Bencana, Obama, dan Peringatan Allah Swt.


Assalaamu’alaikum wr wb

Merapi meletus | Foto: http://www.republika.co.id

Baca-baca berita akhir pekan ini, masih dijejali dengan informasi seputar bencana alam: meletusnya Merapi dan tsunami Mentawai. Namun, dari dominasi pemberitaan, erupsi (meletusnya) Merapi menjadi berita yang tak kunjung berhenti. Bahkan Presiden SBY pun merasa perlu untuk berkantor di Yogyakarta.

Saya tidak akan bercerita tentang perkembangan terkini jumlah korban Merapi dan Mentawai karena informasi tersebut bisa Anda dapatkan di media massa yang pastinya selalu meng-update beritanya. Jika bicara tentang renungan bencana alam, saya yakin banyak di antara kita yang peduli sudah merenungkannya jauh-jauh hari. Jadi, jika pun saya menuliskan di blog ini, hanya sebagai pelengkap saja. Sebagai pengingat (bila perlu) bagi pengunjungn setia blog saya ini. Insya Allah bermanfaat. Karena, saya juga mencoba mengambil manfaat dari sekian banyak informasi yang bertaburan di internet, koran, majalah, dan dari sekadar obrolan ba’da shubuh di masid, termasuk obrolan ringan di warung kopi.

Bagi kita kaum muslimin, adanya peristiwa gempa bumi, tsunami, dan juga meletusnya gunung adalah bagian dari kehendak Allah Swt. Berbeda dengan kalangan liberal (termasuk yang atheis) yang menolak bencana dihubungkan dengan azab Tuhan. Mereka berpendapat bahwa adanya bencana ya fenomena alam saja, tak ada hubungannya dengan Tuhan. Wah, hebat benar ya? Apakah mereka tidak sadar bahwa kehidupan mereka saat ini juga sebenarnya atas karunia dari Allah Swt? Bukan mereka sendiri yang menginginkannya? Bukankah mereka tak bisa mengatur hembusan nafas sekalipun? Ah, sombong sekali orang-orang seperti itu.

Di masa Umar bin Khattab ra., beliau mengaitkan langsung adanya gempa bumi dengan peringatan dari Allah Swt. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”

Umar bin Khattab bisa merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar as-Shiddiq telah mengundang bencana.

Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasaNya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.

Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab al-Jawab al-Kafy mengungkapkan, “Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, ‘Sesungguhnya Allah sedang menegur kalian’.”

Ulama terdahulu sangat peka dan sangat peduli. Ya, sebab apapun yang terjadi di dunia ini adalah kehendak dari Allah Swt. Jika hal itu berupa keburukan yang dirasakan, mereka langsung interospeksi atas perbuatan yang telah dilakukannya atau dilakukan oleh saudaranya yang lain. Barangkali, Allah Swt. memang sedang menegur kita karena kita berbuat maksiat. Itu juga sebagai tanda sayangNya kepada kita. Insya Allah.

Tapi, masalahnya, apakah dengan adanya musibah ini, di antara yang menjadi korban langsung sadar atau makin tambah jauh dari mengingat Allah Swt?

Sungguh sangat disayangkan, ketika musibah meletusnya Merapi, orang masih percaya mitos-mitos tentang awan Mbah Petruk yang bisa membawa bencana, bahwa harus ada upacara labuhan saji seperti yang pernah dilakukan Mbah Maridjan sebagai kuncen gunung Merapi. Berharap roh penunggu Merapi seperti Kyai Sapu Jagat tidak murka. Ah, ini jelas sebuah kesyirikan. (baca lengkap seputar masalah ini di nahimunkar.com).

Musibah Merapi dan Mentawai tentu saja mengundang keprihatinan dan kepedulian banyak orang di negeri ini. Tanpa perlu dikomando banyak orang menyalurkan bantuan berupa uang, makanan, pakaian dan sejenisnya yang diperlukan para pengungsi. Ada yang langsung memberikan, ada yang melalui lembaga sosial, dan juga yang mempercayakan penyalurannya kepada pemerintah. Itu baik dan sangat bagus.

Tapi sebentar, sepertinya ada yang janggal dengan judul artikel ini. Hmm… mungkin pembaca bertanya: “apa pentingnya membubuhkan nama OBAMA dalam subjek artikel ini?” Ya, ini sengaja saya cantumkan karena orang ini akan berkunjung ke negeri ini. Mengapa perlu dibahas? Ya, rencana kedatangannya mengundang murka sebagian besar umat Islam yang masih peduli dengan saudaranya akibat agresi dan penjajahan Amerika Serikat ke Irak dan Afghanistan.

Maka, dalam sepekan ini pun, gerakan menolak kedatangan Obama cukup gencar, meski dalam pemberitaan nampak kalah dengan musibah Merapi dan berita betapa ribetnya pengaturan protokoler presiden saat akan berkantor sementara di Yogyakarta.

