Khalil Gerard Savidaal | Foto: www.republika.co.id

Khalil G Savidaal, Hidayah Gerakan Shalat


Khalil Gerard Savidaal | Foto: http://www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Perlu beberapa tahun bagi Khalil Gerard Savidaal untuk berkenalan dan menemukan Islam.

Pria asal Filipina ini dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga penganut Katolik yang sangat taat.

“Selama bertahun-tahun saya yakin bahwa agama saya sebelumnya adalah agama yang paling benar,” katanya.

Namun, semuanya berubah ketika ia mulai menginjak bangku kuliah. “Saya mulai banyak berpikir soal hidup dan agama. Saya disuruh memercayai bahwa Tuhan itu ada tiga. Hal itu mulai terasa aneh bagi saya,” sambungnya.

Di tengah keraguan itu, Allah memandu Gerard untuk mengenal Islam. Tanpa disangka, pada 1996 ia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan multinasional di Arab Saudi sebagai teknisi biomedis.

Dalam pikirannya saat itu adalah mengambil pekerjaan tersebut. Setelah mendapatkan cukup uang, ia akan kembali ke Filipina dan menikah.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Arab Saudi, Gerard merasakan hal yang luar biasa. Ia merasa sangat tenang. Hari-hari berikutnya, ia merasa semakin nyaman. Terlebih, kariernya juga berkembang sangat baik.

Dia pun memutuskan untuk tinggal lebih lama di Arab Saudi. “Tadinya saya ragu. Keputusan ini tidak sesuai dengan rencana sebelumnya. Saya juga takut kalau calon istri saya tidak setuju. Tapi, ternyata dia setuju untuk ikut saya ke Arab,” katanya.

Meski sudah agak lama tinggal di Saudi, Gerard belum betul-betul mengenal Islam. Dia masih menjadi seorang Katolik. Dia juga masih sering berdoa kepada Tuhan yang dipercayainya dan menghadiri misa.

Namun, lama-kelamaan akibat kesibukannya, aktivitas tersebut mulai jarang dilakukannya. “Saya mulai tidak punya pegangan hidup,” akunya.

Di saat itu pula, kantornya mulai menyediakan ruangan shalat bagi para pekerja Muslim. Saat istirahat, ia sering memerhatikan teman-teman Muslimnya yang hendak shalat di tempat tersebut. Dia pun memerhatikan cara Muslim menyembah Tuhannya.

“Mereka menempelkan dahi, hidung, telapak tangan, dan jari-jari kaki mereka di sajadah. Mereka merendahkan tubuh untuk menyembah Tuhan. Berusaha menunjukkan bahwa mereka hanya (makhluk) kecil ketimbang Tuhannya yang besar,” tutur Gerard.

Gerakan shalat rekan-rekan kerjanya yang Muslim membuat Gerard Savidaal tertarik. Inilah cara penyembahan terbaik menurut dia.

Gerakan itu, kata Gerard, adalah gerakan yang juga dilakukan Yesus ketika menyembah Allah.

Cara penghormatan semacam itu adalah cara terbaik untuk menyembah kepada Tuhan. “Jika saya harus menyembah Tuhan saya, cara seperti itulah yang harus saya lakukan,” ujarnya.

Sejak itu, Gerard mulai bertanya-tanya tentang Islam. Beruntung dia memiliki seorang teman asal Saudi yang mampu berbahasa Inggris dengan baik.

“Pertanyaan yang pertama kali saya tanyakan adalah, ‘Kepada siapa para Muslim bersujud?”

Sang teman pun menjawab, “Kami bersujud kepada Allah.”

Lalu, Gerard bertanya lagi, “Allah yang mana? Apakah sama dengan Allah yang disembah oleh Yesus?” Sang teman pun mengangguk setuju.

Jawaban itu sontak membuatnya kaget. Allah adalah Tuhan yang sama disembahnya di agama Katholik. Dia juga kemudian tahu bahwa Yesus dikenal di dalam Islam sebagai seorang Nabi (Nabi Isa as).

“Saya kemudian sadar betapa Islam dan agama saya saat itu memiliki banyak kesamaan. Dulu saya pikir Islam dan Katolik tidak berhubungan sama sekali.”

Gerard pun mulai belajar tentang Islam. Meski ia mulai memercayai Islam sebagai agama yang paling benar namun ia tak langsung mengambil keputusan untuk pindah agama. Butuh waktu sekitar tiga tahun bagi Gerard untuk memahami Islam lebih jauh.

