emas

Tentukan Cita-cita Muliamu!


  gaulislam edisi 287/tahun ke-6 (12 Jumadil Akhir 1434 H/ 22 April 2013)

 

emasSering banget kita dengar pepatah atau pameo: “Kejarlah cita-citamu setinggi langit”. Yup, ini jadi inget quote yang sering ada di sampul buku atau di bagian paling bawah lembaran kertas buku tulis. Hehehe… baidewei tumben nih ngomongin cita-cita, apa karena sehubungan dalam rangka UN alias Ujian Nasional.  Coz, UN adalah sebagian tahap menuju cita-cita. Eh, nggak juga sih sebenernya. Ok, sobat gaulislam sebenarnya saya cuma mau berbagi pengalaman en sedikit ngasih saran tentang cita-cita. Alasannya, justru ini menjadi bagian paling penting dalam hidup kamu bahkan menjadi tujuan hidup kamu.  Nah, kalo cita-cita udah lempeng alias lurus—apalagi mulia, maka seterjal dan sesulit apapun kita  bakal akan terus maju untuk meraihnya. Semangaat!

Buang bingung dan hilang arah

Sejak usia dini, anak-anak diarahkan untuk mengenal berbagai profesi sebagai petunjuk cita-cita mereka. Cuma, ya gitu, kadang-kadang akhirnya justru cita-cita ‘klasik’ yang lagi dan lagi terbentuk dalam pemikiran mereka (contoh: dokter, artis, tentara, polisi, guru, dan seterusnya dan sejenisnya), kemudian sampai mereka usia remaja pun ketidakjelasan cita-cita (baca: antara potensi/kemampuan dan cita-cita yang ingin diraih nggak nyambung) akhirnya terjadi. Apalagi remaja yang jadi korban ‘idealisme’ ortu: si anak pengen A, ortu pengen B dan menjalani pendidikan akhirnya terpaksa, cita-cita pun nggak jelas pengen jadi apa (curcol, hehehe…). Kalo kata Si Jui di acara Stand Up Comedy Metro TV sih, ada yang sok-sokan kuliah di jurusan mesin, padahal hatinya tataboga. So, pas ngeliat baut, sekrup, obeng, kabel dan sejenisnya berserakan malah ditumis tuh (hahahaha…..).

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislasm, hal ini diperparah dengan orientasi yang gaje (nggak jelas) yang selalu dikondisikan kepada remaja. Seakan-akan remaja itu nggak boleh mikir yang berat-berat, terlarang untuk ngomongin yang serius dan malah diarahkan kalo kudu mikir yang having fun, gaul bebas, pacaran dan sejenisnya. Nah yang kayak gitu justru nggak membina remaja untuk berpikir dewasa, bahkan mudah terpengaruh hal yang buruk, nggak punya prinsip hidup dan mikir yang enteng-enteng aja. Buwahaya!

Jangan jadi sampah!

Nah, biar nggak bingung dan hilang arah, na’udzubillah min dzalik jadi ‘sampah’, begitu selesai baca gaulislam edisi ini segera deh terapkan ya! Hmm… ini nih tipsnya ya, kamu baca pelan-pelan, resapi dan amalkan (praktekkan):

Pertama, cari potensi dan minat kamu yang paling dominan dalam diri kamu. Bisa dari hobi atau dari pelajaran yang kamu gemari. Contoh: hobi menulis. Bisa aja kan cita-citamu nantinya menjadi penulis? Penulis fiksi, nonfiksi, atau terjun menjadi jurnalis. Kalo ortumu meragukan, di situ tantangannya! Harus bisa membuktikan kepada mereka akan karya-karyamu. You got it!

Kedua, hindari cita-cita yang gaje (nggak jelas). Menurut saya pribadi, cita-cita gaje itu kalo antara potensi dan cita-cita yang pengen diraih nggak nyambung. Pengen jadi pilot tapi potensi untuk jadi pilot ternyata nggak ada atau nggak muncul! Contoh, fobia pada ketinggian sangat tidak menguasai matematika dan fisika ditambah nggak bisa bahasa Inggris. Lengkap sudah penderitaanmu, kawan!

