islam-vs-sekuler-copy1

Alpa Paltini: Islam adalah Kebenaran


REPUBLIKA.CO.ID, “Apa konsep trinitas?” Pertanyaan itu terngiang di telinga Alpa Paltini selama bertahun-tahun.

Pertanyaan yang tidak mampu dijawabnya. “Saya tidak bisa menemukan penjelasan yang rasional soal itu,” ujarnya.

Sejak kecil, Alpa yang lebih sering dipanggil Chian, sesuai dengan nama Cinanya Gho Han Chian, memang selalu mempertanyakan agama lamanya. “Bila Yesus itu Tuhan, mengapa dia harus berdoa pada Bapa?” pikirnya suatu kali.

Tuhan seharusnya satu, yang paling berkuasa, yang paling bebas dari khilaf, paling sempurna. Tuhan semestinya demikian.

Pertanyaan demi pertanyaan menuntunnya pada kebenaran yang sesungguhnya. Pada 10 November 2011, Chian memutuskan untuk pindah agama. Kecaman datang dari keluarga. “Mereka marah mengetahui keputusan saya,” kata alumnus Universitas Andalas Padang ini.

Selama tiga bulan, dia didiamkan oleh keluarganya. “Kami tidak berkomunikasi sama sekali. Mereka menentang habis-habisan. Bahkan, sampai bilang tidak akan mengakui saya sebagai anak,” tutur Chian.

Namun pria yang lahir pada 20 Juli 1986 di Kerinci ini, menganggap respons keluarganya tersebut sebagai sebuah ujian akan keimanannya. Ia selalu berdoa agar dikuatkan dan dibukakan pintu hati keluarganya agar menerima pilihan yang ia tempuh.

Menurutnya, walaupun begitu sulit ketika memutuskan pilihan dan pascakepindahan ke Islam, namun lambat laun Allah memberikannya jalan dan kemudahan dalam menghadapi setiap cobaan. “Alhamdulillah sekarang keluarga sudah bisa menerima,” ungkapnya.

Kini Chian berharap keluarganya juga bisa mengikuti jejaknya masuk Islam. Ia memulainya dengan memberikan mereka bacaan-bacaan dan berdiskusi tentang Islam.

Sebenarnya, kata Chian, keluarganya tidak asing dengan Islam. Baik keluarga dari pihak ayah maupun ibu, banyak juga yang sudah duluan menganut Islam. “Di keluarga ayah ada dua orang yang mualaf. Sementara lainnya beragama Buddha.”

Sedangkan dari pihak ibu, dari 10 orang bersaudara, delapan di antaranya sudah masuk Islam sejak kecil, lantaran dibesarkan oleh sanak family. Hanya ibu dan kembaran Chian yang Kristen.

ooOoo

Ketertarikan Chian pun terhadap Islam sebenarnya juga sudah tumbuh sejak kecil. Waktu kecil, ia senang mendengar orang mengaji di masjid.

“Biasanya kan pas hari Minggu, ada kegiatan didikan Subuh bagi anak-anak di masjid dekat rumah,” tuturnya.

Dia mengaku tidak merasa terganggu dengan kegiatan tersebut, meskipun tersiar nyaring ke seluruh kampung karena menggunakan pengerasa suara. Dia juga merasa senang mendengar adzan dan lantunan ayat Alquran.

Lalu saat pertama kali membaca dua kalimat syahadat dan berwudhu, Chian merasa bahagia dan lega. Ia menganggap kewajiban berwudhu sangat rasional. “Memang, seharusnya kita membersihkan diri sebelum menghadapi Ilahi,” ujarnya.

Meskipun sudah menganut Islam seutuhnya, Chian tidak mau berhenti mendalami ajaran yang dibawa Rasulullah SAW itu. Ia merasa masih banyak yang perlu dipelajari. Hingga kini pun, Chian terus memperbanyak wawasannya soal Islam dengan berdikusi dengan teman kerja dan sang istri. Sang istrilah yang mengajarkan Chian shalat dan bahasa Arab.

Dia juga menambahkan wawasan keislaman dengan rajin membaca artikel di internet dan buku-buku, selain memperkaya diri dengan membaca Alquran dan hadis. Ia pun pernah membaca buku The Choice karya Syekh Ahmad Deedat dan Mustahil Kristen Bisa Menjawab karya Insan L Mokoginta. Buku-buku tersebut membuatnya semakin yakin akan Islam.

Chian pun semakin paham bahwa Islam adalah keberanan sejati dan indah. Islam mengatur segala aspek kehidupan umatnya. “Bersyukur sekali saya bisa mengenal dan memeluk agama Islam. Satu-satunya agama yang diridhai Allah,” ungkapnya.

Sayangnya, lanjut Chian, masih minim penganut Islam yang benar-benar mengamalkan agamanya, terutama di Indonesia. Meskipun negara ini adalah sarang umat Islam terbesar di dunia.

Situasi ini tidak akan menguntungkan bagi perkembangan Islam ke depan. “Akan sulit menjaga kesatuan umat Muslim karena beragam tipu muslihat kaum kafir yang gencar dengan aksinya untuk memecah Islam,” kata dia.

Apalagi dengan masuknya budaya asing yang menjadi senjata bagi orang kafir untuk menjauhkan Muslim dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, dia bertekad untuk memegang teguh keislamannya dan keluarga kecil yang telah dibangunnya sejak 2011 lalu.

Dia pun berjanji akan mengajarkan Islam kepada sang putra yang baru saja berusia 14 hari. “Sehingga nanti ilmu agama putra saya lebih baik daripada orang tuanya,” harap Chian.

ooOoo

Tak seperti laki-laki pada umumnya, Chian tidak menyukai perempuan yang dengan senang hati mengumbar auratnya. Ia sangat menghargai aturan jilbab bagi Muslimah.

Memang, sebagai laki-laki normal, dia tidak menyangkal kalau dirinya pun menyukai perempuan seksi. “Namun, saya lebih menghormati wanita yang menutup auratnya,” kata Chian.

Chian memiliki pandangan seperti itu jauh sebelum ia mempelajari Islam. Kebetulan ia memiliki saudari perempuan. Dan sebagai lelaki, Chian tahu bagaimana pikiran laki-laki bila melihat wanita yang mengumbar auratnya.

Makanya, sejak dulu, Chian mengaku sangat cerewet tentang hal ini. Dia sering menceramahi kakak dan adik perempuannya soal cara berpakaian. “Kalau mereka minta diantarkan ke suatu tempat, saya selalu menyuruh mereka memakai baju yang longgar dan celana yang panjang,” katanya.

Hal ini tentunya tidak ayal sering memancing amarah saudarinya. “Mereka sampai bilang, “Kenapa tidak sekalian saja disuruh pakai jilbab?”

Bagi Chian, pada dasarnya perempuan itu indah apa adanya. Sehingga mereka tidak perlu mengumbar fisik untuk tampak lebih cantik. Ini pula yang membuatnya tertarik dengan perempuan yang kini menjadi istrinya.

Selain memiliki pengetahuan yang luas soal Islam, sang istri juga menjalankan perintah Allah untuk menutup auratnya. “Saya memang suka wanita yang berjilbab,” akunya. Menurutnya, dalam Islam aturan tentang jilbab sangat gamblang. Mengingkarinya adalah tindakan yang tidak bijak. [republika: bagian 1; bagian 2; bagian 3]

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s