Abrahamic Faiths?


Assaalaamu’alaikum wr wb

Ini adalah makalah dari Dr Adian Husaini, hampir sekitar 4 tahun lalu. Tetapi, sengaja saya posting di blog saya, dengan harapan manfaatnya akan kian bertambah. Artikel ini saya ambil dari situs beliau di: www.adianhusaini.com. Anda bisa membacanya kembali langsung di blog saya sekarang. Semoga bermanfaat.

Salam,

O. Solihin

==

Abrahamic Faiths?

Dr. Adian Husani

Bagi pemerhati wacana pemikiran keagamaan, istilah “Abrahamic Faith” atau “agama Ibrahim” tidaklah asing. Istilah ini sudah lama dipopulerkan oleh banyak kalangan dan dianggap sebagai sesuatu yang sudah lazim dalam istilah studi agama-agama, seperti halnya pembagian agama menjadi “agama samawi” (agama langit) dan “agama ardhi” (agama bumi) – pembagian yang sangat bermasalah.

Istilah ”Abrahamic Faith” mulai popular di dunia Islam, setelah pada tahun 1986, The International Institute of Islamic Thought (IIIT), menerbitkan sebuah buku berjudul Trialogue of the Abrahamic Faiths (ed. Ismail Raji al-Faruqi). Secara harfiah, judul buku itu adalah “Trialog antar Agama-agama Ibrahim”.  Buku ini merupakan kompilasi makalah hasil konvensi tahun 1979 di New York yang diselenggarakan oleh American Academy of Religion (AAR).

Pada 8 November 2007, Republika menurunkan sebuah kolom Prof. Azyumardi Azra berjudul ”Trialog Peradaban”. Prof. Azra menceritakan, bahwa pada 21-24 Oktober 2007, Harvard University menyelenggarakan sebuah konferensi bertema ”Children of Abraham: A Trialogue of Civilization”.  Kata Azra, ’Anak-anak Ibrahim’, tak lain  adalah para pengikut tiga agama: Yahudi, Kristen, dan Islam. Pembicaraan antara ketiga agama (trialog) diharapkan dapat menumbuhkan saling pengertian dan toleransi yang pada gilirannya mendatangkan perdamaian.
Lebih jauh Azra menulis:

”Dalam makalah berjudul ‘Trialogue of Abrahamic Faiths: Towards the Alliance of Civilizations”, saya melihat ‘Abrahamic Faiths’ yang dalam al-Quran disebut sebagai ‘millah Ibrahim’ memiliki banyak kesamaan dan afinitas; lebih dari itu ketiganya juga berbagi sejarah yang sama. Tetapi, tentu saja, masing-masing agama Nabi Ibrahim tersenut unik dalam dirinya sendiri. Lagi pula, para penganut ketiga agama itu ibarat kakak-adik, juga terlibat dalam persaingan, kecemburuan, konflik, dan bahkan perang.”

Trialog  atau dialog antar umat beragama memang sudah lama menjadi agenda berbagai kalangan untuk membangun kerukunan antar agama dan bahkan perdamaian umat manusia. Bagi umat Islam, dialog antar-agama, dalam sejarah, bukanlah hal baru. Sejak awal kemunculannya, umat Islam sudah terbiasa berdialog dengan siapa saja.  Di Mekah, sebelum hijrah, Rasulullah saw dan para sahabat sudah berdialog dengan kaum musyrik Arab dan pengikut Kristen.  Saat hijrah ke Habsyah, Ja’far bin Abdul Muthalib sudah berdialog dengan pengikut Kristen dan juga Raja Najasyi yang ketika itu masih memeluk agama Kristen. Di Madinah, Rasulullah saw melayani perdebatan dengan delegasi Kristen Najran.
Sejumlah ayat al-Quran dengan tegas mengajak kaum Yahudi dan Kristen untuk berdialog dan kembali kepada konsep Tauhid. Misalnya, QS Ali Imran: 64 menyebutkan:

”Katakanlah, wahai Ahlul Kitab, marilah kita kembali kepada ’kalimah yang sama’ (kalimatin sawa’) antara kami dan kalian semua, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak menserikatkan Allah dengan sesuatu pun dan kita tidak menjadikan sebagian diantara kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka ingkar, maka katakan, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim.”

Klaim eksklusif

Tidak dapat dipungkiri, bahwa baik Yahudi, Kristen, maupun Islam, mengklaim sebagai pewaris khas (eksklusif) ajaran Ibrahim.  Kaum muslim yakin, bahwa ’millah Ibrahim’ adalah agama Tauhid, dan hanya Islamlah yang konsisten melanjutkan ajaran Tauhid Nabi Ibrahim.  Al-Quran menjelaskan: “Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang hanif.” (QS 4:125).  “Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67).

Dalam konsep Islam, Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir yang menegaskan kembali ajaran tauhid yang dibawa para nabi sebelumnya. Karena itulah, dalam perspektif Islam, ‘millah Ibrahim’ atau ‘the religion of Ibrahim’ adalah agama Tauhid yang ditegaskan kembali oleh Nabi terakhir, Muhammad saw.  Dalam perspektif Islam, menggunakan istilah ”Abrahamic Faiths” (agama-agama Ibrahim), dalam bentuk jamak yang memasukkan agama Yahudi dan Kristen sebagai ’millah Ibrahim’, adalah kekeliruan.

