footprint1800a

Jejak Langkah 12 Tahun Sudah


Jemarimu agak dingin, Dik. Saat kuremas dengan mesra di malam pertama ketika itu, 12 tahun yang lalu. Di malam itu, aku nyaris tak percaya bahwa yang berhadapan denganku adalah seorang wanita yang sebelumnya sangat asing bagiku. Debar di dada terasa begitu kuat. Apalagi ketika itu jarak kita amat dekat. Sebelumnya, aku cukup dengan memandangmu dari kejauhan, dari tempat kost-ku di pinggir jalan itu, tentu kau masih ingat ketika kuceritakan dahulu di awal pernikahan. Bahkan aku sangat menikmati ketika adik-adik kelasku cerita tentang dirimu. Mereka belum tahu bahwa aku sesungguhnya menaruh hati padamu. Meski sinyalnya mungkin amat lemah ketika itu. Ya, adik-adik kelasku itu, para cowok itu, mereka juga kadang ngerumpi, mereka sering berkelakar bahwa dirimu, dengan dandanan jilbabmu, mengingatkan kepada seorang tokoh di cerita silat  Mandarin, Bibi Lung. Ah, itu memori yang tak bisa kulupakan. Kami pernah tertawa bersama. Dan, tetap mereka belum menyadari bahwa ada seorang lelaki sederhana yang mungkin saat itu tak mereka perhitungkan, yang diam-diam mengagumi dirimu dalam senyum tipis dan binar matanya. Lelaki itu: Aku.

Malam pertama bersama wanita yang asing bagiku sebelumnya, membuat aku kikuk. Begitu juga dirimu,  Dik. Kita memang sama-sama merasakan itu. Tak bersua sebelumnya dalam jarak sedekat itu. Tak pernah mengobrol sebelumnya dengan obrolan penuh harap dan cemas seperti ketika itu. Alhamdulillah, 21 November 1999, memori yang insya Allah tak terlupakan, menjadi awal perjalanan kebersaman kita, mengarungi luasnya samudera kehidupan, hingga kini dan nanti insya Allah di penghujung sisa usia hidup kita. Kita menjadi suami-istri yang insya Allah diberkahi Allah Swt. Insya Allah aku yakin itu, karena Dia telah menyatukan kita dalam ikatan yang sah, di pagi hari yang cerah, 21 November 1999 silam.

Dik, menengok perjalanan selama 12 tahun kebersamaan kita, aku merenung dalam diam. Rasanya baru kemarin kita menikah. Rasanya. Padahal berbilang tahun sudah kita lalui. Dan, faktanya memang kita sudah diamanahi oleh Allah Swt. empat manusia buah cinta kita. Mereka anak-anak kita. Satu persatu lahir menemani perjalanan kebersaman kita. Usia anak kita yang pertama saja sudah 11 tahun lewat. Kita sudah tua, Dik. Padahal aku masih ingat betul rasa bahagianya saat pertama mendengar kehamilanmu, lalu aku sibuk menyiapkan kelahiran anak kita meski ketika itu masih jauh bulannya, dan masih kurasakan ketegangan saat menungguimu melahirkannya. Kini, sebentar lagi ia beranjak remaja, mungkin akan melewati masa persis ketika kita seusianya lewat sedikit. Ada binar bahagia, namun ada sedikit getir menyelinap di sudut hati bercampur harap dan cemas. Dia hadir di episode cerita hidup yang berbeda dengan kita. Zaman yang berbeda dengan kita. Kepada Allah Swt jualah kita tawakal dan berusaha mendidik sekuat kemampuan kita. Insya Allah kita senantiasa berharap kemudahan dan barokah dariNya.

12 tahun perjalanan kita terlalu singkat jika hanya aku tulis dalam sehalaman ukuran A4, atau sepanjang lima ribuan karakter ketukan jemariku di tuts keyboard komputer. Terlalu sederhana dan sangat singkat. Tetapi bagiku, menuliskan sesederhana ini, dalam satu lembar pun, insya Allah tetap bahagia karena bisa ‘memanggil’ kembali sepenggal kisah dari masa lalu kita, sebagai bahan renungan dan evaluasi kembara kita melintasi jarak dan waktu. Bertemu banyak sahabat dan kerabat, berbagi segala yang pernah kita dapatkan, ditemani cahaya mata yang diamanahkan Allah Swt. dalam kehidupan kita. Tak terhitung jumlah suka, begitu juga duka. Tetapi kita hadapi bersama. Kuat dan yakin atas pertolongan Allah Swt. Jarak dan waktu yang telah kita lalui, mustahil bisa kembali lagi. Tugas kitalah untuk menata hari esok dan berikutnya menjadi lebih baik, dengan senantiasa mengharap keridhoan Allah Swt. dan memohon barokahNya.

Dik, semoga kita tetap berbagi kehidupan, meski agak sulit akhir-akhir ini. Hidup kita bukan saja untuk kita, tetapi juga untuk keluarga, untuk dakwah, untuk mewujudkan masa depan Islam dan kaum muslimin yang lebih baik. Sebenarnya malu juga menuliskan ini, karena kenyataannya mungkin masih jauh dari cita-cita kita. Tetapi setidaknya kita pernah punya cita-cita dan berusaha mewujudkannya. Semoga Allah Swt. memudahkan segala urusan kita.

Aku harus akhiri ini, di tengah malam ini. Saat udara mulai agak dingin. Semoga tulisan yang asal coret ini bisa menjadi bagian dari kepingan puzzle yang terus kita susun untuk mewujudkan keinginan dan harapan kita tentang hidup, keluarga, ibadah, dakwah, dan perjuangan melanjutkan kehidupan Islam. Insya Allah.

Dik, 12 tahun sudah kita menikah. Dirimu insya Allah mengingatnya juga. Kita meretas bahagia di sisa usia kita yang hitungan angkanya kian menua. Semoga kekuatan yang kita miliki lebih menonjol ketimbang kelemahan yang sudah pasti ada dalam diri kita. Kekuatan, sekecil apapun itu, ketika kita ikat-kait dalam jalinan kebersamaan tekad kita, insya Allah akan menjadi lebih ajeg, lebih kokoh. Kekuatan yang kita butuhkan untuk menyulam benang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah dalam kebersamaan kita yang kemudian meresonansi ke dalam gerak ibadah, dakwah, dan perjuangan mulia menegakkan syariat Islam di bumi ini. Insya Allah.

Salam,

O. Solihin

Seorang suami dan ayah yang tetap berusaha membagi kehidupannya untuk keluarga dan dakwah dengan tetap berharap ridho Allah Swt.

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s