rumahtangga

Keluarga Taat Syariat


rumahtanggaSobat, memiliki keluarga itu menyenangkan dan membahagiakan. Ada ayah kita, ada ibu, kakak, adik, kakek-nenek—baik dari pihak ayah maupun pihak ibu, kerabat dari ayah, kerabat dari ibu. Kita tak kesepian. Jika kebetulan sedang bertengkar dengan adik, kita bisa nyari penyelesaian ke ayah, ibu, nenek-kakek atau kakak yang lain. Kita nggak bakalan kehabisan nasihat dan bimbingan dari mereka.

Kalo ada waktu kosong, kita sehat, bisa main ke kerabat dari ibu atau ayah. Bisa ngobrol bareng mereka, bareng anak-anaknya. Kita jadi merasa besar sebagai sebuah keluarga. Apalagi jika kita akur dengan keluarga mereka. Nggak ada habisnya deh untuk dapetin wawasan dan suasana baru dalam kehidupan kita. Kalo lebaran juga bakalan kerasa banget ramenya. Apalagi kalo ngumpul semua di rumah kakek-nenek.

Wuih, dijamin asyik punya tuh. Kita bisa ngobrol apa aja. Karena kita juga butuh sosialisasi, apalagi ini dengan keluarga sendiri. Lebih keren lagi kalo kita tahu silsilah alias asal-usul anggota keluarga kita. Dibuatin bagan keturunan keluarga besar kita. Wah, kita bisa bangga tuh. Jadi nggak salah dong kalo dalam Islam kita diminta untuk menjalin dan menjaga bersilaturahmi dengan kerabat. Bagi mereka yang sengaja memutuskan silaturahmi, nggak halal untuk masuk surga. Dari Abu Musa, sesungguhnya Nabi saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang tidak masuk surga; pecandu arak, pemutus silaturahmi, dan orang yang percaya pada sihir.” (HR Ahmad)

Sobat, semoga kita tetap disatukan dalam ikatan keluarga yang utuh, harmonis, dan tentunya islami. Oya, pembahasan tetang nasab (keturunan) yang jelas melalui ikatan pernikahan yang sah, juga tentang waris-mewarisi, dan tentang keluarga ini kian mengukuhkan bahwa Islam memang sempurna.

Sekarang bandingin deh dengan sistem demokrasi (sebagai instrumen politik dari Kapitalisme-Sekularisme) yang memberikan kebebasan pribadi, kebebasan berperilaku, kebebasan berhubungan seksual (freesex), homoseks, lesbianisme, dan sebagainya yang mereka anggap sebagai bagian dari HAM. Akhirnya berujung kepada ketidakjelasan keturunan, perselingkuhan, brokenhome, keterputusan hubungan kekeluargaan, dan merebaknya berbagai penyakit kelamin dan AIDS. Bahkan dalam sistem kapitalisme-sekularisme ini tumbuh subur hubungan sedarah alias incest; anak perempuan yang dihamili bapaknya, atau malah anak laki yang menghamili ibunya. Duh, kacau banget. Kalo lahir tuh anak, bapaknya bingung. Manggilnya cucu atau anak? Bisa dipanggil cucu karena lahir dari anaknya, tapi bisa juga dibilang anaknya, karena dia yang menghamili ibunya si anak yang berstatus anaknya sendiri. Belibet banget. Begitu pun dengan kasus anak laki yang menghamili ibunya. Naudzubillahi min dzalik.

Kejadian-kejadian kayak gini bukan hanya merugikan kaum Muslimin melainkan seluruh kemanusiaan. Sebaliknya, dengan Islam hal tersebut ditiadakan dalam kehidupan. Maka, ketika Islam diterapkan dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan negara akan tercipta harmonisasi yang hebat. Banyak lahir individu yang kokoh akidahnya dan kuat takwanya dari keluarga yang menjunjung tinggi akidah dan syariat Islam. Keuntungan pun akan dirasakan oleh setiap manusia baik muslim atau nonmuslim. Bahagianya memiliki keluarga yang islami. Yakin itu, Bro!

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s