Menabur Cinta, Menuai Bahagia


[catatan kecil perjalanan ke Balikpapan]

25 Oktober 2003

Hari masih pagi. Jam masih menunjukkan pukul 05.00 WIB. Udara kota Bogor dingin. Jalanan basah diguyur hujan semalam. Suasana Pasar Anyar seperti biasa, ramai oleh pembeli dan penjual. Mereka biasanya datang dari berbagai kota pinggiran di Bogor. Saya juga betah menikmati pemandangan pagi hari ini sambil menunggu mobil yang akan membawa ke Bandara Halim Perdanakusuma. Saya sengaja mencarter mobil, selain karena harus check in pukul 06.00 WIB, jalan masuk ke sana relatif lebih sulit dijangkau angkutan umum.

Pukul 05.15 WIB, mobil yang akan membawa saya ke bandara belum nongol juga. Suasana pasar kian ramai karena para penjual kemudian merangsek ke badan jalan. Tidak lagi di bahu jalan. Saya berpikir ulang untuk menunggu di depan Alfa Mart yang langsung berhadapan dengan jalan yang sudah macet total itu. Sementara nanti jika mobil itu datang, pasti akan melewati jalan itu. Bisa berbahaya karena terjebak macet!

Saya kembali kontak pemilik kendaraan untuk mengubah tempat janji. Berhasil, dan akhirnya saya ubah tempat janji bertemunya di Jl. Jendral Sudirman, depan Air Mancur. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar 5 menit.

Alhamdulillah, akhirnya, setelah menunggu, pukul 05.25 WIB, Mitsubishi Kuda meluncur deras ke arah Jakarta. Menyusuri jalan tol Jagorawi di pagi hari cukup menyegarkan dan tentunya tidak macet. Pukul 06.10 WIB sampai di Bandara Halim Perdanakusuma. Sebelumnya saya kontak dulu via HP ke Pak Aldi, karena menurut Yana, salah seorang panitia acara di Balikpapan, untuk konfirmasi tiket harap menghubungi beliau. Sukses dan saya langsung check in. Saya dibekali tiket bertanda ‘khusus’ untuk bisa terbang dengan Pelita Air Service.

Setelah dapat boarding pass, saya menikmati secangkir kopi hangat dan kue untuk sarapan pagi sambil menghitung menit hingga pukul 08.00 WIB yang merupakan jadwal keberangkatan pesawat ke Balikpapan. Untuk menghilangkan kejenuhan, saya berkeliling ke ruang tunggu khusus bagi mereka yang merokok sambil mencari personel Tazakka yang saya sendiri belum mengenalnya. Tapi hingga pukul 07.15 WIB Tazakka masih belum juga nongol. Sedikit cemas juga. Kasihan juga kan kalau ada apa-apa di jalanan yang kemudian membuat mereka telat datang ke bandara.

Sekitar pukul 07.25 WIB, ada empat anak muda yang ‘mencurigakan’ sekali gerak-geraknya. Nah, karena saya dapat informasi dari Yana bahwa Tazakka akan datang berempat, maka keempat pemuda itu langsung menarik perhatian saya. Jujur saja, ketika mereka bergerombol melewati kursi saya di depan ruang tunggu yang tak ber-AC karena khusus untuk mereka yang merokok, ada perasaan ragu dalam diri saya: “Bener nggak neh orangnya?” Pertanyaan dalam hati saya belum terjawab, sampai keempat pemuda ini masuk ke ruang tunggu ber-AC.

Untuk mengobati rasa penasaran, akhirnya saya mengejar mereka ke ruang tunggu. Mata saya memindai satu persatu orang yang ada di situ. Kosong. Saya kejar ke toliet dekat mushola. Akhirnya, keempat makhluk manis itu ada di sana. Tanpa basa-basi lagi saya langsung ‘todong’ salah satu dari empat anak muda itu. “Maaf, dari Tazakka ya?” dengan perasaan cemas saya bertanya.

“Iya, betul,” ujar salah seorang yang kemudian saya ketahui bernama Aldin. Lega rasanya. Lalu bersalaman dan berkenalan dengan ketiga Zezaka lainnya. Tapi saya tak berhasil menemukan Ali Coboy dan temannya.

