Surat Anak kepada Ayahnya


Ketika cerita ini dibuat, belum ada yang namanya email, bahkan telepon. Jadi komunikasi jarak jauh masih pake surat. Suatu hari seorang anak – yang tinggal di kota – menulis surat kepada ayahnya di desa. Isinya begini:

“Ayahku tercinta. Sebetulnya saya sangat menyesal menulis surat ini. Saya khawatir, ayah akan sakit hati dan benci pada saya setelah membacanya. Tapi nasi telah menjadi bubur, Ayah. Surat ini sudah terlanjur saya tulis dan saya masukkan ke kotak surat di dekat kos saya. Saya sudah berusaha mengambilnya kembali, saya korek-korek kotak surat itu pakai galah. Tapi tidak berhasil juga, Ayah. Sekarang surat ini barangkali sudah dibawa ke kantor pos dan siap untuk dikirimkan kepada ayah. Jadi sekali lagi, jika ayah membaca surat ini, mohon ampunilah anakmu yang tidak tahu diri ini. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Salam, anakmu.”

Beberapa hari kemudian, si anak menerima surat dari ayahnya yang berbunyi, “Anakku tercinta. Surat ananda yang berisi permintaan maaf dan penyesalan itu, belum ayah terima”[]

Satu pemikiran pada “Surat Anak kepada Ayahnya

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s