Mualaf (ilustrasi) | Foto: www.republika.co.id

Demi Islam, Hakeem Mahadeo Tinggalkan Bisnis Klub Malam


Mualaf (ilustrasi) | Foto: http://www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Hakeem Mahadeo memiliki segalanya. Di usianya yang 38 tahun, pemilik klub malam terkenal di New York ini dengan mudah mendapatkan segala kesenangan dunia.

Uang mengalir tiada henti. Anehnya, lama-kelamaan, semua itu terasa tak berarti lagi. Rasa kesepian menyelimutinya.

Satu per satu masalah datang dalam kehidupannya. “Bisnis saya kemudian semakin sering menimbulkan masalah pada saya. Saya pun depresi,” tuturnya.

Untuk mengobati depresinya, Hakeem melakukan segala cara. Ia datang ke dokter. Namun, obat dari dokter tak membantunya sama sekali.

Keluarganya lalu mengingatkan pria berkulit legam ini untuk mencari jawaban dari agama yang dianutnya. Laki-laki keturunan India itu tumbuh dalam ajaran agama Hindu. “Ayah saya seorang pendeta Hindu,” ujarnya.

Sebagai penganut Hindu, hal pertama yang dilakukan ketika mendapatkan masalah adalah mengadu kepada pendeta. Oleh sang pendeta, Hakeem disarankan untuk bersinggungan dengan hal-hal yang disebutnya sihir hitam. “Saya melakukannya karena mereka bilang hal itu adalah bagian dari agama,” katanya. Namun, saran tersebut tak membuahkan hasil.

Masalah tetap datang kepadanya hingga Hakeem merasa muak dengan konsep ketuhanan yang terus-menerus didengungkan di telinganya. “Bagaimana mungkin saya bisa percaya akan adanya Tuhan bila setelah setiap hari berdoa, beribadah, dan bersujud kepadanya, Tuhan tetap memberikan cobaan kepada saya,” ungkapnya.

Di tengah kegalauan itu, takdir menggiring Hakeem berkenalan dengan seorang teman. “Dia adalah seorang teman yang sedang mempelajari Islam. Dari dia saya mengenal Islam,” katanya.

ooOoo

Awalnya, Hakeem tidak membiarkan konsep Islam melekat di kepalanya. Dia terus menghindarinya.

Namun, pada suatu titik, Hakeem tak mampu lagi melawan rasa penasarannya. “Saya lantas mulai membaca Alquran,” tuturnya.

Hal ini bukan perkara mudah, apalagi Hakeem tidak mengerti cara membaca huruf Arab. Sementara, terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris justru membuatnya sedikit bingung. Beruntung, hal itu tak berlangsung lama.

“Surah pertama yang saya baca ketika itu adalah surah ke-17 ayat 8, ‘Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat (Nya) kepadamu dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka jahanam sebagai penjara bagi orang-orang yang tidak beriman,” katanya.

Surah tersebut membuatnya mengerti akan satu hal tentang masalah-masalah yang terus datang padanya saat itu. “Bahwa, apa yang saya lakukan selama ini salah dan saya harus menemukan jalan yang benar.”

Tak henti baca Alquran

Sejak saat itu, Hakeem tak bisa berhenti membaca Alquran. “Alquran menjelaskan segala pertanyaan saya. Menjelaskan dengan detail tentang sihir hitam, tentang penciptaan dunia, atau tentang apa yang terjadi setelah manusia mati. “Namun, yang paling menarik adalah soal konsep keesaan Tuhan,” katanya.

Menurut Hakeem, sebenarnya Hindu juga memercayai satu Tuhan. Hindu tidak mengikuti kitab suci tertentu. “Bila mereka teguh dengan ajaran agama yang ada dalam kitab suci Hindu maka mereka akan mengakui bahwa Tuhan itu hanya satu. Tidak berwujud dan ber keturunan,” katanya.

Namun, umat Hindu, lanjut Hakeem, hanya mengikuti tradisi yang mereka buat sendiri. Sehingga, mereka beribadah kepada banyak dewa dan berdoa kepada dewa yang berbeda tergantung dengan apa yang mereka inginkan.

