Kok “Tobat Sambal”, Sih?


  gaulislam edisi 226/tahun ke-5 (27 Rabiul Awwal 1433 H/ 20 Februari 2012)

Hmm… tobat sambal, jenis makanan apaan tuh? Kamu pasti tahu dong yang namanya sambal. Siapa saja yang pernah mencoba sensasinya, pasti bakal mangap-mangap karena kepedasan. Seolah-olah kapok bener nggak mau nyobain lagi karena bikin kuping serasa mau pecah dan bibir dower karena kepedasan. Tapi coba esok harinya, apakah dijamin kamu nggak bakal pingin nyicipin lagi yang namanya si sambal ini? Begitu terus, kapok waktu kepedasan dan ketika sensasi pedas hilang pingin lagi dan lagi.

Nggak beda dengan jenis tobat sambal. Hari ini kapok-kapok nggak mau ngelakuin dosa, tapi esok hari ketika kesempatan datang, perbuatan maksiat diembat juga. Banyak fenomena orang yang menganut tobat sambal ini. Dulu pernah ada seorang teman yang merasa dikibulin oleh pacarnya. Karena patah hati, dia sempat mengakui bahwa pacaran itu bener-bener momen untuk mengibuli orang. Dia bertekad untuk nggak mau pacaran. Eh ternyata tak lama setelah itu hanya berselang sekitar seminggu, dia sudah runtang-runtung dengan cowok lain lagi. Dia sudah lupa dengan tekad dan tobatnya untuk menjauhi perbuatan yang mendekati zina itu.

Itu contoh satu dari sekian banyak kasus. Kalau dipikir-pikir, apa sih yang menyebabkan munculnya tobat sambal ini?

Tobat sambal = lemah iman

Boys and gals rahimakumullah, seseorang meniatkan diri untuk tobat, tentu karena ada percikan iman dan hidayah dalam hatinya. Masalahnya, tidak semua orang mau memelihara iman dan hidayah yang telah susah payah diperolehnya. Orang seperti ini biasanya menganggap cukup dengan apa yang telah dipunyainya. Dia mudah merasa puas dan bangga karena dirinya bisa tobat sedangkan orang lain masih bergelimang dosa. Hati-hati! Bila tak waspada, setan bermain dengan cantiknya di ranah ini. Setan akan menghembuskan sifat sombong dan riya’ (pamer) akan tobatnya itu tadi.

Kurangnya rasa sabar dan syukur juga merupakan indikator lemah iman. Orang bertobat itu harus sabar. Sabar dalam menjauhi kemaksiatan dan sabar dalam melakukan kebaikan. Bila sabar ini tak bisa dilakoni oleh orang yang brtobat, alamat ia akan kembali ke jalan keburukan seperti dulu. Begitu juga dengan syukur. Orang bertobat harus senantiasa bersyukur (bukan sombong!) karena Allah masih sayang padanya dengan memberikan percikan hidayah sehingga ia bisa menemukan jalan keimanan. Apabila syukur ini ditinggalkan oleh orang yang bertobat, bukan tak mungkin satu ketika nanti Allah akan mencabut nikmat tobat dari dalam diri orang tersebut.

Bila “tobat sambal” ini menjangkiti diri, maka jangan menganggapnya enteng. Dan tidaklah seseorang itu menganggap ringan suatu dosa kecuali itu merupakan pintu untuk melakukan dosa yang berat. Ih… naudzubillah. Misalkan saja seseorang yang menganggap berbohong itu dosa kecil dan biasa. Toh banyak orang melakukannya, begitu mungkin pikirnya. Tapi dia lupa bahwa dosa yang dianggapnya kecil ini adalah awal dari dosa besar yang bisa jadi akan dilakukannya bila ia tidak segera berubah. Sebagaimana di sebuah iklan layanan masyarakat tentang korupsi, di situ digambarkan kebiasaan kecil mulai suka menyontek. Kemudian ketika besar dan berumah tangga, ia membohongi pasangan alias selingkuh. Dan akhirnya ketika menjadi pejabat, korupsi menjadi biasa karena kebiasaan buruk dengan berbohong ini dipupuk sejak kecil.

