Ayo, Benahi Diri dengan Islam!


 gaulislam edisi 239/tahun ke-5 (30 Jumadits Tsaniy 1433 H/ 21 Mei 2012)

 

Sobat muda muslim, mungkin sambil nyantai, ngopi, atau tiduran, dan tentunya sambil membaca buletin gaulislam kesayangan kamu ini, marilah sejenak kita membuka mata, telinga, dan hati kita. Melihat dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia remaja saat ini. Ya, dunia remaja. Dunia yang sedang kita arungi ini. Dimana di dalamnya rawan dengan godaan kesenangan semu yang melenakan. Penuh dengan tipu daya iblis dan konco-konconya yang ingin menjerumuskan remaja—yang identik dengan labilnya jiwa—pada jurang kemaksiatan yang nista. Hehehe.. kok jadi serem gini bahasanya.

Bro en Sis, pada faktanya ada remaja yang masih dapat bertahan, ada pula yang akhirnya terseret godaan. Misalnya, dengan dalih suka sama suka, sepasang muda-mudi akhirnya terjerumus dalam sebuah hubungan tanpa status atau istilah pendeknya pacaran. Nah, pas pacaran, dengan alasan pembuktian cinta dan kesetiaan, atau mungkin karena syahwat yang sudah tak dapat dibendung lagi, terjerumuslah keduanya dalam seks bebas—yang tentu saja di luar nikah. Kalau sudah begini, urusan tambah runyam deh kalo kamu yang cewek tekdung alias hamil. Udah gitu cowoknya kabur pula. Waduh!

Godaan yang lain misalnya narkoba. Barang yang satu ini, meskipun dibenci banyak kalangan dan peredarannya dilarang pemerintah, tetap aja bikin ketar-ketir para orang tua karena ternyata banyak remaja yang penasaran ingin mencicipinya. Biasanya karena ingin lari dari permasalahan hidup, remaja mengkonsumsinya. Padahal kalau kita mau berpikir lebih jauh dan matang, kebahagiaan apa sih yang akan kita dapatkan dari narkoba? Ya, mungkin kamu akan merasa bahagia. Tapi ingat, itu kebahagiaan yang semu dan hanya sebentar saja. Hanya pada saat kamu teler. Setelah sadar, masalah akan muncul lagi dan bahkan bertambah akibat menggunakan narkoba, semisal masalah kesehatan, terjerat hukum, dan lain sebagainya.

Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, hal lain yang saat ini menjadi tren di kalangan remaja adalah tawuran. Sudah berapa kali kita melihat dan mendengar berita tentang tawuran remaja di TV? Tentu sering ya. Mereka datang baik itu dari tingkat mahasiswa, SMA, dan SMP. Bahkan yang lebih menggelikan, anak SD pun saat ini juga ikut-ikutan tawuran. Sungguh terlalu. Wataknya sudah jadi sangar. Padahal kalau dilihat, tawuran ini seringkali muncul akibat masalah sepele yang sebenarnya masih dapat diselesaikan tanpa jalan kekerasan. Misalnya, tawuran terjadi hanya karena saling ejek antar sekolah. Atau karena urusan pribadi salah satu siswa akhirnya merembet ke teman-temannya yang lain karena yang punya masalah mengadu ke teman-temannya. Teman-temanya tidak terima dan akhirnya menyerang lawannya dan terjadilah tawuran. Kalau misalnya saat remaja saja kamu hobi tawuran, bagaimana saat kamu beranjak dewasa nanti? Padahal remaja adalah masa depan sebuah generasi. Catet ya Bro!

Belajar dan jangan maksiat

Tugas seorang pelajar adalah belajar. Belajarlah yang baik dengan niat beribadah kepada Allah. Sayangnya, pada faktanya kita masih menjumpai banyak remaja yang tidak sungguh-sungguh belajar. Sedih deh.

Bro en Sis rahimakumullah, fakta-fakta di atas tentu sudah tidak dapat kita sangkal lagi keberadaannya di tengah kehidupan remaja. Namun, apakah dengan kenyataan ini kita harus pasrah dan lalu ikut-ikutan menambah panjang remaja yang tersesat? Nggak kawan. Sebagai seorang remaja muslim, kita harus sadar bahwa fakta-fakta di atas jauh menyimpang dari nilai-nilai Islam. Islam melarang umatnya mendekati zina. Mendekatinya saja tidak diperbolehkan. Apalagi sampai melakukannya. Mari kita lihat salah satu firman Allah swt, yang artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra’ [17]: 32)

Ya, zina adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk untuk ditempuh. Cinta memang anugrah dari Allah swt. Namun, jangan jadikan alasan saling mencinta sebagai kedok untuk melakukan zina. Allah Swt, yang telah memberikan kita rasa cinta itu, juga telah memberikan tuntunan kepada kita bagaimana mengelolanya sehingga tidak mendatangkan murka-Nya, melainkan mendatangkan pahala dan rahmat dari-Nya. Lalu tuntunannya bagaimana? Tuntunannya adalah dengan menikah dan membina keluarga sakinah ma waddah wa rahmah sesuai tuntunan syariat. *tapi itu nanti kalo kamu udah siap segalanya. Sekarang? Ya, kamu belajar aja dulu sambil menyiapkan mentalmu. Ok?

