Preacher Moss, Allah Membuatnya Jenaka


Preacher Moss | foto: republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID. JAKARTA–Nama Preacher Moss sudah tidak asing lagi bagi publik Amerika Serikat (AS) yang menggemari komedi, khususnya komunitas Muslim. Moss adalah pendiri dari kelompok komedi “Allah Made Me Funny” dan membuatnya menjadi salah seorang komedian Muslim yang kerap membuat orang terpingkal-pingkal karena banyolannya.

Salah satu banyolan Moss yang terkenal adalah ketika ia bercerita, ”Jika mungkin dan dibolehkan, saya ingin mengganti nama saya dengan nama ‘Allahu Akbar’. Saya membayangkan pasti akan hebat sekali ketika saya di bandara dan petugas bandara menyebut nama saya yang tertera di paspor ‘Allahu Akbar’.” Banyolan yang pasti membuat orang tersenyum. Tentu saja Moss tidak bermaksud melakukan penghinaan dengan humornya itu.

Sebelum memeluk Islam, dia adalah seorang penganut Kristen dan dibesarkan dengan didikan Kristen oleh keluarganya. Munculnya gerakan Black Panther dan Nation of Islam dengan pemimpin-pemimpinnya, seperti Malcolm X, yang telah memberikan pengaruh besar bagi dirinya sebagai anak muda kulit hitam di AS ketika itu dan menjadi awal perkenalannya dengan Islam.

Moss masih mengingat dua kenangan besar dalam hidupnya, yang telah mendorongnya untuk mempelajari kekuatan dan keindahan Islam dari gerakan-gerakan hak asasi di AS. Ia menyebutnya sebagai ‘Islam protes’ dan ‘Islam regular’ atau Islam yang lahir dari Nation of Islam dan harga diri warga kulit hitam dengan Islam yang dibawa oleh para imigran dan generasi Muslim pertama di AS.

Kenangan pertama yang masih membekas di hati Moss adalah ketika ia menyaksikan bagaimana teman sekelasnya begitu taat menjalankan ibadahnya sebagai seorang Muslim, meski dalam kondisi dan situasi yang paling sulit. Hal itu membuat Moss sangat kagum dan menghormati sahabat Muslimnya itu.

Kenangan kedua yang menyentuh hati Moss adalah sahabatnya yang ia kenal di pergaulan anak jalanan di Washington DC. Sahabat yang menurut Moss selalu dirundung masalah. Suatu hari ia mendengar kabar sahabatnya itu meninggal dunia. Moss dan beberapa teman datang ke rumah sahabatnya itu dan di kamar sahabatnya itu Moss melihat banyak buku-buku tentang Islam.

”’Saya melihat ia memiliki sesuatu. Dia berada di jalan untuk menuju ke satu arah yang besar. Ia tahu sesuatu yang saya tidak tahu. Dan saya ingin sekali tahu lebih banyak tentang jalan itu,” tutur Moss tentang sahabatnya.

Masuk Islam

Ditanya kapan tepatnya ia resmi menjadi seorang Muslim, Moss akan diam dan berusaha mengingat kembali masa-masa remajanya sampai ia menjadi seorang mahasiswa jurusan jurnalistik dan film di Universitas Marquette, Wisconsin. Ia mengaku tidak ingat betul tanggal berapa ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Yang ia ingat, kejadiannya ketika ia masih kuliah dan ia belajar Islam dari banyak sumber. Waktu itu ia bekerja sebagai guru untuk anak-anak yang mengalami gangguan emosi dan menjadi komedian. Perjalanannya hidup yang sebenarnya, ia alami setelah ia mengucapkan syadahat dan menjadi seorang Muslim. ”Selama masa kuliah, masuk Islam adalah sebuah pertempuran. Apakah saya akan mengikuti jalan ini atau saya tetap di jalan yang lama? Banyak sekali konflik dalam diri saya,” kata Moss.

Menjadi seorang Muslim merupakan perjuangan bagi Moss, apalagi buat dirinya yang sangat menggemari dunia komedi dan sudah menjadi bagian dari industri hiburan. Karirnya sebagai komedian menanjak seiring dengan reputasinya menulis skenario untuk sejumlah aktor dan komedian di Hollywood.

Tapi menjadi seorang Muslim di Hollywood bukan hal yang mudah. Moss mengalami saat-saat penuh tekanan karena ia tidak boleh membuat banyolan-banyolan tentang perempuan atau topik-topilk yang akan dinilai sebagai anti-Muslim. Itulah sebabnya, Moss akhirnya memutuskan meninggalkan Hollywood dan memilih jalur solo karir.

Ia lalu membentuk group lawak dengan Muslim lainnya, yaitu Azhar Usman dan Azeem, kemudian ditambah dengan masuknya Mo Amer. Jadilah kelompok komedi “Allah Made Me Funny”. Moss mengatakan bahwa ia ingin Muslim bisa mengekspresikan diri mereka. ”Setiap kali orang mendengarkan kami dan mereka Muslim, mereka akan bilang ‘Dengar, orang-orang ini punya nilai-nilai,” ujar Moss tentang harapannya pada Muslim lainnya.

Moss mengakui bahwa ia belum menjadi seorang Muslim yang baik. Tapi ia berharap bisa pensiun dari dunia komedi dan akan memusatkan kehidupannya pada keluarga dan agamanya. ”Saya ingin belajar bahasa Arab. Banyak sekali yang ingi saya baca. Tapi saya akan selalu memprotes, dan protes saya sekarang ditujukan untuk kaum Muslimin agar punya rasa memiliki terhadap agamanya,” tukasnya. [republika]

Iklan
Kategori Kisah MualafTag , , , ,

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close