Ketiga, harus siap untuk perubahan cita-cita kalo tiba-tiba ada perubahan kondisi yang mendadak. Contoh: dana yang minimalis untuk melanjutkan pendidikan yang menunjang cita-cita walaupun ada kemungkinan bersaing dengan meraih beasiswa. Tetapi tetap harus ada cita-cita cadangan (istilahnya ada plan B-nya kalo plan A gagal total). Atau nih, perubahan situasi dan kondisi yang awalnya aman/kondusif ternyata menjadi tragis misal ada perang, kerusuhan atau bencana alam. Mungkin kamu akan terkesima kalo baca sedikit realita yang saya kutip dari situs arrahmah.com tentang cita-cita dan tujuan hidup pemuda Suriah:

Seorang mujahid muda Suriah, Samir Qutaini: ”Satu hal yang saya rindukan dari sekolah adalah bermain sepakbola dengan teman-teman saya. Saya adalah gelandang tengah, dan benar saja, saya mencetak gol. Impian saya adalah untuk bermain dengan (Lionel) Messi dan (Andres) Iniesta (para bintang Barcelona”).

Kisah Samir tidak seperti ribuan para remaja 17 tahun lainnya yang sebagian besar hidup bersenang-senang atau belum memiliki tujuan hidup. Ia berdagang ponsel demi membeli sebuah AK-47 untuk menjadi mujahid di jalan Allah. Dimana sebagian rakyat Suriah mengungsi ke negeri-negeri Islam lainnya akibat kekejaman rezim Assad, justru Samir, Mahmut dan teman-temannya memilih meninggalkan keluarga mereka dan bergabung bersama pasukan Free Syrian Army/FSA (cool, Man!). Kini pilihan mereka hanyalah hidup mulia atau mati syahid untuk membebaskan Suriah dari rezim kejam Bashar Assad yang telah membunuh puluhan ribu kaum Muslim yang menentang rezim tersebut dan kalaupun situasi telah pulih, ternyata mereka masih memiliki cita-cita untuk meneruskan pendidikan mereka yang tertunda. Subhanallah. Keren!

Keempat, belajarlah untuk berpikir dewasa – maksudnya selalu berpikir bahwa hidup ini ada tujuan, Bisa aja tuh jadikan orang-orang sukses di usia muda sebagai panutan.  Contohnya Mark Zuckenberg (terlepas dari ke’yahudi’annya), dalam usia 20 tahun ia sukses mendirikan dan mengembangkan Facebook sebagaimana yang kita rasakan bener manfaatnya dalam berkomunikasi di dunia maya (meski tentu ada juga mafsadat atau mudharatnya kalo kita nggak bisa ngendaliin diri).

Gimana kalo yang muslim? Hmm… ada si yang pernah eksis seperti Ibnu Sina, dokter muda Islam yang telah membuka praktek, dan menjadi dokter pribadi khalifah di usia 17 tahun. Usamah bin Zaid menjadi panglima perang yang memimpin ribuan pasukan pada usia 20 tahun. Muhammad al-Fatih, Sultan Turki penakluk imperium paling berkuasa Romawi Timur saat usia 23 tahun.

Kelima, selalu mendekatkan diri kepada Allah dan juga rajin mengkaji Islam.  Ayo, ngaji dan jauhi maksiat kepada Allah.