Pukul 07.50 WIB, terdengar pengumuman. “Para penumpang Pelita Air Service tujuan Balikpapan, mohon untuk segera menuju pesawat.” Kami langsung bersiap dan menaiki bis untuk menuju pesawat yang sudah dari tadi ‘ngetem’ di lapangan bandara. Kami menaiki Fokker 100 milik Pelita Air untuk menerbangkan kami ke Balikpapan. Kami duduk berpisah karena sesuai dengan nomor tempat duduk. Saya sempat melihat Ali Coboy dan temannya, yang kemudian saya ketahui bermana Tinih. Tapi nggak sempat tegur sapa, karena kemudian suasana komunikasi didominasi kru pesawat. Seperti biasa, terutama kru pramugari sibuk memberi briefing tentang penggunaan sabuk pengaman, kantong udara, termasuk bagaimana menggunakan life jacket dan membuka pintu emergency jika kondisi darurat. J

Setelah melintasi pulau dan lautan sekitar 1 jam 50 menit, akhirnya kami bersiap mendarat di Bandara Sepinggan, Balikpapan. “Para penumpang yang terhormat, beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di Bandara Sepinggan, Balikpapan. Suhu udara dilaporkan 30 derajat celcius dan cuaca cerah. Terdapat perbedaan waktu 1 jam dengan Jakarta. Waktu setempat menunjukkan pukul 11.50. Mohon tempat duduk Anda ditegakkan, sabuk pengaman dikencangkan, meja di hadapan Anda dilipat sampai pesawat mendarat dan berhenti sempurna”, suara kru pesawat memberi instruksi.

Setelah keluar dari pesawat dengan diantar bis, kami sampai di ruang “Arrival”. Tapi tak langsung keluar karena harus antri mengambil barang bawaan kami di tempat pengambilan barang. Sekitar 15 menit menunggu barang, kami semua keluar lewat pintu “Kedatangan”, dan langsung dijemput kru Bi-Q FM. Saya melihat seseorang yang berpeci, yang kemudian saya ketahui bernama Pak Emil, langsung mengacungkan selembar kertas bertuliskan: “Tazakka, Ali Coboy, Oleh Solihin”.

Singkat kata kami langsung dibawa menggunakan dua mobil melintasi jalanan keluar dari Bandara Sepinggan. Saya bersama Mas Aldin dan Mas Mulyadi dipandu Mas Siswo, juga Mas Dedi di belakang kemudi. Sempat ada insiden kecil di ujung Jl. Marsma Iswahyudi, tak jauh dari bandara, sebuah mobil pikup bermuatan udang menabrak mobil kijang di depannya. Hasilnya, ratusan udang  berceceran di jalan. “Ah, andai udang itu bisa dan boleh dimakan (dan nggak malu-maluin kalo ngambil dari situ), rasanya pengen banget melahapnya”. Maklum, saya suka sekali hewan laut itu. J

Sekitar setengah jam kami menyusuri jalan di kota Balikpapan, kami memasuki komplek perumahan Pertamina. Barang bawaan kami sempat diturunkan di situ. Istirahat sejenak melepas lelah untuk kemudian kami melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat yang belakangan saya ketahui rumahnya Pak Broto. Cuaca Balikpapan yang cukup panas membuat saya kegerahan. Beruntung di rumahnya Pak Broto memiliki langit-langit rumah yang tinggi, hingga saya bisa menikmati udara sejuk. Setelah berkenalan dan santap siang kami melaksanakan sholat dhuhur berjamaah dengan tuan rumah dan beberapa kru Bi-Q FM. Di antaranya Pak Susilo dan istrinya, serta dua putri mereka yang cantik dan pandai bermain piano. Juga Pak Edwin Badrusomad dan keluarga yang merupakan Dirut Bi-Q, sebuah grup perusahaan yang salah satunya mengelola radio bernuansa Islam. Eh, nggak ketinggalan, ada juga Yana dan Nurul, juga Mas Siswo dan Mas Dedi. J

ooOoo

 

Sekitar Pukul 15.15 WITA, kami menuju Hotel Mitra Amanah. Saya, Mas Ali Coboy dan Mbak Tinih menginap di hotel yang mengusung ‘citarasa’ Islam itu di tiga kamar yang berbeda. Mbak Yana memberikan kunci kamar nomor 208. Namun, kru Tazakka akhirnya memilih kembali ke tempat awal di perumahan Pertamina dengan pertimbangan bahwa di sana jauh lebih representatif untuk latihan ‘teriak-teriak’ sebelum manggung. (tapi kabarnya malam pertama malah aliran listrik ke sana padam ya? Hihihi.. kasihan banget tuh. Tapi nggak apa-apa, mereka ternyata masih punya semangat!) J

