I-Dont-Care

“Masalah, Buat Loe?”


I-Dont-CareJujur saja, kadang saya merasa sedih dan prihatin dengan kondisi sebagian teman-teman remaja. Khususnya tentang sikap peduli. Jangankan untuk urusan yang nun jauh di sana. Kadang masalah yang ada di sebelah mata aja nggak dipikirin dan nggak jadi masalah berat buat mereka. Misalnya aja, tetangganya mau kelaparan apa kekenyangan dia nggak mau mikirin. Temannya nggak datang ke sekolah pun bukan persoalannya. Apakah sang teman yang nggak dateng ke sekolah itu karena sakit atau memang malas bukan urusannya. Cuek aja. Pikirnya, pihak sekolah ama ortunya aja yang kudu mikirin tuh anak yang bermasalah. Kayaknya buat apa harus capek-capek mikirin. Nggak ada untungnya. Kalo diingatkan, dia ngomong sinis, “Emangnya gue pikirin?” atau “Masalah, buat Loe?”

Sikap cuek dalam kehidupan sebagian teman-teman juga berlanjut. Kalo setiap masalah yang ampir nyolok matanya aja (karena saking dekatnya) dia cuek, kemungkinan besar masalah yang jauh darinya bakalan nggak dianggap tuh. Mungkin pikirnya, “Bodo amat, orang di luar negeri sono mo kelaparan, mo perang, mo ribut atau damai, gue nggak peduli. Yang penting gue di sini seneng. Nggak susah. Nggak bikin masalah ama orang lain. Nafsi-nafsi aja. Kalo gue suka, gue mau, gue berhak lakuin apa yang bikin ati gue hepi. Orang lain nggak boleh cerewet berkhotbah di depan gue. Emangnya gue pikirin?! Emang itu masalah buat loe?”

Sobat, mo seneng-seneng, mo ngelakuin apa yang bikin kita hepi, boleh-boleh aja, kok. Nggak ada yang ngelarang. Tentunya asalkan itu halal dan nggak bikin kita lupa diri. Tapi, pasti ada saatnya dong kita mikirin yang lain. Bukan hanya mikirin kita sendiri. Ada waktu yang bisa kita luangkan untuk bantu mikirin orang lain. Menengok bagaimana masalah mereka. Berhenti sejenak dari kesibukan kita untuk berbagi dengan teman yang lain. Nggak cuek abis gitu, lho. Nggak baik dan tentu nggak benar sikap kayak gitu. Apalagi kalo kemudian menjadikan kamu sombong. Hmm… ada baiknya, kita memperhatikan dan menyimak firman Allah Ta’ala, ““Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman [31]: 18)

Sikap cuek alias nggak peduli kini seperti menjadi tren di kalangan kita. Mungkin di sekolahmu pernah menjumpai teman yang nggak peduli dengan nasib teman lainnya. Misalnya aja kamu nggak ngerti pelajaran matematika, sementara teman kamu ada yang ngerti, tapi dia nggak mau ngasih ilmunya ke kamu. Dia malah bilang, “Bodo amat! Emangnya gue pikirin! Lo usaha sendiri dong!” Duh, nyebelin nggak sih orang kayak gitu? Pasti bikin gondok kita, kan?

Itu mungkin boleh dibilang rada-rada biasa, kadang kita nemuin juga tuh teman kita yang sewot abis gara-gara kita ingetin. Padahal nih, tujuan kita ngingetin dia tuh baik. Misalnya aja kita negur teman yang pacarannya hot banget (kalo pun pacarannya nggak hot, tetap aja yang namanya pacaran tuh dilarang dalam Islam), supaya menghentikan kebiasaan jeleknya itu. Eh, dia malah bilang, “Masalah buat loe? Apa pedulimu? Urus aja diri sendiri. Jangan cerewet berdalil segala di depan gue. Terserah lo. Mo bilang apa pun, gue nggak peduli. Emangnya gue pikirin?”

Coba, dinasihatin malah sewot. Ditegur malah ngebul ubun-ubunnya saking marahnya dia. Padahal, kita nasihatin, ngingetin, atau negur itu adalah tanda sayang. Tanda cinta dan peduli kita kepadanya. Tapi, teryata air susu dibalas air tuba. Mungkin bagi mereka yang udah ngerasa benar sendiri (atau hawa nafsunya jadi panglima?), sikap cuek alias nggak peduli ini dianggap jadi pilihannya dan senjata untuk menangkis orang lain yang rewel ikut campur urusan dalam negerinya. Ah, kayaknya doi belum bisa bedain mana sikap teman yang sok ikut campur dengan sikap teman yang emang mau nolongin dia. Kayaknya perlu belajar lagi deh tuh orang. Bukan sombong or congkak nih, tapi kenyataan bahwa kalo orang nggak mau belajar ya kayak gitu. Wawasannya sempit dan nggak mau dengerin pendapat orang lain. Tul nggak seh?

Kayaknya udah saatnya deh kita berpikir lebih dewasa. Berpikir lebih tenang dan bijak. Nggak keburu nafsu menghukumi ini dan itu jika itu nggak sesuai dengan pendapat kita. Jangan keburu memvonis orang yang nasihatin or ngingetin kita tuh sebagai perongrong, tukang cerewet dan kita anggap sebagai duri sehingga kudu disingkirkan dari jalan kita. Apalagi karena kita merasa paling benar, paling senior, paling pinter, paling luas wawasannya, paling banyak jenggotnya (yee apa hubungannya?), lalu kita merasa yang ngasih teguran ke kita tuh orangnya pasti salah. Padahal, siapa tahu kan namanya nasihat tuh bisa datang dari siapa aja? Nasihat itu kadang bisa datang dari anak kecil atau orang yang kita anggap status sosialnya rendah ketimbang kita. Nggak usah malu kalo ditegur, jangan pernah sewot kalo ada yang ngingetin kita. Karena yakinlah, insya Allah apa yang dilakukannya adalah demi kebaikan kita bersama. Kalo emang kita nggak suka dengan caranya menegur atau mengingatkan kita, lebih baik diam sejenak. Jangan langsung reaktif dengan cara menyerangnya. Resapi dulu omongannya, baru kita berpikir dan menyiapkan kata-kata argumentasi. Kalo memang perkataannya benar, ya kita terima aja. Nggak usah malu. Terus nih, yang terpenting kita nggak usah reaktif dan langsung bilang, “Emangnya gue pikirin!”, “Masalah, buat loe?” Hadeeeuhh.. nggak jamannya deh nyolot kayak gitu kalo dinasihatin.

 

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s