Penulisan Buku yang Baik dan Bermanfaat


Pertanyaan:

Bagaimana cara penulisan untuk membuat sebuah buku yang baik dan bermanfaat untuk orang lain khususnya tentang buku-buku agama, di situs apa saya bisa mengirim tulisan yang ada honorariumnya. Trima kasih.

Pengirim: Budi Irhans

 

Jawaban:

Salam kenal Mas Budi Irhans, terima kasih atas kiriman pertanyaan Anda.
Membuat buku berarti membuat proyek untuk menyebarkan ilmu pengetahuan kepada orang lain. Ilmu, pendapat, gagasan, dan harapan yang kita tuangkan dalam sebuah buku kita bagikan kepada orang lain. Agar para pembaca buku kita dapat mengambil manfaat dari tulisan-tulisan yang kita bukukan tersebut.
Tentu saja, untuk memulai proyek pembuatan buku ini harus dirancang secara serius agar hasilnya juga maksimal. Secara umum, buku adalah kumpulan gagasan yang kita runut secara sistematis dalam sebuah buku. Mungkin bisa dikatakan bahwa buku adalah “artikel besar”. Itu sebabnya, pertama kali yang harus dilakukan setelah menentukan tema yang kita ingin bukukan adalah berburu bahan dan data.

Dari situlah kita akan mendapatkan informasi tambahan yang bisa membantu kita untuk memetakan pembahasan apa saja yang bisa ditulis untuk buku kita. Juga, bahan dan data itu akan berguna untuk merunut agar sistematika pembahasan dalam buku kita membentuk kerangka berpikir yang utuh bagi pembaca untuk memahami gagasan yang kita sampaikan. Dengan informasi yang berhasil kita kumpulkan, kita bisa memilih dan memilah informasi yang mana saja yang akan kita gunakan untuk penguat di awal pembahasan, dan informasi mana saja yang akan kita jadikan argumen untuk ditempatkan di tengah pembahasan. Begitu juga bahan dan data apa saja yang akan kita gunakan sebagai ‘peluru’ untuk mengakhiri pembahasan yang kita sampaikan di buku tersebut. Sehingga diharapkan, isi buku yang kita buat itu kaya dengan informasi, sistematis dan memberikan solusi yang pas. Selain masuk akal, juga aplikatif dan memberikan wawasan tambahan bagi pembaca kita.

Khusus untuk buku agama sebenarnya sama saja cara kerjanya dengan pembuatan buku umum. Perbedaannya hanya pada tujuan dibuatnya buku itu, sehingga bahan dan data yang akan dikumpulkan jadi sangat spesifik, yakni fakta-fakta yang mendukung untuk pembahasan tema dan semuanya ada hubungannya dengan agama. Atau setidaknya fakta itu sebagai pembanding dari argumen yang akan kita lontarkan dalam buku kita.
Ada baiknya saya petakan urutan pembuatannya agar bisa memudahkan Anda dalam memahaminya:

  1. Tentukan sasaran pembaca kita. Anak-anak, remaja, atau orang tua. Untuk pria atau wanita. Untuk kalangan intelektual atau untuk kalangan awam. Ini penting, selain membantu dalam menentukan tema, juga untuk memilih gaya bahasa apa yang ingin disampaikan.
  2. Menentukan tema. Pastikan tema yang kita ambil sesuai dengan sasaran pembaca kita dan sedang menjadi tren. Bisa juga kita menciptakan tren sendiri. Artinya tema yang kita ambil benar-benar baru dan belum banyak dibahas penulis lain. Tapi yang pasti, prinsip dalam menentukan tema itu adalah tema yang dekat dengan kehidupan sasaran pembaca kita dan memang dibutuhkan.
  3. Kita mulai menyusun alur pembahasan. Biasanya disebut dengan pembuatan outline atau kerangka tulisan. Ini sangat berguna untuk membantu kita dalam membatasi apa saja yang perlu ditulis dan memberikan arahan yang jelas dari apa yang akan kita tulis. Pastikan pembuatan outline itu serunut mungkin agar pembaca terbantu untuk memahami gagasan kita. Pola sederhana dalam pembuatan outline adalah: paparkan fakta, mengkritisi fakta, dan akhirnya memberikan solusi. Ini berguna dalam berburu bahan dan data.
  4. Tahap berburu bahan dan data. Bisa di perpustakaan, bisa ‘perpustakaan digital’ alias internet dengan menggunakan mesin pencari macam Google. Fokuskan pencarian data pada bahan informasi yang benar-benar kita perlukan sesuai dengan outline yang sudah kita tetapkan. Jangan tergoda untuk mencari informasi lain. Sebab, akan mengaburkan tujuan dan juga memperlama waktu pencarian.
  5. Khusus buku agama seperti yang Anda tanyakan, maka dibutuhkan sentuhan atau polesan yang menguatkan pembahasan tulisan kita. Itu artinya, penguasaan si penulis terhadap tema yang sedang digarap dalam bukunya menjadi jaminan penting. Misalnya agama Islam, maka kekuatan ide Islam dan solusinya menjadi bagian penting dari buku yang kita buat. Itu sebabnya, penulis harus benar-benar menguasai pembahasan dan pastikan tidak terjadi bias pemahaman. Maka, pengkajian si penulis terhadap tema yang sedang dibahas harus dibarengi dengan pembinaan diri bagi si penulis berupa tsaqafah islamiyah yang cukup (pemahaman terhadap dalil al-Quran, hadis, ijma shahabat, dan qiyas. Serta menguasi syariat Islam dan juga tentang keimanan dan akidah yang cukup). Bahkan jika ingin tulisan kita kuat argumentasinya, harus ideologis. Apalagi Islam memang agama sekaligus ideologi. Artinya, si penulis harus memahami bahwa Islam adalah akidah dan syariat. Sehingga penulis bisa memetakan pembahasan dan mengurai akar masalah suatu persitiwa atau kondisi dengan baik: secara teknis maupun sistemik.
  6. Memulai penulisan. Ini dibutuhkan keterampilan khusus yang hanya bisa dipelajari jika kita sering menulis. Sebab, layaknya mengendarai sepeda motor, menulis akan semakin lancar dan mengalir jika terus dilatih. Karena menulis memang keterampilan. Makin sering dilakukan, insya Allah makin mahir. Sehingga, tahap merangkai kata menjadi kalimat, dan menyusun kalimat menjadi paragraf, serta menggabungkan paragraf dengan paragraf lainnya untuk membangun artikel akan dengan mudah dilakukan. Begitu pula ketika menyulam artikel demi artikel untuk menjadi satu bab, serta merenda bab demi bab untuk jadi lebih menarik dalam sebuah buku.

Menurut saya enam langkah ini bisa menjadi tahapan standar. Karena sejatinya pembuatan buku itu seharusnya sederhana: memaparkah fakta, mengkritisi atau menilai fakta, dan memberikan solusi (baik teknik maupun sistemik). Itu saja. Semoga bermanfaat.

Nah, mengenai situs apa saja yang menerima kiriman tulisan dan memberikan honorarium jika tulisan kita berhasil dimuat di sana, saya pikir cukup banyak. Umumnya, media-media massa yang juga memiliki edisi cetaknya terbiasa memberikan honorarium bagi penulis yang tulisannya dimuat di medianya. Tapi kalo boleh saya menyarankan, target kita membuat dan mengirim tulisan adalah untuk ibadah. Insya Allah motivasi ini akan terus ada dalam diri kita. Sehingga kita akan terus menulis.

Saya yakin banyak penulis yang awalnya hanya rajin mengirim tulisan ke berbagai media, tapi kemudian karena keterampilan menulisnya makin bagus akibat sering diasah, bukan tak mungkin akan mendatangkan efek samping dengan popularitas dan juga materi. Siapa tahu kan? Dengan kata lain, target kita menulis (apalagi bagi penulis pemula) adalah melancarkan cara dan gaya kita dalam menulis. Impian agar tulisan kita bisa cepat dimuat dan mendapat honor sebaiknya ditunda dulu. Apalagi di media kita, seringkali nama besar alias sudah terkenal menjadi jaminan tulisannya dimuat. Padahal, isinya seringkali kurang bermutu dan bahkan tidak bermanfaat bagi orang lain (khususnya tentang agama Islam) jika dinilai dari sudut pandang Islam yang benar.

Jadi, kita yang belum dikenal luas media ini harus bersabar dengan cara terus menulis dan mengirimkan ke berbagai media. Insya Allah semakin sering menulis, nama kita akan semakin dikenal. Apalagi jika tulisan kita memang bagus dan bermanfaat. Coba, mulai dari sekarang ya untuk membiasakan diri menulis. Menulis dan terus menulis. Wallahu’alam.

Salam,
O. Solihin

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s