Di sisa usia kita…


Assalaamu’alaikum wr wb

memulai hidup baru

Dik, masih ingatkah dirimu pada hari yang sama di hari ini, 11 tahun yang lalu? Ya, hari Ahad, 21 November 1999 adalah hari pernikahan kita. Aku selalu mengingatnya, Dik. Karena hari itu adalah hari yang sangat spesial bagi diriku, dan juga dirimu. Di hadapan ayahmu, aku berikrar untuk menikahimu. Ijab-qabul dalam akad nikah itu menjadikan kita resmi sebagai pasangan suami-istri. Aku ingat, masih muda usiamu: 22 tahun. Aku 3 tahun lebih tua darimu. Mohon maaf waktu itu, karena jauhnya jarak yang harus ditempuh, aku tidak bisa membawa serta seluruh adikku. Padahal aku punya banyak kenangan bersama mereka saat masa kanak-kanak. Hanya yang bungsu waktu itu yang ikut ke acara, sementara empat orang lainnya tidak ikut. Sedih juga sebenarnya. Karena adik-adikku ingin juga mengantarkan kita melepas masa lajang dan mengarungi bahtera rumah tangga.Tapi insya Allah, taburan doa dari mereka sudah cukup bagiku untuk mengucapkan terima kasih, meski masih sedikit mengganjal.

Kita bahagia di hari itu. Sanak keluarga kumpul dan memberikan doa. Kerabat dan handai taulan datang dengan senyum dan ucapan selamat. Masih membekas terngiang di telinga kita ucapan sahabat-sahabat kita: “Barakallaahu laka, wa baaraka ‘alaika wa jama’a baynakumaa fii khairin” Kita tersenyum. Ada bahagia, ada haru, ada sedih, ada harapan. Semua menjadi satu. Doa mereka merekatkan ikatan kita. Doa orang tua kita mengait-ikatkan jalinan cinta kita. Semoga kokoh hingga akhir usia kita.

Dik, sejatinya wajah cerah orang tua kita, sanak saudara kita, teman-teman kita, tergambar jelas dari foto-foto yang kita bukukan. Sesekali kita buka, dan kita tertawa bersama sambil mengingat masa-masa lajang bersama sahabat dan keluarga kita. Kita insya Allah yakin, mereka akan lebih bahagia dari sekadar tampilannya di gambar diam tersebut. Mereka kita doakan agar kebaikan senantiasa menyelimuti mereka, sebagaimana mereka telah membaluri kita dengan doa-doa ikhlasnya waktu itu.

Waktu terus berjalan. Sebulan menjelang tahun pertama pernikahan, kita bahagia dengan lahirnya anak lelaki kita: Muhammad Qais Abdul Qowiy. Kita berharap kelak ia menjadi lelaki kuat sesuai karakter namanya. Ia menjadi besar dan tumbuh dengan benar dan baik. Menjadi kebanggaan kita dan kaum muslimin. Melanjutkan estafet perjuangan dakwah Islam. Insya Allah. Aku masih ingat menjelang kelahirannya. Dua hari dua malam dirimu digempur rasa sakit hebat. Aku yang baru pertama kali menyaksikan itu, sempat kaget dan sangat kasihan kepadamu. Tiba-tiba aku ingat ibuku. Aku yakin ia merasakan hal yang sama dengan dirimu, saat ia akan melahirkan aku dahulu. Seorang ibu, ia akan rela berbuat apa saja untuk anaknya. Dan, itu sudah aku rasakan sejatinya kasih sayang ibu. Dik, tentu dirimu masih ingat waktu itu. Begitu lahir anak kita, tepat di hari Kamis, 12 Oktober 2000 pukul 19.05 WIB, binar matamu melegakanku. Aku ceritakan kepadamu waktu itu bahwa setelah shalat maghrib, aku berdoa lama sekali memohon ampunan dan kemudahan untuk proses kelahiran anak kita. Alhamdulillah. Allah Swt. mengabulkan doa kita. Aku tahu persis betapa berat perjuanganmu saat itu. Antara hidup dan mati. Aku menyaksikannya dengan takjub atas kekuasaan Allah Swt. di hadapanku waktu itu. Subhanallah. Kita jadi orang tua!

Kita arungi hari-hari kita. Bersama kebahagiaan menjadi orang tua. Tanggung jawab kita mulai bertambah. Perhatian kita mulai banyak. Maafkan jika kemudian aku harus berbagi perhatian dengan anak kita. Bahkan masih harus ditambah dengan aktivitas pekerjaanku dan juga dakwahku. Ini memang sudah menjadi komitmen kita, bahwa berkeluarga bukan berarti berhenti berdakwah, berumahtangga bukan berarti hanya fokus untuk urusan kita saja, tak selalu harus terbelenggu dalam lingkaran permasalahan keluarga besar kita. Mengingat semua komitmen itu, lega rasanya karena dirimu mau menghadapi kenyataan ini. Kita hadapi bersama. Terima kasih istriku.

Kini, di usia pernikahan kita yang ke-11 tahun, sudah hadir tambahan 3 anggota keluarga baru: Rafi al-Hilaly yang lahir 3 Maret 2003, Sausan Afrasana dua tahun berikutnya (26 Juni 2005), dan Thariq Muhammad al-Fatih (26 September 2010). Ya, jadi sekarang ada empat orang anak kita. Amanah dari Allah Swt. untuk kita didik, kita bina, kita penuhi hak-haknya dan kita arahkan mereka menjadi orang-orang yang sangat cinta kepada Allah Swt. dan RasulNya, juga kepada Islam dan kaum muslimin. Semoga kita mampu mewujudkannya.

Istriku, di sisa usia kita, semoga kita tetap istiqamah dengan komitmen yang telah kita ikrarkan sejak dulu. Sebab, untuk melanjutkan dakwah Islam kita, pernikahan menjadi pilihan agar estafet perjuangan Islam bisa dilanjutkan oleh anak-anak kita. Insya Allah.

Aku menyadari, selama ini mungkin belum bisa membahagiakan secara sempurna bagi dirimu dan anak-anak kita. Banyak keterbatasan hidup bersamaku. Tapi aku tetap akan berusaha dan bertanggung jawab mengemban kepemimpinan dalam keluarga kita. Semua orang pasti menginginkan sebuah kebahagiaan, baik secara materi maupun psikologis. Tapi, ternyata hidup tak selalu bisa memilih. Adakalanya kita merasakan pahit dan getir. Namun, aku merasa yakin bahwa Allah Swt. tak akan memberikan beban begitu berat jika hambaNya tak sanggup memikulnya. Itu sebabnya, kita akan tetap berjuang di sisa usia kita. Untuk kita, untuk keutuhan keluarga kita, bagi anak-anak kita, bagi keluarga besar kita, dan bagi perjuangan dakwah agar syariat Islam tegak di muka bumi ini.

Dik, maafkan jika selama ini aku belum bisa memberikan yang terbaik untuk dirimu dan anak-anak kita, dan juga keluarga besar kita. Insya Allah suatu saat, kita bisa lebih baik lagi. Semoga di sisa usia kita, Allah Swt. selalu memberkahi kita dan memudahkan segala urusan kita. Kita memang selalu berharap untuk itu.

Bogor, 21 November 2010

Salam,
O. Solihin
Suamimu yang selalu merindukanmu dan senantiasa berdoa agar cinta kita tetap utuh hanya kepadaNya. Sehingga cinta kita bukan sekadar untuk kita, tapi juga untuk dibagikan kepada yang lainnya dan demi dakwah Islam.

Iklan

Satu pemikiran pada “Di sisa usia kita…

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s