Boys and gals, kalo sebagai remaja Islam masih saja mau terjerumus ke lembah kemaksiatan yang nista, itu sama aja kamu telah kehilangan jati diri sebagai seorang muslim. Bayangin nih, apa masih pantas dia disebut hamba Allah sedangkan bujuk rayu setan lebih diagung-agungkan daripada perintah dan larangan Allah Swt.? Apakah masih pantas bagi seorang muslim make narkoba, doyan gaul bebas, senang seks bebas, atau bahkan menjadi aktivis pembela kemaksiatan dan masih saja mengaku-ngaku sebagai hamba Allah? Tidak kawan. Dia bukan hamba Allah Ta’ala tapi sangat munkin sudah jadi hamba setan laknatullah. Sayangnya saat ini, di tengah masyarakat, pengikut setan ini biasanya lebih banyak daripada orang-orang yang memasrahkan jiwa raganya hanya pada Allah Swt. Hati-hati sobat!

Islam sebagai solusi

Sobat muda muslim, kemaksiatan yang tumbuh subur, merajalela di tengah kehidupan masyarakat sebenarnya menunjukkan bahwa masyarakat itu sedang sakit. Dibutuhkan obat untuk menyembuhkannya. Dan juga membutuhkan orang-orang yang mau dan mampu untuk mengubah kondisi terpuruk ini. Bener lho.

Lalu obatnya apa? Obatnya tidak lain adalah kembali pada Islam. Bukan kembali dengan setengah hati kawan, namun kembali pada Islam secara penuh. Dengan kata lain berpegang pada agama ini secara kaffah, menyeluruh. Sebab, Islam akan benar-benar menunjukkan perannya sebagai rahmat bagi seluruh alam jika ia benar-benar diterapkan di tengah-tengah masyarakat secara kaffah, tidak sepotong-sepotong seperti halnya yang kita jumpai saat ini.

Nah, obatnya sudah ada yaitu Islam. Sekarang yang jadi permasalahan adalah siapa yang akan memperkenalkan dan memberikan obat ini pada masyarakat yang sakit itu? Tentu kita sebagai remaja muslim harus berperan di sini. Tengoklah sejarah. Berapa banyak perubahan-perubahan besar di tengah-tengah masyarakat yang terjadi ternyata motor penggeraknya adalah para pemuda. Jarang kita temui misalnya kakek-kakek atau nenek-nenek turun ke jalan untuk menumbangkan sebuah rezim otoriter. Para pejuang yang bertempur mengusir para penjajah dari Indonesia juga didominasi kaum muda. Tanda apa ini? Ini menandakan bahwa seorang remaja atau pemuda itu identik dengan perubahan. Mereka adalah penerus langkah sebuah generasi. Jika remajanya saja loyo dan pasrah dengan keadaan, bagaimana sebuah masyarakat bisa bangkit dari sakit atau keterpurukannya? Coba kita renungkan kawan. Yuk!

Itu sebabnya, udah selayaknya sebagai remaja Islam ‘bangun’ dari keterlenaan kita. Jangan mau dininabobokkan oleh kondisi yang menipu. Percayalah, masyarakat sedang menunggu kita. Menunggu gerak perubahan dari para remajanya. Mari singsingkan lengan baju. Pelajari Islam dengan sungguh-sungguh supaya kita tahu bagaimana caranya menjalani hidup yang benar. Setelah kita mempelajari dan memahami Islam, dakwahkan Islam ini di tengah-tengah kehidupan masyarakat hingga mereka benar-benar ‘sembuh’, lalu keluar dari keterpurukan menuju sebuah masyarakat yang penuh dengan kebaikan di dalamnya.

Bro n Sis yang dirahmati Allah, jelas sekali bahwa jika kita ingin bangkit dan membangkitkan masyarakat dari keterpurukan, maka kita harus sadar, belajar, dan berpikir. Sadar bahwasanya masyarakat membutuhkan perubahan ke arah yang lebih baik. Sadar bahwa kondisi yang ada saat ini bukanlah kondisi yang ideal bagi sebuah masyarakat, dan juga sadar bahwa kita sedang berada di tengah masyarakat yang sakit. Oleh karena itu kita harus belajar. Belajar apa? Belajar cara untuk bangkit dan membangkitkan masyarakat keluar dari keterpurukan. Dan tidak ada cara lain membawa diri dan masyarakat untuk bangkit, kecuali dengan menerapkan Islam secara menyeluruh baik itu bagi individu maupun masyarakat itu sendiri. So, kita harus senantiasa berpikir, bagaimana caranya agar Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam ini bisa diterima dan diterapkan di tengah masyarakat kita.

Sobat muda muslim ‘fans berat’ gaulislam, coba deh kita sedikit menengok sejarah kehidupan para sahabat Rasulullah saw. Awalnya mereka adalah bagian dari masyarakat jahiliyahdan bahkan ada di antara mereka yang terlibat dalam kemaksiatan, dan yang pasti mereka juga dikenal sebagai penyembah berhala. Menyembah sesuatu yang sebenarnya tidak layak untuk disembah.

Namun, datanglah obat penyembuhnya, yaitu Islam. Lalu banyak di antara mereka yang benar-benar sadar bahwa mereka jahil dan juga berada dalam masyarakat yang jahiliyah. Setelah masuk Islam, mereka sungguh-sungguh mempelajari dan mendakwahkan risalah Islam ini. Hasilnya, kondisi jahiliyah yang mengakar itu pun sirna dan berganti dengan kemuliaan. Sebuah peradaban agung lahir dan menaungi dua pertiga belahan dunia berabad-abad lamanya.

Jadi, akankah kita masih ragu untuk benar-benar mencintai, mempelajari, memahami dan mendakwahkan risalah Islam ini? Jika kita mau bangkit, tentu kita harus bersungguh-sungguh. Mau? Tentu mau dong ya. Sip! [Farid Ab | FB: facebook.com/faridmedia]

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close