Dalam konferensi tahun 1979 di New York tersebut, melalui makalahnya yang berjudul “Islam and Christianity in the Perspective of Judaism”, Michel Wyschogrod, profesor filsafat di Baruch College, City University, New York, memaparkan persoalan mendasar dalam pemahaman keagamaan antara Yahudi, Kristen, dan Islam. Yahudi dan Kristen bersekutu dalam Bibel (Perjanjian Lama). Tetapi berbeda secara mendasar dalam konsep Trinitas dan penafsirannya. Dengan Islam, Yahudi tidak bermasalah dalam soal pengakuan Tuhan yang satu (monotheism). Tetapi, Muslim memandang bahwa telah terjadi penyimpangan (tahrif) yang serius pada Kitab Yahudi (juga Kristen).

Gambaran Prof. Michel Wyschogrod tentang Islam tersebut tidak sepenuhnya benar. Monoteisme memang mengakui Tuhan yang satu. Tetapi, monoteisme tidak sama dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, Tauhid adalah pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan ada unsur ikhlas, rela diatur  oleh Allah SWT. Maka, syahadat Islam adalah “Tidak ada tuhan selain Allah”, bukan “Tidak ada tuhan selain Tuhan”, juga bukan “Tidak ada tuhan selain Yahweh”. Karena itu, jika orang menyembah Tuhan yang satu, tetapi yang ‘yang satu’ itu adalah Fir’aun, maka dia tidak bisa disebut ‘bertauhid’. Iblis pun tidak bertauhid, tetapi kafir, karena menolak tunduk kepada Allah, meskipun dia mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

Dalam perspektif Islam inilah, memasukkan agama Yahudi  (Judaism), sebagai ‘millah Ibrahim’ juga patut dipertanyakan. Kaum Yahudi memang menyembah Tuhan yang satu. Tetapi, hingga kini, mereka masih berselisih paham tentang siapa Tuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai ‘Yahweh’. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: “Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.” Jadi, hingga kini, belum jelas, siapa nama Tuhan Yahudi.

Karena menolak beriman kepada kenabian Muhammad saw, maka kaum Yahudi kehilangan jejak kenabian dan Tauhid, karena kehilangan data-data valid dalam Kitab mereka. Th.C.Vriezen, dalam buku ”Agama Israel Kuno”  (Jakarta: BPK, 2001), menulis, bahwa “Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah kembali oleh penyadur)… Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan.”

Senada dengan Yahudi, Kristen juga menolak kenabian Muhammad saw dan bahkan mengangkat status Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan. Al-Quran memberikan kritik-kritik yang sangat mendasar terhadap konsep ketuhanan Kristen ini. (QS 19:88-91, 5:72-75, dll.). Secara tegas, al-Quran menyebutkan, bahwa Nabi Isa a.s. pernah menyeru Bani Israil agar mengakuinya sebagai Rasul, utusan Allah, dan mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad saw. Karena itulah, Islam memandang, kaum Kristen telah melakukan penyimpangan aqidah, karena mengangkat Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan, bukan sebagai utusan Allah. Dengan konsep itu, mereka menolak untuk beriman kepada kenabian Muhammad saw. Segaimana kaum Yahudi, kaum Kristen di Barat tidak mengenal nama Tuhan mereka. Mereka hanya menyebut Tuhannya sebagai “God” atau “Lord”. Soal nama Tuhan, masih diperselisihkan, dalam agama Kristen.

Karena itu, dalam pandangan Islam, yang bisa dimasukkan ke dalam kategori sebagai ‘millah Ibrahim’ saat ini, hanyalah agama Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Kaum Muslim begitu dekat dengan nabi Ibrahim a.s.. Setiap shalat, kaum Muslim membaca doa untuk Nabi Ibrahim. Begitu juga, salah satu hari raya  umat Islam adalah hari raya Idul Adha yang terkait erat dengan kisah perjuangan dan perjalanan hidup Nabi Ibrahim a.s..

Dari persektif Islam ini bisa disimpulkan, sebaiknya istilah “Abrahamic Faiths” tidak digunakan untuk menunjuk kepada agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Tentu saja diantara agama-agama itu banyak unsur persamaan. Tetapi, unsur perbedaannya sangat mendasar, khususnya menyangkut konsep dan nama Tuhan, yang merupakan inti dari semua konsep dalam agama.
Jadi, inilah perspektif Islam. Yahudi dan Kristen tentu punya perspektif  masing-masing. Biarlah perbedaan itu tetap dalam perspektifnya masing-masing, dan tidak perlu dipaksakan untuk sama. Dengan perbedaan itulah akan terjadi dialog. Dalam perbedaan itulah kerukunan bisa dibangun. Di akhirat nanti, akan terbukti, siapa yang benar. Wallahu a’lam. (Depok, 11 November 2007). [www.adianhusaini.com]

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close