alexander-litvinenko-_120916115851-997

Alexander Litvinenko, Hidayah Jelang Kematian


Alexander Litvinenko | Foto: http://www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Nama Alexander Litvinenko mungkin tidak begitu asing terdengar di telinga sebagian masyarakat dunia.

Sosoknya memang sempat menghiasi pemberitaan di berbagai media internasional pada paruh kedua tahun 2006 silam, setelah kematiannya terungkap karena dibunuh dengan racun sejenis bahan radio aktif isotop polonium 210.

Sebelum ajal menjemput, ternyata mantan agen mata-mata rahasia badan intelijen Rusia, Federal Security Sevice (FSB) itu berpesan agar ia dimakamkan dengan cara Islam. Memang, saat itu hanya beberapa orang terdekat Litvinenko yang mengetahui perihal keislamannya.

Sejumlah media massa internasional memberitakan bahwa upacara pemakamannya memang dilakukan secara rahasia yang dihadiri sedikitnya 30 orang kerabat dekat Litvinenko.

Upacara pemakamannya sendiri dilangsungkan di kawasan utara Kota London, Inggris. Upacara terpisah untuk menghormatinya yang terakhir kali juga diselenggarakan di Masjid Regent’s Park, London.

Ini sesuai dengan keinginannya agar prosesi pemakamannya diselenggarakan sesuai dengan syariat Islam. Bahkan sang ayah, Walter Litvinenko, dilaporkan ikut menghadiri upacara di Masjid Regent’s Park bersama pentolan pejuang Chechnya, Akhmed Zakayev.

Kerabat Litvinenko mengatakan, ayah tiga anak itu sudah menjadi Muslim sebelum meninggal. Menurut Walter, anak laki-lakinya itu sudah menyatakan diri masuk Islam saat terbaring sekarat di Rumah Sakit London sampai akhirnya meninggal pada 23 November 2006. “Litvinenko masuk Islam dua hari sebelum ajal menjemput,” kata Walter kepada Radio Free Europe.

ooOoo

Dalam wawancara dengan surat kabar Rusia, Kommersant, yang dikutip Times Online edisi 5 Desember 2006, Walter mengatakan, anaknya yang semula memeluk Kristen Ortodoks menyatakan permintaan terakhirnya sebelum meninggal, yaitu agar ia dimakamkan secara Islam.

“Dia bilang, Saya ingin dikubur menurut tradisi Muslim. Saya bilang, baik anakku, semuanya akan dilakukan seperti yang engkau inginkan. Kami sudah memiliki seorang Muslim di keluarga kami. Namun, yang paling penting adalah meyakini Yang Mahabesar, Tuhan itu satu,” tutur Walter.

Sementara seorang kolega Litvinenko, Ghayasuddin Siddiqui, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Parlemen Muslim Britania Raya, mengungkapkan bahwa Litvinenko telah resmi memeluk Islam 10 hari sebelum ia diracun.

Sedangkan Akhmed Zakayev, yang pernah bertetangga dengan Litvinenko, berkata, “Sehari sebelum kematiannya, dia (Litvinenko) minta dibacakan Alquran dan mengatakan kepada istrinya dan anggota keluarga lainnya bahwa dia menginginkan agar dimakamkan dalam tradisi Islam.”

Tak diperoleh keterangan alasan Litvinenko memeluk Islam. Namun, dari beberapa situs yang mengungkapkan perjalanan kariernya, tampaknya Litvinenko kecewa pada sikap Pemerintah Rusia yang selalu memerangi kelompok Muslim Chechnya.

Karena itu pula, sejumlah situs mengungkapkan, pembunuhan atas Litvinenko terkait dengan sejumlah pernyataannya yang menyinggung kebijakan Pemerintah Rusia saat itu.

Selain itu, ketertarikan Litvinenko pada Islam tampak dengan sikap umat Islam yang damai dan akan bertindak bila mereka terdesak demi mempertahankan diri. Ia melihat umat Islam senantiasa berjuang untuk perdamaian.

Ayahnya, Walter Litvinenko, mengatakan anaknya itu tumbuh kecewa dengan apa yang disebut hierarki dalam gereja Ortodoks Rusia. Ia sudah berusaha menyampaikan ketidaksimpatikannya atas sikap gereja, namun tak dituruti.

Lelaki pembangkang kelahiran Voronezh, Rusia, 4 Desember 1962, ini mulai bergabung dengan badan kontraintelijen Soviet, KGB, pada 1988. Setelah negara Uni Soviet bubar dan berganti nama menjadi Republik Federasi Rusia, pada 1991, ia dipromosikan ke bagian staf umum Dinas Keamanan Federal Federasi Rusia (FSB), dengan spesialisasi dalam kegiatan kontraterorisme dan infiltrasi dalam kejahatan yang terorganisasi.

ooOoo

Semasa berkarier di FSB, ia memperoleh penghargaan gelar ‘Veteran MUR’ atas operasi-operasi yang dilakukannya dengan MUR (Departemen Investigasi Kriminal Moskwa).

Litvinenko juga melakukan dinas militer aktif di banyak wilayah yang disebut titik panas dari bekas Uni Soviet dan Rusia.

Pada 1997, ia kembali mendapatkan promosi ke departemen yang paling rahasia dari FSB, yaitu Departemen untuk Analisis Organisasi Kejahatan dengan gelar perwira operasional senior dan Wakil Kepala Seksi Ketujuh.

