Arsip Bulanan: Désémber 2011

Butuh “tempat curhat” seputar penulisan? Yuk, mari di sini!

Assalaamu’alaikum wr wb

Bagi teman-teman yang ingin sharing seputar penulisan bersama saya, insya Allah akan diadakan pada Sabtu, 31 Desember 2011. Mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB melalui fasilitas chat Yahoo! Messenger dengan model conference. GRATIS! Ini memungkinkan untuk bisa dihadiri lebih banyak orang.

Jika mau, konfirmasi kehadiran bisa dimulai sejak diumumkannya acara ini di blog, twitter maupun facebook saya hingga 1 jam menjelang acara pada 31 Desember 2011, pukul 20.00 WIB. Jadi, silakan dari sekarang kirim ID YM Anda via email: sholihin@mail.ru. Atau mau via SMS juga boleh (ke: 0817-9949470). Insya Allah akan saya invite untuk masuk ke Conference di Yahoo! Messenger.

Semoga bermanfaat.

Salam,

O. Solihin


Tak Ada Kebebasan Beragama!

gaulislam edisi 218/tahun ke-5 (1 Shafar 1433 H/ 26 Desember 2011)

 

Wedew, tema gaulislam pekan ini ‘serem’ banget (bagi yang menganggapnya demikian, dan sekadar tema biasa aja bagi yang memiliki anggapan sebaliknya). Okelah itu bukan soal tema serem or tema manis. Judul ini memang terinspirasi dari kondisi saat ini, di mana orang bebas memeluk agama dan juga bebas untuk nggak beragama. Ya, itu memang hak setiap orang. Mau jadi muslim atau jadi kafir memang pilihan. Bukan paksaan. Tapi yang pasti, urusan tersebut ditanggung masing-masing orang baik di dunia maupun di akhirat kelak. Artinya, nggak bebas juga pada akhirnya, sebab setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya.

Oya, tema ini diambil juga karena banyaknya kaum muslimin, khususnya remaja yang kebingungan untuk menentukan sikap ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa ada agama selain Islam. Berbekal pengetahuan minim tentang ajaran Islam, banyak kaum muslimin dengan alasan toleransi akhirnya malah ikut serta dalam perayaan agama selain Islam, misalnya ikut acara Natal. Waduh!

Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, judul yang saya pilih dalam gaulislam edisi 218 ini adalah: “Tak Ada Kebebasan Beragama!” maksudnya: “setiap orang nggak bisa bebas dalam menafsirkan ajaran agama sesuai hawa nafsunya”. Selain itu, target penulisan ini juga ditujukan agar umat manusia paham bahwa naluri beragama itu ada pada setiap diri manusia, maka munculkan dan salurkan pada jalur yang benar sesuai tuntunan wahyu yang sudah ditetapkan syariat. Nggak boleh mengikuti selera hawa nafsu manusia itu sendiri yang cenderung menjauhkan dari ajaran syariat. Continue reading


“Sharing Penulisan” Bersama O. Solihin; GRATIS!

Assalaamu’alaikum wr wb

Bagi teman-teman yang ingin sharing seputar penulisan bersama saya, insya Allah akan diadakan pada Sabtu, 31 Desember 2011. Mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB melalui fasilitas chat Yahoo ! Messenger dengan model conference. GRATIS! Ini memungkinkan untuk bisa dihadiri lebih banyak orang.

Jika mau, konfirmasi kehadiran bisa dimulai sejak diumumkannya acara ini di blog, twitter maupun facebook saya hingga 1 jam menjelang acara pada 31 Desember 2011, pukul 20.00 WIB. Jadi, silakan dari sekarang kirim ID YM Anda via email: sholihin@mail.ru. Atau mau via SMS juga boleh (ke: 0817-9949470). Insya Allah akan saya invite untuk masuk ke Conference di Yahoo! Messenger.

Semoga bermanfaat.

Salam,

O. Solihin


Melinda Baily; Bermula dari Islamnya Sang Kakak

Melinda Baily | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, SOUTH CAROLINA – Melinda Baily baru tiga tahun memeluk Islam. Lahir dari ayah berdarah Polandia dan ibu berdarah Italia, kehidupan keluarganya benar-benar didedikasikan untuk Kristen.

