Tantangan dalam ‘Memproduksi’ Manusia Berkualitas


Catatan kecil tentang Rumah Gemilang Indonesia

Sebagian siswa RGI foto bersama di acara Wisuda Angkatan II

Agustus 2009, saya resmi menerima tantangan mengajar di Rumah Gemilang Indonesia (RGI), yakni pusdiklat di bawah Direktorat Program Al-Azhar Peduli Umat. Pusdiklat keterampilan yang digambarkan oleh Mas Ahmad Husein, kawan saya yang menginformasikan lembaga ini, adalah lembaga yang akan ‘menyulap’ manusia ‘pinggiran’ atau mungkin ‘apkiran’ menjadi berkualitas dari segi keterampilan. Ia menambahkan bahwa orang-orang yang nantinya saya bina adalah mereka yang sama sekali ‘tak berdaya’. Bukan saja secara ekonomi, tetapi juga secara akademis.

Pesan dari Mas Ahmad Husein tetap saya ingat dan gambarannya tetap melekat erat di benak saya. Dan, kian menguatkan ketika pertama kali menginjakkan kaki di RGI, saya bertemu dengan Mas Sunaryo Adhiatmoko, kawannya Mas Ahmad Husein. Ia bercerita banyak tentang RGI. Satu hal yang membuat saya tertantang adalah, bagaimana memotivasi mereka yang sudah lemah di segala lini menjadi berani tampil percaya diri. Semoga dengan keterampilan yang mereka miliki, termasuk kemampuan menulis, mereka minimal bisa mengadvokasi dirinya. Begitulah inti pesan yang disampaikan Mas Sunaryo kepada saya. Saya insya Allah siap menerima tantangan itu.

Maka, dimulailah ‘petualangan’ yang menegangkan itu. Karena saya harus bisa membantu mereka percaya diri dengan kondisinya yang ada. Sementara ‘bahan bakunya’ tersebut memiliki kualitas yang tak biasa. Ada siswa yang orang tuanya bercerai, dia lalu hidup di jalanan, jauh dari ajaran Islam. Ada siswa yang kecewa dengan kelakuan orang tuanya, ada yang putus sekolah karena tak ada biaya, ada siswa yang harus berjibaku menahan kantuk saat belajar karena sepulang belajar hingga malam ia bekerja jadi kuli angkut gas, ada yang menjadi kuli di rumah potong hewan dengan tugas membersihkan ayam potong dan diberi upah seribu rupiah per ekor, dan masih banyak kisah pilu lainnya. Ini merata di semua angkatan. Jujur, air mata saya tak kuasa dibendung lagi setelah mereka curhat, baik secara langsung maupun via tulisan. Saya baca biografi mereka. Tertegun saya: ini Indonesia. Negeri kaya sumber daya alam, tapi masih ada rakyatnya yang miskin, dan tertatih meniti masa depannya yang nyaris koyak.

Ustad Yusuf Mansur ikut memberi support kepada Rusli (kedua dari kanan), sebagai siswa kelas fotografi dengan foto terbaik

Dengan kondisi ‘bahan baku’ seperti itu, ibaratnya saya harus membangun sebuah rumah yang sudah ambruk menjadi rumah yang layak huni dan berpenampilan menarik. Berat dan butuh ekstra pikiran. Saya memang tidak sendiri. Banyak instruktur lain yang bergabung sesuai dengan keahlian masing-masing. Jurusan yang dibuka pada angkatan pertama itu ada tiga: fotografi/videografi; desain grafis dan menjahit. Tugas saya dan beberapa kawan dari media massa adalah memberikan keterampilan menulis dan jurnalistik. Instruktur lainnya menggembleng dalam bidang desain grafis dan menjahit.

Tak terlalu buruk dari yang digambarkan

Setelah mengajar dan memulai memoles mereka, saya tidak menemui kesulitan yang berarti dalam memberikan materi pelatihan. Saya salut dengan semangat mereka. Saya terharu dengan keinginan kuat mereka dalam belajar. Pada saat itu, saya berpikir: “mereka hanya tidak punya kesempatan untuk belajar. Mereka bisa kok berprestasi jika diberikan kesempatan belajar. Mereka tak kalah cerdas dengan siswa lainnya yang memiliki kesempatan belajar di tempat umum.”

Keyakinan saya terbukti setelah beberapa angkatan berhasil diluluskan. Kini, siswa yang tadinya bekerja sebagai kuli angkut gas, menjadi fotografer di sebuah lembaga sosial yang dipimpin seorang publik figur yang sering muncul membawakan ceramahnya di televisi. Hasil fotonya bagus. Tak kalah kualitasnya dengan mereka yang belajar secara formal. Ini bukan mimpi. Semua orang insya Allah bisa meraih masa depannya yang lebih baik, selama ia berusaha dan terus berdoa. Alumni yang lainnya tak kalah sukses. Mereka ada yang berwirausaha dengan membuka jasa pemotretan untuk acara pernikahan. Hasil jepretannya cukup memuaskan. Mereka bisa punya penghasilan. Secara pribadi saya bahagia bisa ikut membidani ‘kelahiran’ mereka yang kedua. Tadinya mereka minder, sekarang mereka percaya diri. Jika sebelumnya mereka menatap masa depan dengan mata penuh ketakutan, kini optimisme menyebar di ruang pikiran dan hati mereka. Alhamdulillah, semoga terus terpelihara.

