20090813161130

Lara, Mantan Atheis Ini Dulu Protes Saat Islam Dipojokkan


Muslimah sedang shalat (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, OTTAWA – Gadis keturunan Skandinavia ini lahir  dan besar di Kanada. Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak pernah berafiliasi dengan agama apapun. “Aku dulu seorang Atheis,” ungkapnya.

Namun, menginjak remaja ia mulai untuk mempercayai adanya Tuhan. Meski demikian, ia menolak untuk berafiliasi dengan agama apapun. “Aku bahkan tidak tertarik dengan ajaran Kristen,” ucapnya.

Seiring perjalanan waktu, tepatnya semasa kuliah, Lara mulai bersinggungan dengan Islam. Ia berkenalan dengan beberapa mahasiswa Muslim yang berada di Kanada. Dari situlah, ia mulai belajar tentang Islam. Meski, bukan berarti Lara tertarik untuk mulai menerima agama.

Sikapnya yang keras akhirnya melunak, tatkala ia membaca artikel media tentang Islam. Saat itu, ia merasa pemberitaan terhadap umat Islam tergolong keterlaluan. “Aku sempat mengirimkan beberapa artikel ke sejumlah media. Jujur, aku membela Islam,” kata dia.

Dari pembelaan itu, Lara mulai kembali untuk mengenal lebih dekat tentang Islam. Ia pun meminta kepada teman kuliahnya yang muslim guna mendapatkan buku tentang Islam. “Aku merasa apa yang dituliskan media banyak kekeliruan. Apa yang aku baca kian memperlihatkan kebenaran tentang Islam,” kata dia.

Tak hanya lewat buku, Lara pun belajar tentang Islam secara langsung lewat koleganya yang muslim. Lara merasakan kenyamanan tanpa ada tekanan terhadapnya.

Saat itulah, Lara mulai berperilaku layaknya seorang muslimah. Ia tidak lagi mengkonsumsi alkohol dan babi. Ia juga tidak lagi berpakaian mencolok . “Aku hanya memakan daging halal, tidak mengenakan riasan berlebih, dan berpakaian serba tertutup,” ungkapnya.

Kecintaan pada Tuhan Menguatkannya Berjilbab

REPUBLIKA.CO.ID, Menyelami kehidupan sebagai muslimah, membuat Lara mulai memahami bahwa Islam bukanlah agama buatan manusia. Islam adalah kebenaran. Yang menarik, Lara mengambil satu kesimpulan dimana setiap bayi yang lahir ke dunia sebenarnya adalah muslim.

“Awalnya aku tidak tahu bahwa Islam itu adalah universal tidak hanya milik masyarakat Timur Tengah. Alhamdulillah, semakin banyak pengetahuan yang aku dapat tentang Islam, aku semakin percaya bahwa Islam adalah agama yang logis,” paparnya.

Lara pun kian mantap untuk menerima Islam, dan hidup sebagai muslima. Ia pun tak ragu untuk mengucapkan dua kalimat syahat. “Alhamdulillah, aku mengucapkan syahadat tak lama sebelum ramadhan. Aku seolah tak sabar untuk melaksanakan puasa pertama,” kata dia.

Usai bersyahadat, ia segera menjalankan kewajibannya sebagai muslim. Ia laksanakan shalat dan puasa. Ia kaji Alquran dan hadist. Tak berselang lama, Lara mulai mengenakan jilbab.

Lara mengaku di awal-awa merasa belum siap untuk berjilbabTapi rasa cintanya kepada Allah SWT membuat ia kuat untuk mengenakan jilbab. “Tak mudah memang mengambil langkah itu,” katanya.

Ia tak memungkiri rrasa hawatir akan menerima perlakuan buruk dari orang lain, terutama keluarga. Karena itu, Lara tak langsung melainkah berlatih mengenakan jilbab. Ia hanya kenakan jilbab saat menuju masjid guna menghadiri pengajian. Perlahan, Lara mulai mengenakan jilbab secara permanen.

“Ada satu hari dimana aku akhirnya tidak bisa lagi keluar ruangan dengan kepala tanpa tertutup kain. Aku sadar, itu akan membuat orang lain heran. Tapi aku tidak mungkin menyenangkan setiap orang,” kata dia yang setelah memakai jilbab, Lara merasa lengkap menjadi seorang muslim.

Yang membuat heran Lara, sebagian masyarakat Kanada kerap berkomentar soal jilbab. Padahal mereka tahu, bahwa para pelayan Gereja ada pula yang mengenakan tutup kepala. Namun, tiada ada seorang pun warga Kanada yang memprotes hal itu.