Pada 1998, ia secara terbuka menuduh para atasannya memberi komando untuk membunuh jutawan Boris Berezovsky, yang saat itu menduduki jabatan penting di pemerintahan sebagai Sekretaris Dewan Keamanan dan dekat dengan Presiden Boris Yeltsin.

Atas pernyataan terbukanya itu, sejak 1999 selama sembilan bulan dia dipenjara atas tuduhan menyalahgunakan jabatan. Litvinenko ditangkap untuk ketiga kalinya pada 2000, namun ia berhasil meloloskan diri sebelum sempat dipenjarakan.

Ia berhasil lolos tanpa paspor ke Turki, dan di sana ia bergabung dengan istri dan anaknya, Anatole, yang telah meninggalkan Moskow dengan visa turis.

Pada 1 November 2000, mereka bermigrasi ke Inggris dan meminta suaka politik. Dan, sejak 1 Oktober 2006, ia dan seluruh anggota keluarganya resmi menjadi warga negara Inggris.

Semasa hidupnya, Litvinenko dikenal sebagai seorang pengkritik rezim Presiden Vladimir Putin, khususnya terhadap Chechnya. Karena sikapnya ini, tak mengherankan jika namanya dimasukkan dalam daftar pencarian orang di Moskwa, sebagai salah satu pembangkang terpenting dari FSB.

ooOoo

Saat tinggal di Inggris, Litvinenko sempat menulis sebuah buku yang isinya mengungkapkan peran FSB dalam peristiwa pengeboman di Rusia tahun 1999 yang menewaskan lebih dari 300 orang.

Buku berjudul “Blowing up Russia: Terror from Within” ini ia tulis tahun 2003. Dalam buku “Gang from Lubyanka”, Litvinenko menuduh bahwa Vladimir Putin secara pribadi terlibat dalam kejahatan terorganisasi ketika ia masih bekerja di FSB.

Akhir hidup sang telik sandi

Alexander Litvinenko bukan lagi seorang mata-mata Rusia. Namun, hidupnya berakhir bagai dalam sebuah kisah telik sandi.

“Anda mungkin berhasil membungkam satu orang, tapi gelombang protes dari seluruh dunia akan bergema di telinga anda sepanjang sisa hidup anda, hai Tuan Putin. Semoga Tuhan memaafkan apa yang telah anda lakukan, tak hanya kepada saya, tapi juga kepada negeri Rusia tercinta dan rakyatnya,” kata Litvinenko dalam pernyataannya yang dibacakan temannya di luar rumah sakit London tempat ia meninggal.

Pada 1 November 2006, ia mendadak jatuh sakit saat melakukan penyelidikan mengenai kematian wartawati Rusia, Anna Politkovskaya. “Pada 1 November 2006 aku mengadakan dua pertemuan sekaligus. Yang pertama dengan seorang Rusia dan seorang lagi Andrey Logovoy, seorang mantan rekan di FSB yang kini menjadi pengusaha.”

“Kemudian, aku makan malam dengan seorang ahli keamanan Italia, Mario Scaramella, untuk membicarakan kasus terbunuhnya Politkovskaya. Pada pertemuan pertama itulah aku mencurigai ada hubungan dengan peracunan terhadap diriku,” demikian bunyi kesaksian tertulis Litvinenko yang dibacakan temannya setelah ia wafat.

ooOoo

Dalam kesaksian tertulisnya, Litvinenko juga mengungkapkan bahwa setelah perjamuan makan malam itu ia sempat mengalami kehilangan kesadaran selama beberapa jam.

“Aku telah dibungkam oleh Kremlin, karena aku telah mengancam untuk mengungkap fakta-fakta yang memalukan. Beberapa hari aku dirawat dan menjalani berbagai tes medis. Rambutku rontok, tenggorokanku bengkak, sistem kekebalan dan syarafku rusak berat. Dokter mengatakan aku menderita gagal jantung,” ungkapnya.

Sejak perawatan intensif di rumah sakit London, kondisi kesehatan Litvinenko terus merosot. Tim dokter yang menanganinya menyebutkan bahwa kemungkinan Litvinenko dapat bertahan adalah 50 banding 50 dalam masa tiga hingga empat pekan setelah peracunan itu.

Prediksi para dokter itu ternyata benar, pada tanggal 23 November 2006 seluruh organ tubuh Litvinenko ternyata tidak mampu lagi bertahan dari serangan racun tersebut.

Para pakar yakin kasus pembunuhan Litvinenko ini melibatkan pengetahuan ilmiah yang lumayan tinggi. Soalnya, racun yang ditemukan dalam dosis tinggi di tubuh Litvinenko adalah bahan radioaktif polonium-210 dosis tinggi yang sukar diperoleh.

Hasil investigasi pihak Scotland Yard mengungkapkan bahwa jejak radiasi ditemukan di lima lokasi di seputar London setelah kasus itu terjadi, termasuk sebuah restoran sushi dan hotel yang dikunjungi bekas agen rahasia yang tinggal di Inggris itu.

Yang menjadi misteri adalah unsur radioaktif itu amat sulit diperoleh dan sulit dideteksi. Memang polonium-210 bisa diperoleh secara alami di sekitar kita, bahkan dalam tubuh. Cuma, dalam jumlah teramat kecil dan tidak mematikan.

Untuk memperoleh bahan radioaktif hasil temuan Marie Curie ilmuwan asal Polandia itu dalam dosis yang mematikan, diperlukan keahlian dan koneksi level tinggi. [republika: bagian 1; bagian 2; bagian 3; bagian 4; bagian 5]

 

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s