koran

7 Hal Penting Saat Membaca Berita

Alhamdulillah punya kesempatan untuk berbagi lagi dengan Anda semua. Setiap hari kita dijejali oleh banyak informasi (salah satunya berupa berita) di media massa. Namun, dari sekian banyak berita yang kita baca, kadang menimbulkan salah informasi dan bahkan salah memahami. Beberapa tips dalam membaca berita perlu Anda ketahui, yang saya rangkum dalam judul 7 hal penting saat membaca berita. Berikut uraiannya:

  1. Jangan mudah percaya. Ini penting sekali. Setiap berita yang diproduksi oleh media massa tertentu, pastilah memiliki sudut pandang tertentu pula sesuai cara pandang orang-orang yang berada di belakang pengelolaan media tersebut. Sebenarnya ini hal yang wajar. Sebab, setiap orang (termasuk saya) yang menulis sebuah berita atau informasi, tak bisa melepaskan dari cara pandang. Namun, jika itu adalah sebuah berita, maka informasi yang ditulis seharusnya netral. Kenyataannya? Tidak selalu demikian. Ciri-ciri sebuah berita sudah disusupi opini penulisnya adalah dijejalkan kata-kata seperti: Duh, Awas, Alhamdulillah, Pikirkan dsb. Ini dalam konteks straight news. Walau dalam konteks news feature atau feature–dimana penulisnya boleh memberi opini, hal itu masih dibolehkan.
  2. Bandingkan dengan media lain. Jika satu berita membuat kita ragu, mungkin salah satunya karena tidak mudah percaya itu, maka kita coba bandingkan dengan pemberitaan di media massa lainnya. Bila perlu 2 atau 3 media sekaligus untuk berita yang sama. Jika ada perbedaan, maka telusuri apa penyebabnya. Memang, tidak semua orang piunya kemampuan yang bagus dalam membedakan satu berita dengan berita lainnya. Namun, setidaknya punya pegangan, sumber berita mana yang mendekati kebenaran terhadap fakta yang ditulisnya.
  3. Tak terburu-buru untuk membagikannya. Hal ini penting. Sebab, konsekuensi dari tidak mudah percaya adalah tidak terburu-buru membagikannya sebelum berita itu benar-benar sesuai fakta. Biasanya banyak di antara kita yang ‘agresif’ membagikan sebuah pesan–terutama yang bernilai kontroversial–seolah dirinya paling tahu lebih dulu dan merasa berjasa membagikannya kepada orang lain. Teliti terlebih dahulu. Siapa tahu berita itu bohong (hoax). Cermati sumbernya. Jika itu di internet, lihat link-nya dan juga tanggal diterbitkan. Jangan asal berbagi.
  4. Tidak langsung antipati. Meski kita tak boleh mudah percaya terhadap suatu berita, namun kita juga tidak langsung antipati atau menolak dengan keras terhadap suatu berita. Cermati terlebih dahulu isinya. Jika kita terbiasa membaca banyak fakta dan peristiwa di media massa, biasanya akan mudah untuk mengenali jenis berita yang isinya bernada provokasi, menghasut, atau sekadar iseng. Jika sudah terbukti berita tersebut tidak benar. Kita bisa menolaknya.
  5. Diskusikan dengan yang lain. Poin ini penting jika pada faktanya kita tidak bisa sendiri dalam memilih dan memilah berita. Maka, perlu orang lain untuk teman diskusi dalam membahas sebuah berita. Bila memungkinkan, boleh juga membentuk sebuah forum khusus untuk membaha berita-berita setiap pekannya yang didapat. Tujuannya untuk berbagi pendapat demi mencapai pemahaman yang benar terhadap berita yang didapat.
  6. Mempertanyakan dengan cara menuliskan. Bila Anda terbiasa membaca biasanya akan terbiasa menulis. Maka, setiap kali ada kerisauan di hati setelah membaca sebuah berita dan belum menemukan jawaban meski telah dicoba dari tips ini sampai poin 5, silakan saja dibagikan kerisauan Anda di media sosial. Siapa tahu ada teman yang bisa memberikan jawaban. Meski mungkin pada akhirnya tak ada jawaban pasti, tetapi dengan adanya pendapat lain bisa memberikan tambahan wawasan untuk membangun persepsi.
  7. Obyektif sekaligus subyektif. Obyektif terhadap fakta. Namun subyektif dalam sudut pandang. Saya pribadi, sebagai muslim menjadikan Islam sebagai cara pandang saya dalam menilai suatu fakta, termasuk berita. Namun, saya memiliki standar obyektivitas dalam mencari dan menerima sebuah berita. Tak mudah percaya, verifikasi, dan terus mencari sesuai kemampuan melacak sumber berita. Namun, dalam menilai isi berita, saya menggunakan subyektivitas sebagai muslim, yakni dengan sudut pandang Islam. Hal ini penting karena sebuah berita yang menyudutkan Islam, seringkali terjadi. Misalnya, berita tentang terorisme. Islam dan kaum muslimin identik dengan itu dalam beberapa pemberitaan. Saya pribadi memilih “wait and see” dalam menyikapi hal itu. Jika memang benar, ya tugas saya memberikan penjelasan, tetapi jika itu salah, juga akan saya berikan penjelasan. Intinya, saya pribadi tidak ikut-ikutan langsung menyalahkan Islam dan kaum muslimin hanya karena berita yang disebar pihak tertentu. Inilah poin penting yang terakhir.

 

Demikian tips dan trik dari saya terkait menyikapi sebuah berita. Semoga ada manfaatnya. Terima kasih.

Salam,
O. Solihin