Lulusan dari kelas menjahit, desain grafis, dan teknik komputer (program ini baru ada pada angkatan kedua) juga memiliki keterampilan yang bisa diandalkan. Semoga ini berlanjut hingga jauh ke angkatan berikutnya. Meski masih perlu perbaikan dalam beberapa segi pengelolaan, tetapi saya merasa ini sudah cukup memberikan ikhtiar dalam berbagi kepada mereka yang memang layak dibantu.

Memberi ruang gerak lebih leluasa

Saya bersama Luki dan Eko, alumni angkatan II, kelas Fotografi

Cukup bagi saya untuk bisa menilai kinerja saya sendiri dan juga lembaga ini. Satu setengah tahun lebih berkiprah, banyak cerita didapat, melimpah hikmah dirasakan. Saatnya menata diri saya dan juga lembaga ini agar menjadi lebih baik lagi, dan terus menjadi baik. Perubahan perlu ada, perbaikan ke arah yang positif jelas menjadi prioritas. Sebab, hal ini juga sejalan dengan komitmen dalam memberikan yang terbaik. Apalagi karena Rumah Gemilang Indonesia sepenuhnya didanai dari para donatur. Pusdiklat keterampilan yang dikhususkan bagi kalangan yang memang membutuhkan ini harus dijaga dan ditingkatkan menjadi yang terbaik. Sebab, menjadi baik saja belum cukup jika kita masih bisa berusaha meraih yang terbaik.

Ruang gerak yang leluasa dalam mengembangkan Rumah Gemilang Indonesia, bisa kita mulai dari kurikulum pelatihan yang terus dipoles sedemikian rupa, pembinaan kewirausahaan bagi siswa, dan peningkatan tsaqafah Islam serta pembinaan akhlak yang mulia. Sehingga kualitas manusia yang ‘diproduksi’ di Rumah Gemilang Indonesia tampak nyata kualitasnya. Bermanfaat bagi dirinya dan juga bermanfaat bagi orang lain. Ini insya Allah sudah terbukti.Tetapi tentu tidak berhenti di sini saja, kita butuh inovasi dan kreativitas lebih untuk menaklukan tantangan ini, agar hasil yang dicapai maksimal.

Saya sedang memberi sesi pelajaran menulis kreatif di luar ruangan kelas

Semoga catatan kecil tentang Rumah Gemilang Indonesia, dimana saya menjadi salah seorang yang terlibat di dalamnya sebagai instruktur, menjadi inspirasi bagi semuanya. Ini model pelatihan untuk kaum ‘pinggiran’ tetapi semoga kualitasnya bukan kualitas pinggiran. Ke depannya, Rumah Gemilang Indonesia bisa menjadi pionir dan ikon lembaga pendidikan untuk kaum ‘pinggiran’ dengan kualitas terbaik dari segala sisi: kurikulum, manajemen, dan keahlian para lulusannya. Sehingga ikhtiar untuk memberikan kontribusi dalam merajut masa depan yang lebih baik bagi kaum dhuafa terwujud nyata. Pada suatu saat nanti, mungkin kita akan bisa berbangga ketika bisa ‘memproduksi’ manusia berkualitas dari kalangan yang semestinya memang kita bantu. Juga sebagai wujud ‘perlawanan’, meski kecil, kepada tirani kekuasaan yang telah merampas kesempatan sebagian besar rakyatnya yang miskin untuk bisa menjadi pintar dan berdaya. Di sekolah formal mereka tersisih, semoga di RGI mereka bisa merangkai mimpinya menjadi kenyataan sebagai pribadi unggul di bidang keahlian yang ditekuninya. Semoga rantai kemiskinan segera terputus pada generasinya saja. Generasi setelahnya harus lebih baik dan bisa menjadi yang terbaik. Dan, semoga RGI menjadi pusdiklat yang berhasil mewujudkan harapan mereka sesuai mottonya: empowerment and training centre. Dilatih agar mereka memiliki keahlian dengan daya tawar tinggi. Insya Allah.

Salam,

O. Solihin
Instruktur Kelas Menulis Kreatif di Rumah Gemilang Indonesia

==

VIDEO Liputan Kegiatan RGI oleh DAAI TV:

Iklan

2 pemikiran pada “Tantangan dalam ‘Memproduksi’ Manusia Berkualitas

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s