Suami-Soleh-Dan-Isteri-Solehah

Suami-Isteri Itu Harus Saling Menguatkan


Suami-Soleh-Dan-Isteri-Solehah

Hidup berkeluarga membutuhkan sikap mental yang benar, baik, dan juga kuat. Tentu, karena masalah yang akan dihadapinya lebih banyak dan beragam. Itu membutuhkan perhatian dan keseriusan dalam menanganinya. Insya Allah kita akan terlatih kok.

Sobat, berkeluarga itu butuh keterampilan. Karena makin lama usia pernikahan, makin banyak masalah yang dihadapi. Ibarat berlayar, kita sudah semakin jauh dari pantai. Angin di tengah lautan bisa tiba-tiba saja berubah. Tadinya tenang, bisa mendadak ribut dan bahkan menggoncangkan bahtera kita. Cuaca ketika masih di pantai terasa sejuk, kini di tengah lautan bukan mustahil tiba-tiba mendung dan turun hujan lebat. Pada saat seperti ini, kita berdua bisa saling menguatkan tekad, menularkan semangat dan saling mendukung untuk mengamankan bahtera agar tak koyak, apalagi tenggelam.

Mungkin saja ketika pertama kali nikah, tak bisa membayangkan akan menemui kendala berat. Isteri sakit, anak sakit, uang tak punya pula. Mau pinjam ke orang tua malu, apalagi ke tetangga. Kita harus berusaha berjuang tanpa menyusahkan orang lain. Meski adakalanya kita harus realistis. Kita bisa mengukur diri seberapa pantas bisa bertahan tanpa bantuan orang lain. Tak usah memaksakan diam terus jika persoalan tersebut terkategori emergency. Misalnya, ketika anak sakit, sementara kita sama sekali nggak punya uang, maka meminjam uang untuk berobat tak ada salahnya. Kita bisa pinjam ke kantor, atau ke teman yang kebetulan punya harta berlebih. Tapi kita juga harus selalu ingat untuk membayarnya (ehm..).

Suami-isteri itu harus bisa saling menguatkan. Jangan panik menghadapi hambatan. Kita dan pasangan bisa bicara dari hati ke hati dengan pikiran yang jernih dan tenang. Kebiasaan kita berkomunikasi dengan baik dengan pasangan kita, bisa membuahkan jalan alternatif untuk memutuskan suatu masalah. Keterbukaan untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan kita bisa membantu untuk saling mendukung dan menguatkan. Kita nggak bisa jalan sendiri. Itu sebabnya, dukungan dan perhatian untuk saling menguatkan di antara kita menjadi sebuah keniscayaan.

Tak usah ragu dan tak usah bimbang untuk berterus-terang. Jika ada masalah yang berat, jangan pendam sendiri. Obrolkan dengan isteri atau suami. Supaya bisa dipikirkan bersama, agar bisa saling menguatkan rasa. Bila setelah sekian tahun grafik ekonomi rumah tangga tak pernah meningkat (bila grafiknya datar mungkin masih mending, tapi ini malah turun drastis!). Tentunya bisa dibicarakan juga. Buat apa hidup bersama jika kita tak pernah curhat satu sama lain. Buat apa punya kekasih tetap dalam ikatan pernikahan, jika kita tak pernah saling mengungkapkan perasaan. Kita bisa jujur pada pasangan kita. Kita bisa terus-terang dengan masalah yang sedang dihadapi. Karena kita sudah saling menyatu, bukan hanya karena terikat legalitas untuk bisa saling sambungrasa tapi juga sekaligus untuk “sambungraga”. Firman Allah Swt.: “…mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS al-Baqarah [2]: 187)

Itu sebabnya, keterbukaan di antara kita bisa menolong untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Tak baik jika sampai cuek, atau jalan masing-masing. Mungkin boro-boro ngobrol, sekadar untuk tegur sapa aja kita malas. Wah gawat tuh. Itu namanya kita terlalu dingin, padahal hati kita tak diciptakan dari bongkahan es. Isteri kita dibiarkan begitu saja seolah dianggap tak mampu menangani masalah kita. Kita menyepi sendiri di “gua”. Hati kita pun jadi keras, padahal tak tercipta dari batu. Wah, itu namanya kalo kata Kirey (sambil nyanyi Bagai Air di Daun Talas tentunya): “…Bagai air di daun talas, mana mungkin cinta kan terbalas. Buat apa dan percuma saja, bila bersama tak pernah bersatu…” Waduh!