Bro en Sis, kalo lima poin di atas bener-bener dikerjakan dalam kehidupan kamu, insya Allah tujuan hidup kamu lebih terarah. Cita-cita yang kamu kejar bukan semata untuk kekayaan dan popularitas tapi justru lebih terjaga dalam aktivitas yang positif dan nggak melanggar syara’. Misalnya nih, kamu sebagai muslimah kebelet banget ikut kompetisi berhubung punya potensi bersuara emas, sedangkan suasana kompetisinya nggak kondusif –terbayang kan acara-acara kompetisi nyanyi tuh kayak gimana? Ya gitu deh, ikhtilat (alias campur-baur), bahkan yang ikut berkompetisi pun campur-aduk. Selain itu lagu-lagu yang dinyanyikan juga ternyata syairnya nggak syar’i alias nggak sesuai ajaran Islam. Belum lagi kamunya bakal terwarnai kehidupan yang nggak Islami. But, jangan juga berpikiran ngikutin Islam itu nyusahin. Nggak lah, friend. Justru ngikutin Islam itu malah nuntun kita ke jalan kemuliaan dan hidup pun lebih terarah. Jelas arahnya, menuju surga. Gitu!

 

So?

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, jangan sia-siakan masa remaja dengan hal-hal yang melalaikan dan malah menjauhkan diri kita dari Islam.   Rancang masa depanmu mulai sekarang. Tapi, jangan lupa untuk tetep dalam koridor Islam, baik itu cita-citamu begitu juga jalan menuju cita-citamu itu. Coz, tujuan hidup sebenarnya dari seorang muslim adalah meraih ridha Allah  demi meraih surga-Nya. Jadikan cita-cita kita agar berguna bagi umat, yang nantinya insya Allah akan menjadi jalan kebaikan bagi kita semua. Pengen dong umat Islam kembali bangkit dengan para pemudanya yang sungguh-sungguh menuntut ilmu demi tercapainya cita-cita mereka agar berguna bagi kebangkitan Islam dan umatnya. Allah Swt. berfirman: Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-Ra’d [13]: 11)

Nah, lebih keren lagi kalo kamu memiliki idealisme. Nggak sekadar punya cita-cita. Bener lho. Kita kudu memiliki dan bahkan mempertahankan idealisme yang kita punya. Nggak boleh luntur dan pudar. Ibarat batu karang di laut. Sekeras apapun terjangan gelombang, batu karang tetap tegar menantang. Tak gentar menghadapi berbagai godaan. Emang, kalo kita mencoba inisiatif bikin pengajian, bersikap kritis terhadap kondisi lingkungan kita, selalu aja jadi sasaran empuk cemoohan. Baru aktif di mesjid aja udah banyak mulut-mulut usil. Baru sehari pakai kerudung—apalagi kalo sampe pake jilbab—ke sekolah, udah banyak yang ngerecokin. Dibilangan “sok alim lah”, disebut “bau surga lah”. Prinsipnya, banyak halangan menuju idealis.

But, nggak usah bingung bin stres. Kondisi ini nggak akan berlangsung lama. Mereka bakal pegel sendiri. Kuat-kuatan aja. Apalagi kita ada di jalan yang bener. Idealisme yang kita miliki bukanlah kacangan atawa yang nggak bener. Kita kudu bangga punya idealisme Islam. Sebab kita berjuang untuk Islam. Dan inilah idealisme yang emang sulit dikalahkan. Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat [41]: 30)

Well, meski demikian, idealisme nggak muncul secara otomatis dalam diri kita. Namun butuh proses. Butuh upaya untuk membentuknya. Itu sebabnya, diperlukan kekritisan dalam bersikap, mampu menangkap realitas kehidupan yang ada, menyikapinya dan memberikan solusi. Ghirah (semangat) Islam kita pun perlu ditumbuhkan. Selain itu, akrab dengan pemikiran-pemikiran Islam melalui berbagai kajian, dan mampu menerjemahkannya untuk menyelesaikan berbagai problem kehidupan. So, idealisme itu bukan impian, tapi sebuah kenyataan yang bisa diwujudkan. Artinya, kamu bakalan lebih keren lagi kalo tak sekadar punya cita-cita tetapi wajib punya idealisme Islam yang kuat sehingga cita-cita yang terwujud lebih mulia.

Yuk, kita bikin rancang kehidupan kita mulai sekarang juga. Tentukan segera cita-cita dan idealisme serta pastikan bahwa ridha dan surga Allah adalah tujuan hidup kita. Semangat! Allahu Akbar! [anindita | e-mail: thefaith_78@yahoo.com]

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s