“Bila ingin kekayaan, mereka berdoa ke dewa yang ini. Bila ingin memiliki kekuatan, dia berdoa ke dewa yang satunya. Soal kematian mereka pergi berdoa kepada dewa yang lainnya,” paparnya.

ooOoo

Hakeem tak hanya mempelajari konsep ketuhanan di Hindu. Sebelum memutuskan untuk menganut Islam, dia juga mempelajari agama lain, termasuk Kristen.

“Saya ingin terlebih dahulu memastikan kebenaran Islam, sebelum saya benar-benar memilih Islam sebagai agama saya,” katanya.

Hakeem kemudian mempelajari Injil. Namun, yang ditemukannya tak jauh berbeda dengan apa yang diketahuinya di dalam Hindu.

“Saya coba memercayai Yesus sebagai Tuhan. Namun, di Injil, Yesus tak pernah dianggap sebagai Tuhan. Lalu, bagaimana mungkin saya harus memercayainya bila kitab suci mereka tidak menyatakan hal itu? Bagaimana mungkin saya bisa percaya bahwa Tuhan itu adalah seorang laki-laki yang juga adalah manusia?” kata dia.

Dengan Islam semuanya terasa masuk akal bagi Hakeem. “Sementara di Hindu, saya terus-menerus merasa bingung.”

Ia pun menemukan semangat hidupnya kembali dan menentukan tujuan hidupnya yang baru. Salah satu tujuan itu adalah menjadi Muslim yang baik dan beriman. “Saya kemudian membaca syahadat.”

Memahami kematian
Segera setelah menganut Islam, Hakeem meninggalkan bisnis klub malamnya, yang telah memberinya kesempatan berdiri di bawah sorotan lampu dan meraup kekayaan melimpah.
Namun, hal itu tak jadi masalah bagi Hakeem. Dia sadar bahwa apa yang dijalaninya selama ini hanyalah sebuah fantasi.

“Mereka yang datang ke klub malam adalah orang-orang yang ingin dan berusaha hidup dalam drama dan imajinasi yang mereka buat sendiri. Saya tak ingin menjadi bagian dari hal itu lagi,” tekadnya.

Hakeem rela kehilangan kekayaan dan ketenarannya. Ia sadar, dirinya takkan lagi memiliki kekayaan seperti dulu.

“Namun, saya bahagia dengan pilihan hidup yang saya jalani sekarang. Agama dan pengetahuan yang saya miliki saat ini lebih berharga. Tidak bisa dibeli dengan uang. Tidak bisa dibayar dengan apa pun,” tegasnya.

Islam mampu memberikan kedamaian dalam dirinya dan menghilangkan kesepian yang dirasakannya selama ini.

Namun, pada saat yang sama, Hakeem pun harus rela menghadapi tantangan dari keluarganya. Mendengar kabar bahwa dirinya menjadi Muslim, keluarganya syok. Mereka terus meyakinkan Hakeem bahwa apa yang dia pilih adalah sesuatu yang salah.

Alhasil, pada masa-masa awal tersebut, Hakeem terpaksa sembunyi-sembunyi menjalankan ibadah. Namun, ia terus berusaha mengubah cara pandang keluarganya atas Islam.

Ayah dan ibu Hakeem tidak benar-benar tahu tentang Islam. Mereka bahkan menyebut Islam sebagai agama teroris. Bahwa, Islam adalah agama yang memperbolehkan umatnya untuk membunuh.

“Sebelumnya saya juga memercayai hal itu. Hingga saya tahu bahwa Islam sama sekali tidak mengajarkan umatnya untuk bunuh diri dan membunuh orang lain. Tidak sama dengan apa yang diangkat media Barat selama ini,” ungkapnya.

Sebaliknya, kata Hakeem, Islam mengajarkan manusia untuk hidup dengan bijak dan bersahaja. Islam juga mengingatkan umatnya bahwa ada kehidupan lain setelah mati.

Sejak menjadi Muslim, Hakeem menjadi semakin paham akan arti kematian. Maka, ia pun berusaha memanfaatkan masa hidup di dunia ini agar tidak terbuang sia-sia. [republika: bagian 1; bagian 2; bagian 3; bagian 4]

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s