Google-Apps-users

Dilema Mesin Pencari


Google Chrome
Google Chrome (Photo credit: thms.nl)

Siapa yang tak kenal mesin pencari (search engine) di dunia maya? Rasa-rasanya hampir semua orang yang sempat bersentuhan dengan internet pasti mengenal Google, mesin pencari online besutan Larry Page dan Sergey Brin yang diluncurkan pada 1998 ini. Saking populernya Google, akhirnya dianggap sebagai kosa kata dan masuk dalam kamus bahasa Inggris. Kamus Merriam Webster dan Oxford English Dictionary memasukkan kata Google sebagai verb atau kata kerja. Tak bisa dipungkiri memang, Google amat identik dengan mesin pencari online. Jika Anda ingin mencari sesuatu, cukup banyak orang merekomendasikan dengan mengatakan, “googling saja!”. Padahal, sebenarnya mesin pencari lainnya masih ada, seperti Bing dan Yahoo (di akhir tahun 90-an ada Altavista). Tapi mereka kalah eksis ketimbang Google.

Jika melihat faktanya, Google memang memudahkan kita untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan. Beberapa kali (sering malah), saya menggunakan jasanya. Ketika ponsel saya terkunci gara-gara diutak-atik anak saya karena terlalu banyak salah saat memasukkan password yang menggunakan pattern (pola), saya cari jawabannya di Google dan ketemu. Saat teman saya menginstal sebuah software agar bisa menjalankan software lainnya namun error saat instalasi, ia mencarinya di Google dan ketemu jawabannya. Masih banyak cerita berkaitan dengan kemudahan yang didapat melalui mesin pencari online bernama Google. Termasuk di dalamnya mencari informasi seputar keislaman.

Namun demikian. Kecanggihannya sebagai mesin pencari memunculkan persoalan baru. Meski mungkin disadari oleh pihak Google bahwa risiko meng-index ratusan juta situs di seluruh dunia dan mengumpulkannya dalam database mesin pencarinya adalah berarti mengumpulkan banyak informasi, yang bukan tak mungkin isi informasi itu ada yang salah dan berbahaya. Meskipun konon kabarnya Google menyertakan panduan bagi orang tua untuk memantau anak-anaknya ketika menggunakan situsnya, belum ada jaminan bisa aman untuk tidak mengakses konten pornografi, misalnya.

Itulah dilema mesin pencari online, yang secara sederhana bisa dipetakan menjadi dua masalah. Pertama, di balik kemudahannya mencari informasi ternyata juga berpotensi mendatangkan bahaya karena bisa saja yang muncul adalah informasi yang salah dan konten yang tak layak konsumsi (misalnya pornografi dan kekerasan). Kedua, penggunanya jadi manja dan berpotensi malas berpikir. Sebab beranggapan semua persoalan tinggal mencari jawabannya dengan mudah di Google. Hal itu sebenarnya sudah dirasakan sejak munculnya kalkulator. Kita jadi malas untuk menghitung secara langsung karena mengandalkan kemudahan melalui kalkulator. Memang, tak berati selalu rugi menggunakan kemajuan teknologi, adakalanya memang dibutuhkan bantuan alat-alat tersebut di saat tertentu.

Nah, dengan kondisi seperti ini tentunya bagi kita, kaum muslimin harus lebih selektif memilih dan memilah informasi. Sebab, tak semua informasi yang ditaburkan di jutaan website di internet itu sehat, tak semua informasi dan opini yang ditawarkan mesin pencari online hasil meng-index dari berbagi situs itu benar dan baik. Waspadalah! Apalagi jika yang menyampaikan informasi dan opini tentang Islam adalah orang kafir, perlu diteliti lagi. Jangankan orang kafir, orang fasik saja tak diterima dengan mudah beritanya, harus dilakukan verifikasi terlebih dahulu. Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS al-Hujuraat [49]: 6)

Lalu bagaimana agar bisa mengetahui sebuah informasi atau opini tersebut benar atau salah? Ya, kita harus belajar. Harus punya standar penilaian. Harus melakukan verifikasi ke sumber-sumber yang terpercaya. Bagi kita, kaum muslimin, tentu saja rujukannya adalah akidah dan syariat Islam. Jika memang informasi dan opini tersebut bertentangan, atau bahkan menentang akidah dan syariat Islam, sudah bisa dipastikan bahwa informasi atau opini jenis itu wajib kita tolak. Misalnya, menganjurkan demokrasi dijadikan sistem kehidupan, melegalkan pacaran dan seks bebas, menyuburkan kesyirikan dan sejenisnya. Sudah pasti itu wajib ditolak, bahkan dibongkar kesesatannya lalu diberikan solusi Islam kepada masyarakat agar tak terpengaruh pendapat dan perbuatan sesat tersebut.

Menutup tulisan (atau mungkin sekadar ‘celotehan’) ini, ada baiknya kita mengingat sabda Rasulullah saw. dalam menyemangati kita agar paham agama untuk bisa menjadi pribadi yang taat kepada Allah Ta’ala. Beliau bersabda, “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.” (HR Bukhari)

Semoga Allah Swt. memudahkan kita untuk belajar dan mengambil pelajaran, juga semoga Allah menguatkan keimanan dan mengokohkan ketakwaan kita semua. Aamiin.

Salam,
O. Solihin
Ingin berbincang dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s