Istirahat sebentar di kamar hotel sambil menata barang bawaan dan membersihkan diri. Sekitar pukul 16.20 WITA, saya turun ke lobi hotel. Tapi yang jemput belum datang. Kemudian dapat kabar bahwa jadwalnya diundur sampai pukul 17.00 WITA. Namun karena saya malas ke kamar lagi, akhirnya nunggu di lobi hotel sambil menikmati bacaan dari beberapa koran yang sudah tersedia di situ.

ooOoo

 

Di Studio Bi-Q FM. Yana dan Nurul sedang cuap-cuap ketika saya dan Ali Coboy masuk ruang siaran. Kesan pertama begitu menggoda perhatian. Kenapa? Karena dinding studio dipenuhin bekas wadah telur. Unik juga ya? Dan itu kabarnya sebagai peredam suara. Oke juga memang. Kami cuap-cuap di sana hingga menjelang maghrib. Sempat berdialog dengan beberapa pendengar yang langsung telpon ke studio. Intinya sih, sebagai pemberitahuan bahwa kami sudah tiba di Balikpapan dan besoknya siap ‘manggung’ di Mal Fantasi seperti yang sudah dijadwalkan.

Setelah sempat foto bareng fans (duileee fans! hehehe), kami dipandu Yana meninggalkan Studio Bi-Q FM menuju RM Tanjung Hijrah untuk makan malam. Kenapa RM Tanjung Hijrah? Hmm.. ini adalah ide dari Yana setelah mendapat usulan dari Mas Ali Coboy yang emang maniak sate ayam. Nah, di Tanjung Hijrah itulah tempatnya kalo mau makan sate ayam dan sate kambing.

Ruarrr biasa…, begitu nyampe tempat Mas Ali langsung pesan 15 tusuk, meskipun sudah diberi tahu bahwa ukuran satenya besar. Saya aja tersisa satu tusuk dari sepuluh yang dipesan. Teler euy! Heheheh..Apalagi Mas Siswo ninggalin 3 tusuk sate dan Mas Dedi juga dengan jumlah yang sama. Mbak Yana? Heheh.. sepertinya doi bosen makan sate, hingga milih makan pempek saja. Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan ke SMUN 1 Balikpapan untuk bertemu dengan para nasyider lokal.

ooOoo

 

Di SMUN 1 Balikpapan. Malam itu suasana tampak ramai. Dipenuhi anak-anak SMU yang imut-imut. Kami mendapat sambutan yang cukup meriah. Sambil menunggu Tazakka, grup nasyid lokal, Embun, memamerkan kebolehannya dalam olah vokal. Cukup bagus, meski ada gangguan teknis dari sound system yang digunakan. Tak seberapa lama, kru Tazakka datang juga ke tempat itu. Maka, dimulailah obrolan santai seputar nasyid dipandu presenter Rendy Saputra yang kocak abis membuat suasana meriah. Tak lupa, Yana sebagai “Mrs Doorprize” bagi-bagi hadiah ke peserta. J

Oya, Tazakka juga mendendangkan beberapa lagu hits-nya di acara itu. Seru abis. Suara mereka yang merdu menciptakan histeria tersendiri di kalangan ABG Putri. Pokoknya heboh deh. Apalagi Mas Ali Coboy ikutan nimbrung di situ dan menyumbang satu lagu. Makin seru aja tuh.  Sekitar pukul 21.45 WITA acara beres. Sementara kru Tazakka sibuk membubuhkan tandatangan untuk para fans-nya, saya dan Mas Ali pulang dipandu Mas Siswo dan Mas Dedi. Sebelum menuju hotel Mitra Amanah, kami sempatkan menikmati sekoteng di pinggir Melawai yang kabarnya tiap malam selalu dipenuhi pengunjung untuk menikmati angin laut.