Perkenalannya dengan Islam, tak lepas dari sang kakak. “Kakakku memiliki hubungan serius dengan pria Muslim,” ujar dia seperti dikutip onislam.net.

Sang kakak terlebih dulu mempelajari Islam. Awalnya, dalam keluarga Melinda tak satu pun yang mengenal Islam. Kehadiran calon kakak ipar disambut baik oleh keluarga. Kakaknya mulai ‘meraba-raba’ untuk belajar tentang cara pandang calon suaminya itu.

Keinginan sang kakak untuk belajar Islam tak terbendung lagi. “Dia ingin membuat keputusan tentang agama apa yang ingin mereka ajarkan kepada anaknya. Dia tak ingin memperkenalkan anak-anaknya dengan agama yang ia sendiri tidak yakin,” kata wanita yang tinggal di Carolina Selatan ini.

Sang kakak akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam setelah belajar selama dua tahun. Kakaknya mengatakan pada anggota keluarga bahwa ia tak lagi bisa menerima ajaran Trinitas yang selama ini dianut. Berislamnya kakak Melinda, pada mulanya dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan.

Bagaimana tidak, begitu banyak kesalahpahaman yang bisa terjadi karena masalah agama. Banyak perubahan besar yang terjadi pada diri sang kakak. Mulai dari cara pandang, cara berpakaian, cara berpikir dan semuanya. “Sungguh, saat itu aku benar-benar tidak tertarik pada Islam. Sangat menakutkan untuk melihat kakak banyak mengalami perubahan,” kenang Melinda. Continue reading


Cinta Butuh Komitmen

gaulislam edisi 217/tahun ke-5 (23 Muharram 1433 H/ 19 Desember 2011)

 

Ilustrasi | Gambar dari: berbagimakna.blogspot.com

Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, alhamdulillah ketemu lagi dengan buletin kesayangan kamu semua ya. Semoga kebersamaan kita juga sekaligus menyatukan pikiran dan perasaan kita. Menyamakan persepsi bahwa Islam adalah gaya hidup kita. Menyatukan visi bahwa hanya dengan Islam, kehidupan kita akan mulia di dunia dan di akhirat. Selain itu, kita mampu mengikatkan diri dalam satu upaya: mencintai Islam dan ajarannya sebagai bentuk komitmen kita terhadap perjuangan dakwah demi menggapai ridho Allah Swt.

Sobat muda muslim, perlu juga dikasih tahu istilah komitmen nih, soalnya pernah lho ada teman kita yang nggak tahu istilah konsisten. Hehehe… dalam kamus, tertulis: commitment kb. 1 janji. commitments memenuhi janji-janjinya; juga berarti tanggung jawab. Kalo dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), komitmen artinya perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; bisa juga berarti kontrak.

Itu sebabnya, kalo kita ngomong soal komitmen pastinya ada hubungan dengan apa yang telah kita ikrarkan atau kita sepakati dalam melakukan atau membuktikan sesuatu. Kalo kita cinta kepada diri sendiri, maka kita harus berani membiasakan diri kita ditempa dengan disiplin, bila perlu dalam level tertentu disiplin bisa berfungsi untuk ‘menghukum’ kita agar lebih kuat, lebih semangat, lebih memiliki komitmen serius. Namun demikian, jangan sampai alasan mencintai diri kita sendiri lalu menjadikan kita egois dengan nggak mau mikirin orang lain. Bukan begitu, sobat. Justru sebaliknya, karena kita mencintai diri sendiri maka kita harus berkomitmen untuk menjaga janji itu dan kita aplikasikan juga dalam mencintai kepada sesama. Sebab, kepada orang lain saja kita cinta, apalagi kepada diri sendiri. Logika sederhananya sih gitu. Continue reading


Kisah Aysha, Mualaf Hungaria

Aysha | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, BUDAPEST – Bagi Aysha, Islam bukanlah sesuatu yang asing. Wanita asal Hungaria Utara ini sudah mendengar kata itu sejak duduk di bangku SMP. Bagaimana tidak, negara tempat ia tinggal merupakan salah satu bekas ‘jajahan’ Turki selama 150 tahun.

Pengetahuan tentang Islam banyak ia dapatkan di mata pelajaran sejarah. Islam cukup membekas dalam benaknya. Lulus dari SMA, Aysha mengambil kuliah biologi molekuler.