Nah, di sinilah masalah yang hendak saya sampaikan. Bahwa kita peduli korban Merapi insya Allah banyak di antara kita yang peduli dan memberikan bantuan sebisanya, bahkan bagi mereka yang mampu dalam keahlian mengevakuasi korban bencana sudah terjun di sana. Tapi, apakah semua konsentrasi hanya dan harus semuanya difokuskan ke tempat bencana? Saya pikir tidak juga. Bahkan banyak di antara kita yang memang jauh dari daerah bencana tetap melakukan aktivitas seperti biasa: bekerja, belajar, mengurus usaha, berpolitik, bahkan ada anggota dewan yang jalan-jalan ke luar negeri menggunakan dana negara, termasuk liga Indonesia tetap saja digelar.

Itu sebabnya, menurut saya wajar saja dari orang yang berusaha menolak Obama datang ke Indonesia. Penolakan itu sebagai bentuk ketidaksetujuan menerima tamu kepala negara penjajah seperti Amerika Serikat. Sangat wajar. Jangan pula menyalahkan mereka yang melakukan aktivitas ini dianggap tidak peduli dengan korban Merapi dan Mentawai. Biarkan sajalah. Toh, pada saat yang sama (besar kemungkinan) banyak juga orang-orang yang melakukan kebohongan, korupsi, pembunuhan, perzinaan, pesta miras, konsumsi narkoba,  dan lain sebagainya. Tak percaya? Silakan baca media massa yang khusus memberitakan kriminalitas, silakan tontonan acara-acara televisi yang rajin memberitakan kriminalitas. Dengan kedua kondisi ini, mana yang menurut Anda tidak peduli dengan kondisi umat? Mereka yang menolak kedatangan Obama dengan alasan yang jelas seperti diungkap dalam tulisan ini di atas, atau mereka yang baku syahwat dalam maksiat? Anda pasti punya jawaban sendiri yang akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah Swt.

Kemudian, pembubuhan frase “peringatan Allah Swt.” dalam subjek posting artikel ini, maka ini pun sengaja saya tulis. Sebabnya, bahwa bisa jadi bencana ini adalah bentuk peringatan Allah Swt. kepada kita semua. Jika kita memperhatikan sikap Umar bin Khattab ra terhadap gempa di Madinah yang menghubungkan langsung dengan peringatan Allah Swt. karena ada yang bermaksiat, maka kondisi saat ini menurut saya lebih pas dan pantas. Karena sudah begitu banyak bencana terjadi dan sebagian besar dari kita tak pernah mau berinterospeksi. Padahal, sudah begitu banyak juga kemaksiatan yang dilakukan penduduk negeri ini. Menyedihkan.

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatanKu? Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulNya). Maka alangkah hebatnya kemurkaanKu.” (QS al-Mulk [67]: 16-18)

Jadi, kita tinggal berpikir sekarang: apakah semua ini bagian dari musibah atau azab Allah Swt.? Tapi yang pasti, ketika banyak di antara kita yang gemar berbuat maksiat, banyak melakukan pelanggaran terhadap aturanNya, kemudian diberikan bencana, maka segeralah untuk bertobat. Ini sekadar renungan, bagi saya pribadi, bagi kita semua.

Salam,

O. Solihin

Iklan
Kategori Coretanku, OpinikuTag , , , , , , ,

6 thoughts on “Bencana, Obama, dan Peringatan Allah Swt.

  1. kepiluan yang bertubi tubi

  2. namakutanpanama 7 Nov 2010 — 19:30

    enak dibaca tulisannya. menggelitik dan bikin penasaran yg baca. thx, bro

  3. surganeraka 7 Nov 2010 — 19:26

    ampuni kami ya Allah.. banyak di antara kami yang sudah berdosa.. di tengah semburan wedhus gembel masih ada saja yang tak mau mengingat kepada-Mu…

    untuk obama, gue NOLAK 1000%

  4. tulisan yang bagus pak. memberikan pencerahan, khususnya bagi saya. terima kasih.

  5. astarisekarayu 7 Nov 2010 — 19:14

    semoga Allah SWT menyadarkan kita semua, khususnya yang menjadi korban Merapi dan Mentawai. Di Merapi banyak kesyirikan, di Mentawai banyak orang kafirnya.

  6. Menurut saya bencara yang sedang melanda negeri kita ini adalah sebuah peringatan. sudah terlalu banyak kemaksiatan yang terjadi di negeri ini. Tanggan-tangan seraka yang disebutkan Allah dalam Al-Quran itulah yang menyebabkan kerusakan alam ini. Tapi kenapa mereka yang harus Terbaring kaku? Ini hanya Allah yang bisa menjawab, kita sebagai manusia hanya dapat segera bersujud dan mohon ampun. Karena waktu yang tersisa untuk kita tidak ada satupun yang mengetahui kapan akan berakhir.

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close