Setelah puas, kami menuju hotel. Saya sempat menikmati tayangan sepakbola. Nonton sedirian siaran langsung pertandingan Liga Inggris via televisi ukuran 21” di kamar hotel. Sayangnya, MU menyerah 1-3 dari Fulham. Hehe… Old Trafford ternyata bukan lagi kuburan bagi tim-tim tamu. Eh, kok jadi ngomongin bola sih? J

ooOoo

 

26 Oktober 2003

Aula AAB (Akademi Akuntansi Balikpapan). Acara yang digelar Bi-Q FM bareng FLP Balikpapan ini cukup semarak. Acara bertajuk “Menjadi Penulis Top, Siapa Takut?” ini dihadiri hampir 80 persen remaja putri. Ali Coboy juga ikutan di acara itu. Khususnya ia bercerita tentang perubahan dirinya yang menjadi lebih alim ketimbang dulu setelah membaca buku “Hidup Sesudah Mati”. Panitia ingin menekankan bahwa sebuah buku juga bisa mengubah seseorang menjadi baik. Persoalannya sekarang, bagaimana cara menulis buku yang baik dan bisa memberi nilai tambah berupa ilmu kepada pembacanya. Karena alasan itu pulalah kemudian acara itu digelar.

Pada sesi tanya jawab cukup banyak yang bertanya. Sebagai ‘imbalanya’, lima penanya pertama dapet majalah Permata satu eksemplar. Di akhir acara saya juga melempar dua buah pertanyaan. Masing-masing berhadiah buku “Menjadi Penulis Hebat” dan satu Bundel Majalah Permata tahun ke-1. Makin heboh tuh! Eh, besoknya wajah imut saya (duileee muji diri neh hehehe) muncul di Pos Metro Balikpapan lengkap dengan reportase acara tersebut.

Sampai pukul 11.30 WITA acara ini berlangsung untuk kemudian kami dibawa ke Mal Fantasi oleh Mas Siswo dan Mas Dedi, untuk melanjutkan acara talkshow bertitel” Pede Dong Jadi Remaja Muslim” dalam OPPUS (Obrolan Penting Puasa) yang juga dimeriahkan nasyid show bareng Tazakka.

ooOoo

 

Mal Fantasi Balikpapan. Acara mulai digelar sekitar pukul 13.20 WITA. Telat memang, soalnya Tazakka juga belum nongol di situ. Tapi apa boleh buat, Rendy dan Yana yang bertugas memandu talkshow OPPUS harus memulai acara itu. Sebelumnya, kembali grup nasyid Embun SMUN 1 Balikpapan mendendangkan beberapa lagu nasyid. Lumayanlah sebagai pengalaman menjadi grup nasyid pembuka nasyid show yang menghadirkan Tazakka yang udah ngetop en kesohor.

Beberapa menit kemudian, acara puncak dimulai. Rendy dan Yana ‘menarik’ saya dan Ali Coboy untuk tampil ke panggung. Sekitar 20 menitan kami berbagi cerita dengan sobat muslim muda Balikpapan. Break sebentar untuk mendengarkan lantunan lagu ketiga pemuda ganteng dari Bandung yang tergabung dalam grup nasyid Tazakka.

Sambil menikmati lagu yang keluar dari pita suara milik Aldin, Deny, dan Halim, Saya dan Mas Ali Coboy juga sempat ditodong wartawan Tribun Kaltim dengan beberapa pertanyaan (hehehe.. biasanya saya yang ‘nodong’ orang dengan beberapa pertanyaan. Lucu juga ya wartawan ‘ditodong’ wartawan? Gimana rasanya? Seru juga tuh hehehe)

Setelah 20 menit berlalu, kembali kami diajak ke panggung sama Rendy dan Yana untuk melanjutkan obrolan. Ini obrolan terakhir karena masih ada nasyid show dan bagi-bagi hadiah untuk peserta. Dengan waktu yang sama, sekitar 20 menit, diberikan kesempatan bagi peserta untuk bertanya apa saja kepada kami berdua. Lumayan seru. Setelah Tazakka bawain beberapa lagu, acara bagi-bagi hadiah dilanjutkan sampe acara berakhir sekitar pukul 16.00 WITA. Sebelum pulang kami dikerubuti puluhan sobat muslim muda Balikpapan untuk dimintai tandatangan dan pesan untuk mereka.