Semenjak itu, Lara pun mulai mendalami Islam. Ia belajar bahasa Arab dengan harapan mempermudahnya membaca Alquran. “Insya Allah, aku terus berjuang untuk menjadi muslimah yang saleh. Aku mulai dengan melawan sifat jahat dalam diri. Tentu tidak mudah, karena membutuhkan usaha yang terus menerus tanpa akhir,” pungkasnya. [republika: bagian 1; bagian 2]

Satu pemikiran pada “Lara, Mantan Atheis Ini Dulu Protes Saat Islam Dipojokkan

  1. Mengapa manusia bisa menjadi seorang yang berpandangan atheistik (?) karena pada dasarnya ia beranggapan bahwa ‘yang nyata’ atau realitas adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh dunia pengalaman indera,dan prinsip ini tidak berubah walau ia telah menjadi filosof atau saintis.ketika ia menjadi seorang filosof maka jalan pemikirannya menjadi terbatas sebatas prinsip cara pandangnya terhadap realitas itu,sehingga sejauh manapun ia berfikir ia tidak bisa memahami konsep yang berhubungan dengan realitas yang bersifat abstrak seperti agama.begitu pula ketika ia menjadi saintis maka sebagaimana kita ketahui ia mendeskripsikan konsep ‘saintisme’ yang bersandar pada prinsip bahwa ‘ilmu’ adalah segala suatu sebatas wilayah pengalaman dunia indera atau segala suatu yang bisa dibuktikan oleh dunia pengalaman indera dengan metodologi yang dibatasi sebatas bisa dibuktikan secara empirik.artinya ia mengunci definisi pengertian ‘ilmu’ di wilayah dunia alam lahiriah-material sehingga dunia abstrak dianggap bukan wilayah ilmu atau memisahkan ilmu dari realitas yang bersifat abstrak sehingga ilmu tidak bisa menjelajah dunia abstrak.dan cara berfikir akal nya pun menjadi terikat kepada dunia panca inderanya.sehingga baginya definisi pengertian ‘rasional’ menjadi tidak bisa jauh dari ‘segala suatu yang dunia indera masih bisa menangkap dan atau memahaminya’.
    Artinya atheisme secara ilmiah berawal dari cara pandang manusia yang salah terhadap realitas,ia melihat realitas secara sebelah atau hanya sepotong,tidak utuh dan menyeluruh,hanya sisi atau dimensi realitas yang tertangkap oleh dunia inderawi,dan ‘buta’ terhadap sisi realitas yang lain yaitu yang bersifat abstrak (bermata satu atau ‘dajjal’ menurut bahasa kitab suci),cara pandang demikian otomatis sulit memahami agama..
    Padahal konsep tentang realitas yang sebenarnya (yang utuh dan menyeluruh) adalah : ‘sesuatu yang memiliki dua dimensi yaitu dimensi yang abstrak dan yang konkrit’, sebagaimana sebagai contoh : manusia itu terdiri dari jiwa dan raga atau komputer terdiri dari soft ware dan hard ware (seluruh realitas selalu terdiri dari dua dimensi).dan inilah konsep tentang realitas versi agama sehingga dalam agama manusia dikonsep untuk harus percaya terhadap adanya dua dimensi relitas itu,dan cara berfikirpun harus bersandar kepada pemahaman terhadap realitas yang utuh yang memiliki dua dimensi itu.
    Dengan kata lain bila atheis itu cara pandangnya ‘bermata satu’ maka agama mengajarkan agar manusia ‘bermata dua’ sehingga bisa melihat ke dua arah-ke dua dimensi realitas secara berimbang,(sehingga dua dimensi realitas itu difahami sebagai kesatu paduan sistemik).sehingga dalam agama definisi pengertian ‘ilmu’ bersandar pada realitas yang utuh tersebut sehingga pengertian ‘ilmu’ tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera karena dalam pandangan Tuhan ilmu adalah sesuatu yang harus mendeskripsikan keseluruhan realitas sehingga yang abstrak dan yang konkrit bisa difahami sebagai kesatu paduan yang utuh,sistematis.dan definisi ‘rasional’ versi agama adalah ‘yang logika akal fikiran manusia bisa menangkapnya’ atau cara berfikir yang murni sistematis berdasar logika yang tidak bersandar pada tangkapan mata secara langsung.

    permios…..mangga a…….

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s