Jadi tak ada obat mujarab bagi pelaku “tobat sambal” ini selain memperkuat iman dan menjauhi lingkungan buruk yang bisa merusak kondisi tobatnya tadi.

Jangan salah pilih teman

Orang yang baru tobat biasanya dihinggapi PD yang agak OD alias percaya diri yang over dosis atau berlebih. Dia bangga sekali dengan keislamannya sehingga seolah-olah ingin menunjukkan pada semua orang dan mengajak mereka untuk menempuh apa yang telah dilaluinya. Tidak salah sih, bagus malah. Masalahnya bila tak disertai ilmu yang memadai dan keimanan yang kuat, bekal semangat saja tidak cukup. Salah-salah bukan tak mungkin si new comer ini malah terkena bumerang dan tak bisa menyanggah perkataan orang-orang yang tidak suka ia menempuh jalan kebenaran.

Orang tobat ibarat orang yang baru sembuh dari sakit. Dia harus menjauhi segala hal yang bisa mengakibatkan sakitnya kambuh lagi. Bila tidak, maka sangat bisa dipastikan dia akan kembali ke kebiasaannya yang lama. Setan sangat lihai mempermainkan hati manusia yang lemah iman. Bisa saja ia berbentuk manusia tapi dalemannya setan sejati. Ia pura-pura memahami kondisi kamu yang sedang proses tobat. Ia pun menunjukkan bahwa dirinya juga sudah tobat dari perbuatan dosa. Kamu pun percaya dan mulai curhat padanya.

Si setan berbentuk manusia ini nggak rela kamu berjalan di rel aturan-Nya. Dia mencari celah dari imanmu yang lemah. Mula-mula sebatas diajak ngobrol ringan, ditraktir sana-sini. Diyakinkan bahwa dia adalah orang yang bisa dipercaya dan menganggap kamu sebagai seseorang yang senasib dan sesaudara karena punya masa lalu sama-sama kelam. Kalau kamu tak waspada, HAP! Si setan langsung menjeratmu ke dalam lingkaran maksiat lagi.

Kamu pun jadi lupa dengan proses tobatmu yang sekian lama kamu cari dan kemudian temukan. Kamu terbuai oleh bujuk rayu setan sehingga pelan tapi pasti kamu pun merasa enggan untuk menapaki jalan tobat yang berliku. Muncullah anggapan bahwa berteman dengan setan yang menyamar sebagai manusia ini jauh lebih asyik daripada dengan teman ngaji ataupun saudara seiman. Apalagi kalau si setan ini berhasil memenuhi (meskipun semu) kebutuhanmu akan materi. Hobi bohong kamu yang sempat sembuh, bisa muncul lagi bila dia berkumpul dengan orang-orang yang lemah iman apalagi yang kafir.

Bila kamu memang serius tobat, maka berkumpullah dengan orang-orang salih. Mereka inilah yang bisa menjadi teman sejatimu karena akan mengingatkanmu bila kamu mulai melenceng dari rel-Nya. Jangan sebaliknya, orang mukmin kamu benci, caci-maki dan su’udzoni tapi orang kafir malah kamu jadikan sahabat bahkan saudara.

 Ayo, tobat nasuha

Sobat muda muslim, kunci untuk mengatasi fenomena tobat sambal adalah tobat nasuha yaitu tobat yang sebenar-benarnya tobat dan bertekad untuk tidak akan mengulangi perbuatan dosa lagi. Percayalah, Allah Mahamengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Bila tobat yang kamu lakukan nggak serius dan asal tobat saja, maka cepat atau lambat Allah akan menunjukkannya padamu. Dengan cara apa? Dengan banyak cara salah satunya adalah begitu mudahnya kamu kembali kufur setelah sebelumnya beriman. Kembali bermaksiat setelah sebelumnya tobat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Allah Swt. berfirman, ‘Sesungguhnya Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba terhadap-Ku, dan aku bersamanya saat dia mengingat-Ku.’ Demi Allah, sesungguhnya Allah lebih bahagia dengan taubat salah seorang di antara kalian daripada orang yang mendapati kesesatannya di padang pasir. Allah Swt berfirman lagi, ‘Barangsiapa mendekati-Ku sejengkal bumi, maka aku akan mendekatinya sejauh satu hasta. Barangsiapa mendekati-Ku sejauh satu hasta, maka Aku akan mendekatinya sejauh satu depa. Jika dia mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari kecil.” (HR Muslim No. 2744)

