Catatan Perjalanan Ibnu Khaldun


Oleh Yusuf Assidiq

Muqaddimah dan Kitab Al-‘Ibar merupakan sumbangsih besar Khaldun bagi ilmu pengetahuan.

Foto dari: http://www.kitaabun.com

Ibnu Khaldun dikenal luas sebagai ahli ekonomi. Ia juga sejarawan dan sosiolog ulung.  Ide, gagasan, serta pemikirannya pada bidang tersebut masih berpengaruh hingga kini. Namun, kebesaran nama Khaldun juga terekam dalam jejak langkahnya selaku politikus andal.

Sejarah mencatat, Ibnu Khaldun menghabiskan sebagian hidupnya dengan menetap di berbagai wilayah serta mengabdi pada penguasa setempat. Momen pengembaraan kariernya dicatat secara rinci dalam risalah berjudul Kitab Al-‘Ibar (Buku Sejarah Dunia).

Reputasi karya tersebut tidak kalah dengan Muqaddimah yang mengulas aspek sosial dan ekonomi. Kitab Al-‘Ibar merupakan sumbangsih penting dari tokoh bernama lengkap Abu Zayd Abd al-Rahman ibnu Muhammad ibnu Jabir ibnu Khaldun ini bagi kemajuan ilmu pengetahuan di seluruh dunia.

Ia terlahir di Tunis, Tunisia pada 1332. Dalam biografinya, Ibnu Khaldun mengatakan, nenek moyangnya berasal dari Hadramaut, Yaman. Sementara kakeknya yakni Ibnu Hazem, diyakini termasuk umat Islam paling awal yang berhasil mencapai Andalusia, Spanyol.

Pendidikan pertama didapat dari sang ayah yang juga ilmuwan. Ia juga mempelajari ilmu agama dan tata bahasa dari sejumlah guru terkemuka. Tak heran, sejak usia muda Khaldun telah mampu menghafal Alquran.

Beragam bidang ilmu juga dikuasainya, semisal hadis, retorika, filologi, maupun puisi. Ia melanjutkan pendidikan hingga usia 19 tahun. Kemudian ia merintis karier di pemerintahan Dinasti Hafsid sebagai petugas segel istana.

Sejak itulah, seperti ditulis Frances Carney Gies dalam artikel bertajuk The Man who Met Tamerlane, Khaldun banyak menemukan kelemahan di lingkungan pemerintahan. Namun, baru beberapa tahun kemudian ia punya kesempatan meninggalkan Tunisia.

Pada 1352, Khaldun mulai melihat tanda-tanda keruntuhan dinasti tersebut, terutama karena terus bersitegang dengan pesaingnya, yakni Dinasti Marinid di Maroko. Segera ia pergi, melakukan perjalanan ke Barat dan memilih menetap di Fez, Maroko.

Keputusan Khaldun untuk tinggal di kota pusat kekuasaan Dinasti Marinid itu berbuah petaka. Awalnya, ia dapat diterima di lingkup istana. Namun, sang penguasa, Abu Zaid, khawatir dengan keberadaannya yang mantan pejabat di dinasti saingannya dahulu. Maka, dijebloskanlah ia ke penjara.

Dua tahun kemudian, sepeninggal Abu Zaid, ia dibebaskan, lalu dipekerjakan di istana. Beberapa jabatan penting pernah diamanatkan kepada Ibnu Khaldun. Namun, instabilitas politik yang terus terjadi memaksanya hijrah. Kali ini, tepatnya pada 1362, ia pindah ke Granada.

Kedatangannya ke kota di Andalusia itu disambut hangat oleh penguasa setempat. Reputasi keilmuan Ibnu Khaldun membuatnya dihormati sehingga Sultan Muhammad al-Ahmar memintanya menjadi asisten wazir Ibnu al-Khatib.

Pada 1364, Sultan mengutusnya menjalankan misi diplomasi ke Sevilla. Saat itu, kedua wilayah sedang saling bertikai. Tugas Ibnu Khaldun meredakan ketegangan menuai kesuksesan setelah berunding dengan pemimpin Nasrani, Raja Leon I.

Namun, sekali lagi masalah politis memaksa Ibnu Khaldun pindah. Ia kembali ke Afrika Utara. Penguasa Dinasti Hafsid di Bougie (Bijaiah) kemudian menunjuknya sebagai pejabat perdana menteri ketika usianya menginjak 45 tahun.

Ia mengundurkan diri dari jabatannya beberapa tahun kemudian setelah sahabatnya, Ibnu al-Khatib, wafat. Ibnu Khaldun menetap di kastil Ibnu Salamah di dekat Oran, Aljazair. Di wilayah terpencil itu, ia berkarya dan menuliskan pengalamannya selama berkiprah di beberapa pemerintahan.

Maka lahirlah Kitab Al-‘Ibar, begitu pula Muqaddimah. Selain itu, beberapa karya lain juga berhasil dirampungkannya. Ibnu Khaldun tinggal di kastil tersebut selama empat tahun dari 1375 hingga 1379.