Dia masih bimbang. Dalam kebimbangan itu, ia memanjatkan doa kepada Allah. “Saya minta tolong kepada Allah agar hati saya diyakinkan. Agar Allah memberikan tanda kepada saya bahwa Islamlah yang paling tepat,” tuturnya.

Bersyahadat
Doa Gerard dijawab Allah. Suatu saat, dia dan istri bertengkar hebat. Hubungan mereka semakin tidak akur dan hampir berada di ambang perceraian. Gerard juga menghadapi berbagai masalah lain di luar masalah perkawinan.

Di tengah kekalutannya, Gerard pun sadar bahwa segala kejadian buruk yang dihadapinya saat itu adalah ujian dari Allah.

Ia pun mengungkapkan hal itu kepada sang istri. Bahwa, segala hal yang mereka hadapi saat itu adalah bentuk peringatan agar mereka segera menganut Islam.

Tak lama, Gerard dan istri pun memutuskan untuk menjadi Muslim dan membaca syahadat di pusat agama Islam di dekat tempat tinggal mereka. Saat itulah, ia merasa seperti hidup kembali. Hubungan dengan sang istri membaik.

Gerard pun tak lagi berpikir hanya untuk hidup di dunia, tapi juga akhirat. Meskipun demikian, Gerard belum dapat melaksanakan ibadah seutuhnya sebagai seorang Muslim. “Saat itu, lingkungan kerja tidak cukup membantu saya untuk belajar Islam lebih jauh,” katanya.

Gerard kemudian kembali mengajukan sebuah doa kepada Allah. “Saya minta tolong kepada Allah agar dia membantu saya untuk menemukan lingkungan yang kondusif untuk mempelajari Islam.”

Kembali Allah menjawab doanya. “Ketika kontrak kerja saya di perusahaan yang lama hampir habis, saya mendapatkan panggilan untuk bekerja di perusahaan swasta di Jeddah. Saya langsung sujud syukur. Allah sangat baik karena segera menjawab doa saya,” ujarnya.

Gerard dan istri pun pindah ke Jeddah dan di sana mereka benar-benar mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk mendalami Islam. Setiap pekan, ia pergi ke pusat pembelajaran Islam. Ia juga berkesempatan mengunjungi Makkah dan Madinah.

Gerard semakin yakin, Allah akan senantiasa membantu dan menuntun orang-orang yang berkeyakinan kuat untuk lebih mengenal-Nya.

Ditentang Keluarga
Penentangan dari pihak keluarga. Hal itulah yang banyak dialami para mualaf, tak terkecuali Gerard.

Kedua orang tuanya marah besar tatkala mengetahui anak laki-lakinya telah menjadi Muslim.

“Ayah saya tidak mau melihat saya lagi. Bahkan, bila saya mati sekali pun. Dia menyuruh saya untuk keluar dari rumah dan tak ingin mengenal saya lagi,” kisah pria yang kini menjadi teknisi biomedis di Queensland Health itu.

Gerard tak mau menyalahkan respons kedua orang tuanya. Sebab, mereka tak cukup mengenal Islam. Mereka hanya mengenal Islam dari sudut pandang yang salah, yang kerap dipropagandakan media.

“Saya harus bersabar untuk menjelaskan kepada mereka bahwa Islam tidak seperti yang mereka pikirkan,” kata dia.

Butuh waktu bertahun-tahun bagi Gerard untuk membuat keluarganya mengerti. Selain memberikan berbagai penjelasan tentang Islam, ia juga berusaha menampilkan diri sebagai Muslim sesungguhnya di depan keluarganya.

Ia berusaha menunjukkan bahwa Islam itu indah dan telah membawa perubahan yang baik bagi hidupnya. Ia tunjukan pula bahwa anak-anaknya tumbuh baik dengan cara Islam. “Saya perlihatkan bahwa Islam menawarkan kedamaian dan memberikan penganutnya tujuan hidup yang jelas.”

Semua upaya itu tak sia-sia. Sedikit demi sedikit, keluarga mulai terbuka hatinya dan akhirnya menerima keputusan Gerard. “Setidaknya, meski mereka tidak menjadi Muslim seperti saya, mereka bisa lihat bahwa Islam bukanlah agama yang buruk,” ujarnya. [republika: bagian 1; bagian 2; bagian 3; bagian 4]

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s