Di kampus tempatnya belajar, ia banyak berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa Muslim. Banyak bergaul dengan mereka, lama-lama membuat Aysha penasaran tentang Islam. “Aku heran bagaimana mereka sangat bangga menjadi seorang muslim,” ujarnya.

Sebelum memeluk Islam, Aysha adalah seorang Khatolik. Walaupun mengaku taat, ada bagian tertentu dalam ajaran Khatolik yang tak bisa diterima oleh hatinya. Ia tak yakin bagaimana Tuhan bisa memiliki seorang putra sesuai konsep trinitas yang dianutnya.

Soal keraguannya tentang agama, ia bercerita kepada seorang teman yang Muslim.  Suatu hari, ia dan kawannya makan bersama. Ia mulai terpesona dengan Islam sejak mendengar azan yang pertama kali.

Selanjutnya, perjalanannya menuju cahaya Islam seperti sesuatu yang mengalir begitu saja. Ia juga tak tahu dengan alasan apa, tiba-tiba di satu musim panas, ia mendownload program Alquran.

“Aku mendengarkan Alquran dalam bahasa Arab dan membaca terjemahannya dalam bahasa Inggris. Lalu aku banyak berpikir tentang Islam dan membaca berbagai buku tentang agama ini,” kata dia.

Hanya berselang dua bulan sejak saat itu, Aysha memutuskan untuk masuk Islam. Ia bersyahadat disaksikan dua orang temannya. Continue reading


Karena Bekerja Itu Mulia

gaulislam edisi 216/tahun ke-5 (16 Muharram 1433 H/ 12 Desember 2011)


gambar dari: desiran.blogspot.com

“Bapak kamu kerjanya di PLN ya?”

“Kok tahu?”

“Abisnya kalo ketemu kamu, hati aku jadi kayak kena setrum deh”

Huaaahaaahaha! Gokil abis dah gombalan ‘bapak kamu dan pekerjaan si bapak’.  Kasian aja nih si bapak, kerjaannya jadi dibikin gombal alay mulu dah. Oke Sob, sebenarnya bahasan gue nggak jauh-jauh banget dari topik pekerjaan. Yup, masalah kerja atawa profesi ortu kita! Ada masalah? Kayaknya sih… So, cekidot dah tulisan gue.

Malu malu malu

Kamu pernah malu nggak, kalo pas ortumu disuruh ama wali kelas ngambilin raport ke sekolahan?  Bukan masalah malu karena nilai di raport yang pas-pasan, tapi berhubung profesi ortu kayaknya nggak keren banget.  Jadi rasanya nggak pede aja bawa-bawa ortu ke sekolahan. Kadang nggak enak aja kalo dibandingin ama ortu temen-temen yang penampilan di depan umum udah kesana kemari bawa BB, iPad, iPhone. Lah ortu kita cuma bawa hape jadul yang cuma bisa buat nelpon dan sms-an. Terus ditanya ama temen-temen, ortu kamu kerja di mana, jadi apa? Gengsi banget kalo ngaku ortu kerjanya dagang cendol keliling, buka lapak gorengan atau jadi cleaning service. Hufft…

Jadi inget deh ama sinetron Go Go Girls yang dibintangi ama para personel girlband 7Icon. Nah, dalam cerita sinetron itu mereka yang bisa masuk sekolah musik en tari, rata-rata lulus tes bakat plus dari keluarga orang berduit alias tajir. Kalo pun nggak tergolong tajir ya karena memang beruntung lulus tes bakat plus dapat subsidi beasiswa dari sekolah tersebut walau pun ujung-ujungnya kudu tersingkir dari pergaulan. So, yang tadinya punya ortu berprofesi jadi supir taksi (baca: taxi driver), malah ngaku-ngaku kalo ortunya pengusaha cuma supaya bisa diterima bergaul nge-gank ama cewek-cewek tajir yang dianggap keren. Continue reading


Jadi Muslimah, Jessica Fay Tidak Lagi Dijuluki ‘Si Blonde Bodoh’

Jessica Fay | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID,  COLUMBIA – Rambut pirang Jessica Fay kini tertutup balutan kain. Ya, ia telah menjadi seorang Muslimah dan konsisten mengenakan jilbab. “Akhirnya, aku tidak lagi mendengar cemooh yang mengatakan diriku sebagai ‘si pirang bodoh’,” ungkap Jessica seperti dikutip columbiamissourian.com, Rabu (7/12).

