Kepingan Puzzle (2)


By: O. Solihin

“Ayah, pernah nggak dalam hidup ayah ada orang yang baru kenal dengan kita, lalu kita merasa cocok dengannya?” Putri mencoba bertanya kepada ayahnya melalui fasilitas chatting internet, Skype. Putri memang terbiasa selalu berkomunikasi dengan ayahnya, sebisa dia melakukannya. Maka, fasilitas internet adalah satu sarana yang memungkinkan  ia tetap bisa berkomunikasi meski ayahnya sedang ada tugas ke luar kota. Seperti saat ini, ketika ayahnya sedang berada di Medan untuk menunaikan tugas kantornya.

“Eh, tapi ini nggak mengganggu pekerjaan ayah kan?” Putri menuliskan kembali di papan pesan.

Lama tak ada jawaban dari ayahnya. Mungkin sedang sibuk. Meski terlihat jelas ID ayahnya menunjukkan sedang online. Sembari menunggu jawaban ayahnya, Putri kemudian mengunggah cerpen yang baru diselesaikannya sore tadi ke blog miliknya. Sekitar lima menit, ayahnya membalas pesan.

“Salam sayang. Maaf tadi ayah sedang menyelesaikan pekerjaan kantor. Tapi sekarang sudah sudah selesai kok,” tulis ayahnya.

“Wah, maksudnya apa nih, Put? Kok kamu bertanya seperti ini?” ayahnya kembali mengirim pesan.

“Gini Yah, tadi siang Putri ketemu seseorang. Namanya Fitria. Dia mengaku sering baca tulisan Putri di blog. Dia sangat mengagumi karya-karya Putri. Aku juga mulai merasa cocok, meski awalnya ragu,” tulis Putri.

“Oh itu,” pesan yang dikirim ayah Putri.

“Kita tak pernah tahu, apa yang akan terjadi esok pagi. Bahkan beberapa detik dari sekarang. Itu artinya, semua masih ada kemungkinan,” rangkaian pesan yang ditulis ayahnya terpampang di layar laptopnya.

“Maksud Ayah?” Putri berkirim pesan dengan tak sabar.

“Maksud Ayah. Kita tak perlu merasa curiga dengan siapapun. Tidak perlu memagari diri kita dengan negative thinking. Perlakukan orang lain dengan sebaiknya. Tanpa perlu dibumbui dengan perasaan curiga. Pelan-pelan saja. Sambil menyelami motivasi dia selanjutnya. Suatu saat, jika memang niat orang itu baik atau jahat akan ketahuan juga. Kita tidak mencapnya sedini mungkin. Usahakan obyektif. Dan, itu perlu waktu,” papar ayahnya panjang lebar dalam pesan tersebut.

“Ok, Ayah. Putri ngerti. Tapi apakah ada yang bisa secepat itu menyimpulkan?” Putri bertanya lagi.

“Mungkin saja, Putri. Memangnya ada apa, Put?” tulis ayahnya penasaran.

“Iya, Putri mungkin salah satu orang yang saat ini begitu mudah percaya dengan Fitria. Dan, merasa cocok. Apa karena Putri sudah merasa tersanjung dengan pujiannya terhadap karya-karya Putri di blog selama ini? Ayah akan percaya begitu saja?” Putri memberondong dengan pertanyaan yang dikirimkan via papan pesan di fasilitas chatting internet itu.

Lama ayahnya tak menjawab. Putri menunggunya. Beberapa kali dikirim pesan, tapi tidak ada jawaban dari ayahnya. Karena penasaran, ia menelepon melalui fasilitas video call di fitur tersebut. Tidak dijawab juga. Putri heran. Lalu ia menelepon langsung via handphone ayahnya. Tidak aktif. Putri berusaha berpikir positif, mugkin ayahnya ada keperluan mendadak berkaitan dengan tugas kantornya. Putri kemudian men-diskonek internet. Menshut-down laptopnya dan bergegas ke kamar mandi.

ooOoo

 

“Putri Khairunnisaa!” suara perempuan yang sangat dikenal Putri.

“Hei, ternyata kamu penulis ya! Tak kusangka, ternyata kamu bisa diperhitungkan juga,” Anggi menjajari langkah Putri yang hendak menuju ruang kelas.

“Oh ya?” Putri hanya menoleh sebentar dan tetap melanjutkan langkahnya. Kali ini Putri tidak takut dengan ancaman Anggi. Perubahan itu terjadi setelah beberapa kali dalam berbagai kesempatan mengobrol dengan ayah dan Fitria, Putri jadi percaya diri. Ia yakin dengan potensi yang dimilikinya. Ayahnya selalu memotivasi, bahwa semua orang berhak untuk hidup. Meski ada orang yang mengancam, tapi kita juga berhak membela diri. Fitria, teman yang mungkin sudah mengenalnya sejak di Yogyakarta, pengagum karya-karyanya yang ditampilkan di blog, ternyata sangat perhatian dengannya. Perbedaan usia dari Putri membuatnya bersikap lebih dewasa. Lebih bijak menentukan langkah. Putri banyak belajar darinya.

“Kamu jangan sombong ya!” Anggi berusaha menghentikan langkah Putri.

