Berbuat Adil


“Hai orang-orang yang beriman. Hendaklah kamu menjadi menusia yang lurus karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian kamu atas suatu kaum, menyebabkan kamu tidak adil. Berbuatlah adil. Karena (adil itu) adalah mendekatkan kepada taqwa. Dan takulah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Maidah [5]: 8 )

Dalam kitab-kitab fikih kata adil didefinisikan sebagai sikap konsisten melaksanakan ajaran agamanya (bertakwa dan menjaga muru’ah). Dengan demikian, orang yang adil adalah orang yang mampu melaksanakan aturan main dalam agamanya (Islam), dan tentu saja orang tersebut harus bertakwa kepada Allah Swt.  Karena begitu pentingnya kata adil ini sehingga untuk seorang yang bersaksi saja syaratnya harus mempunyai sikap adil. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hendaknya menjadi saksi dua orang yang adil dari kamu sekalian.” (QS ath-Thalaq [65]: 2)

Sehingga wajar, kalau para ulama terdahulu memposisikan jabatan prestisius seperti Khalifah (baca: kepala negara daulah Islam), mutlak harus dipegang oleh seseorang yang memenuhi syarat adil. Karena tentu saja, di tangan khalifah lah segala keputusan dan pelaksanaan hukum berjalan. Bila khalifahnya saja tidak adil, bagaimana mungkin bisa melaksanakan hukum bagi masyarakat yang telah menjadi tanggungjawabnya dalam segala hal.

Di masa Khulafa ar-Rasyiddiin, khususnya di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, sejarah telah mencatat tentang keadilan yang dilaksanakan oleh qadhi (hakim) Syuraih yang menangani kasus hilangnya baju besi khalifah Ali. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa khalifah Ali kehilangan baju besi yang biasa digunakannya untuk berperang, dan khalifah Ali tahu betul bahwa baju besi itu digondol seorang pria Yahudi. Maka kontan saja perkara ini menjadi bahan pembicaraan hebat. Mulailah diadakan sidang yang menghadirkan khalifah Ali sebagai penuntut dan seorang pria Yahudi menjadi terdakwa.

Qadhi Syuraih yang memimpin persidangan dengan penuh wibawa dan tak pernah gentar dengan jabatan prestisius khalifah Ali mulai menanyakan duduk persoalannya. Khalifah Ali yang merasa yakin bahwa yang mencuri baju besinya adalah pria Yahudi yang ada di hadapannya bersikeras meyakinkan qadhi Syuraih. Namun, ketika qadhi Syuraih meminta beliau menghadirkan beberapa orang saksi atas kasus pencurian baju besi itu, khalifah Ali hanya mampu menghadirkan saksi dari kalangan keluarganya. Tentu saja, qadhi Syuraih keberatan, karena ini akan memberatkan si terdakwa. Akhirnya, qadhi Syuraih memvonis bebas pria Yahudi yang dituduh mencuri baju besi khalifah.

Khalifah Ali tidak lantas marah dan memecat qadhi Syuraih yang telah berbuat ‘lancang’ kepadanya. Dengan penuh wibawa dan tawadhu khalifah Ali mengalah. Sementara pria Yahudi bukannya senang, malah ia tampak bingung dan kagum atas keputusan qadhi Syuraih yang adil, dalam bahasa sekarang bebas KKN. Kemudian dalam riwayat selanjutnya, karena kagum atas keadilan yang diperlihatkan oleh Islam, pria Yahudi itu dengan suka rela mengucapkan syahadat. Fantastis.

Sepenggal kisah tentang keadilan tadi–dari beribu-ribu kisah itu–telah membuktikan bahwa Islam memang rahmatan lil ‘aalamin. Tidak saja rahmat bagi pemeluknya, tapi juga mampu meluluhkan dan menentramkan hati orang-orang kafir. Ironisnya, saat ini justeru Islam dan umatnya terpuruk dalam sisi gelap sejarah peradaban manusia. Hal ini lebih disebabkan oleh kaum muslimin yang lupa bahkan tidak tahu dengan Islamnya sendiri. Sehingga ia lebih memilih jalan hidup yang bukan dari Islam.

Dalam Islam , perintah selalu diiringi dengan larangan. Maka, perintah berbuat adil pun diiringi dengan larangan berbuat dzalim. Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara yang bathil dan (janganlah) kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 188)

Rasulullah saw. juga bersabda: “Berhati-hatilah, terhadap doa orang-orang yang terdzalimi. Sebab antara mereka dengan Allah tidak terdapat hijab (penghalang).” (HR Muslim dan Bukhari)

salam,

O. Solihin

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s