Jika sama-sama diam, sama-sama cuek, sama-sama memendam diri tentu tak bisa saling menguatkan. Jangankan sama-sama diam dan sama-sama cuek, salah satu menutup diri saja proses komunikasi tak jalan kok. Padahal kita sudah sah jadi suami-isteri. Sangat boleh jadi harus diwaspadai supaya tak terlanjur jadi berantakan. Insya Allah, dengan saling terbuka dan saling memahami kondisi masing-masing, maka bukan mustahil kita bisa menghadapi masalah dalam bahtera rumah tangga dengan saling menguatkan satu sama lain.

Insya Allah itu akan memberikan kekuatan kepada kita dan pasangan kita untuk tetap maju. Jika kebetulan sang suami sedang tak mood suasana hatinya gara-gara pekerjaan yang tak terlalu membawa hasil yang signifikan untuk menyeimbangkan neraca keuangan keluarga, isteri bisa menghiburnya dengan mengatakan, “Biarlah Bang, tak usah terlalu dirisaukan masalah ini. Adik masih setia kok menemani Abang. Tak usah khawatir. Kita telah hidup bersama, itu artinya kita bisa saling berpegangan tangan seerat mungkin untuk menghadapi kenyataan ini, sepahit apa pun. Kita lebih dari sekadar sahabat sejati. Kita bisa meraih segalanya bersama. Kita bisa saling menguatkan. Yakin saja Bang dengan pertolongan Allah. Mari kita sama-sama berusaha”

Ah, rasanya langsung meleleh deh hati sang suami mendapatkan suntikan semangat seperti itu dari isteri tercinta. Terharu dan tentunya langsung bergairah kembali. Begitupun jika kebetulan isteri sedang bad mood karena mengurus pekerjaan rumah yang berjubel; ngepel, nyuci pakaian, nyetrika, memasak, menyapu halaman, bahkan ngurus anak dan suami, sang suami bisa menghiburnya dengan kata-kata lembut yang menguatkan keyakinannya, “Adik tak sendiri di rumah ini. Masih ada Abang yang siap membantu menemani kesibukan Adik. Lihatlah, anak-anak kita ceria, karena ia tahu ibunya pandai merawatnya. Insya Allah apa yang Adik lakukan ini bagian dari ibadah yang akan dicatat oleh Allah Swt. Yakin saja Dik. Keluarkan curahan isi hatimu jika itu akan membuatmu merasa lega. Abang ikhlas menyediakan bahu untuk sandaranmu jika ingin menumpahkan segala beban di hati lewat tangisan. Semoga cara seperti ini bisa menguatkanmu untuk terus hidup. Sepahit apa pun.” Hmm.. sang isteri bisa langsung sumringah karena suaminya bak sinar matahari pagi yang menyejukkan dan menyegarkan pikiran dan perasaannya.

Sobat, mungkin seperti pada naskah drama ya kata-kata dalam contoh ini. Tapi sejatinya bisa kita lakukan kok. Kita bisa saling menguatkan perasaan dengan pasangan hidup kita. Saling menguatkan dengan perhatian, kasih-sayang, cinta, dan kepedulian. Alangkah lebih indah lagi bila sikap saling menguatkan juga ditunjukkan dalam masalah ibadah. Karena ada kalanya kita malas. Jika sudah menikah bawaannya dakwah jadi tak semangat lagi, ibadah sholat malam jadi berat dilaksanakan, ngisi pengajian jadi malas-malasan,  hmm.. di saat seperti ini, di antara kita dan pasangan hidup kita bisa saling mengingatkan untuk menguatkan. Rasulullah saw. bersabda: “Allah menyayangi suami yang bangun di malam hari kemudian shalat, lalu ia membangunkan isterinya maka shalatlah ia. Jika isterinya tidak bangun maka ia memercikkan ke wajahnya air. Allah pun menyayangi wanita yang bangun di malam hari kemudian melaksanakan shalat, kemudian ia membangunkan suaminya, maka shalatlah ia. Jika ia tidak bangun maka sang isteri memercikkan air ke wajahnya.” (HR Turmudzi)

Ah, indah sekali rasanya. Jadi, ayolah suami-isteri itu harus saling menguatkan agar ikatan pernikahan langgeng dan diberkahi Allah Swt.

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s