tentu, kalo bukan karena cintanya, nggak mungkin dong mau berbuat begitu. Ia menjadi orang-orang yang rela berbuat apa saja demi sebuah cinta. Continue reading


Mualaf Mu Kim Ni: Memilih Islam karena Kagum dengan Harmonisasi Keluarga Muslim

Mu Kim Ni aka Murniati Mukhlisin | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Karena merindukan profil keluarga yang rukun dan damai, Mu Kim Ni, kabur dari rumahnya di Baturaja Sumatera Selatan, tahun 1991. Saat itu, ia baru tamat SMA. Ani, begitu perempuan kelahiran 17 Oktober 1972 ini akrab disapa, menemuka kedamaian dan keharmonisan justru di dalam keluarga sahabat–sahabatnya yang dijumpai di rumah mereka saat belajar bersama semasa SMA.

Ia melihat keluarga teman-temannya yang Muslim sangat harmonis menjalankan ajaran agama Islam dengan tekun. Alasan ini pula yang  mendorongnya memeluk Islam. Namanya kemudian berganti menjadi Murniati Mukhlisin.

“Saya ingin memperbaiki keadaan keluarga dan memberikan contoh kepada keluarga terutama adik–adik, tentang makna sebuah keluarga,” kata ibu dari Layyina Humaira Tamanni (11), Hayyan Hani Tamanni (9) dan  Rayyan Ayman Tamanni (7)  ini.

Namun bukannya didengar, ia malah diejek dan dicemooh. Namun, Ani tak terlalu mengambil hati dan tetap melakukan pendekatan pada keluarga.

Melalui seorang wartawan, Ani mendapatkan rekomendasi orangtua asuh dari PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Ia diterima dengan hangat di keluarga Ustazah Qomariah Baladraf Teh Giok Sien di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Di Jakarta, Ani aktif mengikuti kegiatan kepemudaan Islam di Masjid Istiqlal dan di Yayasan H Karim Oei, di Jl Lautze. Secara ekonomi, ia juga mulai mandiri setelah diterima bekerja di sebuah bank swasta di Jalan Sudirman Jakarta. “Walau kadang sedih juga,  karena harus melepas jilbab setiba di kantor, karena bank yang banyak memperkerjakan staf non-Muslim tidak memberikan izin berjilbab,” katanya. Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 874 other followers