Selama dua tahun terakhir, Jessica mendalami Islam. Ia tak mau hanya sekedar bersyahadat.Tak lama setelah menyatakan keislamannya, ia pun memutuskan mengenakan jilbab.

“Ada banyak alasan aku memutuskan mengenakan jilbab. Alquran telah mengajarkan bagaimana seorang Muslimah berpakaian yakni menutupi kepala sampai kaki, dengan sebagian besar lengan tertutup,” kata dia.

Ia sadar putusannya menjadi Muslim dan mengenakan jilbab akan menarik perhatian lingkungan di sekitarnya. Ia pun menjadikan pandangan orang lain sebagai latihan memperkuat keimannya. “Aku merasa bahagia. Aku tidak lagi melihat pria melihat tubuhku. Mereka justru mengalihkan perhatian ke objek yang lain,” kata dia.

Jessica mengaku semenjak mengenakan jilbab, ia merasa lebih terhormat dan bermartabat.”AKu tidak perlu menunjukan bagian tubuhku untuk mendapatkan rasa hormat dari seorang pria,” ungkapnya. Continue reading


Jangan Ada Lesbian di Sekitar Kita

 gaulislam edisi 215/tahun ke-5 (9 Muharram 1433 H/ 5 Desember 2011)

 

Waduh, fenomena menyukai sesama jenis makin marak di kalangan remaja. Bukan hanya di mancanegara, tapi juga merambah Indonesia yang katanya penduduknya mayoritas muslim ini. Kaum Hawa yang fitrah dirinya pemalu juga telah terjangkit penyakit masyarakat yang membahayakan tersebut. Bila dulunya suka sejenis didominasi kaum Adam, saat ini kondisi ini mulai bergeser.

Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, di sebuah situs pribadi internet, seseorang menangkap basah aktivitas lesbian ini. Mereka bermesraan di muka umum tanpa ada rasa canggung. Banyak yang menghujat kegiatan abnormal dan mesum mereka berdua, tapi tak sedikit juga yang bersimpati bahkan menjadi pengikutnya. Benar-benar sudah tak berakal lagi mereka ini.

Seolah-olah menjadi tren sesat, aktivitas menyukai sejenis menjadi idola remaja. Mereka pun tak lagi malu menunjukkan jati diri sebagai lesbian. Lebih jauh lagi, mereka berani menuntut haknya dan meminta diperlakukan sama sebagaimana warga masyarakat lainnya. Yang lebih memalukan, mereka pun asyik-asyik saja bermesraan di muka umum tanpa ada rasa risih sedikit pun. Tak adanya pihak lain yang menegur, membuat sikap lesbian ini makin merajalela. Remaja yang karakternya labil, bukan tak mungkin meniru sikap bejat seperti ini.

Bila dirunut, kasus lesbian ini muncul pasti ada sebabnya. Yuk kita bahas sekaligus temukan solusinya agar generasi muda kita tak terpengaruh dan ikut-ikutan pola hidup rusak ini. Continue reading


‘Mati Ketawa’ Cara REHAT-Republika

Kumpulan REHAT Republika yang berhasil saya koleksi. Sayangnya, tanggal terbit Republika tersebut tidak tercantum karena rubrik ini sudah dalam bentuk kliping. Tapi, yang terpenting adalah isinya. Semoga bisa tetap tersenyum “menikmati” suka-duka hidup ini :-)

 

Anggota KPU diduga terima cek suap dari pelaksana proyek pemilu

One man, one vote, one cek…

Merebak tuntutan agar pemilu diulang

Demi demokrasi atau proyek pemilu lagi?

Perhitungan suara secara nasional ditunda

Nunggu tambahan cek ya…?

Pengamat: Partai pemenang pemilu diminta urus kebudayaan

Budaya mitos…?

KPU tunda lagi perhitungan suara nasional hasil Pemilu

Komisi Pengulur-Ulur

TNI setuju voting ‘satu orang satu suara’ di MPR

Yang penting ‘dua fungsi’ aman…

Aisyah Amini ingin wanita tampil berkualitas

Maksudnya harus terus ‘diam’ ya?

Mario Carrascalao segera jelaskan posisinya di DPA Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 874 other followers