Acara di Mal Fantasi pun dihadiri oleh mayoritas ABG putri. Rupanya lumayan heboh neh gebrakan dari promosi Bi-Q FM yang ingin menjadikan satu-satunya radio Islam untuk anak muda Balikpapan. Semoga sukses deh buat Bi-Q FM!

ooOoo

 

‘Diculik’ Teman Lama. Ketika Tazakka dan Mas Ali Coboy pulang ke tempat istirahat masing-masing, saya ijin ke Yana untuk minta ‘diculik’ sama Mas Dwi, rekan kerja Pak Emil di Unocal, yang juga adalah teman lama saya di Bogor. Langsung menuju ke tempat yang sudah dijanjikan, yakni di Masjid al-Muharam, dekat Makam Muslimin Balikpapan. Sampai di sana, meski sempat nyasar, teman-teman saya sudah berkumpul di masjid. Banyak juga, ikhwan dan akhwat. Obrolan santai saja. Berbagi pengalaman. Utamanya dalam menulis dan mengelola media massa cetak.

Setelah maghrib, saya diajak Pak Emil dan keluarganya yang juga ikut dalam acara di masjid al-Muharom, menuju rumah Pak Broto untuk menghadiri acara syukuran atas berlangsungnya acara puncak tadi. Karena acara di rumahnya Pak Broto ba’da maghrib, maka saya tak sempat mampir ke hotel Mitra Amanah untuk ganti pakaian dan bersih-bersih. Sampai-sampai Mbak Yana mengomentari via telpon dengan gaya guyon khasnya, “Kang, bau lho nanti. Kasihan yang lain” hehehe.. apa boleh buat tak ada waktu. Tancap gas terus ke rumahnya Pak Broto.

Semua kru Bi-Q hadir. Saat makan malam, lagi-lagi saya melirik Mas Ali Coboy. Why? Karena kembali harus melahap sate ayam dan lontong. Hehehe.. ini namanya gayung bersambut ya Mas Ali? Setelah makan malam dan ngobrol santai, sebagian dari kami melaksanakan sholat isya bagi yang belum sempat menjama’ dengan maghrib. Dilanjutkan dengan sholat tarawih bersama dengan pola  ‘total football’, yakni 4-4-3 J

Jam menunjukkan sekitar pukul 21.15 WITA, ketika kami selesai melaksanakan sholat tarawih berjamaah. Sebelum pulang ke tempat nginap, ada waktu untuk foto-foto sebagai dokumentasi kegiatan. Rasanya ingin dipuaskan semua malam itu, hingga membuat kami betah berlama-lama. Kami semua yang hadir di sana ingin rasanya saling menabur cinta dan menuai bahagia. Thanks for All. Sekitar pukul 22.30 WITA, kami tiba di Mitra Amanah. Sementara Tazakka,  akhirnya ‘ngungsi’ ke rumahnya Pak Broto. Tetep semangat!

ooOoo

 

27 Oktober 2003

Pukul 03.30 WITA, saya keluar kamar untuk makan sahur yang merupakan jatah tamu yang menginap selama ramadhan di Hotel Mitra Amanah. Alhamdulillah, jadi tidak perlu berlari-lari keluar hotel untuk nyari makanan. Setelah shubuh, terpaksa saya kembali terlelap karena capek dan batuk hingga membuat suara saya serak. Ini sebagai bentuk adaptasi dengan suhu udara         di Balikpapan yang lumayan panas.

Segudang rencana sudah disiapkan untuk berkeliling kota Balikpapan, sambil barangkali menyempatkan untuk membeli oleh-oleh buat keluarga. Sebab, sesuai rencana, saya dan Tazakka akan take off dari Bandara Sepinggan pukul 17.00 WITA. Sementara Ali Coboy dan manajernya, Mbak Tinih, kebagian pukul 15.00 WITA, menggunakan Bouraq Airlines.

Karena tahu bahwa keberangkatan masih cukup lama, maka saya sempat mampir ke Banua Patra tempat acara ibu-ibu pengajian BDI Pertamina dengan Tazakka. Saya yang tadinya hanya mampir saja, ternyata malah ditodong sama Mbak Yana untuk tampil kembali atas usulan Tazakka. Wow, makin serak nih suara heheheh…

Pukul 10.50 WITA, Mbak Yana memberi isyarat kepada Rendy yang mandu acara untuk segera mengakhiri acara tersebut karena ada perubahan keberangkatan bagi saya dan Tazakka. Waktu sepuluh menit menuju pukul 11.00 WITA diserahkan kepada Tazakka untuk melantunkan nasyid.