Allah Swt. befirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS at-Tahrim [66]: 8)

Taubat nasuha itu adalah bentuk tobat yang tidak akan ada kata kembali (untuk melakukan dosa yang diperbuat) setelah melaksanakan tobat tersebut, sebagaimana air susu tidak akan pernah kembali ke tempatnya semula. Pendapat ini diriwayatkan dari Umar bin Khatthab, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, dan sahabat Mu’adz bin Jabal mengangkat pendapat ini hingga sampai kepada Rasulullah Saw.

Ulama tafsir, al-Qurthubi, mengatakan bahwa taubat nasuha adalah di mana di dalamnya terkumpul empat hal: istighfar dengan lisan, menjauhkan diri dari dosa dengan anggota badan, bertekad untuk tidak kembali melakukan dosa dengan hati, dan terakhir adalah meninggalkan perkara yang buruk.

Secara sederhana taubat nasuha itu meliputi tiga “illat”: yaitu qillat (merasa kecil), Illat (merasa ada penyakit), dan dzillat (merasa hina). Kemudian, ciri-ciri perilaku orang yang bertaubat, yaitu 3S: sedikit bicara, sedikit tidur, dan sedikit makan. Sedangkan karakteristik orang yang bertaubat adalah 3M, yaitu memerangi hawa nafsu, memperbanyak air mata, dan mematikan rasa lapar dan dahaga. (www.syakirsula.com)

Tobatlah lagi dan lagi

Bro en Sis pembaca setia gaulislam, Allah Ta’ala tak akan pernah bosan menerima tobat hamba-Nya. Tapi jangan dijadikan ini sebagai alasan bagi kamu untuk melakukan dosa yang sama lagi dan lagi. Bila ini terjadi, sama saja kamu dengan menghina Allah seolah-olah menganggap Dia tak tahu apa yang ada di dalam hatimu. Misalnya nih, kamu punya teman yang berbohong padamu. Karena ketahuan ia minta maaf. Tapi menit berikutnya ia berbohong lagi. Ketahuan lagi minta maaf lagi. Begitu terus sampai berkali-kali. Apakah bisa menganggap permintaan maaf orang seperti ini tulus? Tentu tidak, karena ia selalu mengulang kesalahan yang sama berkali-kali.

Jangan coba permainkan Allah Swt. dengan tobat palsu! Allah memang berbeda. Berapa kali pun manusia berbuat salah dan dosa, Allah pasti mengampuni selama manusia tersebut meminta ampun pada-Nya. Masalahnya apakah kamu yakin masih bisa bertobat dan meminta ampun pada Allah di tengah-tengah perbuatan maksiat yang dengan sengaja dilakukan?

Ingat, kita tak tahu kapan ajal tiba. Bertobatlah selagi nyawa masih ada. Jangan karena menganggap diri masih muda, kemudian dengan enaknya bermaksiat karena menganggap tobat bisa dilakukan nanti-nanti saja. Jangan sampai di dunia kita sengsara, di akhirat masuk neraka hanya karena telat bertobat, hiii… naudzubillah min dzalik.

Hidup ini singkat, sobat. Bertobatlah dan selalu sempatkan untuk bertobat. Jauhi lingkungan buruk, dekati orang-orang shalih, niatkan tetap beriman. Yakinlah, keberkahan dan ketenangan hidup pasti kamu dapatkan ketika kualitas tobatmu 100%. Insya Allah pasti! [ria: riafariana@gmail.com]

Iklan

Satu pemikiran pada “Kok “Tobat Sambal”, Sih?

  1. sukron buat tulisannya,, bisa mengingatkan saya lagi..
    tulisan ini bener” pas dg kondisi saya saat ini..
    memang tidak mudah ya utk bisa bener” taubat nasuha, apalagi kalo lingkungan sekitar tdk mendukung.. 😦

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s