“Oh, maksud Anda apa?” Putri tetap melangkahkan kakinya.

“Putri!” Anggi menarik kuat-kuat lengan Putri.

Kedua gadis itu berhadapan muka. Putri menatap tajam mata Anggi. Begitu juga sebaliknya.

“Wah, kamu makin berani ya?” Anggi berusaha mengatur napasnya.

“Dan Anda kian tak sopan, Non!” Putri membalasnya.

“Kurang ajar!” Anggi geram.

“Maksud Anda apa sih? Mau berteman atau mencari musuh?” Putri menatap kedua bola mata Anggi yang mulai memerah dan rahangnya yang mulai mengeras menahan amarah.

“Sudahlah, saya tidak ada urusan dengan Anda!” Putri melangkahkan kakinya yang tadi sempat berhenti karena dicegah Anggi.

Anggi mati gaya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebelum pergi, Putri berkata lagi, “Anda perlu tahu, di dunia ini semua orang berhak untuk hidup dan menikmati kehidupannya. Anda tidak bisa mendikte saya atau siapapun agar menuruti kemauan Anda. Sekali lagi saya katakan. Anda tidak berhak mengatur kehidupan orang lain sesuai kemauan Anda. Saya tadinya berharap Anda bisa menjadi teman baik saya. Tapi saya salah sangka. Semoga suatu saat Anda bisa memahami arti sebuah persahabatan. Orang lain akan memperlakukan Anda, sebagaimana Anda memperlakukan orang tersebut. Ingat itu!”

Anggi diam mematung. Entah apa yang ada di pikiran Anggi. Merenung atau kesal. Tak jelas.

Putri pada akhirnya berani mengatakan hal itu. Ia harus percaya pada kemampuan dirinya. Lagi pula, jika ia hanya mampu diam atas apa yang dilakukan Anggi, sama saja dirinya membiarkan Anggi terus berbuat salah. Putri harus menyampaikan sebagai tanda peduli. Sebab, seorang sahabat baginya tak selalu berarti dia yang mengerti dan manut saja atas apa yang kita lakukan. Kadang, seorang sahabat harus berdiri di garda paling depan untuk mengingatkan sahabatnya, meski pahit rasanya. Sebagaimana yang harus dilakukannya pada Anggi. Mungkin saja Anggi tak menganggapnya sebagai sahabat. Tapi Putri berusaha menjadi orang yang mengingatkan pentingnya arti sahabat.

ooOoo

 

Suatu sore. Langit cerah. Semburat mentari di ujung senja. Warnanya pudar sinarnya redup. Elok dipandang mata. Putri asik mengobrol dengan ayahnya di beranda rumah. Sesekali terdengar tawa kecil di antara mereka. Nampak bahagia sekali.

“Kamu yakin jika ayah menikah lagi kamu tidak cemburu?” Ayahnya menggoda.

“Cemburu untuk apa? Kasih sayang? Aku yakin Ayah akan tetap menyayangi aku meski perhatian Ayah akan terbelah nantinya,” Putri tersenyum.

“Meskipun hal itu dengan orang yang selama ini pernah membuatmu kesal? Ayahnya meyakinkan.

“Maksud Ayah?”

“Kamu tidak tahu, jika selama ini Ayah sudah berkenalan dengan seseorang yang Ayah kenal melalui internet?”

“Putri nggak ngerti maksud Ayah. Apa sih Ayah? Putri tampak bingung.

“Begini sayang. Orang yang ingin Ayah nikahi adalah ibu dari Anggi. Teman yang sempat membuat kamu risau,”

Putri tertegun. Diam. Membisu.

“Jangan khawatir sayang. Ibunya tak seperti Anggi. Lagipula, kalian sudah tidak ada masalah dalam berteman kan?”

Putri tetap diam tapi berusaha memahami perasaan ayahnya.

“Aku tak bisa menolak pilihan Ayah,” Putri menundukkan kepalanya.

Ayahnya lalu bercerita bahwa sudah setengah tahun ini mencoba menjalin perkenalan dengan seorang wanita. Janda. Beranak satu. Bekerja di Bandung. Sementara anaknya tinggal bersama neneknya di Bogor. Anggi, namanya. Bukan kebetulan juga jika Fitria, ternyata adalah adik dari Bu Astari. Ibunya Anggi. Kepribadian Bu Astari itu sangat mirip dengan Fitria. Lembut, penuh perhatian, dan bersahabat. Ayahnya menjelaskan panjang lebar hingga Putri memahami pilihan ayahnya untuk menikah dengan ibunya Anggi.

“Insya Allah. Kamu akan menjadi sahabat selamanya bersama orang-orang yang kamu sayangi, termasuk yang awalnya kamu benci,” ayahnya menutup pembicaraan sore itu.

“Semoga ini menjadi lebih baik bagi kita semua. Kita ambil hikmahnya. Bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali kita berusaha menyempurnakannya dengan menjadi bagian dari kepingan puzzle yang hilang tersebut. Semoga,” Putri menatap lekat wajah ayahnya. Tersenyum manis. [SELESAI]

Iklan

Satu pemikiran pada “Kepingan Puzzle (2)

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s