Kasih Sayang


Assalaamu’alaikum wr wb

Kata Nabi saw.: “Man la yarham la yurham”. Siapa yang tidak menyayangi, ia tak akan disayangi. Rasa kasih sayang itu merupakan suatu perwujudan dari naluri mempertahankan jenis, yang juga adalah energi yang mampu menciptakan manusia menjadi seorang yang berhati lembut dan mengutamakan sesuatu yang dicintainya. Berkorban adalah salah satu bukti kecintaannya.

Dalam sebuah riwayat, “Seorang perempuan miskin datang menemuiku,” kata Aisyah r.a., “Ia membawa dua orang anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada anaknya. Ia bermaksud untuk memakan sisanya. Tetapi kedua orang anaknya berusaha merebutnya, sehingga kurma itu pun jatuh dari tangannya. Akhirnya, perempuan itu tidak makan kurma satu butir pun. Aku terpesona dengan perilaku perempuan itu. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. Ia bersabda: “Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.” (HR Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)

Itu sebabnya, Islam sebagai agama yang membawa misi ‘rahmatan lil ‘alamin’ , mewajibkan orangtua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka kepada keluarganya. “Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang paling penyayang kepada keluarganya,” kata Rasulullah saw.. Dalam al-Quran, memelihara kasih sayang dalam keluarga merupakan perintah yang sangat ditekankan: “Bertakwalah kamu kepada Allah, tempat kamu saling bermohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga.” (QS an-Nisaa [4]: 1)

Namun, akhir-akhir ini rasa kasih sayang ibarat barang mahal yang sulit dicari. Sampai-sampai, rasa sayang orangtua kepada anaknya sudah mulai pudar dikikis persoalan-persoalan karir dan bisnis. Sehingga anak tumbuh dalam keadaan tanpa kasih sayang. Anak hanya dimanja dengan uang dan cukup dititipkan kepada pengasuh anak yang notabene sangat berbeda dalam mengkomunikasikan rasa kasih sayang ibu kepada anak kandungnya. Mengelupasnya rasa kasih sayang orangtua kepada anaknya, yang secara tidak langsung telah mengantarkan anak belajar sendiri tentang kehidupannya. Lepas kontrol dan cenderung destruktif.

Sehingga wajar bila akhirnya kita bisa menyaksikan anak-anak yang cenderung tak mau diatur oleh orang tuanya sendiri. Bergaul dengan teman-teman sesama pengguna narkotika, seks bebas dan perilaku-perilaku tak layak lainnya. Tak berlebihan jika kemudian dicap sebagai generasi amburadul.

Kasih sayang yang berhasil diwujudkan oleh Rasulullah saw. adalah mengubah kondisi masyarakat yang amburadul menjadi masyarakat yang beradab. Masyarakat yang dibalut dengan rasa kasih sayang yang berhasil tercipta dari proses keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Islam datang dengan serangkaian aturan yang menyelamatkan manusia dari keterpurukan kondisi jahiliyah. Kasih sayang Islam untuk manusia sangat besar pengaruhnya. Mengubah manusia durhaka menjadi ahli ibadah, membawa manusia sombong menjadi tawadhu.

Dalam al-Quran Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri”. (QS Yunus [10]: 44)

Salam,

O. Solihin

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s