Pak Edwin ngasih kabar bahwa perubahan jadwal keberangkatan itu karena kesalahan teknis awalnya. Jadi, saya dan Tazakka harus berangkat pukul 13.00 WITA bersama Lion Air. Karuan saja sedikit panik. Dan.. gagal untuk bisa menikmati keindahan kota Balikpapan. Tapi, apa boleh buat, kita hanya bisa berencana. Saya diantar Mas Didot langsung menuju Hotel Mitra Amanah untuk mengemasi barang-barang dan check out dari sana. Begitu pun dengan Tazakka. Mas Mulyadi langsung menuju rumah Pak Broto untuk mengemasi barang-barang rekannya.

Pukul 12.00 WITA, saya sudah berada di Bandara Sepinggan. Tapi belum check in, karena ingin menunggu teman-teman dari Tazakka. Sekitar pukul 12.30 WITA, Mas Mulyadi datang diantar Bu Dian. Tak lama kemudian Tazakka menyusul diantar Pak Edwin dan kru Bi-Q; Mbak Yana, Mbak Nurul, dan Mbak Norma.

Nah, saat check in itulah kami mendapat infrormasi bahwa penerbangan ke Jakarta dengan nomor penerbangan JT 763 mengalami delay hingga 2 jam. Waduh. Jadi akan berangkat sekitar pukul 14.30 WITA.

Ketika ini disampaikan ke teman-teman Bi-Q, langsung heboh dan tentunya ini ada kesempatan untuk bisa jalan-jalan barang sebentar. Pasar Kebun Sayur yang kami tuju. Saya bersama Mas Didot dan ditemani Mbak Yana, Mbak Nurul, dan Mbak Norma meluncur ke tempat yang dimaksud. Kru Tazakka diantar Bu Dian. Sekitar 20 menit kemudian kami sampai di Kebun Sayur.

Setelah puas melihat dan membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga, kami diminta segera kembali ke bandara Sepinggan karena waktu keberangkatan tinggal 30 menit lagi. Wah, langsung digeber tuh. Mas Didot yang semula kalem, tiba-tiba beringas menjalankan mobilnya. Tercatat paling tidak 2 kali akan mengalami tabrakan. Alhamdulillah kami masih bisa selamat. H2C alias harap-harap cemas menyelimuti perasaan kami.

Pukul 14.20 WITA kami masih di jalan dalam kota Balikpapan. Lima menit: 14.25 WITA kemudian kami memasuki mulut Jl. Marsma Iswahyudi menuju bandara. Cukup tegang. Karena tinggal lima menit waktu keberangkatan pesawat. Kira 3 menit menjelang 14.30 WITA, kami semua sampai di bandara. Setelah mengucapakan sayonara dengan kru Bi-Q kami semua langsung cabut ke gerbang A2. Apalagi kemudian terdengar pengumuman bahwa Lion Air dengan nomor penerbangan JT 763 akan segera berangkat. Lari! Ada bus di sana. Kami semua masuk dan sesaat kemudian bus melaju menuju pesawat. Dramatis sekali. “Ah, di saat seperti itu waktu memang sangat berharga,” Alhamdulillah akhirnya kami bisa terbang juga ke Jakarta. Sesaat sebelum take off saya kirim SMS ke Mbak Yana, isinya: “Dramatis banget euy! J”. Lega.

Setelah menempuh waktu 1 jam 45 menit, Lion Air dengan pilot Manuel Cambioti mendarat sempurna di Bandara Soekarno-Hatta. Sambil menunggu barang dari bagasi, saya kirim SMS ke Pak Emil dan Mbak Yana. Mengabarkan bahwa saya dan Tazakka sudah selamat dalam penerbangan tersebut. Pak Emil dan Yana langsung me-reply SMS saya. Pokoknya, thanks for All deh. J

Setelah melaksanakan sholat di mushola bandara, saya dan Tazakka berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing. Tazakka ke Gambir dengan bus DAMRI untuk terus ke Bandung menggunakan kereta, sementara saya menggunakan bus DAMRI juga langsung menuju Bogor. Karena terjebak kemacetan di jalan tol dalam kota Jakarta, saya baru sampai di rumah pukul 20.30 WIB. Kata Pak Emil dalam SMS-nya, “Kayaknya lebih dekat perjalanan Balikpapan-Jakarta daripada Jakarta-Bogor..” waktu me-reply SMS saya begitu tiba di rumah. Sempat pula kontak Aldin Tazakka, via SMS, tapi sampai saya mengganti simcard dengan simPATI pada malam hari tak ada respon. Semoga selamat deh sampai tujuan.