Kembali ke Tunisia

Didorong keinginan untuk memperluas cakrawala intelektualitasnya, Ibnu Khaldun berusaha memperoleh sumber-sumber kepustakaan yang penting. Ia memutuskan kembali ke Tunisia.

Di sana ia kian menekuni bidang ilmu dengan menulis dan mengajar. Pada 1382 ia kembali mengadakan perjalanan. Kali ini ke Tanah Suci Makkah untuk berhaji. Setelah itu, Ibnu Khaldun menjejakkan kaki di Kairo yang kondang sebagai salah satu kota ilmu di dunia Islam.

Penguasa Dinasti Mamluk membuka pintu lebar-lebar bagi Khaldun. Posisi sebagai kadi atau hakim agung disematkan padanya. Caroline Stone melalui tulisannya berjudul Ibn Khaldun, and the Rise and Fall of Empires, menyebut tokoh ini bertekad kuat memperbaiki kondisi negara dari aneka masalah, terutama korupsi dan intrik politik.

Dalam risalahnya, Kitab Al-‘Ibar, Khaldun membahas secara mendalam tentang administrasi pemerintahan. Sejalan dengan pengalamannya, ia telah menyaksikan era kejayaan dan keruntuhan berbagai dinasti. Karena itu, pada beberapa bagian buku, ia menuangkan pemikiran agar pemerintahan bisa bertahan dan efektif.

Khaldun menyebut, stabilitas politik merupakan kunci. Faktor penting agar hal itu terwujud yakni harmonisasi antara pejabat dan tokoh ulama. Ia juga menduga, sejumlah masalah seperti korupsi, moralitas, dan loyalitas bisa berpengaruh buruk terhadap roda pemerintahan.

Kajian sejarah tentang negara Arab bagian timur menjadi kontribusinya yang lain. Ia banyak bersandar pada sejarawan Muslim sebelumnya, di antaranya ath-Thabari dan Ibnu al-Atsir. Khaldun membahas tentang sejarah dan kondisi sosial negara-negara di Afrika Utara.

Karya itu menjadi rujukan penting pada bidang sejarah dunia hingga berabad-abad kemudian. Pada bukunya bertajuk Source of History, sejarawan Barat, Charton, menyebut Ibnu Khaldun sebagai perintis metodologi kajian historis. ed: wachidah handasah


Bertemu Timurlen

Sebuah riwayat menarik ditorehkan Ibnu Khaldun. Riwayat menarik itu adalah ketika dia bertemu Timurlen (1336-1405), pemimpin bangsa Mongol. Kejadian berlangsung sekitar tahun 1401. Pasukan Mongol yang sebelumnya telah menghancurkan negeri-negeri Islam termasuk ibu kota Baghdad, mulai mengancam wilayah kekuasaan Dinasti Mamluk di Damaskus serta Kairo.

Ketika itu, Timurlen dan pasukannya masih mengepung Damaskus. Penguasa Dinasti Mamluk di Kairo, Sultan Faraj, berinisiatif melakukan perundingan dengan Timurlen. Ia pun berangkat ke Suriah bersama rombongan, termasuk pula Ibnu Khaldun.

Damaskus tidak bisa bertahan lebih lama. Para pemimpin di sana bersedia berunding dengan Timurlen. Salah satu butir kesepakatan adalah kota itu tunduk di bawah kekuasaan Mongol, namun tetap dipimpin oleh gubernur dari kalangan Muslim yang ditunjuk Timurlen.

Hanya saja, setelah beberapa lama Timurlen tidak juga menepati kesepakatan. Sementara itu, Sultan Faraj terpaksa kembali ke Kairo karena terjadi kekacauan besar. Jadilah Ibnu Khaldun yang waktu itu telah berusia 70 tahun dipercaya meneruskan perundingan.

Ia pun mencoba menemui Timurlen. Dikisahkan pada risalahnya yang bertajuk Biography, ada motivasi lain yang mendorong Khaldun bersemangat untuk bertemu Timurlen. Dia ingin menggali pengetahuan langsung dari penguasa ini, terutama mengenai sejarah bangsa Mongol.

Khaldun diterima oleh Timurlenk, yang telah berusia 60-70 tahun, di tendanya dalam sebuah jamuan besar. Segera saja kedua tokoh itu terlibat dalam serangkaian pembicaraan dan diskusi. Ibnu Khaldun diketahui tinggal di perkemahan bangsa Mongol selama 35 hari. Ia hanya ditemani seorang penerjemah bernama Abd al-Jabbar al-Khwarizmi, yang wafat pada 1403.

Di sela tugas diplomasi, banyak topik lain yang mereka bahas. Timurlenk juga membicarakan kemungkinan Ibnu Khaldun mengabdi kepadanya. Permintaan itu sulit dipenuhi. Khaldun kemudian memberikan hadiah berupa Alquran dan seperangkat peralatan shalat. Setelah itu, ia kembali ke Kairo dan membawa hasil perundingan yang menguntungkan bagi penduduk Damaskus. Cendekiawan besar ini kembali dipercaya menduduki jabatan hakim agung di Kairo. Pada 1406, Ibnu Khaldun wafat pada usia 74 tahun dan dimakamkan di pemakaman Bab an-Nasr. ed: wachidah handasah [republika]

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s