 

Salam perjuangan dan kemenangan,

Dengan cinta,

 

Oleh Solihin

Ruang kerja, 28 Oktober 2003. 19:33 WIB

Special thanks to:

 

  1. Pak Edwin Badrusomad: Faktor bahasa, ternyata mendekatkan kita ya Pak. Saya merasa masih berada di daerah Jawa Barat. Makasih juga waktu bela-belain menyiapkan presentasi saya via LCD di AAB. Semoga sukses memimpin Bi-Q. Insya Allah dimenangkan oleh Allah Swt. Tetep semangat ya Pak. Dan doakan saya semoga tetap istiqomah dalam dakwah.
  2. Pak Emil: Makasih atas sambutannya di bandara dan menjembatani saya dengan teman-teman lama saya di Balikpapan. Salam juga buat teman-teman yang ketemu saya di masjid al-Muharam. Thanks for everything. J
  3. Pak Broto dan Ibu Dian: Hatur nuhun atas kesediaannya untuk menampung kami. Makanannya asyik tuh Pak. Moga berkah. Karena kata para ulama berkah itu artinya ziyadatul khoir alias bertambahnya kebaikan. Eh, kapan kita bicara soal ‘salah jalur’ lagi? Hehehe..
  4. Pak Susilo dan istri, serta dua putri cantiknya: Dua putrinya, ternyata mampu memberi inspirasi saya untuk tetap menulis. Paling tidak, menumbuhkan semangat. Betapa kerja keras dan ketekunan bisa mewujudkan hasil yang maksimal. Putrinya masih belajar main piano-nya kan?
  5. Mbak Yana: Hasil kerja kerasmu membuahkan hasil lho. Makasih atas kepercayaannya mengundang saya. Meski mungkin saya banyak kekurangannya.
  6. Mas Siswo: Cara memandumu yang oke bikin saya punya kesan manis denganmu. Sayang, cita-cita ingin foto bersama sementara ini gagal. Insya Allah, lain kali aja ya. J
  7. Mas Dedi: saya merasa aman saat Anda berada di belakang kemudi mengantar saya ke berbagai tempat. Thanks berat.
  8. Mas Didot: Makasih telah menemani saya ke Kebun Sayur dan ngebut menuju bandara di saat-saat kritis. J
  9. Mbak Norma dan Mbak Nurul: Thanks berat buat kalian. Eh, jangan lupa menikah ya. Upss… sori J
  10. Dan mohon maaf buat mereka yang namanya tak bisa saya sebutkan di sini. Saya mengucapkan terima kasih buat semuanya. Mohon maaf juga kalo banyak salah.

 

Buat Bi-Q:

“Jangan pernah melihat masa depan dengan mata ketakutan”.

Tetap semangat!

Iklan
Kategori Catatan PerjalananTag , , , , ,

4 thoughts on “Menabur Cinta, Menuai Bahagia

  1. wah tulisan bapak bagus banget….jauh dari tulisan saya.
    kayaknya saya memang nggak salah dapat mentor Pak Oleh Solihin. Insya Allah saya akan banyak belajar dari tulisan-tulisan bapak. Amin. mohon bimbingannya selalu ya pak…thanks.

    Mena, terima kasih atas apresiasinya. Iya, kebetulan aja saya yang jadi mentornya saat ini di kelas SMO angkatan III tsb. Siapa tahu kalo nggak kan nggak kenal 🙂 Insya Allah masih banyak penulis lain yang jauh lebih baik daripada saya. Tapi, terima kasih atas apresiasinya dan sebagai mentor di SMO yang Mena ikuti, insya Allah akan membimbing Mena dan semua siswa SMO dengan semampu saya.
    Salam,
    O. Solihin

  2. subhanalloh….membaca cerita Kang Solihin….novi jadi ingin ikut nich..
    dari dulu ingin banget bertemu dgn Tazakka.Kapan ya??

  3. Salam kenal Mas Solihin!
    Catatan perjalanan Anda sangat bagus dan hidup. Kapan ya saya bisa menuangkan hasil pengalaman jalan2 seperti dlm tulisan ini?

    Salam, kenal juga Mas Rudy.
    Terima kasih. Anda juga bisa. Silakan tulis saja semua pengalaman Anda. Menulis adalah keterampilan, semakin sering diasah akan semakin terampil. Baik teknis maupun idenya.

  4. Subhanallah. Detil sekali. Serasa saya ikut bersama jalan-jalan Mas 🙂 Mengalir deras dan lancar.

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close